Faktor Penyebab Perubahan Makna

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Faktor Penyebab Perubahan Makna. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Faktor Penyebab Perubahan Makna.

————–

Faktor Penyebab Perubahan Makna
Perubahan suatu makna kata disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang dimaksud adalah (a) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (b) perkembangan sosial-budaya (at-tathawur al-ijtima’iy wats tsaqafi) (c) penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi), (d) perbedaan bidang pemakaian, dan (e) adanya asosiasi.

A. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang begitu cepat dan menyentuh hampir seluruh kehidupan masyarakat. Perkembangan IPTEK ini berimplikasi pada perkembangan bahasa, khususnya perkembangan kosa kata yang mengacu pada benda-benda dari produk IPTEK tersebut. Keterkaitan erat antara perkembangan IPTEK dan bahasa ini karena bahasa itu sendiri sebagai media untuk mengkonsepsikan setiap peristiwa, benda, dan objek-objek lainnya. Dengan ungkapan lain, fungsi bahasa adalah sebagai alat ekspresi dan komunikasi.

Ada beberapa cara yang berkaitan dengan pengembangan bahasa, khususnya pengembangan kata karena akibat perkembangan IPTEK. Pertama bisa berupa serapan dari bahasa penutur pengembang IPTEK, kedua kemungkinan (meskipun kemungkinan kedua ini kecil) membuat padanan kata baru, dan ketiga dengan cara menggunakan kata yang sudah ada dengan memodifikasi atau mengubah makna asalnya. Dalam konteks ini, cara ketiga inilah (perubahan makna) yang menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Dalam bahasa Indonesia, Chaer (2002) memberikan contoh perubahan makna akibat perkembangan IPTEK pada kata berlayar. Kata ini pada awalnya bermakna ‘perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun sekarang kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, bahkan juga menggunakan tenaga nuklir, tetapi kata berlayar masih digunakan.

Fenomena perubahan makna akibat perkembangan IPTEK dalam bahasa Arab dapat kita lihat pada kata هاتف, سيارة, حاسوب, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penggunaan ketiga kata sebagai berikut.

Contoh A
1- ….. فَدَخَلَ عَليَّ مَلَكانِ مَهِيْبَانِ فَطاَرَ عَقْلِيْ وارْتَعَدَتْ مَفَاصِلِي مِنْ هَيْبَتِهِمَا وأخَذانِي وأجْلَسَانِي وَأرادا أنْ يَسْألاَنِي فَسَمِعْتُ نِدَاءً مِنَ الْهَاتِفِ اُتْرُكَا عَبْدِي وَلاَتُخَوِّفَاهُ فَإِنِّي رَحِمْتُهُ ( المواعظ العصفورية: 2).َ
2- قال قائل منهم لاتقتلوه يوسف فألقوه في غيبت الجب يلتقته بعض السيارة إن كنتم فاعلين (يوسف: 10).
3- وجآءت سيارة فأرسلوا واردهم فأدلى دلوه، قال يبشرى هذا غلم وأسروه بضاعة، والله عليم بما يعملون. (يوسف: 19).
4- فسوف يحاسب حسابا يسيرا (الإنشقاق: 8).

1. …. Aku didatangi oleh dua malaikat yang berwibawa. Aku ketakutan dan gemetar. Aku dipegang dan didudukkan. Mereka akan menanyaiku. Tiba-tiba aku mendengar panggilan yang tidak jelas sumbernya (suara tanpa rupa), “hendaklah kamu berdua (Malaikat Munkar dan Nakir) meninggalkannya (Umar bin Khattab), janganlah kamu berdua menakut-nakutinya, karena Aku mengasihinya.

2. Seseorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

3. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (Yusuf, 19)

4. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.

Contoh B
1- لا علاقة بين الهواتف (جم الهاتف) المحمولة والسرطان
(http:/news:bbc.co.uk/hi/sci_tech/newsid.)
2- تُوِّجَ الأسْبَانِي فِرْنَانْدُو ألَنْزُو الاحدَ الماَضِي فِي البَرَازِيل كَأَصْغر بَطَلٍ سِنًّا في الفِئَةِ الأولى لِسِبَاقِ السّيّارات (جم السيارة).
3- اشترى لي أبي الحاسوب.

1. Tidak ada korelasi antara telpon seluler (Hp) dengan penyakit kanker.
2. Firnando Alonso berkebangsaan Spanyol pada hari Ahad yang lalu di Brazil dinobatkan sebagi pemenang termudah pada kelompok pertama untuk lomba reli mobil.
3. Ayahku membelikan saya computer.

Kata الهاتف, السيارة, dan الحاسوب pada contoh di atas mengalami perubahan makna. Perubahan makna ini dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK. Kata الهاتف pada contoh A (1) diartikan suara tanpa rupa, yakni petutur mendengar suara tetapi tidak diketahui wujud konkret dari sang penuturnya. Dengan ditemukan alat komunikasi yang baru, kata الهاتف berubah maknanya menjadi telepon atau hand phone (Hp) sebagaimana pada contoh B (1).

Kata سيارة pada ayat 10 dan 19 surah Yusuf di atas (contoh A 2 dan 3) berbeda dengan makna yang digunakan dewasa ini. Dalam kedua ayat tersebut kata سيارة berarti sekelompok musafir. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ash-Shabuni, II, 1976), yang dimaksud dengan kata سيارة pada ayat 19 di atas adalah sekelompok musafir yang melewati jalan. Yang dimaksud jalan di sini adalah suatu tempat Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya (kecuali Benyamin) ke sumur. Menurut Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip oleh Ash-Shabuni, II, 1976, yang dimaksud dengan جاءت سيارة adalah sekelompok kaum yang melakukan perjalanan dari Madyan ke Mesir; tiba-tiba di tengah jalan mereka tersesat dan bingung sehingga akhirnya mereka tiba di suatu jalan yang ada sumurnya tempat Yusuf dibuang dan sumur tersebut jauh dari keramaian. Menurut Shihab (2004), kata سيارة berasal dari kata سار yang berarti berjalan. Kata ini pada mulanya dipahami dalam arti kelompok yang banyak berjalan. Kata ini merupakan salah satu contoh dari pengembangan makna kata. Dikarenakan oleh perkembangan teknologi transportasi, kata ini sekarang berarti ‘mobil’.

Hal yang sama juga terjadi pada kata الحاسوب . Kata atau frase ini berasal dari kata حسب-يحسب- حسابا. Pada contoh contoh A (4) berarti diperiksa atau dihitung dan kata الحاسوب berarti alat penghitung. Kata ini berubah makna (dimodifikasi maknanya) menjadi ‘komputer’ seiring dengan perkembangan teknologi informasi.

B. Perkembangan Sosial Budaya
Dinamika kehidupan dalam masyarakat dapat menghasilkan suatu perubahan sosial-budaya, dan perubahan sosial-budaya juga berdampak pada kegiatan berbahasa, khususnya penggunaan makna kata. Sebagaimana dikemukakan oleh Chaer (2002), bahwa perkembangan di bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna. Sebuah kata yang pada mulanya bermakna ‘A’, lalu berubah menjadi bermakan ‘B’ atau ‘C’. Jadi bentuk katanya tetap sama, tetapi konsep makna yang dikandung sudah berubah.

Menurut Umar (1982), perubahan makna dalam bahasa Arab karena perubahan sosial-budaya banyak terjadi pada istilah-istilah keagamaan, misalnya الصلاة والحج والزكاة والوضوء والتيمم. Kata الصلاة ‘salat’ semula bukanlah istilah islami, tetapi suatu istilah atau kata yang digunakan oleh orang-orang Arab sebelum Islam datang. Kata الصلاة ini pada awalnya berarti do’a dan istighfar (Bik, tanpa tahun).

Di dalam al-Qur’an, surah At-taubah, ayat 103 kata الصلاة berarti do’a sebagai berikut.
وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم
dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam surah Al-Haj, ayat 40 berikut ini, kata صلوات bentuk jamak dari صلاة berarti rumah-rumah ibadah orang Yahudi. Dengan bahasa yang lain tetapi maksudnya sama, Ash-Shabuni, II (1976) memaknai kata صلوات menjadi كنائس اليهود. Dengan demikian, dengan konteks sosial yang berbeda, kata yang sama dapat berbeda maknanya.

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Setelah Islam mensyariatkan umat Islam umtuk melakukan shalat sebagaimana yang kita pahami sekarang ini, kata الصلاة yang semula berarti do’a, istighfar, dan rumah-rumah ibadah orang Yahudi, berubah mejadi suatu konsep peribadatan ritual yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam (Rasjid, 1997). Oleh karena itu sekarang kita kenal shalat maghrib, shalat isya’, shalat subuh, shalat dzuhur, shalat asar, dan lain-lainnya.
Hal yang sama juga terjadi kata الصوم yang semula berarti menahan dan meninggalkan sesuatu, atau menurut Bik (tanpa tahun) الإمساك عن الشيئ والترك dalam konteks sosial-keagamaan menjadi الإمساك عن الشهوتين. Dalam al-Qur’an, surah Maryam ayat 26, kata الصوم dimaknai meninggalkan berbicara, atau oleh Ash-Shabuni, II (1976) kata صوما berarti السكوت والصمت .

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Demikian pula, kata الحج semula berarti “menyengaja sesuatu” atau القصد, selanjutnya makna kata ini berubah menjadi suatu bentuk ibadah, yakni ‘bertujuan mengunjungi ka’bah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu (Rasjid, 1997). Demikian pula kata الوضوء berarti membersihkan dengan air (وضأه بالماء: نظفه وغسله). Selanjutnya karena konteks sosial keagamaan, kata الوضوء menjadi ‘mengambil air untuk shalat dengan cara-cara tertentu.

C. Penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi)
Pengguna bahasa kadang melakukan penyimpangan makna kata dengan kata lain yang maknanya lebih dekat atau mirip dan gejala ini mudah diterima oleh penutur bahasa (Umar, 1982). Menurut Umar (1982), penyimpangan bahasa ini terjadi akibat kesalahpahaman, ketaksaan, dan ketidakjelasan. Pada saat itu, para linguis tidak serta merta melakukan perbaikan, sehingga mayarakat tidak sadar dan terbiasa menggunakan penyimpangan bahasa itu. Umar (1982) memberikan contoh penggunaan kata الارض yang mempunyai beberapa makna yang berbeda. Ia bisa berarti الكوكب المعروف dan الزكام. Kata الليث bisa berarti الاسد dan bisa berarti العنكبوت.
Menurut Umar (1982), anak-anak juga melakukan hal ini dan mereka lebih mementingkan aspek bentuk daripada fungsi. Mereka kadang-kadang menggunakan kata الفأس dan المطرقة untuk kata قدوم. Mereka kadang-kadang juga mencampuradukkan penggunaan kata yang berkaitan dengan berbagai macam burung, misalnya penggunaan kata الحمامة untuk العصفور dan kata الحِدأة ‘burung rajawali’ untuk الغراب.

D. Perbedaan Bidang Pemakaian
Suatu bidang kajian, keilmuan, atau kegiatan tertentu memiliki kekhasan dalam penggunaan kosa kata. Istilah-istilah seperti striker, gelandang kanan, penjaga gawang, tendangan pojok, tendangan penalti, pemain belakang, menghadang bola, dan lini tengah merupakan kosa kata yang lazim digunakan dalam olahraga sepak bola. Di bidang Fisika kita mengenal istilah Vektor, skalar, hukum Newton, massa, gravitasi, panumbra, dan lain-lain.
Kosa kata yang lazim digunakan di bidang tertentu juga dapat digunakan dalam bidang lain yang bersifat umum. Dalam bahasa Indonesia, kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian dengan segala macam derivasinya seperti pada frase menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna ‘mengerjakan’ misalnya menggarap skripsi, menggarap usul para anggota, menggarap generasi muda, dan menggarap naskah drama (Chaer, 2002).

Kesimpulan yang dapat ditarik dari gejala ini adalah bahwa kata yang sama memiliki arti atau makna berbeda apabila digunakan dalam bidang yang berbeda pula. Dengan ungkapan yang berbeda, Pateda (2001) menyatakan bahwa lingkungan masyarakat (2001) menyebabkan perubahan makna. Berikut ini contoh penggunaan kata cetak yang dikutip dari Pateda (2001) dan Anda diminta membandingkan dan menjelaskan makna kata yang dicetak miring pada masing-masing kalimat.

Contoh A
1) Buku itu dicetak di PT Asdi Mahasatya, Jakarta.
2) Cetakan batu bata itu besar-besar.
3) Pemerintah menggiatkan pencetakan sawah baru bagi petani.
4) Ali mencetak 5 gol dalam pertandingan itu.

Perubahan makna atas dasar bidang pemakaian dalam bahasa Arab dapat dilihat pada contoh B berikut ini.

Contoh B
1- والفرض هو الإجابة المحتملة عن سؤال الدراسة.
2- الصلات من أفضل الفرض الذي أمر بلزومه.
3- د. محمد اسماعيل رئيس التحرير للمجلة “المجتمع”.
4- أقيم المؤتمر العالي لحزب التحرير في اغوسطس ‏2005‏‏.
5- وماكان لمؤمن ان يقتل مؤمنا إلا خطئا, ومن قتل مؤمنا خطئا فتحرير رقبة مؤمنة ودية مسلمة الى اهله (النساء: 92).

1. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
2. Ibadah salat merupakan kewajiban paling utama yang diperintah untuk dilaksanakan.
3. Muhammad Ismail adalah pemimpin redaksi majalah “Al-mujtama’”.
4. Komperensi tingkat tinggi untuk Partai/kelompok Pembebasan (Hizbut Tahrir) telah dilakasanakan pada bulan Agustus 2005.
5. Dan tidak layak bagi soerang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mu’min karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (Qur’an, surah Annisa’ ayat 92).

Pada contoh B (1) sampai B (4) terdapat kosa kata yang sama. Kalimat B (1) dan B (2) sama-sama memiliki kata الفرض. Demikian pula, kalimat B (3) dan B (4) juga sama-sama memiliki kata التحرير. Permasalahannya adalah apakah kata yang sama pada contoh B di atas juga memiliki acuan makna yang sama. Jawabannya tentu tidak sama. Ketidaksamaan atau perbedaan makna pada kata yang sama tersebut muncul karena kata-kata yang sama tersebut diletakkan dalam bidang yang berbeda.

Kata الفرض pada contoh B (1) berada pada bidang bahasan penelitian, sehingga arti yang muncul dari kata tersebut adalah hipotesis. Sementara itu, kata الفرض pada contoh B (2) bukan lagi diartikan hipotesis, melainkan diartikan kewajiban, karena kata ini berada pada bidang keagamaan, khususnya bidang Ilmu Fiqh. Perubahan makna dari kewajiban ke hipotesis atau sebaliknya disebabkan oleh penggunaan kata tersebut pada kekhasan bidang atau keilmuan.

Demikian pula, kata التحرير pada contoh B (3) dan (4) juga memiliki makna yang berbeda, meskipun keduanya sama. Kata التحرير pada B (3) bersentuhan dengan wilayah jurnalistik, sehingga makna yang muncul adalah redaksi. Jadi رئيس التحرير berarti ‘Pemimpin Redaksi’. Sementara itu, Kata التحرير pada B (4) bersentuhan dengan wilayah politik, sehingga kata tersebut berarti ‘pembebasan’. Jadi حزب التحرير berarti ‘Partai Pembebasan’. Hal yang sama juga terjadi pada B (5). Kata التحرير pada B (5) ini berkaitan dengan hukuman bagi orang yang melakukan pembunuhan (masalah kirminal) dan kata التحرير juga berarti membebaskan (membebaskan budak muslimah).

E. Adanya asosiasi
Perubahan makna juga dapat terjadi karena adanya asosiasi antara kata yang digunakan dan hal atau peristiwa lain yang berkaitan dengan kata tersebut sehingga memunculkan makna baru. Chaer (2002) memberikan contoh kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah ‘sampul surat’. Ke dalam amplop itu, selain bisa dimasukkan surat, juga bisa dimasukkan benda lain, misalnya uang. Oleh karena itu, dalam kalimat Beri saja amplop, maka urusan pasti beres, kata amplop di sini bermakna uang.

Dalam bahasa Arab juga didapati kata atau istilah yang berubah makna asalnya karena adanya asosiasi. Menurut informasi dari salah seorang yang pernah menetap di Siria, kata الاستراحة yang makna asalnya istirahat dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan “tawaran kepada pria untuk tidur bersama dengan “Pekerja Seks Komersial (PSK)”. Kata ini konon dapat diungkapkan oleh PSK itu sendiri dan bisa diungkapkan oleh “makelar” atau “pemilik mucikari”. Kata lain misalnya الحلاوة, makna asalnya ‘manisan’ atau ‘kemanisan’, tetapi dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan ‘upah’, ‘tip’, atau ‘bingkisan’.

————–

Demikian artikel/makalah tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: