Arsip

Nilai Pendidikan


Mengkaji nilai-nilai Islami secara menyeluruh merupakan pekerjaan yang sangat besar, karena nilai-nilai Islami tersebut menyangkut berbagai aspek dan membutuhkan telaah yang luas. Kajian nilai-nilai Islami disini menyangkut beberapa aspek yang dimiliki oleh seorang muslim. Sebelum menanamkan nilai-nilai Islam terlebih dahulu memahami ajaran agama Islam secara keseluruhan, yang mencakup tiga hal pokok yaitu: 1) Islam yang meliputi rukun yaitu a) mengucapkan dua kalimat syahadat b) mendirikan sholat, c) membayar zakat, d) mengerjakan berpuasa dibulan ramadhan, e) melaksanakan haji bagi yang mampu. 2) Iman yang meliputi enam rukun yakni a) Iman kepada Allah, b) Iman kepada Malaikat Allah, c) Iman kepada Kitab Allah, d) Iman kepada Rosul Allah, e) Iman kepada hari akhir, f) Iman kepada Qodho dan Qadar. 3) Ihsan yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah dan jika tidak dapat melihat-Nya kita meyakini Allah melihat kita.
Peranan agama dalam menjaga kesehatan mental, melihat bahwa ke Imanan dengan meyakini ke enam rukun Iman dapat memelihara seseorang dari goncanmgan atau gangguan jiwa. Ke Imanan tersebut dapat mengurangi tekanan-tekanan batin dan kekecewaan yang timbul karena interaksi dalam keluarga dan masyarakat. Dengan demikian maka keimanan mengakibatkan timbulnya keserasian dan keharmonisan antara pikiran, perasaan,dan perbuatan yang membawa kepada ketenteraman. Orang bertindak menurut nilai yang dimilikinya dan karenanya nilai itu memberikan arah hidupnya. Pendidikan nilai membantu banyak orang untuk dapat membedakan apa yang dilakukannya, dirasakan atau dipikirkan.
Untuk mengklasifikasikan nilai itu dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu:
1. Dilihat dari kemampuan jiwa untuk menangkap dan mengembangkannya: 1) nilai yang statis, seperti: kognisi, emosi, dan psikomotor, 2) nilai yang bersifat dinamis, seperti motivasi berprestasi, motivasi berafiliasi, motivasi berkuasa.
2. Dilihat dari proses budaya: 1) nilai ilmu pengetahuan, 2) nilai ekonomi, 3) nilai keindahan, 4) nilai politik, 5) nilai keagamaan, 6) nilai kejasmanian.
3. Berdasarkan sumbernya: 1) nilai ilahiyah, 2) nilai insaniyah.
4. Dilihat dari ruang lingkup keberlakuannya: 1) nilai-nilai universal, 2) nilai-nilai lokal. Dari dimensi waktu keberlakuannya: 1) abadi, 2) pasang surut, 3) temporal.
5. Ditinjau dari segi hakikatnya: 1) nilai hakiki yang bersifat universal dan abadi, 2) nilai instrumental yang bisa bersifat lokal, pasang surut, dan temporal.
6. Dilihat dari sifat nilai: 1) nilai subjektif, yang merupakan reaksi subjek terhadap objek, 2) nilai objek rasional, yang merupakan penemuan esensi objek melalui akal sehat, seperti kemerdekaan, kedamaian, keselamatan, persamaan hak, 3) nilai objektif metafisik, seperti nilai agama yang tidak bersumber pada logika tapi mampu menyusun kenyataan objektif.
Menrut muhadjir (dalam Muhaimin, et. Al. 2005) bahwa secara hierarkis nilai dapat dikelompokkan kedalam dua macam, yaitu 1) nilai-nilai ilahiyah, yang terdiri dari nilai ubudiyah dan nilai-nilai muamalah, 2) nilai etika insani, yang terdiri dari: nilai rasional, nilai sosial, nilai individual, nilai biovisik, nilai ekonomik, nilai politik, dan nilai estetik.
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa nilai ilahi (nilai hidup etik religius) memiliki kedudukan vertikal lebih tinggi daripada nilai hidup lainnya. Disamping itu, nilai ilahi mempunyai konsekuensi pada nilai lainnya, dan sebaliknya nilai lainnya memerlukan konsultasi pada nilai ilahi, sehingga relasi termasuk vertikal linier. Sedangkan nilai hidup insani (tujuh nilai insani) tersebut, mempunyai relasi sederajat dan masing-masing tidak harus berkonsultasi, sehingga hubungan-nya termasuk horizontal-lateral. Mungkin kita bertanya “ apakah yang sosial lebih tinggi daripada yang individual?” filsafat hidup bangsa Indonesia mendudukkan keduanya sederajat, tetapi ada keharusan terapan nilai individual harus mempertimbangkan konsekuensi nilai sosialnya, demikian pula terapan nilai sosial harus mempertimbangkan konsekuensi individualnya, atau menurut istilah lainnya keseimbangan antara kepentingan individual dan sosial. Karena itu realisasinya termasuk lateral-sekuensial. Terapan nilai rasional (misalnya mengejar prestasi studi) juga harus diimbangi dengan konsekuensi biofisiknya (seperti: menjaga kesehatan, mengatur makan dan istirahat). Karena itu hubungan yang biofisik dengan yang estetis, dan sebagainya.
Disamping itu tata nilai atau hubungan antara nilai ilahi sebagai sumber nilai dan esensi nilai, dengan nilai-nilai etik sebagai sumber nilai dan esensi, dengan nilai-nilai etik insani lainnya dapat dibagi atas:
1. Nilai ilahiyah ubudiyah. Intinya nilai ini berisi keimanan kepada Allah, dan iman ini akan mewarnai semua aspek kehidupan, atau mempengaruhi nilai-nilai yang lain.
2. Nilai-nilai ilahiyah muamalah, yakni merupakan nilai-nilai terapan yang bersumber pada wahyu, dan sudah mulai jelas pembidangan aspek-aspek hidup, yang mencakup politik, ekonomi, sosial, individu, rasional, estetika dan sebagainya.
3. Nilai-nilai insani yang meliputi tujuh nilai sebagaimana tersebut diatas yaitu: sosial, rasional, individual, ekonomi, estetik, politik, biofisik.
Hal yang perlu disadari adalah bahwa semakin kuat rembesan iman (wilayah pertama) kedalam wilayah kedua dan ketiga, maka nilai-nilai insani itu semakin diwarnai oleh jiwa keagamaan. Disamping itu bila mana nilai-nilai insani mengunci diri pada wilayah ketiga, maka tidak akan disinari oleh nilai-nilai ilahi (agama). Tetapi bilamana diteruskan sampai kewilayah pertam, maka ia akan mementukan root-valuesnya, dan semua aspek hidup harus bermuara pada nil;ai-nilai ilahiyah tersebut.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Pengertian Nilai-nilai Islam
Pengertian nilai sebagaimana dikutip berikut ini, A value, says Webster (1984), is “ a principle, standart, or quality regarded as worthwhile or desirable”, yakni nilai adalah prinsip, standart atau kualitas yang dipandang bermanfaat dan sangat diperlukan. Nilai adalah “suatu keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang atau sekolompok orang untuk memilih tindakannya, atau menilai suatu yang bermakna bagi kehidupannya”.
Nilai adalah standart tingkah laku, keindahan, keadilan, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya dijalankan serta dipertahankan. Nilai adalah bagian dari potensi manusiawi seseorang, yang berada dalam dunia rohaniah (batiniah, spiritual), tidak berwujud, tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, dan sebagainya. Namun sangat kuat pengaruhnya serta penting peranannya dalam setiap perbuatan dan penampilan seseorang.
Nilai adalah suatu pola normatif, yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu system yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi sekitar bagian-bagiannya. Nilai tersebut lebih mengutamakan berfungsinya pemeliharaan pola dari system sosial.
Dari dua definisi tersebut dapat kita ketahui dan dirumuskan bahwasanya nilai adalah suatu type kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup system kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang tidak pantas atau yang pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercayai. Jika nilai diterapkan dalam proses belajar mengajar dapat diartikan sebagai pendidikan yang mana nilai dijadikan sebagai tolak ukur dari keberhasilan yang akan dicapai dalam hal ini kita sebut dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai adalah penanaman dan pengembangan nilai-nilai dalam diri seseorang. Suatu nilai ini menjadi pegangan bagi seseorang yang dalam hal ini adalah siswa atau peserta didik, nilai ini nantinya akan diinternalisasikan, dipelihara dalam proses belajar mengajar serta menjadi pegangan hidupnya. Memilih nilai secara bebas berarti bebas dari tekanan apapun. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini bukanlah suatu nilai yang penuh bagi seseorang. Situasi tempat, lingkungan, hukum dan peraturan dalam sekolah, bisa memaksakan suatu nilai yang tertanam pada diri manusia yang pada hakikatnya tidak disukainya-pada taraf ini semuanya itu bukan merupakan nilai orang tersebut. Sehingga nilai dalam arti sepenuhnya adalah nilai yang kita pilih secara bebas. Yang dalam hal ini adalah pengaktualisasian nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran yang nantinya disajikan beberapa nilai-nilai yang akan diterapkan dan dilaksanakan secara langsung dalam proses belajar mengajar oleh guru. Sehingga dari situlah realisasi dari pada nilai itu terlaksana dengan baik.
Jadi nilai-nilai Islam pada hakikatnya adalah kumpulan dari prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana seharusnya manusia menjalankan kehidupannya di dunia ini, yang satu prinsip dengan lainnya saling terkait membentuk satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisah-pisahkan.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, nilai-nilai Islam atau nilai keislman adalah:
Nilai-nilai keislaman merupakan bagian dari nilai material yang terwujud dalam kenyataan pengalaman rohani dan jasmani. Nilai-nilai Islam merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi (insan kamil). Nilai-nilai Islam bersifat mutlak kebenarannya, universal dan suci. Kebenaran dan kebaikan agama mengatasi rasio, perasaan, keinginan, nafsu-nafsu manusiawi dan mampu melampaui subyektifitas golongan, ras, bangsa, dan stratifikasi sosial.

Nilai-nilai keislaman atau agama mempunyai dua segi yaitu: “segi normatif” dan “segi operatif”. Segi normativ menitik beratkan pada pertimbangan baik buruk, benar salah, hak dan batil, diridhoi atau tidak. Sedangkan segi operatif mengandung lima kategori yang menjadi prinsip standarisasi prilaku manusia, yaitu baik buruk, setengan baik, netral, setengah buruk dan buruk. Yang kemudian dijelaskan sebagai berikut:
1. Wajib (baik)
Nilai yang baik yang dilakukan manusia, ketaatan akan memperoleh imbalan jasa (pahala) dan kedurhakaan akan mendapat sanksi.
2. Sunnah (setengah baik)
Nilai yang setengah baik dilakukan manusia, sebagai penyempurnaan terhadap nilai yang baik atau wajib sehingga ketaatannya diberi imbalan jasa dan kedurhakaannya tanpa mendapatkan sangsi.
3. Mubah (netral)
Nilai yang bersifat netral, mengerjakan atau tidak, tidak akan berdampak imbalan jasa atau sangsi.
4. Makruh (setengah baik)
Nilai yang sepatutnya untuk ditinggalkan. Disamping kurang baik, juga memungkinkan untuk terjadinya kebiasaan yang buruk yang pada akhirnya akan menimbulkan keharaman.
5. Haram (buruk)
Nilai yang buruk dilakukan karena membawa kemudharatan dan merugikan diri pribadi maupun ketenteraman pada umumnya, sehingga apabila subyek yang melakukan akan mendapat sangsi, baik langsung (di dunia) atau tidak langsung (di akhirat). (Muhaimin;1993:117)
Kelima nilai yang tersebut diatas cakupannya menyangkut seluruh bidang yaitu menyangkut nilai ilahiyah ubudiyah, ilahiyah muamalah, dan nilai etik insani yang terdiri dari nilai sosial, rasional, individual, biofisik, ekonomi, politikdan estetik. Dan sudah barang tentu bahwa nilai-nilai yang jelek tidak dikembangkan dan ditinggalkan. Namun demikian sama-sama satu nilai kewajiban masih dapat didudukkan mana kewajiban yang lebih tinggi dibandingkan kewajiban yang lainnya yang lebih rendah hierarkinya. Hal ini dapat dikembalikan pada hierarki nilai menurut Noeng Muhadjir, contohnya: kewajiban untuk beribadah haruslah lebih tinggi dibandingkan dengan kewajiban melakukan tugas politik, ekonomi, dan sebagainya. Disamping itu masing-masing bidang nilai masih dapat dirinci mana yang esensial dan mana yang instrumental. Misalnya: pakaian jilbab bagi kaum wanita, ini menyangkut dua nilai tersebut, yaitu nilai esensial, dalam hal ini ibadah menutup aurat, sedangkan nilai insaninya (instrumental) adalah nilai estetik, sehingga bentuk, model,warna, cara memakai dan sebagainya dapat bervareasi sepanjang dapat menutup aurat.
Karena nilai bersifat ideal dan tersembunyi dalam setiap kalbu manusia, maka pelaksanaan nilai tersebut harus disertai dengan niat. Niat merupakan I’tikad seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran. Dalam hal ini I’tikad tersebut diwujudkan dalam aktualisasi nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam.
Dalam proses aktualisasi nilai-nilai Islam dalam pembelajaran tersebut, diwujudkan dalam proses sosialisasi di dalam kelas dan diluar kelas. Pada hakikatnya nilai tersebut tidak selalu disadari oleh manusia. Karena nilai merupakan landasan dan dasar bagi perubahan. Nilai-nilai merupakan suatu daya pendorong dalam hidup seseorang pribadi atau kelompok. Oleh karena itu nilai mempunyai peran penting dalam proses perubahan sosial.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Istilah nilai merupakan sebuah istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak (Ambroisje dalam Kaswadi, 1993) .
Menurut Rokeach dan Bank (Thoha, 1996) nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup system kepercayaan di mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai suatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan. Ini berarti hubungannya denga pemaknaan atau pemberian arti suatu objek.
Nilai juga dapat diartikan sebagai sebuah pikiran (idea) atau konsep mengenai apa yang danggap penting bagi seseorang dalam kehdiupannya (Fraenkel dalam Thoha, 1996). Selain itu, kebenaran sebuah nilai juga tidak menuntut adanya pembuktian empirik, namun lebih terkait dengan penghayatan dan apa yang dikehendaki atau tidak dikehendaki, disenangi atau tidak disenangi oleh seseorang.
Allport, sebagaimana dikutip oleh Kadarusmadi (1996:55) menyatakan bahwa nilai adalah: “a belief upon which a man acts by preference. It is this a cognitive, a motor, and above all, a deeply propriate disposition”. Artinya nilai itu merupakan kepercayaan yang dijadikan preferensi manusia dalam tindakannya. Manusia menyeleksi atau memilih aktivitas berdasarkan nilai yang dipercayainya.
Ndraha (1997:27-28) menyatakan bahwa nilai bersifat abstrak, karena itu nilai pasti termuat dalam sesuatu. Sesuatu yang memuat nilai (vehicles) ada empat macam, yaitu: raga, perilaku, sikap dan pendirian dasar.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan suatu keyakinan atau kepercayaan yang menjadi dasar bagi seseorang atau sekelompok orang untuk memilih tindakannya, atau menilai suatu yang bermakna atau tidak bermakna bagi kehidupannya. Sedangkan sistem nilai adalah suatu peringkat yang didasarkan pada suatu peringkat nilai-nilai seorang individu dalam hal intensitasnya.
Dengan demikian untuk mengetahui atau melacak sebuah nilai harus melalui pemaknaan terhadap kenyataan-kenyataan lain berupa tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sikap seseorang atau sekelompok orang.

Pentingnya Nilai
Sebagimana ditegaskan oleh Robbins (1991:158) “Values are important to the study organizational behavior because they lay the foundation for the understanding of attitudes and motivation as well as influencing our perceptions. Indiviuals enter an organization with preconceived nations of what ‘ougth’ and what ‘outght not’ to be. Of course, these nations are not value free”. Nilai-nilai penting untuk mempelajari perilaku organisasi karena nilai meletakkan fondasi untuk memahami sikap dan motivasi serta mempengaruhi persepsi kita. Individu-individu memasuki suatu organisasi dengan gagasan yang dikonsepsikan sebelumnya mengenai apa yang “seharusnya” dan “tidak seharusnya”. Tentu saja gagasan-gagasan itu sendiri tidak bebas nilai.
Lebih lanjut Robbins (1991) menegaskan bahwa gagasan-gagasan tersebut mengandung penafsiran benar dan salah dan gagasan itu mengisyaratkan bahwa perilaku tertentu akan memperkeruh obyektivitas dan rasionalitas. Di bagian lain Robbins (1991:159) menyatakan “Values generally influence attitudes and behavior” (umumnya nilai mempengaruhi sikap da perilaku).

Tipe-tipe Nilai
Spranger (Alisyhbana, 1986) menggolongkan tipe nilai menjadi enam berdasarkan enam lapangan kehidupan manusia yang membuat manusia berbudaya. Keenam lapangan itu ialah: (1) lapangan pengetahuan; (2) lapangan ekonomi; (3) lapangan estetik; (4) lapangan politik; dan (5) lapangan religi.
Robbins (1991:159-160) merujuk pendapat Allport, dan kawan-kawannya juga membagi tipe nilai menjadi enam, yaitu: (1) theoritical, (2) economic, (3) aesthetic, (4) social, (5) political, dan (6) religious.
Dari keenam tipe nilai tersebut kemudian Spranger menggolongkan perilaku manusia ke dalam enam golongan atau tipe, yaitu: (1) theoretical man (concerned with truth and knowledge); (2) economic man (utilitarian); (3) esthetic man (art and harmony); (4) social man (humansitarian); (5) political man (power and control); dan (6) religious man. Dapat diartikan bahwa tipe nilai dapat digolongkan menjadi enam yaitu: (1) manusia teoritis (konsen terhadap kebenaran dan pengetahuan), (2) manusia ekonomik (utilitarian), (3) manusia estetik (seni dan harmoni), (4) manusia sosial (manusiawi), (5) manusia politik (kekuasaan dan pengawasan), dan (6) manusia religius (agama) .
Scheler menyatakan bahwa nilai-nilai yang ada tidaklah sama luhur dan sama tingginya. Nilai-nilai itu secara nyata ada yang lebih tinggi dan ada yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai-nilai lainnya. Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dikelompokkan dalam 4 tingkatan sebagai berikut:
1) Nilai-nilai kenikmatan: dalam tingkat ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan, yang menyebabkan orang senang atau menderita.
2) Nilai-nilai kehidupan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang lebih penting bagi kehidupan, misalnya: kesehatan, kesegaran badan, kesejahteraan umum.
3) Nilai-nilai kejiwaan: dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai yang sama sekali tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lingkungan, seperti misalnya kehidupan, kebenaran, dan pengetahuan murni yang dicapai dalam filsafat.
4) Nilai-nilai kerohanian: dalam tingkat ini terdapat modalitas nilai dari suci dan tak suci. Nilai-nilai semacam ini terutama terdiri dari nilai-nilai pribadi dan nilai kebutuhan .
Demikianlah macam-macam nilai serta klasifikasinya menurut berbagai pakar dan sumber. Penggunaan tiap-tiap kategorisasi di atas, tentu saja sesuai dengan konteks nilai yang dibicarakan, dan hal ini lebih lanjut digunakan untuk membahas tentang sistem nilai yang dikembangkan di sekolah.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Sebagaimana dikemukakan di atas, budaya organisasi terdiri atas berbagai unsur atau elemen yang tidak semuanya dapat diamati dengan mudah. Kotter dan Heskett (1997) peneliti dari Harvard Business School mencoba menentukan faktor mana yang membuat beberapa budaya organisasi lebih sukses dari pada yang lain. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa budaya mempunyai dampak yang kuart terhadap prestasi kerja. Budaya organisasi sekolah merupakan faktor yang lebih penting dalam menentukan sukses atau gagalnya organisasi sekolah. Karena itu dalam studi terhadap budaya organisasi terlebih dahulu harus dikenali manifestasinya.

Kotter da Heskett (1997) mengidentifikasi bahwa budaya organisasi muncul dalam dua tingkatan, yaitu tingkatan yang tidak terlihat dan yang terlihat. Tingkatan yang tidak terlihat berupa nilai-nilai yang dianut bersama oleh anggota kelompok cenderung bertahan meskipun anggotanya sudah berganti. Nilai-nilai ini sangat sukar untuk berubah dan anggota organisasi sering kali tidak menyadari karena banyaknya nilai. Tingkatan yang terlihat berupa pola perilaku dan gaya karyawan suatu organisasi, dimana orang-orag yang baru masuk terdorong untuk mengikutinya.

Budaya organisasi sekolah dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu yang tampak (tangible) dan tidak tampak (intangible). Aspek yang tidak tampak dari sebuah budaya meliputi nilai-nilai, keyakinan, da ideology yang berkaitan dengan pertanyaa “Apakah yang seharusnya dilakukan di sekolah ini?” Jawabannya diwujudkan dalam hal-hal tangible (yang tampak) baik dalam bentuk kalimat (lisan atau tulisan), perilaku yang ditampilkan, bangunan, fasilitas serta benda-benda yang digunakan (Caldwell & Spinks, 1993).

Untuk mendeskripsikan budaya organisasi sekolah, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengamati perwujudan (manifestasi) budaya tersebut, baru kemudian menangkkap maknanya. Untuk itu Hodge dan Anthony (1988) mengidentifikasi manifestasi budaya organisasi sebagai berikut:


No.

Manifestasi

Deskripsi

1

Ritus (tata cara upacara keagamaan)

Rangkaian kegiatan yang terencana, relatif rumit dan dramatis yang melibatkan berbagai bentuk ekspresi budaya dalam suatu peristiwa, yang dilaksanakan melalui interaksi social, biasanya untuk mendatangkan/kepentingan/kebaikan bagi yang hadir.

2

Seremonial

Suatu system dari beberapa ritus yang terangkai dalam suatu peristiwa.

3

Ritual (berkenaan dengan ritus)

Rangkaian teknik dan perilaku yang mendetail dan terstandar yang mengelola keinginan/kegelisahan, tetapi ada kalanya menghasilkan (perasaan) mendalam sebagai akibat dari hal-hal teknis yang dipentingkan dalam pelaksanaan.

4

Mitos

Suatu cerita dramatis tentang kejadian imajinasi, biasanya digunakan untuk menjelaskan asal mula atau transformasi (perubahan). Atau juga suatu kepercayaan yang tidak dipertanyakan tetang manfaat pelaksanaan teknik atau perilaku tertentu yang tidak didukung oleh fakta yang terlihat.

5

Hikayat

Cerita sejarah yang menggambarkan keberhasilan yang unik dari suatu kelompok dan pemimpinnya.

6

Legenda

Cerita turun temurun mengenai kejadian yang sangat hebat yang didasarkan pada sejarah tetapi telah dicampuradukkan dengan khayalan/fiksi.

7

Kisah

Cerita yang didasarkan atas kejadian sebenarnya tetapi sering pula merupakan campuran antara kebenaran dengan khayalan.

8

Dongeng rakyat

Cerita yang sepenuhnya khayalan.

9

Simbol

Setiap obyek, tindakan, kejadian kualitas atau hubungan yang memberikan sarana bagi penyampaian makna.

10

Bahasa

Salah satu bentuk atau kebiasaan di mana anggota suatu kelompok menggunakan suatu vokal dan tulisan untuk menyampaikan makna/maksud antara satu dengan yang lain.

11

Isyarat

Gerak bagia tubuh yang digunakan untuk mengekspresikan makna/maksud.

12

Latar fisik

Segala sesuatu yang mengitari orang-orag secara fisik dan dengan segera memberikan rangsangan perasaan, ketika mereka melaksanakan kegiatan sebagai ekspresi budaya.

13

Artifak

Obyek material (benda) yang dibuat oleh orang untuk memfasilitasi pengekspresian budaya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Hegemoni Barat dalam bidang keilmuan khususnya, telah begitu mencengkeram bangsa-bangsa Timur, khususnya yang tergolong belum maju. Padahal perlu disadari bahwa kajian keilmuan yang dihasilkan Barat, tidak selamanya cocok (compatible) dengan masyarakat timur khususnya Indonesia. Noer (1986) menyatakan bahwa perlu dilakukan pendekatan khusus, bukan pendekatan ala Barat terhadap kajian masyarakat Indonesia. Ia mengemukakan bahwa pada umumnya penulis Barat dipengaruhi oleh dua aliran: liberalis-kapitalis dan/atau marxis. Akal, pikiran dan perasaan yang mendasari perilaku manusia, bagi mereka lebih berhubungan dengan kebenaran/duniawi, sama sekali tidak mempertimbangkan dimensi transenden/ukhrowi.
Dalam konteks pendidikan atau persekolahan, Tafsir (1994) telah lama merasakan hal tersebut. Banyak sistem diadopsi dari Barat, namun tidak berhasil karena ruh yang menjiwai sistem tersebut berbeda. Sekolah sebagai sustu subsistem dalam sistem sosial, memiliki nilai-nilai, tradisi-tradisi atau budaya tertentu (Mundilarno, 1995). Bagi sekolah-sekolah swasta yang berpegang pada nilai-nilai keagamaan yang dianut seperti sekolah-sekolah Islam dan sekolah Kristen atau Katolik tentu akan teraktualisasi dalam perilaku manajerial. Begitu juga bagi sekolah-sekolah negeri yang lebih bersifat nasionalis tentunya akan teraktualisasi dalam perilaku manajerialnya. Oleh karena itu untuk mencermati lembaga pendidikan yang berpegang pada nilai keagamaan atau faham tertentu, selayaknya dikaji implikasi ajaran yang dijadikan pegangan sebagai sumber nilai .
Beberapa nilai yang bersifat universal yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah antara lain: (1) nilai kebangsaan/nasionalitas, (2) nilai keunggulan/kualitas, (3) nilai ketertiban dan kedisiplinan, (4) nilai keteladanan, (5) nilai saling menghargai dan toleransi, (5) nilai keadilan dan kejujuran, (6) nilai tanggungjawab, dan (7) nilai prestise atau kebanggaan. Sedang nilai-nilai yang bersumber dari agama yang dapat dikembangkan di sekolah sebagaimana hasil penelitian Ekosusilo (2003) di SMA Al Islam I Surakarta, antara lain: (1) nilai dasar ajaran Islam, yaitu tauhid; (2) nilai ibadah; (3) nilai kesatuan (integritas) antara dunia dan akhirat serta antara ilmu agama dan ilmu umum; (4) nilai perjuangan (jihad), (5) nilai tanggungjawab (amanah); (6) nilai keikhlasan; (7) nilai kualitas; (8) nilai kedisiplinan; (9) nilai keteladanan; (10) nilai persaudaraan dan kekeluargaan; serta (11) nilai-nilai pesantren, yaitu: kesederhanaan atau kesahajaan, tawadhu’ (rendah hati), dan sabar.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Hidup ini memang unik dan penuh misteri di baliknya yang menarik untuk dikupas. Selain itu, ia berlangsung dalam oposisi biner. Ada kesulitan dan ada pula kemudahan. Ada gelap dan ada terang. Ada yang datang dan ada pula yang pergi. Ada kisah orang sukses, dan ada pula yang gagal. Begitu seterusnya. Terkait dengan kisah sukses hidup, seorang pakar human resource development bernama Thomas Stanley (menurut Prof. Dr. Sugiyanto, M.Sc – Ketua Kopertis Wilayah VII dalam ceramahnya pada acara Dies Natalis ke III Universitas Ma Chung Malang, 3 Juli 2010) pernah melakukan penelitian terhadap 750 jutawan dunia tentang kisah sukses mereka dalam mengelola busines. Padahal, waktu yang tersedia juga sama dengan yang lain, yakni 24 jam per hari, kesempatan dan tantangan yang dihadapi juga sama dengan yang lain. Tetapi mengapa 750 orang itu sangat sukses, bahkan jauh melebihi yang lain?

Berangkat dari penelitiannya terhadap para jutawan tersebut, Thomas Stanley secara berurutan merangkum setidaknya ada 5 (lima) kunci pokok keberhasilan, yakni:

  1. kejujuran
  2. kedisiplinan
  3. kerjasama
  4. team work yang kokoh
  5. bekerja lebih keras dari yang lain.

Tulisan pendek ini hanya akan berbicara tentang kejujuran. Kejujuran ternyata menempati urutan pertama. Mengapa? Perhatikan dengan serius berbagai keributan, persoalan, keruwetan, dan kesemrawutan dalam hidup ini, baik pada tingkat individu, keluarga, maupun masyarakat sampai bangsa pangkalnya adalah kejujuran. Korupsi adalah contoh konkret dari tindak ketidakjujuran. Karena itu, korupsi bisa menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa. Karena itu, sebuah negara atau bangsa tidak akan pernah bisa hidup sejahtera manakala dikelola dengan tidak jujur melalui praktik-praktik seperti korupsi dan manipulasi.

Sebagai sebuah bangsa akhir-akhir ini kita sangat resah karena ketidakjujuran begitu merajalela di kalangan dan elit politik negeri ini. Sudah tak terhitung begitu banyaknya mantan pejabat yang akhirnya masuk penjara karena terbukti melakukan korupsi atau bentuk-bentuk ketidakjujuran yang lain. Mata kita terbelalak ketika menyaksikan orang-orang yang dulu memegang kekuasaan tinggi harus meringkuk di penjara karena ketidakjujuran yang mereka lakukan sendiri. Lalu hati kita seolah berkata “wajar jika di negeri kita yang sejatinya memiliki sumber alam yang melimpah, tetapi angka kemiskinan masih begitu tinggi. Salah satu penyebabnya adalah karena banyak pejabat negara yang tidak jujur sehingga menyalahgunakan keuangan negara yang notebene adalah uang rakyat”.

Contoh lain, misalnya, kita bisa membayangkan bagaimana jika seorang atasan memiliki staf yang tidak jujur atau suka berbohong. Sementara atasan tersebut sangat mempercayainya. Karena tidak jujur, informasi yang disampaikan ke atasannya juga tidak benar. Dia berprinsip yang penting atasannya senang. Orang sekarang menyebutnya ABS (Asal Bapak Senang). Karena informasi yang diterima atasan tidak benar, maka kebijakan yang diambilnya salah. Nah, repot kan?

Seorang dosen, misalnya, yang menugasi mahasiswanya menulis makalah bisa sangat kecewa jika ternyata makalah itu bukan buatannya sendiri atau waktu ujian si mahasiswanya nyontek. Padahal, dosen tersebut ingin sekali mengukur tingkat pencapaian atas materi yang diajarkan. Begitu juga seorang kepala kantor juga akan kecewa berat jika bendaharanya tidak jujur sehingga uang yang mestinya untuk kebutuhan kantor diselewengkan untuk keperluan lain atau malah pribadinya. Orangtua juga akan marah jika punya anak yang tidak jujur. Pembeli bensin akan sangat marah jika petugas yang melayani mengisinya dengan menggunakan ukuran yang tidak sama dengan volume bensin yang masuk. Siapa pun pasti akan marah, setidaknya kecewa, jika dibohongi oleh siapa pun pula.

Anehnya, dalam kehidupan sehari-hari kisah-kisah ketidakjujuran atau kebohogan begitu mudah kita temukan. Pelaku mesum yang direkam dalam video porno yang tersebar luas dan masyarakat luas sudah mengenal siapa pelakunya masih berbohong kendati pasangan mainnya sudah mengaku. Akibatnya, masalahnya menjadi berlarut-larut karena ketidakjujurannya. Orang begitu mudah berbohong dan seolah-olah jika sudah bisa membohongi orang lain, dia sudah merasa senang. Padahal, menurut para psikolog semakin orang yang dibohongi percaya atau semakin banyak orang percaya dengan kebohongannya, maka sesungguhnya dia semakin gelisah karena khawatir kalau-kalau kebohongannya suatu saat terbongkar.

Pembohong pasti tidak tenang dalam hidupnya. Sebab, dia selalu dihantui oleh perbuatan yang dia buat sendiri. Umpamanya orang yang berbohong itu adalah seorang karyawan perusahaan, maka dia tidak bisa produktif menjalankan aktivitasnya sebagai karyawan karena selalu khawatir kalau-kalau kebohongannya suatu saat diketahui oleh atasannya. Begitu juga jika seorang kepala rumah tangga melakukan kebohongan, maka waktunya akan semakin tersita untuk memikirkan bagaimana cara menyembunyikan kebohongannya daripada menggunakan waktu untuk aktivitas produktif mengelola keluarganya.

Begitu pula sebaliknya orang yang jujur akan menjalani hidup dengan tenang. Sebab, dia tidak memendam sesuatu yang dikhawatirkan, sehingga bisa memanfaatkan waktunya secara produktif. Dia tidak dikejar-kejar oleh kebohongan. Dengan jiwa yang tenang dan tidak gelisah, dia bisa memanfaatkan setiap waktu yang ada untuk kepentingan yang positif. Karena itu, jika sebuah lembaga atau institusi publik penuh dengan orang-orang yang amanah, maka, insya Allah, lembaga itu akan produktif. Sebaliknya, jika di sebuah lembaga banyak orang yang tidak amanah, maka lembaga itu akan penuh dengan keruwetan dan kekacauan. .

Tidak sedikit contoh banyak orang yang berkemampuan biasa-biasa saja, tetapi memiliki kejujuran akan bisa lebih diterima oleh orang lain daripada orang hebat tetapi pembohong. Karena itu, kejujuran dibarengi dengan sikap rendah hati, dan kemampuan untuk bisa bekerja sama dengan orang lain dengan saling menghormati, menerima kelebihan dan kekurangan orang lain akan menjadi salah satu kekuatannya atau daya kompetitifnya. Dengan demikian, di tengah-tengah banyak orang yang bohong, maka orang yang memiliki kejujuran tinggi akan dicari banyak orang. Ada pepatah Arab yang artinya semakin sesuatu itu berjumlah banyak, maka semakin rendah harganya, kecuali kejujuran dan kebaikan.

Kejujuran dan kebaikan bersifat universal. Di mana pun di dunia ini orang mengidamkannya. Sebab, ia indah dan agung. Lebih dari itu, ia menyelamatkan. Rosulullah Muhammad SAW pun dikenal sebagai manusia paling mulia di sisi Allah karena, salah satu sebabnya, ialah kejujurannya. Tak sekali pun Rosulullah berbohong dalam hidupnya. Begitu pentingnya nilai kejujuran, maka wajar jika Stanley menempatkannya sebagai unsur yang paling utama dalam menggapai keberhasilan. Selamat mencoba !

