Arsip

Ekonomi

Berikut ini adalah link download untuk Silabus dan RPP mata pelajaran ekonomi SMA Kelas X, XI, dan XII.

Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas X semester 1KLIK DI SINI
Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas X semester 2KLIK DI SINI
Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XI semester 1KLIK DI SINI
Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XI semester 2KLIK DI SINI
Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XII semester 1KLIK DI SINI
Download Silabus Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XII semester 2KLIK DI SINI

Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas X semester 1KLIK DI SINI
Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas X semester 2KLIK DI SINI
Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XI semester 1KLIK DI SINI
Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XI semester 2KLIK DI SINI
Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XII semester 1 : KLIK DI SINI
Download RPP Ekonomi SMA Berkarakter Kelas XII semester 2KLIK DI SINI

Mohon saran dan kritik dari pembaca sekalian. Semoga bermanfaat.

sumber: http://mgmpekonomikabmalang.blogspot.com

Di dalam menentukan nilai tukar mata uang, menggunakan nilai kurs. Nilai kurs ditentukan dari kekuatan tawar-menawar mata uang yang diperdagangkan. Menurut J.M. Keynes permintaan uang “liquidity preference” disebabkan oleh :
1. Transaction Motive (motif untuk bertransaksi).
2. Precautionary Motive (motif untuk berjaga-jaga).
3. Speculative Motive (motif untuk spekulasi).
Semakin tinggi permintaan mata uang terhadap mata uang lainnya, maka semakin tinggi nilai mata uang tersebut diperdagangkan. Permintaan yang tinggi ditandai juga dengan tingkat penawaran yang rendah dan kelangkaan mata uang tersebut di pasar valuta asing. Menurut Kasmir (2000:207), terdapat dua macam kurs valuta asing yang diberlakukan oleh bank komersial yaitu:
1. Kurs jual pada saat bank menjual dan nasabah membeli. Kurs jual yang ditetapkan oleh bank ketika menjual valuta asing kepada para nasabah lebih tinggi dari mekanisme harga yang terjadi pada saat itu.
2. Kurs beli pada saat bank membeli dan nasabah menjual. Kurs beli yang ditetapkan oleh bank, biasanya lebih rendah dari harga yang terjadi pada saat itu dan merupakan kebalikan dari kurs jual. Tinggi rendahnya kurs beli dan jual yang ditetapkan oleh bank merupakan spread atau keuntungan yang diperoleh bank yang bersangkutan.
Menurut Kuncoro (1997:217), terdapat dua faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing yaitu:
1. Faktor politik, merupakan faktor eksternal ekonomi yang memiliki pengaruh cukup besar terhadap perekonomian suatu negara. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Kontrol devisa, merupakan hambatan yang diciptakan oleh pemerintah bagi pengguna valuta asing dalam transaksi bisnis.
