Arsip

Bahasa

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Faktor Penyebab Perubahan Makna. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Faktor Penyebab Perubahan Makna.

————–

Faktor Penyebab Perubahan Makna
Perubahan suatu makna kata disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang dimaksud adalah (a) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (b) perkembangan sosial-budaya (at-tathawur al-ijtima’iy wats tsaqafi) (c) penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi), (d) perbedaan bidang pemakaian, dan (e) adanya asosiasi.

A. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang begitu cepat dan menyentuh hampir seluruh kehidupan masyarakat. Perkembangan IPTEK ini berimplikasi pada perkembangan bahasa, khususnya perkembangan kosa kata yang mengacu pada benda-benda dari produk IPTEK tersebut. Keterkaitan erat antara perkembangan IPTEK dan bahasa ini karena bahasa itu sendiri sebagai media untuk mengkonsepsikan setiap peristiwa, benda, dan objek-objek lainnya. Dengan ungkapan lain, fungsi bahasa adalah sebagai alat ekspresi dan komunikasi.

Ada beberapa cara yang berkaitan dengan pengembangan bahasa, khususnya pengembangan kata karena akibat perkembangan IPTEK. Pertama bisa berupa serapan dari bahasa penutur pengembang IPTEK, kedua kemungkinan (meskipun kemungkinan kedua ini kecil) membuat padanan kata baru, dan ketiga dengan cara menggunakan kata yang sudah ada dengan memodifikasi atau mengubah makna asalnya. Dalam konteks ini, cara ketiga inilah (perubahan makna) yang menjadi bahasan dalam tulisan ini.

Dalam bahasa Indonesia, Chaer (2002) memberikan contoh perubahan makna akibat perkembangan IPTEK pada kata berlayar. Kata ini pada awalnya bermakna ‘perjalanan di laut (di air) dengan menggunakan perahu atau kapal yang digerakkan dengan tenaga layar’. Walaupun sekarang kapal-kapal besar tidak lagi menggunakan layar, tetapi sudah menggunakan tenaga mesin, bahkan juga menggunakan tenaga nuklir, tetapi kata berlayar masih digunakan.

Fenomena perubahan makna akibat perkembangan IPTEK dalam bahasa Arab dapat kita lihat pada kata هاتف, سيارة, حاسوب, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penggunaan ketiga kata sebagai berikut.

Contoh A
1- ….. فَدَخَلَ عَليَّ مَلَكانِ مَهِيْبَانِ فَطاَرَ عَقْلِيْ وارْتَعَدَتْ مَفَاصِلِي مِنْ هَيْبَتِهِمَا وأخَذانِي وأجْلَسَانِي وَأرادا أنْ يَسْألاَنِي فَسَمِعْتُ نِدَاءً مِنَ الْهَاتِفِ اُتْرُكَا عَبْدِي وَلاَتُخَوِّفَاهُ فَإِنِّي رَحِمْتُهُ ( المواعظ العصفورية: 2).َ
2- قال قائل منهم لاتقتلوه يوسف فألقوه في غيبت الجب يلتقته بعض السيارة إن كنتم فاعلين (يوسف: 10).
3- وجآءت سيارة فأرسلوا واردهم فأدلى دلوه، قال يبشرى هذا غلم وأسروه بضاعة، والله عليم بما يعملون. (يوسف: 19).
4- فسوف يحاسب حسابا يسيرا (الإنشقاق: 8).

1. …. Aku didatangi oleh dua malaikat yang berwibawa. Aku ketakutan dan gemetar. Aku dipegang dan didudukkan. Mereka akan menanyaiku. Tiba-tiba aku mendengar panggilan yang tidak jelas sumbernya (suara tanpa rupa), “hendaklah kamu berdua (Malaikat Munkar dan Nakir) meninggalkannya (Umar bin Khattab), janganlah kamu berdua menakut-nakutinya, karena Aku mengasihinya.

2. Seseorang di antara mereka berkata: “Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.”

3. Kemudian datanglah kelompok orang-orang musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air, maka dia menurunkan timbanya dia berkata: “Oh; kabar gembira, ini seorang anak muda!” Kemudian mereka menyembunyikan dia sebagai barang dagangan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan (Yusuf, 19)

4. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah.

Contoh B
1- لا علاقة بين الهواتف (جم الهاتف) المحمولة والسرطان
(http:/news:bbc.co.uk/hi/sci_tech/newsid.)
2- تُوِّجَ الأسْبَانِي فِرْنَانْدُو ألَنْزُو الاحدَ الماَضِي فِي البَرَازِيل كَأَصْغر بَطَلٍ سِنًّا في الفِئَةِ الأولى لِسِبَاقِ السّيّارات (جم السيارة).
3- اشترى لي أبي الحاسوب.

1. Tidak ada korelasi antara telpon seluler (Hp) dengan penyakit kanker.
2. Firnando Alonso berkebangsaan Spanyol pada hari Ahad yang lalu di Brazil dinobatkan sebagi pemenang termudah pada kelompok pertama untuk lomba reli mobil.
3. Ayahku membelikan saya computer.

Kata الهاتف, السيارة, dan الحاسوب pada contoh di atas mengalami perubahan makna. Perubahan makna ini dipengaruhi oleh perkembangan IPTEK. Kata الهاتف pada contoh A (1) diartikan suara tanpa rupa, yakni petutur mendengar suara tetapi tidak diketahui wujud konkret dari sang penuturnya. Dengan ditemukan alat komunikasi yang baru, kata الهاتف berubah maknanya menjadi telepon atau hand phone (Hp) sebagaimana pada contoh B (1).

Kata سيارة pada ayat 10 dan 19 surah Yusuf di atas (contoh A 2 dan 3) berbeda dengan makna yang digunakan dewasa ini. Dalam kedua ayat tersebut kata سيارة berarti sekelompok musafir. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ash-Shabuni, II, 1976), yang dimaksud dengan kata سيارة pada ayat 19 di atas adalah sekelompok musafir yang melewati jalan. Yang dimaksud jalan di sini adalah suatu tempat Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya (kecuali Benyamin) ke sumur. Menurut Ibnu Abbas sebagaimana yang dikutip oleh Ash-Shabuni, II, 1976, yang dimaksud dengan جاءت سيارة adalah sekelompok kaum yang melakukan perjalanan dari Madyan ke Mesir; tiba-tiba di tengah jalan mereka tersesat dan bingung sehingga akhirnya mereka tiba di suatu jalan yang ada sumurnya tempat Yusuf dibuang dan sumur tersebut jauh dari keramaian. Menurut Shihab (2004), kata سيارة berasal dari kata سار yang berarti berjalan. Kata ini pada mulanya dipahami dalam arti kelompok yang banyak berjalan. Kata ini merupakan salah satu contoh dari pengembangan makna kata. Dikarenakan oleh perkembangan teknologi transportasi, kata ini sekarang berarti ‘mobil’.

Hal yang sama juga terjadi pada kata الحاسوب . Kata atau frase ini berasal dari kata حسب-يحسب- حسابا. Pada contoh contoh A (4) berarti diperiksa atau dihitung dan kata الحاسوب berarti alat penghitung. Kata ini berubah makna (dimodifikasi maknanya) menjadi ‘komputer’ seiring dengan perkembangan teknologi informasi.

B. Perkembangan Sosial Budaya
Dinamika kehidupan dalam masyarakat dapat menghasilkan suatu perubahan sosial-budaya, dan perubahan sosial-budaya juga berdampak pada kegiatan berbahasa, khususnya penggunaan makna kata. Sebagaimana dikemukakan oleh Chaer (2002), bahwa perkembangan di bidang sosial kemasyarakatan dapat menyebabkan terjadinya perubahan makna. Sebuah kata yang pada mulanya bermakna ‘A’, lalu berubah menjadi bermakan ‘B’ atau ‘C’. Jadi bentuk katanya tetap sama, tetapi konsep makna yang dikandung sudah berubah.

Menurut Umar (1982), perubahan makna dalam bahasa Arab karena perubahan sosial-budaya banyak terjadi pada istilah-istilah keagamaan, misalnya الصلاة والحج والزكاة والوضوء والتيمم. Kata الصلاة ‘salat’ semula bukanlah istilah islami, tetapi suatu istilah atau kata yang digunakan oleh orang-orang Arab sebelum Islam datang. Kata الصلاة ini pada awalnya berarti do’a dan istighfar (Bik, tanpa tahun).

Di dalam al-Qur’an, surah At-taubah, ayat 103 kata الصلاة berarti do’a sebagai berikut.
وصل عليهم إن صلاتك سكن لهم
dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do`a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Dalam surah Al-Haj, ayat 40 berikut ini, kata صلوات bentuk jamak dari صلاة berarti rumah-rumah ibadah orang Yahudi. Dengan bahasa yang lain tetapi maksudnya sama, Ash-Shabuni, II (1976) memaknai kata صلوات menjadi كنائس اليهود. Dengan demikian, dengan konteks sosial yang berbeda, kata yang sama dapat berbeda maknanya.

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Setelah Islam mensyariatkan umat Islam umtuk melakukan shalat sebagaimana yang kita pahami sekarang ini, kata الصلاة yang semula berarti do’a, istighfar, dan rumah-rumah ibadah orang Yahudi, berubah mejadi suatu konsep peribadatan ritual yang tersusun dari beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam (Rasjid, 1997). Oleh karena itu sekarang kita kenal shalat maghrib, shalat isya’, shalat subuh, shalat dzuhur, shalat asar, dan lain-lainnya.
Hal yang sama juga terjadi kata الصوم yang semula berarti menahan dan meninggalkan sesuatu, atau menurut Bik (tanpa tahun) الإمساك عن الشيئ والترك dalam konteks sosial-keagamaan menjadi الإمساك عن الشهوتين. Dalam al-Qur’an, surah Maryam ayat 26, kata الصوم dimaknai meninggalkan berbicara, atau oleh Ash-Shabuni, II (1976) kata صوما berarti السكوت والصمت .

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Demikian pula, kata الحج semula berarti “menyengaja sesuatu” atau القصد, selanjutnya makna kata ini berubah menjadi suatu bentuk ibadah, yakni ‘bertujuan mengunjungi ka’bah untuk melakukan beberapa amal ibadah dengan syarat-syarat tertentu (Rasjid, 1997). Demikian pula kata الوضوء berarti membersihkan dengan air (وضأه بالماء: نظفه وغسله). Selanjutnya karena konteks sosial keagamaan, kata الوضوء menjadi ‘mengambil air untuk shalat dengan cara-cara tertentu.

C. Penyimpangan bahasa (al-inhiraful lughawi)
Pengguna bahasa kadang melakukan penyimpangan makna kata dengan kata lain yang maknanya lebih dekat atau mirip dan gejala ini mudah diterima oleh penutur bahasa (Umar, 1982). Menurut Umar (1982), penyimpangan bahasa ini terjadi akibat kesalahpahaman, ketaksaan, dan ketidakjelasan. Pada saat itu, para linguis tidak serta merta melakukan perbaikan, sehingga mayarakat tidak sadar dan terbiasa menggunakan penyimpangan bahasa itu. Umar (1982) memberikan contoh penggunaan kata الارض yang mempunyai beberapa makna yang berbeda. Ia bisa berarti الكوكب المعروف dan الزكام. Kata الليث bisa berarti الاسد dan bisa berarti العنكبوت.
Menurut Umar (1982), anak-anak juga melakukan hal ini dan mereka lebih mementingkan aspek bentuk daripada fungsi. Mereka kadang-kadang menggunakan kata الفأس dan المطرقة untuk kata قدوم. Mereka kadang-kadang juga mencampuradukkan penggunaan kata yang berkaitan dengan berbagai macam burung, misalnya penggunaan kata الحمامة untuk العصفور dan kata الحِدأة ‘burung rajawali’ untuk الغراب.

D. Perbedaan Bidang Pemakaian
Suatu bidang kajian, keilmuan, atau kegiatan tertentu memiliki kekhasan dalam penggunaan kosa kata. Istilah-istilah seperti striker, gelandang kanan, penjaga gawang, tendangan pojok, tendangan penalti, pemain belakang, menghadang bola, dan lini tengah merupakan kosa kata yang lazim digunakan dalam olahraga sepak bola. Di bidang Fisika kita mengenal istilah Vektor, skalar, hukum Newton, massa, gravitasi, panumbra, dan lain-lain.
Kosa kata yang lazim digunakan di bidang tertentu juga dapat digunakan dalam bidang lain yang bersifat umum. Dalam bahasa Indonesia, kata menggarap yang berasal dari bidang pertanian dengan segala macam derivasinya seperti pada frase menggarap sawah, tanah garapan, dan petani penggarap, kini banyak digunakan dalam bidang-bidang lain dengan makna ‘mengerjakan’ misalnya menggarap skripsi, menggarap usul para anggota, menggarap generasi muda, dan menggarap naskah drama (Chaer, 2002).

Kesimpulan yang dapat ditarik dari gejala ini adalah bahwa kata yang sama memiliki arti atau makna berbeda apabila digunakan dalam bidang yang berbeda pula. Dengan ungkapan yang berbeda, Pateda (2001) menyatakan bahwa lingkungan masyarakat (2001) menyebabkan perubahan makna. Berikut ini contoh penggunaan kata cetak yang dikutip dari Pateda (2001) dan Anda diminta membandingkan dan menjelaskan makna kata yang dicetak miring pada masing-masing kalimat.

Contoh A
1) Buku itu dicetak di PT Asdi Mahasatya, Jakarta.
2) Cetakan batu bata itu besar-besar.
3) Pemerintah menggiatkan pencetakan sawah baru bagi petani.
4) Ali mencetak 5 gol dalam pertandingan itu.

Perubahan makna atas dasar bidang pemakaian dalam bahasa Arab dapat dilihat pada contoh B berikut ini.

Contoh B
1- والفرض هو الإجابة المحتملة عن سؤال الدراسة.
2- الصلات من أفضل الفرض الذي أمر بلزومه.
3- د. محمد اسماعيل رئيس التحرير للمجلة “المجتمع”.
4- أقيم المؤتمر العالي لحزب التحرير في اغوسطس ‏2005‏‏.
5- وماكان لمؤمن ان يقتل مؤمنا إلا خطئا, ومن قتل مؤمنا خطئا فتحرير رقبة مؤمنة ودية مسلمة الى اهله (النساء: 92).

1. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian.
2. Ibadah salat merupakan kewajiban paling utama yang diperintah untuk dilaksanakan.
3. Muhammad Ismail adalah pemimpin redaksi majalah “Al-mujtama’”.
4. Komperensi tingkat tinggi untuk Partai/kelompok Pembebasan (Hizbut Tahrir) telah dilakasanakan pada bulan Agustus 2005.
5. Dan tidak layak bagi soerang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mu’min karena tersalah, (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (Qur’an, surah Annisa’ ayat 92).

Pada contoh B (1) sampai B (4) terdapat kosa kata yang sama. Kalimat B (1) dan B (2) sama-sama memiliki kata الفرض. Demikian pula, kalimat B (3) dan B (4) juga sama-sama memiliki kata التحرير. Permasalahannya adalah apakah kata yang sama pada contoh B di atas juga memiliki acuan makna yang sama. Jawabannya tentu tidak sama. Ketidaksamaan atau perbedaan makna pada kata yang sama tersebut muncul karena kata-kata yang sama tersebut diletakkan dalam bidang yang berbeda.

Kata الفرض pada contoh B (1) berada pada bidang bahasan penelitian, sehingga arti yang muncul dari kata tersebut adalah hipotesis. Sementara itu, kata الفرض pada contoh B (2) bukan lagi diartikan hipotesis, melainkan diartikan kewajiban, karena kata ini berada pada bidang keagamaan, khususnya bidang Ilmu Fiqh. Perubahan makna dari kewajiban ke hipotesis atau sebaliknya disebabkan oleh penggunaan kata tersebut pada kekhasan bidang atau keilmuan.

Demikian pula, kata التحرير pada contoh B (3) dan (4) juga memiliki makna yang berbeda, meskipun keduanya sama. Kata التحرير pada B (3) bersentuhan dengan wilayah jurnalistik, sehingga makna yang muncul adalah redaksi. Jadi رئيس التحرير berarti ‘Pemimpin Redaksi’. Sementara itu, Kata التحرير pada B (4) bersentuhan dengan wilayah politik, sehingga kata tersebut berarti ‘pembebasan’. Jadi حزب التحرير berarti ‘Partai Pembebasan’. Hal yang sama juga terjadi pada B (5). Kata التحرير pada B (5) ini berkaitan dengan hukuman bagi orang yang melakukan pembunuhan (masalah kirminal) dan kata التحرير juga berarti membebaskan (membebaskan budak muslimah).

E. Adanya asosiasi
Perubahan makna juga dapat terjadi karena adanya asosiasi antara kata yang digunakan dan hal atau peristiwa lain yang berkaitan dengan kata tersebut sehingga memunculkan makna baru. Chaer (2002) memberikan contoh kata amplop yang berasal dari bidang administrasi atau surat-menyurat, makna asalnya adalah ‘sampul surat’. Ke dalam amplop itu, selain bisa dimasukkan surat, juga bisa dimasukkan benda lain, misalnya uang. Oleh karena itu, dalam kalimat Beri saja amplop, maka urusan pasti beres, kata amplop di sini bermakna uang.

Dalam bahasa Arab juga didapati kata atau istilah yang berubah makna asalnya karena adanya asosiasi. Menurut informasi dari salah seorang yang pernah menetap di Siria, kata الاستراحة yang makna asalnya istirahat dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan “tawaran kepada pria untuk tidur bersama dengan “Pekerja Seks Komersial (PSK)”. Kata ini konon dapat diungkapkan oleh PSK itu sendiri dan bisa diungkapkan oleh “makelar” atau “pemilik mucikari”. Kata lain misalnya الحلاوة, makna asalnya ‘manisan’ atau ‘kemanisan’, tetapi dalam lingkungan tertentu bisa diasosiasikan dengan ‘upah’, ‘tip’, atau ‘bingkisan’.

————–

Demikian artikel/makalah tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Faktor Penyebab Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes . Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes.
————–

Pembagian Konteks
Secara lebih rinci, K. Ammer sebagaimana dikutip oleh Umar (1982) mengusulkan pembagian konteks menjadi:
(a) konteks linguistik (as-siyaq al-lughawi) atau linguistic context,
(b) konteks emotif (as-siyaq al-‘athifi) atau emotive context,
(c) Konteks situasi (siyaqu al-mauqif) atau situasional context, dan
(d) Konteks budaya (as-siyaq ats-tsaqafi) atau cultural context.

Dalam konteks linguistik, kata good dalam bahasa Inggris atau kata hasan dalam bahasa Arab mengacu pada berbagai makna sesuai dengan konteks kebasaan yang menyertainya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
Contoh A
1- على رجل حسن
2- هو طبيب حسن
3- هذا ماء حسن

Kata hasan baik pada contoh A (1), (2) dan (3) merupakan kata sifat yang makna dasarnya ‘baik’. Akan tetapi, kata tersebut memunculkan berbagai makna dalam konteks kebahasaan yang berbeda. Kata hasan pada contoh A (1) berkaitan dengan moral/akhlak. Artinya, yang dimaksud hasan atau baik dalam kalimat A (1) tersebut adalah baik akhlaknya. Dengan demikian, kalimat A (1) berarti ‘Ali adalah seorang lelaki yang baik moralnya atau akhlaknya’. .Kata hasan pada contoh A (2) bukan lagi mengacu pada ahklak (moral), melainkan ‘baik’ dalam hal kinerja (at-tafawwuq fi al-ada’), sehingga kalimat A (2) di atas berarti ‘dokter itu memiliki etos kerja tinggi’.

Sementara itu, Kata hasan pada contoh A (3) bukan lagi mengacu pada akhlak atau kinerja, melainkan mengacu pada makna shofa’ wan naqawah (jernih), sehinga kalimat A (3) berarti air itu jernih (Umar, 1982). Pembeda makna dari kata sifat yang sama (hasan) adalah konteks kebahasaan, yakni kata rajul, thabib, dan ma’. Ini artinya, kata sifat yang sama menimbulkan arti yang berbeda dalam konteks kalimat yang berbeda pula.

Selanjutnya, Umar (1982) juga memberikan contoh penggunaan kata yad ke dalam konteks kalimat yang berbeda sebagaimana kutipan berikut ini.
1- أعطيته مالا عن ظهر (يد) يعني تفضلا ليس من بيع ولا قرض ولا مكافأة.
2- هم (يد) على من سواهم: إذا كان أمرهم واحدا.
3- (يد) الفأس ونحوه : مقبضها.
4- (يد) الدهر : مد زمانه.
5 – (يد) الريح : سلطانها.
6- (يد) الطائر : جناحه.
7- خلع (يده) من الطاعة : مثل نزع يده.
8- بايعته (يدا) بيد : أي نقدا.
9- ثوب قصير (اليد) : إذا كان يقصر أن يلتحف به.
10- فلان طويل (اليد) : إذا كان سمحا.
11- مالي بد (يد) : أي قوة.
12- سقط في يده : ندم.
13- هذه (يدي) لك : أي استلمت وانقدت لك.
14- حتى يعطوا الجزية عن (يد) : عن ذل واعتراف للمسلمين بعلو أيديهم.
15- إن بين (يدي) الساعة أهوالا : أي قدامها.
16- (يد) الرجل : جماعة قومه وأنصاره.

Konteks emotif adalah suatu konteks yang berkaitan dengan tingkat kekuatan dan kelemahan dalam berinteraksi, yang secara fungsional bisa jadi sebagai penegas, hiperbola atau di antara keduanya. Kata love dalam bahasa Inggris misalnya secara emotif berbeda dengan kata like meskipun keduanya memiliki makna dasar yang sama, yaitu cinta (al-hub). Dalam bahasa Arab, kata yukrihu secara emotif berbeda dengan kata yabghadlu, meskipun keduanya juga berasal dari makna dasar yang sama, yaitu ‘membenci’ (Umar, 1982). Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh B
1- كُتِب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى ان تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شرلكم, والله يعلم وانتم لا تعلمون (البقرة: 216)

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

2- ويكره النوم بعد دخول وقت الصلاة (فتح المعين, ص:15)

Dimakruhkan tidur sesudah waktu salat masuk

3- صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
(الفاتحة: 7).

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

4- إن أبغض الحلال الى الله الطلاق.
Sesungguhnya perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah Talak (cerai).

Verba تكرهوا pada contoh (1) dan verba يكره pada contoh (2) berasal dari kata كره – يكره . Sementara itu, kata مغضوب pada contoh (3) berasal dari kata غضب- يغضب dan kata ابغض pada contoh (4) berasal dari kataبغض – يبغض . Kedua kata ini memiliki makna dasar yang samam yakni mengekresikan sikap benci (ketidaksukaan terhadap sesuatu). Akan tetapi, apabila dilihat dari konteks emotifnya, keduanya memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada kadar ketidaksukaan pada kedua kata tersebut.

Verba تكرهوا dan يكره pada contoh (1) dan (2) di atas memiliki tingkat ketidaksukaan (kebencian) yang lebih kecil daripada ketidaksukaan (kebencian) yang ada pada مغضوب dan kata ابغض pada contoh (3) dan (4). Kebencian yang ada pada Verba تكرهوا dan يكره tidak disertai dengan unsur kemurkaan, sehingga seringkali kata يكره berarti tidak menyukai. Bahkan dalam kata يكره ada unsur pembolehan (meskipun tidak diharapkan), misalnya tidur setelah waktu salat masuk itu humumnya makruh. Dalam hal ini, tidak diharamkan tidur setelah waktu salat masuk, asalkan yang bersangkutan masih memiliki waktu untuk melakukan salat. Dengan ungkapan lain,kata يكره pada contoh (2) di atas dapat dipadankan dengan kata sebaiknya, yakni sebaiknya jangan tidur setelah waktu salat masuk, karena dikhawatirkan yang bersangkutan kehilangan waktu salat.

Sementara itu, kata بغض- يبغض sebagaimana yang tercermin pada contoh (3) dan (4) disertai dengan unsur kemurkaan. Menurut Shihab (1997) maksud kata مغضوب pada ayat 7 surah al-fatihah di atas adalah kehendak Tuhan untuk melakukan tindakan keras dan tegas, atau dengan kata lain, adalah siksaan. Dengan demikian, murka Tuhan (مغضوب ) adalah siksa atau ancaman siksa-Nya. Demikian pula, kata ابغض pada contoh (4) juga disertai dengan kemurkaan, yakni Tuhan memurkai orang yang melakukan perceraian (talak), sekalipun secara syar’iyyah (yuridis-formal) dihalalkan.

Konteks situasi di sini dimaksudkan sebagai konteks situasi eksternal (al-mauqif al-khariji) yang memungkinkan kata itu digunakan. Artinya, kata yang sama memiliki arti yang berbeda karena situasi yang berbeda pula. Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh C
1- يرحمك الله
2- الله يرحمه

Verba yarham pada contoh C (1) dan contoh (2) memiliki arti yang berbeda disebabkan oleh situasi luar yang berbeda. Contoh C (1) digunakan dalam siatuasi menjawab atau mendoakan orang lain yang membaca hamdalah pada saat bersin. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang bersin ini adalah kasih sayang di dunia (thalabu ar-rahmah fi ad-dunya). Sementara itu, contoh C (2) digunakan sebagai doa bagi orang yang meninggal dunia. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang meninggal dunia ini adalah kasih sayang di akherat (thalabu ar-rahmah fi al-akhirah). Dengan demikian, kata yarham pada contoh C (1) dan (2) digunakan dalam konteks situasi yang berbeda. Implikasinya, makna yang diacu oleh kata yarham tersebut juga berbeda.

Sementara itu dalam konteks budaya, batasan-batasan atau nilai-nilai dalam lingkungan budaya atau masyarakat mempengaruhi penggunaan kata. Dalam bagasa Inggris misalnya, kata looking glass di Negara Inggris cendrung digunakan oleh masyarakat dalam struktur sosial tinggi bila dibandingkan dengan penggunaan kata mirror, meskipun makna dasarnya sama, yaitu cermin. Demikian pula, kata rich dengan kata wealthy. Dalam bahasa Arab, kata aqilah berbeda dengan kata zaujah, sekalipun keduanya mempunyai makna dasar yang sama, yaitu istri. Kata aqilah yang termasuk kosa kata Arab modern (al-arabiyah al-mu’asharah) cendrung digunakan untuk masyarakat yang strata sosialnya tinggi atau ekslusif (at-athabaqah al-‘ijtimaiyyah al-mutamayyizah) bila dibandingkan dengan kata zaujah (Umar, 1982). Berikut ini contoh penggunaan kata aqilah (dikutip dari majalah berbahasa Arab Indonesia yang diterbitkan oleh kedutaan Indonesia di Damaskus edisi 18 bulan Kanun tsani –syabat tahun 1987) dan kata zaujah.

Contoh D
1- شاركت عقيلة السيد ويسنوهارتونو الملحق في السفارة في عرض الأزياء الشعبية التقليدية في سوريا.
2- وصل السيد الرئيس سوهارتو والسيدة عقيلته الى جوهوربارو ماليزيا يوم الخميس لزيارة عمل استغرقت يوما واحدا.
3- وصل الى جاكرتا يوم الثلاثاء 13\1\1987 فخامة الرئيس حسين محمد ارشاد رئيس جمهورية بنغلادش والسيدة عقيلته في زيارة عمل استغرقت أربعة ايام.
4- تخرج زوجتي كل يوم في الصباح
5- نحن نتناول الوجَبات خارج البيت, لأن زوجتي لا تجد وقتا لإعداد الطعام

Keterangan: contoh nomor 4 dan 5 dikutip dari buku “Al-arabiyyah baina yadaik” jilid 2
Kata aqilah pada contoh D (1), (2), dan (3) mengacu pada seorang istri yang strata sosialnya tinggi. Kata aqilah pada contoh D (1) mengacu pada istri staf kedutaan di Damaskus-Syiria, kata aqilah pada contoh D (2) mengacu pada istri presiden Suharto (Ibu Tien Suharto), kata aqilah pada contoh D (3) mengacu pada istri Husen Muhammad Irsyad (presiden Banglades). Akan kurang tepat, apabila kata aqilah di atas diganti dengan kata zaujah, karena konteks budaya (strata sosial) menghendaki demikian. Sementara itu, contoh D (4) dan (5) menggunakan kata zaujah. Secara sosio-kultural akan kurang tepat apabila kata aqilah yang digunakan.

Pengaruh konteks budaya atau sosio-kultural terhadap penggunaan kata lebih kentara pada kultur Jawa (bahasa Jawa). Di dalam bahasa Jawa terdapat tiga strata dalam berbabasa, yaitu strata ngoko, madya, dan krama. Kata “makan” bisa diungkapkan dengan kata ‘mangan’, ‘nedho’ dan ‘dhahar’. Berikut ini contoh penggunaan ketiga kata tersebut.

Contoh E
1. Punopo Ibu sampun dhahar?
2. Matur suwun bu! Kula sampun nedha.
3. apa kuwe wis mangan Bud?

Kata dhahar, nedha, dan mangan pada contoh E di atas memiliki makna dasar yang sama, yakni ‘makan’. Akan tetapi, dilihat dari konteks budaya yang berlaku dalam masyarakat Jawa, ketiga kata tersebut tidak boleh digunakan secara acak (di sembarang tempat dan situasi). Kata dhahar pada contoh E (1) ditujukan oleh seorang anak kepada ibunya, kata ‘nedha’ pada contoh E (2) mengacu pada penutur sendiri ketika berbicara dengan ibunya, sedangkan kata ‘mangan’ pada contoh E (3) mengacu pada penutur yang status sosialnya sama atau lebi rendah (dengan teman sendiri). Dengan demikian, secara sosio-kultural, ketiga kata tersebut secara semantis mempunyai nuansa makna yang berbeda. Kata dhahar terasa lebih halus daripada kata nedha, dan kata nedha terasa lebih halus daripada kata mangan.

————–
Demikian artikel/makalah tentang Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Makna Kiasan. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Kiasan sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Kiasan.

————–


Makna Kiasan
Makna kiasan atau makna kias digunakan sebagai kebalikan dari makna sebenarnya (Chaer, 2002). Makna kias adalah makna suatu satuan bahasa yang bukan makna sebenarnya (leksikal, konseptual, dan denotatif). Harimurti (dalam Pateda, 2001) juga mengemukakan bahwa makna kiasan adalah pemakaian satuan yang maknanya tidak sebenarnya.

Dalam bahasa Arab terdapat kata سفينة ‘kapal atau kendaraan laut’. Tetapi kalau dikatakan الصحراء سفينة tentu tidak lagi bermakna kendaraan laut atau kapal. Kata الصحراء سفينة mempunyai makna kias ‘onta’. Dalam hal ini onta di padang pasir diperumpamakan atau disamakan dengan kapal di laut. Dalam Al-Qur’an terdapat kata النجدين pada ayat وهديناه النجدين (surat Al-Balad). Kata النجدين merupakan bentuk dual/mutsanna dari النجد yang bermakna jalan atau gunung. النجد juga merupakan nama salah satu wilayah pegunungan di Mekah/Saudi. Dalam bahasa Arab banyak digunakan bentuk dual untuk mengacu pada dua hal yang berlawanan, misalnya قمران mengacu pada bulan dan bumi, dan قمران mengacu pada ayah dan ibu. Tetapi kata النجدين pada ayat di atas tidak mengacu pada jalan yang menanjak dan menurun ataupun bukit dan jurang (hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 7). Kata tersebut tidak lain digunakan dengan makna kias atau sebagai kiasan dari jalan kebaikan/kebenaran dan jalan kesesatan.

Pateda (2001) mengemukakan bahwa makna kias banyak terdapat di dalam idiom, peribahasa, dan ungkapan. Adapun Chaer (2002) mengemukakan bahwa idiom, ungkapan, dan metafora merupakan tiga istilah dengan objek pembicaraan yang sama dari sisi pandang yang berbeda. Idiom dilihat dari segi makna, yaitu adanya penyimpangan makna dari makna leksikal dan makna gramatial unsur-unsur pembentuknya. Ungkapan dilihat dari segi ekspresi kebahasaan. Sedangkan metafora dilihat dari segi ada-tidaknya unsur pembanding.

Sebagai tambahan sekaligus bandingan penjelasan terhadap penjelasan yang dikemukakan Pateda (2001) dan Chaer (2002) di atas, mungkin dapat dikemukakan bahwa ungkapan merupakan istilah umum yang mencakup idiom, peribahasa, dan metafora. Idiom dan peribahasa merupakan ungkapan kebahasaan yang bersifat khas dan tetap. Idiom merupakan ungkapan khas yang sudah jadi dan tetap, yang maknanya menyimpang dari makna leksikal ataupun makna gramatikal unsur-unsurnya. Peribahasa dibedakan dari idiom dalam hal satuannya yang lebih lengkap/kompleks. Perbedaan lainnya, peribahasa cenderung digunakan untuk nasihat. Sebagai ungkapan yang sudah jadi, idiom dan peribahasa menjadi milik masyarakat pengguna bahasa secara umum.

Berbeda dengan idiom dan peribahasa, metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang khas pula, tetapi bersifat individual. Metafora bukanlah ungkapan khas yang bersifat umum. Jika suatu metafora sudah tersebar secara luas di masyarakat, berubah menjadi idiom atau peribahasa, bergantung pada kompelksitas satuannya dan ada tidaknya aspek nasihat dalam satuan tersebut.


————–
Demikian artikel/makalah tentang Makna Kiasan. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Kiasan. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.
Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang 
Teori dan Pengertian Konteks

. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang 

Teori dan Pengertian Konteks

 sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema 

Teori dan Pengertian Konteks

.

————–

 
Pengertian Konteks
Teori konteks merupakan suatu teori kebahasaan yang diperkenalkan oleh aliran London yang disebut dengan Contextual Approach (al-manhaj as-siyaqi) atau Operational Approach (al-manjah al-‘amali). Firth sebagai tokoh dalam aliran ini telah meletakkan dasar tentang fungsi sosial bahasa. Tokoh-tokoh yang lain misalnya Halliday, Mc Intosh, Sinclair, dan Mitchell (Umar, 1982). Menurut pencetus aliran ini, makna suatu kata terletak pada penggunaannya. Selanjutnya Freesh sebagaimana yang dikutip oleh Umar (1982) menegaskan bahwa makna suatu kata tidak akan terungkap tanpa diletakkan ke dalam unit bahasa, yakni tanpa diletakkan ke dalam konteks yang berbeda.
Konteks diartikan sebagai suatu bunyi, kata, atau frase yang mendahului dan mengikuti suatu unsur bahasa dalam ujaran. Konteks juga dapat diartikan sebagai ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran atau wacana (Kridalaksana, 1984). Secara fungsional, konteks mempengaruhi makna kalimat atau ujaran. Konteks ada yang bersifat linguistik dan non-linguistik (ekstra linguistik). Konteks linguistik menjadi wilayah kajian semantik, sedangkan konteks non-linguistik (ekstra linguistik) menjadi wilayah kajian pragmatik.
Konteks linguistik mengacu pada suatu makna yang kemunculannya dipengaruhi oleh struktur kalimat atau keberadaan suatu kata atau frase yang mendahului atau mengikuti unsur-unsur bahasa (kata/frase) dalam suatu kalimat. Perhatikan contoh di halaman berikut ini.
Contoh A:
1. Ali memetik bunga di halaman rumahnya.
2. Fatimah itu bunga di desanya.
3. Mereka belajar bahasa Arab.
4. Antara sesama menteri tidak ada kesatuan bahasa.
Kata bunga contoh A (1) berbeda maknanya dengan kata bunga pada contoh A (2). Kata bunga pada A (1) mengacu pada bagian tumbuhan yang akan menjadi buah dan biasanya elok warnanya dan harum bauhnya. Bunga juga berarti kembang (Departemen Pendidikan Nasional, 2001). Kata bunga pada A (2) tidak sama maknanya dengan yang ada pada A (1). Kata bunga pada A (2) ini mengacu pada Fatimah. Unsur yang mempengaruhi perbedaan makna dari kedua kata yang sama tersebut adalah konteks. Kata kunci yang membedakan makna adalah kata memetik pada A (1) dan Fatimah pada A (2). Peristiwa yang sama juga terjadi pada kata bahasa sebagaimana dalam kalimat A (3) dan (4). Kata bahasa pada contoh A (3) berarti bahasa sebagai alat komunikasi yang dalam hal ini adalah bahasa Arab, sedangkan pada A (4) berarti tidak ada kesatuan pandangan atau pendapat.
Contoh B
1- يقرأ المسلمون الكتاب في المسجد.
2- يقرأ النصارى الكتاب في الكنيسة.
3- يقرأ الطلاب الكتاب في مكتبة الجامعة.
Kata al-kitab pada B (1) secara semantis berbeda dengan kata al-kitab pada B (2) dan (3). Kata al-kitab pada B (1) mengacu pada kitab suci al-Qur’an. Pemaknaan kata al-kitab sebagai al-Qur’an didukung oleh konteks linguistik, yakni oleh frase sebelum dan sesudahnya, yakni frase al-muslimun dan fil masjid. Kata al-kitab pada B (2) bukan lagi mengacu pada kitab suci al-Qur’an atau kitab-kitab lainnya, melainkan mengacu pada kitab suci umat Nasrani (Injil) atau mengacu pada buku yang substansinya berkaitan erat dengan ajaran keagamaan Nasrani. Kata atau frase kunci yang membentuk konteks sehingga kata al-kitab pada B (2) dimaknai seperti itu adalah frase an-nashara dan fi al-kanisah. Sementara itu, Kata al-kitab pada B (3) bukan lagi mengacu pada kitab al-Qur’an maupun Injil, melainkan mengacu pada buku-buku bacaan umum lainnya yang lazim digunakan dalam perkuliahan. Frase kunci yang memaknai al-kitab seperti itu adalah ath-thulab dan maktabatu al-jami’ah. Dengan demikian, meskipun ketiga kata tersebut (al-kitab) makna dasarnya (makna leksikal) sama, tetapi makna konteksnya berbeda.
Sementara itu, yang dimaksud dengan konteks non-linguistik atau ekstra linguistik adalah suatu konteks yang unsur-unsur pembentuknya berada di luar struktur kalimat. Unsur-unsur konteks meliputi penyapa dan pesapa, konteks sebuah tuturan, tujuan sebuah tuturan, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk suatu tindak verbal (bukan tindak verbal itu sendiri) (Leech,1983). Menurut Purwo (1990), unsur-unsur konteks adalah siapa yang mengatakan kepada siapa, tempat, dan waktu diujarkannya suatu kalimat. Uraian mengenai hal ini telah dikemukakan pada bab I (semantik dan pragmatik).

————–
Demikian artikel/makalah tentang Teori dan Pengertian Konteks. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang 
Teori dan Pengertian Konteks

. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa.

————–


Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa
Idiom adalah satuan-satuan kebahasaan (kata, frasa, dan kalimat) yang maknanya tidak dapat diketahui dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun dari makna gramatikal satuan tersebut. Sebagai contoh kata تحَجَّر – تخَشِّب – تَغَيَّم – تَثَلَّج mempunyai dasar berupa nomina- حجر .ثلج – غيوم – خشب Menurut kaidah gramatikal kata تحَجَّر ‘menjadi batu’ تخَشِّب‘menjadi kayu’ تَغَيَّم ‘menjadi mendung’, dan تَثَلَّج ‘menjadi es’ bermakna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar’. Tetapi kata تَسَوَّق yang berasal dari bentuk dasar berupa nomina سُوق dan mengalami proses gramatika yang sama dengan keempat kata terdahulu tampaknya tidak memiliki makna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar’. Atau secara singkat, kata تَسَوَّق tidak bermakna ‘menjadi pasar’, melainkan bermakna ‘berbelanja’.

Sebagai contoh lain, kata –- وسَّع فرَّح – كبَّر yang berasal dari ajektiva –واسِع فرِح – – كبيرmempunyai makna mentransitifkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana dinyatakan pada dasar. Tetapi makna tersebut tidak terdapat pada kata مَرّضَ yang juga berasal dari ejektiva مريض. Kata مَرّضَ tidak lain bermakna ‘merawat hal yang ada pada bentuk dasar atau berupaya menghilangkan sesuatu yang dinyatakan pada bentuk dasar’.

Contoh yang berupa frasa dapat dikemukakan, misalnya شُرْب الشجارة tidaklah bermakna ‘meminum rokok ataupun memasukkan hal yang dinyatakan pada kata kedua ke dalam perut melalui mulut’, sebagaimana frasa شرب الخمر –شرب الماء – شرب القهوة . Frasa شرب الشجارة berarti ‘mengisap rokok atau merokok’ (يُدَخِّن) .Jadi makna yang terkandung pada kata تَسَوَّق – مَرّضَ dan frasa شرب الشجارة bukanlah makna leksikal atau gramatikal, melainkan makna idiomatis. Termasuk dalam kategori idiom dalam bahasa Arab adalah pasangan khas verba dengan huruf jar (preposisinya), misalnya رَغِبَ في ‘senang’ dan رَغِبَ عَن ‘benci’. Jadi makna idiomatis adalah makna satuan kebahasaan yang menyimpang dari makna leksikalnya ataupun dari makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya.

Idiom dapat dibedakan menjadi dua (Pateda, 2001), yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Contoh:

(40) بيت الخلاء
(41) كبش الفداء
Frasa بيت الخلاء terbentuk dari kata بيت yang makna leksikalnya ‘bangunan tempat tinggal’ dan الخلاء yang makna leksikalnya ‘sepi, sunyi’,. Makna leksikal dari setiap kata tidak lagi tampak pada konstruksi tersebut. Frasa بيت الخلاء tidak bermakna rumah sepi atau rumah untuk menyepi, tetapi bermakna ‘tempat buang hajat’. Frasa كبش الفداء yang bermakna ‘orang atau pihak yang dipersalahkan atau dijadikan sebagai dalih atas terjadinya sesuatu’ tidak lagi mengandung makna leksikal unsur-unsurnya, yaitu كبش ‘kambing’ dan الفداء ‘tebusan’.

Adapun idiom sebagian masih menampakkan salah satu unsur dengan makna leksikalnya. Misalnya kata أم ‘wanita yang melahirkan’ dan القرآن ‘kitab suci umat Islam’ membentuk konstruksi أم القرآن ‘surat Al-Fatihah’ (42). Jadi makna leksikal dari unsur kedua masih terwakili pada makna keseluruhan konstruksi tersebut. Frasa رأس المال (43) mempunyai makna ‘uang awal usaha atau modal’. Frasa tersebut terdiri atas unsur رأس ‘kepala atau bagian paling atas dari suatu makhluk bernyawa’ dan المال ‘harta, kekayaan’. Jadi makna المال sebagai unsur kedua juga masih tampak pada makna konstruksi tersebut secara utuh.

(42) أم القرآن
(43) رأس المال
Idiom berbeda dari peribahasa. Sebagaimana telah dikemukakan, idiom merupakan satuan kebahasaan yang maknanya ‘menyimpang’ dari makna unsur-unsurnya. Adapun peribahasa merupakan satuan kebahasaan yang digunakan sebagai perbandingan, tetapi maknanya masih dapat dilacak dari makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh, satuan bagai air dan minyak merupakan satuan yang terdiri atas unsur air ‘benda cair sebangsa air minum’ dan unsur minyak ‘benda cair yang mudah terbakar’. Di dalam satuan tersebut, kedua unsurnya tetap memiliki makna leksikalnya masing-masing. Tetapi satuan tersebut justru digunakan sebagai pembanding suatu hal di luar satuan itu sendiri, yaitu keadaan dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur. Dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur disamakan atau dibandingkan dengan air dan minyak yang mempunyai sifat sulit bercampur antarkeduanya.

Dalam bahasa Arab dapat dikemukakan dua contoh berikut.
(44) لنْ ترجِع الأيام التي مضَتْ
(45) إنك لا تجني مِن الشَّوك عِنَبًا

Satuan (44) berpadanan dengan nasi telah menjadi bubur. Unsur-unsur pada satuan (44) digunakan dengan makna leksikalnya masing-masing. Satuan tersebut bermakna harfiah ‘tidaklah akan kembali hari-hari yang telah berlalu’. Makna tersebut digunakan sebagai pembanding suatu hal yang ada di luar atau yang tidak dinyatakan. Dalam hal ini yang yang dibandingkan adalah kesempatan, waktu, atau kegiatan dan kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan. Kesempatan, waktu, kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan tidak datang lagi sebagaimana hari-hari yang telah berlalu tidak akan datang lagi. Kalaupun hari-hari dalam seminggu terus datang berulang, sesunguhnya hari-hari dalam minggu ini bukanlah hari-hari yang datang minggu lalu.

Satuan إنك لا تجني مِن الشَّوك عِنَبًا ‘engkau tidak memetik anggur dari durian’ digunakan sebagai pembanding hal yang ada di luar satuan tersebut, yaitu hasil perbuatan yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Yang menanam durian, akan memetik durian sebagaimana yang menanam anggur akan memetik anggur. Berbuat baik akan memperoleh hasil yang baik. Jadi satuan (45) mempunyai makna ‘hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya’. Makna tersebut dapat dilacak dari makna leksikal unsur-unsur dalam satuan. Satuan (45) tampak berpadanan dengan satuan BI barang siapa menanam menuai.
Dalam BA, hal yang dibandingkan kadang-kadang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, misalnya:
(46) المزاح يأكل الهيبة كما تأكل النار الحطب

Satuan (46) terdiri atas dua klausa, (a) المزاح يأكل الهيبة ‘senda gurau memakan kewibawaan’ dan (b) تأكل النار الحطب ‘api memakan kayu bakar’. Klausa (b) merupakan pembanding dari klausa (a). Jadi makna peribahasa satuan tersebut pada dasarnya sudah dinyatakan pada klausa (a). Adapun maksud dari satuan tersebut adalah anjuran atau peringatan untuk tidak banyak bersenda gurau.


————–
Demikian artikel/makalah tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang 
Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa

. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Berikut ini artikel/makalah tentang  Jenis Perubahan Makna. makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini diharapkan memberi pemahaman tentang Jenis Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian pendidikan tentang  Jenis Perubahan Makna.

————————-


Macam-macam Perubahan Makna
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa makna bahasa selalu mengalami perubahan karena berbagai faktor. Pertanyaan berikutnya yang mengemuka adalah bagaimanakah bentuk atau jenis perubahan yang terjadi. Ada beberapa bentuk atau jenis perubahan makna sebagaimana berikut ini.

A.Perluasan Makna (Tausi’ul Ma’na)
Menurut Umar (1982), perluasan makna (widening/extension) terjadi manakala didapati perpindahan dari makna khusus ke makna umum. Sependapat dengan pernyataan ini, Chaer (2002) menegaskan bahwa perubahan makna meluas terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kata saudara, bapak, dan ibu semula digunakan untuk menyebut orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Akan tetapi, sekarang makna kata tersebut meluas. Artinya, kata saudara, bapak, dan ibu bukan saja digunakan untuk orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita, melainkan juga digunakan untuk orang lain.

Dalam bahasa Arab, anak kecil sering mengucapkan kata تفاحة’apel’ untuk mengacu pada segala sesuatu berbentuk oval yang serupa bentuknya dengan ‘apel’, misalnya kata , كرة التنس, أكرة الباب, البرتقالة ‘jeruk’, ‘handle pintu’, dan ‘bola tenes’ (Umar, 1982). Ini berarti kata تفاحة yang semula berarti ‘apel’ (makna khusus), diperluas maknanya untuk benda yang serupa bentuknya, misalnya jeruk, bola tenes, dan handle pintu. Kata salary (المرتب) yang berasal dari bahasa Latin dan makna semula adalah gaji prajurit (مرتب الجندي) sekarang maknanya meluas menjadi gaji untuk semua karyawan. Bahkan kalau kita mencermati sejarah kata salary (المرتب) ini pada awalnya berarti gaji prajurit berupa garam (حصة الجندي من الملح), kemudian meluas maknanya menjadi haji prajurit, dan sekarang berarti gaji karyawan. Dengan demikian, kata ini mengalami perluasan makna dua kali (Umar, 1982).

Untuk lebih mempermudah pemahaman terhadap perluasan makna, perhatikan dan bandingkan contoh A1 dan 2 serta contoh B1 dan B2 berikut ini.

Contoh A1
(1) Saudara saya tiga orang
(2) Bapak saya bekerja di perusahaan swasta.
(3) Ibu saya seorang guru di Madrasah Aliyah.

Contoh A2
(1) Apakah Saudara menerima pendapat saya?
(2) Ide Bapak itu ideal, tetapi sulit diterapkan.
(3) Ibu kita Kartini harum namanya.

