Arsip

Madrasah


Madrasah sebagai sekolah umum yang berciri khas agama Islam
Meskipun madrasah memiliki posisi dan kedudukan yang sama dengan sekolah umum, tetapi madrasah tetap mempertahankan ciri khasnya sebagai sekolah Islam. Sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam dituntut untuk selalu mengadakan upaya-upaya pengembangan dengan konteks zamannya, terutama dalam menghadapi kebijakan pembangunan Nasional di bidang pendidikan yang menekankan pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia. Upaya pengembangan tersebut harus dilakukan secara utuh, tidak parsial atau setengah-setengah, semuanya diorientasikan untuk menciptakan manusia yang berkualitas yang ditandai dengan kepemilikan dua kompetensi sekaligus, yaitu kompetensi bidang Iman dan Taqwa (IMTAQ)) dan kompetensi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Ciri khas yang masih dipertahankan oleh madrasah adalah berbentuk (1) mata pelajaran-mata pelajaran keagamaan yang dijabarkan dari pendidikan agama Islam, yaitu: al-Qur’an hadits, aqidah akhlak, fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, dan bahasa arab; (2) suasana keagamaannya, yang berupa suasana kehidupan madrasah yang agamis, adanya sarana ibadah, penggunaan metode pendekatan yang agamis dalam penyajian bahan pelajaran bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan; dan kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, disamping memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar berdasar ketentuan yang berlaku.

Dengan ciri khas tersebut pendidikan madrasah dirancang dan diarahkan untuk membantu, membimbing, melatih serta mengajar dan/ atau menciptakan suasana agar para siswa (lulu sannya) menjadi manusia muslim yang berkualitas. Dalam arti mampu mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup yang perspektif Islami dan kontek keindonesiaan. Makna pendidikan Islami sebagai aktivitas (formal dan non formal) dan sebagai fenomena peristiwa (informal) semuanya termuat dan perlu terkondisikan di madrasah.pemahaman manusia berkualitas dalam khazanah pemikiran Islam sering disebut sebagai insan kamil (Zarkowi Soejoeti, 1987), yang mempunyai sifat-sifat : manusia yang selaras : (jasmani-rohani, duniawi-ukhrawi), manusia nazhar dan I’tibar (kritis, berijtihad, dinamis, bersikap ilmiah dan berwawasan ke depan) serta manusia yang memakmurkan bumi.

Jika ditelaah lebih mendalam ciri khas agama Islam tersebut di atas, maka pada ciri khas yang pertama, mengandung makna bahwa pendidikan agama Islam di madrasah bukan hanya didekati secara keagamaan, tetapi juga didekati secara keilmuan. Pendekatan keagamaan mengasumsikan perlunya pembinaan dan pengembangan komitmen (pemihakan) terhadap ajaran agama Islam sebagai pandangan hidup muslim. Sedangkan pendekatan keilmuan mengasumsikan perlunya kajian kritis, rasional, obyektif-empirik dan universal terhadap masalah keagamaan Islam.

Kedua pendekatan tersebut akan sulit tercipta di madrasah bilamana tidak didukung oleh komitmen akademis-religius atau personal dan profesional religius dari para pengelola dan pembinanya. Bisa jadi pendekatan keilmuan akan tertindih oleh pendekatan keagamaan, sehingga penjabaran mata pelajaran pendidikan agama Islam ke dalam sub-sub mata pelajaran tersebut akan kehilangan makna. Jika demikian maka tidak ada bedanya antara pendidikan agama Islam yang dilakukan di madrasah dengan non madrasah, atau dengan di masyarakat atau di masjid dan mushalla, dan jika memang demikian adanya maka sebaiknya diserahkan saja pendidikan agama itu kepada masjid-masjid atau TPA-TPQ, majlis ta’lim di masjid, mushalla dan seterusnya. Atau sebaliknya bisa jadi pendekatan keagaman tertindih oleh pendekatan keilmuan, sehingga pendidikan agama Islam menjadi Islamologi yang hanya menekankan pada intelectual exercise dan suasana religius tidak tercapai di madrasah. Dengan demikian gagal menjadikan madrasah sebagai sekolah yang berciri khas agama Islam.
Pada ciri khas yang kedua, mengandung makna perlunya penciptaan suasana religius di madrasah. Suasana religius bukan hanya bermakna simbolik seperti dalam berpakaian siswanya (puteri) memakai jilbab dan siswa putera memakai celana panjang, bila berjumpa dengan orang lain mengucapkan salam (assalamu’alaikum) dan seterusnya, tetapi lebih jauh dari itu berupa penanaman dan pengembangan nilai-nilai religius (keIslaman) pada setiap bidang pelajaran yang termuat dalam program pendidikannya. Konsekuensinya diperlukan guru-guru yang mampu mengintegrasikan wawasan imtaq dan iptek, diperlukan buku teks yang bernuansa religius dan bermuatan pesan-pesan agamis pada setiap bidang atau mata pelajaran yang diprogramkan.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Berbagai program telah diupayakan untuk meningkatkan kinerja Madrasah. Pada periode H.A.Mukti Ali (mentri Agama RI ), ditawarkan konsep alternatif pengembangan madrasah melalui kebijakan SKB tiga mentri, yaitu Mnedikbud, mentri dalam Negeri, dan mentri agama No.6 tahun 1973, No. 037/u/1976 dan No.36 tahun 1975 tentang peningkatan mutu pendidikan Madrasah. SKB menetapkan bahwa standar pelajaran umum pada madrasah sama dengan sekolah umum, ijazahnya mempunyai nilai sama dengan sekolah umum. Dan lulusannya dapat melanjutkan ke sekolah umum setingkat lebih atas dan siswa madrasah dapat berpindah ke sekolah Umum yang setingkat, lulusan Madrasah Aliyah dapat melanjutkan ke Perguruan Tinggi Umum dan agama.

Kebijakan SKB tiga mentri tersebut, pada dasarnya ingin mendobrak pemahaman masyarakat yang bernada sumbang terhadap eksistensi madrasah, dimana ia selalu didudukkan dalam posisi marginal, karena ia hanya berkutat pada kajian keagamaan Islam dan miskin pengetahuan umum, sehingga output-nya pun kurang diperhitungkan dalam masyarakat. Dengan munculnya SKB tiga mentri, rupanya masyarakat mulai memahami eksistensi madrasah tersebut dalam konteks pendidikan Nasional. Hanya saja pengaruh dari SKB tersebut belum banyak ditangkap oleh para pembina dan pengelola madrasah itu sendiri. Posisi 70 % pengetahuan umum dan 30 % pengetahuan agama hanya dipahami secara simbolik-kuantitatif dan bukan subtansial kualitatif (Muhaimin; 1997) sehingga outputnya menjadi mandul, penguasaan pengetahuan umum masih dangkal dan pengetahuan agamanya pun tidak jauh berbeda.

Sebagai akibat dari kedangkalan pengetahuan agama dari lulusan madrasah, maka periode Munawir sadjali (mantan Menag. RI) mencoba menawarkan MAPK (Madrasah Aliyah Program Khusus) untuk menjawab problem kelangkaan ulama’ dan atau kelangkaan umat yang menguasai kitab-kitab berbahasa arab serta ilmu-ilmu keIslaman. Lulusan madrasah madrasah diharapkan mampu menjawab masalah tersebut sehingga sekarang ditetepkan sebagai Madrasah Aliyah Keagamaan (MAPK / MAK). Dan sebagai akibat dari kemandulan keilmuan yang dimiliki output madrasah, maka pada masa periode Tarmidzi Taher sebagai mentri Agama, mencoba menawarkan kebijakan “Madrasah sebagai sekolah yang berciri khas Islam” yang muatan kurikulumnya sama dengan sekolah non Madrasah.

Sebagaimna tertuang dalam kurikulum madrasah tahun 1994, bahwa madrasah adalah sekolah yang berciri khas agama Islam. Ciri khas itu berbentuk (1) mata pelajaran-mata pelajaran keagamaan yang dijabarkan dari pendidikan agama Islam, yaitu: al-Qur’an hadits, aqidah akhlak, fiqh, Sejarah Kebudayaan Islam, dan bahasa arab; (2) suasana keagamaannya, yang berupa suasana kehidupan madrasah yang agamis, adanya sarana ibadah, penggunaan metode pendekatan yang agamis dalam penyajian bahan pelajaran bagi setiap mata pelajaran yang memungkinkan; dan kualifikasi guru yang harus beragama Islam dan berakhlak mulia, disamping memenuhi kualifikasi sebagai tenaga pengajar berdasar ketentuan yang berlaku.

Kini, posisi madrasah sudah benar-benar sama dan sejajar dengan sekolah pada umumnya, karena pemerintah melalui PP no 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No 22, 23, 24 tahun 2006, telah memberikan standarisasi baik isi, proses, pengelolaan dan penilaian terhadap semua bentuk dan jenis pendidikan formal di Indonesia mulai dari tingkat dasar sampai pendidikan tinggi baik yang berupa sekolah umum maupun madrasah.

Berdasarkan arah dan bentuk pengembangannya, madrasah dikategorikan dalam 4 jenis yaitu: Pertama, madrasah biasa yakni madrasah yang berjalan seperti biasa, sederhana dan dilakukan apa adanya, madrasah dalam bentuk ini sangat banyak jumlahnya yang tersebar di seluruh propinsi. Kedua, Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yakni madrasah yang menitik beratkan pada pengembangan dan pendalaman ilmu-ilmu keagamaan. Ketiga madrasah ketrampilan, yakni madrasah yang menitik beratkan pada pengembangan skill atau keahlian dalam bidang-idang tertentu, sama halnya dengan Sekolah Menengah Kejutruan (SMK), dan kekempat, madrasah model yakni madrasah yang memiliki standar tertentu dari segi sarana prasarana jumlah dan kualifikasi tenaga guru dan lain-lainnya untuk dijadikan model atau perconntohan agar dapat mengimbas pada madrasah–madrasah lain

Sampai saat ini jumlah madrasah di Indonesia cukup signifikan, yaitu sebanyak 72.650 buah, tetapi dari sekian ribu madrasah tersebut sebagian besar kondisinya masih cukup memprihatinkan. Sebab itu menjadi tanggung jawab bersama untuk melakukan inovasi dan pengembangan lembaga madrasah ini karena keberadaannya sebagai sub sistem pendidikan nasional mempunyai peran yang sama dengan lembaga pendidikan lain, yakni berusaha meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Menurut H.A.R. Tilaar (2000: 164-179) perlu diupayakan reposisi pendidikan madrasah agar sesuai dengan paradigma baru tuntutan dan harapan masyarakat dan pembangunan bangsa.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Kata madrasah diambil dari akar kata darasa yang berarti belajar. Madrasah adalah isim makan dari kata ini sehingga berarti tempat untuk belajar. Istilah madrasah sering diidentikkan dengan istilah sekolah atau semacam bentuk perguruan yang dijalankan oleh sekelompok atau institusi umat Islam (Zaki Badawi, 1980:229). Secara umum madrasah juga sama dengan sekolah-sekolah lain, yaitu lembaga pendidikan yang menggunakan sistem klasikal dan kelas dengan segala fasilitasnya seperti kursi, meja dan papan tulis, kecuali aspek tradisi dan kurikulum yang dilaksanakan. Meskipun sekarang posisi madrasah secara yuridis sama terutama dalam aspek kurikulum (lihat Permendiknas no. 22, 23, 24 tahun 2006), tetapi madrasah secara umum masih mempertahankan ciri khasnya sebagai sekolah yang berciri khas Islam.

Madrasah sebagai salah satu bentuk kelembagaan pendidikan Islam memiliki sejarah yang sangat panjang. Menurut Syalabi (1987: 43) madrasah pertama kali dirikan pada tahun 459 H oleh Nizam al-Mulk di Baghdad, bahkan menurut Hasan Abd ‘Al (1988; 210) madrasah telah lebih awal berdiri pada abad keempat Hijriyah di Naisabur. Munculnya pendidikan madrasah pada awalnya selain dilatarbelakangi oleh motivasi agama dan motivasi ekonomi, juga motivasi politik. Sebab itu kelembagaan madrasah merupakan formalisasi yang dilakukan pemerintah terhadap sistem pendidikan informil yang telah ada sebelumnya, sisi lain ialah adanya ketentuan-ketentuan yang lebih jelas yang berkaitan dengan komponen-komponen pendidikan dan keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan madrasah.

Dengan demikian keberadaan madrasah pada waktu itu merupakan tonggak baru dalam penyelenggaraan pendidikan Islam yang banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan dunia pendidikan pada masa-masa berikutnya, termasuk perkembangan pendidikan di dunia Barat. Abd Ghani Abud (dalam Maksum, 1999: 75) mengatakan “pendirian universitas-universitas di Barat adalah sebagai hasil inspirasi dan pengaruh madrasah (Nidzamiyah)”. George Makdisi (dalam Studia Islamica 32: 1970: 255-264) juga membuktikan, bahwa tradisi akademik Barat secara historis mengambil banyak keuntungan dari tradisi madrasah.

Di Indonesia, madrasah merupakan fenomena moderen yang dimulai sekitar awal abad ke-20. Tidak ada kejelasan hubungan madrasah abad ke 11-12 di timur tengah dengan munculnya madrasah di Indonesia pada awal abad ke-20. Sejarah pertumbuhan madrasah di Indonesia, jika dikembalikan pada situasi awal abad ke-20, dianggap sebagai memiliki latar belakang sejarahnya sendiri, walaupun sangat dimungkinkan ia merupakan konsekuensi dari pengaruh intensif pembaharuan pendidikan Islam di timur tengah masa moderen. Hal tersebut seperti ditegaskan IP Simanjuntak (1972/1973: 24) bahwa masuknya agama Islam tidak mengubah hakekat pengajaran agama yang formil, yang berubah ialah isi agama yang dipelajari, bahasa yang menjadi wahana bagi pelajaran agama itu, serta latar belakang pelajar-pelajar, jadi masih tetap menganut pola hindu. Sejalan dengan itu penelitian Karel Steenbrink (1994) mengindikasikan bahwa pendidikan Islam berevolusi dari pesantren, madrasah dan kemudian sekolah, sebab itu madrasah di Indonesia dianggap sebagai perkembangan lanjut atau pembaharuan dari lembaga pendidikan pesantren dan surau.

Keberadaan madrasah seperti sekarang ini merupakan akumulasi berbagai macam budaya dan tradisi pendidikan yang berkembang di Indonesia. Mulai dari tradisi pra-sejarah atau tradisi asli, tradisi Hindu-Budha, tradisi Islam, dan tradisi barat atau moderen (Malik Fadjar, 1998:19). Oleh sebab itu madrasah telah menjadi salah satu wujud entitas budaya bangsa Indonesia yang telah menjalani proses sosialisasi yang relatif intensif, dan dalam waktu yang cukup panjang itu telah memainkan peran tersendiri dalam panggung pembentukan peradaban bangsa.

Sebelum terbentuk sistem madrasah, pada awalnya proses pendidikan dan pengajaran dilaksanakan di masjid dan pesantren. Setelah terbuka dan semakin kuatnya proses pembentukan “Intellectual Webs” (jaringan intelektual) di kalangan umat Islam dengan Haramain sebagai sumber tempat yang “asli”, nuansa mistik yang kental di pondok pesantren lambat laun semakin berkurang dan bergerak ke arah proses ortodoksi, atau oleh pengamat peradapan di Indonesia menyebut adanya proses bergerak dari Islam yang bercorak mistik menuju ke Islam Sunni (Malik Fadjar, 1998: 22). Disisi lain juga terjadi proses perubahan isi pembelajaran di dalam format-format pembelajaranya. Persentuan “global” dengan pusat Islam di Haramain memungkinkan para pelaku pendidikan Islam melihat sistim pembelajaran yang lebih terprogram. Maka tumbuh dan berkembanglah pola pembelajaran pelajaran Islam yang dikelola denggan sistim “Madrasi”. Sebagaimana dimaklumi bahwa sistim madrasah pertama kali didirikan dan diperkenalkan di dunia Islam adalah madrasah Nidzamiyah di baghdad yang didirikan oleh perdana mentri Nidzamul Mulk (1018/1019-10992), seorang penguasa Bani saljuk pada abad II yang salah seorang gurunya adalah Imam Ghazali (ensiklopedia Islam; 3:1994) kemudian sistem madrasah ini berkembang ke berbagai kota di negeri Islam antara lain di Kairo (Mesir) berdiri perguruan al-Azhar, di Spayol berdiri perguruan Cordoba dan di India berdiri madrasah Deoban. Dari sini dapat diketahui bahwa madrasah yang kita temukan di Indonesia bukanlah suatu yang indigenius (pribumi) dalam peta dunia pendidikan di Indonesia, dan juga sebagaimana yang ditunjukkan oleh kata “madrasah” itu sendiri yang berasal dari bahasa Arab, secara harfiah kata ini setara maknanya dengan “sekolah”. Berbeda dengan pesantren, yang oleh para peneliti/ilmuwan dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam yang memiliki watak indigenius (A.Malik Fadjar, 1998:20).

Dilihat dari pengelolaannya, pendidikan sistem madrasah ini memungkinkan cara pembelajaran secra klasikal. Hal ini berbeda dengan cara yang berkembang di pondok pesantren yang lebih bersifat individual seperti yang terdapat pada sistem sorogan dan wetonan. Pengelolaan sistem madrasi juga memungkinkan adanya pengelompokan pelajaran-pelajaran tentang pengetahuan Islam yang penyampaiannya dilakukan secara bertingkat-tingkat. Pengelompokan ini sekaligus memperhitungkan rentang waktu yang dubutuhkan. Sehingga secara tehnis, sistem madrasi berusaha mengorganisasikan kegiatan kependidikannya dengan sistem kelas-kelas berjenjang dengan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pelajaran yang sudah dipolakan.

Format madrasah dari waktu ke waktu semakin jelas sosoknya, sementara isi dan visi keIslaman terus mengalami perubahan, seiring dengan semakin kuatnya kontak dengan dunia luar terutama dengan negara-negara Islam dan juga dipengaruhi oleh kolonialisasi di nusantara ini yang berabad-abad lamanya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Sekolah modern/unggul didasari oleh visi bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional yang bermuara kepada tujuan pembangunan nasional memerlukan usaha-usaha yang sistematis, terarah dan intens dalam menggali dan mengembangkan potensi manusia Indonesia secara maksimal sehingga dapat menjadi bangsa yang maju, sejahtera, damai, dengan berdasarkan Pancasila, serta dihormati dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain dalam percaturan global.

Berdasarkan landasan awal tersebut maka visi madrasah tsanawiyah modern/unggul meliputi tiga karakteristik yaitu; populis, Islam dan berkualitas. Visi populis mengisyaratkan bahwa madrasah tsanawiyah harus senantiasa memikirkan dan melibatkan diri sepenuhnya pada kepentingan masyarakat sekelilingnya.

Visi islami adalah sebagai konsekuensi bahwa madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas Agama Islam, maka cara memandang sistem pendidikannya baik ditinjau dari masukan, proses, luaran dan hasil harus menggunakan pendekatan yang islami dalam arti memuat nilai-nilai Islam. Sedangkan pengembangan kualitas secara terus menerus harus selalu menjadi arah setiap pengambilan keputusan dan penentuan kriteria keberhasilan lembaga ini beserta komponennya terutama kelembagaan. Kurikulum/sistem pembelajaran, tenaga kependidikan, iklim madrasah serta keterlibatan orang tua siswa dan masyarakat.

Berdasarkan visi tersebut, maka misi madrasah sebagai sekolah unggul adalah meningkatkan dan mengembangkan potensi sumberdaya manusia yang populis, Islami dan berkualitas sebagai subjek pembangunan dalam mencapai tujuan nasional melalui lembaga pendidikan.

Acuan dasar dari tujuan umum sekolah unggul adalah tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam GBHN dan UUSPN yaitu menghasilkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggungjawab, produktif, sehat jasmani dan rohani, memiliki semangat kebangsaan, cinta tanah air, kesetiakawanan sosial, kesadaran akan sejarah bangsa dan sikap menghargai pahlawan, serta berorientasi masa depan.

Berdasarkan acuan dasar secara umum tersebut, maka secara khusus dapat dirumuskan bahwa sekolah modern/unggul bertujuan untuk menghasilkan keluaran pendidikan yang memiliki keunggulan dalam hal keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, nasionalisme dan patriotisme yang tinggi, wawasan Iptek yang mendalam dan luas, motivasi dan komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi dan keunggulan, kepekaan sosial dan kepemimpinan serta disiplin yang tinggi dan ditunjang oleh kondisi fisik yang prima.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com

Untuk mencapai predikat sekolah unggul maka masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.

Format sekolah unggul harus sesuai dengan lima strategi kebijakan pendidikan nasional, yaitu (1) aspek pemerataan kesempatan pendidikan yang bermakna, persamaan kesempatan, aksesibilitas dan keadilan, (2) aspek relevansi yang bermuatan kepatutan dan kesepadanan dengan kebutuhan pembangunan, (3) aspek kualitas pendidikan yang merujuk kepada kualitas proses dan produk pendidikan, (4) aspek efektivitas penggunaan sumberdaya yang dimiliki, nilai strategi dan memacu keterlibatan seluruh lapisan masyarakat tidak terkecuali dunia swasta, dan (5) berwawasan pada kultur dan kepribadian bangsa yang perlu dijadikan landasan hidup bermasyarakat dan bernegara, walaupun era global telah melanda di seluruh pelosok dunia.

Depdikbud mengemukakan dimensi-dimensi keunggulan sebagai ciri sekolah unggul adalah sebagai berikut:
1. Masukan (input) yaitu siswa yang terseleksi ketat dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria yang dimaksud adalah; (a) prestasi belajar superior dengan indikator nilai rapor, nilai Ebtanas Murni (NEM), dan hasil tes prestasi akademik, (b) skor psikotes yang meliputi intelegensi dan kreativitas, (c) tes fisik jika diperlukan.
2. Sarana dan prasarana yang menunjang untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa serta menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam kegiatan kurikuler maupun ekstrakurikuler.
3. Lingkungan belajar yang kondusif untuk berkembangnya potensi keunggulan yang nyata baik lingkungan fisik maupun sosial psikologis.
4. Guru dan tenaga kependidikan yang menangani harus unggul baik dari penguasaan materi pelajaran, metode mengajar, maupun komitmen dalam melaksanakan tugas. Untuk itu perlu disediakan insentif tambahan bagi guru berupa uang maupun fasilitas lainnya.
5. Kurikulumnya diperkaya dengan pengembangan dan improvisasi secara maksimal sesuai dengan tuntutan belajar peserta didik yang memiliki kecepatan belajar serta motivasi belajar yang lebih tinggi dibanding dengan siswa yang seusianya.
6. Kurun waktu belajarnya, lebih lama dibanding dengan sekolah lain. Karena bertambahnya materi kurikulum dan atau waktu pembelajaran di luar jam belajar yang telah ditetapkan.
7. Proses belajar mengajar harus berkualitas dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan (accountable) baik kepada siswa, lembaga maupun masyarakat.
8. Sekolah modern/unggul tidak hanya memberikan manfaat kepada peserta didik di sekolah tetapi memiliki resonansi sosial kepada lingkungan sekitarnya.

Sejalan dengan dimensi keunggulan ini, maka untuk melihat karakteristik umum madrasah unggul meliputi;
(1) institusi madrasah yang efektif, baik ditinjau dari pencapaian tujuan maupun proses dan pendayagunaan sumber daya,
(2) memiliki kurikulum dengan landasan yang kuat, strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi, berbagai program yang mengembangkan akademik, bakat, minat dan kreativitas siswa serta tujuan dan standar kompetensi yang tinggi,
(3) memiliki kepala madrasah yang kapabel, sebagai administrator, organisator, penanam nilai, katalis, humanis dan rasionalis, serta dapat mengembangkan budaya, memilih strategi yang tepat dan mengelola perubahan yang terjadi,
(4) memiliki guru yang berkompetensi memadai baik secara personal, professional maupun sosial,
(5) iklim madrasah yang baik; dalam arti terdapat hubungan yang harmonis antara guru, kepala sekolah, staf, siswa dan orang tua siswa,
(6) memiliki program evaluasi yang mantap baik untuk mendiagnosis pembelajaran siswa, kemajuan siswa, maupun keefektifan program instruksional dengan standar performasi yang tinggi,
(7) keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam menunjang fasilitas pendidikan demi keberhasilan program madrasah.

Selain dari ciri-ciri tersebut di atas, nilai lebih dari sekolah modern/unggul dapat pula dilihat dari perlakuan tambahan diluar kurikulum nasional melalui pemgembangan kurikulum, program pengayaan, pengajaran remedial, pelayanan bimbingan dan konseling yang berkualitas, pembinaan kreativitas dan kedisiplinan.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com

Madrasah unggul adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (out put) pendidikan. Kehadiran sekolah unggul merupakan reaksi dari strategi pendidikan bersifat massal-konvensional yaitu dengan cara memberikan perlakuan dan pelayanan yang sama kepada semua peserta didik tanpa memperhatikan perbedaan kecakapan, minat dan bakatnya. Strategi ini dinilai kurang mampu menunjang usaha mengoptimalkan pengembangan potensi sumber daya manusia yang cepat.

Munculnya kemodernan terjadi secara acak dan sangat bergantung kepada motivasi belajar setiap peserta didik serta lingkungan belajar dan mengajarnya. Maka dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekitar sepertiga peserta didik yang digolongkan sebagai siswa berbakat mengalami gejala “prestasi kurang” dan salah satu penyebabnya adalah lingkungan belajar yang kurang kondusif untuk mewujudkan kemampuan siswa secara optimal.

Maka dengan pengembangan sekolah modern/unggul dimungkinkan akan memberi peluang bagi semua peserta didik untuk berprestasi secara optimal dan memacu pemerataan mutu pendidikan nasional. Dengan demikian kehadiran strategi madrasah/sekolah modern dapat mengimbangi kekurangan yang terdapat pada strategi massal-konvensional serta dapat membekali peserta didik dengan pengalaman belajar yang berkualitas, dengan sendirinya mereka mempunyai peluang yang lebih besar untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan pilihannya.

Antara strategi massal dan strategi sekolah modern/unggul sebenarnya memiliki banyak kesamaan dalam pelaksanaannya. Berdasarkan alasan-alasan tersebut, maka perlu dikemukakan sekolah-sekolah modern dengan manajemen yang tertata rapi, sehingga membawa hasil yang maksimal.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com

Kata modernisasi menurut Peter Salim dan Yenny Salim, memiliki arti yaitu proses, cara, atau perbuatan pergeseran atau peralihan sikap dan mentalitas. Modernisasi bisa juga berarti, yaitu pemodernan, atau memodernkan. Kata madrasah dilihat dari segi gramatika bahasa Arab merupakan bentuk kata keterangan tempat (dzaraf makan) dari akar kata darasa. Secara harfiah, kata madrasah adalah sebagai tempat belajar para pelajar, atau tempat untuk memberikan pelajaran. Sedangkan Malik Fadjar berpendapat bahwa kata madrasah yang berasal dari bahasa Arab itu mempunyai konotasi dengan arti “sekolah”, sekalipun bentukan kata “sekolah” bukan murni produk bangsa Indonesia, tetapi dari bahasa asing, yaitu school atau scola. Sebab menurutnya madrasah mengandung arti tempat atau wahana bagi anak dalam mengenyam proses pembelajaran secara terarah, terpimpin dan terkendali.

Secara teknis, maka madrasah menggambarkan proses pembelajaran secara formal yang tidak berbeda dengan sekolah. Hanya saja secara kultural madrasah lebih memiliki konotasi spesifik karena peserta didik mengalami pembelajaran tentang hal-ihwal agama dan keagamaan. Sebagai kelanjutannya, kata madrasah lebih dikenal sebagai sekolah agama.

Sebagai sekolah agama, karena secara sosiologis masyarakat muslim Indonesia tidak menterjemahkan kata “madrasah” ke dalam bahasa Indonesia, sehingga masyarakat lebih memahaminya sebagai lembaga pendidikan Islam, yakni “tempat untuk belajar agama” atau “tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan”.

Keberadaan madrasah sebagai lembaga pendidikan Islam di Indonesia, menurut para ahli pendidikan, khususnya dalam bidang sejarah pendidikan Islam, seperti Azyumardi Azra, Maksum, Hasbullah, Steenbrink, Nakosteen, dan lain-lain, sebenarnya bukan merupakan satu mata rantai sejarah tumbuh dan berkembangnya madrasah di masa Islam Klasik. Tetapi madrasah di Indonesia muncul sebagai kelanjutan logis lembaga pendidikan Islam sebelumnya, khususnya Jawa, yaitu pesantren. Pandangan ini, diperkuat oleh suatu kenyataan bahwa masuknya Islam ke Nusantara, baik gelombang pertama (abad ke-7 M) maupun gelombang kedua (abad ke-13 M) tidak diikuti oleh muncul atau berdirinya madrasah. Dengan alasan itu pula, maka secara historis menurut Nurcholish Madjid, pesantren seringkali disebut tidak hanya identik dengan makna keislaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (indigenous).

Dengan demikian, pertumbuhan madrasah di Indonesia dianggap sebagai memiliki latar belakang sejarahnya sendiri, bukan madrasah dalam tradisi pendidikan Islam masa klasik (abad ke -11-12 M) seperti di Timur Tengah; tetapi sangat dimungkinkan ia merupakan konsekuensi logis dari pengaruh intensif pembaruan pendidikan Islam di Timur Tengah (dan dunia Islam) pada masa modern atau sekitar awal abad ke-20 M. Dari perjalanan kelembagaan pendidikan Islam tersebut, berangsur-angsur madrasah mengalami modernisasi sistem pendidikan, terutama pola pembelajarannya yang dikelola dengan sistem “madrasi”, yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan “madrasah”.

Karena itu sejak kemunculannya madrasah di Indonesia sudah mengadopsi sistem sekolah modern dengan ciri-ciri digunakannya sistem kelas, pengelompokan pelajaran, penggunaan bangku, dan dimasukkan pengetahuan umum sebagai bagian dari kurikulumnya. Sebagai kelanjutannya, lembaga pendidikan Madrasah ini secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia.

Kemudian, sejak awal pertumbuhannya orientasi madrasah dijatuhkan pada pilihan-pilihan sebagai berikut; (1) madrasah sebagai lembaga pendidikan yang semata-mata untuk mendalami agama (tafaqquh fī al-dīn), yang biasa disebut sebagai madrasah diniyah salafiyah; dan (2) madrasah yang didirikan tidak hanya untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam, tetapi juga memasukkan pelajaran-pelajaran yang diajarkan oleh sekolah-sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Dilihat dari segi karateristiknya, pada dasarnya madrasah di Indonesia bersifat populis (merakyat). Menurut Steenbrink, misalnya, segi populis karakteristiknya adalah karena madrasah di Indonesia pada umumnya tumbuh dan berkembang atas inisiatif tokoh masyarakat yang peduli, terutama para ulama yang membawa gagasan pembaruan pendidikan, setelah mereka kembali dari menuntut ilmu di Timur Tengah. Selain itu, dana pembangunan dan pendidikan berasal dari swadaya masyarakat.

Berbeda dengan madrasah pada masa Islam klasik, dimana madrasah pada masa tersebut terlahir sebagai gejala urban atau kota, dengan inisiatif yang datang dari penguasa. Sebagai akibatnya, praktis madrasah tidak kesulitan menyerap hampir segenap unsur dan fasilitas modern, seperti bangunan yang permanen, kurikulum yang tertata rapi, pergantian jenjang pendidikan, dan anggaran dana yang relatif lancar karena langsung dikucurkan oleh pemerintah.

Selain itu, sebagaimana diterangkan di muka bahwa secara teknis madrasah mempunyai kesamaan dengan sekolah, tetapi dilihat dari karakteristiknya sebenarnya ada perbedaan; madrasah sangat menonjolkan nilai religius masyarakatnya, sementara sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan Barat.
Istilah madrasah dalam berbagai penggunaannya sebenarnya mempunyai banyak pengertian dan ruang lingkup. Namun yang perlu digarisbawahi adalah madrasah dalam pengertian sebagaimana sistem perundang-undangan kita yang terdapat dalam keputusan Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang mengatur tentang madrasah, yaitu bahwa madrasah sebagai lembaga pendidikan agama Islam yang di dalam kurikulumnya memuat materi pelajaran agama dan pelajaran umum, di mana mata pelajaran agama lebih banyak dibandingkan dengan mata pelajaran agama pada sekolah umum.

Pengertian dan karakteristik madrasah di Indonesia sebagaimana diterangkan di muka membawa konsekuensi untuk dirumuskan secara benar dan tepat mengenai visi, misi dan pengembangannya (tujuan) madrasah. Tentunya, untuk merumuskan semua itu harus mempertimbangkan nilai-nilai normatif, religius, dan filosofis yang diyakini kebenarannya; melihat kondisi obyektif di mana pendidikan madrasah diselenggarakan; dan yang tidak kalah penting adalah pertimbangan atas berbagai isu strategis yang dihadapi bangsa Indonesia, sekarang dan mendatang.

Mencermati hal tesebut, maka visi pendidikan madrasah memuat dua spektrum, satu sisi visi yang bersifat mikro dan di sisi lain bersifat makro. Secara mikro, visi pendidikan madrasah adalah “terwujudnya masyarakat dan bangsa Indonesia yang memiliki sikap agamis, berkemampuan ilmiah-amaliah, terampil dan profesional”. Sedangkan visi makro madrasah adalah “terwujudnya individu yang memiliki sikap agamis, berkemampuan ilmiah-diniyah, terampil dan profesional, sesuai dengan tatanan kehidupan” Sedangkan sebagai bentuk operasionalisasi dari visi madrasah, maka haruslah dirumuskan misi yang sepadan. Mengenai misi pendidikan madrasah, adalah “menciptakan calon agamawan yang berilmu; menciptakan calon ilmuwan yang beragama; dan menciptakan calon tenaga terampil yang profesional dan agamis”.

Berangkat dari visi dan misi pendidikan madrasah sebagaimana di atas, maka dapatlah diformulasikan bahwa arah pengembangan pendidikan madrasah pada hakikatnya bertujuan untuk dapat mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlak mulia, berkepribadian, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mampu mengaktualisasikan diri dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Daftar Pustaka:
1. Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern English Press. 1995, hal. 989
2. Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barat; Diskripsi Analisis Abad Keemasan Islam. Surabaya: Risalah Gusti, 1996, hal. 66
3. A. Malik Fadjar, Madrasah dan Tantangan Modernitas. Bandung: Mizan, 1999, hal. 18-19
4. Depag. RI, Sejarah Perkembangan Madrasah. Jakarta: Depag RI, 2000, hal. 2
5. Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina, 1997, hal. 3
6. H. Maksum, Madrasah, Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 80-81
7. Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Logos, 1999, hal. 193
8. Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia. Jakarta: Bulan Bintang, 1982, hal. 160
9. A. Malik Fadjar, Visi Pembaruan Pendidikan Islam. Jakarta: LP3NI, 1998, hal. 116
10. Depag RI, Sejarah Perkembangan Madrasah. Jakarta: Depag RI, 2000, hal. 12-23
11. Tarmi, Kebangkitan dan Perkembangan Madrasah di Indonesia dalam Abuddin Nata (ed.), Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta: rasindo, 2001, hal. 195
12. Depag RI, Desain Pengembangan Madrasah. Jakarta: Depag RI, 2004, hal. 15-18

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.