Arsip

Bahasa

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa.

————–


Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa
Idiom adalah satuan-satuan kebahasaan (kata, frasa, dan kalimat) yang maknanya tidak dapat diketahui dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun dari makna gramatikal satuan tersebut. Sebagai contoh kata تحَجَّر – تخَشِّب – تَغَيَّم – تَثَلَّج mempunyai dasar berupa nomina- حجر .ثلج – غيوم – خشب Menurut kaidah gramatikal kata تحَجَّر ‘menjadi batu’ تخَشِّب‘menjadi kayu’ تَغَيَّم ‘menjadi mendung’, dan تَثَلَّج ‘menjadi es’ bermakna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar’. Tetapi kata تَسَوَّق yang berasal dari bentuk dasar berupa nomina سُوق dan mengalami proses gramatika yang sama dengan keempat kata terdahulu tampaknya tidak memiliki makna ‘menjadi hal yang dikemukakan pada bentuk dasar’. Atau secara singkat, kata تَسَوَّق tidak bermakna ‘menjadi pasar’, melainkan bermakna ‘berbelanja’.

Sebagai contoh lain, kata –- وسَّع فرَّح – كبَّر yang berasal dari ajektiva –واسِع فرِح – – كبيرmempunyai makna mentransitifkan atau menjadikan sesuatu sebagaimana dinyatakan pada dasar. Tetapi makna tersebut tidak terdapat pada kata مَرّضَ yang juga berasal dari ejektiva مريض. Kata مَرّضَ tidak lain bermakna ‘merawat hal yang ada pada bentuk dasar atau berupaya menghilangkan sesuatu yang dinyatakan pada bentuk dasar’.

Contoh yang berupa frasa dapat dikemukakan, misalnya شُرْب الشجارة tidaklah bermakna ‘meminum rokok ataupun memasukkan hal yang dinyatakan pada kata kedua ke dalam perut melalui mulut’, sebagaimana frasa شرب الخمر –شرب الماء – شرب القهوة . Frasa شرب الشجارة berarti ‘mengisap rokok atau merokok’ (يُدَخِّن) .Jadi makna yang terkandung pada kata تَسَوَّق – مَرّضَ dan frasa شرب الشجارة bukanlah makna leksikal atau gramatikal, melainkan makna idiomatis. Termasuk dalam kategori idiom dalam bahasa Arab adalah pasangan khas verba dengan huruf jar (preposisinya), misalnya رَغِبَ في ‘senang’ dan رَغِبَ عَن ‘benci’. Jadi makna idiomatis adalah makna satuan kebahasaan yang menyimpang dari makna leksikalnya ataupun dari makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya.

Idiom dapat dibedakan menjadi dua (Pateda, 2001), yaitu idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna. Contoh:

(40) بيت الخلاء
(41) كبش الفداء
Frasa بيت الخلاء terbentuk dari kata بيت yang makna leksikalnya ‘bangunan tempat tinggal’ dan الخلاء yang makna leksikalnya ‘sepi, sunyi’,. Makna leksikal dari setiap kata tidak lagi tampak pada konstruksi tersebut. Frasa بيت الخلاء tidak bermakna rumah sepi atau rumah untuk menyepi, tetapi bermakna ‘tempat buang hajat’. Frasa كبش الفداء yang bermakna ‘orang atau pihak yang dipersalahkan atau dijadikan sebagai dalih atas terjadinya sesuatu’ tidak lagi mengandung makna leksikal unsur-unsurnya, yaitu كبش ‘kambing’ dan الفداء ‘tebusan’.

Adapun idiom sebagian masih menampakkan salah satu unsur dengan makna leksikalnya. Misalnya kata أم ‘wanita yang melahirkan’ dan القرآن ‘kitab suci umat Islam’ membentuk konstruksi أم القرآن ‘surat Al-Fatihah’ (42). Jadi makna leksikal dari unsur kedua masih terwakili pada makna keseluruhan konstruksi tersebut. Frasa رأس المال (43) mempunyai makna ‘uang awal usaha atau modal’. Frasa tersebut terdiri atas unsur رأس ‘kepala atau bagian paling atas dari suatu makhluk bernyawa’ dan المال ‘harta, kekayaan’. Jadi makna المال sebagai unsur kedua juga masih tampak pada makna konstruksi tersebut secara utuh.

(42) أم القرآن
(43) رأس المال
Idiom berbeda dari peribahasa. Sebagaimana telah dikemukakan, idiom merupakan satuan kebahasaan yang maknanya ‘menyimpang’ dari makna unsur-unsurnya. Adapun peribahasa merupakan satuan kebahasaan yang digunakan sebagai perbandingan, tetapi maknanya masih dapat dilacak dari makna leksikal dan gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh, satuan bagai air dan minyak merupakan satuan yang terdiri atas unsur air ‘benda cair sebangsa air minum’ dan unsur minyak ‘benda cair yang mudah terbakar’. Di dalam satuan tersebut, kedua unsurnya tetap memiliki makna leksikalnya masing-masing. Tetapi satuan tersebut justru digunakan sebagai pembanding suatu hal di luar satuan itu sendiri, yaitu keadaan dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur. Dua hal yang tidak bisa bersatu atau bercampur disamakan atau dibandingkan dengan air dan minyak yang mempunyai sifat sulit bercampur antarkeduanya.

Dalam bahasa Arab dapat dikemukakan dua contoh berikut.
(44) لنْ ترجِع الأيام التي مضَتْ
(45) إنك لا تجني مِن الشَّوك عِنَبًا

Satuan (44) berpadanan dengan nasi telah menjadi bubur. Unsur-unsur pada satuan (44) digunakan dengan makna leksikalnya masing-masing. Satuan tersebut bermakna harfiah ‘tidaklah akan kembali hari-hari yang telah berlalu’. Makna tersebut digunakan sebagai pembanding suatu hal yang ada di luar atau yang tidak dinyatakan. Dalam hal ini yang yang dibandingkan adalah kesempatan, waktu, atau kegiatan dan kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan. Kesempatan, waktu, kehidupan yang telah lewat atau telah dikerjakan tidak datang lagi sebagaimana hari-hari yang telah berlalu tidak akan datang lagi. Kalaupun hari-hari dalam seminggu terus datang berulang, sesunguhnya hari-hari dalam minggu ini bukanlah hari-hari yang datang minggu lalu.

Satuan إنك لا تجني مِن الشَّوك عِنَبًا ‘engkau tidak memetik anggur dari durian’ digunakan sebagai pembanding hal yang ada di luar satuan tersebut, yaitu hasil perbuatan yang diperoleh seseorang itu sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya. Yang menanam durian, akan memetik durian sebagaimana yang menanam anggur akan memetik anggur. Berbuat baik akan memperoleh hasil yang baik. Jadi satuan (45) mempunyai makna ‘hasil perbuatan sesuai dengan perbuatannya’. Makna tersebut dapat dilacak dari makna leksikal unsur-unsur dalam satuan. Satuan (45) tampak berpadanan dengan satuan BI barang siapa menanam menuai.
Dalam BA, hal yang dibandingkan kadang-kadang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, misalnya:
(46) المزاح يأكل الهيبة كما تأكل النار الحطب

Satuan (46) terdiri atas dua klausa, (a) المزاح يأكل الهيبة ‘senda gurau memakan kewibawaan’ dan (b) تأكل النار الحطب ‘api memakan kayu bakar’. Klausa (b) merupakan pembanding dari klausa (a). Jadi makna peribahasa satuan tersebut pada dasarnya sudah dinyatakan pada klausa (a). Adapun maksud dari satuan tersebut adalah anjuran atau peringatan untuk tidak banyak bersenda gurau.


————–
Demikian artikel/makalah tentang  Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang 
Makna Idiomatis dan Makna Peribahasa

. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes . Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes.
————–

Pembagian Konteks
Secara lebih rinci, K. Ammer sebagaimana dikutip oleh Umar (1982) mengusulkan pembagian konteks menjadi:
(a) konteks linguistik (as-siyaq al-lughawi) atau linguistic context,
(b) konteks emotif (as-siyaq al-‘athifi) atau emotive context,
(c) Konteks situasi (siyaqu al-mauqif) atau situasional context, dan
(d) Konteks budaya (as-siyaq ats-tsaqafi) atau cultural context.