Ditulis Oleh: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo


Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Sebagaimana diketahui bahwa belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Belajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan seseorang sebagai objek yang harus dilakukan seseorang sebagai subjek yang menerima pelajaran, sedangkan mengajar menunjukkan pada apa yang harus dilakukan oleh Guru sebagai Pengajar.
Pengertian Belajar Mengajar sebagaimana dikemukakan oleh Sudjana (1991 : 21) sebagai berikut :
Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, ketrampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain- lain aspek yang ada pada individu.

Selanjutnya pengertian belajar yang dikemukakan oleh Gagae adalah sebagai berikut : “Proses internal (proses yang terjadi dalam diri anak) yang berupa pemrosesan informasi untuk menghasilkan perubahan- perubahan tingkah laku” (Moedjiono, dkk, 1992 : 17).
Bertitik tolak dari pengertian belajar tersebut dapatlah dipahami bahwa hakekat dari proses belajar adlah upaya untuk mengubah perilaku seseorang. Jadi inilah hakekat belajar sebagai inti dari proses pengajaran.
Seperti halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakekatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasian lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Dalam hal ini Sudjana (1991 : 29) berpendapat bahwa : “Mengajar adalah proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar”.

Pendapat tersebut sejalan pengertian yang dikemukakan oleh William H. Bouston bahwa : “Mengajar adalah upaya dalam memberikan perangsang (stimulan) bimbingan, pengarahan dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar” (Moedjiono, 1992 : 17).

Keterpaduan proses belajar siswa dengan proses mengajar Guru, sehingga terjadi interaksi belajar mengajar tidak datang begitu saja dan tidak tumbuh tanpa pengaturan dan perencanaan yang seksama. Dalam hal ini yang perlu diingat adalah dalam proses pengajaran terdapat empat komponen utama yang perlu diatur dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga seluruh komponen saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lainnya. Keempat komponen tersebut adalah tujuan, bahan pelajaran, metode dan alat evaluasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penegrtian proses belajar mengajar adalah serangkaian kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh Guru dan Siswa sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Dalam proses pengajaran atau interaksi belajar mengajar yang menjadi persoalan utama adalah adanya proses belajar pada siswa didik. Pelaksanaan kegiatan atau proses belajar siswa ini mencapai dan memperoleh hasil yang optimal, maka perlu memperhatikan faktor- faktor yang mempengaruhi. Walaupun faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa banyak macamnya, namun pada dasarnya dapat digolongkan menjadi 2 (dua) faktor utama, yaitu : faktor intern dan faktor ekstern. Untuk lebih jelasnya dikemukakan beberapa teori sebagai berikut :
1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa (individu), yang dapat dibagi menjadi beberapa bagiaa. Menurut Slameto (1988 : 89) berpendapat bahwa : “Faktor intern dapat dibagi menjadi tiga faktor yaitu faktor psikologi, faktor fisiologi dan faktor kelelahan. Dalam pembahasan ini faktor kelelahan dapat dimasukkan pada pembahasan faktor psikologis dan faktor fisiologis”.
Faktor intern yang mempengaruhi hasil belajar siswa, meliputi hal- hal sebagai berikut :
a. Faktor psikologis, meliputi : Intelegensi, Minat dan Bakat, Motivasi, Perhatian, Kematengan, Kesiapan, Kondisi dan situasi psikologis siswa yang bersifat temporer (Sementara).
b. Faktor Fisiologis, meliputi : kesehatan, kesehatan indera, cacat tubuh, kondisi fisik yang bersifat temporer.
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang mempengaruhi hasil belajar siswa itu adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa atau individu siswa. Dalam hal ini dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu :
a. Yang datang dari keluarga
b. Yang datang dari lingkungan sekolah
c. Yang datang dari masyarakat
Sedangkan aktivitas adalah suatu keadaan yang selalu digambarkan dengan gerak, jadi yang dimaksud dengan aktivitas belajar adalah suatu gerak pelajar yang di dalamnya terdapat berbagai cara yang dijalankan oleh para siswa untuk mencapai tujuan belajar.

Ujian ( Evaluasi )
Untuk menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran, perlu dilakukan usaha atau tindakan pengevalusian, dimana evaluasi pada dasarnya dapat memberikan pertimbangan atau penilaian berdasarkan criteria tertentu. Menurut Nurkancana & Sumartana (1986 : 1) yang dimaksud dengan evaluasi adalah : “suatu tindakan atau proses untuk menentukan nilai dari pada sesuatu”.
Selanjutnya pengertian evaluasi menurut deskripsinya dapat dibedakan menjadi :
1. Evaluasi adalah proses memahami atau memberikan arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan suatu informasi bagi petunjuk pihak – pihak yang mengambil keputusan.
2. Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas- luasnya, sedalam- dalamnya yang bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
3. Dalam rangka pengembangan system intruksional, evaluasi merupakan suatu kegaiatan untuk menilai seberapa jauh program telah berjalan sebagaimana yang telah direncanakan.
4. Suatu alat untuk menentukan apakah proses dalam pengembangan ilmu telah berada dijalan yang diharapkan (Roetiyah, 2006: 97).
Dari pengertian evaluasi tersebut diatas dan dikaitkan dengan pembahasan dalam penulisan skripsi ini, maka jelaslah bahwa evaluasi merupakan suatu patokan atau tolok ukur untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa dalam menyerap dan mengimplementasikan hasil belajar dan sekaligus untuk mengukur dan menilai sampai sejauh mana program- program penagajaran dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Evaluasi yang berarti pengungkapan dan pengukuran hasil belajar itu, pada dasarnya merupakan proses penyususnan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif Namun perlu penyusun kemukakan, bahwa kebanyakan pelaksanaan evaluasi cenderung bersifat kuantitatif, lantaran penggunaan symbol angka atau skor utnuk menentukan kualitas keseluruahan kinerja akademik siswa dianggap sangat nisbi. Walaupun begitu, yang piawai dan professional perlu berusaha mencari kiat evaluasi yang lugas, tuntas, dan meliputi seluruh kemampuan ranah cipta rasa, dan karsa siswa guna mengurangi kenisbian hasilnya.

Daftar Rujukan:
1. Hallen , A, 2002. Bimbingan dan Konseling dalam Islam, Jakarta; Ciputat Pers.
2. Mudjiono, 1992. Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta.
3. Notoatmodjo, Soekidjo, 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
4. Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.
5. Prayitno & Erman Amti, 2004. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, Jakarta: Rineka Cipta.
6. Prayitno. 2001. Buku Panduan Pelayanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi. Padang: P4T IKIP Padang.
7. Slameto, 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta.
8. Sudjana, Nana, 2003. Tuntunan Penyusunan Karya Ilmiah, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
9. Sukardi, Dewa Ketut. 2003. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
10. Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Citra Umbara.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang



Nilai dapat dipilah kedalam: 1) Nilai-nilai Ilahiyah dan Insaniyah, 2) Nilai-nilai Universal dan Lokal, 3) Nilai-nilai Abadi, Pasang Surut, dan Temporal, 4) Nilai-nilai hakiki dan Instrumental, 5) Nilai-nilai Subyektif, Obyektif Rasional, dan Obyektif Metafisik.

Pembagian nilai sebagaimana tersebut di atas didasarkan atas sudut pandang yang berbeda-beda, yang pertama didasarkan atas sumber-sumber nilai; yang kedua didasarkan atas ruang lingkup keberlakuannya; yang ketiga didasarkan atas masa keberlakuannya; yang keempat didasarkan atas hakekatnya; dan yang kelima didasarkan atas sifatnya.

Nilai-nilai Ilahiyah adalah nilai yang bersumber dari Agama (wahyu). Nilai ini bersifat statis dan mutlak kebenarannya. Ia mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat, serta tidak berkecenderungan untuk berubah mengikuti selera hawa nafsu manusia dan berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial, dan tuntutan individual (Muhaimin, dkk., 1993 : 111).

Nilai ini meliputi nilai ubudiyah dan amaliyah. Sedangkan nilai insaniyah adalah nilai yang bersumber dari manusia, yakni yang tumbuh atas kesepakatan manusia serta hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Ia bersifat dinamis, mengandung kebenaran yang bersifat relatif dan terbatas oleh ruang dan waktu (Muhaimin, dkk., 1993 : 111). Termasuk dalam nilai insaniyah ini adalah nilai rasional, sosial, individual, biofisik, ekonomi, politik, dan estetik (Muhadjir, 1988 : 54).

Nilai Universal sebagai hasil pemilahan nilai yang didasarkan pada sudut ruang berlakunya dipahami sebagai nilai yang tidak dibatasi keberlakuannya oleh ruang, ia berlaku di mana saja tanpa ada sekat sedikitpun yang menghalangi keberlakuannya. Sedangkan nilai lokal dipahami sebagai nilai yang keberlakuannya dibatasi oleh ruang, dengan demikian ia terbatas keberlakuannya oleh ruang atau wilayah tertentu saja.

Nilai abadi, pasang surut dan temporer sebagai hasil pemilahan nilai yang didasarkan atas masa keberlakuan nilai, masing-masing menunjukkan pada keberlakuannya diukur dari sudut waktu. Nilai abadi dipahami sebagai nilai yang keberlakuannya tidak terbatas oleh waktu, situasi dan kondisi. Ia berlaku sampai kapanpun dan tidak terpengaruh oleh situasi maupun kondisi yang ada. Nilai pasang surut adalah nilai yang keberlakuannya dipengaruhi waktu. Sedangkan nilai temporal adalah nilai yang keberlakuannya hanya sesaat, berlaku untuk saat tertentu dan tidak untuk saat yang lain.

Pembagian nilai yang melahirkan tiga kategori nilai; nilai subyektif, nilai obyektif rasional, dan nilai obyektif metafisik, masing-masing menunjuk pada sifat nilai. Nilai Subyektif adalah nilai yang merupakan reaksi subyek terhadap obyek, hal ini tergantung kepada masing-masing pengalaman subyek tersebut. Nilai obyektif rasional adalah nilai yang merupakan esensi dari obyek secara logis yang dapat diketahui melalui akal sehat. Sedangkan nilai obyektif metafisik adalah nilai yang ternyata mampu menyusun kenyataan obyektif, seperti nilai-nilai agama (Thoha, 1996 : 64).

Dari keseluruhan nilai di atas dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari dua kategori nilai, yakni nilai hakiki dan instrumental. Nilai hakiki adalah nilai yang bersifat universal dan abadi, sedangkan nilai temporal bersifat lokal, pasang surut, dan temporal (Thoha, 1996: 65).

Atas dasar kategori nilai di atas, maka nilai agama sebagai nilai Ilahiyah dapat dikategorikan sebagai nilai obyektif metafisik yang bersifat hakiki, universal dan abadi.

Daftar Pustaka Klik DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


Sebagian ulama berpendapat bahwa komponen utama bagi agama Islam, sekaligus sebagai nilai tertinggi dari ajaran agama Islam adalah: akidah, syari’ah, dan akhlak. Penggolongan ini didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad SAW kepada Malaikat Jibril mengenai arti Iman, Islam, dan Ihsan yang esensinya sama dengan akidah, syari’ah dan akhlak.

Akidah menurut pengertian etimologi, adalah ikatan atau sangkutan Muhaimin. dkk., 1994: 241). Dikatakan demikian karena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan segala sesuatu. Dalam pengertian teknis diartikan dengan iman atau keyakinan, sehingga pembahasan akidah selalu berhubungan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam atau merupakan akidah Islam, yaitu; keyakinan kepada Allah, keyakinan kepada Malaikat-malaikat, keyakinan kepada Kitab Suci, keyakinan kepada Rasul-rasul, keyakinan akan adanya Hari Kiamat, dan keyakinan pada Qadla’ dan Qodar Allah.

Syari’ah menurut etimologi, adalah jalan tempat keluarnya air untuk minum (Fathurrahman Djamil,1997: 7). Menurut terminologi, syari’ah ialah sistem norma (kaidah) Illahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia terhadap dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan sesama makhluk. Kaidah yang mengatur manusia dengan Allah disebut kaidah Ibadah atau kaidah Ubudiyah, sedang kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesama makhluk disebut kaidah Mu’amalah.

Sedang yang disebut dengan akhlak secara etimologi, perkataan akhlak berasal dari akhlaq, bentuk jamak dari kata khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at (Abuddin Nata, 2002 : 3). Menurut terminologi, akhlak adalah keadaan yang melekat pada jiwa manusia yang dari padanya melahirkan perbuatan-perbuatan tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan atau penelitian.

Menurut Al-Ghozali dan Ibnu Maskawaih, akhlak adalah suatu keadaan atau bentuk jiwa yang tetap (konstan) yang melahirkan sikap atau perbuatan-perbuatan secara wajar tanpa didahului oleh proses berfikir atau rekayasa (Abuddin Nata, 2002 : 4). Karena akhlak merupakan suatu keadaan yang melekat dalam jiwa, maka suatu perbuatan baru disebut akhlak kalau terpenuhinya beberapa syarat yaitu: 1) Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, 2) perbuatan itu timbul dengan mudah tanpa dipikirkan atau diteliti lebih dahulu sehingga benar-benar merupakan suatu kebiasaan.

Dalam ajaran Islam, perwujudan dari akhlak atau perilaku Muslim dapat terimplementasikan melalui aplikasi nilai/norma yang senantiasa mendasarkan pada ajaran-ajaran yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah (Busyairi Madjidi, 1997 : 870).

Dari penjelasan tersebut dapat dilihat perbedaan antara akhlak dan nilai/norma yang berlaku di masyarakat. Nilai/norma adalah yang berlaku secara alamiah dalam masyarakat, dapat berubah menurut kesepakatan dan persetujuan dari masyarakat pada dimensi ruang dan waktu tertentu. Sedangkan ahklak memiliki patokan dan sumber yang jelas, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketiga asas tersebut, membentuk sistem nilai yang dapat dijadikan sebagai pegangan hidup (akidah), jalan hidup (syari’ah), dan sikap hidup (akhlak), yang saling berinteralasi dalam mengatur kehidupan dan penghidupan manusia dalam semua aspek dan dimensi, baik individu maupun kelompok.