b. Perbedaan kurs, menunjukkan terdapatnya perbedaan antara mata uang yang diperdagangkan sebagai adanya tekanan potensi menuju devaluasi atau depresiasi.
2. Faktor makro fundamental, merupakan faktor yang bersumber dari kondisi ekonomi suatu negara secara makro ekonomi.
a. Neraca pembayaran, sebagai dampak penawaran dan permintaan akan valuta asing.
b. Cadangan devisa intervensi ke pasar valuta asing dengan menggunakan cadangan devisa untuk mendorong nilai mata uang domestik ke atas maupun ke bawah.
c. Pertumbuhan GNP dan GDP perekonomian domestik yang tumbuh dengan lamban, menyebabkan ekspor lebih kecil daripada impor sehingga perdagangan menjadi defisit dan depresiasi mata uang.
d. Pengeluaran pemerintah. Kenaikan yang pesat dalam pengeluaran pemerintah, terutama bila dibiayai dengan anggaran defisit mengakibatkan naiknya tekanan inflasioner terhadap perekonomian sehingga inflasi cenderung mengakibatkan depresiasi.
e. Inflasi relative. Suatu negara yang mengalami inflasi relatif lebih tinggi, akan mendorong depresiasi bagi mata uang domestiknya.
f. Pertumbuhan jumlah uang yang beredar. Menghilangkan resesi dengan meningkatkan pertumbuhan jumlah uang beredar agar suku bunga domestik menurun, mengakibatkan naiknya laju inflasi domestik dan depresiasi.
Menurut Donald & Taylor (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi nilai tukar adalah variabel-variabel ekonomi yang mempengaruhi fundamental ekonomi suatu negara. Variabel tersebut meliputi : Jumlah uang beredar, suku bunga dan tingkat output riil.
Sedangkan Jeff Madura (Syamsul Arifin, 1998) menjelaskan bahwa factor-faktor yang mempengaruhi fluktuasi nilai tukar ada 3 macam, yaitu:
1. Faktor Fundamental, berkaitan dengan indikator ekonomi.
2. Faktor Teknis, berkaitan dengan kondisi permintaan dan penawaran valas.
3. Faktor sentiment pasar. Berkaitan dengan rumus yang bersifat insidentil yang dapat mempengaruhi fluktuasi nilai valas dalam jangka pendek.
Menurut Levi Maurice (1991) nilai tukar yang terbentuk akan dipengaruhi oleh perubahan banyak faktor, seperti faktor fundamental, teknikal serta psikologis yang terakumulasi dalam periode tertentu.
Berkaitan dengan valuta asing, maka nilai mata uang asing ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Levi (1996) mengemukakan bahwa foreign currency ditentukan oleh “determinated by the forces of supply and demand”. Levi selanjutnya menerangkan kondisi ini dengan menggunakan kurva permintaan dan penawaran (demand and supply curve), di mana turun naiknya kurva ditentukan oleh price wheat (mata uang suatu negara) dan exchange rate (perubahan tingkat bunga).

Kehadiran pasar valas karena tuntutan perkembangan jaman yang semakin kompleks dengan berbagai macam kebutuhan hidup. Pasar valuta asing merupakan suatu pasar yang menyediakan instrumen transaksi keuangan mata uang asing untuk dipertukarkan (Kuncoro; 1997:106).
Definisi pasar valas (foreign exchange market) atau sering pula disebut dengan bursa valas sebagaimana dikemukakan oleh eitman yang dikutip oleh Siamat (1999:178) adalah suatu mekanisme di mana orang dapat mentransfer daya beli antar negara, memperoleh atau menyediakan kredit untuk transaksi perdagangan Internasional, dan meminimalkan kemungkinan resiko kerugian (exposure of risk) akibat terjadinya fluktuasi kurs suatu mata uang.
Transaksi Internasional oleh perusahaan kini telah berkembang sangat cepat karena perkembangan teknologi telekomunikasi . Importir, exporter, turis, pemerintah membeli dan menjual mata uang asing di foreign exchange market . menurut Parkin (1990: 951): “ The foreign exchange market is the market in which the currency of one country is exchanged for the currency of another “ (Pasar valuta asing adalah pasar dimana mata uang dari suatu negara dipertukarkan dengan mata uang dari negara lain). Sedangkan menurut Samuelson dan Nordhaus (1997:525) menyebutkan bahwa : “ Pasar valuta asing adalah tempat dimana individu-individu, perusahaan-perusahaan, dan bank-bank membeli dan menjual mata uang asing atau valuta asing”.
Transaksi valuta asing yang dilakukan oleh pihak perbankan hampir selalu melibatkan dollar Amerika Serikat (US $). Kehandalan dolar dalam perdagangan valuta asing bersumber dari peranan Amerika Serikat yang begitu penting dalam perekonomian dunia. Karena volume transaksi internasional yang menggunakan dolar Amerika begitu besar, maka tidaklah sulit untuk menemukan pemilik dolar yang bersedia membeli mata uang non dolar dan pemilik mata uang non dolar yang ingin memperoleh dolar. Sehubungan dengan begitu besarnya peranan dolar dalam pertukaran valuta asing maka dolar sering sekali disebut sebagai mata uang penggerak (Vehicle Currency).
Sumber dana valuta asing pada dasarnya tersedia di beberapa pusat pasar uang internasional. Salah satu syarat agar dapat memanfaatkan sumber dana valuta asing ialah kemampuan untuk memasuki pada pasar tersebut. Keegan (1996) mengemukakan bahwa “kurs adalah mata uang apapun yang dibeli atau dijual di pasar mata uang asing”.
Jaringan pasar di luar negeri dan hubungan koresponden dengan bank di luar negeri dapat dipakai sebagai sarana untuk memasuki sumber dana valuta asing luar negeri. Agar dapat memanfaatkan sumber dana semacam itu bank harus berstatus bank devisa. Sesuai dengan peraturan hanya bank tertentu yang ditunjuk (bank devisa) yang melayani transaksi jasa valuta asing. Menurut Samuelson dan Nordhaus (1997 : 525) “ Kurs (nilai tukar) valuta asing, yaitu harga mata uang negara asing dalam satuan mata uang domestik. Kemudian menurut Parkin (1990:951). “The price at which one currency exchange for another is colled a foreign rate. (Harga dimana suatu mata uang untuk menukar mata uang yang lain disebut kurs valuta asing. Sedangkan Choi (1998 :125), menyebutkan bahwa : “ Mekanisme yang digunakan untuk mentranslasikan saldo-saldo valuta asing yaitu, harga satu unit valuta yang ditunjukkan ke dalam valuta lain”.
Namun nilai tukar mata uang dan kurs tidaklah sama, melainkan terbalik, maka kurs rupiah naik karena angkanya semakin besar namun nilai tukarnya naik atau menjadi lebih kuat. Faktor inilah yang mengakibatkan harga-harga mahal seperti harga makanan, penginapan, barang-barang dan sebagainya.
Apabila kita membicarakan tentang mata uang untuk transaksi , maka perlu diketahui pula tentang Pertukaran Valas, Spot Rate dan Forward Rate.
Transaksi dalam pasar valuta asing biasanya sering disebut transaksi valuta asing, yaitu pertukaran satu mata uang dengan mata uang lain. Ada terdapat dua jenis transaksi dalam pasar valuta asing, yaitu (Kuncoro, 1996 : 106) :
a. Transaksi spot
Transaksi spot terdiri dari transaksi valuta asing yang biasanya selesai dalam maksimal dua hari kerja. Dalam pasar spot dibedakan tiga jenis transaksi :
1) Cash, yaitu pembayaran satu mata uang dan pengiriman mata uang lain diselesaikan pada hari yang sama.
2) Tom, (kependekan dari tomorrow / besok) yaitu pengiriman dilakukan pada hari berikutnya.
3) Spot, yaitu pengiriman diselesaikan dalam tempo 48 jam atau dua hari setelah perjanjian.
b. Transaksi Forward
Transaksi forward merupakan transaksi valuta asing dimana pengiriman mata uang dilakukan pada suatu tanggal dimasa mendatang. Kurs dimana transaksi forward diselesaikan telah ditentukan pada saat kedua belah pihak menyetujui kontrak untuk membeli dan menjual. Waktu antara ditetapkannya kontrak dan pertukaran mata uang yang sebenarnya terjadi dapat bervariasi dari 1 minggu hingga 1 tahun. Jatuh tempo kontrak forwad biasanya satu, dua, tiga atau enam bulan.
Transaksi forward biasanya terjadi bila eksportir, importir atau pelaku ekonomi lain terlibat dalam pasar valuta asing harus membayar atau menerima jumlah mata uang asing pada suatu tanggal di masa mendatang. Dalam situasi semacam itu, ada elemen resiko bagi pihak yang menerima jika mata uang yang mau diterima mengalami depresi (penurunan nilai) dalam jangka waktu tersebut. Untuk mengantisipasi hal ini, penerima mata uang asing dapat meminimumkan nilai valuta asing dengan menandatangani kontrak forward dengan suatu bank.
Dalam kontrak itu, bank berkewajiban membeli mata uang dari eksportir pada tingkat kurs yang disepakati. Tanpa memperdulikan apa yang terjadi pada kurs pada hari dimana valuta asing tersebut betul-betul dikirim oleh eksportir. Kontrak forward semacam ini sangat populer bagi langganan yang tidak yakin bagaimana situasi kurs pada hari dimana mereka harus membayar atau menerima valuta asing.
c. Pertukaran Valuta Asing (Currency Swap).
Disamping terjadi transaksi spot dan transaksi berjangka, di dalam pasar valuta asing juga terjadi suatu praktik tukar menukar valuta asing atau pertukaran valuta asing. Pertukaran valuta asing merupakan gabungan antara transaksi spot dengan transaksi berjangka (Forward). Menurut Lapoliwa dan Kuswandi (1991:27) : “Sebenarnya jual beli secara Swap adalah gabungan antara Spot dengan Forward. Disebut Spot karena berkaitan dengan kurs yang dipakai selalu kurs pada tanggal terjadinya transaksi itu (Spot rate). Disebut Forward karena perdagangan ini berjangka dalam suatu ikatan kontrak”. Salvatore (1997 :19-20) : “ Pada intinya, tukar menukar mata uang (Currency Swap) mengacu pada penjualan suatu mata uang berdasarkan kurs spot yang dikombinasikan dengan perjanjian pembelian kembali secara berjangka atas mata uang yang sama”.
Misalnya, bank A menerima pembayaran sebesar $ 1 juta pada hari ini, namun ia baru membutuhkan uang tersebut tiga bulan mendatang. Dalam waktu bersamaan terdapat kemungkinan/peluang untuk menginvestasikan uang tersebut ke dalam deposito poundsterling yang akan dia jual kembali 3 (tiga) bulan mendatang. Misalnya lagi mitra bisnisnya adalah bank B.
Jadi dalam satu transaksi terdapat dua kesepakatan sekaligus, yaitu kesepakatan penjualan $ 1 juta menjadi poundsterling pada hari ini dan dibarengi dengan kesepakatan untuk membeli kembali $1 juta tersebut 3 (tiga) bulan mendatang (artinya, bank A melakukan transaksi spot terlebih dahulu sebelum mengadakan transaksi berjangka ). Sebagian besar perdagangan mata uang antar bank meliputi penjualan atau pembelian mata uang dalam berbagai jenis yang kesepakatannya dilakukan pada hari ini, sedangkan penyerahannya baru dilakukan pada masa yang akan datang. Biasanya, kontrak-kontrak jual belinya tidak hanya berupa kontrak berjangka, namun juga disertai dengan transaksi spot. Jadi, bank-bank sangat aktif dalam melakukan kegiatan tukar menukar mata uang. Dewasa ini sekitar 60 persen kegiatan perdagangan mata uang antar bank dilakukan melalui transaksi spot, 20 persen dalam bentuk swap dan 3 persen yang murni merupakan kontrak berjangka, sedangkan sisanya adalah perdagangan dalam bentuk lain, (berdasarkan data dari Salvatore : 20). Dengan demikian berarti pasar valuta asing masih didominasi oleh pasar Spot. Sebagian besar transaksinya dengan sendirinya merupakan transaksi Spot, sehingga kurs yang paling banyak digunakanpun adalah kurs Spot.

Pengertian, Konsep dan Jenis Biaya

a. Konsep Biaya
Sebelum melakukan analisis biaya, terlebih dahulu perlu dipahami pengertian, dan beberapa konsep tentang biaya. Kalau ditinjau dari sudut biaya, ada beberapa defenisi tentang biaya yang diuraikan sebagai berikut :

1. Biaya dalam ekonomi manajerial mencerminkan efisiensi sistem produksi, sehingga konsep biaya juga mengacu pada konsep produksi, tetapi apabila pada konsep produksi kita membicarakan penggunaan input secara fisik dalam menghasilkan output produksi, maka dalam konsep biaya kita menghitung penggunaan input itu dalam nilai ekonomi yang disebut biaya.(Gaspersz, 2003)

2. Biaya adalah harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan. (Sunarto, 2003)

3. Biaya merupakan pengorbanan sacrifice yang bertujuan untuk memproduksi atau memperoleh suatu komoditi. Pengorbanan yang tidak bertujuan disebut pemborosan dan bukan termasuk biaya. (Gani , 1990)

4. Biaya juga sering diartikan sebagai nilai suatu pengorbanan untuk memperoleh suatu output tertentu. Pengorbanan itu dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan. Dalam analisis ekonomi nilai kesempatan (untuk memperoleh sesuatu) yang hilang karena melakukan sesuatu kegiatan lain juga dihitung sebagai biaya, yang disebut biaya kesempatan/opportunity cost. (Maidin, 2003)

5. Bagi seorang Akuntan, biaya adalah total uang yang dikeluarkan untuk memperoleh atau menghasilkan sesuatu (Rahardja & Manurung, 2002)

Sehingga, dalam pengertian tentang biaya tersebut di atas, ternyata terdapat 4 unsur pokok, yaitu :
- Biaya merupakan harga pokok atau bagiannya untuk memperoleh pendapatan
- Biaya mencerminkan efisiensi sistem produksi
- Biaya merupakan pengorbanan untuk suatu tujuan tertentu
- Pengorbanan dapat berupa uang, barang, tenaga, waktu maupun kesempatan

b. Jenis-jenis Biaya
Untuk keperluan analisis, biaya dapat dikelompokkan menurut beberapa kriteria (Maidin,2003) yaitu :

b.1. Pembagian biaya berdasarkan pengaruhnya pada skala produksi

1. Biaya tetap (fixed cost = FC), yaitu biaya yang nilainya secara relatif tidak dipengaruhi oleh besaranya jumlah produksi (output). Biaya ini harus tetap dikeluarkan walaupun tidak ada pelayanan. Contoh FC adalah nilai dari gedung yang digunakan, nilai dari peralatan (besar) kedokteran, ataupun nilai tanah. Nilai gedung dimasukan dalam FC sebab biaya gedung yang digunakan tidak berubah baik ketika pelayanannya meningkat maupun menurun. Demikian pula dengan alat kedokteran. Biaya stetoskop relatif tetap, baik untuk memeriksa dua pasien maupun sepuluh pasien. Artinya biaya untuk memeriksa dengan suatu alat pada dua pasien sama dengan biaya untuk memeriksa sepuluh pasien. Dengan demikian biaya alat adalah tetap dan tidak berubah meskipun jumlah pasien yang dilayani berubah.

2. Biaya variabel (variabel cost = VC), adalah biaya yang nilainya dipengaruhi oleh banyaknya output .

Contoh yang termasuk dalam VC adalah biaya obat, biaya makan, biaya alat tulis kantor, biaya pemeliharaan

Biaya obat dan makanan dimasukan dalam VC karena jumlah biaya tersebut secara langsung dipengaruhi oleh banyaknya pelayanan yang diberikan. Biaya obat dan makanan untuk melayani dua pasien akan berbeda dengan biaya obat dan makanan untuk melayani sepuluh pasien. Dengan demikian besarnya biaya obat atau makanan akan selalu berpengaruh secara langsung oleh banyaknya pasien yang dilayani

Pada umumnya besar volume produksi sudah direncanakan secara rutin. Oleh sebab itu VC sering juga disebut dengan biaya rutin. Dalam praktek sering kali dialami kesulitan untuk membedakan secara tegas apakah suatu biaya termasuk FC atau VC. Contoh dalam menentukan gaji pegawai misalnya, apakah gaji pegawai dimasukan dalam FC atau VC. Gaji pegawai kadang–kadang tidak dipengaruhi oleh besarnya output terutama pada fasilitas pemerintah. Dalam praktek misalnya, penambahan (kenaikan gaji) atau pengurangan gaji pegawai terutama pada fasilitas pemerintah, tidak semudah seperti penurunan dan penambahan output pelayanan. Berdasarkan teori, biaya pegawai sebenarnya dipengaruhi oleh besarnya output.

Disebuah poliklinik misalnya jika pasien rawat jalan naik pada jumlah tertentu perlu ditambah tenaga sehingga besar biaya pegawai akan berubah seiring dengan bertambahnya jumlah pasien. Oleh sebab itu ada yang mengelompokan gaji pegawai sebagai semi variable cost (SVC).

3. Total cost adalah jumlah dari fixed cost ditambah variabel cost yang dalam persamaan sbb :

TC = FC + VC

b.2. Pembagian biaya berdasarkan lama penggunaannya

1. Biaya Investasi, adalah biaya yang masa kegunaannya dapat berlangsung untuk waktu yang relatif lama. Biasanya waktu untuk biaya investasi ditetapkan lebih dari satu tahun. Batas satu tahun ditetapkan atas dasar kebiasaan merencanakan dan merealisasi anggaran untuk jangka waktu satu tahun. Biaya investasi ini biasanya berhubungan dengan pembangunan atau pengembangan infrastruktur fisik dan kapasitas produksi (alat produksi). Contoh yang termasuk dalam biaya investasi antara lain biaya pembangunan gedung, biaya pembelian mobil, biaya pembelian peralatan besar dan sebagainya.

1. Nilai tanah dan bangunan

Pusat biaya produksi : tanah dan bangunan rawat jalan, rawat inap, apotik, poliklinik

Pusat biaya penunjang : Tanah dan bangunan bagian administrasi, keuangan, dapur, binatu

2. Nilai kendaraan

Ambulance dan kendaraan dinas

3. Nilai peralatan medis

Seluruh peralatan medis yang dipergunakan di masing-masing unit pelayanan seperti rawat inap, rawat jalan, kamar tindakan, dan laboratorium

4. Peralatan rumah tangga (non medis)

Semua peralatan rumah tangga yang digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan seperti : meja, kursi, AC, mesin tik, mesin cuci, almari, pengangkut pasien, dll

Di beberapa instansi, penetapan apakah suatu biaya termasuk biaya investasi atau tidak dilakukan dengan melihat harga (nilai) suatu barang. Pada umumnya besar biaya investasi sudah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, jika batas yang ditentukan adalah Rp. 100.000,- maka barang yang nilainya kurang dari Rp. 100.000,- tidak termasuk dalam biaya investasi, meskipum penggunaannya dapat lebih dari satu (biaya tersebut dimasukan dalam biaya operasional)

Biaya investasi dihitung dari nilai barang investasi yang disetahunkan (AIC atau biaya depresiasi atau biaya penyusutan).

Nilai barang investasi dalam analisis biaya harus memperhitungkan (1) harga satuan (nilai awal barang) masing-masing jenis barang investasi, (2) lama pemakaian barang tersebut, (3) laju inflasi (tingkat bunga bank) dan (4) umur ekonomis barang tersebut

1.1 Biaya penyusutan (depreciation cost), adalah biaya yang timbul akibat terjadinya pengurangan nilai barang investasi (asset) sebagai akibat penggunaannya dalam proses produksi. Setiap barang investasi yang dipakai dalam proses produksi akan mengalami penyusutan nilai, baik karena makin usang atau karena mengalami kerusakan fisik. Nilai penyusutan barang investasi, seperti gedung, kendaraan, dan peralatan, disebut sebagai biaya penyusutan.

Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk menghitung penyusutan yaitu (1) metode garis lurus (straight line), (2) metode saldo menurun (declining balance), (3) jumlah angka–angka tahun (sum of the years digit) (4) metode unit produksi (unit of production).

Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah metode penyusutan garis lurus (straight line method) dimana jumlah historis yang sama dikurangi setiap tahun. Pada umumnya analisis biaya dilakukan untuk satu kurun waktu tertentu, misalnya satu tahun anggaran, maka untuk itu perlu dicari nilai biaya investasi setahun, sehingga biaya investasi itu dapat digabung dengan biaya operasional.

Nilai biaya investasi satu tahun ini disebut nilai tahunan biaya investasi (Annualized Investment Cost = AIC).

Besarnya nilai tahunan dari biaya investasi tersebut dipengaruhi oleh nilai uang (inflasi) serta waktu pakai dan masa hidup suatu barang investasi. Untuk menghitung nilai tahunan investasi tersebut dapat dipergunakan rumus sebagai berikut :

IIC ( 1 + i )t
AIC = ——————
L

AIC = Annualized Investment Cost
IIC = Initial Investment Cost
i = Laju Inflasi
t = Lama Pakai
L= Perkiraan masa hidup (umur ekonomis) barang investasi yang bersangkutan

2. Biaya operasional (operasional cost), adalah biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan dalam suatu proses produksi dan memiliki sifat habis pakai dalam kurun waktu yang relatif singkat (kurang dari satu tahun) contoh yang termasuk dalam biaya operasional antara lain biaya obat, biaya makan, gaji pegawai, air dan listrik.

Konsep yang sering dipakai secara bersamaan dengan biaya operasional yaitu Biaya pemeliharaan (mantainance cost). Biaya pemeliharaan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu barang investasi agar dapat terus berfungsi, misalnya biaya pemeliharaan gedung dan pemeliharaan kendaraan. Antara biaya operasional dan biaya pemeliharaan dalam praktek sering disatukan menjadi biaya operasional dan pemeliharaan (operational and mantainance cost). Biaya operasional dan pemeliharaan, dengan sifatnya yang habis pakai pada umumnya dikeluarkan secara berulang. Karena itu biaya pemeliharaan sering disebut sebagai biaya berulang (recurrent cost)

Contoh biaya operasional :

a. Biaya pegawai (gaji)
b. Biaya obat dan bahan medis
c. Biaya listrik dan air
d. Biaya bahan kantor (ATK)
e. Biaya telepon
f. Biaya pemeliharaan barang investasi

Biaya item (c) sampai item (f) dikenal dengan sebutan overhead atau biaya umum

Contoh : Biaya Pemeliharaan

Biaya yang dikeluarkan untuk mempertahankan nilai suatu barang agar terus berfungsi. Misalnya biaya pemeliharaan gedung, biaya pemeliharaan alat medis dan pemeliharaan kendaraan.

3. Biaya total (total cost = TC), adalah jumlah dari biaya investasi ditambah biaya operasional, atau dapat dirumuskan sebagai berikut :

Total Cost = Investment Cost (+) Operasional Cost

b.3. Pembagian biaya berdasarkan fungsi atau aktifitas sumber biaya

1. Biaya Langsung (Direct Cost), adalah biaya yang dibedakan pada sumber biaya yang mempunyai fungsih (aktifitas) langsung terhadap output.

Contoh : gaji perawat

biaya obat-obatan

biaya peralatan medis

2. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost), adalah biaya yang dibebankan pada sumber biaya yang mempunyai fungsi penunjang (aktivitas tak langsung) terhadap output

Contoh : gaji bagian administrasi

gaji direktur

biaya ATK, TU

biaya peralatan non medis

3. Total Cost, merupakan penjumlahan dari direct cost ditambah indirect cost, yang dirumuskan sebagai berikut :

Total Cost = Direct Cost (+) Indirect Cost

b.4. Unit cost, adalah biaya yang dihitung untuk menghasilkan satu satun produk (misalnya satu jenis pelayanan). Unit cost diperoleh dari TC dibagi jumlah produk (Quantity =Q) atau dalam persamaan :

UC = TC/Q

Dengan demikian, dalam menghitung unit cost harus ditetapkan terlebih dahulu besaran produk (cakupan pelayanan). Unit cost sering kali disamakan dengan biaya rata-rata (average cost). Dengan melihat rumus biaya satuan ( UC = TC/Q ) tersebut, maka jelas tinggi rendahnya unit cost suatu produk tidak saja dipengaruhi oleh besarnya TC tetapi juga dipengaruhi oleh besarnya pelayanan. Perhitungan unit cost dengan menggunakan rumus diatas, banyak dipengaruhi oleh tingkat utilitas. Makin tinggi utilitas (dengan demikian makin besar jumlah output) akan semakin kecil unit cost pelayanan. Perhitungan unit cost yang didasarkan atas pengeluaran nyata terhadap produk atau pelayanan ( UC = TC/Q ) disebut biaya UC Aktual. Disamping UC aktual, juga ada UC normative yaitu besarnya biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu jenis pelayanan kesehatan menurut standar baku atau menurut kapasitas yang tersedia. Besarnya UC normative ini tidak memperhitungkan apakah pelayanan kesehatan tersebut dipergunakan oleh pasien atau tidak. Rumus UC normative adalah :

FC VC
UC = ————- (+) ————-
KAP Q

UC = Unit cost normatif.
FC = Fixed cost, biaya tetap yang diperlukan untuk beroperasi.
KAP = Kapasitas produksi pusat biaya tersebut dalam setahun
VC = Variabel cost termasuk di dalamnya biaya obat / bahan medis, bahan habis pakai
Q = Jumlah output pusat biaya tersebut dalam setahun

Dalam perhitungan penetapan tarif, untuk menghitung unit cost dapat terdiri dari beberapa macam yaitu :

1. Unit cost, dengan memperhitungkan total cost terdiri atas penjumlahan FC, SVC dan VC atau (TC = FC + SVC + VC )
2. Unit cost, dengan memperhitungkan TC terdiri atas penjumlahan dari SVC dan VC atau ( TC = SVC + VC )
3. Unit cost, dengan memperhitungkan TC terdiri atas penjumlahan dari VC saja atau ( TC = VC)

Bagi sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah (puskesmas dan rumah sakit), biaya investasi dan gaji pegawai negeri sipil telah di subsidi, sehingga idealnya untuk menentukan UC, perhitungan TC tanpa FC dan biaya investasi serta biaya gaji pegawai negeri.

Sistem Informasi Akuntansi (SIA) Memproses berbagai transaksi keuangan dan transaksi non keuangan yang secara langsung mempengaruhi pemrosesan transaksi keuangan. SIA terdiri atas 3 Subsistem :
1. Sistem Pemrosesan Transaksi (Transaksi Processing System- TPS).
Yang mengandung operasi bisnis harian melalui berbagai dokumen serta pesan untuk pera pengguna di seluruh perusahaan. Penting untuk keseluruhan fungsi dari sistem informasi karena :
a. Mengonversikan berbagai kegiatan ekonomi kedalam transaksi keuangan
b. Mencatat berbagai transaksi keuangan kedalam catatan akuntansi
c. Mendistribusikan informasi keuangan yang penting untuk personel
operasional dalam mendukung operasi hariannya.
2. Sistem Buku Besar/ Laporan Keuangan (General Ledger/Financial Reporting SystemGL/FRS). Yang menghasilkan laporan keuangan, seperti laporan laba/rugi, neraca, arus kas, pengambilan pajak, serta berbagai macam lainnya yang disyaratkan oleh hukum.
3. Sistem Pelaporan manajemen (Management Reporting System). Yang menyediakan pihak manajemen internal berbagai laporan khusus serta informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan, seperti anggaran, laporan kerja, serta laporan pertanggung jawaban.

DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA/ SMK KELAS 1 / X
1. Sosiologi
2. PKN
3. Matematika
4. Sejarah
5. Seni Rupa
6. Fisika
7. Biologi
8. Bahasa Inggris
9. PAI
10. Ekonomi
DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA/ SMK KELAS 2 / XI
1. Sosiologi
2. Ekonomi
3. PAI
4. Sejarah
5. Biologi
6. Bahasa Indonesia
7. Matematika
8. Seni Rupa
9. PKN
10. Bahasa Inggris
DOWNLOAD SILABUS RPP KTSP SMA/ SMK KELAS 3 / XII
1. Sosiologi
2. Ekonomi
3. Fisika
4. Sejarah
5. Biologi
6. Bahasa Indonesia
7. Seni Rupa
8. PKN
9. Bahasa Inggris

sumber: http://mgmpsmpn1kedokanbunder.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.