Dalam konteks linguistik, kata good dalam bahasa Inggris atau kata hasan dalam bahasa Arab mengacu pada berbagai makna sesuai dengan konteks kebasaan yang menyertainya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
Contoh A
1- على رجل حسن
2- هو طبيب حسن
3- هذا ماء حسن

Kata hasan baik pada contoh A (1), (2) dan (3) merupakan kata sifat yang makna dasarnya ‘baik’. Akan tetapi, kata tersebut memunculkan berbagai makna dalam konteks kebahasaan yang berbeda. Kata hasan pada contoh A (1) berkaitan dengan moral/akhlak. Artinya, yang dimaksud hasan atau baik dalam kalimat A (1) tersebut adalah baik akhlaknya. Dengan demikian, kalimat A (1) berarti ‘Ali adalah seorang lelaki yang baik moralnya atau akhlaknya’. .Kata hasan pada contoh A (2) bukan lagi mengacu pada ahklak (moral), melainkan ‘baik’ dalam hal kinerja (at-tafawwuq fi al-ada’), sehingga kalimat A (2) di atas berarti ‘dokter itu memiliki etos kerja tinggi’.

Sementara itu, Kata hasan pada contoh A (3) bukan lagi mengacu pada akhlak atau kinerja, melainkan mengacu pada makna shofa’ wan naqawah (jernih), sehinga kalimat A (3) berarti air itu jernih (Umar, 1982). Pembeda makna dari kata sifat yang sama (hasan) adalah konteks kebahasaan, yakni kata rajul, thabib, dan ma’. Ini artinya, kata sifat yang sama menimbulkan arti yang berbeda dalam konteks kalimat yang berbeda pula.

Selanjutnya, Umar (1982) juga memberikan contoh penggunaan kata yad ke dalam konteks kalimat yang berbeda sebagaimana kutipan berikut ini.
1- أعطيته مالا عن ظهر (يد) يعني تفضلا ليس من بيع ولا قرض ولا مكافأة.
2- هم (يد) على من سواهم: إذا كان أمرهم واحدا.
3- (يد) الفأس ونحوه : مقبضها.
4- (يد) الدهر : مد زمانه.
5 – (يد) الريح : سلطانها.
6- (يد) الطائر : جناحه.
7- خلع (يده) من الطاعة : مثل نزع يده.
8- بايعته (يدا) بيد : أي نقدا.
9- ثوب قصير (اليد) : إذا كان يقصر أن يلتحف به.
10- فلان طويل (اليد) : إذا كان سمحا.
11- مالي بد (يد) : أي قوة.
12- سقط في يده : ندم.
13- هذه (يدي) لك : أي استلمت وانقدت لك.
14- حتى يعطوا الجزية عن (يد) : عن ذل واعتراف للمسلمين بعلو أيديهم.
15- إن بين (يدي) الساعة أهوالا : أي قدامها.
16- (يد) الرجل : جماعة قومه وأنصاره.

Konteks emotif adalah suatu konteks yang berkaitan dengan tingkat kekuatan dan kelemahan dalam berinteraksi, yang secara fungsional bisa jadi sebagai penegas, hiperbola atau di antara keduanya. Kata love dalam bahasa Inggris misalnya secara emotif berbeda dengan kata like meskipun keduanya memiliki makna dasar yang sama, yaitu cinta (al-hub). Dalam bahasa Arab, kata yukrihu secara emotif berbeda dengan kata yabghadlu, meskipun keduanya juga berasal dari makna dasar yang sama, yaitu ‘membenci’ (Umar, 1982). Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh B
1- كُتِب عليكم القتال وهو كره لكم وعسى ان تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى ان تحبوا شيئا وهو شرلكم, والله يعلم وانتم لا تعلمون (البقرة: 216)

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

2- ويكره النوم بعد دخول وقت الصلاة (فتح المعين, ص:15)

Dimakruhkan tidur sesudah waktu salat masuk

3- صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
(الفاتحة: 7).

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

4- إن أبغض الحلال الى الله الطلاق.
Sesungguhnya perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah Talak (cerai).

Verba تكرهوا pada contoh (1) dan verba يكره pada contoh (2) berasal dari kata كره – يكره . Sementara itu, kata مغضوب pada contoh (3) berasal dari kata غضب- يغضب dan kata ابغض pada contoh (4) berasal dari kataبغض – يبغض . Kedua kata ini memiliki makna dasar yang samam yakni mengekresikan sikap benci (ketidaksukaan terhadap sesuatu). Akan tetapi, apabila dilihat dari konteks emotifnya, keduanya memiliki perbedaan. Perbedaannya terletak pada kadar ketidaksukaan pada kedua kata tersebut.

Verba تكرهوا dan يكره pada contoh (1) dan (2) di atas memiliki tingkat ketidaksukaan (kebencian) yang lebih kecil daripada ketidaksukaan (kebencian) yang ada pada مغضوب dan kata ابغض pada contoh (3) dan (4). Kebencian yang ada pada Verba تكرهوا dan يكره tidak disertai dengan unsur kemurkaan, sehingga seringkali kata يكره berarti tidak menyukai. Bahkan dalam kata يكره ada unsur pembolehan (meskipun tidak diharapkan), misalnya tidur setelah waktu salat masuk itu humumnya makruh. Dalam hal ini, tidak diharamkan tidur setelah waktu salat masuk, asalkan yang bersangkutan masih memiliki waktu untuk melakukan salat. Dengan ungkapan lain,kata يكره pada contoh (2) di atas dapat dipadankan dengan kata sebaiknya, yakni sebaiknya jangan tidur setelah waktu salat masuk, karena dikhawatirkan yang bersangkutan kehilangan waktu salat.

Sementara itu, kata بغض- يبغض sebagaimana yang tercermin pada contoh (3) dan (4) disertai dengan unsur kemurkaan. Menurut Shihab (1997) maksud kata مغضوب pada ayat 7 surah al-fatihah di atas adalah kehendak Tuhan untuk melakukan tindakan keras dan tegas, atau dengan kata lain, adalah siksaan. Dengan demikian, murka Tuhan (مغضوب ) adalah siksa atau ancaman siksa-Nya. Demikian pula, kata ابغض pada contoh (4) juga disertai dengan kemurkaan, yakni Tuhan memurkai orang yang melakukan perceraian (talak), sekalipun secara syar’iyyah (yuridis-formal) dihalalkan.

Konteks situasi di sini dimaksudkan sebagai konteks situasi eksternal (al-mauqif al-khariji) yang memungkinkan kata itu digunakan. Artinya, kata yang sama memiliki arti yang berbeda karena situasi yang berbeda pula. Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh C
1- يرحمك الله
2- الله يرحمه

Verba yarham pada contoh C (1) dan contoh (2) memiliki arti yang berbeda disebabkan oleh situasi luar yang berbeda. Contoh C (1) digunakan dalam siatuasi menjawab atau mendoakan orang lain yang membaca hamdalah pada saat bersin. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang bersin ini adalah kasih sayang di dunia (thalabu ar-rahmah fi ad-dunya). Sementara itu, contoh C (2) digunakan sebagai doa bagi orang yang meninggal dunia. Permohonan kasih sayang kepada Tuhan bagi orang yang meninggal dunia ini adalah kasih sayang di akherat (thalabu ar-rahmah fi al-akhirah). Dengan demikian, kata yarham pada contoh C (1) dan (2) digunakan dalam konteks situasi yang berbeda. Implikasinya, makna yang diacu oleh kata yarham tersebut juga berbeda.

Sementara itu dalam konteks budaya, batasan-batasan atau nilai-nilai dalam lingkungan budaya atau masyarakat mempengaruhi penggunaan kata. Dalam bagasa Inggris misalnya, kata looking glass di Negara Inggris cendrung digunakan oleh masyarakat dalam struktur sosial tinggi bila dibandingkan dengan penggunaan kata mirror, meskipun makna dasarnya sama, yaitu cermin. Demikian pula, kata rich dengan kata wealthy. Dalam bahasa Arab, kata aqilah berbeda dengan kata zaujah, sekalipun keduanya mempunyai makna dasar yang sama, yaitu istri. Kata aqilah yang termasuk kosa kata Arab modern (al-arabiyah al-mu’asharah) cendrung digunakan untuk masyarakat yang strata sosialnya tinggi atau ekslusif (at-athabaqah al-‘ijtimaiyyah al-mutamayyizah) bila dibandingkan dengan kata zaujah (Umar, 1982). Berikut ini contoh penggunaan kata aqilah (dikutip dari majalah berbahasa Arab Indonesia yang diterbitkan oleh kedutaan Indonesia di Damaskus edisi 18 bulan Kanun tsani –syabat tahun 1987) dan kata zaujah.

Contoh D
1- شاركت عقيلة السيد ويسنوهارتونو الملحق في السفارة في عرض الأزياء الشعبية التقليدية في سوريا.
2- وصل السيد الرئيس سوهارتو والسيدة عقيلته الى جوهوربارو ماليزيا يوم الخميس لزيارة عمل استغرقت يوما واحدا.
3- وصل الى جاكرتا يوم الثلاثاء 13\1\1987 فخامة الرئيس حسين محمد ارشاد رئيس جمهورية بنغلادش والسيدة عقيلته في زيارة عمل استغرقت أربعة ايام.
4- تخرج زوجتي كل يوم في الصباح
5- نحن نتناول الوجَبات خارج البيت, لأن زوجتي لا تجد وقتا لإعداد الطعام

Keterangan: contoh nomor 4 dan 5 dikutip dari buku “Al-arabiyyah baina yadaik” jilid 2
Kata aqilah pada contoh D (1), (2), dan (3) mengacu pada seorang istri yang strata sosialnya tinggi. Kata aqilah pada contoh D (1) mengacu pada istri staf kedutaan di Damaskus-Syiria, kata aqilah pada contoh D (2) mengacu pada istri presiden Suharto (Ibu Tien Suharto), kata aqilah pada contoh D (3) mengacu pada istri Husen Muhammad Irsyad (presiden Banglades). Akan kurang tepat, apabila kata aqilah di atas diganti dengan kata zaujah, karena konteks budaya (strata sosial) menghendaki demikian. Sementara itu, contoh D (4) dan (5) menggunakan kata zaujah. Secara sosio-kultural akan kurang tepat apabila kata aqilah yang digunakan.

Pengaruh konteks budaya atau sosio-kultural terhadap penggunaan kata lebih kentara pada kultur Jawa (bahasa Jawa). Di dalam bahasa Jawa terdapat tiga strata dalam berbabasa, yaitu strata ngoko, madya, dan krama. Kata “makan” bisa diungkapkan dengan kata ‘mangan’, ‘nedho’ dan ‘dhahar’. Berikut ini contoh penggunaan ketiga kata tersebut.

Contoh E
1. Punopo Ibu sampun dhahar?
2. Matur suwun bu! Kula sampun nedha.
3. apa kuwe wis mangan Bud?

Kata dhahar, nedha, dan mangan pada contoh E di atas memiliki makna dasar yang sama, yakni ‘makan’. Akan tetapi, dilihat dari konteks budaya yang berlaku dalam masyarakat Jawa, ketiga kata tersebut tidak boleh digunakan secara acak (di sembarang tempat dan situasi). Kata dhahar pada contoh E (1) ditujukan oleh seorang anak kepada ibunya, kata ‘nedha’ pada contoh E (2) mengacu pada penutur sendiri ketika berbicara dengan ibunya, sedangkan kata ‘mangan’ pada contoh E (3) mengacu pada penutur yang status sosialnya sama atau lebi rendah (dengan teman sendiri). Dengan demikian, secara sosio-kultural, ketiga kata tersebut secara semantis mempunyai nuansa makna yang berbeda. Kata dhahar terasa lebih halus daripada kata nedha, dan kata nedha terasa lebih halus daripada kata mangan.

————–
Demikian artikel/makalah tentang Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Teori Konteks, Macam-macam Konteks, dan Pembagian Kontes. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Berikut ini artikel/makalah tentang  Jenis Perubahan Makna. makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini diharapkan memberi pemahaman tentang Jenis Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian pendidikan tentang  Jenis Perubahan Makna.

————————-


Macam-macam Perubahan Makna
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa makna bahasa selalu mengalami perubahan karena berbagai faktor. Pertanyaan berikutnya yang mengemuka adalah bagaimanakah bentuk atau jenis perubahan yang terjadi. Ada beberapa bentuk atau jenis perubahan makna sebagaimana berikut ini.

A.Perluasan Makna (Tausi’ul Ma’na)
Menurut Umar (1982), perluasan makna (widening/extension) terjadi manakala didapati perpindahan dari makna khusus ke makna umum. Sependapat dengan pernyataan ini, Chaer (2002) menegaskan bahwa perubahan makna meluas terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kata saudara, bapak, dan ibu semula digunakan untuk menyebut orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Akan tetapi, sekarang makna kata tersebut meluas. Artinya, kata saudara, bapak, dan ibu bukan saja digunakan untuk orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita, melainkan juga digunakan untuk orang lain.

Dalam bahasa Arab, anak kecil sering mengucapkan kata تفاحة’apel’ untuk mengacu pada segala sesuatu berbentuk oval yang serupa bentuknya dengan ‘apel’, misalnya kata , كرة التنس, أكرة الباب, البرتقالة ‘jeruk’, ‘handle pintu’, dan ‘bola tenes’ (Umar, 1982). Ini berarti kata تفاحة yang semula berarti ‘apel’ (makna khusus), diperluas maknanya untuk benda yang serupa bentuknya, misalnya jeruk, bola tenes, dan handle pintu. Kata salary (المرتب) yang berasal dari bahasa Latin dan makna semula adalah gaji prajurit (مرتب الجندي) sekarang maknanya meluas menjadi gaji untuk semua karyawan. Bahkan kalau kita mencermati sejarah kata salary (المرتب) ini pada awalnya berarti gaji prajurit berupa garam (حصة الجندي من الملح), kemudian meluas maknanya menjadi haji prajurit, dan sekarang berarti gaji karyawan. Dengan demikian, kata ini mengalami perluasan makna dua kali (Umar, 1982).

Untuk lebih mempermudah pemahaman terhadap perluasan makna, perhatikan dan bandingkan contoh A1 dan 2 serta contoh B1 dan B2 berikut ini.

Contoh A1
(1) Saudara saya tiga orang
(2) Bapak saya bekerja di perusahaan swasta.
(3) Ibu saya seorang guru di Madrasah Aliyah.

Contoh A2
(1) Apakah Saudara menerima pendapat saya?
(2) Ide Bapak itu ideal, tetapi sulit diterapkan.
(3) Ibu kita Kartini harum namanya.

Kata saudara, bapak, dan ibu pada contoh A1 berbeda dengan yang ada pada A2. Saudara pada A1 dimaksudkan saudara karena ada hubungan darah (mungkin kakak atau adik yang seayah dan seibu atau seayah saja, atau seibu saja). Kata bapak pada A1 dimaksudkan sebagai orang tua laki-laki (ayah), dan ibu dimaksudkan sebagai orang tua perempuan. Ketiga kata ini yang semula (pada contoh A1) memiliki makna sempit berkembang menjadi kata yang maknanya lebih luas. Kata saudara pada A2 sudah tidak dibatasi oleh adanya hubungan darah, melainkan merupakan kata sapaan yang diperuntukkan kepada semua orang yang secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial yang hampir sama. Demikian pula, kata bapak dan ibu pada A2 bukan lagi dibatasi oleh pertalian darah, melainkan juga merupakan kata sapaan yang bagi orang lain yang usianya lebih tua atau secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial atau struktur formal lebih tinggi.

Untuk mengetahui perluasan makna dalam bahasa Arab, perhatikan dan bandingkan contoh berikut ini.

Contoh B1
1- إذقالوا ليوسف واخوه أَحَبُّ الى ابينا منا ونحن عُصبة, إن ابانا لفي ضلال مبين (يوسف:8).
2- وإن كان رجل يورث كلالَة او امرأة وله اخ او اخت فلكل واحد منهما السدس.(النساء: 12)

3- وقال يابَنَِّي لاتدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة (يوسف:67)

1. (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

2. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

3. Dan Ya`qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain”.

Contoh B2
1- إنماالمؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم.
2- لايؤمن احدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه.
3- العباد كلهم إخوة.
4- فيا أبناء الأمة, تمسكوا في حياتكم بالقرآن والحديث!

1. Sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara, maka perbaikilah di antara saudaramu.
2. Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
3. Hamba Allah itu semuanya bersaudara.
4. Wahai anak bangsa! Berpegang tegulah pada al-Qur’an dan Hadits dalam hidupmu.
5.

Kata اخوه dan اخ او اخت pada contoh B1 merupakan kata yang maknanya terbatas (sempit). Kata ini mengacu pada saudara yang dibatasi oleh hubungan darah. Secara lebih spesifik, kata اخوه tersebut mengacu pada seorang bernama Benyamin saudara Yusuf. Ayat 8 surah Yusuf di atas terkait dengan konteks kesejarah keluarga Ya’kub. Saudara-saudara Yusuf dan Benyamin dihantui oleh prasangka buruk kalau ayahnya itu berikap deskriminatif terhadap anak-anaknya. Artinya Ya’kub lebih mencintai Yusuf dan Benyamin. Bahkan mereka menuduh ayahnya sesat. Demikian juga, Kata اخ او اخت pada contoh B1 (2) juga terkait dengan konteks keluarga. Makna yang diacu oleh kata اخ او اخت ini juga terbatas pada saudara yang diikat pertalian darah dan kemunculan kata ini terkait dengan pembagian waris. Hal yang sama juga terjadi pada kata يابَنَِّي (hai anakku) sebagaimana pada contoh B1 (3). Makna yang diacu oleh kata يابَنَِّي ini adalah anak kandung (anak kandung Nabi Ya’kub).

Bandingkan dengan kata إخوة bentuk jamak dari kata اخ dan لأخيه pada contoh B2 (1) dan (2). Kata ini tidak dibatasi oleh ikatan pertalian darah. Makna kedua kata ini diperluas, sehingga saudara yang diacu oleh kedua kata pada contoh B 2 (1) dan (2) bukan saja saudara yang ada pertalian darah, melainkan mengacu pada semua orang yang beridentitaskan sebagai mukmin Bahkan dalam contoh B2 (3), makna kata إخوة berkembang lebih luas lagi, yakni mengacu pada saudara yang tidak dibatasi oleh ikatan kesamaan teologis, melainkan saudara dalam arti dimensi sosial-kemanusiaan. Hal yang sama juga terjadi pada kata أبناءbentuk jamak dari kata ابن . Kata ini bukan lagi dimaknai sebagai anak kandung, melainkan diperluas menjadi anak bangsa.

B. Penyempitan Makna (Tadlyiqul Ma’na)
Penyempitan makna (narrowing) yang oleh Ibrahim Anis disebut dengan takhshishul ma’na adalah perubahan makna dari yang umum (kully) ke yang lebih khusus (juz’iy) (Umar, 1982). Sependapat dengan ini, Chaer (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Dengan bahasa yang berbeda, tetapi esensi maknanya sama, Djajasudarma (1999) menyatakan bahwa penyempitan atau pembatasan makna berarti makna yang dimiliki oleh kata lebih terbatas dibandingkan dengan makna semula.

Menurut Umar (1982), di Amerika sepuluh tahun yang lalu, apabila seorang perempuan mengatakan a pill, pendengar bertanya-tanya: untuk apa? Apakah a pill yang dimaksud itu untuk mencegah kehamilan? Ataukah a pill yang dimaksud itu untuk obat sakit kepala? Atau untuk obat sakit mag?. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kata a pill pada awalnya memiliki makna yang luas (tidak terbatas). Akan tetapi, setelah penggunaan alat kontrasepsi berupa tablet begitu meluas, maka makna kata a pill menjadi menyempit, sehingga setiap ada ungkapan kata a pill, maka makna yang diacu adalah tablet untuk mencegah kehamilan. Dalam bahasa Indonesia, kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘bisa mengerjakan sesuatu’, maknanya menjadi terbatas dengan munculnya unsur pembatas, misalnya pada (1) tukang kayu, (2) tukang catut, (3) tukang tambal ban, dst. (Djajasudarma, 1999).

Penyempitan makna ini juga menggejala pada setiap bahasa, khususnya bahasa Arab. Kata حرامي pada awalnya memiliki makna luas, yakni mengacu pada setiap perbuatan haram. Akan tetapi, sejak abah ke 7 H, dalam beberapa buku cerita, makna kata ini menyempit, yakni berarti maling atau al-lishshu. Bahkan sampai sekarang, kata حرامي yang berarti maling masih digunakan. Dalam bahasa lisan, kata طهارة yang berarti bersih juga mengalami penyempitan makna, yakni berubah menjadi الختان. Demikian pula, kata الحريم yang awalnya digunakan untuk mengacu pada setiap muhrim mengalami penyempitan makna, yakni mengacu pada perempuan (an-nisa’). Kata العيش (hidup) di Mesir berarti roti (al-khubz) dan di beberapa negara Arab berarti nasi (ar-ruz).

C. Perpindahan Makna (Naqlu al-ma’na)
Perpindahan makna adalah suatu gejala perubahan makna yang terjadi karena adanya makna asal berpindah atau berubah menjadi makna baru. Perpindahan makna ini identik dengan perubahan total sebagaimana yang dikemukakan oleh Chaer (2002). Menurut Chaer (2002), perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makna asal, tetapi sangkut paut tersebut tampaknya sudah jauh. Dia memberikan contoh kata ceramah pada mulanya berarti cerewet atau banyak cakap, tetapi kini menjadi ‘pidato atau uraian’ mengenai suatu hal yang disampaikan’.

Dalam bahasa Arab, Umar (1982) memberikan contoh mengenai kasus naqlu al-makna ini yang berkaitan dengan penyebutan salah satu anggota tubuh manusia. Kata صدر atau نحر (dada atau di atas dada) merupakan sebutan untuk kata ثدي (payudara). Kata الشنب yang semula berarti bibir yang indah dan gigi yang putih bersih sekarang berganti makna menjadi الشارب ‘kumis’. Kata السفرة yang semula berarti makanan yang dimasak untuk musafir, sekarang berarti meja makan. Ungkapan طول اليد yang semua sebagai sebutan untuk السخاء ‘seorang dermawan’ berubah menjadi السارق ‘pencuri’.

Makna baru akibat perpindahan makna (naqlu al-ma’na) ini ada yang memiliki nilai rasa rendah (inhithahh al-ma’na) dan ada yang memiliki nilai rasa tinggi. Kata-kata yang nilanya merosot menjadi rendah lazim disebut peyoratif, sedangkan kata-kata yang nilai maknanya menjadi tinggi disebut ameliorative (Chaer, 2002). Misalnya kata حاجب yang pada daulah Andalusiah berarti perdana menteri (ra’isul wuzara’) kemudian berganti makna menjadi التافة (bodoh). (Umar, 1982).

Di dalam Al-Qur’an, kita jumpai beberapa kata yang maknanya berubah dangan makna yang digunakan sekarang. Qardhawi (1997) menegaskan bahwa pada masa kini, kita mendapati banyak kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai pengertian tertentu yang berbeda dengan pengertian kata itu pada masa kenabian. Misalnya kata kata سائحون dan سائحات sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah At-Taubah, ayat 112 dan surah At-Tahrim ayat 5 sebagai berikut.

التئِبُوْنَ العبِدُونَ الْحمِدُونَ السّئِحُونَ الرّكِعُوْن السّجِدُون الأمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ والنّاهُوْن عَنِ الْمُنْكَرِ والحفِظُوْنَ لِحُدُودِ الله وَبَشِّر الْمُؤْمِنِيْنَ.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (saaihuun), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu” (At-Taubah, 112).

عسى رَبُّه إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْواَجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمتٍ مُؤْمِنتٍ قنِتتٍ تئِبتٍ عبِدتٍ سئِحتٍ ثيِّبتٍ وَأَبْكَارًا.

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa (saaihaat), yang janda, dan yang perawan” (At-tahrim, 5).

Pengertian kataسائحون (Surah At-Taubat, 112) dan سائحات(Surah At-Tahrim, 5) sangat jauh berbeda dengan pengertiannya yang dikenal saat ini. Dewasa ini kedua kata tersebut berkaitan dengan dunia pariwisata (wisatawan). Sementara itu, kata سائحون dalam Surah At-Taubah, ayat 112 tersebut berarti orang-orang yang melawat, yakni orang-orang berjihad (berperang) atau orang-orang yang mencari ilmu (Ash-Shabuni, I, 1976). Sementara itu, kata سائحات dalam Surah At-Tahrim, ayat 5 tersebut berarti wanita yang berpuasa. Oleh Ash-Shabuni (III, 1976), kata سائحات ini ditafsirkan dengan wanita yang berpergian untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ada nuansa perbedaan makna antara yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dengan makna yang berkembang dewasa ini.

D. Penghalusan
Penghalusan atau yang disebut eufemisme merupakan salah satu bentuk perubahan makna. Eufemisme berarti pemakaian kata atau bentuk lain untuk menghindari bentuk larangan atau tabu, misalnya frase ke belakang (untuk berak) (Kirdalaksana, 1984). Dalam eufimisme ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna lebih halus, atau lebih sopan daripada yang akan digantikannya (Chaer, 2002). Dalam bahasa Arab, ungkapan yang digunakan untuk berak (dalam bahasa Indonesia dihaluskan menjadi ke belakang) bukan ungkapan إلى الوراء (terjemahan literalnya ke belakang) atau تغوط sebagaimana dalam tuturan أريد التغوط, tetapi menurut salah seorang penutur asli ungkapan yang digunakan adalah إلى دور المياه.

Di dalam bahasa Indonesia gejala penghalusan ini cukup banyak, misalnya frase ditangkap oleh aparat kemanan diperhalus menjadi diamankan, kata pemecatan karyawan diperhalus dengan rasionalisasi karyawan, frase harga naik diperhalus menjadi penyesuaian harga. Di era pemerintahan Orde Baru, kata korupsi diperhalus menjadi kesalahan prosedur atau kesalahan administrasi.

Penghalusan ini di suatu sisi mempunyai dampak sosio-psikologis yang positif, karena memperhatikan nilai etika dan sopan santun dalam suatu masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain gejala penghalusan ini berdampak negatif, karena penghalusan makna kata ini dipolitisasi sedemikian rupa sehingga keluar dari esensi makna yang sebenarnya. Contoh dampak negatif ini, sebagaimana kasus penghalusan kata korupsi menjadi kasalahan prosedur atau administrasi, sehingga banyak oknum pejabat yang korupsi bebas dari jerat hukum.

E. Perubahan Makna dari yang Konkret ke Abstrak
Perubahan makna terjadi pada kosa kata yang semula memiliki makna konkret menjadi kata yang mengacu pada makna abstrak. Ar-Razi sebagaimana yang dikutip oleh Ad-Dayah (1985) memberikan contoh kata غفر. Kata ini semula mengacu pada makna yang sifatnya konkret kemudian maknanya berubah menjadi abstrak dan dapat dipresepsi oleh akal dan jiwa. Dikatakan, bahwa kata غفور, غفار, غافر berasal dari مغفرة dan kata مغفرة ini berarti الستر (tutup atau satir). Seakan-akan Dia menutup dosa-dosa hamba-Nya (كأنه يستر ذنوب العباد). Apabil dalam do’a dikatakan اللهم تغمّدني بمغفرتك berarti استر ذنوبي.

Kata lain dalam bahasa Arab yang mengalamai perubahan makna dari yang konkret ke abstrak adalah kata الزكاة. Kata ini semula berarti النمو والزيادة. Dikatakan, زكا الزرع إذا نما وطال وزاد (tanaman itu tumbuh, apabila ia tumbuh, memanjang, dan bertambah). Sekarang kata ini digunakan untuk mengacu pada konsep yang bermakna abstrak, yakni الطهارة, sebagaimana disebutkan dalamsurah Asy-Syams, ayat 9 قد أفلح من زكاها. Kata زكا berarti mensucikan (mensucikan jiwa).

————————-

Demikian artikel/makalah tentang Jenis Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Jenis Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang makna kata dan makna istilah. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  makna kata dan makna istilah  sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  makna kata dan makna istilah .
————–  


Berdasarkan keumuman dan kekhususan bidang penggunaannya, terdapat makna kata (umum) dan makna istilah (khusus). Penggunaan secara umum maksudnya tidak dibatasi pada bidang tertentu. Sebaliknya pemakaian secara khsusus adalah penggunaan kata dalam bidang tertentu.
Dalam penggunaan secara umum, makna kata bersifat umum dan tidak spesfifik. Kata عامل misalnya dalam penggunaan secara umum mempunyai makna ‘yang melakukan/membuat sesuatu kegiatan, pekerja, atau aspek, unsur, dan faktor tertentu’, misalnya dalam contoh (14), (15), dan (16) berikut.

(14) أنا أشرب القهوة، و أنا عاملُ هذه القهوة.
(15) “غاتوت” عاملٌ في مصنع الأحذية.
(16) الجُهد عامل من عوامل النجاح.

Pada (14) عاملُ bermakna orang yang membuat, dalam hal ini adalah pembuat kopi. Pada (15) bermakna pekerja. Sebagai pekerja (عاملُ) di pabrik sepatu, Gatot tidak selalu berarti pembuat sepatunya. Maksudnya, Gatot mungkin bekerja sebagai satpam atau justru salah satu manajernya.

Adapun pada (16), عاملُ bermakna salah satu faktor. Dalam konteks kalimat (16), salah satu faktor (عاملُ) pendukung kesuksesan adalah kesungguhan. Pada ayat 195 surat Ali Imran dan ayat 135 surat Al-An`am yang ditampilkan dalam contoh (17) dan (18) juga terdapat kata عاملُ dengan makna umum atau digunakan secara umum.

(17) إنِّي لا أضِيعُ عَمَلَ عامِلٍ منكم مِن ذكرٍ أو أنثَى (آل عمران/195:3).
(18) قُل يا قَوم اعملُوا على مكانتكم إنِّي عامِل (الأنعام/135:6).

Makna kata عاملُ berbeda dalam penggunaan secara umum dan secara khusus atau dalam bidang tertentu, misalnya dalam bidang nahwu atau zakat. Dalam penggunaan secara khusus atau dalam bidang tertentu, kata عاملُ mempunyai arti yang jelas dan spesifik, meskipun tidak dimasukkan dalam kalimat. Dalam ilmu nahwu misalnya, kata عاملُ bermakna ‘suatu unsur lingual yang menyebabkan kondisi i`rab tertentu’. Adapun pada bidang zakat, bermakna ‘orang yang mengurusi zakat’. Pateda (2001) menyebut makna istilah dengan makna khsusus.

Contoh lain, sebagai istilah kata جمْع (jam`) mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan bidang masing-masing. Di bidang bahasa, جمْع bermakna ‘bentuk kata yang acuannya lebih dari dua’. Adapun dalam bidang fiqh, bermakna ‘mengumpulkan atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu’. Berbeda dari keduanya, dalam bidang ilmu hitung, جمْع bermakna penjumlahan. Berikut ini contoh untuk masing-masing makna.

(19) العملماء جمع من العليم و العالمون جمع من العالم.
(20) أصلي في السفر الظهر والعصر جمعًا و قصرًا.
(21) أجادت بنتي الجمع و الطرح و لم تجد الضرب و التقسيم.

—————-
Demikian artikel singkat tentang  makna kata dan makna istilah. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  makna kata dan makna istilah. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang makna denotatif dan makna konotatif. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang makna denotatif dan makna konotatif sehinggamemberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema makna denotatif dan makna konotatif.
————–  


Makna denotatif (المعنى الأصلي) dan makna konotatif (المعنى الإضافي) dibedakan berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata. Setiap kata penuh mempunyai makna denotatif, tetapi tidak semuanya mempunyai makna konotatif. Makna denotatif adalah makna dasar atau makna asli yang dimiliki oleh sebuah kata. Hal itu berarti bahwa makna denotatif mengacu pada acuan yang sebenarnya atau sesuai dengan acuannya.

Contoh:
أحمر ‘warna menyerupai darah’
مات ‘terlepasnya nyawa/ruh dari tubuh’

Adapun makna konotatif (idhafi atau tambahan) adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya berupa nilai, rasa, atau gambaran tertentu.

Contoh:
Makna denotatif Makna konotatif
أحمر ‘warna’ ‘berani’
حنزير ‘binatang’ ‘najis/haram’
وردة ‘bunga’ ‘indah, cantik, harum’
طائرة ‘kendaraan’ ‘cepat, mahal’

Konotasi bisa dibedakan menjadi konotasi negatif dan konotasi positif. Konotasi negatif mengandung nilai rasa rendah, jelek, kotor, porno, tidak sopan, dan sejenisnya. Sebaliknya konotasi positif mengandung nilai rasa tinggi, baik, sopan, menyenangkan, sakral, dan sejenisnya.

Konotasi Positif Konotasi Negatif
توفِّي مات
انتقل إلى جوار ربه
انتقل إلى رحمة الله
_______________________________
جنازة جُثـة
ميّت
______________________________
دار بيت
قصر

Nilai rasa tersebut pada dasarnya diberikan oleh masyarakat pemilik bahasa yang mungkin saja berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Bagi masyarakat Arab, kata mayyit misalnya mempunyai konotasi positif, tetapi bagi masyarakat Indonesia mempunyai konotasi negatif. Paling tidak masyarakat lebih senang menyebut jenazah daripada mayit. Contoh lainnya, bagi masyarakat Arab, kata himar ‘binatang’ mempunyai konotasi negatif ‘kebodohan’. Tetapi bagi masyarakat Indonesia kata tersebut mungkin tidak mempunyai konotasi apa pun.

Kata مات dan توفّي meskipun mempunyai makna denotatif yang sama, yaitu terpisahnya ruh dari tubuh, keduanya mempunyai makna konotatif yang berbeda. Kata مات mempunyai nilai rasa yang lebih rendah daripada توفّي. Yang pertama digunakan untuk menyatakan terpisahnya ruh pada binatang dan manusia. Sedangkan yang kedua digunakan pada manusia saja. Selain itu, kata توفّي cenderung digunakan untuk orang-orang yang bermartabat tinggi atau orang yang terhormat, misalnya رسول الله توفّي dan bukan مات رسول الله. Namun demikian juga ditemukan penggunaan مات untuk orang yang terhormat, misalnya dalam kalimat (12) berikut.

(12) لقد أدرك مالك رحمه الله عمر بن عبد العزيز و أدرك مِن حياته ثمان عشرة سنة لأن عمر رحمه الله مات سنة 111 ومالك ولِد سنة 93. فكانت وفاة عمر بعد ولادة مالك بثمان عشرة سنة (Salim,1972).

Pada teks tersebut kematian Khalifah Umar bin Abdul Aziz dinyatakan dengan verba مات. Hal itu menunjukkan bahwa kata مات tidak selalu menunjukkan konotasi negatif. Penggunaan kata مات yang bebas dari konotasi negatif mungkin juga dapat dilihat pada hadits rasulullah berikut.

(13) إذا مات بن آدم انقطع عملُه إلا مِن ثلاثٍ … إلى آخره.

Pada hadits tersebut, kematian manusia secara umum juga dinyatakan dengan kata مات . Jadi keberadaan konotasi negatif pada مات dan konotasi positif pada توفّي semata-mata ditentukan berdasarkan bisa diterapkannya مات pada binatang, sedangkan توفّي hanya untuk manusia.
Contoh lain dari makna denotatif dan konotatif ada pada kata الرحمن dan الرحيم. Keduanya mempunyai makna denotatif ‘maha pemberi rahmat’. Tetapi keduanya mempunyai makna konotasi yang berbeda.

الرحمن ==> pemberi rahmat keseluruh alam, rahmatnya mencakup al-mukmin dan al-kafir, bahkan makhluk selain manusia
الرحيم ==> pemberi rahmat khusus kepada mukmin.
(As-Shabuni,Tanpa tahun).
Menurut As-Shabuni, kata الرحمن hanya dinisbatkan kepada Allah. Sebaliknya kata الرحيمbisa dinisbatkan selain Allah.

————–
Demikian artikel singkat tentang  makna denotatif dan makna konotatif. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  makna denotatif dan makna konotatif. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.
Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Referensial dan Makna Non-Referensial. Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang Makna Referensial dan Makna Non-Referensialehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial.
————– 

Makna referensial dan makna non-referensial (المعنى اللا مدلول) dibedakan berdasarkan ada-tidaknya referen atau acuan pada kata. Jika suatu kata mempunyai referen atau acuan (sesuatu di luar bahasa yang diacu), maka kata tersebut mempunyai makna referensial (المعنى المدلول). Kata-kata yang termasuk kategori kata penuh (content word) pada dasarnya mempunyai makna referensial.

Makna referensial dikontraskan dengan makna non-referensial. Kata-kata yang termasuk kategori kata tugas (huru:f) selain tidak mempunyai makna leksikal juga tidak mempunyai makna referensial. Kata-kata yang termasuk kategori kata depan (huru:f jarr), kata penghubung (huru:f `athf), dan kata tugas lainnya tidak mempunyai referen atau acuan. Tidak ada maujud di luar bahasa yang diacu oleh kata tugas tersebut. Karena itu, makna yang dikandung dalam kata tugas disebut makna non-referensial .(المعنى اللا مدلول)

Dalam hal kata yang mempunyai referen, terdapat sejumlah kata yang referennya berubah-ubah atau berpindah-pindah. Kata yang acuannya berganti-ganti disebut deiksis. Termasuk kategori kata yang referennya berpindah atau berubah antara lain adalah kata ganti (dhama:ir), keterangan tempat dan keterangan waktu (zharaf). Kata ganti (dhama:ir) misalnya, termasuk kata yang referennya berpindah-pindah. Perhatikanlah contoh di halaman berikut.

Pada ketiga kalimat di atas, digunakan dua kata ganti /ك/ /ي/ masing-masing dua kali. Kata ganti /ك/ yang biasa diartikan ‘kamu’ pada (9) dan (10) mempunyai acuan yang berbeda. Pada (9), /ك/ mengacu pada Karim sebagaimana ditunjukkan kalimat (10). Adapun /ك/ pada (10) mengacu pada Akram sebagaimana ditunjukkan kalimat (11). Demikian halnya kata ganti /ي/pada kedua kalimat di ata. Coba jelaskan perbedaan acuan /ي/ pada kalimat (10) dan (11).

————–
Demikian artikel singkat tentang  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial . semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal . Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal.
———————————-

Kata leksikal merupakan bentuk ajektif yang diturunkan dari nomina leksikon. Leksikon merupakan bentuk jamak. Adapun satuannya adalah leksem. Leksikon dapat disamakan dengan kosakata, perbendaharaan kata, atau mufradat (bahasa Arab). Adapun leksem; dapat disamakan dengan kata atau kalimah (bahasa Arab).

Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau leksikon, atau kalimah. Maksudnya, makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuan atau referennya. Soedjito (1986) menjelaskan bahwa makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah konstruksi.

Jadi, makna leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan referensi yang umumnya adalah kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga dapat disebut makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata lain. Maksudnya, makna kata yang sesuai dengan yang tertera di kamus.

Perhatikan contoh berikut ini:
a) rumah
b) berumah

Contoh yang pertama (a) merupakan kata dasar yang belum mengalami perubahan. Berdasarkan kamus KBBI makna kata “rumah” adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan contoh kedua (b) merupakan kata turunan. Contoh yang kedua (b) mempunyai arti yang berbeda dengan makna yang pertama (a) meskipun kata dasarnya sama, yaitu rumah. Penambahan prefiks atau awalan pada kata “rumah” membuat makna “rumah” berubah tidak sekedar bangunan untuk tempat tinggal tetapi menjadi memiliki bangunan untuk tempat tinggal.

Contoh yang kedua inilah yang dinamakan dengan makna gramatikal. Jadi, Makna gramatikal adalah makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.

Contoh makna leksikal dalam bahasa Arab:
رأس ‘bagian tubuh/anggota badan yang paling atas atau paling depan’
طعام ‘segala sesuatu yang dapat dan boleh dimakan, misalnya nasi dan roti.
كراسة ‘lembaran-lembaran kertas yang dijilid dimanfaatkan oleh murid atau mahasiswa untuk mencatat pelajaran.

Jika penjelasan Soedjito ini dihubungkan dengan penjelasan Chaer, dapat dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuannya meskipun kata tersebut digunakan dalam kalimat. Hal itu dapat dijelaskan dengan kalimat berikut.

(1) سقَطت تفاحة على رأس ولد.
(2) هذا طعامٌ لذيذ ولكني صائم.
(3) اكتب المفردات في الكراسة ولا خلال النصوص.

Kata-kata yang bergaris bawah pada ketiga kalimat di atas mengacu pada acuannya. Kata رأس mengacu pada bagian tubuh yang paling atas, kata طعام mengacu pada makanan tertentu yang tersedia atau yang dimaksudkan oleh pembicara, dan kata الكراسة mengacu pada buku tulis, bukan kitab.

Sebagaimana dikemukakan Soedjito (1986), makna leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lain dalam suatu konstruksi. Hal itu berarti bahwa makna leksikal itu sudah jelas meskipun tidak berada dalam konteks kalimat. Adapun makna yang bukan leksikal baru akan jelas ketika berada dalam konteks kalimat. Kata قطع dan derivatnya misalnya bermakna leksikal memisahkan sesuatu menjadi dua. Tetapi pada pepatah berikut, kata قطع atau derivatnya jelas tidak bermakna memisahkan sesuatu menjadi dua. Makna قطع atau derivatnya sebagaimana dikandung di dalam pepatah berikut baru jelas di dalam konstruksi kalimat itu.

(4) الوقتُ كالسيفِ إن لم تقطَعْه قَطَعَك.
Berbalikan dengan makna leksikal yang tidak memerlukan kehadiran konteks, makna gramatikal justru mewajibkan kehadiran konteks. Makna yang terkandung dalam kata tugas (huru:f) tidak bisa ditentukan sebelum dibentuk dalam suatu konstruksi kalimat, sebab kata tugas tidak memiliki makna leksikal. Makna yang terkandung dalam kata tugas adalah makna gramatikal yang memerlukan kehadiran konteks. Hal ini juga dikemukakan dalam An-Nahwu-l Wadhih (Al-Jarim dan Amin, tanpa tahun) bahwa kata tugas (huru:f) maknanya tidak tampak sempurna kecuali berada dalam lingkungan kata lainnya. Hal ini dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.

(5) عاد أبي مِن مَكّة.
(6) محمد أكبر مِن أخيه الأكبر.
(7) جاء التلميذ و صاحبه.
(8) و العصر إن الإنسان لفي خسر.

Kata مِن pada kedua kalimat di atas mempunyai makna gramatikal yang berbeda. Pada (5) bermakna menunjukkan tempat asal, sedangkan pada (6) bermakna pemarkah perbandingan. Kata و pada kalimat (7) dan (8) juga mempunyai makna gramatikal yang berbeda. Pada (7), kata و bermakna atau berfungsi kordinatif dan pada (8) bermakna sumpah.



Makna gramatikal hadir sebagai akibat proses gramatika, misalnya afiksasi, perubahan internal, penggabungan (idhafi). Kata مسلم misalnya bermakna ‘seorang penganut agama Islam’. Makna tersebut berubah menjadi dua orang penganut agama Islam setelah mengalami proses afiksasi (mendapat akhiran (-ان dan setelah mendapat akhiran -ون berubah maknanya menjadi sejumlah orang penganut Islam.

مسلم ‘seorang penganut Islam’
مسلم + ان ‘dua orang penganut Islam’
مسلم + ون ‘sejumlah orang penganut Islam’

Perubahan internal dari كَتَبَ ke كُتِب menghadirkan makna pasif (majhul). Adapun proses afiksasi dan perubahan internal yang terjadi pada دَخَلَ ke أُدْخِلَ menghadirkan makna transitif.

Makna gramatikal juga hadir sebagai hasil dari penggabungan (idhafi), misalnya:
كتاب الفقه ‘penggabungan menyatakan jenis bidang’
كتاب الاستاذ ‘penggabungan menyatakan pemilik’
كتاب جديد ‘penggabungan menyatakan ajektifal’
ساعة يدوية ‘penggabungan menyatakan jenis’
ساعة ذهبية ‘penggabungan menyatakan bahan’
ساعة حائطية ‘penggabungan menyatakan jenis’

————–
Demikian artikel singkat tentang Makna Leksikal dan Makna Gramatikal. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.



sumber tambahan: bahasakebanggaan.blogspot.com



Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis.
————–  

Dalam kajian linguistik, kita mengenal apa yang disebut dengan fonologi (ilmu al-ashwat), morfologi (ash-sharf), dan sintaksis (an-nahwu). Fonologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan dan mengidentifikasi kata-kata tertentu (Al-Wasilah, 1985). Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan kata (Yule, 1985). Sementara itu, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa (Levinson, 1992), yakni hubungan antara kata/frasa yang satu dengan lainnya dalam suatu kalimat.

Semantik sebagai cabang ilmu bahasa memiliki hubungan yang erat dengan ketiga cabang ilmu bahasa di atas (fonologi, morfologi, dan sintaksis). Ini berarti, bahwa makna suatu kata atau kalimat ditentukan oleh unsur bunyi (tekanan suara dan atau nada suara atau yang lebih umum adalah suprasegmental), bentukan kata (perubahan bentuk kata), maupun susunan kata dalam kalimat. Dengan demikian, tidak mungkin semantik dipisahkan dari cabang linguistik lainnya atau sebaliknya (Umar, 1982).
Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh A. 1
(1) انت تكنس البلاط.
(2) انت تكنس البلاط؟

Apabila kalimat (1) dan (2) pada A.1 tersebut diungkapkan secara lisan dengan nada yang sama (nada datar), maka keduanya memiliki makna yang sama. Akan tetapi, apabila diungkapkan dengan nada yang berbeda, maka kedua kalimat tersebut mempunyai makna yang berbeda. Kalimat (1) bernada informatif (memberi informasi), sedangkan kalimat (2) bernada introgatif (bertanya). Secara semantik, keduanya memiliki makna yang berbeda karena perbedaan nada.

Dengan demikian, bunyi suatu ujaran (nada) mempengaruhi makna. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila Umar (1982) menyatakan bahwa tanghim (nada suara) dan nabr (tekanan suara) termasuk kalimat (jumlah).

Contoh A.2
(1) غفر الله ذنوبنا
(2) استغفرنا الله
(3) جلس علي على الكرسي
(4) أجلس علي الطفل على الكرسي

Kata yang digarisbawahi pada kalimat (1) dan pada kalimat (2) berasal dari akar kata yang sama, yaitu غ – ف – ر . Akan tetapi, setelah mengalami proses morfologis, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata pada kalimat (1) berarti mengampuni (Tuhan mengampuni dosa-dosa kita), sementara itu kata pada kalimat (2) berarti ‘meminta ampun’ (lith- thalab). Dengan demikian huruf tambahan (afiksasi) berupa ا- س – تpada awal kata mempunyai arti, sehingga kalimat (2) di atas berarti Kami (telah) meminta ampun kepada Allah.

Hal yang sama juga terjadi pada kata yang digarisbawahi dalam kalimat (3) dan (4). Keduanya berasal dari akar kata yang sama (ج-ل-س).

Akan tetapi, karena mengalami proses morfologis, maka kedua kata tersebut memiliki makna yang berda. Kata yang digarisbawahi pada kalimat (3) merupakan verba intransitif (fi’l lazim), sementara itu, pada kalimat (4) disebut verba transitif (fi’l mutta’addi). Dengan demikian, kalimat (3) berarti ‘Ali duduk di atas kursi’, sedangkan kalimat (4) berarti ‘Ali mendudukkan anak kecil di atas kursi. Dari contoh A2 (1), (2), (3) dan (4) di atas dapat disimpulkan, bahwa makna dipengaruhi oleh hasil proses morfologis.

Contoh A3
(1) الثعلب السريع البني كاد يقتنص الأرنب.
(2) الثعلب البني الذي كاد يقتنص الأرنب كان سريعا.
(3) الثعلب السريع الذي كاد يقتنص الأرنب كان بنيا.

Kalimat (1), (2), dan (3) pada contoh A3 di atas pada dasarnya memiliki pesan yang sama. Substansi yang dibicarakan berkisar tentang serigala yang hampir menangkap kelinci. Akan tetapi, karena kata-kata tertentu urutannya tidak sama, maka pengutamaan pesan yang dikandung oleh ketiganya berbeda (Umar, 1982). Pesan kalimat (1) pada contoh A3 lebih menekankan pada serigala yang cepat dan berwarna coklat (kecepatan berlari dan warna serigala), pesan kalimat (2) pada contoh A3 lebih menekankan identitas warna serigala (coklat), sedangkan pesan kalimat (3) lebih menekankan pada kecepatan lari serigala.
Sebagai pembanding dari contoh A.3, perhatikan contoh A.4 berikut ini.
Contoh A 4.

1. Orang tua itu putus asa dan bunuh diri.
2. Pemudah itu bekerja keras dan berhasil.
3. Orang tua itu bunuh diri karena dia putus asa.
4. Pemuda itu berhasil karena bekerja keras.

Kalimat (1) (3) dan (2) (4) pada contoh A4 pada dasarnya mempunyai pesan yang kurang lebih sama, yaitu hubungan sebab akibat (dua kluasa). Perbedaannya pada pengutamaan pesan yang dikandung oleh setiap klausa. Pesan yang ditekankan pada (1) adalah keputusasaan orang tua (klausa pertama sebagai klausa primer) yang merupakan sebab, sementara itu klausa “bunuh diri” sebagai klausa kedua (skunder) merupakan akibat. Dengan demikian, pesan yang ditekankan adalah sebab, bukan akibat. Sebaliknya, pesan yang ditekankan pada kalimat (3) adalah akibat, yakni bunuh diri, sedangkan klausa sebab merupakan klausa skunder. Hal yang sama juga terjadi pada kalimat (2) dan (4). Dengan demikian, urutan kata dalam suatu struktur kalimat mempengaruhi makna.

Semantik sebagai studi makna bukan saja berkaitan dengan cabang linguistik lainnya (fonologi, morfologi, dan sintaksis), tetapi juga berhubungan dengan disiplin ilmu lainnya. Disiplin ilmu yang dimaksud misalnya antropologi, sosiologi, psikologi, dan filsafat. Antropologi berkepentingan di bidang semantik, antara lain karena analisis makna di dalam bahasa dapat menyajikan klasifikasi budaya pemakai bahasa secara praktis. Sosiologi memiliki kepentingan dengan semantik, karena ungkapan atau ekspresi tertentu menandai kelompok sosial atau identitas sosial tertentu. Psikologi berhubungan erat dengan semantik, karena psikologi memanfaatkan gejala kejiwaan yang ditampilkan manusia secara verbal atau nonverbal. Sementara itu, filsafat berhubungan erat dengan semantik karena persoalan makna tertentu dapat dijelaskan secara filosofis, misalnya makna ungkapan dan peribahasa (Djajasudarma, 1999).

Hubungan antara semantik dengan studi lainnya dapat ditampilkan pada diagram 01.


Diagram 01 Hubungan Semantik dengan Studi Lainnya.

————–
Demikian artikel singkat tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Objek Kajian Semantik. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  Objek Kajian Semantik sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Objek Kajian Semantik.
————–  


Pada uraian sebelumnya dikemukakan, bahwa semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji makna atau arti dalam bahasa dan secara etiomologis berarti “menandai” atau “melambangkan”. Pertanyaan yang mengemuka adalah lambang apakah yang menjadi objek kajian semantik? Dapatkah rambu-rambu lalu lintas yang juga merupakan lambang bermakna (simbol bermakna) termasuk wilayah kajian semantik atau dapatkah gambar berikut ini yang juga merupakan lambang atau simbol bermakna juga menjadi objek kajian linguistik.


Keempat gambar di atas merupakan simbol/lambang yang memiliki makna. Gambar 1 adalah gambar timbangan yang antara bandul satu dengan yang lain simetris (seimbang). Gambar 1 tersebut dapat dijumpai di lembaga peradilan dan merupakan suatu simbol yang memiliki makna. Makna yang dimaksud oleh gambar tersebut adalah kewajiban lembaga peradilan untuk menegakkan keadilan tanpa ada diskriminasi. Menuru gambar 1 tersebut, setiap anak bangsa mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum. Pemberlakuan hukum harus seimbang (adil) atau tidak boleh berat sebelah sebagaimana yang dilambangkan oleh kesimetrisan kedua bandul pada timbangan tersebut. Dengan demikian, gambar 1 di atas merupakan suatu lambang atau simbol yang bermakna keadilan.

Gambar 2 adalah gambar ka’bah. Ia merupakan lambang spiritual keagamaan umat Islam. Ke arah ka’bahlah umat Islam harus menghadap pada saat melaksanakan shalat. Di samping sebagai kiblat umat Islam, Ka’bah juga melambangkan identitas keagamaan seseorang. Apabila di rumah seseorang dijumpai gambar ka’bah, maka dapat diasumsikan, bahwa pemilik rumah tersebut bergama Islam. Gambar 3 di atas juga merupakan suatu lambang spiritual sebagaimana ka’bah. Perbedaannya adalah bahwa gambar 3 ini berkaitan dengan tempat peribadatan kaum Nasrani.

Sementara itu, gambar 4 merupakan lambang “cinta”. Apabila seorang pemuda/remaja memberikan lambang ini kepada seorang “cewek”, maka makna yang dapat ditangkap adalah bahwa si pemuda/remaja tersebut mengungkapkan rasa cintanya melalui bahasa gambar 4. Dengan demikian, pengungkapan rasa cinta kepada orang lain (lawan jenis), tidak harus dengan simbol-simbol kebahasaan, tetapi dapat dilakukan dengan memberikan simbol berupa gambar.

Memang semantik mengkaji makna dari suatu lambang atau simbol, tetapi lambang atau simbol yang menjadi kajian semantik hanyalah lambang bahasa atau simbol-simbol yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal (Umar, 1982 dan Chaer, 2002). Objek semantik adalah telaah tentang makna—yang mencakup lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lainnya serta pengaruh makna terhadap manusia dan masyarakat pemakai bahasa, Mempelajari seluk beluk makna juga berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa saling mengerti (Nikelas, 1988).

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Djajasudarma (1999), bahwa objek semantik adalah makna, dan makna dapat dianalisis melalui struktur dalam pemahaman tataran bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis). Sementara itu, ilmu yang mengkaji tentang simbol-simbol yang lebih luas (kebahasaan dan non-kebahasaan) disebut dengan semiotika atau ‘ilmu ar-rumuz (Umar, 1982).

Dengan demikian, tanda atau lambag sebagaimana pada gambar 1 s.d. gambar 4 tidak menjadi objek kajian semantik, meskipun gambar tersebut memiliki makna. Demikian pula rambu-rambu lalu lintas di jalan raya yang memiliki makna juga bukan merupakan objek kajian semantik.

————–
Demikian artikel singkat tentang Objek Kajian Semantik. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Objek Kajian Semantik. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Pengertian Semantik. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  Pengertian Semantik sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Pengertian Semantik.
————–  


Pengertian Semantik
Untuk mengetahui apa pengertian semantik, perhatikan contoh berikut ini.

Contoh A.
(1) Perempuan itu ibu saya.
(2) Perempuan itu bekerja di rumah sakit.
(3) Perempuan itu dalam kampanyenya kemarin menyampaikan visi dan misi partainya.
(4) Ih, dasar perempuan.

Contoh B.

المرأة التي تقدم لنا الوجبات في الفندق بشوشة.
هي مرأة تعمل في الإدارة الحكومية.
المرأة التي تسري كل يوم في وسط المدينة قبضها البوليس.
وامرأته حمالة الحطب سورة اللهب.

Pada contoh A (1) sampai dengan A (4) dijumpai kata perempuan. Dilihat dari aspek leksikalnya, kata perempuan baik pada A (1) sampai dengan A (4) tersebut mengacu pada seseorang yang berjenis kelamin sama (tidak ada perbedaan). Akan tetapi, apabila dicermati berdasarkan konteks kalimatnya, kata perempuan pada contoh A tersebut memiliki perbedaan dan perbedaan ini disebut dengan perbedaan semantik.

Kata perempuan pada contoh A (1) mengacu pada seseorang (perempuan) halus budi-bahasanya, keibuan (Djajasudarma, 1999), penuh kasih sayang, dan sabar. Kata perempuan pada contoh A (2) mengacu pada seseorang (perempuan) yang berprofesi sebagai tenaga medis atau dokter di rumah sakit. Kata perempuan pada contoh A (3) mengacu pada seorang politisi dan atau juru kampanye untuk partai tertentu. Sementara itu, kata perempuan pada contoh A (4) mengacu pada seorang perempuan yang tamak, rakus, tidak sesuai dengan kodrat perempuan (Djajasudarma, 1999).

Hal yang sama juga dapat ditemukan pada contoh B (1) sampai (5). Secara leksikal Kata مرأة baik pada contoh B (1) sampai (5) memiliki makna yang sama. Akan tetapi, ketika kata tersebut dikaitkan dengan konteks kalimatnya, maka makna yang dihasilkan berbeda. Kata مرأة pada B (1) berarti ibu guru, Kata مرأة pada B (2) berarti palayan di hotel, Kata مرأة pada B (3) berarti pegawai negeri, Kata مرأة pada B (4) dapat dimaknai sebagai PSK.

Sementara itu, kata إمرأةpada B (5) mengacu pada istri Abu Lahab yang digelari “Ummu Jamil”. Wanita ini sangat memusuhi Nabi Muhammad. sebagaimana sikap suaminya terhadap Nabi. Dalam ayat tersebut dia juga diberi sebutan hammalatal hathab (pembawa kayu bakar). Ada yang memahami gelar ini secara harfiah mengaitkan dengan perilaku buruk Ummu Jamil yang membawa kayu-kayu berduri untuk ditabur di jalan-jalan yang dilalui Nabi Muhamamd. Ada juga yang memahaminya secara majazy, yakni pembawa berita bohong yang memecah belah antara sesama manusia, atau dalam arti orang yang memikul dosa-dosa yang di hari kemudian akan menjadi kayu bakar di api neraka (Shihab, 1997). Dengan demikian, kata yang sama (perempuan/مرأة) secara semantik dapat memiliki makna yang berbeda.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disarikan, bahwa semantik adalah istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa او العلم الذي يدرس المعنى (Umar, 1982 dan Chaer, 2002). Secara etimologis, kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) dan (Arab: ‘ilmu ad-dilalah) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semanio yang berarti “menandai” atau “melambangkan” (Umar, 1982 dan Chaer, 2002).

Pendapat yang sama mengenai batasan semantik juga dikemukakan oleh Wijana (1999), bahwa semantik adalah cabang ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual. Satuan lingual di samping memiliki bentuk juga memungkinkan memiliki makna. Dua aspek ini tidak dapat diabaikan di dalam setiap pemerian bahasa. Selanjutnya dia mengemukakan bahwa makna itu sendiri dapat didefinisikan sebagai konsepsi atau persepsi yang menghubungkan satuan lingual itu dengan kenyataan di luar bahasa yang disebut referen kendatipun makna tidak selalu identik dengan referen. Konsepsi atau persepsi disebut dengan denotata (bentuk jamak dari denotatum). Makna merupakan unsur dalam bahasa, sedangkan referen merupakana unsur luar bahasa. Bentuk berhubungan secara langsung dengan makna satuan lingual dan berhubungan secara tidak langsung dengan referennya sebagaimana tergambar dalam diagram 01 yang dikutip dari Ogden dan Richards (1923).

Konsep atau makna ada pada pikiran manusia, simbol atau bentuk adalah lambang bahasa yang merupakan unsur (struktur) linguistik, dan referen “acuan’ adalah objek atau hal (peristiwa, fakta, di dalam dunia pengalaman manusia). Konsep adalah apa yang ada dalam pikiran manusia yang diwujudkan melalui lambang (simbol) bahasa. (Djajasudarma, 1999).

—————–

Demikian artikel singkat tentang Pengertian Semantik. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Pengertian Semantik. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.