Strategi Meningkatkan Mutu Pendidikan

Masyarakat senantiasa mendambakan suatu lembaga pendidikan yang bermutu. Tantangan-tantangan pengembangan lembaga yang senakin kompleks membutuhkan jawaban komprehensif sesuai dengan kebutuhan. Untuk dapat menjawab tantangan dan mampu merespon kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi diperlukan perombakan sistem yang mendasar dalam suatu lemabaga pendidikan, yang terdiri dari perencanaan terpadu dan menyeluruh untuk mengadaptasikan tujuan lembaga sesuai dengan kebutuhan masyarakat, serta diperlukan adanya keterbukaan wawasan dan keberanian dalam memecahkan totalitas masalah. Untuk itu diperlukan keterpaduan dan kejelasan antara cita-cita dan operasi, pemberdayaan dan reorientasi sistem, inovasi dalam manajemen serta peningkatan sumber daya manusia.

Dalam kehidupan umat manusia, fungsi pendidikan tidak lain adalah sebagai salah satu alat pembudayaan manusia itu sendiri. Sebagai suatu alat pendidikan dapat difungsikan untuk mengarahkan perkembangan dan pertumbuhan hidup manusia. Sebagai makhluk pribadi dan juga makhluk sosial kepada titik optimal kemampuan untuk memperoleh kesejahteraan hidup dunia maupun akhirat. Untuk itulah maka pendidikan harus benar-benar memiliki mutu bagi manusia.

Adapun strategi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan antara lain:
A. Peningkatan Profesionalisme dan Kesejahteraan Guru
Secara garis besar, peningkatan profesionalisme guru dapat ditempuh dengan tiga program, yaitu: 1) Program preservice education; 2) Program inservice education; dan 3) Program inservice training. Program preservice education adalah pendidikan prajabatan yang ditempuh oleh calon guru. Program ini dimaksudkan untuk membekali calon guru dan memperbaiki mutu guru. Sedangkan dua program berikutnya dilakukan ketika guru telah berada dalam posisinya sebagai pengajar. Keduanya ditempu melalui pendidikan tambahan dan pelatihan.

Beberapa langkah nyata dari pengembangan profesionalisme guru adalah: 1) penataran. Penataran adalah semua usaha pendidikan dan pengalaman untuk meningkatkan keahlian guru dan pegawai guna menyelaraskan pengetahuan dan keterampilan mereka dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidangnya masing-masing ; 2) kursus-kursus kependidikan; 3) memperbanyak membaca; dan 4) studi banding atau kunjungan ke sekolah lain.

Perlu ditekankan di sini, bahwa peningkatan profesionalisme guru harus dilakukan secara sistematis, dalam arti direncanakan secara matang, dilaksanakan secara taat asas, dan evaluasi secara objektif, sebab lahirnya guru profesional tidak bisa hanya melalui bentuk penataran dalam waktu beberapa hari saja, atau supervisi dalam sekali atau dua kali, ataupun studi banding yang hanya dilakukan dalam beberapa hari.

Untuk menunjang pengembangan profesionalisme guru tersebut di atas, sekolah perlu untuk memperhatikan kebutuhan dasar guru, terutama yang berkaitan dengan kesejahteraan hidupnya. Kebutuhan dasar tersebut meiputi: 1) Kebutuhan psikologis (kebutuhan fisik); 2) Kebutuhan rasa aman (kebebasan batin); 3) Kebutuhan sosial; 4) Kebutuhan harga diri (penilaian diri); 5) Kebutuhan aktualisasi diri (keamanan sesorang untuk mengembangkan dan merealisasikan kemampuannya).

B. Peningkatan Materi
Adapun usaha-usaha yang mungkin dilakukan adalah :
1) Menambah Jam Pelajaran
2) Pengorganisasian Materi
Mengingat banyaknya materi yang akan disampaikan kepada peserta didik, maka diperlukan adanya pengorganisasian materi sehingga materi tersebut dapat tersampaikan seluruhnya. Menurut Roestiyah, materi pendidikan harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti oleh siswa. Tujuan pengorganisasian materi adalah agar guru lebih memperhatikan urutan (sequence) dari materi yang akan diberikan sesuai tujuan instruksional yang telah dituangkan”.
3) Menyesuaikan tingkat materi pendidikan dengan kemampuan siswa serta waktu yang tersedia.

C. Peningkatan Pemakaian Metode
Variasi pemakaian metode perlu diusahakan sesuai materi yang disampaikan, sehingga siswa tidak merasa bosan. Untuk itulah dalam menyampaikan metode, guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1) selalu berorientasi pada tujuan; 2) tidak terikat pada satu alternatif saja; 3) sering mengkombinasikan berbagai metode; dan 4) sering berganti-ganti dari satu metode ke metode lainnya.

D. Peningkatan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah alat, metode dan teknik yang dipergunakan dalam rangka meningkatkan efektivitas komunikasi dan interaksi edukatif antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Dalam upaya meningkatan sarana perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1) Mengerti secara mendalam tentang fungsi atau kegunaan media pendidikan.
2) Mengerti penggunaan media pendidikan secara tepat dalam interaksi belajar mengajar.
3) Pembuatan alat-alat media harus mudah dan sederhana.
4) Memilih media yang tepat sesuai dengan tujuan dan isi materi yang diajarkan.
e) Membangkitkan Motivasi Belajar
Motivasi yang dapat diberikan kepada siswa, antara lain: pemberian hadiah, mengadakan persaingan atau kompetisi, selalu mengadakan appersepsi dan evaluasi, memberikan tugas sesuai dengan kemampuan, pemberian pujian, pemberian minat belajar, pemberian hukuman, adanya suasana belajar yang menyenangkan.

Rujukan:
1. A. Malik Fajar. 1998. Visi Pembaharuan Pendidikan Islam. Jakarta: LP3NI., 37-45.
2. Abdurrahman Mas’ud, et.al., Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), 110-120.
3. Piet A. Sahertian, Profil Pendidik Profesional (Yogyakarta: Andi Offset, 1994), 67.
4. I. Djumhur, et.al., Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Bandung: CV Ilmu, 1975), 115.
5. Ibrahim Bafadal, Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar: dalam Kerangka Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar (Jakarta: Bumi Aksara, 2006),7-8.
6. —————, Supervisi Pengajaran: Teori dan Aplikasinya dalam Membina Professional Guru (Bumi Aksara: Jakarta, 1992), 64.
7. Roestiyah NK, Masalah-Masalah Ilmu Keguruan (Jakarta: Bina Aksara, 1982), 63.
8. Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKP Surabaya, Pengantar Didaktik Metodik Kurikulum PBM (Jakarta: Rajawali,1989), 39.
Roestiyah, Op.Cit., 67-69.
9. S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar (Bandung: Jemmars, 1986), 81.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: