Arsip

Pembelajaran Kooperatif

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya: Penerapan Cooperative Learning dalam Pembelajaran Sejarah I

Senada dengan belajar kelompok, metode diskusi dapat diterapkan dalam materi aspek sosiologi, PPKN, dll. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam metode diskusi kelompok adalah:

1) Persiapan perencanaan diskusi
• Tujuan diskusi harus jelas
• Peserta diskusi harus memenuhi persyaratan tertentu, dan jumlahnya disesuaikan dengan sifat diskusi itu sendiri
• Penentuan dan perumusan masalah yang akan didiskusikan harus jelas
• Waktu dan tempat diskusi harus jelas
2) Pelaksanaan diskusi
• Membuat struktur kelompok
• Membagi tugas dalam diskusi
• Merangsang seluruh peserta untuk berpartisipasi
• Mencatat ide-ide atau saran penting
• Menghargai setiap pendapat yang diajukan peserta
• Menciptakan situasi yang menyenangkan
3) Tindak lanjut diskusi
• Membuat kesimpulan/laporan diskusi
• Membacakan kembali hasilnya untuk diadakan koreksi seperlunya
• Membuat penilaian terhadap pelaksanaan diskusi tersebut untuk dijadikan bahan pertimbangan dan perbaikan pada diskusi yang akan datang.[8]
c. Metode tutor sebaya
Anita Lie mendefinisikan tutor sebaya sebagai peer teaching yakni, pengajaran yang dilakukan oleh rekan sebayanya.[9] Menurutnya hal ini lebih efektif daripada pengajaran oleh guru karena latar belakang pengetahuan dan pengalaman atau yang dikenal dengan istilah skemata dalam bidang pendidikan, skemata mereka satu sama lain lebih mirip dibandingkan dengan skemata yang dimiliki oleh guru. Peer teaching menggunakan siswa sebagai guru. Dasar pemikiran tentang tutor sebaya adalah siswa yang pandai dapat memberikan bantuan kepada siswa yang kurang pandai. [10]
Metode ini dapat diterapkan dalam materi PPKN dengan mengajarkan sesama siswa keteladanan  pahlawan maupun ketika siswa mempelajari ibadah praktek, misal tata cara wudlu dan sholat.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1) Persiapan
• Merumuskan topik dan tujuan
• Membagi kelas dalam kelompok-kelompok dimana setiap kelompoknya ada satu siswa yang berfungsi sebagai tutor.
2) Pelaksanaan
• Guru memberikan penjelasan umum tentang topik yang akan dibahas
• Siswa belajar dari rekannya dalam kelompok dan jika mempunyai kesulitan dapat bertanya pada guru.
• Guru selalu memantau proses tutor sebaya dalam kelompok siswa
3) Penyelesaian
• Evaluasi bisa dilakukan oleh tutor maupun guru, jika dilakukan oleh tutor maka guru harus memberikan standar nilai yang jelas.[11]
d. Metode Jigsaw
Metode ini dikembangkan oleh Elliot Aranson, kemudian diadaptasi oleh Slavin.[12] Teknik ini serupa dengan pertukaran antar kelompok, bedanya setiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternatif menarik bila ada materi belajar yang bisa disegmentasikan.
Tiap siswa mempelajari setiap bagian yang bila digabungkan akan membentuk pengetahuan yang padu.[13]
Metode ini dapat digunakan ketika guru menyampaikan materi sejarah, Akhlaq, PPKN, Fiqh, maupun Alqur’an Hadist dimana materi-materi tersebut bisa disegmentasikan untuk dipelajari masing-masing siswa yang nantinya akan dibahas dalam kelompok.
Langkah-langkah pelaksanaannya sebagai berikut:
1) Persiapan
• Guru memilih materi yang bisa dipecah atau disegmentasikan dalam beberapa bagian.
• Menjelaskan sistem belajar yang akan dipakai
• Membentuk home teams sebagai kelompok asal
• Membentuk expert teams yang terdiri dari anggota-anggota kelompok yang mempelajari segmen yang sama dalam home teams masing-masing.
2) Pelaksanaan
• Setelah siswa terbagi dalam beberapa kelompok, tiap segmen materi diberikan pada siswa dalam home teams.
• Guru menginstruksikan siswa untuk mempelajari “bagian”nya secara mendalam dengan expert teams, yakni siswa yang mempelajari segmen yang sama.
• Guru selalu memantau proses belajar siswa dalam tiap kelompok ahli sebagai bahan evaluasi bagi proses kelompok dalam kelas maupun untuk mengetahui sejauh mana keaktifan siswa.
• Setelah proses belajar dalam expert teams usai, masing-masing siswa kembali ke kelompoknya masing-masing untuk mengajarkan apa yang telah didapat dari hasil belajar bersama anggota expert teams. Di dalam home teams siswa saling belajar dari rekannya mengenai segmen materi yang berbedabeda.
• Guru berfungsi sebagai fasilitator yang selalu mengawasi dan mengarahkan transisi kelompok agar suasana kelas tetap terkendali
3) Penyelesaian
Guru memberikan evaluasi terhadap proses kelompok dan juga pemahaman mereka terhadap materi.[14]

Langkah-langkah penerapan metode-metode dalam model CL tersebut harusnya menjadi pedoman bagi guru untuk menerapkan model Cooperative Learning dengan tetap memperhatikan situasi dan kondisi siswa maupun lingkungan yang mendukung diterapkannya model tersebut.


[1] Belajar kelompok bisa juga disebut belajar bersama (learning together) merupakan kumpulan beberapa orang dengan variasi kemampuan yang berbeda (mixed abilities group) yang saling belajar, saling berbagi pendapat dan saling membantu dengan kewajiban setiap anggota harus benar-benar memahami jawaban atau penyelesaian tugas yang diberikan kepada kelompok tersebut. Pertanyaan atau permintaan bantuan kepada guru dilakukan hanya jika mereka sudah benar-benar kehabisan akal. Yang dianggap juga penting dalam model ini adalah adanya saling ketergantungan dalam arti positif, adanya interaksi tatap muka di antara anggota, keterlibatan anggota sangatlah diperhitungkan, dan selain menggunakan ketrampilan pribadi juga mengembangkan ketrampilan kelompok. Lihat Krismanto, Belajar secara Kooperatif sebagai Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: PPG Matematika, 2000), hlm 18
[2] Winarno Surakhmad, Pengantar Interaksi Belajar Mengajar (Bandung: Tarsito, 2003), hlm. 116
[3] Bimo Walgito, op. cit., hlm. 103
[4] Nana Sudjana, CBSA dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm 87-89
[5] Robert E. Slavin, op.cit., hlm. 130
[6] Arief Armei, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 145
[7] Ahmad Sabri, Strategi Belajar Mengajar dan Micro Teaching, (Jakarta: Quantum
Teaching, 2005), hlm. 57
[8] Ibid, hlm. 58-59
[9] Anita Lie, op.cit., hlm. 31
[10] Conny Semiawan, Pendekatan Ketrampilan Proses, (Jakarta: Gramedia, 1990), cet. VI, hlm. 70
[11] Ibid
[12] Nurhadi, op.cit., hlm. 117, bisa juga dilihat dalam Slavin, op.cit., hlm. 122
[13] Melvin L. Silberman, op.cit.,
[14] John Holt, “Jigsaw: Tips On Implementation”, http://www.jigsaw.org/tips.htm., On line 5 maret 2006

Dari unsur-unsur dan tujuan CL sebagaimana dijelaskan dalam sub bab di atas, maka dapat diketahui bahwa CL menjelma dalam beberapa metode belajar, akan tetapi penulis hanya akan membahas sebagian saja, antara lain:

a. Metode belajar kelompok (learning together)
b. Metode diskusi kelompok (group discussion)
c. Metode tutor sebaya (peer teaching)
d. Metode Jigsaw
Metode-metode tersebut layak untuk diterapkan dalam berbagai macam pembelajaran, termasuk sejarah. Karena harus disadari bahwa manusia dapat menikmati kesejahteraan bukan seluruhnya diperoleh dari hasil usaha sendiri, sebagian besar diperoleh dari “jasa” orang lain.
Dalam belajarpun siswa akan memperoleh hasil yang seperti itu. Siswa yang berkekurangan dalam beberapa hal  akan memperoleh dari temannya yang mempunyai kelebihan dalam hal itu, dan sebaliknya.
Adapun langkah-langkah dalam menerapkan metode-metode CL di kelas secara umum dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa untuk belajar sejarah. (Provide objectives and motivate student)
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar sejarah
Fase 2
Menyajikan informasi (Present Information)
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar sesuai dengan segmentasi materi sejarah (Organize students in learning teams)
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar (Assist team work and study)
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat siswa belajar dalam kelompoknya
Fase 5
Evaluasi (testing)
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya
Fase 6
Memberikan penghargaan
(recognize achievement )
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya maupun hasil belajar siswa
Fase-fase tersebut memberikan gambaran penerapan CL secara umum dimana jika dikelompokkan ada tiga tahapan, yakni persiapan (merumuskan tujuan dan cara kerja kelompok, membuat daftar kelompok, membuat Rencana Pembelajaran dan lain-lain), pelaksanaan (meliputi kegiatan-kegiatan inti CL), dan penyelesaian (evaluasi, baik itu evaluasi proses kelompok maupun pencapaian pemahaman siswa).
Untuk mengetahui secara detail tentang pengertian dan langkah penerapan dari metode yang telah tersebut diatas, maka penulis akan uraikan sebagai berikut:
a. Metode belajar kelompok[1]
Menurut Winarno Surakhmad, istilah belajar kelompok atau kerja kelompok merangkum pengertian dimana anak didik dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri untuk mencapai satu tujuan pelajaran tertentu dengan gotong royong.[2]
Bimo Walgito mendefinisikannya sebagai suatu alat untuk mengembangkan sikap sosial anak selain untuk mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran.[3]
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar kelompok adalah suatu penyajian pelajaran dengan cara siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil dibawah bimbingan guru untuk mencapai tujuan pendidikan dengan bergotong royong atau bekerjasama diantara siswa. Dari kesimpulan tersebut dapat diketahui bahwa belajar kelompok bertujuan untuk membiasakan siswa mengembangkan sikap sosial dengan bergotong royong serta berfikir kreatif.
Belajar kelompok dapat diterapkan, misalnya ketika siswa mempelajari aspek sejarah kemerdekaan Indonesia atau tugas resume materi sejarah . Langkah-langkahnya adalah:
1) Persiapan
• Merumuskan topik dan bahan ajar
• Merumuskan tujuan pembelajaran
• Merumuskan langkah kerja kelompok
2) Pelaksanaan
• Berdasarkan tujuan dan bahan yang disiapkan sebelumnya, guru menjelaskan pokok-pokok bahan pengajaran secara umum sampai disertai kesempatan tanya jawab dan mencatat bahan tersebut.
• Dari bahan yang telah dijelaskan tersebut, diangkat beberapa permasalahan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang bisa ditulis guru dalam worksheet sejarah
• Bentuk kelompok siswa sesuai dengan jumlah masalah yang ditentukan pada langkah kedua. Beri siswa kesempatan untuk menentukan ketua, penulis dan juru bicara secara demokratis.
• Siswa melakukan kerja kelompok sesuai dengan masalahnya dan guru harus selalu memantau proses kelompok yang terjadi
• Laporan setiap kelompok dan tanya jawab antar kelompok dan antar siswa
3) Penyelesaian
• Setelah selesai laporan kelompok, setiap kelompok memperbaiki dan menyempurnakan hasil kerjanya berdasarkan saran dan tanggapan dari kelompok lain, sekaligus mencatat hasil kelompoknya maupun hasil kelompok lain
• Guru menarik kesimpulan dari hasil-hasil kerja kelompok sekaligus merangkum jawaban masalah yang telah dibahas oleh semua kelompok.[4]
b. Metode diskusi (group discussion)
Diskusi kelompok/group discussion adalah salah satu metode CL yang tertua dan paling sering digunakan.[5] Didefinisikan sebagai sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian dan perubahan tingkah laku pada siswa.[6]
Sedangkan Ahmad Sabri mengatakan bahwa diskusi adalah suatu kegiatan kelompok untuk memecahkan suatu masalah dengan maksud untuk mendapatkan pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk merampungkan keputusan bersama.[7] Dalam diskusi, tiap siswa diharapkan memberikan sumbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan pemahaman yang sama dalam suatu keputusan atau kesimpulan. Maka dapat disimpulkan bahwa metode diskusi adalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan ajar atau materi dengan jalan kerjasama atau musyawarah.

Bersambung DI SINI

Pengelompokan dalam Cooperative Learning
Pengelompokan dalam CL menggunakan pengelompokan heterogen yang dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman, baik keanekaragaman gender, prestasi, latar belakang agama, sosio-ekonomik, dan etnik. Ada tiga jenis kelompok dalam CL, yaitu:
a. Kelompok informal (Informal Group)
Kelompok formal adalah kelompok yang bersifat sementara, pengelompokan ini hanya digunakan dalam satu periode pengajaran. Kelompok ini biasanya hanya terdiri dari dua orang murid. Tujuan kelompok informal adalah untuk menjelaskan harapan akan hasil yang ingin dicapai, membantu murid untuk lebih fokus pada materi pembelajaran, memberi kesempatan pada murid untuk bisa secara lebih mendalam memproses informasi yang diajarkan atau menyediakan waktu untuk melakukan pengulangan dan menjangkarkan informasi.[1]
b. Kelompok Formal (Formal Group)
Kelompok formal digunakan untuk memastikan bahwa murid mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Lamanya kelompok ini bekerja bisa selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tergantung pada tugas yang diberikan kepada mereka.[2]
c. Kelompok Dasar (Base Group)
Kelompok dasar atau kelompok permanen adalah pengelompokan dengan tenggang waktu yang lebih panjang (misalnya selama satu semester atau satu tahun). Tujuannya adalah untuk memberi suatu dukungan yang berkelanjutan kepada murid.[3]
Evaluasi Cooperative Learning (CL)
Dalam penilaian CL, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok. Siswa bekerjasama dengan metode CL dengan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes. Kemudian masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai pribadi. Nilai kelompok tradisional biasanya dibentuk dengan beberapa cara. Pertama, nilai kelompok bisa diambil dari nilai terendah yang didapat oleh siswa dalam kelompok. Kedua, nilai kelompok juga diambil dari ratarata nilai semua anggota kelompok.[4] Kelebihan cara tersebut adalah semangat gotong royong yang ditanamkan. Dengan cara ini kelompok lebih keras untuk membantu semua anggota dalam mempersiapkan diri untuk tes. Namun kekurangannya adalah perasaan negatif dan tidak adil. Siswa yang mampu akan merasa dirugikan oleh nilai rekannya yang rendah, sedangkan siswa yang lemah mungkin bisa merasa bersalah karena nilai sumbangannya paling rendah. Untuk menjaga rasa keadilan ada cara lain yang bisa dipilih. Setiap anggota menyumbangkan poin diatas nilai rata-rata mereka sendiri sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi nilai terhadap kelompok mereka.


[1] Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy, (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 201-203
[2] Ibid, hlm. 202
[3] Shlomo Sharan, op.cit., hlm 54
[4] Anita Lie, op.cit., hlm. 88

Cooperative Learning (CL) memiliki unsur-unsur yang saling terkait, yakni:
a. Saling ketergantungan positif (positive interdependence) [1]
Ketergantungan positif ini bukan berarti siswa bergantung secara menyeluruh kepada siswa lain. Jika siswa mengandalkan teman lain tanpa dirinya memberi ataupun menjadi tempat bergantung bagi sesamanya, hal itu tidak bisa dinamakan ketergantungan positif. Guru harus menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Perasaan saling membutuhkan inilah yang dinamakan positif interdependence. Saling ketergantungan tersebut dapat dicapai melalui ketergantungan tujuan, tugas, bahan atau sumber belajar, peran dan hadiah.[2]
b. Akuntabilitas individual (individual accountability)
CL menuntut adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan bahan belajar tiap anggota kelompok, dan diberi balikan tentang prestasi belajar anggota-anggotanya sehingga mereka saling mengetahui rekan yang memerlukan bantuan. Berbeda dengan kelompok tradisional, akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering dikerjakan oleh sebagian anggota. Dalam CL, siswa harus bertanggungjawab terhadap tugas yang diemban masing-masing anggota.[3]
c. Tatap muka ( face to face interaction )
Interaksi kooperatif menuntut semua anggota dalam kelompok belajar dapat saling tatap muka sehingga mereka dapat berdialog tidak hanya dengan guru tapi juga bersama dengan teman. Interaksi semacam itu memungkinkan anak-anak menjadi sumber belajar bagi sesamanya. Hal ini diperlukan karena siswa sering merasa lebih mudah belajar dari sesamanya dari pada dari guru.[4]
d. Ketrampilan Sosial (Social Skill)
Unsur ini menghendaki siswa untuk dibekali berbagai ketrampilan sosial yakni kepemimpinan (leadership), membuat keputusan (decision making), membangun kepercayaan (trust building), kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan manajemen konflik (management conflict skill). Ketrampilan sosial lain seperti tenggang rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi yang lain, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.[5]
e. Proses Kelompok (Group Processing)
Proses ini terjadi ketika tiap anggota kelompok mengevaluasi sejauh mana mereka berinteraksi secara efektif untuk mencapai tujuan bersama. Kelompok perlu membahas perilaku anggota yang kooperatif dan tidak kooperatif serta membuat keputusan perilaku mana yang harus diubah atau dipertahankan.[6]
Unsur-unsur CL dalam pembelajaran akan mendorong terciptanya masyarakat belajar (learning community). Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dengan orang lain berupa sharing individu, antar kelompok dan antar yang tahu dan belum tahu.[7] Jerome Brunner mengenalkan sisi sosial dari belajar, sebagaimana dikutip oleh Melvin, ia mendeskripsikan “suatu kebutuhan manusia yang dalam untuk merespon dan secara bersama-sama dengan mereka terlibat dalam mencapai tujuan”, ia sebut resiprositas.[8] Masyarakat belajar mempunyai dorongan emosional dan intelektual yang memungkinkan peserta didik melampaui tingkat pengetahuan dan ketrampilan mereka sekarang.


[1] Ketergantungan ini bukan berarti bahwa siswa bergantung secara menyeluruh pada keberhasilan satu orang saja tetapi setiap siswa saling mempunyai peran dalam kelompok dan saling berusaha untuk memberikan kontribusi pada keberhasilan kelompok dengan saling membantu sesama rekan kelompok. Lihat Anita Lie, op.cit., hlm. 32
[2] Nurhadi, Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban, (Jakarta: Grasindo, 2004), hlm. 112.
[3] Mulyana Abdurrahman, op.cit., hlm. 122
[4] Ibid
[5] Nurhadi, op.cit., hlm 113
[6] Shlomo Sharan, op. cit., hlm.59
[7] Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 89
[8] Reprositas merupakan sumber motivasi yang bisa dimanfaatkan guru untuk menstimulasi kegiatan belajar. Dimana keterlibatan diperlukan, resiprositas diperlukan bagi kelompok untuk mencapai tujuan, disitulah terdapat proses yang membawa individu ke dalam pembelajaran, membimbingnya untuk mendapatkan kemampuan yang diperlukan dalam pembentukan kelompok. Melvin L. Silberman, Active Learning: 101 cara belajar siswa aktif,(Bandung: Nusa media, 2004), hlm 24

Tujuan dari CL adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. Model CL ini dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting, yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Meskipun CL mencakup beragam tujuan sosial, juga bertujuan memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa penelitian dari tokoh-tokoh CL, membuktikan bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit dan dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik. CL juga memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain CL adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya. CL memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas akademik dan melalui penghargaan kooperatif siswa akan belajar menghargai satu sama lain.

c. Pengembangan ketrampilan sosial
Tujuan ketiga adalah mengajarkan kepada siswa ketrampilan bekerja sama dan kolaborasi. Ketrampilan-ketrampilan sosial penting dimiliki olah siswa sebagai bekal untuk hidup dalam lingkungan sosialnya.

Segala kegiatan sebelum dimulai pasti mempunyai dasar dalam melaksanakannya. Begitu juga CL, yang menampakkan wujudnya dalam bentuk kelompok. Menurut Bimo Walgito, dasar bentuk pembelajaran ini dapat digolongkan menjadi dua:[1]
a.   Dasar Paedagogis
Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
Kalau ditinjau lebih dalam, tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Untuk mencapai tujuan semacam itu system pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.[3] Melalui CL inilah anak-anak lebih dapat dibentuk menjadi manusia utuh seperti yang diharapkan oleh tujuan pendidikan nasional.
b.   Dasar Psikologis
Dasar psikologis tersebut akan terlihat pada diri manusia dalam kehidupan sehari-hari. Manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain.[4] Sebagaimana juga dikatakan oleh Walgito bahwa kegiatan manusia digolongkan menjadi 3, yaitu:
1) Kegiatan yang bersifat Individual
2) Kegiatan yang bersifat Sosial
3) Kegiatan yang bersifat Ketuhanan. [5]

Kegiatan sosial dalam poin kedua itulah yang menjadi landasan pelaksanaan Cooperative Learning.


[1] Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Yogyakarta: Andi Offset, 1995), hlm. 103-104
[2] UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, Pasal 3, hlm. 76
[3] Mulyana Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm 124
[4] “Kebutuhan” ini akan terlihat ketika kita ada pada situasi “sendiri” sepanjang hari atau ketika kita menjadi “orang baru” dalam sebuah komunitas/group. Perasaan sendiri sebenarnya adalah jenis kecemasan (anxiety). Anxiety diartikan oleh Rollo May sebagai “the fear of becoming nothing”. Kecemasan dalam kesendirian ini menunjukkan betapa pentingnya orang lain bagi eksistensi kita sebagai individu. Tanpa ada orang lain kita merasa cemas dan merasa tidak bermakna. Lihat Henry Clay Lindgren, Educational Psychology in the classroom, (New York: John Wiley and Sons Inc, 1959), hlm. 109
[5] Bimo Walgito, op.cit., hlm 103-104. Bimo Walgito, op.cit., hlm 103-104.

Ada beberapa alasan penting mengapa CL perlu diterapkan di sekolah-sekolah. Seiring dengan proses globalisasi, terjadi juga transformasi sosial, ekonomi dan demografis yang mengharuskan sekolah-sekolah untuk lebih menyiapkan anak didik dengan ketrampilanketrampilan hidup bermasyarakat sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam dunia yang cepat berubah dan berkembang pesat.

Alasan tersebut antara lain:
a. Transformasi Sosial
Transformasi sosial secara sederhana dapat dilihat dalam perubahan struktur keluarga. Semakin banyak anak yang dibesarkan dalam keluarga inti tanpa kehadiran dan pengasuhan penuh dari orang tua. Parahnya, seorang anak bisa meluangkan waktunya lebih banyak di depan televisi, bermain games dan play station dari pada berbicara dengan ayah atau ibu mereka. Dengan kata lain, saat mata mereka terpaku pada layar kaca, hilanglah kesempatan untuk mengembangkan interaksi sosial dan kemampuan berkomunikasi anak. Di tengah-tengah transformasi sosial yang membawa makin banyak dampak negatif, pendidikan tidak lagi hanya memperhatikan perkembangan kognitif saja tetapi juga sisi moral dan sosialnya. Pendidikan harus memberikan banyak kesempatan untuk belajar berinteraksi dan bekerjasama dengan sesama.

b. Transformasi Ekonomi.
Interdependence menjadi ciri transformasi ekonomi. Kemampuan individu akan menjadi hal yang sia-sia ketika tidak diimbangi dengan kemampuan bekerjasama. Kemampuan kerjasama ini akan menjadi modal urgen untuk mencapai tujuan dan keberhasilan suatu usaha. Sebagai pendidik yang bertanggung jawab, guru harus merasa terpanggil untuk mempersiapkan anak didiknya agar bisa berkomunikasi dan bekerjasama dalam berbagai macam situasi sosial.\

c. Transformasi Demografis
Transformasi demografis dicirikan dengan adanya urbanisasi. Kompetisi dan eksploitasi adalah bentuk konsekuensi hidup dalam masyarakat urban. Realitas menunjukkan bahwa urbanisasi memegang peranan dalam penciptaan homo homini lupus. Sekolah seharusnya bisa berbuat lebih banyak dalam mengubah arah evolusi nilai sosial. Sebagai rumah kedua, sekolah merupakan tempat untuk menanamkan sikap-sikap kooperatif dan mengajarkan cara-cara bekerjasama, dalam artian, untuk membentuk siswa menjadi homo homini socius.

Dalam proses belajar mengajar dewasa ini dikenal istilah Cooperative Learning atau pembelajaran gotong royong. Cooperative Learning (CL) terdiri dari dua kata yaitu Cooperative dan Learning. Cooperative berarti “acting together with a common purpose”.[1] Basyiruddin Usman mendefinisikan cooperative sebagai belajar kelompok atau bekerjasama.[2] Menurut Burton yang dikutip oleh Nasution, kooperatif atau kerjasama ialah cara individu mengadakan relasi dan bekerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama.[3]
Sedangkan Learning adalah “the process through which experience causes permanent change in knowledge and behavior” yakni proses melalui pengalaman yang menyebabkan perubahan permanent dalam pengetahuan dan perilaku.[4] Senada dengan hal itu Arthur T. Jersild, yang dikutip Syaiful Sagala, mendefinisikan bahwa Learning adalah “modification of behavior through experience and training” yakni pembentukan perilaku melalui pengalaman dan latihan.[5] Dia menambahkan bahwa learning sebagai kegiatan memperoleh pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan ajar.[6]
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CL adalah usaha mengubah perilaku atau mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan secara gotong royong atau kerjasama.
David dan Roger Johnson mendefinisikan CL adalah “a teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject.”[7] (Strategi pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil dimana setiap siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda, dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi). Asep Gojwan mendefinisikan Cooperative Learning sebagai suatu model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar guna meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif.[8]
Setiap anggota kelompok bukan hanya belajar materi apa yang diajarkan tetapi juga membantu anggota yang lain untuk belajar. Model pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan positif (Positive Interdependence), tanggungjawab perseorangan (Individual Accountability), tatap muka (Face to face Interaction), ketrampilan sosial (Social Skill) dan proses kelompok (Group Processing).[9]

Inti dari CL ini adalah konsep synergy, yakni energi atau tenaga yang terhimpun melalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat.[10] Penerapannya beranjak dari konsep Dewey yang dikutip oleh Yurnetti bahwa “classroom should mirror the large society and be a laboratory for real life learning.”[11] Terjemahan bebasnya bahwa kelas seharusnya mencerminkan keadaan masyarakat luas dan menjadi laboratorium untuk belajar kehidupan nyata. Jadi CL dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama/gotong royong dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya, terbentuknya sikap dan perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar siswa.



[1] Sally Wehmeier, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, (New York: Oxford University Press,2000), hlm. 276
[2] M. Basyiruddin Usman, Metode Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 14
[3] S. Nasution, Didaktik Azas Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2000), hlm. 148.
[4] Anita E. Woofolk, Educational Psychology, (USA: Allyn & Bacon,1996), cet. VI, hlm. 196.
[5] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 12.
[6] Ibid. Ibid.
[7] David and Roger Johnson, “Cooperative Learning”, http//:www.clrcc.com/pages/cl.html, [Online] 15 October 2001.
[8] Asep Gojwan, “Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran PAI”, http://pps.upi.edu/org/
[9] David dan Roger T. Johnson, “Learning Together”, dalam Shlomo, Sharan (ed.),
Handbook of Cooperative Learning Methods, (Connecticut London: Praeger,1999), hlm. 58.
[10] Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 177 Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 177
[11] Yurnetti, “Pembelajaran Kooperatif Sebagai Model Alternatif”, Jurnal Himpunan Fisika Indonesia, Volume B5, Agustus 2002, hlm. 1

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Siswa Bekerja Dalam Kelompok-Kelompok Kecil
Siswa ditempatkan dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.

2. Games Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing – masing ditempatkan dalam meja – meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut.

Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.
Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

3. Penghargaan Kelompok
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata – rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.1
Perhitungan Poin Permainan Untuk Empat Pemain

Pemain dengan
Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top Scorer
40
High Middle Scorer
30
Low Middle Scorer
20
Low Scorer
10

Tabel 2.2
Perhitungan Poin Permainan Untuk Tiga Pemain
Pemain dengan
Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top scorer
60
Middle scorer
40
Low scorer
20
(Sumber : Slavin, 1995:90)

Dengan keterangan sebagai berikut:
Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer ( skor tinggi ), Low Middle
Scorer ( skor rendah ), Low Scorer ( skor terendah), ( skor sedang )
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :
1. Mengajar (teach)
Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
2. Belajar Kelompok (team study)
Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras / suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
3. Permainan (game tournament)
Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing – masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan – pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
4. Penghargaan kelompok (team recognition)
Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam kertas HVS, dimana penghargaan ini akan diberikan kepada tim yang memenuhi kategori rerata poin sebagai berikut.

Tabel 2.3
Kriteria Pengahrgaan Kelompok
Kriteria ( Rerata Kelompok )
Predikat
30 sampai 39
Tim Kurang baik
40 sampai44
Tim Baik
45 sampai 49
Tik Baik Sekali
 50 ke atas
Tim Istimewa
(Sumber Slavin, 1995 )

Daftar Rujukan:

1. Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

2. Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

3. Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

4. Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indo
5. Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma’arif 02 Singosari. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana
6. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Persada

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  pembelajaran kooperatif model TGT . Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang pembelajaran kooperatif model TGT sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema pembelajaran kooperatif model TGT. 

Menurut Hopkins (Noornia, 1997:14) Teams-Games Tournament (TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif di mana setelah siswa belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing anggota kelompok. Mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Seperti karakteristik pembelajaraan kooperatif lainnya, TGT memunculkan adanya kelompok dan kerjasama dalam belajar. Di samping itu, terdapat persainga antar individu maupun antar kelompok. Dalam TGT, siswa yang mempunyai kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda dijadikan dalam sebuah tim yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif TGT sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya, dan adanya unsur reinforcement.
Kemudahan penerapan TGT ini disebabkan dalam pelaksanaanya tidak adanya fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan atau ruangan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan aktivitas seluruh siswa untuk memperoleh konsep yang diinginkan. Kegiatan tutor sebaya terlihat ketika siswa melaksanakan turnamen yaitu setelah masing-masing anggota kelompok membuat soal dan jawabannya, untuk selanjutnya saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama. Sedangkan untuk memotivasi belajar siswa dalam TGT terdapat unsure reinforcement. Secara sistematis penerapan model TGT meliputi empat langkah yaitu: apersepsi, orientasi, turnamen, dan refleksi.
Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT memang sangat penting, karena TGT sebagai bagian dari metode pembelajaran dalam KBK mampu memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi jika dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Berikut tinjauan dari konsep kompetensi yang disebutkan Gordon (Mulyasa, 2002:38-39):
1. Pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam aspek kognitif, dengan menggunakan TGT pengetahuan siswa mengenai materi pelajaran akan lebih mendalam karena dalam TGT ada unsur tutor sebaya.
2. Pemahaman (understanding); yaitu kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Di samping memahami meteri pelajaran dengan TGT siswa juga dilatih untuk memahami perasaan orang lain.
3. Kemampuan (skill); adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kompetensi ini dapat dengan mudah diperoleh siswa, karena dalam TGT mengembangkan banyak kompetensi diantaranya membuat pertanyaan dan menjelaskan kepada siswa lain.
4. Nilai (value); adalah suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Kompetensi ini pada TGT terkandung dalam kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda.
5. Sikap (attitude); yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang akan datang dari luar. Kompetensi sikap diperoleh siswa karena dalam TGT siswa belajar dengan kelompok masing-masing tanpa ada tekanan dari guru, sehingga siswa merasa senang dan santai.
6. Minat (interest); adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar siswa untuk mempelajari materi pelajaran.
Jika ditinjau dari prinsip pendukung pengembangan KBK yang tercantum dalam Depdiknas I-A (2003:25) pembelajaran kooperatif model TGT merupakan metode pembelajaran yang benar-benar efektif dan efisien. Berikut ini analisis penerapan pembalajaran kooperatif model TGT terhadap prinsip pendukung pengembangan KBK.
1. Berpusat pada peserta didik
Dalam TGT peserta didik diposisikan sebagai subjek belajar, artinya yang melaksanakan KBM adalah siswa. KBM dengan TGT ini dilakukan dengan melakukan turnamen yaitu saling menanyakan antar anggota dalam kelompok, sehingga konsep diperoleh berdasarkan hasil diskusi dalam masing-masing kelompok dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
2. Mengembangkan kreativitas peserta didik
KBM perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kesempatan peserta didik untuk berkreasi secara berkesinambungan guna mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik. Pada TGT pengembangan kreativitas ini terwujud dengan pemberian tugas individu siswa untuk membuat pertanyaan sekaligus jawaban secara bebas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
3. Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang
Proses pembelajaran dalam TGT dilaksanakan oleh setiap kelompok sehingga dapat berjalan lebih rileks. Suasana belajar yang menyenangkan sangat doperlukan karena otak tidak akan bekerja secara optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Selain itu dalam turnamen pada proses pembelajaran TGT setiap siswa bersaing untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya, sehingga dengan persaingan tersebut siswa akan merasa lebih tertantang untuk menjadi yang terbaik.
4. Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai
Peserta didik akan belajar secara optimal jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter ataupun intra personal. Pengembangan kemampuan dalam TGT terbukti dengan adanya tugas membuat pertanyaan, kerjasama untuk saling melengkapi dalam memperoleh konsep yang benar dan adanya kebiasaan untuk berusaha memahami siswa lain.
5. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam
Keragaman pengalaman belajar menuntut keragaman penyediaan sumber belajar, keragaman cara penilaian, keragaman tempat belajar, keragaman waktu, dan keragaman organisasi kelas. Pengalaman belajar juga menyediakan proporsi yang seimbang antara pemberian informasi dan penyajian terapannya. Metode TGT memberikan pengalaman yang sangat beragam pula diantaranya cara memberikan penjelasan kepada orang lain, melakukan penilaian dan cara bekerjasama dalam suatu tim. Penyediaan proporsi yang seimbang dalam TGT terbukti adanya perlengkapan konsep oleh guru yang memerlukan adanya tambahan media atau bahan amatan, seperti: charta, model atau bahan asli.
6. Belajar melalui berbuat
Melalui TGT siswa belajar berbuat untuk memperoleh konsep dengan bekerjasama dalam setiap kelompok. Hasil belajar akan meningkat bila kegiatan pembelajaran dalam TGT dikondisiskan sedemikian rupa supaya peserta didik melakukan kegiatan praktis, seperti penggunaan telinga untuk mendengarkan penjelasan teman.

Daftar Pustaka Klik DI SINI

Demikian artikel singkat tentang pembelajaran kooperatif model TGT ini. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang pembelajaran kooperatif model TGT. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.