Arsip

Pendidikan Agama

Berikut ini adalah beberapa pengertian perilaku menyimpang dari beberapa tokoh, antara lain menurut:

Ronald A. Hordert, perilaku menyimpang adalah setiap tindakan yang melanggar keinginan-keinginan bersama sehingga dianggap menodai kepribadian kelompok yang akhirnya si pelaku dikenai sanksi. Keinginan bersama yang dimaksud adalah sistem nilai dan norma yang berlaku.

Robert M. Z. Lawang, perilaku menyimpang merupakan semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang.
James W. Van Der Zanden, perilaku menyimpang merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas toleransi.

Menurut Bruce J Cohen, Perilaku menyimpang didefinisikan sebagai perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat. Batasan perilaku menyimpang ditentukan oleh norma-norma atau nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Suatu tindakan yang mungkin pantas dan dapat diterima di satu tempat mungkin tidak pantas dilakukan di tempat yang lain.

Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.

Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas kami menyimpulkan bahwa “perilaku menyimpang” adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat. Perilaku menyimpang dapat terjadi pada manusia muda, dewasa, atau tua baik laki-laki maupun perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal pangkat atau jabatan dan tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat. Penyimpangan bisa terjadi dalam skala kecil maupun skala besar.

Nilai Religius di Sekolah
Sejak pemikiran manusia memasuki tahap positif dan fungsional sekitar abad ke-18, pendidikan (baca: pendidikan agama) mulai digugat eksistensinya. Suasana kehidupan modern dengan kebudayaan massif serta terpenuhinya berbagai mobilitas kehidupan secara teknologis-mekanis, pada satu sisi telah melahirkan krisis etika dan moral. Meminjam bahasanya Zainuddin, Manusia di penjuru dunia ini cenderung mengabaikan aturan-aturan yang diberikan oleh Tuhan dan memisahkan fungsi pengaturan kehidupan dari campur tangan agama (sekuler).

Dalam konteks keindonesiaan, badai krisis tersebut pada puncak kulminasinya dapat pada kerusuhan bulan Mei 1998 yang telah memporak-porandakan tatanan nilai agama dan masyarakat. Etika dan tatakrama yang selama ini terinternalisasi dalam budaya anak bangsa yang santun, berubah menjadi gugusan retorika yang tak bermakna. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ber- tipikal qur’anik karena indahnya kehidupan di tengah kondisi bangsa yang serba plural, menjadi bangsa kanibal (pemangsa sesamanya) yang menakutkan.

Krisis moral tersebut tidak hanya melanda masyarakat lapisan bawah (grass root), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. Munculnya fenomena white collar crimes (kejahatan kerah putih atau keja¬hatan yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru, politisi atau yang setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh para elit, merupakan indikasi kongrit bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional.

Ralitas di atas mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pendidikan agama yang selama ini dipandang oleh sebagaian besar masyarakat telah gagal dalam membangun afeksi anak didik dengan nilai-nilai yang eternal serta mampu menjawab tantangan zaman yang teruys berubah (aktual). Terlebih lagi dalam hal ini, dunia pendidikan yang mengemban peran sebagai pusat pengembangan ilmu dan SDM, pusat sumber daya penelitian dan sekaligus pusat kebudayaan kurang berhasil –kalau tidak dikatakan gagal- dalam mengemban misinya. Sistem pendidikan yang dikembangkan selama ini lebih mengarah pada pengisian kognitif mahasiswa un-sich, sehingga melahirkan lulusan yang cerdas tetapi kurang bermoral. Aspek afeksi dan psikomotor yang sangat vital keberadaannya terabaikan begitu saja.

Fenomena di atas tidak terlepas dari adanya pemahaman yang kurang benar tentang agama (religi) dan keberagaan (religiusitas). Agama sering kali dimaknai secara dangkal, tekstual dan cenderung esklusif. Nilai-nilai agama hanya dihafal sehingga hanya berhenti pada wilayah kognisi, tidak sampai menyentuh aspek afeksi dan psikomotorik.
Keberagamaan (religiusitas) tidak selalu identik dengan agama. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan, dalam aspek yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Sedangkan keberagamaan atau religiusitas lebih melihat aspek yang “di dalam lubuk hati nurani” pribadi. Dan karena itu, religiusitas lebih dalam dari agama yang tampak formal.

Istilah nilai keberagamaan (religius) merupakan istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Secara etimologi nilai keberagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan keberagamaan. Menurut Rokeach dan Bank bahwasannya nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak untuk menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Ini berarti pemaknaan atau pemberian arti terhadap suatu objek. Sedangkan keberagamaan merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.

Menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap religius yang tampak dalam diri seseorang dalam menjalankan tugasnya, di antaranya:

a. Kejujuran
Rahasia untuk meraih sukses menurut mereka adalah dengan selalu berkata jujur. Mereka menyadari, justru ketidak jujuran kepada pelanggan, orang tua, pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang berlarut-larut. Total dalam kejujuran menjadi solusi, meskipun kenyataan begitu pahit.
b. Keadilan
Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun. Meraka berkata, “pada saat saya berlaku tidak adil, berarti saya telah mengganggu keseimbangan dunia.
d. Bermanfaat bagi Orang Lain
Hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religus yang tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi saw: “sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain”.
e. Rendah Hati
Sikap rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan atau kehendaknya. Dia tidak merasa bahwa dirinyalah yang selalu benar mengingat kebenaran juga selalu ada pada diri orang lain.
f. Bekerja Efisien
Mereka mampu memusatkan semua perhatian mereka pada pekerjaan saat itu, dan begitu juga saat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan santai, namun mampu memusatkan perhatian mereka saat belajar dan bekerja.
g. Visi ke Depan
Mereka mampu mengajak orang ke dalam angan-angannya. Dan menjabarkan bagitu terinci, cara-cara untuk menuju kesana. Tetapi pada saat yang sama ia dengan mantap menatap realitas masa kini.
h. Disiplin Tinggi
Mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari semangat penuh gairah dan kesadaran, bukan berangkat dari keharusan dan keterpaksaan. Mereka beranggapan bahwa tindakan yang berpegang teguh pada komitmen untuk diri sendiri dan orang lain adalah hal yang dapat menumbuhkan energi tingkat tinggi
i. Keseimbangan
Seseorang yang memiliki sifat religius sangat menjaga keseimbangan hidupnya, khusunya empat aspek inti dalam kehidupannya, yaitu: keintiman, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.

Dalam kontek pembelajaran, beberapa nilai religius tersebut bukankan tanggung jawab guru agama semata. Kejujuran tidak hanya disampaikan lewat mata pelajaran agama saja, tetapi juga lewat mata pelajaran lainnya. Misalnya seorang guru matematika mengajarkan kejujuran lewat rumus-rumus pasti yang menggambarkan suatu kondisi yang tidak kurang dan tidak lebih atau apa adanya. Begitu juga seorang guru ekonomi bisa menanamkan nilai-nilai keadilan lewat pelajaran ekonomi. Seseorang akan menerima untung dari suatu usaha yang dikembangkan sesuai dengan besar kecilnya modal yang ditanamkan. Dalam hal ini, aspek keadilanlah yang diutamakan.

Keberagamaan atau religiusitas seseorang diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupannya. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang.

Menurut Nurcholis Madjid, agama bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti shalat dan membaca do’a. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridla atau perkenan Allah. Agama dengan demikian meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami bahwa nilai religius adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh-kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan Illahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

Bila nilai-nilai religius tersebut telah tertanam pada diri siswa dan dipupuk dengan baik, maka dengan sendirinya akan tumbuh menjadi jiwa agama. Dalam al ini jiwa agama merupakan suatu kekuatan batin, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia yang menurut para ahli Ilmu Jiwa Agama, kekuatan tersebut bersarang pada akal, kemauan dan perasaan. Selanjutnya, jiwa tersebut dituntun dan dibimbing oleh peraturan atau undang-undang Illahi yang disampaikan melalui para Nabi dan Rosul-Nya untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan baik di kehidupan dunia ini maupun dan di akhirat kelak.

Bila jiwa agama telah tumbuh dengan subur alam diri siswa, maka tugas pendidik selanjutnya adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sikap beragama siswa. Sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama. Sikap keagamaan tersebut karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif/ psikomotorik. Jadi sikap keagamaan pada anak sangat berhubungan erat dengan gejala kejiwaan anak yang terdiri dari tiga aspek tersebut.

Daftar Pustaka:
1. Zainuddin, Tantangan Pendidikan Tinggi Islam Pada Millenium Ketiga, dalam tabloid GEMA STAIN Malang, edisi Mei-Juni 2000, hal. 2.
2. Moh. Yunus, Pluralitas Agama dan Kekerasan Kolektif, Perspektif Sosiolagi Agama, Dalam majalah el-Harakah STAIN Malang, Edisi April – Juni 2000, hal : 26
3. A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial (Mendidik Anak Sukses Masa Depan : Pandai dan Bermanfaat ), Semarang: Aneka Ilmu, 2002, hal. 8-14
4. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Rosdakarya, 2001, hal. 288
5. Madyo Ekosusilo, Hasil Penelitian Kualitatif Sekolah Unggul Berbasis Nilai (Studi Multi Kasus di SMA Negeri 1, SMA Regia Pacis, dan SMA Al Islam 01 Surakarta), Sukoharjo: Univet Bantara Press, 2003), hal.22
6. Ary Ginanjar Agustian Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: Sebuah Inner Journey Melalui Ihsan. Jakarta: ARGA, 2003, hal. 249
7. Djamaluddin Ancok, Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, Cet. II, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995, hal. 76
8. Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius. Jakarta: Paramadina, 1997, hal. 124
9. Muhaimin dan Abdul Mudjib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, Triganda Karya, Bandung, 1993, hal. 35

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com


Landasan PAI di Sekolah
Dalam pembahasan ini akan dikemukakan dua landasan pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah, yaitu: landasan historis dan landasan perundang-undangan sebagai sumber hukum positif. Kedua landasan itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Landasan Historis
Ketika Pemerintah Sjahrir menyetujui pendirian Kementrian Agama (sekarang Departemen Agama) pada 3 Januari 1946, elit Muslim menempatkan agenda pendidikan menjadi salah satu agenda utama Kementrian Agama selain urusan haji, peradilan, dan penerangan. Sebagai reaksi terhadap kenyataan lembaga pendidikan yang tidak memuaskan harapan mereka, elit Muslim tersebut dalam alam proklamasi memusatkan perhatian kepada dua upaya utama yang satu sama lain saling berkaitan.

Pertama ialah mengembangkan pendidikan agama (Islam) pada sekolah-sekolah umum yang sejak Proklamasi berada di bawah pembinaan Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan (Kementrian PPK). Upaya ini meliputi: (1) memperjuangkan status pendidikan agama di sekolah-sekolah umum dan pendidikan tinggi, (2) mengembangkan kurikulum agama, (3) menyiapkan guru-guru agama yang berkualitas, dan (4) menyiapkan buku-buku pelajaran agama. Kedua, upaya yang dilakukan oleh Kementrian Agama ialah peningkatan kualitas atau “modernisasi” lembaga-lembaga pendidikan yang selama ini telah memberi perhatian pada pendidikan/pengajaran agama Islam dan pengetahuan umum modern sekaligus.

Strateginya ialah: (1) dengan cara memperbarui kurikulum yang ada dan memperkuat porsi kurikulum pengajaran umum modern sehingga tak terlalu ketinggalan dari sekolah-sekolah umum, (2) mengembangkan kualitas dan kuantitas guru-guru bidang umum, (3) menyediakan fasilitas belajar seperti buku-buku bidang studi umum, dan (4) mendirikan sekolah Kementrian Agama di berbagai daerah/wilayah sebagai percontohan atau model bagi lembaga pendidikan Islam setingkat.

Dari landasan sejarah di atas dapat kita pahami bahwa salah satu perjuangan elit Muslim Indonesia sejak awal kemerdekaan pada bidang pendidikan adalah memperkokoh posisi pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah-sekolah umum sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Dari perjuangan ini dapat kita pahami bahwa masuknya PAI pada kurikulum sekolah umum seluruh jenjang merupakan perjuangan gigih para tokoh elit Muslim sejak awal kemerdekaan hingga sekarang ini. Maka dari itu, keberadaan dan peningkatan mutunya tentunya merupakan kewajiban kita khususnya kalangan akademis di lingkungan PTAI maupun para praktisi pendidikan di lapangan.

b. Landasan Perundangan-undangan
Landasan perundang-undangan sebagai landasan hukum positif keberadaan PAI pada kurikulum sekolah sangat kuat karena tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab V Pasal 12 ayat 1 point (a), bahwasannya setiap peserta didik dalam setiap satuan pendidikan berhak: (a) mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.

Peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab X Pasal 36 ayat 3 point (a), bahwasannya kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan: (a) peningkatan iman dan taqwa. Dan pasal 37 ayat 1 point (a), bahwasannya kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat: (a) pendidikan agama. Dengan merujuk beberapa pasal dalam UUSPN No. 20/2003, maka semakin jelaslah bahwa kedudukan PAI pada kurikulum sekolah dari semua jenjang dan jenis sekolah dalam perundang-undangan yang berlaku sangat kuat.

Dalam PP No 19 Thn 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada Pasal 6 poin 1 dijelaskan bahwa kurikulum untuk jenis pendidikan umum, kejuruan, dan khusus pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas: kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia; kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian; kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; kelompok mata pelajaran estetika; kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

Selanjutnya pada pasal 7 poin 1 dijelaskan bahwa kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia pada SD/MI/SDLB/Paket A, SMP/MTs/SMPLB/Paket B, SMA/MA/SMALB/ Paket C, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olah raga, dan kesehatan.
Dari beberapa landasan perundang-undangan di atas sangat jelas bahwa pendidikan agama merupakan salah satu mata pelajaan yang wajib ada di semua jenjang dan jalur pendidikan. Dengan demikian, eksistensinya sangat strategis dalam usaha mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum.

Sementara itu, bila dilihat dari proses pengembangan kurikulum, maka ketika KBK diterapkan di beberapa sekolah sejak tahun 2004 atau bahkan ada yang telah menetapkannya sejak tahun 2003, maka kurikulum itu masih dalam taraf uji coba (eksperimen) dan belum ditetapkan dalam bentuk peraturan pemerintah. Namun demikian, pemerintah tetap menghargai terhadap mereka yang telah melakukan eksperimen KBK tersebut, sehingga di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2005 tentang Ujian Nasional tahun pelajaran 2005/2006 pada pasal 8 dinyatakan bahwa “Bahan ujian nasional disusun berdasarkan kurikulum 1994 atau standar kompetensi lulusan “Kurikulum 2004”. Dengan kata lain satuan pendidikan dapat memilih di antara kedua kurikulum tersebut. Bagi sekolah atau madrasah yang menetapkan kurikulum 2004, bahan ujian disesuaikan dengan kurikulum 2004.

Uraian diatas menggarisbawahi bahwa pengembangan KTSP antara lain menggunakan menggunakan pendekatatan KBK yang memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Menitik beratkan pencapaian target (attainment targets) kompetensi daripada penguasaan materi.
b. Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
c. Memberikan kebebasan yang luas kepada pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pendidikan sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat ditarik benang merah bahwa esensi pengembangan KTSP adalah “mengembangkan pendidikan yang demokratis dan non-monopolistik”. Karena itulah kurikulum yang dikembangkan di pusat cukup sebagai rambu-rambu umum tentang standar kompetensi lulusan yang harus dicapai serta standar isi. Di pusat tidak perlu sampai mengatur urutan perbulan/minggu dan seterusnya, yang diberlakukan untuk sekolah/madrasah di daerah, apalagi sampai memaksakan suatu metode dan teori mengajar tertentu.

Terkait dengan hal di atas, pendidikan agama yang nota benenya hanya diajarkan dalam bobot 2 sks akan mudah disiasati oleh para guru agama dalam mencapai tujuan pembelajaran. Guru agama memiliki keleluasaan dalam mengembangkan materi agama sehingga tidak selalu terpaku pada pencapaian target dari rentetan materi yang ada, tetapi lebih terfokus pada tercapainya tujuan dari setiap sub bahasan yang disampaikan.

Rujukan:
1. Didin Syafrudin, Meninjau Keberadaan Fakultas Tarbiyah, dalam Komarudin Hidayat & Hendro Suprayitno, Problem &Prospek IAIN. Jakarta: Departemen Agama, 2000, hal. 118-119
2. UU Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional
3. PP No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan
4. Muhaimin, dkk., Pengembangan Model Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah, Bandung: Raja Grafindo Persada, 2008, hal. 5-6

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com



Budaya religius sekolah adalah cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Religius menurut Islam adalah menjalankan ajaran agama secara menyeluruh (kaffah).

Menurut Glock & Stark (1966) dalam Muhaimin, ada lima macam dimensi keberagamaan, yaitu:
a. Dimensi keyakinan yang berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui keberadaan doktrin tersebut.
b. Dimensi praktik agama yang mencakup perilaku pemujaan, ketaatan dan hal-hal yang dilakukan orang untuk menunjukkan komitmen terhadap agama yang dianutnya.
c. Dimensi pengalaman. Dimensi ini berisikan dan memperhatikan fakta bahwa semua agama mengandung pengharapan-pengharapan tertentu.
d. Dimensi pengetahuan agama yang mengacu kepada harapan bahwa orang-orang yang beragama paling tidak memiliki sejumlah minimal pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus, kitab suci dan tradisi.
e. Dimensi pengamalan atau konsekuensi. Dimensi ini mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.

Tradisi dan perwujudan ajaran agama memiliki keterkaitan yang erat, karena itu tradisi tidak dapat dipisahkan begitu saja dari masyarakat/lembaga di mana ia dipertahankan, sedangkan masyarakat juga mempunyai hubungan timbak balik, bahkan saling mempengaruhi dengan agama. Untuk itu, menurut Mukti Ali, agama mempengaruhi jalannya masyarakat dan pertumbuhan masyarakat mempengaruhi pemikiran terhadap agama. Dalam kaitan ini, Sudjatmoko juga menyatakan bahwa keberagamaan manusia, pada saat yang bersamaan selalu disertai dengan identitas budayanya masing-masing yang berbeda-beda.

Dalam tataran nilai, budaya religius berupa: semangat berkorban (jihad), semangat persaudaraan (ukhuwah), semangat saling menolong (ta’awun) dan tradisi mulia lainnya. Sedangkan dalam tataran perilaku, budaya religius berupa: berupa tradisi solat berjamaah, gemar bersodaqoh, rajin belajar dan perilaku yang mulia lainnya.

Dengan demikian, budaya religius sekolah adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai tradisi dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai tradisi dalam sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti tradisi yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.

Oleh karena itu, untuk membudayakan nilai-nilai keberagamaan (religius) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain melalui: kebijakan pimpinan sekolah, pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas, kegiatan ektrakurikuler di luar kelas serta tradisi dan perilaku warga sekolah secara kontinyu dan konsisten, sehingga tercipta religious culture tersebut dalam lingkungan sekolah.

Saat ini, usaha penanaman nilai-nilai religius dalam rangka mewujudkan budaya religius sekolah dihadapkan pada berbagai tantangan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, pendidikan dihadapkan pada keberagaman siswa, baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama. Lebih dari itu, setiap siswa memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelajaran agama diharapkan menerapkan prinsip-prinsip keberagaman sebagai berikut:
a. Belajar Hidup dalam Perbedaan
Perilaku-perilaku yang diturunkan ataupun ditularkan oleh orang tua kepada anaknya atau oleh leluhur kepada generasinya sangatlah dipengaruhi oleh kepercayaan-kepercayaan dan nilai budaya, selama beberapa waktu akan terbentuk perilaku budaya yang meresapkan citra rasa dari rutinitas, tradisi, bahasa kebudayaan, identitas etnik, nasionalitas dan ras.

Perilaku-perilaku ini akan dibawa oleh anak-anak ke sekolah dan setiap siswa memiliki perbedaan latar belakang sesuai dari mana mereka berasal. Keragaman inilah yang menjadi pusat perhatian dari pendidikan agama Islam berwawasan multikultural. Jika pendidikan agama Islam selama ini masih konvensional dengan lebih menekankan pada proses how to know, how to do dan how to be, maka pendidikan agama Islam berwawasan multikultural menambahkan proses how to live and work together with other yang ditanamkan oleh praktek pendidikan melalui:
1) Pengembangansikap toleransi, empati dan simpati yang merupakan prasyarat esensial bagi keberhasilan koeksistensi dan proeksistensi dalam keragaman agama. Pendidikan agama dirancang untuk menanamkan sikap toleran dari tahap yang paling sederhana sampai komplek.
2) Klarifikasi nilai-nilai kehidupan bersama menurut perspektif anggota dari masing-masing kelompok yang berbeda. Pendidikan agama harus bisa menjembatani perbedaan yang ada di dalam masyarakat, sehingga perbedaan tidak menjadi halangan yang berarti dalam membangun kehidupan bersama yang sejahtera.
3) Pendewasaan emosional, kebersamaan dalam perbedaan membutuhkan kebebasan dan keterbukaan. Kebersamaan, kebebabasan dan keterbukaan harus tumbuh bersama menuju pendewasaan emosional dalam relasi antar dan intra agama-agama.
4) Kesetaraan dalam partisipasi. Perbedaan yang ada pada suatu hubungan harus diletakkan pada relasi dan kesalingtergantungan, karena itulah mereka bersifat setara. Perlu disadari bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk hidup serta memberikan kontribusi bagi kesejahteraan manusia yang universal.
5) Kontrak Sosial dan aturan main kehidupan bersama. Perlu kiranya pendidikan agama memberi bekal tentang ketrampilan berkomunikasi, yang sesungguhnya sudah termaktub dalam nilai-nilai agama Islam.

b. Membangun Saling Percaya (Mutual Trust)
Saling percaya merupakan faktor yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Disadari atau tidak prasangka dan kecurigaan yang berlebih terhadap kelompok lain telah diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hal ini yang membuat kehati-hatian dalam melakukan kontrak, transaksi, huibungan dan komunikasi dengan orang lain, yang justru memperkuat intensitas kecurigaan yang dapat mengarah pada ketegangan dan konflik. Maka dari itu pendidikan agama memiliki tugas untuk menanamkan rasa saling percaya anta agama, anatar kultur dan antar etnik.

c. Memelihara Saling Pengertian (Mutual Understanding)
Saling mengerti berarti saling memahami, perlu diluruskan bahwa memahami tidak serta merta disimpulkan sebagai tindakan menyetujui, akan tetapi memahami berarti menyadari bahawa nilai-nilai mereka dan kita dapat saling berbeda, bahkan mungkin saling melengkapi serta memberi kontribusi terhadap relasi yang dinamis dan hidup. Pendidikan agama berwawasan multikultural mempunyai tanggung jawab membangun landasan-landasan etis saling kesepahaman antara paham-paham intern agama, antar entitas-entitas agama dan budaya yang plural, sebagi sikap dan kepedulian bersama.

d. Menjunjung Sikap Saling Menghargai (Mutual Respect)
Menghormati dan menghargai sesama manusia adalah nilai universal yang dikandung semua agama di dunia. Pendidikan agama menumbuhkembangkan kesadaran bahwa kedamaian mengandalkan saling menghargai antar penganut agama-agama, yang dengannya kita dapat dan siap untuk mendengarkan suara dan perspektif agama lain yang berbeda, menghargai signifikansi dan martabat semua individu dan kelompok keagamaan yang beragam. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri tidak harus diperoleh dengan mengorbankan kehormatan dan harga diri orang lain apalagi dengan menggunakan sarana dan tindakan kekerasan. Saling menghargai membawa pada sikap berbagi antar semua individu dan kelompok.

e. Terbuka dalam Berfikir
Selayaknya pendidikan memberi pengetahuan baru tentang bagaimana berpikir dan bertindak bahkan mengadaptasi sebagian pengetahuan baru dari para siswa. Dengan mengondisikan siswa untuk dipertemukan dengan berbagai macam perbedaan, maka siswa akan mengarah pada proses pendewasaan dan memiliki sudut pandang dan cara untuk memahami realitas. Dengan demikian siswa akan lebih terbuka terhadap dirinya sendiri, orang lain dan dunia. Dengan melihat dan membaca fenomena pluralitas pandangan dan perbedaan radikal dalam kultur, maka diharapkan para siswa mempunyai kemauan untuk memulai pendalaman tentang makna diri, identitas, dunia kehidupan, agama dan kebudayaan diri serta orang lain.

f. Apresiasi dan Interdepedensi
Kehidupan yang layak dan manusiawi akan terwujud melalui tatanan sosial yang peduli, dimana setiap anggota masyarakatnya saling menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi dan kesalingkaitan yang erat. Manusia memiliki kebutuhan untuk saling menolong atas dasar cinta dan ketulusan terhadap sesama. Bukan hal mudah untuk menciptakan masyarakat yang dapat membantu semua permasalahan orang-orang yang berada di sekitarnya, masyarakat yang memiliki tatanan sosial harmoni dan dinamis dimana individu-individu yang ada di dalamnya saling terkait dan mendukung bukan memecah belah. Dalam hal inilah pendidikan agama Islam berwawasan multikultural perlu membagi kepedulian tentang apresiasi dan interdepedensi umat manusia dari berbagai tradisi agama.

g. Resolusi Konflik
Konflik berkepanjangan dan kekerasan yang merajalela seolah menjadi cara hidup satu-satunya dalam masyarakat plural, satu pilihan yang mutlak harus dijalani. Padahal hal ini sama sekali jauh dari konsep agama-agama yang ada di muka bumi ini. Khususnya dalam hidup beragama, kekerasan yang terjadi sebagian memperoleh justifikasi dari doktrin dan tafsir keagamaan konvensional. Baik langsung maupun tidak kekerasan masih belum bisa dihilangkan dari kehidupan beragama.
Adapaun secara eksternal, pendidikan agama dihadapkan pada satu realitas masyarakat yang sedang mengalami krisis moral. Ada beberapa hal strategis yang bisa diperankan pendidikan dalam meresolusi konflik dan kekerasan di dunia, antara lain:
Pertama, pendidikan mengambil strategi konservasi. Secara fisioner dan kreatif pendidikan perlu diarahkan untuk menjaga, memelihara, mempertahankan “ aset-aset agama dan budaya” berupa pengetahuan, nilai-nilai, dan kebiasan-kebiasaan yang baik dan menyejarah. Nilai-nilai pendidikan humanistikyang dikokohkan dengan agama dipercaya mampu merangkai visi kebudayaan dan peradaban manusia yang bermartabat tinggi dan mulia.

Kedua, pendidikan mengambil strategi restorasi. Secara visioner dan kreatif pendidikan diarahkan untuk memperbaiki, memugar, dan memulihkan kembali aset-aset agama dan budaya yang telah mengalami pencemaran, pembusukan, dan perusakan. Jika tidak direstorasi, maka set-aset agama dan budaya dikhawatirkan berfungsi terbalik, yaitu merendahkan martabat manusia ke derajat paling rendah (radadna-hu asfala safilin) dan bahkan yang paling rendah dari binatang (ula-ika kal-an’am bal hum adlallu) . Telah dimaklumi bahwa konflik dan kekerasan yang berskala tinggi selama ini adalah bentuk pencemaran, pembusukan, dan perusakan aset-aset agama dan budaya.

Celakanya di beberapa tempat muncul apa yang disebut dengan “kekerasaan agama” dan “agama kekerasan” maupun “kekerasan budaya” dan “ budaya kekerasan” . Hakikinya semua itu merupakan bentuk perilaku menyimpang; menyimpang dari agama dan budaya. Dikatakan sebagai “kekerasan agama” karena kekerasan-kekerasan yang dilakukan manusia secra terang-terangan melecehkan, merusak, menganiaya, dan membunuh ajaran agama-agama yang universal dan rasional. Disebut “agama kekerasan” karena kekerasan demi kekerasan yan dilakukan manusia dicarikan legitimasinya melalui agama. Demikian pula dikenal sebagai “kekerasan budaya” karena manusia secara terang-terangan telah melakukan destruksi terhadap hasil akal budinya sendiri. Sedangkan pada sisi lain, “budaya kekerasan” adalah kekerasan-kekerasan yang dilakukan manusia dimana-mana, termasuk nafsu berperang dan memerangi, dijadikan adat yang disahkan, bahkan oleh pembenaran internasional. Pembenaran dimaksud antara lain di bawah payung keputusan PBB, atau wadah-wadah kesepakatan multilateral yang resmi lainnya. Untuk mengakhiri segala bentuk kekerasan itu, lagi-lagi pendidikan, agama, dan budaya adalah mata rantai perekat yang harus diperkuat.

Apa yang dilakukan pendidikan dalam memperbaiki, memugar dan memulihkan kembali aset-aset agama dan budaya adalah sebuah proyeksi masa depan. Hasilnya tidak instan. Karena tugas pendidikan untuk memberikan alternatif masa depan. Seorang guru yang mengajarkan nilai-nilai paedagogik ke peserta didik bukan dalam konteks ketika pelajaran nilai itu diberikan, melainkan suatu proses internalisasi jangka panjang ke arah masa depan. Peran dan fungsi pendidikan di dalam berbagai level dan kluster sengaja dihadirkan untuk menciptakan perubahan-perubahan konstruktif dalam mewujudkan peradaban masa depan atau masa depan peradaban. Apa yang mendera Indonesia dengan konflik dan kekerasan perlu segera didesak untuk dilakukan restorasi. Dan pendidikan adalah alat terpenting bagi usaha restorasi ke arah hidup damai, aman, dan sejahtera.

