Arsip

Bahasa

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Makna Kiasan. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Kiasan sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Kiasan.

————–


Makna Kiasan
Makna kiasan atau makna kias digunakan sebagai kebalikan dari makna sebenarnya (Chaer, 2002). Makna kias adalah makna suatu satuan bahasa yang bukan makna sebenarnya (leksikal, konseptual, dan denotatif). Harimurti (dalam Pateda, 2001) juga mengemukakan bahwa makna kiasan adalah pemakaian satuan yang maknanya tidak sebenarnya.

Dalam bahasa Arab terdapat kata سفينة ‘kapal atau kendaraan laut’. Tetapi kalau dikatakan الصحراء سفينة tentu tidak lagi bermakna kendaraan laut atau kapal. Kata الصحراء سفينة mempunyai makna kias ‘onta’. Dalam hal ini onta di padang pasir diperumpamakan atau disamakan dengan kapal di laut. Dalam Al-Qur’an terdapat kata النجدين pada ayat وهديناه النجدين (surat Al-Balad). Kata النجدين merupakan bentuk dual/mutsanna dari النجد yang bermakna jalan atau gunung. النجد juga merupakan nama salah satu wilayah pegunungan di Mekah/Saudi. Dalam bahasa Arab banyak digunakan bentuk dual untuk mengacu pada dua hal yang berlawanan, misalnya قمران mengacu pada bulan dan bumi, dan قمران mengacu pada ayah dan ibu. Tetapi kata النجدين pada ayat di atas tidak mengacu pada jalan yang menanjak dan menurun ataupun bukit dan jurang (hal ini akan dibahas lebih lanjut pada bab 7). Kata tersebut tidak lain digunakan dengan makna kias atau sebagai kiasan dari jalan kebaikan/kebenaran dan jalan kesesatan.

Pateda (2001) mengemukakan bahwa makna kias banyak terdapat di dalam idiom, peribahasa, dan ungkapan. Adapun Chaer (2002) mengemukakan bahwa idiom, ungkapan, dan metafora merupakan tiga istilah dengan objek pembicaraan yang sama dari sisi pandang yang berbeda. Idiom dilihat dari segi makna, yaitu adanya penyimpangan makna dari makna leksikal dan makna gramatial unsur-unsur pembentuknya. Ungkapan dilihat dari segi ekspresi kebahasaan. Sedangkan metafora dilihat dari segi ada-tidaknya unsur pembanding.

Sebagai tambahan sekaligus bandingan penjelasan terhadap penjelasan yang dikemukakan Pateda (2001) dan Chaer (2002) di atas, mungkin dapat dikemukakan bahwa ungkapan merupakan istilah umum yang mencakup idiom, peribahasa, dan metafora. Idiom dan peribahasa merupakan ungkapan kebahasaan yang bersifat khas dan tetap. Idiom merupakan ungkapan khas yang sudah jadi dan tetap, yang maknanya menyimpang dari makna leksikal ataupun makna gramatikal unsur-unsurnya. Peribahasa dibedakan dari idiom dalam hal satuannya yang lebih lengkap/kompleks. Perbedaan lainnya, peribahasa cenderung digunakan untuk nasihat. Sebagai ungkapan yang sudah jadi, idiom dan peribahasa menjadi milik masyarakat pengguna bahasa secara umum.

Berbeda dengan idiom dan peribahasa, metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang khas pula, tetapi bersifat individual. Metafora bukanlah ungkapan khas yang bersifat umum. Jika suatu metafora sudah tersebar secara luas di masyarakat, berubah menjadi idiom atau peribahasa, bergantung pada kompelksitas satuannya dan ada tidaknya aspek nasihat dalam satuan tersebut.


————–
Demikian artikel/makalah tentang Makna Kiasan. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Kiasan. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.
Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang 
Teori dan Pengertian Konteks

. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang 

Teori dan Pengertian Konteks

 sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema 

Teori dan Pengertian Konteks

.

————–

 
Pengertian Konteks
Teori konteks merupakan suatu teori kebahasaan yang diperkenalkan oleh aliran London yang disebut dengan Contextual Approach (al-manhaj as-siyaqi) atau Operational Approach (al-manjah al-‘amali). Firth sebagai tokoh dalam aliran ini telah meletakkan dasar tentang fungsi sosial bahasa. Tokoh-tokoh yang lain misalnya Halliday, Mc Intosh, Sinclair, dan Mitchell (Umar, 1982). Menurut pencetus aliran ini, makna suatu kata terletak pada penggunaannya. Selanjutnya Freesh sebagaimana yang dikutip oleh Umar (1982) menegaskan bahwa makna suatu kata tidak akan terungkap tanpa diletakkan ke dalam unit bahasa, yakni tanpa diletakkan ke dalam konteks yang berbeda.
Konteks diartikan sebagai suatu bunyi, kata, atau frase yang mendahului dan mengikuti suatu unsur bahasa dalam ujaran. Konteks juga dapat diartikan sebagai ciri-ciri alam di luar bahasa yang menumbuhkan makna pada ujaran atau wacana (Kridalaksana, 1984). Secara fungsional, konteks mempengaruhi makna kalimat atau ujaran. Konteks ada yang bersifat linguistik dan non-linguistik (ekstra linguistik). Konteks linguistik menjadi wilayah kajian semantik, sedangkan konteks non-linguistik (ekstra linguistik) menjadi wilayah kajian pragmatik.
Konteks linguistik mengacu pada suatu makna yang kemunculannya dipengaruhi oleh struktur kalimat atau keberadaan suatu kata atau frase yang mendahului atau mengikuti unsur-unsur bahasa (kata/frase) dalam suatu kalimat. Perhatikan contoh di halaman berikut ini.
Contoh A:
1. Ali memetik bunga di halaman rumahnya.
2. Fatimah itu bunga di desanya.
3. Mereka belajar bahasa Arab.
4. Antara sesama menteri tidak ada kesatuan bahasa.
Kata bunga contoh A (1) berbeda maknanya dengan kata bunga pada contoh A (2). Kata bunga pada A (1) mengacu pada bagian tumbuhan yang akan menjadi buah dan biasanya elok warnanya dan harum bauhnya. Bunga juga berarti kembang (Departemen Pendidikan Nasional, 2001). Kata bunga pada A (2) tidak sama maknanya dengan yang ada pada A (1). Kata bunga pada A (2) ini mengacu pada Fatimah. Unsur yang mempengaruhi perbedaan makna dari kedua kata yang sama tersebut adalah konteks. Kata kunci yang membedakan makna adalah kata memetik pada A (1) dan Fatimah pada A (2). Peristiwa yang sama juga terjadi pada kata bahasa sebagaimana dalam kalimat A (3) dan (4). Kata bahasa pada contoh A (3) berarti bahasa sebagai alat komunikasi yang dalam hal ini adalah bahasa Arab, sedangkan pada A (4) berarti tidak ada kesatuan pandangan atau pendapat.
Contoh B
1- يقرأ المسلمون الكتاب في المسجد.
2- يقرأ النصارى الكتاب في الكنيسة.
3- يقرأ الطلاب الكتاب في مكتبة الجامعة.
Kata al-kitab pada B (1) secara semantis berbeda dengan kata al-kitab pada B (2) dan (3). Kata al-kitab pada B (1) mengacu pada kitab suci al-Qur’an. Pemaknaan kata al-kitab sebagai al-Qur’an didukung oleh konteks linguistik, yakni oleh frase sebelum dan sesudahnya, yakni frase al-muslimun dan fil masjid. Kata al-kitab pada B (2) bukan lagi mengacu pada kitab suci al-Qur’an atau kitab-kitab lainnya, melainkan mengacu pada kitab suci umat Nasrani (Injil) atau mengacu pada buku yang substansinya berkaitan erat dengan ajaran keagamaan Nasrani. Kata atau frase kunci yang membentuk konteks sehingga kata al-kitab pada B (2) dimaknai seperti itu adalah frase an-nashara dan fi al-kanisah. Sementara itu, Kata al-kitab pada B (3) bukan lagi mengacu pada kitab al-Qur’an maupun Injil, melainkan mengacu pada buku-buku bacaan umum lainnya yang lazim digunakan dalam perkuliahan. Frase kunci yang memaknai al-kitab seperti itu adalah ath-thulab dan maktabatu al-jami’ah. Dengan demikian, meskipun ketiga kata tersebut (al-kitab) makna dasarnya (makna leksikal) sama, tetapi makna konteksnya berbeda.
Sementara itu, yang dimaksud dengan konteks non-linguistik atau ekstra linguistik adalah suatu konteks yang unsur-unsur pembentuknya berada di luar struktur kalimat. Unsur-unsur konteks meliputi penyapa dan pesapa, konteks sebuah tuturan, tujuan sebuah tuturan, tuturan sebagai bentuk tindakan, dan tuturan sebagai produk suatu tindak verbal (bukan tindak verbal itu sendiri) (Leech,1983). Menurut Purwo (1990), unsur-unsur konteks adalah siapa yang mengatakan kepada siapa, tempat, dan waktu diujarkannya suatu kalimat. Uraian mengenai hal ini telah dikemukakan pada bab I (semantik dan pragmatik).

————–
Demikian artikel/makalah tentang Teori dan Pengertian Konteks. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang 
Teori dan Pengertian Konteks

. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Berikut ini artikel/makalah tentang  Jenis Perubahan Makna. makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini diharapkan memberi pemahaman tentang Jenis Perubahan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian pendidikan tentang  Jenis Perubahan Makna.

————————-


Macam-macam Perubahan Makna
Sebagaimana telah dikemukakan, bahwa makna bahasa selalu mengalami perubahan karena berbagai faktor. Pertanyaan berikutnya yang mengemuka adalah bagaimanakah bentuk atau jenis perubahan yang terjadi. Ada beberapa bentuk atau jenis perubahan makna sebagaimana berikut ini.

A.Perluasan Makna (Tausi’ul Ma’na)
Menurut Umar (1982), perluasan makna (widening/extension) terjadi manakala didapati perpindahan dari makna khusus ke makna umum. Sependapat dengan pernyataan ini, Chaer (2002) menegaskan bahwa perubahan makna meluas terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah makna, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain. Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kata saudara, bapak, dan ibu semula digunakan untuk menyebut orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita. Akan tetapi, sekarang makna kata tersebut meluas. Artinya, kata saudara, bapak, dan ibu bukan saja digunakan untuk orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita, melainkan juga digunakan untuk orang lain.

Dalam bahasa Arab, anak kecil sering mengucapkan kata تفاحة’apel’ untuk mengacu pada segala sesuatu berbentuk oval yang serupa bentuknya dengan ‘apel’, misalnya kata , كرة التنس, أكرة الباب, البرتقالة ‘jeruk’, ‘handle pintu’, dan ‘bola tenes’ (Umar, 1982). Ini berarti kata تفاحة yang semula berarti ‘apel’ (makna khusus), diperluas maknanya untuk benda yang serupa bentuknya, misalnya jeruk, bola tenes, dan handle pintu. Kata salary (المرتب) yang berasal dari bahasa Latin dan makna semula adalah gaji prajurit (مرتب الجندي) sekarang maknanya meluas menjadi gaji untuk semua karyawan. Bahkan kalau kita mencermati sejarah kata salary (المرتب) ini pada awalnya berarti gaji prajurit berupa garam (حصة الجندي من الملح), kemudian meluas maknanya menjadi haji prajurit, dan sekarang berarti gaji karyawan. Dengan demikian, kata ini mengalami perluasan makna dua kali (Umar, 1982).

Untuk lebih mempermudah pemahaman terhadap perluasan makna, perhatikan dan bandingkan contoh A1 dan 2 serta contoh B1 dan B2 berikut ini.

Contoh A1
(1) Saudara saya tiga orang
(2) Bapak saya bekerja di perusahaan swasta.
(3) Ibu saya seorang guru di Madrasah Aliyah.

Contoh A2
(1) Apakah Saudara menerima pendapat saya?
(2) Ide Bapak itu ideal, tetapi sulit diterapkan.
(3) Ibu kita Kartini harum namanya.

Kata saudara, bapak, dan ibu pada contoh A1 berbeda dengan yang ada pada A2. Saudara pada A1 dimaksudkan saudara karena ada hubungan darah (mungkin kakak atau adik yang seayah dan seibu atau seayah saja, atau seibu saja). Kata bapak pada A1 dimaksudkan sebagai orang tua laki-laki (ayah), dan ibu dimaksudkan sebagai orang tua perempuan. Ketiga kata ini yang semula (pada contoh A1) memiliki makna sempit berkembang menjadi kata yang maknanya lebih luas. Kata saudara pada A2 sudah tidak dibatasi oleh adanya hubungan darah, melainkan merupakan kata sapaan yang diperuntukkan kepada semua orang yang secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial yang hampir sama. Demikian pula, kata bapak dan ibu pada A2 bukan lagi dibatasi oleh pertalian darah, melainkan juga merupakan kata sapaan yang bagi orang lain yang usianya lebih tua atau secara sosiologis dipandang memiliki struktur sosial atau struktur formal lebih tinggi.

Untuk mengetahui perluasan makna dalam bahasa Arab, perhatikan dan bandingkan contoh berikut ini.

Contoh B1
1- إذقالوا ليوسف واخوه أَحَبُّ الى ابينا منا ونحن عُصبة, إن ابانا لفي ضلال مبين (يوسف:8).
2- وإن كان رجل يورث كلالَة او امرأة وله اخ او اخت فلكل واحد منهما السدس.(النساء: 12)

3- وقال يابَنَِّي لاتدخلوا من باب واحد وادخلوا من أبواب متفرقة (يوسف:67)

1. (Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata.

2. Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.

3. Dan Ya`qub berkata: “Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain”.

Contoh B2
1- إنماالمؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم.
2- لايؤمن احدكم حتى يحب لأخيه مايحب لنفسه.
3- العباد كلهم إخوة.
4- فيا أبناء الأمة, تمسكوا في حياتكم بالقرآن والحديث!

1. Sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara, maka perbaikilah di antara saudaramu.
2. Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
3. Hamba Allah itu semuanya bersaudara.
4. Wahai anak bangsa! Berpegang tegulah pada al-Qur’an dan Hadits dalam hidupmu.
5.

Kata اخوه dan اخ او اخت pada contoh B1 merupakan kata yang maknanya terbatas (sempit). Kata ini mengacu pada saudara yang dibatasi oleh hubungan darah. Secara lebih spesifik, kata اخوه tersebut mengacu pada seorang bernama Benyamin saudara Yusuf. Ayat 8 surah Yusuf di atas terkait dengan konteks kesejarah keluarga Ya’kub. Saudara-saudara Yusuf dan Benyamin dihantui oleh prasangka buruk kalau ayahnya itu berikap deskriminatif terhadap anak-anaknya. Artinya Ya’kub lebih mencintai Yusuf dan Benyamin. Bahkan mereka menuduh ayahnya sesat. Demikian juga, Kata اخ او اخت pada contoh B1 (2) juga terkait dengan konteks keluarga. Makna yang diacu oleh kata اخ او اخت ini juga terbatas pada saudara yang diikat pertalian darah dan kemunculan kata ini terkait dengan pembagian waris. Hal yang sama juga terjadi pada kata يابَنَِّي (hai anakku) sebagaimana pada contoh B1 (3). Makna yang diacu oleh kata يابَنَِّي ini adalah anak kandung (anak kandung Nabi Ya’kub).

Bandingkan dengan kata إخوة bentuk jamak dari kata اخ dan لأخيه pada contoh B2 (1) dan (2). Kata ini tidak dibatasi oleh ikatan pertalian darah. Makna kedua kata ini diperluas, sehingga saudara yang diacu oleh kedua kata pada contoh B 2 (1) dan (2) bukan saja saudara yang ada pertalian darah, melainkan mengacu pada semua orang yang beridentitaskan sebagai mukmin Bahkan dalam contoh B2 (3), makna kata إخوة berkembang lebih luas lagi, yakni mengacu pada saudara yang tidak dibatasi oleh ikatan kesamaan teologis, melainkan saudara dalam arti dimensi sosial-kemanusiaan. Hal yang sama juga terjadi pada kata أبناءbentuk jamak dari kata ابن . Kata ini bukan lagi dimaknai sebagai anak kandung, melainkan diperluas menjadi anak bangsa.

B. Penyempitan Makna (Tadlyiqul Ma’na)
Penyempitan makna (narrowing) yang oleh Ibrahim Anis disebut dengan takhshishul ma’na adalah perubahan makna dari yang umum (kully) ke yang lebih khusus (juz’iy) (Umar, 1982). Sependapat dengan ini, Chaer (2002) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja. Dengan bahasa yang berbeda, tetapi esensi maknanya sama, Djajasudarma (1999) menyatakan bahwa penyempitan atau pembatasan makna berarti makna yang dimiliki oleh kata lebih terbatas dibandingkan dengan makna semula.

Menurut Umar (1982), di Amerika sepuluh tahun yang lalu, apabila seorang perempuan mengatakan a pill, pendengar bertanya-tanya: untuk apa? Apakah a pill yang dimaksud itu untuk mencegah kehamilan? Ataukah a pill yang dimaksud itu untuk obat sakit kepala? Atau untuk obat sakit mag?. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kata a pill pada awalnya memiliki makna yang luas (tidak terbatas). Akan tetapi, setelah penggunaan alat kontrasepsi berupa tablet begitu meluas, maka makna kata a pill menjadi menyempit, sehingga setiap ada ungkapan kata a pill, maka makna yang diacu adalah tablet untuk mencegah kehamilan. Dalam bahasa Indonesia, kata tukang yang memiliki makna luas ‘ahli’ atau ‘bisa mengerjakan sesuatu’, maknanya menjadi terbatas dengan munculnya unsur pembatas, misalnya pada (1) tukang kayu, (2) tukang catut, (3) tukang tambal ban, dst. (Djajasudarma, 1999).

Penyempitan makna ini juga menggejala pada setiap bahasa, khususnya bahasa Arab. Kata حرامي pada awalnya memiliki makna luas, yakni mengacu pada setiap perbuatan haram. Akan tetapi, sejak abah ke 7 H, dalam beberapa buku cerita, makna kata ini menyempit, yakni berarti maling atau al-lishshu. Bahkan sampai sekarang, kata حرامي yang berarti maling masih digunakan. Dalam bahasa lisan, kata طهارة yang berarti bersih juga mengalami penyempitan makna, yakni berubah menjadi الختان. Demikian pula, kata الحريم yang awalnya digunakan untuk mengacu pada setiap muhrim mengalami penyempitan makna, yakni mengacu pada perempuan (an-nisa’). Kata العيش (hidup) di Mesir berarti roti (al-khubz) dan di beberapa negara Arab berarti nasi (ar-ruz).

C. Perpindahan Makna (Naqlu al-ma’na)
Perpindahan makna adalah suatu gejala perubahan makna yang terjadi karena adanya makna asal berpindah atau berubah menjadi makna baru. Perpindahan makna ini identik dengan perubahan total sebagaimana yang dikemukakan oleh Chaer (2002). Menurut Chaer (2002), perubahan total adalah berubahnya sama sekali makna sebuah kata dari makna asalnya. Memang ada kemungkinan makna yang dimiliki sekarang masih ada sangkut pautnya dengan makna asal, tetapi sangkut paut tersebut tampaknya sudah jauh. Dia memberikan contoh kata ceramah pada mulanya berarti cerewet atau banyak cakap, tetapi kini menjadi ‘pidato atau uraian’ mengenai suatu hal yang disampaikan’.

Dalam bahasa Arab, Umar (1982) memberikan contoh mengenai kasus naqlu al-makna ini yang berkaitan dengan penyebutan salah satu anggota tubuh manusia. Kata صدر atau نحر (dada atau di atas dada) merupakan sebutan untuk kata ثدي (payudara). Kata الشنب yang semula berarti bibir yang indah dan gigi yang putih bersih sekarang berganti makna menjadi الشارب ‘kumis’. Kata السفرة yang semula berarti makanan yang dimasak untuk musafir, sekarang berarti meja makan. Ungkapan طول اليد yang semua sebagai sebutan untuk السخاء ‘seorang dermawan’ berubah menjadi السارق ‘pencuri’.

Makna baru akibat perpindahan makna (naqlu al-ma’na) ini ada yang memiliki nilai rasa rendah (inhithahh al-ma’na) dan ada yang memiliki nilai rasa tinggi. Kata-kata yang nilanya merosot menjadi rendah lazim disebut peyoratif, sedangkan kata-kata yang nilai maknanya menjadi tinggi disebut ameliorative (Chaer, 2002). Misalnya kata حاجب yang pada daulah Andalusiah berarti perdana menteri (ra’isul wuzara’) kemudian berganti makna menjadi التافة (bodoh). (Umar, 1982).

Di dalam Al-Qur’an, kita jumpai beberapa kata yang maknanya berubah dangan makna yang digunakan sekarang. Qardhawi (1997) menegaskan bahwa pada masa kini, kita mendapati banyak kata-kata Al-Qur’an yang mempunyai pengertian tertentu yang berbeda dengan pengertian kata itu pada masa kenabian. Misalnya kata kata سائحون dan سائحات sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surah At-Taubah, ayat 112 dan surah At-Tahrim ayat 5 sebagai berikut.

التئِبُوْنَ العبِدُونَ الْحمِدُونَ السّئِحُونَ الرّكِعُوْن السّجِدُون الأمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ والنّاهُوْن عَنِ الْمُنْكَرِ والحفِظُوْنَ لِحُدُودِ الله وَبَشِّر الْمُؤْمِنِيْنَ.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (saaihuun), yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu” (At-Taubah, 112).

عسى رَبُّه إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْواَجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمتٍ مُؤْمِنتٍ قنِتتٍ تئِبتٍ عبِدتٍ سئِحتٍ ثيِّبتٍ وَأَبْكَارًا.

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertobat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa (saaihaat), yang janda, dan yang perawan” (At-tahrim, 5).

Pengertian kataسائحون (Surah At-Taubat, 112) dan سائحات(Surah At-Tahrim, 5) sangat jauh berbeda dengan pengertiannya yang dikenal saat ini. Dewasa ini kedua kata tersebut berkaitan dengan dunia pariwisata (wisatawan). Sementara itu, kata سائحون dalam Surah At-Taubah, ayat 112 tersebut berarti orang-orang yang melawat, yakni orang-orang berjihad (berperang) atau orang-orang yang mencari ilmu (Ash-Shabuni, I, 1976). Sementara itu, kata سائحات dalam Surah At-Tahrim, ayat 5 tersebut berarti wanita yang berpuasa. Oleh Ash-Shabuni (III, 1976), kata سائحات ini ditafsirkan dengan wanita yang berpergian untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, ada nuansa perbedaan makna antara yang dikehendaki oleh Al-Qur’an dengan makna yang berkembang dewasa ini.

D. Penghalusan
Penghalusan atau yang disebut eufemisme merupakan salah satu bentuk perubahan makna. Eufemisme berarti pemakaian kata atau bentuk lain untuk menghindari bentuk larangan atau tabu, misalnya frase ke belakang (untuk berak) (Kirdalaksana, 1984). Dalam eufimisme ini kita berhadapan dengan gejala ditampilkannya kata-kata atau bentuk-bentuk yang dianggap memiliki makna lebih halus, atau lebih sopan daripada yang akan digantikannya (Chaer, 2002). Dalam bahasa Arab, ungkapan yang digunakan untuk berak (dalam bahasa Indonesia dihaluskan menjadi ke belakang) bukan ungkapan إلى الوراء (terjemahan literalnya ke belakang) atau تغوط sebagaimana dalam tuturan أريد التغوط, tetapi menurut salah seorang penutur asli ungkapan yang digunakan adalah إلى دور المياه.

Di dalam bahasa Indonesia gejala penghalusan ini cukup banyak, misalnya frase ditangkap oleh aparat kemanan diperhalus menjadi diamankan, kata pemecatan karyawan diperhalus dengan rasionalisasi karyawan, frase harga naik diperhalus menjadi penyesuaian harga. Di era pemerintahan Orde Baru, kata korupsi diperhalus menjadi kesalahan prosedur atau kesalahan administrasi.

Penghalusan ini di suatu sisi mempunyai dampak sosio-psikologis yang positif, karena memperhatikan nilai etika dan sopan santun dalam suatu masyarakat. Akan tetapi, di sisi lain gejala penghalusan ini berdampak negatif, karena penghalusan makna kata ini dipolitisasi sedemikian rupa sehingga keluar dari esensi makna yang sebenarnya. Contoh dampak negatif ini, sebagaimana kasus penghalusan kata korupsi menjadi kasalahan prosedur atau administrasi, sehingga banyak oknum pejabat yang korupsi bebas dari jerat hukum.

E. Perubahan Makna dari yang Konkret ke Abstrak
Perubahan makna terjadi pada kosa kata yang semula memiliki makna konkret menjadi kata yang mengacu pada makna abstrak. Ar-Razi sebagaimana yang dikutip oleh Ad-Dayah (1985) memberikan contoh kata غفر. Kata ini semula mengacu pada makna yang sifatnya konkret kemudian maknanya berubah menjadi abstrak dan dapat dipresepsi oleh akal dan jiwa. Dikatakan, bahwa kata غفور, غفار, غافر berasal dari مغفرة dan kata مغفرة ini berarti الستر (tutup atau satir). Seakan-akan Dia menutup dosa-dosa hamba-Nya (كأنه يستر ذنوب العباد). Apabil dalam do’a dikatakan اللهم تغمّدني بمغفرتك berarti استر ذنوبي.

Kata lain dalam bahasa Arab yang mengalamai perubahan makna dari yang konkret ke abstrak adalah kata الزكاة. Kata ini semula berarti النمو والزيادة. Dikatakan, زكا الزرع إذا نما وطال وزاد (tanaman itu tumbuh, apabila ia tumbuh, memanjang, dan bertambah). Sekarang kata ini digunakan untuk mengacu pada konsep yang bermakna abstrak, yakni الطهارة, sebagaimana disebutkan dalamsurah Asy-Syams, ayat 9 قد أفلح من زكاها. Kata زكا berarti mensucikan (mensucikan jiwa).

————————-

Demikian artikel/makalah tentang Jenis Perubahan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Jenis Perubahan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang makna kata dan makna istilah. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  makna kata dan makna istilah  sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  makna kata dan makna istilah .
————–  


Berdasarkan keumuman dan kekhususan bidang penggunaannya, terdapat makna kata (umum) dan makna istilah (khusus). Penggunaan secara umum maksudnya tidak dibatasi pada bidang tertentu. Sebaliknya pemakaian secara khsusus adalah penggunaan kata dalam bidang tertentu.
Dalam penggunaan secara umum, makna kata bersifat umum dan tidak spesfifik. Kata عامل misalnya dalam penggunaan secara umum mempunyai makna ‘yang melakukan/membuat sesuatu kegiatan, pekerja, atau aspek, unsur, dan faktor tertentu’, misalnya dalam contoh (14), (15), dan (16) berikut.

(14) أنا أشرب القهوة، و أنا عاملُ هذه القهوة.
(15) “غاتوت” عاملٌ في مصنع الأحذية.
(16) الجُهد عامل من عوامل النجاح.

Pada (14) عاملُ bermakna orang yang membuat, dalam hal ini adalah pembuat kopi. Pada (15) bermakna pekerja. Sebagai pekerja (عاملُ) di pabrik sepatu, Gatot tidak selalu berarti pembuat sepatunya. Maksudnya, Gatot mungkin bekerja sebagai satpam atau justru salah satu manajernya.

Adapun pada (16), عاملُ bermakna salah satu faktor. Dalam konteks kalimat (16), salah satu faktor (عاملُ) pendukung kesuksesan adalah kesungguhan. Pada ayat 195 surat Ali Imran dan ayat 135 surat Al-An`am yang ditampilkan dalam contoh (17) dan (18) juga terdapat kata عاملُ dengan makna umum atau digunakan secara umum.

(17) إنِّي لا أضِيعُ عَمَلَ عامِلٍ منكم مِن ذكرٍ أو أنثَى (آل عمران/195:3).
(18) قُل يا قَوم اعملُوا على مكانتكم إنِّي عامِل (الأنعام/135:6).

Makna kata عاملُ berbeda dalam penggunaan secara umum dan secara khusus atau dalam bidang tertentu, misalnya dalam bidang nahwu atau zakat. Dalam penggunaan secara khusus atau dalam bidang tertentu, kata عاملُ mempunyai arti yang jelas dan spesifik, meskipun tidak dimasukkan dalam kalimat. Dalam ilmu nahwu misalnya, kata عاملُ bermakna ‘suatu unsur lingual yang menyebabkan kondisi i`rab tertentu’. Adapun pada bidang zakat, bermakna ‘orang yang mengurusi zakat’. Pateda (2001) menyebut makna istilah dengan makna khsusus.

Contoh lain, sebagai istilah kata جمْع (jam`) mempunyai arti yang berbeda sesuai dengan bidang masing-masing. Di bidang bahasa, جمْع bermakna ‘bentuk kata yang acuannya lebih dari dua’. Adapun dalam bidang fiqh, bermakna ‘mengumpulkan atau menggabungkan dua shalat dalam satu waktu’. Berbeda dari keduanya, dalam bidang ilmu hitung, جمْع bermakna penjumlahan. Berikut ini contoh untuk masing-masing makna.

(19) العملماء جمع من العليم و العالمون جمع من العالم.
(20) أصلي في السفر الظهر والعصر جمعًا و قصرًا.
(21) أجادت بنتي الجمع و الطرح و لم تجد الضرب و التقسيم.

—————-
Demikian artikel singkat tentang  makna kata dan makna istilah. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  makna kata dan makna istilah. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang makna denotatif dan makna konotatif. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang makna denotatif dan makna konotatif sehinggamemberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema makna denotatif dan makna konotatif.
————–  


Makna denotatif (المعنى الأصلي) dan makna konotatif (المعنى الإضافي) dibedakan berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata. Setiap kata penuh mempunyai makna denotatif, tetapi tidak semuanya mempunyai makna konotatif. Makna denotatif adalah makna dasar atau makna asli yang dimiliki oleh sebuah kata. Hal itu berarti bahwa makna denotatif mengacu pada acuan yang sebenarnya atau sesuai dengan acuannya.

Contoh:
أحمر ‘warna menyerupai darah’
مات ‘terlepasnya nyawa/ruh dari tubuh’

Adapun makna konotatif (idhafi atau tambahan) adalah makna tambahan terhadap makna dasarnya berupa nilai, rasa, atau gambaran tertentu.

Contoh:
Makna denotatif Makna konotatif
أحمر ‘warna’ ‘berani’
حنزير ‘binatang’ ‘najis/haram’
وردة ‘bunga’ ‘indah, cantik, harum’
طائرة ‘kendaraan’ ‘cepat, mahal’

Konotasi bisa dibedakan menjadi konotasi negatif dan konotasi positif. Konotasi negatif mengandung nilai rasa rendah, jelek, kotor, porno, tidak sopan, dan sejenisnya. Sebaliknya konotasi positif mengandung nilai rasa tinggi, baik, sopan, menyenangkan, sakral, dan sejenisnya.

Konotasi Positif Konotasi Negatif
توفِّي مات
انتقل إلى جوار ربه
انتقل إلى رحمة الله
_______________________________
جنازة جُثـة
ميّت
______________________________
دار بيت
قصر

Nilai rasa tersebut pada dasarnya diberikan oleh masyarakat pemilik bahasa yang mungkin saja berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lain. Bagi masyarakat Arab, kata mayyit misalnya mempunyai konotasi positif, tetapi bagi masyarakat Indonesia mempunyai konotasi negatif. Paling tidak masyarakat lebih senang menyebut jenazah daripada mayit. Contoh lainnya, bagi masyarakat Arab, kata himar ‘binatang’ mempunyai konotasi negatif ‘kebodohan’. Tetapi bagi masyarakat Indonesia kata tersebut mungkin tidak mempunyai konotasi apa pun.

Kata مات dan توفّي meskipun mempunyai makna denotatif yang sama, yaitu terpisahnya ruh dari tubuh, keduanya mempunyai makna konotatif yang berbeda. Kata مات mempunyai nilai rasa yang lebih rendah daripada توفّي. Yang pertama digunakan untuk menyatakan terpisahnya ruh pada binatang dan manusia. Sedangkan yang kedua digunakan pada manusia saja. Selain itu, kata توفّي cenderung digunakan untuk orang-orang yang bermartabat tinggi atau orang yang terhormat, misalnya رسول الله توفّي dan bukan مات رسول الله. Namun demikian juga ditemukan penggunaan مات untuk orang yang terhormat, misalnya dalam kalimat (12) berikut.

(12) لقد أدرك مالك رحمه الله عمر بن عبد العزيز و أدرك مِن حياته ثمان عشرة سنة لأن عمر رحمه الله مات سنة 111 ومالك ولِد سنة 93. فكانت وفاة عمر بعد ولادة مالك بثمان عشرة سنة (Salim,1972).

Pada teks tersebut kematian Khalifah Umar bin Abdul Aziz dinyatakan dengan verba مات. Hal itu menunjukkan bahwa kata مات tidak selalu menunjukkan konotasi negatif. Penggunaan kata مات yang bebas dari konotasi negatif mungkin juga dapat dilihat pada hadits rasulullah berikut.

(13) إذا مات بن آدم انقطع عملُه إلا مِن ثلاثٍ … إلى آخره.

Pada hadits tersebut, kematian manusia secara umum juga dinyatakan dengan kata مات . Jadi keberadaan konotasi negatif pada مات dan konotasi positif pada توفّي semata-mata ditentukan berdasarkan bisa diterapkannya مات pada binatang, sedangkan توفّي hanya untuk manusia.
Contoh lain dari makna denotatif dan konotatif ada pada kata الرحمن dan الرحيم. Keduanya mempunyai makna denotatif ‘maha pemberi rahmat’. Tetapi keduanya mempunyai makna konotasi yang berbeda.

الرحمن ==> pemberi rahmat keseluruh alam, rahmatnya mencakup al-mukmin dan al-kafir, bahkan makhluk selain manusia
الرحيم ==> pemberi rahmat khusus kepada mukmin.
(As-Shabuni,Tanpa tahun).
Menurut As-Shabuni, kata الرحمن hanya dinisbatkan kepada Allah. Sebaliknya kata الرحيمbisa dinisbatkan selain Allah.

————–
Demikian artikel singkat tentang  makna denotatif dan makna konotatif. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  makna denotatif dan makna konotatif. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.
Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Referensial dan Makna Non-Referensial. Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang Makna Referensial dan Makna Non-Referensialehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial.
————– 

Makna referensial dan makna non-referensial (المعنى اللا مدلول) dibedakan berdasarkan ada-tidaknya referen atau acuan pada kata. Jika suatu kata mempunyai referen atau acuan (sesuatu di luar bahasa yang diacu), maka kata tersebut mempunyai makna referensial (المعنى المدلول). Kata-kata yang termasuk kategori kata penuh (content word) pada dasarnya mempunyai makna referensial.

Makna referensial dikontraskan dengan makna non-referensial. Kata-kata yang termasuk kategori kata tugas (huru:f) selain tidak mempunyai makna leksikal juga tidak mempunyai makna referensial. Kata-kata yang termasuk kategori kata depan (huru:f jarr), kata penghubung (huru:f `athf), dan kata tugas lainnya tidak mempunyai referen atau acuan. Tidak ada maujud di luar bahasa yang diacu oleh kata tugas tersebut. Karena itu, makna yang dikandung dalam kata tugas disebut makna non-referensial .(المعنى اللا مدلول)

Dalam hal kata yang mempunyai referen, terdapat sejumlah kata yang referennya berubah-ubah atau berpindah-pindah. Kata yang acuannya berganti-ganti disebut deiksis. Termasuk kategori kata yang referennya berpindah atau berubah antara lain adalah kata ganti (dhama:ir), keterangan tempat dan keterangan waktu (zharaf). Kata ganti (dhama:ir) misalnya, termasuk kata yang referennya berpindah-pindah. Perhatikanlah contoh di halaman berikut.

Pada ketiga kalimat di atas, digunakan dua kata ganti /ك/ /ي/ masing-masing dua kali. Kata ganti /ك/ yang biasa diartikan ‘kamu’ pada (9) dan (10) mempunyai acuan yang berbeda. Pada (9), /ك/ mengacu pada Karim sebagaimana ditunjukkan kalimat (10). Adapun /ك/ pada (10) mengacu pada Akram sebagaimana ditunjukkan kalimat (11). Demikian halnya kata ganti /ي/pada kedua kalimat di ata. Coba jelaskan perbedaan acuan /ي/ pada kalimat (10) dan (11).

————–
Demikian artikel singkat tentang  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial . semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Referensial dan Makna Non-Referensial. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal . Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal.
———————————-

Kata leksikal merupakan bentuk ajektif yang diturunkan dari nomina leksikon. Leksikon merupakan bentuk jamak. Adapun satuannya adalah leksem. Leksikon dapat disamakan dengan kosakata, perbendaharaan kata, atau mufradat (bahasa Arab). Adapun leksem; dapat disamakan dengan kata atau kalimah (bahasa Arab).

Makna leksikal dapat diartikan sebagai makna dasar yang terdapat pada setiap kata atau leksikon, atau kalimah. Maksudnya, makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuan atau referennya. Soedjito (1986) menjelaskan bahwa makna leksikal ialah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata yang lain dalam sebuah konstruksi.

Jadi, makna leksikal adalah makna dasar sebuah kata yang sesuai dengan referensi yang umumnya adalah kamus. Makna dasar ini melekat pada kata dasar sebuah kata. Makna leksikal juga dapat disebut makna asli sebuah kata yang belum mengalami afiksasi (proses penambahan imbuhan) ataupun penggabungan dengan kata lain. Maksudnya, makna kata yang sesuai dengan yang tertera di kamus.

Perhatikan contoh berikut ini:
a) rumah
b) berumah

Contoh yang pertama (a) merupakan kata dasar yang belum mengalami perubahan. Berdasarkan kamus KBBI makna kata “rumah” adalah bangunan untuk tempat tinggal. Sedangkan contoh kedua (b) merupakan kata turunan. Contoh yang kedua (b) mempunyai arti yang berbeda dengan makna yang pertama (a) meskipun kata dasarnya sama, yaitu rumah. Penambahan prefiks atau awalan pada kata “rumah” membuat makna “rumah” berubah tidak sekedar bangunan untuk tempat tinggal tetapi menjadi memiliki bangunan untuk tempat tinggal.

Contoh yang kedua inilah yang dinamakan dengan makna gramatikal. Jadi, Makna gramatikal adalah makna kata yang terbentuk karena penggunaan kata tersebut dalam kaitannya dengan tata bahasa. Makna gramatikal muncul karena kaidah tata bahasa, seperti afiksasi, pembentukan kata majemuk, penggunaan kata dalam kalimat, dan lain-lain.

Contoh makna leksikal dalam bahasa Arab:
رأس ‘bagian tubuh/anggota badan yang paling atas atau paling depan’
طعام ‘segala sesuatu yang dapat dan boleh dimakan, misalnya nasi dan roti.
كراسة ‘lembaran-lembaran kertas yang dijilid dimanfaatkan oleh murid atau mahasiswa untuk mencatat pelajaran.

Jika penjelasan Soedjito ini dihubungkan dengan penjelasan Chaer, dapat dikatakan bahwa makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan acuannya meskipun kata tersebut digunakan dalam kalimat. Hal itu dapat dijelaskan dengan kalimat berikut.

(1) سقَطت تفاحة على رأس ولد.
(2) هذا طعامٌ لذيذ ولكني صائم.
(3) اكتب المفردات في الكراسة ولا خلال النصوص.

Kata-kata yang bergaris bawah pada ketiga kalimat di atas mengacu pada acuannya. Kata رأس mengacu pada bagian tubuh yang paling atas, kata طعام mengacu pada makanan tertentu yang tersedia atau yang dimaksudkan oleh pembicara, dan kata الكراسة mengacu pada buku tulis, bukan kitab.

Sebagaimana dikemukakan Soedjito (1986), makna leksikal adalah makna kata secara lepas, tanpa kaitan dengan kata lain dalam suatu konstruksi. Hal itu berarti bahwa makna leksikal itu sudah jelas meskipun tidak berada dalam konteks kalimat. Adapun makna yang bukan leksikal baru akan jelas ketika berada dalam konteks kalimat. Kata قطع dan derivatnya misalnya bermakna leksikal memisahkan sesuatu menjadi dua. Tetapi pada pepatah berikut, kata قطع atau derivatnya jelas tidak bermakna memisahkan sesuatu menjadi dua. Makna قطع atau derivatnya sebagaimana dikandung di dalam pepatah berikut baru jelas di dalam konstruksi kalimat itu.

(4) الوقتُ كالسيفِ إن لم تقطَعْه قَطَعَك.
Berbalikan dengan makna leksikal yang tidak memerlukan kehadiran konteks, makna gramatikal justru mewajibkan kehadiran konteks. Makna yang terkandung dalam kata tugas (huru:f) tidak bisa ditentukan sebelum dibentuk dalam suatu konstruksi kalimat, sebab kata tugas tidak memiliki makna leksikal. Makna yang terkandung dalam kata tugas adalah makna gramatikal yang memerlukan kehadiran konteks. Hal ini juga dikemukakan dalam An-Nahwu-l Wadhih (Al-Jarim dan Amin, tanpa tahun) bahwa kata tugas (huru:f) maknanya tidak tampak sempurna kecuali berada dalam lingkungan kata lainnya. Hal ini dapat dilihat pada contoh-contoh berikut.

(5) عاد أبي مِن مَكّة.
(6) محمد أكبر مِن أخيه الأكبر.
(7) جاء التلميذ و صاحبه.
(8) و العصر إن الإنسان لفي خسر.

Kata مِن pada kedua kalimat di atas mempunyai makna gramatikal yang berbeda. Pada (5) bermakna menunjukkan tempat asal, sedangkan pada (6) bermakna pemarkah perbandingan. Kata و pada kalimat (7) dan (8) juga mempunyai makna gramatikal yang berbeda. Pada (7), kata و bermakna atau berfungsi kordinatif dan pada (8) bermakna sumpah.



Makna gramatikal hadir sebagai akibat proses gramatika, misalnya afiksasi, perubahan internal, penggabungan (idhafi). Kata مسلم misalnya bermakna ‘seorang penganut agama Islam’. Makna tersebut berubah menjadi dua orang penganut agama Islam setelah mengalami proses afiksasi (mendapat akhiran (-ان dan setelah mendapat akhiran -ون berubah maknanya menjadi sejumlah orang penganut Islam.

مسلم ‘seorang penganut Islam’
مسلم + ان ‘dua orang penganut Islam’
مسلم + ون ‘sejumlah orang penganut Islam’

Perubahan internal dari كَتَبَ ke كُتِب menghadirkan makna pasif (majhul). Adapun proses afiksasi dan perubahan internal yang terjadi pada دَخَلَ ke أُدْخِلَ menghadirkan makna transitif.

Makna gramatikal juga hadir sebagai hasil dari penggabungan (idhafi), misalnya:
كتاب الفقه ‘penggabungan menyatakan jenis bidang’
كتاب الاستاذ ‘penggabungan menyatakan pemilik’
كتاب جديد ‘penggabungan menyatakan ajektifal’
ساعة يدوية ‘penggabungan menyatakan jenis’
ساعة ذهبية ‘penggabungan menyatakan bahan’
ساعة حائطية ‘penggabungan menyatakan jenis’

————–
Demikian artikel singkat tentang Makna Leksikal dan Makna Gramatikal. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Makna Leksikal dan Makna Gramatikal. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.



sumber tambahan: bahasakebanggaan.blogspot.com



Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis.
————–  

Dalam kajian linguistik, kita mengenal apa yang disebut dengan fonologi (ilmu al-ashwat), morfologi (ash-sharf), dan sintaksis (an-nahwu). Fonologi merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan dan mengidentifikasi kata-kata tertentu (Al-Wasilah, 1985). Morfologi adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari pembentukan kata (Yule, 1985). Sementara itu, sintaksis adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari hubungan formal antara tanda-tanda bahasa (Levinson, 1992), yakni hubungan antara kata/frasa yang satu dengan lainnya dalam suatu kalimat.

Semantik sebagai cabang ilmu bahasa memiliki hubungan yang erat dengan ketiga cabang ilmu bahasa di atas (fonologi, morfologi, dan sintaksis). Ini berarti, bahwa makna suatu kata atau kalimat ditentukan oleh unsur bunyi (tekanan suara dan atau nada suara atau yang lebih umum adalah suprasegmental), bentukan kata (perubahan bentuk kata), maupun susunan kata dalam kalimat. Dengan demikian, tidak mungkin semantik dipisahkan dari cabang linguistik lainnya atau sebaliknya (Umar, 1982).
Perhatikan contoh berikut ini.

Contoh A. 1
(1) انت تكنس البلاط.
(2) انت تكنس البلاط؟

Apabila kalimat (1) dan (2) pada A.1 tersebut diungkapkan secara lisan dengan nada yang sama (nada datar), maka keduanya memiliki makna yang sama. Akan tetapi, apabila diungkapkan dengan nada yang berbeda, maka kedua kalimat tersebut mempunyai makna yang berbeda. Kalimat (1) bernada informatif (memberi informasi), sedangkan kalimat (2) bernada introgatif (bertanya). Secara semantik, keduanya memiliki makna yang berbeda karena perbedaan nada.

Dengan demikian, bunyi suatu ujaran (nada) mempengaruhi makna. Oleh karena itu, cukup beralasan apabila Umar (1982) menyatakan bahwa tanghim (nada suara) dan nabr (tekanan suara) termasuk kalimat (jumlah).

Contoh A.2
(1) غفر الله ذنوبنا
(2) استغفرنا الله
(3) جلس علي على الكرسي
(4) أجلس علي الطفل على الكرسي

Kata yang digarisbawahi pada kalimat (1) dan pada kalimat (2) berasal dari akar kata yang sama, yaitu غ – ف – ر . Akan tetapi, setelah mengalami proses morfologis, maka keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata pada kalimat (1) berarti mengampuni (Tuhan mengampuni dosa-dosa kita), sementara itu kata pada kalimat (2) berarti ‘meminta ampun’ (lith- thalab). Dengan demikian huruf tambahan (afiksasi) berupa ا- س – تpada awal kata mempunyai arti, sehingga kalimat (2) di atas berarti Kami (telah) meminta ampun kepada Allah.

Hal yang sama juga terjadi pada kata yang digarisbawahi dalam kalimat (3) dan (4). Keduanya berasal dari akar kata yang sama (ج-ل-س).

Akan tetapi, karena mengalami proses morfologis, maka kedua kata tersebut memiliki makna yang berda. Kata yang digarisbawahi pada kalimat (3) merupakan verba intransitif (fi’l lazim), sementara itu, pada kalimat (4) disebut verba transitif (fi’l mutta’addi). Dengan demikian, kalimat (3) berarti ‘Ali duduk di atas kursi’, sedangkan kalimat (4) berarti ‘Ali mendudukkan anak kecil di atas kursi. Dari contoh A2 (1), (2), (3) dan (4) di atas dapat disimpulkan, bahwa makna dipengaruhi oleh hasil proses morfologis.

Contoh A3
(1) الثعلب السريع البني كاد يقتنص الأرنب.
(2) الثعلب البني الذي كاد يقتنص الأرنب كان سريعا.
(3) الثعلب السريع الذي كاد يقتنص الأرنب كان بنيا.

Kalimat (1), (2), dan (3) pada contoh A3 di atas pada dasarnya memiliki pesan yang sama. Substansi yang dibicarakan berkisar tentang serigala yang hampir menangkap kelinci. Akan tetapi, karena kata-kata tertentu urutannya tidak sama, maka pengutamaan pesan yang dikandung oleh ketiganya berbeda (Umar, 1982). Pesan kalimat (1) pada contoh A3 lebih menekankan pada serigala yang cepat dan berwarna coklat (kecepatan berlari dan warna serigala), pesan kalimat (2) pada contoh A3 lebih menekankan identitas warna serigala (coklat), sedangkan pesan kalimat (3) lebih menekankan pada kecepatan lari serigala.
Sebagai pembanding dari contoh A.3, perhatikan contoh A.4 berikut ini.
Contoh A 4.

1. Orang tua itu putus asa dan bunuh diri.
2. Pemudah itu bekerja keras dan berhasil.
3. Orang tua itu bunuh diri karena dia putus asa.
4. Pemuda itu berhasil karena bekerja keras.

Kalimat (1) (3) dan (2) (4) pada contoh A4 pada dasarnya mempunyai pesan yang kurang lebih sama, yaitu hubungan sebab akibat (dua kluasa). Perbedaannya pada pengutamaan pesan yang dikandung oleh setiap klausa. Pesan yang ditekankan pada (1) adalah keputusasaan orang tua (klausa pertama sebagai klausa primer) yang merupakan sebab, sementara itu klausa “bunuh diri” sebagai klausa kedua (skunder) merupakan akibat. Dengan demikian, pesan yang ditekankan adalah sebab, bukan akibat. Sebaliknya, pesan yang ditekankan pada kalimat (3) adalah akibat, yakni bunuh diri, sedangkan klausa sebab merupakan klausa skunder. Hal yang sama juga terjadi pada kalimat (2) dan (4). Dengan demikian, urutan kata dalam suatu struktur kalimat mempengaruhi makna.

Semantik sebagai studi makna bukan saja berkaitan dengan cabang linguistik lainnya (fonologi, morfologi, dan sintaksis), tetapi juga berhubungan dengan disiplin ilmu lainnya. Disiplin ilmu yang dimaksud misalnya antropologi, sosiologi, psikologi, dan filsafat. Antropologi berkepentingan di bidang semantik, antara lain karena analisis makna di dalam bahasa dapat menyajikan klasifikasi budaya pemakai bahasa secara praktis. Sosiologi memiliki kepentingan dengan semantik, karena ungkapan atau ekspresi tertentu menandai kelompok sosial atau identitas sosial tertentu. Psikologi berhubungan erat dengan semantik, karena psikologi memanfaatkan gejala kejiwaan yang ditampilkan manusia secara verbal atau nonverbal. Sementara itu, filsafat berhubungan erat dengan semantik karena persoalan makna tertentu dapat dijelaskan secara filosofis, misalnya makna ungkapan dan peribahasa (Djajasudarma, 1999).

Hubungan antara semantik dengan studi lainnya dapat ditampilkan pada diagram 01.


Diagram 01 Hubungan Semantik dengan Studi Lainnya.

————–
Demikian artikel singkat tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Hubungan Semantik, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Objek Kajian Semantik. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  Objek Kajian Semantik sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Objek Kajian Semantik.
————–  


Pada uraian sebelumnya dikemukakan, bahwa semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang mengkaji makna atau arti dalam bahasa dan secara etiomologis berarti “menandai” atau “melambangkan”. Pertanyaan yang mengemuka adalah lambang apakah yang menjadi objek kajian semantik? Dapatkah rambu-rambu lalu lintas yang juga merupakan lambang bermakna (simbol bermakna) termasuk wilayah kajian semantik atau dapatkah gambar berikut ini yang juga merupakan lambang atau simbol bermakna juga menjadi objek kajian linguistik.


Keempat gambar di atas merupakan simbol/lambang yang memiliki makna. Gambar 1 adalah gambar timbangan yang antara bandul satu dengan yang lain simetris (seimbang). Gambar 1 tersebut dapat dijumpai di lembaga peradilan dan merupakan suatu simbol yang memiliki makna. Makna yang dimaksud oleh gambar tersebut adalah kewajiban lembaga peradilan untuk menegakkan keadilan tanpa ada diskriminasi. Menuru gambar 1 tersebut, setiap anak bangsa mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum. Pemberlakuan hukum harus seimbang (adil) atau tidak boleh berat sebelah sebagaimana yang dilambangkan oleh kesimetrisan kedua bandul pada timbangan tersebut. Dengan demikian, gambar 1 di atas merupakan suatu lambang atau simbol yang bermakna keadilan.

Gambar 2 adalah gambar ka’bah. Ia merupakan lambang spiritual keagamaan umat Islam. Ke arah ka’bahlah umat Islam harus menghadap pada saat melaksanakan shalat. Di samping sebagai kiblat umat Islam, Ka’bah juga melambangkan identitas keagamaan seseorang. Apabila di rumah seseorang dijumpai gambar ka’bah, maka dapat diasumsikan, bahwa pemilik rumah tersebut bergama Islam. Gambar 3 di atas juga merupakan suatu lambang spiritual sebagaimana ka’bah. Perbedaannya adalah bahwa gambar 3 ini berkaitan dengan tempat peribadatan kaum Nasrani.

Sementara itu, gambar 4 merupakan lambang “cinta”. Apabila seorang pemuda/remaja memberikan lambang ini kepada seorang “cewek”, maka makna yang dapat ditangkap adalah bahwa si pemuda/remaja tersebut mengungkapkan rasa cintanya melalui bahasa gambar 4. Dengan demikian, pengungkapan rasa cinta kepada orang lain (lawan jenis), tidak harus dengan simbol-simbol kebahasaan, tetapi dapat dilakukan dengan memberikan simbol berupa gambar.

Memang semantik mengkaji makna dari suatu lambang atau simbol, tetapi lambang atau simbol yang menjadi kajian semantik hanyalah lambang bahasa atau simbol-simbol yang berkenaan dengan bahasa sebagai alat komunikasi verbal (Umar, 1982 dan Chaer, 2002). Objek semantik adalah telaah tentang makna—yang mencakup lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lainnya serta pengaruh makna terhadap manusia dan masyarakat pemakai bahasa, Mempelajari seluk beluk makna juga berarti mempelajari bagaimana setiap pemakai bahasa saling mengerti (Nikelas, 1988).

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Djajasudarma (1999), bahwa objek semantik adalah makna, dan makna dapat dianalisis melalui struktur dalam pemahaman tataran bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis). Sementara itu, ilmu yang mengkaji tentang simbol-simbol yang lebih luas (kebahasaan dan non-kebahasaan) disebut dengan semiotika atau ‘ilmu ar-rumuz (Umar, 1982).

Dengan demikian, tanda atau lambag sebagaimana pada gambar 1 s.d. gambar 4 tidak menjadi objek kajian semantik, meskipun gambar tersebut memiliki makna. Demikian pula rambu-rambu lalu lintas di jalan raya yang memiliki makna juga bukan merupakan objek kajian semantik.

————–
Demikian artikel singkat tentang Objek Kajian Semantik. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Objek Kajian Semantik. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Pengertian Semantik. Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang  Pengertian Semantik sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Pengertian Semantik.
————–  


Pengertian Semantik
Untuk mengetahui apa pengertian semantik, perhatikan contoh berikut ini.

Contoh A.
(1) Perempuan itu ibu saya.
(2) Perempuan itu bekerja di rumah sakit.
(3) Perempuan itu dalam kampanyenya kemarin menyampaikan visi dan misi partainya.
(4) Ih, dasar perempuan.

Contoh B.

المرأة التي تقدم لنا الوجبات في الفندق بشوشة.
هي مرأة تعمل في الإدارة الحكومية.
المرأة التي تسري كل يوم في وسط المدينة قبضها البوليس.
وامرأته حمالة الحطب سورة اللهب.

Pada contoh A (1) sampai dengan A (4) dijumpai kata perempuan. Dilihat dari aspek leksikalnya, kata perempuan baik pada A (1) sampai dengan A (4) tersebut mengacu pada seseorang yang berjenis kelamin sama (tidak ada perbedaan). Akan tetapi, apabila dicermati berdasarkan konteks kalimatnya, kata perempuan pada contoh A tersebut memiliki perbedaan dan perbedaan ini disebut dengan perbedaan semantik.

Kata perempuan pada contoh A (1) mengacu pada seseorang (perempuan) halus budi-bahasanya, keibuan (Djajasudarma, 1999), penuh kasih sayang, dan sabar. Kata perempuan pada contoh A (2) mengacu pada seseorang (perempuan) yang berprofesi sebagai tenaga medis atau dokter di rumah sakit. Kata perempuan pada contoh A (3) mengacu pada seorang politisi dan atau juru kampanye untuk partai tertentu. Sementara itu, kata perempuan pada contoh A (4) mengacu pada seorang perempuan yang tamak, rakus, tidak sesuai dengan kodrat perempuan (Djajasudarma, 1999).

Hal yang sama juga dapat ditemukan pada contoh B (1) sampai (5). Secara leksikal Kata مرأة baik pada contoh B (1) sampai (5) memiliki makna yang sama. Akan tetapi, ketika kata tersebut dikaitkan dengan konteks kalimatnya, maka makna yang dihasilkan berbeda. Kata مرأة pada B (1) berarti ibu guru, Kata مرأة pada B (2) berarti palayan di hotel, Kata مرأة pada B (3) berarti pegawai negeri, Kata مرأة pada B (4) dapat dimaknai sebagai PSK.

Sementara itu, kata إمرأةpada B (5) mengacu pada istri Abu Lahab yang digelari “Ummu Jamil”. Wanita ini sangat memusuhi Nabi Muhammad. sebagaimana sikap suaminya terhadap Nabi. Dalam ayat tersebut dia juga diberi sebutan hammalatal hathab (pembawa kayu bakar). Ada yang memahami gelar ini secara harfiah mengaitkan dengan perilaku buruk Ummu Jamil yang membawa kayu-kayu berduri untuk ditabur di jalan-jalan yang dilalui Nabi Muhamamd. Ada juga yang memahaminya secara majazy, yakni pembawa berita bohong yang memecah belah antara sesama manusia, atau dalam arti orang yang memikul dosa-dosa yang di hari kemudian akan menjadi kayu bakar di api neraka (Shihab, 1997). Dengan demikian, kata yang sama (perempuan/مرأة) secara semantik dapat memiliki makna yang berbeda.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disarikan, bahwa semantik adalah istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa او العلم الذي يدرس المعنى (Umar, 1982 dan Chaer, 2002). Secara etimologis, kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris: semantics) dan (Arab: ‘ilmu ad-dilalah) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti “tanda” atau “lambang”. Kata kerjanya adalah semanio yang berarti “menandai” atau “melambangkan” (Umar, 1982 dan Chaer, 2002).

Pendapat yang sama mengenai batasan semantik juga dikemukakan oleh Wijana (1999), bahwa semantik adalah cabang ilmu bahasa yang menelaah makna satuan lingual. Satuan lingual di samping memiliki bentuk juga memungkinkan memiliki makna. Dua aspek ini tidak dapat diabaikan di dalam setiap pemerian bahasa. Selanjutnya dia mengemukakan bahwa makna itu sendiri dapat didefinisikan sebagai konsepsi atau persepsi yang menghubungkan satuan lingual itu dengan kenyataan di luar bahasa yang disebut referen kendatipun makna tidak selalu identik dengan referen. Konsepsi atau persepsi disebut dengan denotata (bentuk jamak dari denotatum). Makna merupakan unsur dalam bahasa, sedangkan referen merupakana unsur luar bahasa. Bentuk berhubungan secara langsung dengan makna satuan lingual dan berhubungan secara tidak langsung dengan referennya sebagaimana tergambar dalam diagram 01 yang dikutip dari Ogden dan Richards (1923).

Konsep atau makna ada pada pikiran manusia, simbol atau bentuk adalah lambang bahasa yang merupakan unsur (struktur) linguistik, dan referen “acuan’ adalah objek atau hal (peristiwa, fakta, di dalam dunia pengalaman manusia). Konsep adalah apa yang ada dalam pikiran manusia yang diwujudkan melalui lambang (simbol) bahasa. (Djajasudarma, 1999).

—————–

Demikian artikel singkat tentang Pengertian Semantik. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Pengertian Semantik. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.