Kata saudara, bapak, dan ibu pada contoh A1 berbeda dengan yang ada pada A2. Saudara pada A1 dimaksudkan saudara karena ada hubungan darah (mungkin kakak atau adik yang seayah dan seibu atau seayah saja, atau seibu saja). Kata bapak pada A1 dimaksudkan sebagai orang tua laki-laki (ayah), dan ibu dimaksudkan sebagai orang tua perempuan. Ketiga kata ini yang semula (pada contoh A1) memiliki makna sempit berkembang menjadi kata yang maknanya lebih luas. Kata saudara pada A2 sudah tidak dibatasi oleh adanya hubungan darah, melainkan merupakan kata sapaan yang diperuntukkan kepada semua orang yang secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial yang hampir sama. Demikian pula, kata bapak dan ibu pada A2 bukan lagi dibatasi oleh pertalian darah, melainkan juga merupakan kata sapaan yang bagi orang lain yang usianya lebih tua atau secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial atau struktur formal lebih tinggi.

Untuk mengetahui perluasan makna dalam bahasa Arab, perhatikan dan bandingkan contoh berikut ini.

Contoh B1
1- إذقالوا ليوسف واخوه أَحَبُّ الى ابينا منا ونحن عُصبة, إن ابانا لفي ضلال مبين (يوسف:8).
2- وإن كان رجل يورث كلالَة او امرأة وله اخ او اخت فلكل واحد منهما السدس.(النساء: 12)

3- وقال يابَنَِّي لاتدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة (يوسف:67)

1. (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

2. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

3. Dan Ya`qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain”.

Contoh B2
1- إنماالمؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم.
2- لايؤمن احدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه.
3- العباد كلهم إخوة.
4- فيا أبناء الأمة, تمسكوا في حياتكم بالقرآن والحديث!

1. Sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara, maka perbaikilah di antara saudaramu.
2. Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
3. Hamba Allah itu semuanya bersaudara.
4. Wahai anak bangsa! Berpegang tegulah pada al-Qur’an dan Hadits dalam hidupmu.
5.

Kata اخوه dan اخ او اخت pada contoh B1 merupakan kata yang maknanya terbatas (sempit). Kata ini mengacu pada saudara yang dibatasi oleh hubungan darah. Secara lebih spesifik, kata اخوه tersebut mengacu pada seorang bernama Benyamin saudara Yusuf. Ayat 8 surah Yusuf di atas terkait dengan konteks kesejarah keluarga Ya’kub. Saudara-saudara Yusuf dan Benyamin dihantui oleh prasangka buruk kalau ayahnya itu berikap deskriminatif terhadap anak-anaknya. Artinya Ya’kub lebih mencintai Yusuf dan Benyamin. Bahkan mereka menuduh ayahnya sesat. Demikian juga, Kata اخ او اخت pada contoh B1 (2) juga terkait dengan konteks keluarga. Makna yang diacu oleh kata اخ او اخت ini juga terbatas pada saudara yang diikat pertalian darah dan kemunculan kata ini terkait dengan pembagian waris. Hal yang sama juga terjadi pada kata يابَنَِّي (hai anakku) sebagaimana pada contoh B1 (3). Makna yang diacu oleh kata يابَنَِّي ini adalah anak kandung (anak kandung Nabi Ya’kub).

Bandingkan dengan kata إخوة bentuk jamak dari kata اخ dan لأخيه pada contoh B2 (1) dan (2). Kata ini tidak dibatasi oleh ikatan pertalian darah. Makna kedua kata ini diperluas, sehingga saudara yang diacu oleh kedua kata pada contoh B 2 (1) dan (2) bukan saja saudara yang ada pertalian darah, melainkan mengacu pada semua orang yang beridentitaskan sebagai mukmin Bahkan dalam contoh B2 (3), makna kata إخوة berkembang lebih luas lagi, yakni mengacu pada saudara yang tidak dibatasi oleh ikatan kesamaan teologis, melainkan saudara dalam arti dimensi sosial-kemanusiaan. Hal yang sama juga terjadi pada kata أبناءbentuk jamak dari kata ابن . Kata ini bukan lagi dimaknai sebagai anak kandung, melainkan diperluas menjadi anak bangsa.

B. Penyempitan Makna (Tadlyiqul Ma’na)
Penyempitan makna (narrowing) yang oleh Ibrahim Anis disebut dengan takhshishul ma’na adalah perubahan makna dari yang umum (kully) ke yang lebih khusus (juz’iy) (Umar, 1982). Sependapat dengan ini, Chaer (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Dengan bahasa yang berbeda, tetapi esensi maknanya sama, Djajasudarma (1999) menyatakan bahwa penyempitan atau pembatasan makna berarti makna yang dimiliki oleh kata lebih terbatas dibandingkan dengan makna semula.

Menurut Umar (1982), di Amerika sepuluh tahun yang lalu, apabila seorang perempuan mengatakan a pill, pendengar bertanya-tanya: untuk apa? Apakah a pill yang dimaksud itu untuk mencegah kehamilan? Ataukah a pill yang dimaksud itu untuk obat sakit kepala? Atau untuk obat sakit mag?. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kata a pill pada awalnya memiliki makna yang luas (tidak terbatas). Akan tetapi, setelah penggunaan alat kontrasepsi berupa tablet begitu meluas, maka makna kata a pill menjadi menyempit, sehingga setiap ada ungkapan kata a pill, maka makna yang diacu adalah tablet untuk mencegah kehamilan. Dalam bahasa Indonesia, kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘bisa mengerjakan sesuatu’, maknanya menjadi terbatas dengan munculnya unsur pembatas, misalnya pada (1) tukang kayu, (2) tukang catut, (3) tukang tambal ban, dst. (Djajasudarma, 1999).

Penyempitan makna ini juga menggejala pada setiap bahasa, khususnya bahasa Arab. Kata حرامي pada awalnya memiliki makna luas, yakni mengacu pada setiap perbuatan haram. Akan tetapi, sejak abah ke 7 H, dalam beberapa buku cerita, makna kata ini menyempit, yakni berarti maling atau al-lishshu. Bahkan sampai sekarang, kata حرامي yang berarti maling masih digunakan. Dalam bahasa lisan, kata طهارة yang berarti bersih juga mengalami penyempitan makna, yakni berubah menjadi الختان. Demikian pula, kata الحريم yang awalnya digunakan untuk mengacu pada setiap muhrim mengalami penyempitan makna, yakni mengacu pada perempuan (an-nisa’). Kata العيش (hidup) di Mesir berarti roti (al-khubz) dan di beberapa negara Arab berarti nasi (ar-ruz).

C. Perpindahan Makna (Naqlu al-ma’na)
Perpindahan makna adalah suatu gejala perubahan makna yang terjadi karena adanya makna asal berpindah atau berubah menjadi makna baru. Perpindahan makna ini identik dengan perubahan total sebagaimana yang dikemukakan oleh Chaer (2002). Menurut Chaer (2002), perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makna asal, tetapi sangkut paut tersebut tampaknya sudah jauh. Dia memberikan contoh kata ceramah pada mulanya berarti cerewet atau banyak cakap, tetapi kini menjadi ‘pidato atau uraian’ mengenai suatu hal yang disampaikan’.

Dalam bahasa Arab, Umar (1982) memberikan contoh mengenai kasus naqlu al-makna ini yang berkaitan dengan penyebutan salah satu anggota tubuh manusia. Kata صدر atau نحر (dada atau di atas dada) merupakan sebutan untuk kata ثدي (payudara). Kata الشنب yang semula berarti bibir yang indah dan gigi yang putih bersih sekarang berganti makna menjadi الشارب ‘kumis’. Kata السفرة yang semula berarti makanan yang dimasak untuk musafir, sekarang berarti meja makan. Ungkapan طول اليد yang semua sebagai sebutan untuk السخاء ‘seorang dermawan’ berubah menjadi السارق ‘pencuri’.

Makna baru akibat perpindahan makna (naqlu al-ma’na) ini ada yang memiliki nilai rasa rendah (inhithahh al-ma’na) dan ada yang memiliki nilai rasa tinggi. Kata-kata yang nilanya merosot menjadi rendah lazim disebut peyoratif, sedangkan kata-kata yang nilai maknanya menjadi tinggi disebut ameliorative (Chaer, 2002). Misalnya kata حاجب yang pada daulah Andalusiah berarti perdana menteri (ra’isul wuzara’) kemudian berganti makna menjadi التافة (bodoh). (Umar, 1982).

Di dalam Al-Qur’an, kita jumpai beberapa kata yang maknanya berubah dangan makna yang digunakan sekarang. Qardhawi (1997) menegaskan bahwa pada masa kini, kita mendapati banyak kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai pengertian tertentu yang berbeda dengan pengertian kata itu pada masa kenabian. Misalnya kata kata سائحون dan سائحات sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah At-Taubah, ayat 112 dan surah At-Tahrim ayat 5 sebagai berikut.

التئِبُوْنَ العبِدُونَ الْحمِدُونَ السّئِحُونَ الرّكِعُوْن السّجِدُون الأمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ والنّاهُوْن عَنِ الْمُنْكَرِ والحفِظُوْنَ لِحُدُودِ الله وَبَشِّر الْمُؤْمِنِيْنَ.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (saaihuun), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu” (At-Taubah, 112).

عسى رَبُّه إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْواَجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمتٍ مُؤْمِنتٍ قنِتتٍ تئِبتٍ عبِدتٍ سئِحتٍ ثيِّبتٍ وَأَبْكَارًا.

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa (saaihaat), yang janda, dan yang perawan” (At-tahrim, 5).

Pengertian kataسائحون (Surah At-Taubat, 112) dan سائحات(Surah At-Tahrim, 5) sangat jauh berbeda dengan pengertiannya yang dikenal saat ini. Dewasa ini kedua kata tersebut berkaitan dengan dunia pariwisata (wisatawan). Sementara itu, kata سائحون dalam Surah At-Taubah, ayat 112 tersebut berarti orang-orang yang melawat, yakni orang-orang berjihad (berperang) atau orang-orang yang mencari ilmu (Ash-Shabuni, I, 1976). Sementara itu, kata سائحات dalam Surah At-Tahrim, ayat 5 tersebut berarti wanita yang berpuasa. Oleh Ash-Shabuni (III, 1976), kata سائحات ini ditafsirkan dengan wanita yang berpergian untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ada nuansa perbedaan makna antara yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dengan makna yang berkembang dewasa ini.

D. Penghalusan
Penghalusan atau yang disebut eufemisme merupakan salah satu bentuk perubahan makna. Eufemisme berarti pemakaian kata atau bentuk lain untuk menghindari bentuk larangan atau tabu, misalnya frase ke belakang (untuk berak) (Kirdalaksana, 1984). Dalam eufimisme ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna lebih halus, atau lebih sopan daripada yang akan digantikannya (Chaer, 2002). Dalam bahasa Arab, ungkapan yang digunakan untuk berak (dalam bahasa Indonesia dihaluskan menjadi ke belakang) bukan ungkapan إلى الوراء (terjemahan literalnya ke belakang) atau تغوط sebagaimana dalam tuturan أريد التغوط, tetapi menurut salah seorang penutur asli ungkapan yang digunakan adalah إلى دور المياه.

Di dalam bahasa Indonesia gejala penghalusan ini cukup banyak, misalnya frase ditangkap oleh aparat kemanan diperhalus menjadi diamankan, kata pemecatan karyawan diperhalus dengan rasionalisasi karyawan, frase harga naik diperhalus menjadi penyesuaian harga. Di era pemerintahan Orde Baru, kata korupsi diperhalus menjadi kesalahan prosedur atau kesalahan administrasi.

Penghalusan ini di suatu sisi mempunyai dampak sosio-psikologis yang positif, karena memperhatikan nilai etika dan sopan santun dalam suatu masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain gejala penghalusan ini berdampak negatif, karena penghalusan makna kata ini dipolitisasi sedemikian rupa sehingga keluar dari esensi makna yang sebenarnya. Contoh dampak negatif ini, sebagaimana kasus penghalusan kata korupsi menjadi kasalahan prosedur atau administrasi, sehingga banyak oknum pejabat yang korupsi bebas dari jerat hukum.

E. Perubahan Makna dari yang Konkret ke Abstrak
Perubahan makna terjadi pada kosa kata yang semula memiliki makna konkret menjadi kata yang mengacu pada makna abstrak. Ar-Razi sebagaimana yang dikutip oleh Ad-Dayah (1985) memberikan contoh kata غفر. Kata ini semula mengacu pada makna yang sifatnya konkret kemudian maknanya berubah menjadi abstrak dan dapat dipresepsi oleh akal dan jiwa. Dikatakan, bahwa kata غفور, غفار, غافر berasal dari مغفرة dan kata مغفرة ini berarti الستر (tutup atau satir). Seakan-akan Dia menutup dosa-dosa hamba-Nya (كأنه يستر ذنوب العباد). Apabil dalam do’a dikatakan اللهم تغمّدني بمغفرتك berarti استر ذنوبي.

Kata lain dalam bahasa Arab yang mengalamai perubahan makna dari yang konkret ke abstrak adalah kata الزكاة. Kata ini semula berarti النمو والزيادة. Dikatakan, زكا الزرع إذا نما وطال وزاد (tanaman itu tumbuh, apabila ia tumbuh, memanjang, dan bertambah). Sekarang kata ini digunakan untuk mengacu pada konsep yang bermakna abstrak, yakni الطهارة, sebagaimana disebutkan dalamsurah Asy-Syams, ayat 9 قد أفلح من زكاها. Kata زكا berarti mensucikan (mensucikan jiwa).

————————-

Demikian artikel/makalah tentang Jenis Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Jenis Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang makna kata dan makna istilah. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  makna kata dan makna istilah  sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  makna kata dan makna istilah .
————–  


Berdasarkan keumuman dan kekhususan bidang penggunaannya, terdapat makna kata (umum) dan makna istilah (khusus). Penggunaan secara umum maksudnya tidak dibatasi pada bidang tertentu. Sebaliknya pemakaian secara khsusus adalah penggunaan kata dalam bidang tertentu.
Dalam penggunaan secara umum, makna kata bersifat umum dan tidak spesfifik. Kata عامل misalnya dalam penggunaan secara umum mempunyai makna ‘yang melakukan/membuat sesuatu kegiatan, pekerja, atau aspek, unsur, dan faktor tertentu’, misalnya dalam contoh (14), (15), dan (16) berikut.

(14) أنا أشرب القهوة، و أنا عاملُ هذه القهوة.
(15) “غاتوت” عاملٌ في مصنع الأحذية.
(16) الجُهد عامل من عوامل النجاح.

Pada (14) عاملُ bermakna orang yang membuat, dalam hal ini adalah pembuat kopi. Pada (15) bermakna pekerja. Sebagai pekerja (عاملُ) di pabrik sepatu, Gatot tidak selalu berarti pembuat sepatunya. Maksudnya, Gatot mungkin bekerja sebagai satpam atau justru salah satu manajernya.

Adapun pada (16), عاملُ bermakna salah satu faktor. Dalam konteks kalimat (16), salah satu faktor (عاملُ) pendukung kesuksesan adalah kesungguhan. Pada ayat 195 surat Ali Imran dan ayat 135 surat Al-An`am yang ditampilkan dalam contoh (17) dan (18) juga terdapat kata عاملُ dengan makna umum atau digunakan secara umum.

(17) إنِّي لا أضِيعُ عَمَلَ عامِلٍ منكم مِن ذكرٍ أو أنثَى (آل عمران/195:3).
(18) قُل يا قَوم اعملُوا على مكانتكم إنِّي عامِل (الأنعام/135:6).

Makna kata عاملُ berbeda dalam penggunaan secara umum dan secara khusus atau dalam bidang tertentu, misalnya dalam bidang nahwu atau zakat. Dalam penggunaan secara khusus atau dalam bidang tertentu, kata عاملُ mempunyai arti yang jelas dan spesifik, meskipun tidak dimasukkan dalam kalimat. Dalam ilmu nahwu misalnya, kata عاملُ bermakna ‘suatu unsur lingual yang menyebabkan kondisi i`rab tertentu’. Adapun pada bidang zakat, bermakna ‘orang yang mengurusi zakat’. Pateda (2001) menyebut makna istilah dengan makna khsusus.

Contoh lain, sebagai istilah kata جمْع (jam`) mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan bidang masing-masing. Di bidang bahasa, جمْع bermakna ‘bentuk kata yang acuannya lebih dari dua’. Adapun dalam bidang fiqh, bermakna ‘mengumpulkan atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu’. Berbeda dari keduanya, dalam bidang ilmu hitung, جمْع bermakna penjumlahan. Berikut ini contoh untuk masing-masing makna.

(19) العملماء جمع من العليم و العالمون جمع من العالم.
(20) أصلي في السفر الظهر والعصر جمعًا و قصرًا.
(21) أجادت بنتي الجمع و الطرح و لم تجد الضرب و التقسيم.

—————-
Demikian artikel singkat tentang  makna kata dan makna istilah. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  makna kata dan makna istilah. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.