Oleh karena itu, sebagai parameter keimanan seseorang dapat dilihat dari kebagusan ibadah dan akhlaknya, demikian halnya untuk menilai kadar peribadatan seseorang dapat dilihat dari akidah yang melandasi dan aktualisasi nilai-nilai ibadah dalam praktek amal salehnya. Penilaian tersebut juga berlaku bagi akhlak seseorang, selain akhlak tidak dapat dipisahkan dengan akidah, akhlak juga tidak dapat diceraiberaikan dengan syari’ah.

Syari’ah memiliki lima kategori penilaian tentang perbuatan dan tingkah laku manusia, yang biasa disebut Al-ahkam Al-khamsah yang terdiri dari; 1) wajib, 2) haram, 3) sunnah, 4) makruh, dan 5) mubah atau ja’iz. Muhammad Daud Ali, mengkategorikan Al-ahkam tersebut sebagai berikut: wajib dan haram, masuk ke dalam kategori hukum (duniawi) yang terutama, sedangkan sunnah, makruh dan mubah termasuk ke dalam kategori kesusilaan atau akhlak. Sunnat dan makruh termasuk ke dalam kategori kesusilaan umum atau kesusilaan masyarakat sedangkan mubah termasuk ke dalam kategori kesusilaan pribadi (Muhammad Daud Ali, 2000 : 351).

Hubungan ini lebih nampak jika dihubungkan dengan ihsan dalam melakukan ibadah, baik ibadah mahdah maupun ibadah mu’amalah, pendekatan karena syari’ah atau hukum Islam mencakup segenap aktivitas manusia, maka ruang lingkup akhlak pun dalam Islam meliputi semua aktivitas manusia dalam segala bidang hidup dan kehidupan.

Hirarki Nilai
Muhadjir (dalam Thoha, 1996 : 64) mengelompokkan nilai ke dalam dua jenis, yaitu; 1) Nilai Ilahiyah yang terdiri dari nilai ubudiyah dan mu’amalah, 2) Nilai Insaniyah yang terdiri dari nilai rasional, nilai sosial, nilai individual, nilai biofisik, nilai ekonomi, nilai politik dan nilai estetika. Nilai Ilahiyah ubudiyah ia letakkan pada posisi teratas, nilai Ilahiyah mu’amalah diletakkan pada posisi kedua, dan nilai etik insaniyah pada posisi berikutnya, sedangkan nilai rasional, nilai politik, nilai estetika sebagai bagian dari nilai etik insaniyah diposisikan pada posisi sejajar.

Gazalba (1978:498) memberikan penjelasan yang berbeda dengan penjelasan Muhadjir, ia membagi nilai ke dalam lima bagian sesuai dengan pendekatan hukum, yakni; 1) nilai-nilai yang wajib (paling baik), 2) nilai-nilai yang sunnah (baik), 3) nilai-nilai yang mubah (netral tidak bernilai), 4) nilai-nilai makruh (cela), 5) nilai-nilai yang haram (jelek), dan urutan nilai-nilai ini sekaligus menggambarkan hirarki nilai, dari yang tertinggi hingga nilai-nilai yang terendah.

Thoha (1996:68) mencoba mempertemukan hirarki yang telah dibuat oleh Muhadjir dengan Gazalba hingga menemukan tiga muamalah, yaitu; 1) wilayah pusat, 2) wilayah nilai-nilai Ilahiyah muamalah, dan 3) wilayah nilai-nilai insaniyah.

Wilayah pusat merupakan pusat nilai yang berisikan inti dari nilai-nilai Ilahiyah ubudiyah, yakni nilai-nilai keimanan kepada Tuhan. Nilai-nilai keimanan inilah yang berikutnya akan mewarnai nilai-nilai lainnya, seperti nilai-nilai Ilahiyah muamalah dan nilai-nilai estetika insaniyah. Wilayah nilai-nilai Ilahiyah muamalah adalah merupakan nilai-nilai terapan yang bersumber pada wahyu, sudah mulai jelas pembidangan aspek-aspek hidup yang meliputi: sosial, individual, biophisik, rasional, ekonomi, dan estetik. Sedangkan wilayah nilai-nilai insaniyah adalah wilayah nilai yang memuat tujuh nilai sebagaimana diungkapkan oleh Muhadjir.

Pembagian wilayah ini mensyaratkan adanya hubungan vertikal yang kokoh dari nilai-nilai insaniyah, nilai-nilai muamalah, hingga nilai-nilai pusat (keimanan), dengan demikian nilai-nilai insaniyah akan menemukan root valuesnya.

Jadi pengertian internalisasi nilai-nilai agama Islam adalah penghayatan atau pendalaman terhadap sesuatu yang abstrak, ideal dan menyangkut keyakinan terhadap yang dikehendaki, dan memberikan corak pada pola pikiran, perasaan, dan perilaku yang sesuai dengan akidah dan syari’at agama Islam.

Daftar Pustaka Klik DI SINI


Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


Secara etimologis, internalisasi menunjukkan suatu proses. Dalam kaidah bahasa Indonesia akhiran-isasi mempunyai definisi proses. Sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989 : 336).

Jadi teknik pembinaan agama yang dilakukan melalui internalisasi adalah pembinaan yang mendalam dan menghayati nilai-nilai relegius (agama) yang dipadukan dengan nilai-niali pendidikan secara utuh yang sasarannya menyatu dalam kepribadian peserta didik, sehingga menjadi satu karakter atau watak peserta didik.

Dalam kerangka psikologis, internalisasi diartikan sebagai penggabungan atau penyatuan sikap, standart tingkah laku, pendapat dan seterusnya di dalam kepribadian. Freud yakin bahwa superego, atau aspek moral kepribadian berasal dari internalisasi sikap-sikap parental (orang tua). (Chaplin, 2002 : 256).

Dalam proes internalisasi yang dikaitkan dengan pembinaan peserta didik atau anak asuh ada tiga tahap yang mewakili proses atau tahap terjadinya internalisasi (Muhaimin, 1996 : 153), yaitu:
a. Tahap Transformasi Nilai : Tahap ini merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pendidik dalam menginformasikan nilai-nilai yang baik dan kurang baik. Pada tahap ini hanya terjadi komunikasi verbal antara pendidik dan peserta didik atau anak asuh
b. Tahap Transaksi Nilai : Suatu tahap pendidikan nilai dengan jalan melakukan komunikasi dua arah, atau interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang bersifat interaksi timbal-balik.
c. Tahap Transinternalisasi : Tahap ini jauh lebih mendalam dari tahap transaksi. Pada tahap ini bukan hanya dilakukan dengan komunikasi verbal tapi juga sikap mental dan kepribadian. Jadi pada tahap ini komunikasi kepribadian yang berperan secara aktif (Muhaimin, 1996 : 153).

Jadi dikaitkan dengan perkembangan manusia, proses internalisasi harus berjalan sesuai dengan tugas-tugas perkembangan. Internalisasi merupakan sentral proses perubahan kepribadian yang merupakan dimensi kritis pada perolehan atau perubahan diri manusia, termasuk di dalamnya pempribadian makna (nilai) atau implikasi respon terhadap makna.

Daftar Pustaka Klik DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.