Prinsip Kerjasama Model Grice

Oleh: Nur Arifuddin, M.Pd
Staff Pengajar UIN Malang

Kerjasama Model Grice
Sehubungan dengan adanya perbedaan antara teori SKK dan STT dalam memaknai wacana dengan segala kelebihan dan kekuranagnnya, H. Paul Grice mengusulkan suatu kaidah mengenai penggunaan bahasa. Kaidah ini mencakup peraturan tentang efektifitas dan efesiensi suatu percakapan. Kaidah ini terdiri atas dua pokok kaidah, yaitu (a) prinsip kerjasama dan (b) empat maksim percakapan. Kaidah Grice ini diusulkan pada tahun 1967. Selanjutnya Grice (1975) menegaskan
bahwa dalam semua komunikasi ada persetujuan umum antara penutur dan pendegar yang disebut dengan prinsip kerjasama.

Empat maksim sebagai kaidah untuk mengefektifkan dan mengefisienkan komunikasi yang dikemukakan oleh Grice (dalam Leech, 1983:11-12) adalah sebagai berikut.

1) maksim kuantitas. Berikan jumlah informasi yang tepat, yaitu (a) sumbangan informasi Anda harus seinformatif yang dibutuhkan; (b) sumbangan informasi Anda jangan melebihi yang dibutuhkan.

2) Maksim kualitas. Usahakan agar sumbangan informasi Anda benar, yaitu (a) jangan mengatakan sesuatu yang Anda yakini itu tidak benar; (b) jangan mengatakan sutu bukti yang kebenarannya kurang meyakinkan.

3) Maksim hubungan. Usahakan agar perkataan Anda ada relevansinya.

4) maksim cara. Usahakan agar mudah dimengerti, yaitu (a) hindarilah pernyatan-pernyataan yang samar, (b) hindarilah ketaksaan, (c) usahakan agar ringkas, dan (d) usahakan agar Anda berbicara dengan teratur.

Berpijak pada maksim sebagaimana yang diusulkan oleh Grice tersebut, maka petutur (pendengar atau pembaca) akan berpedoman bahwa penutur dalam berkomunikasi tentunya mengikuti maksim di atas. Apabila ada tanda-tanda bahwa maksim tidak diikuti, maka petutur harus memutuskan bahwa ada sesuatu di balik apa yang dikatakan, dan apabila suatu ucapan mempunyai makna di balik apa yang dikatakan, maka ucapan itu mempunyai implikatur (Soemarmo, 1987; Kartomihardjo, 1992).

Berkaitan dengan perlunya prinsip kerjasama sebagaimana yang diusulkan Grice tersebut, Kempson (1977) mengambil contoh kasus Grice tentang seorang tutor ilmu filsafat yang dimintai referensi oleh seorang mahasiswa yang akan mengikuti kuliah filsafat dari seorang profesor. Tutor tersebut menulis referensi (sebagai persyaratan untuk mengikuti kuliah filsafat) dalam bahasa Inggris sebagai berikut.

(12) Dear Sir, Jones’, Command of English is exellent, and his attendance at tutorials has been regular. Yours faithfully.
Pemberi referensi ini jelas-jelas melangar maksim kuantitas (mungkin juga maksim hubungan). Dia memberi informasi yang kurang lengkap. Akan tetapi, profesor mempunyai pendapat lain, yaitu bahwa mahasiswa yang namanya Jones tersebut tidak memiliki kemampuan yang baik di bidang filsafat.

Demikian pula dalam contoh (6) di atas, ujaran dosen tersebut melanggar maksim, terutama maksim kuantitas. Akan tetapi, mahasiswa memahami implikatur yang dimaksud oleh dosennya. Dia serta merta membuka jendela untuk mengurangi rasa gerah yang ada di ruang kuliah. Dengan menggunakan prinsip kerjasama antara penutur (pembicara atau penulis) dan petutur (pendengar atau pembaca), maka wacana dapat dimaknai secara benar, dan terhindar dari ketaksaan.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: