Konsep Pengetahuan Menurut Barat

Konsep Pengetahuan Menurut Barat
1. Hakikat Pengetahuan
Secara etimologi, pengetahuan dalam bahasa Inggris disebut sebagai science, yaitu pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat yang khas. Sedangkan secara terminologi, terdapat beberapa pendapat para ahli, diantaranya:
a. Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag menulis: “Science is empirical, rational, general and cumulative; and it is all four at once” (ilmu adalah yang empiris, yang rasional, yang umum dan bertimbun-bersusun; dan keempat-empatnya serentak).
b. Karl Pearson (1857-1936) merumuskan: “Science is the complete and consistent description of the facts of experience in the simplest possible terms” (Ilmu pengetahuan adalah lukisan atau keterangan yang lengkap dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sesederhana/sesedikit mungkin).
c. Prof. Dr. Ashley Montagu, guru besar antropologi di Rutgers University menyimpulkan:
Science is a systematized knowledge derived from observation, study and experimentation carried on order to determine the nature of principles of what being studied” (ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat dan prinsip tentang hal yang sedang dipelajari).
d. Driver dan Bel, pakar konstruktivis, mengatakan bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya kumpulan hukum atau daftar fakta. Ilmu pengetahuan, terutama sains, adalah ciptaan pikiran manusia dengan semua gagasan dan konsepnya yang ditemukan secara bebas.
Dari berbagai pendapat di atas, maka dapat diambil benang merah bahwa pengetahuan adalah suatu fakta yang empiris atau gagasan rasional yang dibangun oleh individu itu sendiri melalui percobaan dan pengalamannya.

2. Sumber Pengetahuan
Pembahasan tentang sumber pengetahuan, sebenarnya merupakan turunan dari pengertian pengetahuan itu sendiri. Artinya, jika pengetahuan Barat bersifat rasional-empiris, maka empirisme dan rasionalisme dianggap sebagai sumber pengetahuan yang absah dalam pandangan mereka.

Empirisme adalah pengetahuan yang diperoleh dengan perantaraan panca indera. Paham empirisme berpendirian bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman. Dalam hal ini akal tidak berfungsi banyak, kalau ada, itu pun sebatas ide yang kabur, karena akal baru bisa bekerja dengan bantuan pengalaman. Sedangkan rasionalisme merupakan kebalikan dari empirisme.

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Akal memang membutuhkan bantuan panca indera untuk memperoleh data dari alam nyata, tetapi hanya akal yang mampu menghubungkan data ini satu sama lainnya, sehingga terbentuklah pengetahuan.
Menurut Von Glasersfeld, pengetahuan itu dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu dia berinteraksi dengan lingkungannya. Lingkungan dapat berarti dua macam. Pertama, lingkungan yang menunjuk pada keseluruhan obyek dan semua relasinya yang diabstraksikan dari pengalaman. Kedua, lingkungan yang menunjuk pada sekeliling hal itu yang telah diisolasikan.
Pendeknya, sumber pengetahuan yang diakui keabsahannya dalam perspektif Barat hanya rasionalisme dan empirisme.

3. Kebenaran Pengetahuan
Kebenaran pengetahuan merupakan implikasi dari sumber pengetahuan itu sendiri. Jika pengetahuan Barat mengandalkan empiris dan rasional, maka menurut pandangan mereka, pengetahuan dikatakan benar apabila sesuai dengan kenyataan yang ada dan sesuai dengan akalnya. Dari sini, teori kebenaran dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu kebenaran realisme dan idealisme. Padangan realisme berpendapat bahwa pengetahuan dianggap benar dan tepat apabila sesuai dengan kenyataan. Teori ini didukung oleh Bertand Russell dengan teori korespondensinya, Charles S. Peirce dengan teori pragmatismenya dan para ahli konstruktivis.

Sedangkan kebenaran idealisme menandaskan bahwa hakikat kebenaran pengetahuan didasarkan pada alam ”ide”, terutama akal. Realita yang ditangkap panca indera manusia sudah ditentukan sebelumnya dalam alam ”ide” itu. Pandangan ini didukung oleh Socrates dan Aristoteles dengan teori koherensinya.

Berdasarkan dua teori tersebut, maka kebenaran dalam pengetahuan Barat bersifat relatif. Karena pengetahuan itu bukan barang mati yang sekali jadi, melainkan suatu proses yang terus berkembang. Dan tidak menutup kemungkinan pengetahuan yang lama akan digugurkan oleh pengetahuan yang baru apabila dianggap sudah tidak relevan lagi.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah pengetahuan yang benar itu bisa dilihat dari dua hal, yaitu kesesuaiannya dengan realitas atau fakta yang ada dan kesesuaiannya dengan akal manusia yang bersifat subyektif. Hal ini menunjukkan bahwa kebenaran pengetahuan dalam perspektif Barat bersifat relatif, karena pengetahuan akan berkembang terus-menerus dan pengetahuan yang lama akan digugurkan oleh pengetahuan yang baru.

Rujukan:
Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama .(Surabaya: PT. Bina Ilmu Offset, 2002), hlm. 47-49.
Paul Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan (Yogyakarta: Kanisius, 1997), hlm. 17.
Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama I (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 37-41.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: