Arsip

Guru

NISN (Nomer Induk Siswa Nasional) adalah standar kode pengenal untuk siswa sekolah yang unik dan berlaku nasional dalam rangka pengelolaan data siswa secara nasional secara akurat dan akuntabel. NISN merupakan program dari DAPODIK (Data Pokok Pendidikan Nasional).

Pusat Data dan Statistik Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PDSP Kemdikbud) membangun pelayanan Sistem Layanan DAPODIK versi terbaru dengan menggunakan nama Sistem Nomor Induk Satuan Pendidikan (NISP) dan Sistem Nomor Induk Peserta Didik (NIPD).

Informasi lebih lanjut perihal layanan sistem NHSP dan NIPD dapat menghubungi PDSP di Telp. 021-5731177 atau Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud di Call Center: 177.

Email: pengaduan@kemdikbud.go.id atau pdsp@kemdikbud.go.id

Layanan pencaria NISN terbagi menjadi dua:
1. Bagi yang sudah mengetahui Nomor NISN langsung ketikkan nomornya

2. Bagi yang belum mengetahui NISN, klik Pencarian Berdasarkan Nama, silahkan Masukkan data sesuai dengan kolom pengisian data yang tersedia.

Bagi guru dan siswa yang ingin mencari nomor NISN untuk kedua cara di atas, silahkan KLIK DI SINI

Penilaian Angka Kredit (PAK) Dasar Bagi Guru CPNS/PNS Baru Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Adapun jabatan fungsional guru adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sedangkan Angka kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh seorang Guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan jabatannya. Untuk mencapai angka kredit tersebut seorang guru harus memenuhi persyaratan-persyarakat di antaranya membuat analisis hasil belajar, analisis soal, pengayaan, dan perbaikan. Hal tersebut tercantum dalam Permenpan Nomer 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya yang dapat anda download Di Sini.

Terkait dengan Pengajuan PAK untuk CPNS/PNS baru maka persyaratannya adalah sebagai berikut:
1. Fotocopy SK CPNS dan PNS (2 Lembar)
2. SPMT BKD Sekolah Masing-Masing (Berdasarkan SKPD) (2 Lembar)
3. DP3 (2 Lembar)
4. SK Pembagian Tugas (2 Lembar)
5. SK Pembagian Tugas Mengajar (2 Lembar)
6. SK Kepanitiaan (2 Lembar)
7. Piagam/Sertifikat Selama Menjadi CPNS/PNS (2 Lembar)
8. Analisis Butir Soal Pelajaran (2 Lembar)

Untuk download Dokumentasi Penilaian Angka Kredit (PAK) Bagi Guru CPNS/PNS Baru DI SINI

NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) adalah nomor identitas yang bersifat nasional untuk seluruh PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan). NUPTK terdiri dari 16 angka yang bersifat tetap karena NUPTK yang dimiliki seorang PTK tidak akan berubah meskipun yang bersangkutan telah berpindah tempat mengajar atau terjadi perubahan data periwayatan.

NUPTK diberikan kepada seluruh PTK baik PNS maupun Non-PNS sebagai Nomor Identitas yang resmi untuk keperluan identifikasi dalam berbagai pelaksanaan program dan kegiatan yang berkaitan dengna pendidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

Manfaat untuk tenaga pendidik yang memiki NUPTK adalah:
1. Berpartisipasi dalam sebuah proses/mekanisme pendataan secara nasional sehingga dapat membantu pemerintah dalam merencanakan berbagai program peningkatan kesejahteraan bagi tenaga pendidik.
2. Mendapatkan nomor identifikasi resmi dan bersifat resmi dan bersifat nasional dalam mengikuti berbagai program/kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat/daerah.

Bagi para guru dan tenaga kependidikan yang membutuhkan Data NUPTK Terbaru Untuk Tahun 2011, 2012, 2013 dan seterusnya dapat dengan mudah dilihat. Dengan program nuptkwebbrowser.exe, status usulan NUPTK Guru baru juga dapat dipantau: Apakah data sudah masuk atau belum.

Data NUPTK yang selama ini dipublikasikan melalui http://www.nuptk.info sudah ditutup dan dialihkan ke situs PMPTK Kementerian Diknas dengan program nuptkwebbrowser.exe. Dengan program ini usulan baru NUPTK dapat dipantau dengan mudah.

Beberapa kelebihan program ini adalah:

  1. Tidak perlu menginstal
  2. Dapat menampilkan data PTK per sekolah (sebelumnya, data yang dipublikasikan melalui http://www.nuptk.info adalah per kab/kota dan harus diunduh)
  3. Data dilihat langsung (tanpa melalui proses mengunduh)
  4. Data usulan baru dapat dipantau
  5. Menampilkan nomor Peg_ID
Singkatnya, untuk melihat data NUPTK,  saat ini,  hanya satu pintu, yakni melalui program nuptkwebbrowser.exe

Berikut contoh tampilan data NUPTK suatu sekolah yang dilihat menggunakan program nuptkwebbrowser.exe. Pada tampilan gambar, tampak status diterima, ditolak, atau ditunda beserta keterangan mengapa ditolak.

Bila berminat memiliki program dan panduan, silakan klik link berikut:

sumber: kemdiknas.go.id, tunas63.wordpress.com

Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si

Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memberikan perhatian pada pendidik atau guru patut diapresiasi. Setelah hak dan kewajiban guru semakin jelas menyusul keluarnya Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional dengan berbagai implikasinya, kini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mengeluarkan kebijakan baru tetang karier guru, yakni guru bisa mencapai jenjang karier puncak akademik layaknya guru besar di perguruan tinggi, yakni dengan menjadi GURU UTAMA. Dengan kebijakan baru ini, jenjang karier tertinggi guru tidak lagi terbatas menjadi kepala sekolah atau pun pengawas, tetapi seorang guru mata pelajaran, termasuk guru bimbingan konseling bisa meniti karier puncak hingga menjadi guru utama. Kabarnya kebijakan tersebut sudah memperoleh persetujuan Menpan (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara) dan BKN (Badan Kepegawaian Negara). Karena itu, sekarang tinggal tahap sosialisasi dan merumuskan ketentuan teknis yang mengatur implementasinya.

Bagi para guru, kebijakan tersebut juga patut disambut gembira dan disyukuri. Sebab, selama ini karier tertinggi guru adalah menjadi kepala sekolah. Jika tidak bisa menjadi kepala sekolah atau pengawas, guru tidak akan bisa menggapai karier yang lebih tinggi hingga pensiun. Padahal, tidak sedikit guru yang berkualitas, berdedikasi tinggi dan bekerja dengan penuh integritas untuk memajukan pendidikan di Tanah Air. Mereka adalah orang-orang yang terpanggil hatinya untuk mendarmabaktikan hidupnya untuk menjadi pendidik. Karena itu, sayang jika karier mereka berhenti hanya karena tidak ada payung regulasi yang mengakomodasi mereka untuk maju. Beberapa guru memang ada yang bernasib baik dengan menjadi pejabat di lingkungan Kantor Dinas Pendidikan setempat, atau ada yang terjun ke politik dan menjadi anggota dewan, kepala daerah, seperti bupati atau walikota. Tetapi jumlahnya sangat sedikit. Jumlah kepala sekolah juga sangat terbatas, sehingga meniti karier hingga menjadi kepala sekolah bukan pekerjaan gampang. Lebih-lebih di era seperti sekarang ini, menjadi kepala sekolah tidak cukup hanya dengan bermodalkan prestasi akademik, misalnya menjadi guru teladan, guru berprestasi, guru idola, pemenang lomba karya ilmiah dan sebagainya. Guru mesti “kenal” atau setidaknya “dikenal” oleh penguasa di daerahnya.

Dengan adanya kesempatan menjadi guru utama, maka guru yang tidak tertarik pada jabatan struktural seperti menjadi kepala sekolah atau setidaknya wakil kepala sekolah atau karena alasan tertentu tidak bisa menjadi kepala sekolah bisa fokus pada pengembangan akademik untuk mengejar karier menjadi guru utama. Dengan menjadi guru utama, guru bisa fokus dan berkonsentrasi pada peningkatan kompetensi bidang studi yang diajarkan sehingga guru benar-benar menjadi tenaga profesional. Sebagai tenaga profesional, guru tidak boleh lagi mengajar bidang studi yang bukan bidangnya. Guru yang mengajar bidang studi yang tidak dikuasai sebenarnya menjadikan siswa sebagai korban terselubung dari praktik pendidikan. Ini sangat berbahaya karena seolah-olah guru telah menjalankan tugas pendidikan untuk mempersiapkan masa depan siswa, tetapi sejatinya dia belum berbuat apa-apa, malah menjerumuskan masa depan para siswanya. Mengapa? Karena menerima pelajaran dari pendidik yang tidak tepat. Lebih celaka lagi jika ilmu yang diberikan itu salah, karena pengetahuan guru yang tidak memadai. Karena itu, para pimpinan sekolah mesti memberikan perhatian pada masalah tersebut. Jika membuat kebijakan guru mengajar bukan bidang yang dikuasai, apalagi memaksanya, maka kepala sekolah punya andil besar menciptakan pendidikan tidak bermutu. Guru adalah garda terdepan pendidikan. Di pundak mereka, kualitas pendidikan dipertaruhkan.

Kompas beberapa waktu lalu memberitakan bahwa akibat kebijakan sertifikasi di mana guru harus mengajar minimal 24 jam per minggu, banyak guru kekurangan jam mengajar. Untuk memenuhi jam wajib tersebut, terpaksa guru diberi tugas mengajar bidang studi apa saja asal dapat memenuhi jumlah jam wajib tersebut. Misalnya, pengajar sosiologi diambil dari guru sejarah, atau pendidikan kewarganegaraan. Pengajar bahasa Inggris diambil dari guru yang pernah kursus bahasa Inggris. Guru fisika diminta mengajar matematika karena kekurangan jam wajib, dan sebagainya. Mereka sering disebut “guru salah kamar” yang semakin menjauhkan dari cita-cita pendidikan bermutu.

Jika praktik tersebut terus berlangsung dan pemenuhan jam wajib mengajar lebih diutamakan daripada menugaskan guru mengajar sesuai bidang keahliannya, maka apa pun kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan tercapai. Sebab, saya sangat yakin bahwa guru adalah segalanya. Di antara delapan standar komponen pendidikan, guru menempati posisi paling penting. Keberadaan komponen yang lain seperti sarana, isi, manajemen, evaluasi, proses, input, dan beaya, tidak sepenting guru. Di tangan guru, maju mundurnya pendidikan ditentukan. Di tangan guru yang berkualitas unggul, pendidikan bermutu akan bisa diraih. Sebaliknya, di tangan guru yang tidak berkualitas, pendidikan bermutu hanya impian, bagaimana pun hebatnya komponen-komonen yang lain. Sekali lagi, pendidikan bermutu hanya akan lahir dari guru bermutu.

Karena itu, kebijakan tentang guru utama harus dipandang sebagai upaya peningkatahn mutu pendidikan melalui peningkatan karier guru. Persoalannya adalah apakah untuk mencapai jenjang karier puncak tersebut, guru harus juga mengumpulkan angka kredit melalui kegiatan-kegiatan akademik sebagaimana dosen, yakni mengajar, meneliti dan melakukan pengabdian kepada masyarakat yang lazim disebut sebagai tri dharma perguruan tinggi? Jika iya, harus ada perubahan paradigma berpikir mengenai siapa sejatinya guru. Selama ini guru didefinisikan sebagai tenaga pendidik dengan hak otonom akademik yang sangat terbatas, tidak seperti dosen yang hak otonom akademiknya begitu luas. Seorang Rektor sekalipun tidak bisa mempengaruhi hak dosen memberikan penilaian kepada mahasiswanya. Selain itu, guru juga tidak dituntut untuk melakukan tugas pengabdian kepada masyarakat. Jika ada, itu karena kesenangan guru yang bersangkutan, bukan karena tugas akademik.

Tetapi menurut Wakil Mendikas, Prof. Fasli Djalal, untuk menjadi guru utama, guru harus memenuhi angka kredit yang dikumpulkan secara benar. Selain untuk merefleksikan prestasi guru tersebut dalam fungsi keguruan, angka kredit tersebut membuat organisasi profesi guru, jurnal-jurnal ilmiah, dan karya tulis ilmiah, menjadi penting. Pemeritah juga akan memfasilitasi agar guru mampu melakukan penelitian, terutama penelitian tindakan kelas, dan kegiatan akademik lainnya seperti seminar, lokakarya, simposium da sejenisnya. Dengan aktivitas seperti itu, guru layaknya dosen.

Persoalannya adalah menyangkut tunjangan profesi. Jika Guru Utama sama dengan Guru Besar di perguruan tinggi, apakah Guru Utama juga akan memperoleh tunjangan profesi sebesar tiga kali gaji pokok seperti halnya Guru Besar? Sebagaimana diketahui, seorang Guru Besar selain menerima tunjangan profesional otomatis (tanpa sertifikasi) sebesar satu kali gaji pokok, juga menerima tunjangan kehormatan sebesar dua kali gaji pokok, sehingga secara keseluruhan seorang Guru Besar menerima tiga kali gaji pokok setiap bulan. Karena tunjangannya cukup besar, maka selain tugas pokoknya, Guru Besar diberi tiga tugas tambahan, yakni melakukan penelitian, pembinaan akademik kepada dosen-dosen yunior, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang dikuasai. Asumsinya adalah Guru Besar adalah seorang pakar di bidang ilmu tertentu dan merupakan jabatan akademik puncak yang diperoleh lewat proses penilaian akademik yang panjang.

Jika gaji Guru Utama bisa disetarakan dengan gaji Guru Besar, maka profesi guru akan semakin diminati oleh para anak bangsa terbaik. Guru akan menjadi pekerjaan pilihan, bukan pekerjaan yang diperoleh setelah pekerjaan yang lain gagal. Selain mulia, profesi guru akan sangat terhormat. Selain itu, keinginan guru untuk melimpah ke perguruan tinggi tidak akan terjadi lagi. Sebab, selama ini banyak guru yang sudah diberi beasiswa S2 dan lulus menjadi magister mengajukan mutasi menjadi dosen. Padahal, mereka diberi beasiswa untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekokah di mana mereka mengajar. Martabat orang bukan ditentukan oleh tempat di mana dia bekerja, melainkan pada peran dan kontribusi yang telah diberikan kepada masyarakat luas. Menjadi guru yang berprestasi jauh lebih bermartabat daripada menjadi dosen yang tidak banyak berbuat bagi masyarakat luas. Islam mengenal konsep “khoirunnâs anfa’uhum linnâs”, artinya “Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain”.

Sebuah kebijakan masih memerlukan ketentuan teknis yang menyertainya. Saat ini political will dari pemerintah sudah jelas. Maka yang diperlukan adalah bagaimana merealisasikan kebijakan tersebut agar guru bisa menjadi profesional dengan karier terbaik dengan pendapatan terbaik. Dengan begitu, mereka akan bekerja dengan baik. Tidak ada lagi guru melakukan pekerjaan lain, sehingga guru menjadi sambilan. Tetapi persoalan guru di Indonesia memang kompleks, tidak saja mencakup kualitas tetapi juga penyebaran guru yang tidak merata (sebagian besar menumpuk di Jawa), penggantian guru yang pensiun dalam waktu dua hingga tahun mendatang, persoalan kompetensi, dan menjamin agar guru mengajar bidang yang dikuasainya sebagai wujud guru adalah tenaga profesional sesuai amanat undang-undang. Selamat kepada bapak dan ibu guru!. Kita sambut kebijakan pemerintah tersebut dengan terus bekerja keras sambil menunggu ketentuan teknis pelaksanaannya lebih lanjut.
_________

Malang, 28/7/2011
sumber:http://mudjiarahardjo.com/artikel/357-guru-utama-jenjang-menuju-karier-puncak-guru-.html

Pengaruh Persepsi Siswa pada Kompetensi Guru terhadap Motivasi Belajar Siswa
Sebelum membahas tentang pengaruh antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar, lebih dahulu ditinjau tentang peran guru dalam menumbuhkan motivasi dalam diri siswa. Menurut Joni (dalam Alfiyah, 1998: 54) guru sesuai dengan tugasnya adalah sebagai fasilitator dan motivator serta sekaligus inspirator dalam kelas.

Hal ini menunjukkan pentingnya peranan guru dalam menumbuhkan motivasi dalam belajar siswa. Guru sebagai fasilitator, ia harus dapat memberikan berbagai kemudahan petunjuk, bantuan, dorongan kepada siswa, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Memberikan petunjuk belajar atau mengarahkan bagaimana agar siswa dapat belajar dengan mudah, dan sekaligus memberikan dorongan yang dibutuhkan siswa.

Guru sebagai motivator, dalam proses belajar mengajar harus dapat membangkitkan motivasi, hasrat, dan gairah belajar pada diri siswa. Oleh sebab itu, tugas guru sebagai motivator sebenarnya dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi belajar. Dalam penelitian ini upaya membangkitkan motivasi belajar siswa salah satunya dengan menerapkan berbagai keterampilan mengajar guru yang dikuasainya.

Sedangkan guru sebagai inspirator, harus dapat memberikan semangat, tanpa memandang taraf kemampuan intelektual atau tingkat motivasinya. Setiap siswa harus dapat dibuat senang, baik dalam mengikuti pelajaran maupun bergaul.

Dalam proses belajar mengajar kemampuan siswa dalam menerima/menangkap pelajaran berbeda-beda. Semuanya dipengaruhi tingkat kepandaian yang dimiliki setiap siswa dan juga persepsi yang dimiliki siswa terhadap pengajar dan pelajaran tertentu.

Adanya perbedaan persepsi siswa yang dimiliki oleh siswa akan berpengaruh pada perbedaan motivasi belajar pada masing-masing siswa di kelas. Siswa yang cukup termotivasi terhadap suatu pelajaran maka dia akan mempunyai dorongan yang tinggi terhadap suatu pelajaran, sedangkan siswa yang tidak termotivasi maka dorongan belajarnya cenderung akan menurun. Motivasi merupakan salah satu syarat penting dalam kegiatan belajar. Berkaitan dengan motivasi belajar siswa di kelas, tidak lepas dari peran guru sebagai pengajar. Guru sebagai contoh teladan harus mampu memberikan dorongan pada diri siswa.

Agar motivasi belajar dalam kelas tetap terbina maka guru sebagai pengajar diharapkan mampu menciptakan suasana belajar mengajar menjadi menarik dan menyenangkan. Selain itu guru juga dituntut untuk mampu mengelola siswa dalam kelasnya.

Guru sebagai pengajar juga perlu memilki kompetensi dalam melaksanakan tugas- tugas kependidikannya. Guru yang berkompeten akan mentransfer pengetahuan dan mendidik serta membimbing siswa dalam proses belajar mengajar. Hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangat siswa untuk lebih berprestasi dalam belajar. Untuk itu diperlukan guru yang berkompeten yang bisa menguasai kelas dan siswanya.

Timbulnya motivasi belajar siswa dipengaruhi oleh adanya persepsi siswa terhadap kompetensi guru. Kompetensi guru bisa dijadikan sebagai stimulus yang menghendaki adanya respons pada diri siswa apakah siswa tersebut akan menyikapi sebagai hal yang positif atau menyikapi sebagai hal yang negatif.

Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara konseptual adanya hubungan antara persepsi siswa tentang kompetensi guru terhadap motivasi belajar siswa.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 28 bahwa: Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, dan
kompetensi sosial.

Kompetensi guru menurut Surya dalam Kunandar (2007:55) meliiputi
1. Kompetensi intelektual,yaitu berbagai perangkat pengetahuan yang ada dalam diri individu yang diperlukan untuk menunjang berbagai aspek kinerja sebagai guru.
2. Kompetensi fisik yaitu perangkat kemampuan fisik yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan tugas sebagai guru dalam berbagai situasi.
3. Kompetensi pribadi, yaitu perangkat perilaku yang berkaitan dengan kemapuan individu dalam mewujudkan dirinya sebagai pribadi yang mandiri untuk melakukan transformasi diri, identitas diri, dan pemahaman diri.
4. Kompetensi sosial, yaitu perangkat perilaku tertentu yang merupakan dasar dari pemahaman diri sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan social serta tercapainya interaksi social secara efektif.
5. Kompetensi spiritual, yaitu pemahaman, penghayatan, serta pengalaman kaidah-kaidah keagamaan.

Menurut Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, untuk dapat menjadi guru yang profesional seseorang harus memiliki empat kompetensi, yakni kompetensi pedogagik, kompetensi kepibadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Kompetensi kepribadian adalah kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi berbagai potensi yang dimilikinya. Kompetensi profesional merupakan penguasan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, mencakup penguasaan materi kurikulum pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadapa struktur dan metodologi keilmuannya. Sedangkan kompetensi social merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik , sesama peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Menurut Kunandar (2007:56) untuk dapat menjadi seorang guru yang memiliki kompetensi, maka diharuskan memiliki kemampuan untuk mengembangkan tiga aspek kompetensi yang ada pada dirinya, yaitu kompetensi pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi kemasyarakatan. Kompetensi pribadi adalah sikap guru berjiwa pancasila yang mengutamakan budaya bangsa Indonesia, yang rela berkorban bagi kelestarian bangsa dan negaranya. Kompetensi profesional adalah penguasaan akademik yang diajarkan dan terpadu dengan kemampuan mengajarnya sekaligus sehingga guru itu memiliki wibawa akademis. Sementara itu, kompetensi kemasyarakatan (sosial) adalah kemampuan yang berhubungan dengan bentuk partisipasi sosial seorang guru dalam kehidupan sehari-hari masyarakat tempat ia bekerja, baik formal maupun informal. Guru yang dapat mengembangkan ketiga aspek kompetensi dalam dirinya dengan baik, maka ia tidak hanya memperoleh keberhasilan tetapi juga akan memperoleh kepuasan atas profesi yang dipilihnya.

Kompetensi yang dimiliki guru dalam melaksanakan profesinya, selain menguasai teknik dan strategi dalam kegiatan pembelajaran juga harus menguasai seperangkat kemampuan (competency) yang beraneka ragam. Jenis-jenis kompetensi menurut Usman(2004:15) dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Kompetensi Pribadi
a) Mengembangkan kepribadian yaitu: bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila, mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan bagi jabatan guru.
b) Berinteraksi dan berkomunikasi, yaitu: berinteraksi dengan teman sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional, berinteraksi dengan masyarakat untuk penuaian misi pendidikan.
c) Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan, yaitu: membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar, membimbing siswa yang berkelainan dan berbakat khusus.
d) Melaksanakan administrasi sekolah, yaitu: mengenal pengadministrasian sekolah, melaksanakan kegiatan pengadministrasian sekolah.

2. Kompetensi Profesional
a) Menguasai landasan kependidkan, seperti: mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat, dan mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran.
b) Menguasai bahan pembelajaran, seperti: menguasai materi pembelajaran, kurikulum pembelajaran sesuai jurusan.
c) Menyusun progam pengajaran, seperti: menetapkan tujuan, memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran, memilih dan mengembangkan media pembelajaran, memilih dan mengembangkan sumber belajar.
d) Melaksanakan progam pengajaran, yaitu: menciptakan iklim pembelajaran yang tepat, mengatur ruangan belajar, dan mengelola interaksi belajar mengajar.
e) Menilai hasil dan proses pembelajarn yang telah dilaksanakan, yaitu: menilai prestasi siswa untuk kepentingan pembelajaran, dan menilai proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Sementara Sudjana (1998:18) telah membagi kompetensi guru dalam tiga jenis antara lain:
1. Kompetensi Kognitif, artinya kemampuan bidang intelektual seperti penguasaan mata pelajaran, pemgetahuan tentang mata pelajaran, pengetahuan mengenai cara belajar, pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku individu, pengetahuan tentang administrasi kelas, pengetahuan tentang cara menilai hasil belajar siswa, dan pengetahuan tentang kemasyarakan serta pengetahuan umum lainnya.
2. Kompetensi Sikap, artinya kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal berkenaan dengan tugas dan profesinya. Misalnya, sikap menghargai pekerjaannya, mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi terhadap teman seprofesinya, dan memiliki kemauan yang keras untuk meningkatkan hasil pekerjaannya.
3. Kompetensi Perilaku/performance, artinya kemampuan guru dalam berbagai ketrampilan mengajar, membimbing, menilai, menggunakan alat bantu pengajaran, bergaul dan berkomunikasi dengan siswa, ketrampilan menumbuhkan semangat belajar para siswa, ketrampilan menyusun persiapan/perancanaan mengajar, ketrampilan melaksanakan administrasi kelas, dan lain-lain.

Sehubungan dengan hal itu, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (dalam Arikunto,2002) menjabarkan sepuluh kompetensi yaitu:
1. Kemampuan menguasai landasan-landasan kependidikan
2. Kemampuan menguasai bahan pelajaran yang akan disajikan
3. Kemampuan mengelola program belajar mengajar
4. Kemampuan mengelola kelas
5. Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar
6. Kemampuan menggunakan media/sumber belajar
7. Kemampuan menilai hasil belajar (prestasi siswa)
8. Kemampuan mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan.
9. Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan
10. Kemampuan memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan mengajar.

Guru merupakan kunci keberhasilan sebuah lembaga pendidikan. Guru adalah sales agen dari sebuah lembaga pendidikan yaitu sekolah. Baik atau buruknya perilaku (cara menagajar) guru akan sangat mempengaruhi citra lembaga pendidikan tersebut. Oleh karena itu sumber daya guru ini harus dikembangkan baik melalui pendidikan dan pelatihan serta kegiatan lain agar kemampuan professionalnya lebih meningkat, karena dengan meningkatnya kompetensi guru, akan mempengaruhi hasil belajar peserta didiknya.

Setiap jabatan atau pekerjaan menuntut kemampuan khusus bagi pengembannya, agar dalam melaksanakan tugas dapat lancar dan memperoleh hasil sesuai dengan harapan. Sehingga kemampuan atau disebut juga dengan kompetensi yang merupakan syarat suatu jabatan atau pekerjaan akan memberikan kewenangan seseorang untuk memegang jabatan tersebut.

Istilah kompetensi sebenarnya memiliki banyak makna sebagaimana yang dikemukakan oleh Sedangkan Caharles E.Johnson (dalam Usman,2004:14) mengemukakan “Competency as a rational performance wich satisfactorily meets the objective for a desired condition “. Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Adapun kompetensi guru menurut Mc.Leod (dalam Usman,2004:14) “the ability of a teacher to responsibibly perform has or her duties appropriately”. Bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Mulyasa (2002:3) mengemukakan “kompetensi guru adalah pengetahuan ketrampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Supandi (1985:124) diartikan sebagai jenis kemampuan yang ditentukan berdasarkan job analisis (analisis jabatan ) ditambah dengan kondisi sifat pribadi yang menunjang kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan guru. Pengertian kompetensi berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen adalah seperangkat pengetahuan yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasai oleh seorang pendidikan dalam melaksanakan tugas keprofesionalismenya”. (Pasal 1 ayat 10 UU RI No.14 Tahun 2005)

Dari berbagai pendapat di atas, dapatlah penulis simpulkan bahwa kompetensi guru adalah merupakan suatu kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang pendidik di dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pembimbing anak dalam kelas.

Berikut saya publish file presentasi saya yang InsyaAllah akan saya sampaikan pada kegiatan “Seminar Gerakan Guru Melek Internet” pada kegiatan pembukaan Kongres I Ikatan Guru Indonesia (IGI) tanggal 21-23 Juni 2011 di Kantor Kementerian Pendidikan Nasional – Jakarta.

Sedikit pemikaran saya yang mungkin bukan hal baru, namun penekanannya adalah pada ajakan untuk semua penggiat pendidikan untuk berbagi, dengan menulis via blog.

Melek internet bukan saja mengambil informasi atau mengambil manfaatkannya, lebih-lebih bagi guru yang merupakan orang yang tak boleh berhenti belajar. Dengan adanya internet maka kita akan membuka mata lebar-lebar untuk menangguk ilmu pengetahuan. Belajar akan terasa “lebih” apabila kita mau mengikat ilmu yang baru kita pelajari dengan menuliskannya. Menulis saja tidak cukup berguna manakala itu hanya untuk diri sendiri, hasil tulisan kita patut untuk dibagi kepada siapa saja yang memerlukan. Media yang murah meriah dan mudah aksesnya adalah melalui blog. Oleh karena itu nge-blog bisa dijadikan indikasi kemelekan internet bagi guru.

Mari kita melekkan mata, pikiran, hati kita dengan nge-blog, belajar beramal ikhlas dengan membagi apa saja melalui tulisan. Semoga kita semakin diberikan kemudahan untuk mendapatkan ilmu bermanfaat dan membaginya. Rejeki sumbernya dari mana saja, demikian pula ilmu. Kita tidak boleh menunggu jadi hebat baru mau berbagi, jangan menunggu kaya untuk beramal. :)

Unduh file presentasi saya dari sini Blogging, belajar, dan berbagai (tanpa video & sound)

sumber

Pedoman serta petunjuk pelaksanaan perhitungan angka kredit jabatan fungsional guru 2009-2010 mencari di belantara dunia maya (tanpa luna) kadang tidak mudah. Perlu kesabaran dan kejelian. Terkait angka kredit jabatan fungsional guru tersebut merupakan hal penting bagi keberlanjutan karier guru. Saya tidak tahu mengapa pada beberpa blog atau situs kadang tidak mudah dideteksi oleh mesin pencari secanggih google.

Untuk maksud memudahkan rekan guru yang memerlukannya maka saya upload ulang dengan file hosting yang berbeda. Dan idola saya adalah di ifile.it yang merupakan “free online file storage service”.
Sedangkan yg lain terupload pada ziddu, sayangnya file hosting tersebut tidak support untuk resume hasil download. Banyak orang memilih mengupload ke Ziddu dan sejenisnya mungkin berharap sedikit mendapat untung secara finansial. Tapi sialnya di ziddu dibumbui basa-basi untuk bisa mendownload file upload-annya.

Semoga dengan dilakukannya re-upload memberikan alternatif bagi rekan guru yang memerlukannya. File ttg angka kredit guru tersebut saya kemas dalam file rar dengan ukuran sekitar 5,48 MB.

Klik Di Sini Untuk DOWNLOAD, kemudian silahkan klik bar request download ticket.

Jika rekan guru memerlukan pedoman dan juklak ttg angka kredit jabatan fungsional guru bisa saya kirim via email. Kebetulan sebelumnya sy pernah kirim ke teman lainnya dan sy tinggal forward saja.

Sumber

Dapatkah Anda membayangkan, apa yang terjadi jika tak tercipta suasana menyenangkan dalam proses belajar mengajar? Ya, siswa akan bosan dan tujuan dari penanaman ilmu oleh pengajar tak akan tercapai. Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan? Beberapa tips ini mungkin bisa menjadi panduan.

Salah satu hal yang harus dikedepankan adalah menyertakan partisipasi siswa di dalam kelas. Selain untuk membangun komunikasi dengan siswa, pengajar juga dapat mengetahui apa yang menjadi kebutuhan bagi para siswa. Jika situasi ini tak terbangun, bisa jadi siswa akan merasa canggung berbicara dengan guru dan komunikasi tidak akan berjalan baik. Akibatnya, pengajar juga akan mengalami kesulitan untuk mengetahui apa yang menjadi keinginan siswa.

Ciptakan iklim yang nyaman buat anak didik Anda

Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri. Hal ini juga bisa mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan, sehingga komunikasi antara pendidik dan anak didik dapat terbangun. Sebagai pengajar, Anda dapat menjelaskan kepada siswa bahwa tidak akan ada siswa lain yang akan mengejak ketika ia bertanya. Beri motivasi kepada siswa bahwa dengan bertanya, akan memudahkannya untuk lebih mengetahui tentang sesuatu hal daripada hanya diam mendengarkan.

Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang diajukan oleh siswa Anda.

Jika siswa Anda mengajukan pertanyaan, sebisa mungkin fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akan menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan. Seringkali siswa merasa kurang percaya diri sehingga enggan untuk memberikan kontribusi di dalam kelas. Nah, tugas Anda sebagai pengajar, membangun kepercayaan diri siswa dengan menunjukkan perhatian-perhatian saat siswa merasa sedang ingin didengarkan.

Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa

Anda juga bisa mencoba dengan memuji setiap komentar yang diajukan oleh anak didik Anda. Misalnya, “Oh, itu ide yang sangat bagus” ,atau “Pertanyaan kamu bagus, itu tidak pernah saya pikirkan sebelumnya”.

Beri pertanyaan yang mudah dijawab

Jika hal diatas belum juga berhasil untuk mengajak siswa memberikan komentar atau pertanyaan, giliran Anda untuk mengajukan pertanyaan memancing yang bisa membuat anak didik Anda tidak lagi bungkam di dalam kelas. Pastikan pertanyaan Anda mampu dijawab oleh siswa, sehingga saat menjawab secara tidak langsung melatih siswa untuk berbicara.

Saat siswa sudah mulai merespon, beri senyum kepada siswa yang sudah berkomentar. Hal ini akan mengurangi rasa canggung yang biasa ia perlihatkan.

Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas dimulai

Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan Anda tanyakan. Sehingga, ia akan mempersiapkannya terlebih dulu. Jika saat anda bertanya dan para siswa tidak merespon, ubah format pertanyaan anda yang hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak“.

Controlling

Kontrol para siswa dengan alat kontrol yang Anda miiliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas. Jika Anda menemukan beberapa siswa yang tingkat partisipasinya dalam kelas sangat kurang, maka ajak ia berkomunikasi secaraa pribadi. Mungkin dengan begitu ia akan merasa percaya diri. Selain itu, jika yang Anda temukan hanyalah permasalahan kurang percaya yang menjadikannya diam selama kelas berlangsung, maka tugas Anda selanjutnya adalah memberi ia tugas yang bisa membantunya untuk berkomunikasi. Misalnya, tugas berpidato dalam kelas.

sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.