Arsip

Kesehatan

Konsep Karies Gigi
2.2.1 Pengertian
Karies berasal dari kata “ker” yang dalam bahasa Yunani artinya kematian,sedangkan dalam bahasa Latin artinya kehancuran. Karies gigi merupakan pembentukan lubang pada permukaan gigi yang disebabkan oleh kuman (Srigupta, 2004). Sedangkan menurut Koswara (2006) karies gigi adalah penyakit keropos yang dimulai pada lokasi tertentu pada bagian gigi, dan diikuti proses kerusakan atau pembusukan gigi secara cepat. Karies gigi dimulai dengan terjadinya pengikisan mineral-mineral dari permukaan atau enamel gigi oleh asam organik hasil fermentasi karbohidrat makanan terutama gula pasir dan pati-patian yang tertinggal melekat pada bagian-bagian dan sela-sela gigi oleh bakteri asam laktat.
2.2.2 Pertumbuhan gigi
Benih gigi susu sebenarnya sudah terbentuk sejak bayi masih dalam kandungan, yaitu sejak janin berusia 4 minggu. Bahkan, gigi permanen yang akan menggantikan gigi susu juga telah terbentuk. Gigi tumbuh dari epitel tulang rahang. Mula-mula yang tumbuh adalah mahkota gigi berwarna putih dengan lapisan luar emailnya, lalu berlanjut ke bawah berupa dentin, diteruskan dengan pulpa gigi yang menjadi tempat syaraf dan pembuluh darah, yang paling akhir adalah akar gigi (Rosseno, 2008).
Erupsi atau keluarnya akar gigi pertama biasanya terjadi pada usia 6-8 bulan setelah kelahiran. Namun ada kalanya erupsi gigi terjadi saat anak berusia 9 bulan (Machfoedz, 2006). Erupsi ini tidak terjadi sekaligus, akan tetapi satu persatu atau sepasang. Ketika berusia 1 tahun, biasanya anak punya 6-8 gigi susu. Pertumbuhan gigi susu ini akan berhenti pada usia 2-3 tahun dengan jumlah gigi 20 buah. Kemudian satu persatu akan tanggal dan digantikan oleh gigi permanen saat anak menginjak usia 5-6 tahun (Rosseno, 2008).
Urutan pertumbuhan gigi susu yaitu:

Tabel 2.2 Urutan Pertumbuhan Gigi Susu

No

Jenis Gigi Susu

Tumbuh Umur

1

2

Gigi rahang atas:

a. Gigi seri pertama

b. Gigi seri kedua

c. Gigi taring

d. Gigi geraham pertama

e. Gigi geraham kedua

Gigi rahang bawah:

a. Gigi seri pertama

b. Gigi seri kedua

c. Gigi taring

d. Gigi geraham pertama

e. Gigi geraham kedua

7-8 bulan

8-9 bulan

16-18 bulan

12-14 bulan

20-30 bulan

6-7 bulan

8-9 bulan

14-16 bulan

12-14 bulan

20-30 bulan

(sumber: Machfoedz, I. 2006. Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak-Anak dan Ibu hamil. Yogyakarta: Fitramaya).

2.2.3 Manifestasi klinis
Tanda awal dari lesi karies adalah sebuah daerah yang tampak berkapur di permukaan gigi yang menandakan adanya demineralisasi. Daerah ini dapat menjadi tampak coklat dan membentuk lubang. Proses sebelum ini dapat kembali ke asal (reversible),namun ketika lubang sudah terbentuk maka struktur yang rusak tidak dapat diregenerasi. Sebuah lesi tampak coklat dan mengkilat dapat menandakan karies. Daerah coklat pucat menandakan adanya karies yang aktif. Bila email dan dentin sudah mulai rusak, maka lubang akan semakin tampak. Daerah yang terkena akan berubah warna dan menjadi lunak ketika disentuh (Kuntari, 2008).
2.2.4 Karies botol susu
Karies susu botol yang sering disebut Nursing Bottle Caries, Nursing Bottle Mounth, Baby Bottle Caries, dan Early Childhood Caries (ECC) adalah karies dengan pola yang khas dan sering terlihat pada anak usia kurang atau sama dengan 6 tahun yang mempunyai kebiasaan minum ASI, susu botol atau cairan yang manis sampai tertidur dan dihisap terus menerus sepanjang hari, atau yang berlangsung 2-4 kali selama beberapa jam sampai tertidur dan kadang-kadang sepanjang malam (Wei (1988) dalam Chemiawan dkk, 2004). Keadaan karies susu botol ini mempunyai pola yang khas yaitu gigi pertama yang terkena adalah gigi insitif lateral atas, permukaan labial, lingual, mesial dan distal. Kemudian permukaan oklusal gigi molar satu atas dan satu bawah, serta gigi kanan bawah. Bila kebiasaan pemberian makanan anak sampai tertidur berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka akan terjadi keadaan lebih lanjut yaitu karies akan tampak pada permukaan oklusal molar dua atas serta bawah, dan yang terakhir adalah gigi insitif bawah (Susilowati, 2008).
2.2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi karies gigi
Menurut Ruslawati (2001), penyebab karies gigi meliputi faktor internal dan eksternal, yaitu:
1) Faktor internal
Merupakan faktor yang langsung berhubungan dengan karies gigi, yaitu:
a. Host, meliputi gigi dan saliva
Komposisi gigi terdiri dari email dan dentin. Dentin adalah lapisan di bawah email. Struktur email gigi sangat menentukan proses terjadinya karies.
Gigi selalu dibasahi saliva secara normal. Pada proses pencernaan di dalam mulut terjadi kontak antara makanan, saliva dan gigi. Fungsi saliva adalah sebagai pelicin, pelindung, buffer, pembersih, dan anti bakteri. Jumlah dan isi saliva, derajat keasaman, kekentalan, dan kemampuan buffer berpengaruh pada karies. Saliva mampu meremineralisasi karies dini karena mengandung ion Ca, dan P. Saliva juga mempengaruhi pH dan komposisi mikroorganisme dalam plak (Mansjoer, 2001).
b. Agent (Bakteri/Mikroorganisme)
Mansjoer (2001) mengatakan ada 3 bakteri yang sering mengakibatkan karies yaitu:
1) Lactobacillus, bakteri ini populasinya dipengaruhi oleh kebiasaan makan. Bakteri ini hanya dianggap faktor pembantu karies.
2) Streptococcus, bakteri kokus gram positif ini jumlahnya terbanyak dalam mulut dan merupakan penyebab utama karie gigi karena bakteri ini mampu memproduksi senyawa glukan (mutan) dalam jumlah yang besar dari sukrosa dengan pertolongan enzim, salah satu spesiesnya yaitu Streptococcus mutans.
3) Actinomyces, semua spesies ini memfermentasikan glukosa, terutama membentuk asam laktat, asetat, dan asam format.
c. Environment (substrat)
Substrat adalah campuran makanan halus dan minuman yang dimakan sehari-hari yang menempel di permukaan gigi. Substrat ini dapat berasal dari jus, susu formula, larutan, dan makanan manis lainnya.
d. Time/waktu
Bakteri dan substrat membutuhkan waktu lama untuk demineralisasi dan progesi karies. Waktu merupakan kecepatan terbentuknya karies serta lama dan frekuensi substrat menempel di permukaan gigi. Adanya kemampuan saliva untuk meremineralisasi selama proses karies, menandakan bahwa proses tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Sehingga bila saliva berada dalam lingkungan gigi, maka karies tidak akan menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun.
2) Faktor eksternal
Selain faktor internal (faktor langsung) yang berhubungan dengan karies gigi, terdapat faktor-faktor eksternal (faktor tidak langsung) yang disebut faktor resiko luar, yang merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya karies. Faktor-faktor tersebut yaitu:
a. Usia
Sejalan dengan pertambahan usia seseorang, jumlah karies akan bertambah. Hal ini karena faktor resiko terjadinya karies akan lebih lama berpengaruh terhadap gigi.
b. Jenis kelamin
Prevalensi karies gigi tetap pada wanita lebih tinggi dibanding pria. Hal ini karena erupsi gigi anak perempuan lebih cepat dibanding anak laki-laki, sehingga gigi anak perempuan akan lebih lama berhubungan dengan faktor resiko terjadinya karies.
c. Suku bangsa
Beberapa penelitian menunjukkan ada perbedaan pendapat tentang hubungan suu bangsa dengan prevalensi karies gigi. Hal ini karena perbedaan keadaan social ekonomi, pendidikan, makanan, cara pencegahan karies dan jangkauan pelayanan kesehatan gigi yang berada disetiap suku tersebut.
d. Letak geografis
Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan ini kemungkinan karena perbedaan lama dan intensitas cahaya matahari, suhu, cuaca, air, keadaan tanah dan jarak dari laut. Telah dibuktikan bahwa kandungan fluor sekitar 1 ppm air akan berpengaruh terhadap penurunan karies.
e. Kultur sosial penduduk
Faktor yang dapat mempengaruhi adalah pendidikan dan penghasilan yang berhubungan dengan diet, kebiasaan merawat gigi dan lain-lain.
f. Kesadaran, sikap, dan perilaku individu terhadap pemeliharaan kesehatan gigi.
2.2.6 Dampak karies gigi
Jika gigi yang mengalami karies dibiarkan tidak dirawat, maka dapat menimbulkan rasa sakit/nyeri pada kavitas, demam, proses mengunyah makanan akan terganggu sehingga anak menjadi kehilangan selera makan dan akhirnya menjadi kurus. Kehilangan gigi yang terlalu dini, kemungkinan besar ke depannya anak akan membutuhkan perawatan orthodonsia (braket). Gigi susu yang berlubang dapat menyebabkan gigi tersebut goyang dan tanggal premature atau terpaksa dicabut sebelum waktunya. Jika terjadi abses atau infeksi di sekitar gigi yang mengalami karies, maka dapat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang gigi permanennya (Susanto, 2007).
Menurut Paramitha (2000), kelainan dan gangguan pertumbuhan gigi akan mengakibatkan terjadinya gangguan pada fungsi estetika mulut. Penampilan wajah anak akan terganggu sehingga mengurangi daya tarik. Bila kelainan gigi ini dibiarkan terus, maka secara tidak langsung akan mengakibatkan kegunaan fungsional terganggu.
2.2.7 Pencegahan
Pencegahan terhadap karies gigi harus dilakukan secepatnya. Menurut Kuntari (2008) cara yang dapat dilakukan untuk mencegah karies gigi yaitu:
1. Setelah diberi makan, bersihkan gusi anak dengan kain/lap bersih.
2. Jangan biarkan anak tertidur sambil minum melalui botol yang berisi susu formula, jus buah atau larutan manis lainnya, berikan botol hanya ketika makan saja.
3. Jika anak membutuhkan botol untuk pemberian makanan yang regular pada malam hari atau hingga tidur,beri anak botol bersih yang direkomendasikan oleh dokter gigi.
4. Hindari mengisi botol minum anak dengan larutan manis seperti air gula dan soft drink.
5. Ajari anak minum susu dangan gelas/cangkir.
6. Jika air yang akan diberikan kepada anak tidak mengandung fluor, tanyakan pada dokter gigi apa yang sebaiknya diberikan pada anak.
7. Ketika anak menginjak usia 2 tahun,ajari anak menyikat gigi 1-2 kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur.
8. Mulailah berkunjung ke dokter gigi sejak tahun pertama kelahiran.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula
Menurut Roesli (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula yaitu:
1. ASI tidak cukup
Alasan ini merupakan alasan utama bagi ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif. Walaupun banyak ibu yang merasa ASInya kurang,tetapi hanya sedikit (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya. Selebihnya ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya.
2. Ibu bekerja dengan cuti hamil 3 bulan
Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI, karena waktu ibu bekerja, bayi dapat diberi ASI perah yang diperoleh sehari sebelumnya.
3. Takut ditinggal suami
Alasan ini karena mitos yang salah, yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. Sebenarnya yang mengubah bentuk payudara adalah waktu kehamilan bukan menyusui.
4. Bayi akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dan manja.
Pendapat bahwa bayi akan tumbuh menjadi anak karena terlalu sering didekap dan dibelai adalah tidak benar. Justru anak akan tumbuh menjadi kurang mandiri, manja, dan agresif karena kurang diperhatikan oleh orang tua dan keluarga.
5. Susu formula lebih praktis
Pendapat ini tidak benar, karena untuk membuat susu formula diperlukan api atau listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril, dan waktu untuk mendinginkan susu formula. Sementara ASI siap pakai dengan suhu yang tepat setiap saat serta tidak memerlukan api, listrik, dan perlengkapan yang harus steril.
6. Takut badan gemuk
Pendapat bahwa ibu menyusui akan sulit menurunkan berat badan adalah tidak benar. Didapatkan bukti bahwa menyusui akan menurunkan berat badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui. Timbunan lemak yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sulit untuk menghilangkan timbunan lemak tersebut.
Kurniasih (2008) menambahkan bahwa alasan ibu memberikan susu formula yaitu:
a. Stress sehingga menghambat produksi ASI
b. Puting susu ibu masuk kedalam sehingga bayi kesulitan untuk menghisap ASI
c. Ibu menderita sakit tertentu semisal kanker atau jantung sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi
d. Kurang percaya diri
e. Ibu kecanduan narkotika dan zat adiktif lainya (NAPZA)

Dampak pemberian susu formula

Berbagai dampak negatif yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antara lain:
1. Gangguan saluran pencernaan (muntah, diare)
Judarwanto (2007) menjelaskan bahwa anak yang sering mendapatkan susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung, “cegukan”, sering buang angin, sering rewel, gelisah terutama malam hari. Sering buang air besar (>3 kali perhari), tidak BAB setiap hari, feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah, hernia umbilikalis (pusar menonjol), inguinalis (benjolan diselakangan, daerah buah zakar atau pusar) karena sering ngeden sehingga tekanan dalam perut meningkat. Gangguan ini merupakan biasanya reaksi bayi pada saat saluran pencernaan beradaptasi terhadap susu formula (Raizah, 2008)

2. Infeksi saluran pernafasan
Bila gangguan saluran pencernaan terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsillitis/amandel) berulang dan kadang setiap bulan atau lebih (Judarwanto, 2007).
3. Meningkatkan resiko serangan asma
Para peneliti telah mengevaluasi terhadap efek perlindungan dari pemberian ASI, bahwa pemberian ASI melindungi terhadap asma dan penyakit alergi lain. Sebaliknya, pemberian susu formula dapat meningkatkan resiko tersebut (Oddy dkk (2003) dalam Roesli, 2008).
4. Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif
Menurut penelitian Smith dkk (2003) dalam Roesli (2008),bayi yang tidak diberi ASI ternyata mempunyai skor lebih rendah dalam semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI.
5. Meningkatkan resiko kegemukan (obesitas)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amstrong dkk (2002) dalam Roesli (2008) membuktikan bahwa kegemukan jauh lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula. Kries (1999) dalam Roesli (2008) menambahkan bahwa kejadian obesitas mencapai 4,5%-40% lebih tinggi pada anak yang tidak pernah diberikan ASI.
6. Meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah
Anak yang mendapat susu formula tekanan darahnya lebih tinggi daripada anak yang mendapat ASI. Para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ASI pada anak yang lahir prematur dapat menurunkan darah pada tahun berikutnya (Singhal dkk (2001) dalam Roesli, 2008).
7. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar
Dari kasus merebaknya wabah Enterobacteri zakazakii di Amerika Serikat, dilaporkan kematian bayi berusia 20 hari yang mengalami demam, takikardia, menurunnya aliran darah, dan kejang pada usia 11 hari. Kuman ditemukan pada susu formula tercemar yang dipakai unit perawatan intensif neonatal tersebut (Weir (2002) dalam Roesli, 2008).
8. Meningkatkan kurang gizi
Pemberian susu formula yang encer untuk menghemat pengeluaran dapat mengakibatkan kekurangan gizi karena asupan kurang pada bayi. Secara tidak langsung, kurang gizi juga akan terjadi jika anak sering sakit, terutama diare, dan radang pernafasan (Roesli, 2008).
9. Meningkatkan resiko kematian
Menurut Chen dkk (2004) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi.
10. Meningkatkan kejadian karies gigi susu
Sukrosa merupakan sejenis karbohidrat dalam susu yang dapat mamberikan rasa manis dan sumber energi cepat untuk tubuh (dapat meningkatkan gula darahdalam waktu singkat). Konsumsi sukrosa dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karies gigi.
Kebiasaan anak minum susu formula dengan menggunakan botol saat menjelang tidur dapat menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang dalam mulut sepanjang malam akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam (Retno, 2001).
Jika makanan yang dimakan mengandung gula, pH mulut akan turun dalam waktu 2,5 menit dan tetap rendah selama 1 jam. Bila gula yang mengandung sukrosa dikonsumsi 3 kali sehari, artinya pH mulut selama 3 jam akan berada dibawah 5,5. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan subsurface/lapisan di bawah permukaan gigi. Proses demineralisasi yang terjadi selama periode waktu ini sudah cukup untuk mengikis lapisan email (Nita,2007).

Konsep Susu Formula
2.1.1 Pengertian
Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar (mammae) baik dari binatang maupun seorang ibu. Menurut Roesli (2004), susu formula adalah cairan yang berisi zat yang mati didalamnya,tidak ada sel yang hidup seperti sel darah putih, zat pembunuh bakteri, antibodi, serta tidak mengandung enzim maupun hormon yang mengandung faktor pertumbuhan. Raspy (2007) juga berpendapat bahwa susu formula adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak yang berfungsi sebagai pengganti ASI.
2.1.2 Jenis-jenis susu formula
Di Indonesia telah beredar berbagai macam susu formula dengan berbagai merk dagang. Kurniasih (2008) membagi susu formula menjadi dua, yaitu :
1. Susu formula menurut bahan dasar
Susu formula ini dapat dibedakan menjadi :
a. Susu formula berbahan dasar sapi
Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu sapi. Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga.
b. Susu formula berbahan dasar soya atau kedelai
Susu yang berasal dari sari kedelai ini diperuntukkan bagi bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap protein soya. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya telah terhidrolisis dengan sempurna sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan alergi tersier.
c. Susu formula hidrolisa atau elemental
Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino.
Biasanya pada kemasan tertuliskan HA atau hipoalergenic.

d. Susu formula khusus
Susu formula khusus ini disediaka bagi bayi yang memiliki problem dengan saluran pencernaannya. Pemberian susu formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter.
e. Susu formula rendah laktosa
Susu formula rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low lactose atau free lactose). Sebagai penggantinya, susu formula jenis ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Susu ini cocok untuk bayi yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula darahnya tidak memilii enzim untuk mengolah laktosa.
2. Susu formula menurut usia bayi
Menurut Kurniasih (2008), susu formula ini dibagi sebagai berikut:
a. Susu formula adaptasi
Susu formula ini khusus untuk bayi usia dibawah 6 bulan dan disarankan mempunyai kandungan sebagai berikut:
1. Lemak, kadar lemak yang terkandung antara 2,7-41g setiap 100ml atau, dari jumlah ini 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.
2. Protein, kadarnya berkisar antara 1,2-1,9g/100ml dan komposisi asam aminonya harus identik dengan protein dalam ASI.
3. Karbohidrat, kandungannya antara 5,4-8,2g/100ml dan dianjurkan terdiri atas laktosa dan glukosa.
4. Mineral, terdiri dari Na, K, Ca, P, Mg, dan Cl dengan komposisi sekitar 0,25-0,34g/100ml.
5. Vitamin, harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.
6. Energi, harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal
b. Susu formula awal lengkap
Susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk BBL sampai usia 6 bulan. Walaupun demikian, susu ini sedikit berbeda dengan dari formula adptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi, tidak disesuaikan dengan kandungan dalam ASI dan juga kandungan mineralnya lebih tinggi. Keuntungan susu formula ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.
c. Formula lanjutan
Susu formula ini khusus untuk bayi usia 6 bulan lebih karena mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun awal lengkap. Kadar mineral, karbohidrat, lemak dan energinya juga lebih tinggi karena untuk mengimbangi kebutuhan tumbuh kembang anak.
Berikut ini adalah tabel ringkasan perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula:

Tabel 2.1 Ringkasan Perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula

Porperti

ASI

Susu Sapi

Susu formula

Kontaminasi bakteri

Tidak ada

Mungkin ada

Mungkin ada bila dicampurkan

Faktor anti infeksi

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Faktor pertumbuhan

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Protein

Jumlah sesuai dan mudah dicerna

Kasein : Whey (40:60)

Whey: alfa

Terlalu banyak dan sukar dicerna

Kasein : Whey (80:20)

Whey: Betalaktoglobulin

Sebagian diperbaiki. Disesuaikan dengan ASI

Lemak

Cukup mengandung asam lemak esensial (ALE), DHA dan AA

Mengandung Lipase

Kurang ALE

Tidak ada Lipase

Kurang ALE

Tidak ada DHA dan AA

Tidak ada Lipase

Zat Besi

Jumlah kecil tapi mudah dicerna

Jumlah lebih banyak tapi tidak diserap dengan baik

Ditambahkan ekstra tidak diserap dengan baik

Vitamin

Cukup

Tidak cukup Vit A dan Vit C

Vitamin ditambahkan

Air

Cukup

Perlu tambahan

Mungkin perlu tambahan

(sumber: Suradi, R, dan H.K.P. 2007. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Jakarta: Perinasia).


Keterangan :
Susu formula yang dimaksud dalam tabel adalah susu formula selain yang berbahan dasar susu sapi, terdiri dari susu formula berbahan dasar kedelai dan susu formula hidrolisa.

Akhir-akhir ini marak di bicarakan tentang kasus pembunuhan atau perselisihan rumah tangga,yang dibicarakan adalah tentang status dari si_Korban Pembunuhan atau identikasi dari korban serta identikasi dari seorang anak yang diragukan statusnya dengan melalui tes DNA

Ketika seseorang dengan alasan yang sangat beragam dan pribadi ingin tahu akan identitasnya, maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah identifikasi DNA (Deoxyribo Nucleic Acid). Identifikasi DNA dapat dimanfaatkan untuk mengetahui hubungan biologis antar individu dalam sebuah keluarga dengan cara membandingkan pola DNA individu-individu tersebut. Lembaga Biologi Molekul Eijkman melalui Yayasan GenNeka menawarkan pelayanan identifikasi DNA, berupa tes paternitas dan tes maternitas.

Apakah DNA itu?

Setiap orang memiliki DNA yang unik. DNA adalah materi genetik yang membawa informasi yang dapat diturunkan. Di dalam sel manusia DNA dapat ditemukan di dalam inti sel dan di dalam mitokondria. Di dalam inti sel, DNA membentuk satu kesatuan untaian yang disebut kromosom. Setiap sel manusia yang normal memiliki 46 kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom somatik dan 1 pasang kromosom sex (XX atau XY).

DNA Mitokondria ? Tes mtDNA penurunan maternal

Pola penurunan matrilineal DNA Inti ?Tes Paternitas/Maternitas

Untuk apa saja tes DNA dilakukan?

Tes DNA dilakukan dengan berbagai alasan seperti persoalan pribadi dan hukum antara lain: tunjangan anak, perwalian anak, adopsi, imigrasi, warisan dan masalah forensic (dalam Identifikasi korban pembunuhan)
Sampel apakah yang akan diambil untuk tes DNA?

Hampir semua sampel biologis dapat dipakai untuk tes DNA, seperti buccal swab (usapan mulut pada pipi sebelah dalam), darah, rambut beserta akarnya, walaupun lebih dipilih penggunaan darah dalam tabung (sebanyak 2ml) sebagai sumber DNA.

Cara pengambilan sampel: Sampel darah diambil sebanyak 2 ml dengan menggunakan tabung EDTA kemudian diberi label yang jelas, dan tanggal pengambilan sampel. Sampel disimpan pada suhu 4°C.

Apakah tes paternitas?

Tes paternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang pria adalah ayah biologis dari seorang anak. Kita semua mewarisi DNA (materi genetik) dari orang tua biologis kita. Tes paternitas membandingkan pola DNA anak dengan terduga ayah untuk memeriksa bukti pewarisan DNA yang menunjukkan kepastian adanya hubungan biologis.

Apakah tes maternitas?

Tes maternitas adalah tes DNA untuk menentukan apakah seorang wanita adalah ibu biologis dari seorang anak. Seperti pada tes paternitas, tes ini membandingkan pola DNA anak dengan terduga ibu untuk menentukan kecocokan DNA anak yang diwariskan dari terduga ibu. Umumnya tes maternitas dilakukan untuk kasus, seperti kasus dugaan tertukarnya bayi, kasus bayi tabung, kasus anak angkat dan lain-lain.

Metoda identifikasi DNA apakah yang digunakan dalam tes paternitas dan tes maternitas?

Identifikasi DNA untuk tes paternitas dilakukan dengan menganalisa pola DNA menggunakan marka STR (short tandem repeat). STR adalah lokus DNA yang tersusun atas pengulangan 2-6 basa. Dalam genom manusia dapat ditemukan pengulangan basa yang bervariasi jumlah dan jenisnya. Identifikasi DNA dengan penanda STR merupakan salah satu prosedur tes DNA yang sangat sensitif karena penanda STR memiliki tingkat variasi yang tinggi baik antar lokus STR maupun antar individu.

Siapa saja yang perlu di periksa untuk tes paternitas?

Ibu, anak dan terduga ayah,atau dapat dikatakan keluarga sekandung

Dapatkah tes paternitas dilakukan bila hanya terduga ayah dan anak saja yang diperiksa?

Dapat, tetapi hanya bila ibu biologis tidak bersedia di tes. Partisipasi ibu pada tes paternitas dapat membantu menyingkirkan separuh DNA anak, sehingga separuhnya lagi dapat dibandingkan dengan DNA terduga ayah. Akan tetapi kami dapat melakukan tes paternitas tanpa partisipasi ibu, dengan menggunakan analisis tambahan (penambahan penanda) memberikan hasil yang sama akuratnya, tanpa dipungut biaya tambahan. Apabila anak belum dewasa maka di perlukan fotokopi surat kelahiran dan atau surat perwalian anak yang menyatakan terduga ayah atau wali anak memiliki hak untuk membawa anak tersebut untuk melakukan tes paternitas

Apakah perlu surat dokter untuk melakukan tes DNA?

Tidak, walaupun kami sering bekerjasama dengan dokter dan banyak kasus kami berhubungan dengan mereka, tetapi untuk tes DNA ini tidak perlu surat pengantar dokter. Pengguna jasa dapat meminta dan menjadwal tes paternitas dan/atau tes maternitas secara langsung sesuai dengan keinginannya.


sumber: kaskus.us

Selalu saja ada masalah yang mendera dan membuat motivasi hidup semakin turun. Dan jika pikiran tidak mampu menampungnya sudah pasti stress dan bisa-bisa jadi gila. Ini bisa gawat! Sekali. Nah untuk itu ada beberapa tips untuk mengatasi Stress secara sederhana tapi luar biasa.

1. BERTERIAK

Salah satu tips stres yang terbukti ampuh menghindarinya. Yaitu dengan berteriak! Saat stress, kita akan merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati. Lepaskan saja perasaan tidak enak itu. Berteriak sekencang-kencangnya. Supaya nggak malu ama tetangga… berteriak aja di kamar kedap suara. Kalau nggak punya ya dilapangan waktu nggak ada orang lain. Mengatasi stres secara keseluruhan mungkin tidak, tapi minimal akan jauh lebih baik dari sebelumnya

2.Berelaksasi

Cara mengatasi stres dengan berteriak mungkin akan sulit bagi yang tidak punya lingkungan yang memadai. Kalau begitu coba berelaksasi.

Apa itu? Pokoknya buat diri kamu baik itu hati dan tubuh menjadi tenang. Caranya! duduk saja santai menghadap cermin. Kemudian ambil nafas dalam-dalam dengan pelan. Tapi jangan ditahan..langsung deh keluarkan nafas itu dengan pelan-pelan juga.

Efeknya hati semakin tenang dan semakin menambah motivasi hidup.

3. Punya Hobi?

Cara tergampang untuk menghadapi stress, adalah dengan melakukan hobi. Kamu punya hobi sepakbola, dengerin lagu gratis, kenapa itu tidak kamu lakukan untuk mengatasi sress?

Tanyakan kenapa?

4. Buat diri kamu tertawa.

Artikel stres ini tidak menyuruh kamu untuk ketawa-ketiwi sendiri. Karena itu sudah bukan stres lagi tapi sudah menjurus ke GILA. Maksud dari tips stres ini adalah mengatasi stres dengan menonton/membaca sesuatu yang lucu.

Mungkin pelawak di indonesia mulai tidak lucu walau begitu masih. Tapi masih banyak hal yang bisa membuat kita tertawa seperti video lucu di youtube, website humor, atau mungkin buku humor.

5. Minum Susu

Konon katanya susu dapat menjadi tips stres ampuh. Menurut artikel stres yang saya baca, susu dapat mengurangi kadar hormon adrenalin dalam darah. Cara mengasi stres yang sama dengan pepatash ‘sambil menyelam sambil minum susu”
6.Bicarakan stressnya.

Kalau uang bolehlah disimpan. Tapi kalau stress kenapa juga harus disimpan sendiri. Bicarakan masalah kamu dengan orang terdekat kamu entah itu teman, kerabat atau Ibu. Cara mengatasi stres yang paling gampang…

7. Apa itu kompetisi???

Salah satu penceramah motivasi hidup selalu mengatakan : Hidup ini selalu ada kompetisi untuk menjadi lebih baik. Itu memang benar…tapi bukan berarti setiap hari kita harus memikirkannya bukan.

Mengatasi stres : Jangan terlalu banyak memikirkan persaingan kamu menjadi lebih baik dari orang lain apalagi cemburu. Pikirkan saja diri kamu untuk selalu melakukan hal yang terbaik.

8. Selalu lihat sisi positif.

Seperti kata mas einstein: semua itu adalah relatif. Hal yang menurut kamu jelek bukan berarti orang lain akan menganggapnya jelek. Bingung? Inti dari artikel stres ini adalah apapun pasti ada sisi baik dan sisi buruk.

Saat kamu melihat sisi buruk maka itu adalah stres. Saat kamu melihat sisi baik itu adalah motivasi hidup.

sumber: kaskus.us

Bagi anda ibu yang baru punya anak bayi, mungkin belum terlalu mengetahui cara menggosok gigi bayi anda, namun jika usia bayi anda sudah berusia 4 bulan, maka anda harus mulai mengetahui tips untuk menggosok gigi anak anda, karena pada usia iulah gigi bayi anda mulai tumbuh. Meski hanya dinamakan gigi susu yang masih baru, tetapi tetap diperlukan perawatan untuk menjaga gigi tetap sehat.

Berikut ini Tips aman mudah menggosok gigi si buah hati :

1. 0-6 Bulan. Usap gigi dan gusi dengan kain kasa steril atau kapas yang dibasahi air matang hangat. Usap secara perlahan agar gusi anak anda tidak lecet.

2. 6-12 Bulan. Inilah saatnya bayi memiliki sikat gigi pertamnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: berikan sikat gigi yang sangat lembut, sikat gigi bayi tanpa pasta gigi sedikitnya sekali sehari. Saat mandi, biarkan anak bermain dengan sikat giginya, untuk lebih membuatnya akrab dengan benda itu.

3. 12-24 Bulan. Pada usia ini, anak sudah bisa belajar menyikat gigi sendiri namun dengan bantuan. Tunggulah hingga ia bisa meludah atau berkumur sebelum memakai pasta gigi khusus anak. Berikan pasta gigi itu sedikit saja, kira-kira sebesar biji kacang polong. Lakukan minimal 2 kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

4. Di atas 24 Bulan. Kini anak sudah bisa menyikat gigi sendiri, namun tetap dalam pengawasan. Berikan pasta gigi itu sedikit saja. Lakukan minimal dua kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

Itulah tips aman dan udah untuk menggook gigi bayi anda, semoga bisa bermanfaat untuk anda terutama para ibu yang baru saja punya anak yang giginya baru tumbuh.

Banyak cara dilakukan untuk dapat membuat awal hari menjadi bersemangat, salah satunya dengan latihan otak sederhana di pagi hari. Berolahraga otak di pagi hari dapat membantu Anda merasa lebih siap menghadapi hari dan juga meningkatkan energi dan kegembiraan.

Latihan otak beberapa menit sebelum keluar kamar tidur untuk mandi atau saat berdandan dapat membangun pikiran dan indera Anda untuk siap menjalani aktivitas dan rutinitas sepanjang hari. Latihan tersebut bisa berupa latihan fisik, mental atau kombinasi keduanya.

Dilansir Livestrong, berikut beberapa latihan otak sederhana yang dapat dilakukan di pagi hari:

1. Bernyanyi sambil melakukan aktivitas lain
Bernyanyi atau bersenandung saat Anda sedang berpakaian atau menyiapkan sarapan dapat menjadi latihan yang merangsang otak ‘bangun’ di pagi hari.

Latihan ini dapat meningkatkan jumlah dendrit atau garis sel saraf di otak yang memungkinkan otak untuk berfungsi, sehingga mengaktifkan lebih dari satu fungsi sensor yang dapat merangsang aktivitas otak.

2. Ubah rutinitas
Menurut Lawrence Katz, profesor Neurobiologi di Duke University Medical Center, mengubah rutinitas dan cara-cara hidup baru dapat mengaktifkan koneksi otak yang sebelumnya tidak aktif.

Latihan yang bisa dilakukan misalnya, bila Anda selalu menuju kamar mandi saat bangun tidur ubah menjadi minum kopi dulu, sikat gigi sebelum berpakaian atau mencoba menu sarapan baru yang belum pernah sebelumnya.

3. Olahraga Sederahana
Latihan fisik dapat meningkatkan kesehatan otak, karena dapat meningkatkan aliran darah ke otak. Lakukan olahraga sederhana, misalnya peregangan, yoga, bersepeda, jogging atau jalan santai.

Menurut Stanford Center on Longevity and the Max Planck Institute for Human Development, latihan fisik dapat meningkatkan perhatian, penalaran dan memori.

4. Latihan sensasi
Libatkan otak dengan gerakan setelah bangun dan sebelum Anda keluar dari tempat tidur. Mulai dari kaki, gerakkan jari, kontraksi otot betis dan kemudian kencangkan lutut.

Fokus pada bagaimana otot-otot merasa saat Anda bergerak. Gerakan tubuh akan menginstruksikan otak untuk fokus pada berbagai bagian tubuh sampai mencapai wajah. Mengencangkan bibir, mengerutkan hidung dan kemudian mengangkat alis dapat merangsang otak dan organ internal.

Sumber

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.