Arsip

Monthly Archives: Maret 2011

a. Perencanaan Pembelajaran
Salah satu fungi manajemen adalah perencanaan. Program kegiatan apapun perlu direncanakan dengan baik, sehingga semua kegiatan terarah bagi tercapainya tujuan. Perencanaan harus dibuat dengan sebaik-baiknya. Perencanaan merupakan pedoman kerja bagi para pelaksana terkait, baik manajer dalam hal ini adalah kepala sekolah maupun staf dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing.

Selain itu menurut Bafadhal (2003: 42), rencana juga merupakan acuan dalam upaya untuk mengendalikan kegiatan lembaga, sehingga tidak menyimpang dari tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena begitu pentingnya perencanaan tersebut maka seorang manajer harus memiliki kemampuan merencanakan program. sedangkan Terry (1993:17) menyatakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilakukan oleh kelompok untuk mendapai tujuan yang ditetapkan. Nana Sudjana (2000: 61) mengatakan bahwa perencanaan merupakan proses yang sistematis dalam pengambilan keputusan terhadap tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.

Sedangkan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik agar memiliki pengalaman belajar. (Jones et. al dalam Mulyani Sumantri, 1988: 95).

Dalam konteks pembelajaran, perencanaan dapat diartikan sebagai proses menyusun materi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran, dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas, konsep perencanaan pengajaran dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
5) Perencanaan pembelajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang mendorong penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan teori-teori konstruktif terhadap solusi dan problem-problem pembelajaran.
6) Perencanaan pembelajaran sebagai suatu sistem adalah sebuah susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan pembelajaran. Pengembangan sistem pengajaran melalui proses yang sistemik selanjutnya diimplementasikan dengan mengacu pada sistem perencanaan itu.
7) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah disiplin adalah cabang dari pengetahuan yang senantiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori tentang strategi pengajaran dan implementasi terhadap strategi tersebut.
8) Perencanaan pembelajaran sebagai sains (sciences) adalah mengkreasi secara detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan akan situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan kompleksitasnya.
9) Perencanaan pembelajaran sebagai sebuah proses adalah pengembangan pembelajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus atas dasar teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas.
10) Perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas adalah ide pengajaran dikembangkan dengan memberikan hubungan dari waktu ke waktu dalam suatu proses yang dikerjakan perencana dengan mengecek secara cermat bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara sistematik. (Madjid, 2005: 17-18).

Dalam hal ini penulis mengambil pendapat bahwa perencanaan merupakan sebuah proses. Menurut Bafadhal (2003: 43) sebagai sebuah proses, ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam membuat perencanaan, yaitu:
1) Memperkirakan masa depan
2) Menganalisis kondisi lembaga
3) Merumuskan tujuan secara operasional
4) Mengumpulkan data atau informasi
5) Merumuskan dan menetapkan alternatif program
6) Menetapkan perkiraan pelaksanaan program
7) Menyusun jadwal pelaksanaan program.

Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa: (1) keberhasilan pelaksanaan suatu kegiatan sangat ditentukan baik buruknya perencanaan; (2) perencanaan harus mampu memprediksi kegiatan di masa yang akan datang secara objektif; (3) perencanaan harus diarahkan pada pencapain tujuan, sehingga apabila terjadi kegagalan dalam pelaksanaan kemungkinan besar adalah kurang sempurnanya suatu perencanaan; dan (4) perencanaan harus mempertimbangkan aspek kebijakan, anggaran, prosedur, aturan, metode, kriteria-kriteria untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Pengelolaan Pembelajaran
Tugas kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yaitu menetapkan arah lembaga pendidikan melalui perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah yang berorientasi ke masa depan. Selanjutnya kepala sekolah bersama wakil kepala sekolah bidang kurikulum sebagai manajer program pembelajaran, melakukan penyusunan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan masyakarat di masa depan yaitu masyarakat belajar (learning society) dan masyarakat ilmiah (scientific society) (Soedrajat, 2005: 43).

Kepala sekolah yang interpreneur mengupayakan efektivitas dan efisiensi manajemen pendidikan dan pembelajaran di sekolah agar semua tujuan pembelajaran dapat tercapai. Secara operasional, manajemen pembelajaran adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen pada komponen pembelajaran, yaitu: siswa, guru, tujuan, materi, metode, sarana/alat dan evaluasi. Ruang lingkup manajemen pembelajaran dapat digambarkan dengan matriks pada bagan sebagai berikut:

Secara matematis, matriks dalam bagan di atas menggambarkan adanya 40 kegiatan manajemen pembelajaran, yaitu mulai dari kegiatan A.1, hingga kegiatan E.8. Matriks dalam bagan tersebut dapat digunakan untuk membantu mengidentifikasi kegiatan yang diperlukan dalam manajemen pembelajaran. Tidak berarti dalam menajemen pembelajaran harus terdiri dari 40 kegiatan.
Menurut Bafadhal (2003: 59-60), bahwa kegiatan manajemen pembelajaran meliputi:
1) Perencanaan
• Analisis materi pembelajaran (AMP)
• Penyusunan kalender pendidikan
• Penyusunan program tahunan (Prota) dengan memperhatikan kalender pendidikan dan hasil analisis materi pelajaran.
• Penyusunan program semester (Promes) berdasarkan program tahunan yang disusun.
• Penyusunan program satuan pembelajaran/skenario pembelajaran
• Penyusunan recana pembelajaran (RP)
• Penyusunan rencana bimbingan dan penyuluhan.

2) Pengorganisasian
• Pembagian tugas pembelajaran dan tugas lain
• Penyusunan jadwal pembelajaran
• Penyusunan jadwal kegiatan perbaikan
• Penyusunan jadwal kegiatan pengayaan
• Penyusunan jadwal kegiatan ekstrakurikuler
• Penyusunan jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan.

3) Pengerahan
• Pengaturan pelaksanaan kegiatan pembukaan tahun ajaran baru
• Pelaksanaan kegiatan pembelajaran
• Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan
• Supervisi pelaksanaan pembelajaran
• Supervisi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan.

4) Pengawasan
• Supervisi pelaksanaan pembelajaran
• Supervisi pelaksanaan dan penyuluhan
• Evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran
• Evaluasi proses dan hasil kegiatan bimbingan dan penyuluhan.

Proses pembelajaran selain diawali dengan perencanaan yang bijak, serta didukung dengan komunikasi yang baik, juga harus didukung dengan pengembangan strategi yang mampu membelajarkan siswa. Pengelolaan pembelajaran merupakan suatu proses penyelenggaraan interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

Menurut Dunkin dan Biddle (1974: 38), proses pembelajaran berada dalam empat variabel interaksi, yaitu: 1) variabel pertanda (presage variables) berupa pendidik; 2) variabel konteks (contex variables) berupa peserta didik; 3) variabel proses (process variables); dan 4) variabel produk (product variables) berupa pekembangan peserta didik baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, maka keempat variabel pembelajaran tersebut harus dikelola dengan baik. Berikut uraian pengelolaan variabel pembelajaran.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

a. Pembelajaran sebagai Sistem
Sistem adalah kesatuan yang terdiri dari komponen-komponen yang terpadu dan berproses untuk mencapai tujuan (Gordon, 1990; Puxty, 1990). Bagian suatu sistem yang melaksanakan suatu fungsi untuk menunjang usaha pencapaian tujuan disebut komponen. Dengan demikian sistem terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing komponen mempunyai fungsi khusus. (Sadiman, dkk. 1988: 13).

Pendekatan sistem pada mulanya digunakan di bidang teknik mesin (engineering) untuk merancang sistem-sistem elektronik, mekanik dan militer. Kemudian pendekatan sistem melibatkan sistem manusia mesin, dan selanjutnya dilaksanakan dalam bidang keorganisasian dan manajemen. Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960-an mulai diterapkan dalam bidang pendidikan dan pelatihan. (Hamalik, 2002: 4)

Pendekatan sistem yang diterapkan dalam pembelajaran bukan saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga sesuai dengan perkembangan dalam psikologi belajar sistematik, yang dilandasi dengan prinsip-prinsip psikologi behavioristik dan humanistik. Aspek-aspek pendekatan sistem pembelajaran, meliputi aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis ialah pandangan hidup yang melandasi sikap si perancang, sistem yang terarah pada kenyataan. Sedangkan aspek proses ialah suatu proses dan suatu perangkat alat konseptual.

Ciri-ciri pendekatan sistem pembelajaran, yaitu ada dua ciri utama, yakni (1) pendekatan sistem sebagai suatu pandangan tertentu mengenai proses pembelajaran dimana berlangsung kegiatan belajar mengajar, terjadinya interaksi antara siswa dan guru, dan memberikan kemudahan bagi siswa untuk belajar secara efektif; (2) penggunaan metodologi untuk merancang sistem pembelajaran yang meliputi prosedur perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penilaian keseluruhan proses pembelajaran yang tertuju pada konsep pencapaian tujuan pembelajaran.

Pola pendekatan sistem pembelajaran, menurut Oemar Hamalik (2002: 9), melalui langkah-langkah sebagai berikut: (1) identifikasi kebutuhan pendidikan (merumuskan masalah); (2) analisis kebutuhan untuk mentransfomasikan menjadi tujuan pembelajaran (analisis masalah); (3) merancang metode dan materi pembelajaran (pengembangan suatu pemecahan); (4) pelaksanaan pembelajaran (eksperimental); dan (5) menilai dan merevisi.

Dari uraian di atas, dapat penulis rumuskan bahwa untuk mencapai pembelajaran efektif dan efisien dibutuhkan pengelolaan komponen pembelajaran secara baik. Dalam pendekatan sistem bahwasanya untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal harus didukung dengan komponen pembelajaran yang baik, yang meliputi tujuan, siswa, guru, metode, media, sarana, lingkungan pembelajaran dan evaluasi.

Masing-masing komponen memberikan pengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Akan tetapi dari beberapa komponen-komponen tersebut guru merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran, karena guru bersifat dinamis, sehingga dapat mengelola dan menggerakkan komponen-komponen yang lain.
b. Kedudukan Manajemen dalam Pembelajaran
Satuan pendidikan di sekolah secara umum memiliki fungsi sebagai wadah untuk melaksanakan proses edukasi, sosialisasi dalam transformasi bagi siswa/peserta didik. Bermutu tidaknya penyelenggaraan sekolah dapat diukur berdasarkan pelaksanaan fungsi-fungsi tersebut. Untuk dapat memahami kedudukan manajemen dalam pembelajaran dapat dilihat kerangka di bawah ini.


Gambar di atas menunjukkan bahwa manajemen memiliki kedudukan strategis dalam memberikan dukungan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Untuk dapat mencapai proses pembelajaran yang berkualitas secara efektif dan efisien, maka diperlukan manajemen. Artinya bahwa tanpa adanya manajemen yang baik bisa dipastikan tujuan pembelajaran tidak akan tercapai secara maksimal. Karena di dalam manajemen tercakup aspek planning, organizing, leading dan controling yang semuanya mengarah kepada pencapain tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

c. Komponen-komponen Pembelajaran
Dalam pendekatan sistem, pembelajaran merupakan suatu kesatuan dari komponen-komponen pembelajaran yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, karena satu sama lain saling mendukung. Komponen-komponen tersebut dapat menunjang kualitas pembelajaran. Menurut Oemar Hamalik (2001: 77) pembelajaran sebagai suatu sistem artinya suatu keseluruhan dari komponen-komponen yang berinteraksi dan berinterelasi antara satu sama lain dan dengan keseluruhan itu sendiri untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pembelajaran sebagai suatu sistem yang komponen-komponennya terdiri dari: (1) Siswa, (2) Guru, (3) Tujuan, (4) Materi, (5) Metode, (6) Sarana/Alat, (7) Evaluasi, dan (8) Lingkungan/konteks. Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri, namun dalam berproses di kesatuan sistem mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. (Soetopo, 2005: 143).

Kedelapan komponen tersebut rupanya tidak ada satupun komponen yang dapat dipisahkan satu sama lain karena dapat mengakibatkan tersendatnya proses belajar-mengajar. Misalnya pengajaran tidak dapat dilakukan di ruang yang tidak jelas, tanpa siswa, tanpa tujuan, tanpa bahan ajar.
Masing-masing komponen dalam pembelajaran dapat dijelaskan sebagai berikut.

Siswa
Teori didaktik metodik telah bergeser dalam menempatkan siswa sebagai komponen proses belajar mengajar (PBM). Siswa yang semula dipandang sebagai objek pendidikan bergeser sebagai subjek pendidikan. Sebagai subjek, siswa adalah kunci dari semua pelaksanaan pendidikan. tiada pendidikan tanpa anak didik. Untuk itu siswa harus dipahami dan dilayani sesuai dengan hak dan tanggung jawabnya sebagai siswa.

Siswa adalah individu yang unik, mereka merupakan kesatuan psiko-fisis yang secara sosiologis berinteraksi dengan teman sebaya, guru, pengelola sekolah, pegawai administrasi, dan masyarakat pada umumnya. Mereka datang ke sekolah telah membawa potensi psikologis dan latar belakang kehidupan sosial. Masing-masing memiliki potensi dan kemampuan yang berbeda. Potensi dan kemampuan inilah yang harus dikembangkan oleh guru. (Sardiman, 2001: 109)

Guru
Guru adalah sebuah profesi. Oleh karena itu, pelaksanaan tugas guru harus profesional. Walaupun guru sebagai seorang individu yang memiliki kebutuhan pribadi dan memiliki keunikan tersendiri sebagai pribadi, namun guru mengemban tugas mengantarkan anak didiknya mencapai tujuan. Untuk itu guru harus menguasai seperangkat kemampuan yang disebut dengan kompetensi guru. Oleh karena itu, tidak semua orang bisa menjadi guru yang profesional. Kompetensi guru itu mencakup kemampuan menguasai siswa, menguasai tujuan, menguasai metode pembelajaran, menguasi materi, menguasai cara mengevaluasi, menguasai alat pembelajaran, dan menguasai lingkungan belajar. (Soetopo, 2005: 144).

Guru memiliki peran yang sangat penting dalam proses belajar mangajar. Menurut Usman (1990:7) ada empat peran guru dalam pembelajaran, yaitu: (1) sebagai demonstrator, lecturer (pengajar), (2) sebagai pengelola kelas, (3) sebagai mediator dan fasilitator, dan (4) sebagai motivator.
Tujuan
Tujuan yang harus dipahami oleh guru meliputi tujuan berjenjang mulai dari tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan umum pembelajaran sampai tujuan khusus pembelajaran. Proses pembelajaran tanpa tujuan bagaikan hidup tanpa arah. Oleh sebab itu, tujuan pendidikan dan pembelajaran secara keseluruhan harus dikuasai oleh guru. Tujuan disusun berdasarkan ciri karakteristik anak dan arah yang ingin dicapai.

Tujuan belajar adalah sejumah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru yang diharapkan tercapai oleh siswa (Hamalik, 2003: 73).
Lebih lanjut menurut Oemar Hamalik (2003: 73) bahwasannya komponen tujuan pembelajaran, meliputi: (1) tingkah laku, (2) kondisi-kondisi tes, (3) standar (ukuran) perilaku.

Materi
Materi pembelajaran dalam arti yang luas tidak hanya yang tertuang dalam buku paket yang diwajibkan, akan tetapi mencakup keseluruhan materi pembelajaran. Setiap aktivitas belajar-mengajar harus ada materinya. Anak yang sedang field-trip di kebun menggunakan materi jenis tumbuhan dan klasifikasinya. Anak yang praktikum di laboratorium menggunakan materi simbiose katak. Semua materi pembelajaran harus diorganisasikan secara sistematis agar mudah dipahami oleh anak. Materi disusun berdasarkan tujuan dan karakteristik siswa.

Metode
Metode mengajar merupakan cara atau teknik penyampaian materi pembelajaran yang harus dikuasai oleh guru. Metode mengajar ditetapkan berdasarkan tujuan dan materi pembelajaran, serta karakteristik anak.

Sarana/Alat/Media
Agar materi pembelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa, maka dalam proses belajar-mengajar digunakan alat pembelajaran. Alat pembelajaran dapat berupa benda yang sesungguhnya, imitasi, gambar, bagan, grafik, tabulasi dan sebagainya yang dituangkan dalam media. Media itu dapat berupa alat elektronik, alat cetak, dan tiruan. Menggunakan sarana atau alat pembelajaran harus disesuaian dengan tujuan, anak, materi, dan metode pembelajaran.
Oleh karena itu diperlukan tenaga pengajar yang memiliki kemampuan dan kecakapan yang memadai (Asnawir, 2002: 17) diperlukan tenaga pengajar yang handal dan mempunyai kemampuan (capability) yang tinggi.

Evaluasi
Evaluasi dapat digunakan untuk menyusun graduasi kemampuan anak didik, sehingga ada penanda simbolik yang dilaporkan kepada semua pihak. Evaluasi dilaksanakan secara komprehensif, obyektif, kooperatif, dan efektif. Dan evaluasi dilaksanakan berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran.
Guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan menetapkan standar keberhasilan. Sebagai contoh, jika semua siswa sudah menguasai kompetensi dasar, maka pelajaran dapat dilanjutkan dengan catatan guru memberikan perbaikan (remidial) kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan. Dengan adanya evaluasi, maka dapat diketahui kompetensi dasar, materi, atau individu yang belum mencapai ketuntasan. (Madjid, 2005: 224)

Lingkungan
Lingkungan pembelajaran merupakan komponen PBM yang sangat penting demi suksesnya belajar siswa. Lingkungan ini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosial, lingkungan alam, dan lingkungan psikologis pada waktu PBM berlangsung. Semua komponen pembelajaran harus dikelola sedemikian rupa, sehingga belajar anak dapat maksimal untuk mencapai hasil yang maksimal pula.
Mengelola lingkungan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas bukan merupakan tugas yang ringan. Oleh karenanya guru harus banyak belajar. Doyle (1986) berpendapat bahwa hal-hal yang menyebabkan pengelolaan kelas mempunyai beberapa dimensi. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Emersen, Everston dan Anderson (1980), peristiwa yang terjadi pada waktu awal-awal sekolah banyak berpengaruh terhadap pengelolaan kelas pada tingkat-tingkat berikutnya.

Borden (2001: 71) menyarankan agar setiap anak mempunyai ruang gerak sedikitnya tiga meter persegi. Madrasah Jenderal Sudirman memiliki ruang kelas yang cukup representative yaitu dengan ukuran 6 x 8 meter persegi.

Adapun menurut Oemar Hamalik (2001: 77), komponen-komponen pembelajaran meliputi tujuh aspek yaitu: (1) tujuan pendidikan dan pengajaran, (2) peserta didik atau siswa, (3) tenaga kependidikan khususnya guru, (4) perencanaan pengajaran sebagai suatu segmen kurikulum, (5) strategi pembelajaran, (6) media pembelajaran, dan (7) evaluasi pembelajaran.
Proses pembelajaran ditandai dengan adanya interaksi antara komponen. Misalnya komponen peserta didik berinteraksi dengan komponen guru, metode/media, perlengkapan/peralatan, dan lingkungan kelas yang mengarah kepada pencapaian tujuan pembelajaran.

Sedangkan menurut Suharsini Arikunto (1990: 216), berpendapat bahwa unsur-unsur atau komponen-komponen yang dapat mendukung kualitas pembelajaran, maka perlu diperhatikan unsur-unsur yang secara langsung berkaiatan dengan berlangsungnya proses belajar tersebut terdiri atas 6 komponen, yaitu: guru, siswa, kurikulum, konteks, metode, dan sarana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat gambar di bawah ini:


Dari gambar di atas, nampaknya setiap unsur dapat dikatakan penting dan menentukan. Namun apabila dicermati lebih mendalam satu persatu unsur-unsur selain guru, yakni konteks, siswa, kurikulum, metode, dan sarana, tidak dapat menunjukkan peran yang berbeda tanpa mengubah posisinya, namun disisi lain guru yang profesional mampu mengubah, mengupayakan atau memanipulasi ke-5 (lima) variabel tersebut untuk kepentingan pembelajaran yang ia kehendaki.

• Guru, konteks, siswa, kurikulum, metode, media, sarana adalah unsur yang dapat berpengaruh kepada kualitas belajar dan pembelajaran.
• Guru merupakan satu-satunya unsur yang mampu mengubah unsur-unsur lain menjadi bervariasi. Sebaliknya unsur-unsur yang lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi.
• Guru merupakan unsur yang mempunyai peran amat penting bagi terwujudnya pembelajaran, menurut kualitas yang dikehendaki.
Menurut pandangan penulis, kedua pandangan tersebut jika dipahami lebih mendalam akan ditemukan persamaan-persamaan. Diantaranya istilah lingkungan pembelajaran menurut Soetopo dalam perspektif Arikunto disebut dengan istilah konteks, kemudian Arikunto juga tidak menyebutkan komponen evaluasi.

Kalau dicermati lebih jauh, komponen kurikulum yang dipakai oleh Arikunto mengisyaratkan adanya evaluasi, karena dalam perencanaan kurikulum pasti terdapat evaluasi. Istilah kurikulum oleh Soetopo dipecah menjadi dua yaitu materi dan evaluasi pembelajaran.

Penulis menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Soetopo yang menyatakan bahwa komponen pembelajaran mencakup (1) Siswa, (2) Guru, (3) Tujuan, (4) Materi, (5) Metode, (6) Sarana/Alat, (7) Evaluasi, dan (8) Lingkungan/konteks. Merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
Dengan semakin maraknya sekolah unggul yang menerapkan metode Quantum Teaching and Learning (QTL) dalam pembelajaran, maka keberadaan delapan komponen sebagaimana yang dikemukakan oleh Soetopo menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dan dikesampingkan untuk mencapai kualitas pembelajaran sebagaimana yang diharapkan.



Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

a. Pengertian Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemen program pembelajaran sering disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran (Bafadhal, 2004: 11).

Pada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik dikategorikan berdasarkan kurikulum inti maupun penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya, oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional.

b. Manajemen Pembelajaran dalam Perspektif Islam.
Manajemen dalam perspektif Islam berbeda dengan manajemen menurut barat. Hal ini dikarenakan dasar-dasar manajemen dalam Islam bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah.

Menurut Gibson yang dikutip Ndhara (1988: 93) mendifinikan manajemen sebagai berikut: “Management consist of activites under taken by one or more person to corrdinate the activities of others person to achieve result not achievable by one person alone. (Manajemen merupakan suatu hal yang terdiri dari aktivitas-aktivitas yang dikelola oleh satu atau beberapa orang untuk mengatur aktivitas orang lain agar mencapai hasil yang diinginkan).

Sedangkan menurut Konntz (1972: 16) bahwa: ”management is getting things done trough people. In bringing about this cordinating of group activity, the manager, as a manager plan, organizes, staff, direct, and control the activities other people”. (Yaitu manajemen adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu melalui suatu kegiatan orang lain. Dengan demikian, manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengerahan dan pengendalian).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) manajemen merupakan suatu tindakan atau aktivitas ke arah pencapaian tujuan, (2) manajemen merupakan sistem kerjasama, dan (3) manajemen melibatkan orang lain baik manusia maupun non- manusia.
Dalam pandangan Islam, manajemen lebih diartikan sebagai sebuah tindakan yang digunakan untuk mengatur sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab, sesuai dengan pembagian tugas yang dilakukan oleh pemimpin untuk seluruh staf dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. (Effendi, 1986: 17).

Sebagaimana firman Allah di dalam al Qur’an tentang tanggung jawab:
Terjemah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra’: 36).

Terjemah: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen dalam pandangan Islam merupakan suatu aktivitas untuk mengelola sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab, yang dilakukan dengan pembagian tugas masing-masing sesuai dengan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

a. Perencanaan
Dalam Al-Qur’an, fungsi perencanaan dapat kita temuan dari ayat berikut ini, yakni di dalam Al Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:
Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Juga dalam hadits (CD Hadits-Kutub at Tis’ah)) Rasulullah bersabda
إِنمَّاَ اْلأعْمَلُ باِلنِّيَّاتِ وِإِنمّاَ لِكُلٍّ امْرِئ ٍمَانوَىَ (رواه بخاري)

“Bahwasannya semua pekerjaan diawali dengan niat, dan bahwasannya pekerjaan tergantung pada niat (rencananya)” (HR. Bukhari: 01)

Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu harus direncanakan (niatkan). Dalam upaya mengelola pembelajaran diperlukan sebuah niat (rencana), perencanaan yang baik, bentuk perencanaan yang baik meliputi:
1) Perencanaan selalu berorientasi pada masa depan, yaitu dalam perencanaan berusahan untuk memprediksi bentuk dan masa depan siswa dalam pembel;ajaran berdasarkan kondisi dan situasi saat ini.
2) Perencanaan merupakan suatu hal yang benar-benar dilakukan bukan kebetulan, sebagai hasil dari ekplorasi dan evaluasi kegiatan pembelajaran sebelumnya.
3) Perencanaan memerlukan tindakan dari orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, baik secara individu maupun kelompok.
4) Perencanaan harus bermakna, dalam arti usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan diselenggarakannya pendidikan menjadi semakin efektif dan efisien.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap kegiatan yang ingin mencapi tujuan sebagaimana yang diharapkan harus terlebih dahulu dilakukan proses perencanaan.

b. Pengorganisasian
Menurut Hick dan Gullet (1981: 321) pengorganisasian adalah kegiatan membagi tugas dan tanggung jawab dan wewenang sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 103 dapat diambil sebuah pemahaman tentang adanya fungsi manajemen, yaitu organizing (pengorganisasian). Sebagaimana firman Allah:
Terjemahnya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Dari beberapa ayat tersebut menunjukkan perlunya persatuan dalam setiap tindakan yang terpadu, utuh, kuat, dan karenanya Allah melarang bercerai berai. Artinya bahwa mengorganisasi sesuatu hal dengan baik agar supaya tidak terpecah-pecah antara satu dan lain menjadi prinsip dalam manajemen menurut Islam.

Terjemah : Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am: 165)

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dalam menjalani hidup, pasti dihadapkan pada sesuatu yang berbeda, mereka ada pada tingkatan yang berbeda, yang dikenal dengan sebutan stuktur organisasi. Dengan demikian, pengorganisasian sesungguhnya merupakan kegiatan untuk menyusun atau membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam upaya mencapai tujuan.

c. Pengarahan
Menurut Terry dalam Hasibun (2001: 183) mendefinisikan bahwa pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Di dalam Islam, fungsi pengarahan dilakukan oleh seorang nabi (guru) atau pemimpin, untuk memberikan petunjukan tentang hal yang baik dan yang buruk. Di dalam Al Qur;an surat Al Imran ayat 110 Allah berfirman:
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Al Imran: 110)

Ayat di atas, mengisyaratkan bahwa sebagai umat manusia (umat Muhammad) yang terbaik diperintahkan untuk memberikan anjuran (pengarahan) kepada umat Islam laiinya agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan menjauhkan diri dari melakukan pekerjaan yang melanggar perintah agama.

Di dalam Surat Al Baqarah ayat 213 Allah berfirman:
Terjemahnya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan.”

Proses actuating adalah memberikan perintah, petunjuk, dan nasehat serta keterampilan dalam berkomunikasi.

Berkenaan dengan manajemen pembelajaran, maka seorang kepala sekolah harus memberikan pengarahan kepada para pegawainya baik guru maupun karyawan dengan berbagai macam pendekatan agar tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan baik. Oleh karena, peran kepala sekolah dalam manajemen pembelajaran sangat penting sekali.

d. Pengawasan
Di dalam Islam, fungsi pengawasan dapat terungkap pada ayat-ayat di dalam al Qur’an surat As-Shof ayat 3:
Terjemahnya: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ayat tersebut memberikan ancaman dan peringatan terhadap orang yang mengabaikan control terhadap perbuatannya. Dalam hal control Islam menurut Jawahir (1983: 66) sangat memperhatikan adanya bentuk pengawasan terhadap diri terlebih dahulu sebelum melakukan pengawasan terhadap orang lain. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang berbunyi:
حَاسِبُوْا أَنْفَسكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوْا (الترميذى)
Artinya: “Periksalah dirimu sebelum memeriksa orang lain. Lihatlah terlebih dahulu atas kerjamu sebelum melihat kerja orang lain.” (HR. Tirmidzi: 2383). (CD Hadits: Kutub at Tis’ah)

Juga di dalam surat Al Zalzalah Allah berfirman:
Terjemah: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Dalam pandangan Islam segala sesuatu harus dilakukan secara terencana, dan teratur. Tidak terkecuali dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang merupakan hal yang harus diperhatikan, karena substansi dari pembelajaran adalah membantu siswa agar mereka dapat belajar secara baik dan maksimal. Manajemen dalam hal ini berarti mengatur atau mengelola sesuatu hal agar menjadi baik.
Hal ini sesuai dengan hadits, An-Nawawi (1987: 17) yang diriwayatkan dari Ya’la Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلأَحْسَانَ عَلىَ كُلِّ شَيْئ ٍ (رواه البخاري)
Artinya: “Sesungguhnya mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu.” (HR. Bukhari: 6010). (CD Hadits: Kutub at Tis’ah)

Selain itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَاعَمَلَ اَحَدُكُمُ الْعَمَلَ اَنْ يَتْقَنَهُ (رواه الطبران)
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, dan tuntas) (HR. Thabrani).

Menurut An-Nawawi (1987: 17) dalam bukunya hadits Ar’bain bahwasannya Rasulullah juga memerintahkan manusia agar mendidikan anak-anaknya secara terencana sesuai dengan fase-nya.
“Didiklah anakmu dalam tiga tahap, tujuh tahun pertama ajaklah ia sambil bermain, tujuh tahun kedua ajaklah dia untuk disiplin, dan tujuh tahun ketiga ajaklah dia sebagai teman”. (HR. Baihaqi)

Dari hadits tersebut dapat penulis ambil suatu dasar bahwasannya sekolah/madrasah merupakan salah satu tempat untuk mendidik anak bermain, disiplin dan memperlakukan anak didik sebagai teman dalam proses belajar mengajar, sehingga mereka nantinya dapat tumbuh sebagai generasi-generasi yang tangguh.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru, instruktur atau pembelajar dengan tujuan untuk membantu siswa (Setyosari; 2003: 6). Senada dengan hal itu juga diungkapkan oleh Degeng (1998), bahwa pembelajaran adalah upaya untuk membelajarkan siswa, secara khusus pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan oleh guru, instruktur, pembelajar dengan tujuan untuk membantu siswa atau peserta didik.

Menurut Muhaimin (1996: 99), pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa/peserta didik untuk belajar. Kegiatan ini akan mengakibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara lebih efektif dan efisien.

Sedangkan menurut Hamalik Pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. (Hamalik, 2003: 57).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha manusia yang dilakukan dengan tujuan untuk membantu menfasilitasi belajar orang lain.

Manusia terlibat dalam sistem pengajaran yang terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan tape. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruang kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.
Rumusan tersebut tidak terbatas dalam ruang saja. Sistem pembelajaran dapat dilaksanakan dengan cara membaca buku, belajar di kelas atau di sekolah, karena diwarnai oleh organisasi dan interaksi antara berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan peserta didik.
Madrasah tidak ubahnya sebagai intitusi atau lembaga. Sebagai sebuah lembaga, madrasah mengembang misi tertentu yaitu melakukan proses pendidikan, proses sosialisasi, dan proses transformasi anak didik, dalam rangka mengatarkan mereka siap mengikuti pendidikan pada jenjang berikutnya. Sebagai institusi atau lembaga madrasah menyelenggarakan berbagai aktivitas pembelajaran yang melibatkan berbagai macam komponen, sehingga menuntut adanya manajemen pembelajaran yang baik dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran dan institusional madrasah.

Secara garus besar aktivitas pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI), baik negeri maupun swasta dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, aktivitas pembelajaran kurikuler, seperti pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), pembelajaran Eksakta (Sain&Matematika), pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Alam (IPA), pembelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertakes), pembelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes). Kedua, aktivitas pembelajaran ekstrakurikuler, seperti kegiatan pramuka, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), olah raga, kesenian. Ketiga, aktivitas pembelajaran lainnya seperti upacara bendera yang diselenggarakan pada setiap hari senin dan senam pagi. Masing-masing jenis aktivitas pembelajaran tersebut harus memiliki tujuan kurikuler. Namun semua aktivitas pembelajaran harus dipadukan sedemikian rupa dan diarahkan pada pencapaian tujuan, tepatnya tujuan Madrasah Ibtidaiyah (MI). demikian pula, agar aktivitas pembelajaran antara yang satu dan lain tidak terjadi tumpang tindih, maka dibutuhkan manajemen pembelajaran yang baik. (Bafadhal, 2003: 53)]

b. Tujuan Pembelajaran
Belajar merupakan peristiwa sehari-hari di sekolah. Belajar merupakan hal yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subjek, yaitu dari siswa dan guru. Dari segi siswa belajar dialami sebagai suatu proses. Siswa mengalami satu proses mental dalam menghadapi bahan belajar. Bahan belajar tersebut berupa keadaan alam, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, dan bahan yang telah terhimpun dalam buku-buku pelajaran. Dari segi guru proses belajar tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal. (Dimyati, 1999: 17).

Kunci dalam rangka menentukan tujuan pembelajaran adalah kebutuhan siswa, mata pelajaran, dan guru itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan siswa dapat ditetapkan apa yang hendak dicapai, dikembangkan dan diapresiasi. Berdasarkan mata pelajaran yang ada dalam petunjuka kurikulum dapat ditentukan hasil-hasil pendidikan yang diinginkan. Guru sendiri adalah sumber utama tujuan bagi para siswa. (Hamalik, 2003: 76)

Pandangan ini didukung oleh para pakar yang berorientasi pada kehidupan masyarakat. Sekolah dalam masyarakat adalah suatu integrasi. Pendidikan adalah di sini dan sekarang ini (G.E. Olson: 1945). Implikasi dari pengertian ini adalah sebagai berikut:
(1) Tujuan pembelajaran ialah mempersiapkan siswa untuk hidup dalam masyarakatnya.
Sekolah berfungsi menyiapkan siswa untuk menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan, mereka bukan dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang lebih jauh, 10 atau 20 tahun ke depan, melainkan untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari dalam lingkungannya, di rumah dan di masyarakat. Karena itu, para siswa harus mengenal keadaan kehidupan yang sesungguhnya dan belajar memecahkannya.

(2) Kegiatan pembelajaran berlangsung dalam hubungan sekolah dan masyarakat.
Masyarakat dinyatakan sebagai laboratorium belajar yang paling besar. Sumber-sumber masyarakat tak pernah habis sebagai sumber belajar. Prosedur penyelenggaraannya, ialah dengan cara membawa siswa ke dalam masyarakat dengan karyawisata, survei, berkemah, dan lain-lain; atau dengan cara membawa masyarakat ke dalam sekolah sebagai nara sumber. Dengan demikian, masyarakat akan memberikan sumbangan yang besar terhadap pendidikan anak, dan sebaliknya, sekolah akan memberikan bantuan dalam memecahkan masalah-masalah masyarakat. Sekolah juga berfungsi turut memperbaiki kehidupan masyarakat sekitarnya.

(3) Siswa belajar secara aktif
Siswa bukan saja aktif belajar di laboratorium sekolah, mencari pengalaman kerja dalam berbagai lapangan kehidupan, tetapi juga aktif bekerja langsung di masyarakat. Dengan cara ini, semua potensi yang mereka miliki menjadi hidup dan berkembang. Siswa turut merencanakan, berdiskusi, meninjau, membuat laporan, dan lain-lain, sehingga perkembangan pribadinya selaras dengan kondisi lingkungan masyarakat.

(4) Guru juga bertugas sebagai komunikator.
Guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Guru mempersiapkan rencana awal pembelajaran, kemudian menyusun rencana lengkap bersama siswa sebagai persiapan pelaksanaan di lapangan. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitarnya, supaya dapat menyusun proyek-proyek kerja bagi para siswa. Kelas selalu melakukan inventarisasi masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat, kemudian diupayakan pemecahannya. Peranan sebagai komikator, bukan saja memerlukan pengetahuan dalam bidang pendidikan dan apresiasi, namun diperlukan keterampilan berintegrasi dan bekerjasama dengan masyarakat. Berdasarkan teori-teori tersebut semakin jelaslah, bahwa kegiatan dan proses pembelajaran itu sangat kompleks.

c. Ciri-ciri Pembelajaran
Ada tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran ialah:
1) Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran, dalam suatu rencana khusus.
2) Saling tergantung (interdependence), antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial, dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.
3) Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami (natural). Sistem yang dibuat oleh manusia, seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, sistem pemerintahan, semuanya memiliki tujuan tertentu. Tujuan sistem menuntun proses merancang sistem. Tujuan utama sistem pembelajaran adalah agar siswa belajar. Tugas seorang perancang sistem ialah mengorganisasi tenaga, material, dan prosedur agar siswa belajar secara efisien dan efektif. Dengan proses mendesain sistem pembelajaran si perancang membuat rancangan untuk memberikan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan sistem pembelajaran tersebut. (Hamalik, 2003: 64-66).

d. Pembelajaran Unggul
Pembelajaran Unggul (The Exellence Teaching) adalah proses belajar mengajar yang kembangkan dalam rangka membelajarkan semua siswa berdasarkan tingkat keunggulannya (individual differences) untuk menjadikannya beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menguasi ilmu pengetahuan dan teknologi secara mandiri namun dalam kebersamaan, mampu menghasilkan karya yang terbaik dalam menghadapi persaigan pasar bebas (Bafadhal, 2003: 30).

Merujuk pada konsepsi di atas, perlu ditegaskan bahwa pembelajaran unggulan bukanah pembelajaran yang secara khusus dirancang dan dikembangkan hanya untuk siswa yang unggul, melainkan lebih merupakan pembelajaran yang secara metodologis maupun psikologis dapat membuat semua siswa mengalami belajar secara maksimal dengan memperhatikan kapasitasnya masing-masing. Menurut Bafadhal (2003) ada tiga indikator pembelajaran unggulan. Pertama, pembelajaran unggulan apabila dapat melayani semua siswa (bukan hanya pada sebagian siswa). Kedua, dalam pembelajaran unggulan semua anak mendapatkankan pengalaman belajar semaksimal mungkin. Ketiga, walaupun semua siswa mendapatkan pengalaman belajar maksimal, prosesnya sangat bervariasi bergantung pada tingkat kemampuan anak yang bersangkutan.

Dalam konteks makalah ini, yakni dalam hal pembelajaran, sekolah harus mampu melaksanakan tiga tugas dalam pembelajaran unggulan, yaitu: Pertama, sekolah harus mampu melayani siswa baik secara individu maupun kelompok. Kedua, sekolah dapat memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik secara maksimal. Ketiga, sekolah dapat memberikan variasi pembelajaran kepada siswa sesuai dengan tingkat kemampuan mereka masing-masing.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang



Desain dan Jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Raka Joni mengemukakan bahwa penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu, serta untuk memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek tersebut dilakukan (Soedarsono, 2001: 2).

Suharsimi mengatakan bahwa penelitian tidakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama (Suharsimi, 2007:3).

Menurut Mulyasa penelitian tindakan kelas (PTK) adalah kegiatan penelitian untuk mendapatkan kebenaran dan manfaat praktis dengan cara melakukan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif. Kolaboratif adalah adanya kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu, keahlian dan profesi dalam memecahkan masalah, sedang partisipatif adalah dilibatkannya melaksanakan kegiatan, dan melakukan penelitian akhir.

Sedangkan menurut Ebbutt dalam R.Wiriaatmadja menuturkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek penelitian oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan reflektif mereka mengenai hasil tindakan-tindakan tersebut (Wiriatmadja, 2005: 12).
Untuk melakukan tindakan kelas, peneliti melakukan sebuah tindakan yang diamati secara terus menerus dilihat dari plus minusnya, kemudian pengubahan kontrol sampai pada upaya maksimal dalam bentuk tindakan yang paling tapat (Suharsimi, 2002: 2).

Berikut ini beberpa hal yang perlu dipahami tentang penelitian tindakan kelas: PTK adalah suatu pendekatan untuk meningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran.
1. PTK adalah partisipatori, melibatkan orang yang melakukan kegiatan untuk meningkatkan praktiknya sendiri.
2. PTK dikembangkan melalui suatu self-reflective spiral; spiral of cycles of planning, acting, observing, reflecting, the re-planning.
3. PTK adalah kolaboratif, melibatkan partisipan bersama-sama bergabung untuk mengkaji praktis pembelajaran dan mengembangkan pemahaman tentang makna tindakan.
4. PTK menumbuhkan kesadaran diri mereka yang berpartisipasi dan kolaborasi dalam seluruh tahapan PTK.
5. PTK adalah proses belajar yang sistematis, dalam proses tersebut menggunakan kecerdasan kritis membangun komitmen melakukan tindakan.
6. PTK dilakukan orang untuk membangun teori tentang praktek mereka (guru).
7. PTK memerlukan gagasan dan asumsi ke dalam praktik untuk mengkaji secara sistematis bukti yang menantangnya.
8. PTK memungkinkan kita untuk memberikan rasional justifikasi tentang pekerjaan kita terhadap orang lain membuat orang menjadi kritis dalam analisis (Suharsimi, 2002: 105).

Penelitian tindakan kelas merupakan pembuktian apakah suatu teori belajar mengajar yang diterap di kelas baik atau tidak dan sekiranya cocok dengan kondisi kelas, peneliti mengadaptasi teori yang ada untuk ke proses atau produk pembelajaran yang lebih efektif optimal dan fungsional (Sudikin, 2002: 15).

Tujuan dari penelitin tindakan kelas adalah untuk memperbaiki, meningkatkan dan mengadakan perubahan kearah yang lebih baik sebagai upaya pemecahan masalah, serta menentukan modul dan prosedur tindakan yang memberikan jaminan terhadap upaya pemecahan masalah yang mirip atau sama, dengan melakukan modifikasi dan penyesuaian seperlunya dalam kegiatan pembelajaran untuk mengatasi kesulitan dalam pembelajaran (Soedarsono, 2001: 5).

Secara singkat, menurut Mulyasa penelitian tindakan kelas memiliki beberapa karakteristik, diantaranya:
1. Situasional, praktis, secara langsung dalam situasi nyata dalam dunia kerja.
2. Memberikan kerangka yang teratur kepada pemecahan masalah, action research juga bersifat empiris dalam hal mengadakan observasi nyata dan perilaku.
3. Fleksibel dan adaptif, memungkinkan adanya perubahan selama masa percobaan dari pembaharuan di tempat kejadian.
4. Partisipasi, dimana peneliti atau anggota penelitian sendiri ambil bagian secara langsung maupun tidak langsung dengan pelaksanaan penelitiannya bersama khalayak sasaran.
5. Self- Evaluatif, adalah modifikasi secara kontinue dievaluasi dalam situasi yang ada, di mana tujuan akhirnya untuk meningkatkan praktek dalam acara tertentu bersama khalayak sasaran.
6. Dalam hal temuan penelitian memiliki validitas eksternal yang lemah.
7. Penelitian dan pengambilan keputusan selalu dikelompok secara desentralisasi dan diregulasi.
8. Kooperatif dan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi atas aksi antara peneliti, praktisi dan khalayak sasaran.
9. Action research, mengembangkan pemberdayaan, dokumentasi, keadilan, kebebasan dan kesempatan partisipatif.
10. Menerapkan teori dalam skala kecil (terbatas).
11. Mengutamakan pendekatan tindakan.
12. Mengembangkan suatu model, baik sebagian maupun menyeluruh.
Dalam penelitian tindakan kelas desain panel terdiri dari langkah-langkah yaitu perencanaan atau planning tindakan atau acting, pengamatan atau observing dan refleksi atau reflecting (Suharsimi, 2002: 85).

Terdapat beberapa desain penelitian tindakan kelas, salah satu di antaranya paling sering digunakan oleh para peneliti model ini adalah model siklus. Model ini menurut Kemmis dan taggart yang terdiri dari empat komponenyang meliputi yaitu:
1. Rencana. Rencana adalah tindakan apa yang dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan mutu atau perbaikan perilaku dan sikap sebagai solusi.
2. Tindakan. Tindakan apa yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perbaikan yang diinginkan.
3. Observasi. Observasi adalah mengamati atau hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan atau dikenakan terhadap siswa.
4. Refleksi. Refleksi adalah peneliti mengkaji, melihat dan memperhitungkan atas hasil refleksi ini peneliti bersama-sama guru dapat melalakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal (Soedarsono, 2001: 16).

Rujukan:
1. Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
2. Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
3. Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud
4. Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana
5. Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma’arif 02 Singosari. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana
6. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Persada


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com,

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang



A. Pengertian Motivasi Belajar
Berikut adalah beberapa pengertian motivasi menurut para ahli diantaranya adalah:
1. Menurut morgan bahwa istilah motivasi ada hubungannya dengan psikologi pada umumnya. Menurut moragan motivasi bertalian pada tiga hal yang sekaligus merupakan aspek aspek dari motivasi, ketiga hal tersebut adalah keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating state), tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), tujuan dan tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior) (Soemanto, 1998: 203-204).
2. James O. Whittaken memberikan pengertian secara umum mengenai penggunaan istilah motivation, di bidang psikologi ia mengatakan bahwa motivasi adalah kondisi atau keadan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
3. Dengan sederhana Mc Donald memberikan definisi tentang motivasi sebagai suatu perubahan tenaga di dalam diri atau pribadi seseorang yang ditandai dengan dorongan efketif dan reaksi reaksi dalam usaha mencapai tujuan.
4. Dalam hal ini (Hamalik 2000:173) mengatakan bahwa motivasi merujuk pada semua gejala yang terkandung dalam stimilasi tindakan kearah tujuan tertentu dimana sebelumnya tidak ada gerakan kearah tersebut. Sebagai suatu masalh dikelas motivasi adalah proses pembangkitan, mempertahankan dan mengontrolkan minat-minat.
Berangkat dari pengertian motivasi diatas, secara etimologi kata motivasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu motivation yang artinya alasan atau dorongan. Tapi secara psikologi, motivasi adalah pemberian dorongan terhadap seseorang atau sekelompok orang baik baik dalam atau luar untuk mencapai tujuan.

Motivasi dalam belajar mempunyai arti membangkitkan dan memberi arah pada dorongan dorongan yang menyebabkan individu melakukan perbuatan perbuatan dalam belajar. Sebagaimana fungsi motivasi dalam proses belajar mengajar itu sendiri adalah:
a. Menimbulkan dan mengubah minat belajar mengajar.
b. Meningkatkan semngat belajar.
c. Meningkatkan perhatian siswa dalam belajar.
d. Menyediakan kondisi yang optimal bagi proses belajar.
e. Membantu siswa agar mau menemukan serta memilih jalan atau tingkah langkah yang mendukung pencapaian tujuan belajar.
Jadi bisa disimpulkan bahwa pengertian dari motivasi adalah suatu usaha yang mempunyai tujuan untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku seseorang agar terdorong untuk mencapai tujuan tertentu.

B. Pengertian belajar
Pada dasarnya menurut pandangan skinner bahwa belajar adalah suatu prilaku. Pada saat orang belajar maka responnya menjadi baik. Sebaliknya ketika mereke tidak belajar maka responnya menurun. Karena di dalam belajar akan ditemukan adanya beberapa hal diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon pembelajaran
2. Respon si pembelajar
3. Konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tertentu. Pemerkuat terjadi pada saat stimulus yang menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi perilaku respon si pembelajar yang baik diberi hadiah. Sebaliknya perilaku si pembeljar yang tidak baik diberi teguran dan hukuman (Dimyati dan Mudjiono, 1999;9).

Akan diperkuat dengan Hitzman yang berpendapat bahwa belajar itu merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi organisme tersebut. Sementara Biggs mendefinisikan belajar dalam tiga macam rumusan, yaitu rumusan qualitative, rumusan quantitative (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak banyaknya. Jadi belajar disini di pandang dari sudut berapa banyak materi yang dikuasai oleh siswa.

Berdasarkan pengertian yang telah dijabarkan di atas dapat disimpulkan secara umum bahwa belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relative menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.

Berkaitan dengan perlunya motivasi belajar, maka hal ini sangatlah penting artinya dalam proses belajar mengajar. Siswa belajar karena didorong oleh kekuatan mentalnya. Dimana kekuatan mental itu berupa keinginan, perhatian, kemauan dan cita-cita. Seoarng ahli psikologi pendidikan menyebitkan kekuatan mental yang mendorong terjadinya tersebut sebagai motivasi belajar. Dalam hal ini motivasi di pandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengrahkan prilaku manusia terhadap belajar (Dimyati dan Mudjiono, 1999; 80). Motivasi memang sangat mendasari semua prilaku individu, bedanya ada yang dirasakan ada yang tidak, pada suatu prilaku yang angat kaut dan pada prilaku yang tidak kuat. Jadi bagi seorang pendidik motivasi ini sangatlah perlu artinya untuk meningkakan kualiatas pendidikan.

C. Jenis-Jenis Motivasi Belajar
Para ahli membagi motivasi menjadi dua macam yaitu:
1. Motivasi Intrinsik
motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri individu sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar. Yang termasuk dalam motivasi intrinsik adalah perasaan menyenangi materi tersebut untuk dirinya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Thorburgh (Prayitno,1989, 10) motivasi intrinsik adalah keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong diri dalam diri individu tanpa dipengaruhi oleh lingkungan.
Menurut Sudirman ada beberapa indikator motivasi intrinsik, diantaranya adalah:
a. Tekun dalam menghadapi tugas.
b. Ulet dalam menghadapi kesulitan dan tidak lekas putus asa, dan tidak cepat puas dengan prestasi yang diperolehnya.
c. Menunjukkan minat terhadap suatu masalh pelajaran.
d. Dapat mempertahankan pendapatnya.
e. Tidak mudah melepaskan hal yang sudah diyakini.
f. Senang mencari dan memecahkan masalah.

2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik (Sadirman, 1990:90) diartikan sebagai motif motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Prayitno (1989: 14) mendefinisikan motivasi ekstrinsik sebagi tujuan utama individu untuk melakukan kegiatan yang terletak diluar aktivitas itu sendiri. Menurut pandangan lain, Winkel (1984: 27) motivasi ekstrinsik merupakan bentuk motivasi yang didalamnya terdapat aktivitas belajar dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan yang tidak secar mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar yang dilakukan.

Sebagaimana yang dikemukakan diatas bahwa motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor pendorong dari luar individu. Dalam hal ini faktor yang paling berperan adalah guru. Seperti yang dikemukakan oleh (Prayitn, 1989: 94) ada beberapa indikator motivasi instrinsik yaitu:
1. Sikap Pengajar
Seorang pengajar diharapkan dapat menunjukkan kehangatan, antusias, perhatian dan keinginan untuk mendorong siswa dalam berprestasi.
2. Metode Mengajar
Seorang pengajar hendaknya memilih metode yang tepat dan baik. Karena pemilihan pemilihan metode yang tidak tepat akan menimbulkan kebosanan pada siswa dan ahirnya merendahkan motivasi belajar mereka. Selain itu pengajar harus memberi kesempatan pada siswa untuk berperan aktif dalam proses belajar, misalnya diskusi, observasi, dan sebagainya
3. Materi Pelajaran
Yaitu bahan ajar yang disampaiakn oleh guru kepada siswanya.
4. Penilaian
Adalah predikat yang diberikan oleh seorang pengajar kepada anak didiknya untuk mengetahui sejauh mana dalam penguasaan materi, keefektivan materi yang disampaikan dan keberhasilan dari proses belajar mengajar. Penilaian disisni bisa berupa prestasi hasil belajar ataupun penilaian tentang sikap, tingkah laku dan kepribadian anak secra menyeluruh (Soetomo, 1993:324)

D. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar diantaranya adalah:
1. Faktor-faktor stimulasi belajar, yaitu segala hal diluar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar. Berikut ada beberapa hal yang berhubungan dengan faktor faktor stimulasi belajar:
a. Panjangnya bahan pelajaran
b. Kesulitan bahan pelajaran
c. Berartinya bahan pelajaran
d. Berat ringannya tugas
e. Suasana lingkungan eksternal

2. Faktor faktor metode belajar. Metode mengajar yang dipakai oleh guru mempengaruhi metode yang dipakai oleh si pengajar. Diaantara faktor tersebut adalah:
a. Kegiatan berlatih atau praktek
b. Overlearning dan Drill
c. Resitasi selama belajar
d. Pengenalan tentang hasil hasil belajar
e. penggunaan modalitet indera (oral, visual, dan kinestetik)
f. Bimbingan dalam belajar
g. Kondisi kondisi insentif (Situasi eksternal yang yang mempengaruhi individu)

3. Faktor faktor individual
a. Kematangan (pertumbuhan fisiologisnya)
b. Faktor usia kronoligis
c. Faktor perbedaan jenis kelamin
d. Pengalaman sebelumnya
e. Kapasitas mental
f. Kondisi kesehatan jasmani
g. Kondisi kesehatan rohani

E. Usaha Usaha Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar
Agar para siswa memiliki motivasi yang tinggi, beberapa usaha yang perlu di lakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi siswa, diantaranya adalah:
a. Menjelaskan manfaat dan tujuandari pelajaran yang diberikan
b. Memilih materi atau bahan pelajaran yang betul betul dibutuhkan oleh siswa
c. Memilih cara penyajian yang bervariasi, sesuai dengan kemampuan siswa dan banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba dan berpartisipasi
d. Memberikan sasaran dan kegiatan kegiatan antara sasaran akhir dari kegiatan belajarsiswa adalah lulus dari ujian akhir
e. Berikan kesempatan pada siswa untuk sukses dengan meningkatkan motivasi belajar
f. Berikanlah kemudahan bantuan dalam belajar
g. Berikanlah pujian, ganjaran atau hadiah


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Disebarkan Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

USAHA MENINGKATKAN KONSENTRASI SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI KETRAMPILAN GURU MENGELOLA KELAS PADA SISWA MTs

Oleh: Sumardi
Jurusan Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan konsentrasi siswa dalam pembelajaran matematika dan mendorong serta melatih guru guru matematika Mts melalui “ action research” diharapkan dapat memecahkan masalah yang dihadapi guru di kelas dengan menggunakan cara berpikir sistematis. Untuk mencapai tujuan tersebut peneliti berkolaborasi dengan guru-guru matematika dengan melakukan penelitian tindakan kelas berbasis kelas. Langkah analisis dilakukan dengan dialog awal, perencanaan tindakan pembelajaran, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi dan evaluasi.Penelitian dilakukan dengan empat kali putaran. Hasil penelitian adalah terjadi peningkatan konsentrasi siswa yag berarti dalam belajar matematika, sebelum
penelitian 19,35% setelah penelitian menjadi 64,50%.

Kata kunci : konsentrasi, action research dan kolaborasi

Selengkapnya Download File Lengkapnya Di SINI


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.