Arsip

Keuangan

Langkah–langkah dalam perhitungan EVA (nilai tambah ekonomi / NITAMI) menurut Gatot Widayanto (1993), yaitu :
1. Mengitung / menaksir ongkos modal hutang (cost of debt).
2. Menaksir ongkos modal saham (cost of equity).
3. Mengitung struktur permodalan (dari neraca).
4. Menghitung ongkos modal tertimbang (Weighted Average Cost of Capital–WACC).
5. Menghitung NITAMI atau EVA.
Langkah–langkah dalam penghitungan EVA menurut Gatot Widayanto, digambarkan dalam penghitungan EVA untuk PT Elektronik sebagai berikut :

Tabel  Langkah–langkah Penghitungan EVA
                           Langkah
1988
1992
Keterangan
1. Ongkos modal hutang (kD)
a. Beban bunga.
600
810
Lap laba / rugi
b. Juml. Hutang jangka panjang.
3800
4700
Lihat neraca
c. Bunga (%)
15.8 %
17.2 %
(1a) : (1b)
d. Tingkat pjk. Perusahaan (t)
40.0 %
40.0 %
Diketahui
e. Faktor koreksi (1-t)
60.0 %
60.0 %
(1-(1d))
f. Ongkos modal hutang (kD)
9.5 %
10.3 %
(1e) x (1c)
2. Ongkos modal saham (kE)
a. rf (tanpa resiko)
11.0 %
11.0 %
Diketahui
b. Beta
1.3
1.1
Diketahui
c. rm (tingkat bunga pasar)
20.0 %
20.0 %
Diketahui
d. Ongkos modal saham (kE)
22.7 %
20.9 %
(2a+(2bx(2c-2a)))
3. Struktur Modal.
a. Hutang jk. Panjang.
3800
4700
Lihat neraca
b. Modal saham.
7100
11000
Lihat neraca
c. Juml. modal.
10900
15700
(3a)+(3b)
d. Komposisi hutang
35 %
30 %
(3a)+(3c)
e. Komposisi modal saham.
65 %
70 %
(1-(3d))
4. Ongkos modal rata–rata tertimbang
(WACC)
a. WACC
18.1 %
17.7 %
(3dx1f)+(3ex2d)
5. NITAMI
a. Laba sebelum pajak.
3100
3190
Lihat lap. Laba/rugi
b. Beban  bunga.
600
810
Lihat lap. Laba/rugi
c. Laba sebelum pajak dan bunga
3700
4000
(5a)+(5b)
d. Beban pajak.
(1240)
(1276)
40%x(5c)
e. Ongkos modal tertimbang.
(1972)
(2795)
(4a)x(3c)
f. NITAMI
488
(61)
Sumber : Gatot Widayanto(1993)

Menurut R. Agus Sartono dan Kusdhianto Setiawan (1999) :
“EVA adalah suatu pengukuran dengan memperhitungkan secara tepat semua faktor – faktor yang berhubungan dengan penciptaan nilai (value). EVA sedikit berbeda dengan discounted cash flow method yang lain karena EVA memperhitungkan opportunity cost of equity. EVA tidak lain, merupakan selisih antara tingkat pengembalian modal (rate of the return on capital, r) dengan biaya modal (cost of capital, c) dan dikalikan dengan biaya buku ekonomis dari modal (economic book value of the capital) yang dipergunakan”.

Menurut N. Mulyamah Wignyadisasatra (2000) :
“Nilai Tambah Ekonomis (EVA) dapat didefinisikan sebagai sisa laba (residual income, excess earnings) setelah pemodal atau pemegang saham diberi balas jasa (compentation) berupa tingkat hasil (return) atau setelah semua biaya modal yang dimanfaatkan dalam menghasilkan laba diperhi-tungkan atau dibebankan. Laba yang dimaksud adalah laba operasi setelah dikurangi pajak (Net Operating After Tax atau NOPAT) ditambah bunga setelah pajak. Biaya modal adalah biaya / bunga pinjaman dan biaya ekuitas yang dimanfaatkan untuk menghasilkan laba setelah pajak tersebut, dan dihitung secara rata-rata tertimbang (Weighted Average Cost of Capital atau WACC)”.

Menurut Teuku Mirza dan Imbuh S. (1999) :
“EVA adalah suatu estimasi dari laba riil (true economic profit) suatu perusahaan dalam satu tahun, yang secara substansial berbeda dengan laba akuntansi, EVA merupakan pendapatan residu yang mengeluarkan opportunity cost of all capital. Cost of capital yang dimaksud adalah rata – rata tertimbang dari seluruh biaya modal yang terjadi”.

1. Keunggulan Analisis Rasio Keuangan.
Analisis keuangan, yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen dimasa lalu dan prospeknya dimasa mendatang. Dengan analisis keuangan ini dapat diketahui kekuatan serta kelemahan yang dimiliki oleh seorang busines enterprise. Rasio tersebut dapat memberikan indikasi apakah perusahaan memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban finansialnya, besarnya piutang yang cukup rasional, efisiensi manajemen persediaan, perencanaan pengeluaran investasi yang baik, dan struktur modal yang sehat sehingga tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat tercapai. Dengan menganalisis prestasi keuangan, seorang analis keuangan akan dapat menilai apakah manajer keuangan dapat merencanakan dan mengimplementasikan kedalam setiap tindakan secara konsisten dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Disamping itu analisis semacam ini juga dapat dipergunakan oleh pihak lain seperti bank, untuk menilai apakah cukup beralasan(layak) untuk memberikan tambahan dana atau kredit baru, calon investor untuk memproyeksikan prospek perusahaan dimasa datang(R. Agus Sartono, 1994 : 119 – 120).

2. Kelemahan Analisis Rasio Keuangan.
Menurut Teuku Mirza dan Imbuh S(1999), ada beberapa kelemahan dari rasio keuangan :
(1) Adanya distorsi karena laba yang dimasukkan tidak memasukkan unsur biaya modal ekuitas.
(2) Laporan keuangan dari suatu perusahaan yang memiliki sejumlah divisi dari industri yang berlainan akan sulit dibandingkan dengan perusahaan lain atau dengan data suatu industri.
(3) Terjadinya distorsi karena pengaruh inflasi dan penggunaan data historis dalam akuntansi.
(4) Laporan keuangan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus didukung oleh catatan atas laporan keuangan. Informasi ini harus dicermati karena mungkin memuat potensi masalah yang dapat sangat mempengaruhi kondisi keuangan suatu perusahaan.
(5) Kesulitan dalam menginterpretasikan hasil analisa. Misalkan, quick rqtio yang tinggi apakah bagus karena kuatnya likuiditas perusahaan. Atau, justru jelek karena perusahaan memegang kas yang berlebih yang justru tidak produktif.
(6) Perbedaan dalam perlakuan akuntansi dapat menimbulkan distorsi dalam membandingkan rasio.
(7) Adanya praktek window dressing tentunya membuat laporan keuangan terlihat bagus.

Ukuran yang lazim digunakan dalam penilaian kinerja keuangan perusahaan adalah analisa rasio keuangan. Menurut pendapat dari Yogo Purnomo (1998), ada empat pertanyaan penting mengenai operasional perusahaan, yaitu :
(1) Bagaimana likuiditas perusahaan ? Pertanyaan ini mencoba mengungkap seberapa besar kemampuan perusahaan memenuhi tanggung jawabnya pada saat jatuh tempo. Lebih jauh pertanyaan ini mencoba mengamati apakah perusahaan mempunyai sumber dana yang cukup memadai untuk melunasi tanggung jawabnya pada saat jatuh tempo. Rasio keuangan yang digunakan adalah rasio likuiditas.
(2) Apakah manajemen menghasilkan laba yang memadai dari penggunaan asset–asset perusahaan ? Rasio keuangan yang digunakan dikenal dengan rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas menerangkan kemampuan manajemen dalam menghasilkan keuntungan operasional usaha atau penjualan atas pemakaian asset–asset perusahaan.
(3) Bagaimana perusahaan mendanai asset–asssetnya ? Rasio keuangan yang digunakan masuk dalam kategori rasio laverage. Rasio–rasio keuangan ini menjelaskan proporsi besarnya sumber–sumber pendanaan jangka pendek atau jangka panjang terhadap pemakaian asset–asset perusahaan. Hal lain yang bisa diungkap dari kelompok rasio laverage adalah bagaimana kecenderungan struktur permodalan usaha, apakah perusahaan lebih banyak menggunakan pendanaan hutang atau lebih konsentrasi pada modal sendiri (ekuitas) dalam struktur permodalan usaha.
(4) Apakah para pemegang saham menerima penghasilan yang memadai dari investasi yang telah mereka lakukan ? Rasio keuangan yang digunakan adalah rasio–rasio pasar modal (capital market ratio). Rasio–rasio pasar modal sebagian besar menggunakan variabel–variabel penting mengenai harapan–harapan pemodal dan perubahan nilai saham.
Dari empat rasio keuangan yang digunakan untuk menjawab keempat pertanyaan tersebut, hanya kelompok rasio laverage mengenai struktur permodalan usaha dan rasio–rasio pasar modal yang dalam perhitungan matematisnya menggunakan variabel–variabel yang berkaitan langsung dengan sekuritas saham. Variabel–variabel itu adalah Debt to Equity Ratio (DER), yang menggambarkan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas perusahaan yang digunakan sebagai sumber pendanaan usaha. Return on Equity (ROE) menerangkan laba bersih yang dihasilkan untuk setiap ekuitas. Earning per Share (EPS), menandakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham. Price to Earning Ratio (PER) menerangkan perbandingan harga pasar dari setiap lembar saham terhadap EPS, sedangkan Deviden per Share (DPS) menjelaskan besarnya deviden yang diterima oleh pemodal dari setiap lembar saham.

1. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu. Bagi para analis laporan keuangan merupakan media yang paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomis suatu perusahaan. Sofyan Safri Harahap ( 1998 : 105 ).

2.Jenis Laporan Keuangan
Weston & Copeland ( 1995 : 25 ) mengatakan dalam bukunya, bahwa gambaran yang lengkap tentang aktivitas akuntansi keuangan suatu perusahaan selama satu tahun terdiri dari tiga laporan keuangan dasar, yaitu :
Neraca awal tahun memberikan gambaran tentang perusahaan pada permulaan tahun pajaknya, ditambah neraca akhir tahun yang memberikan gambaran tentang harta dan hutang akhir.
Perhitungan rugi laba menunjukkan arus pendapatan dan beban atau biaya selama interval antara neraca awal dan akhir periode.
Laporan arus kas merinci sumber – sumber perubahan kas dan ekuivalen kas selama interval waktu yang sama dengan perhitungan rugi laba.

3. Tujuan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi ( Dwi Prastowo ; 1995 : 5 ).
Informasi mengenai posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan sangat diperlukan untuk dapat melakukan evaluasi atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas ( dan setara kas ), dan waktu serta kepastian dari hasil tersebut. Posisi keuangan perusahan dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas dan solvabilitas serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
Informasi mengenai kinerja perusahaan, terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan dimasa depan, sehingga dapat memprediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan kas ( setara kas ) serta untuk merumuskan efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.
Informasi perubahan posisi keuangan bermanfaat untuk menilai aktivitas investasi, pendanaan dan operasi perusahaan selama periode pelaporan. Selain berguna untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mengahasilkan kas dan setara kas, informasi ini juga berguna untuk menilai kebutuhan persahaan dalam memanfaatkan arus kas tersebut.
Laporan keuangan yang disusun untuk memenuhi tujuan – tujuan tersebut memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Meskipun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang dibutuhkan pemakai dalam proses pengambilan keputusan ekonomi mereka. Selain untuk tujuan – tujuan tersebut, laporan keuangan juga menunjukkan apa yang telah dilakukan oleh manajemen atau menggambarkan pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menganalisis saham. Tetapi pada garis besarnya cara – cara tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu analisis teknikal dan analisis fundamental. Analisis teknikal menggunakan data ( perubahan ) harga dimasa yang lalu sebagai upaya untuk memperkirakan harga sekuritas dimasa yang akan datang. Analisis fundamental berupaya mengidentifikasikan prospek perusahaan ( lewat analisis terhadap faktor – faktor yang mempengaruhinya ) untuk bisa memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang ( Suad Husnan ; 1996 : 40 ).
Sedangkan menurut Sunariyah ( 1997 : 86 – 99 ) ada dua pendekatan yang paling banyak dipergunakan, yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan portofolio modern.
1) Pendekatan tradisional.
Untuk menganalisis surat berharga saham dengan pendekatan tradisional digunakan dua analisis, yaitu :

a) Analisis Teknikal.
Analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu maupun pasar secara keseluruhan. Pendekatan analisis ini menggunakan data pasar yang dipublikasikan, seperti : harga saham, volume perdagangan , indeks harga saham gabungan dan individu, serta faktor – faktor lain yang bersifat teknis. Oleh sebab itu pendekatan ini juga disebut pendekatan analisis pasar ( market analisis ) atau analisis internal ( internal analisis ). Asumsi yang mendasari analisis teknikal adalah ;
 Terdapat ketergantungan sistimatik ( sistematic dependencies ) dalam keuntungan ( return ) yang dapat dieksploitasi ke return abnormal.
 Pada pasar tidak efisien, tidak semua informasi harag dimasa lalu diamati ketika memprediksi distribusi return ( keuntungan ) sekurutas.
 Nilai suatu saham merupakan fungsi permintaan dan penawaran.
Beberapa kesimpulan menyangkut pendekatan analisis teknikal adalah sebagai berikut :
i) Analisis teknikal didasarkan pada data pasar yang dipublikasikan.
ii) Fokus analisis teknikal adalah ketepatan waktu, penekanannya hanya pada perubahan harga.
iii) Teknik analisa berfokus pada faktor – faktor internal melalui analisis pergerakan didalam pasar dan atau saham.
iv) Para analisis teknikal cenderung lebih berkonsentrasi pada jangka pendek, karena teknik – teknik analisa teknikal dirancang untuk mendeteksi pergerakan harga dalam jangka waktu yang relatif pendek.
Sasaran yang ingin dicapai pada pendekatan ini adalah ketepatan waktu dalam memprediksi pergerakan harga ( price movement ) jangka pendek suatu saham. Para analisis teknikal lebih menekankan perhatian dan perubahan harga daripada tingkat harga, oleh sebab itu analis lebih ditekankan untuk meramal trend perubahan harga tersebut. Ada beberapa teknik analisis yang dapat digunakan dalam pendekatan teknikal ini, antara lain adalah trend analisis, ini mengasumsikan bahwa perilaku harga dimasa lalu bisa direfleksikan dalam harga dimasa yang akan datang.

b) Pendekatan analisis fundamental.
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa setiap saham memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik inilah yang diestimasi oleh para investor atau analis. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari variabel – variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu return ( keuntungan ) yang diharapkan dan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Hasil estimasi nilai intrinsik kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang ( current market price ). Harga pasar suatu saham merupakan refleksi dari rata – rata nilai intrinsiknya. Ada dua pendekatan yang umumnya digunakan dalam melakukan penilaian saham, yaitu pendekatan laba ( price earning ratio ) dan pendekatan nilai sekarang ( present value approach ).
2) Pendekatan portofolio modern.
Pendekatan portofolio menekankan pada aspek psikologis bursa dengan asumsi hipotesis mengenai bursa, yaitu hipotesis pasar efisien. Pasar efisien diartikan bahwa harga – harga saham yang terefleksikan secara menyeluruh pada suatu informasi yang ada dibursa.
Terlepas dari pendekatan fundamental mana yang digunakan, bila seorang investor atau analis ingin menggunakan pendekatan analisis secara cermat, maka dia memerlukan kerangka kerja ( frame work ). Kerangka kerja tersebut berupa tahapan analisis yang harus dilakukan secara sistematik, yang terdiri dari :
a) Analisis ekonomi.
Analisis ekonomi bertujuan untuk mengetahui jenis atau prospek bisnis suatu perusahaan.
b) Analisis industri.
Dalam analisis industri perlu diketahui kelemahan dan kekuatan jenis industri perusahaan yang bersangkutan.

1. Pengertian saham
Panji Anoraga (1995 : 51) Saham, merupakan tanda penyertaan modal pada suatu perseroan terbatas. Dengan memiliki saham suatu perusahaan, maka manfaat yang diperoleh diantaranya:
- Deviden, bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemilik saham.
- Capital gain, adalah keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dengan harga belinya.
- Manfaat non finansial yaitu timbulnya kebanggaan dan kepuasan memperoleh hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan.

Sawidji (1996 : 43) menyatakan bahwa secara sederhana, saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan. William H. Pike, 1989 (dalam Sawidji, 1996 : 43) mengemukakan bahwa selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik (berapapun porsinya) dari suatu perusahaan yang menrbitkan kertas (saham) tersebut, sesuai porsi kepemilikannya yang tertera pada saham.

2. Jenis–Jenis Saham
Panji Anoraga (1995 : 52), dari berbagai jenis saham yang dikenal dibursa yang diperdagangkan yaitu saham biasa (common stock) dan saham preferen (prefered stock).
Saham biasa, adalah saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Pemegang saham bisa mempunyai hak untuk memperoleh deviden sepanjang perseroan memperoleh keuntungan. Pemilik saham mempunyai hak suara pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) sesuai dengan jumlah saham yang dimilikinya (one share one vote). Pada likuidasi perseroan, pemilik saham memiliki hak memperoleh sebagian dari kekayaan perusahaan setelah semua kewajiban dilunasi.
Saham preferen, merupakan saham yang memberikan hak untuk mendapatkan deviden dan / atau bagian kekayaan pada saat perusahaan dilikuidasi terlebih dahulu dari saham biasa, disamping itu mempunyai preferensi untuk mengajukan usul pencalonan direksi / komisaris. Saham preferen mempunyai ciri–ciri yang merupakan gabungan dari hutang dan modal sendiri (debt and equity). Ciri–ciri yang penting dari saham preferen adalah :
(a) Hak utama atas deviden.
Pemegang saham preferen mempunyai hak lebih dulu untuk menerima deviden.
(b) Hak utama atas aktiva perusahaan.
Dalam hak likuidasi, pemegang saham preferen berkedudukan sesudah kreditur biasa tetapi sebelum pemegang saham biasa.
(c) Penghasilan tetap.
Penghasilan bagi para pemegang saham preferen biasanya berupa jumlah yang tetap.
(d) Jangka waktu yang tidak terbatas.
Umumnya saham preferen dikeluarkan untuk jangka waktu yang terbatas akan tetapi dapat juga pengeluaran saham preferen dilakukan dengan sarat bahwa perusahaan mempunyai hak untuk membeli kembali saham preferen tersebut dengan suatu harga tertentu.
(e) Tidak mempunyai hak suara.
Umumya para pemegang saham preferen tidak mempunyai suara dalam rapat umum pemegang saham. Kalaupun hak suara diberikan, biasanya dibatasi pada hal–hal yang ada sangkut pautnya dengan manajemen perusahaan.
(f) Saham preferen kumulatif.
Dalam hal ini deviden yang tidak terbayar pada para pemegang saham preferen tetap menjadi hutang perusahaan dan harus dibayar dalam tahun tersebut atau tahun–tahun berikutnya bilamana perusahaan memperoleh laba yang mencukupi. Tunggakan–tunggakan pada para pemegang saham preferen tersebut harus dilunasi perusahaan terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa mendapat pembagian deviden.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.