Rujukan:
1. QS al-Baqarah ayat: 208
2. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung: Rosdakarya, 2001, hal. 294.
3. Zakiyuddin Baidhowi, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, Jakarta: Airlangga, 2005, hal. 58
4. QS. Al-Tin ayat: 5
5. QS. Al-A’raf ayat: 179
6. Malik Fadjar. Holistika Pemikiran Pendidikan. Bandung: Raja Grafindo Persada, 2005, hal. 136

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com

Dalam masyarakat kita istilah mental tidak asing lagi, orang-orang sudah dapat menilai apakah seseorang itu baik mentalnya atau tidak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (574) mental diartikan “hal yang menyangkut batin dan watak manusia, yang bukan bersifat badan atau tenaga.” Sedangkan dalam Kamus Psikologi mental diartikan “hal yang menyinggung masalah fikiran, akal, ingatan atau proses-proses yang berasosiasi dengan fikiran ingatan” (Chaplin, 2002: 340).

Dalam ilmu psikiatri dan psichoterapi, kata mental, sering digunakan sebagai ganti kata personality (kebribadian) yang berarti bahwa mental adlah semua unsure-unsur jiwa termasuk pikiran, emosi, sikap (attitude) dan perasaan yang dalam keseluruhan dan kebulatannya akan menentukan corak laku, cara menghadapi suatu hal yang menekan perasaan, mengecewakan atau menggembirakan, menyenangkan dan sebagainya (Zakiah Daradjat, 1975 : 39).

Para ahli di bidang perawatan jiwa, membagi manusia kepada dua golongan besar yakni:
a. Golongan yang sehat mentalnya
Orang yang sehat mentalnya adalah orang-orang yang mampu merasakan kebahagiaan dalam hidup, karena orang-orang inilah yang dapat merasakan bahwa dirinya berguna, berharga dan mampu menggunakan segala potensi dan bakatnya semaximal mungkin dengan cara yang membawa kepada kebahagiaan dirinya dan orang lain (Zakiah Daradjat, 1975 : 39).

Maka orang yang sehat mentalnya, tidak akan merasa ambisius, sombong, rendah diri dan apatis, tapi ia adalah wajar, menghargai orang lain, merasa percaya kepada diri dan selalu gesit. Setiap tindak dan tingkah lakunya, ditujukan untuk mencari kebahagian bersama, bukan kesenangan dirinya sendiri, kepandaian dan pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk manfaat dan kebahagiaan bersama.

b. Golongan yang kurang sehat mentalnya
Golongan yang kurang sehat ini sangat luas, mulai dari yang seringan-ringannya sampai kepada yang seberat-beratnya. Dari orang yang merasa terganggu ketentraman hatinya, sampai kepada orang yang sakit jiwa. Gejala-gejala yang umum. Yang tergolong kepada yang kurang sehat dapat dilihat dalam beberapa segi, antara lain pada:

Perasaan; yaitu perasaan terganggu, tidak tenteram saja, rasa gelisah tidak tentu yang digelisahkan, tapi tidak bias pula mengatasinya(anxiety); rasa takut yang tidak masuk akal, rasa iri, rasa sedih yang tidak beralasan, sombong dan sebagainya.

Pikiran yaitu gangguan terhadap kesehatan mental, dapat pula mempengaruhi pikiran, misalnya anak-anak menjadi bodoh di sekolah, pemalas pelupa, suka membolos, tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Hal ini juga dapat terjadi pada orang dewasa.

Kelakuan; pada umumnya kelakuan-kelakuan yang tidak baik, kenakalan, keras kepala, suka berdusta, menipu, menyeleweng, mencuri, menyiksa orang, membunuh, merampok dan sebagainya yang menyebablan orang lain menderita, haknya teraniaya dan sebagainya termasuk juga akibat dari keadaan mental yang terganggu kesehatannya.

Kesehatan; jasmani dapat terganggu, bukan karena adanya penyakit yang betul-betul mengenai jasmani itu, akan tetapi rasanya sakit, akibat jiwanya tidak tenteram. Di antara gejala penyakit ini yang sering terjadi seperti sakit kepala, merasa lemas, letih, jantung, susah nafas sering pingsan dan lain sebagainya (Zakiah Daradjat, 1975 : 41).

Inilah gejala-gejala kurang sehat yang agak ringan dan lebih berat dari itu, mungkin menjadi nourose (gangguan jiwa) dan terberat adalah sakit jiwa (psychose).

Dalam pendidikan nasional, yang dituju pada dasarnya adalah pembinaan mental yang sehat, sehingga setiap anak didik mulai dari kecilnya telah dipersiapkan untuk mengalami ketenteraman jiwa yang akan menjadi dasar dari pembinaan mentalnya selanjutnya. Sehingga dapat diharapkan mempunyai mental yang sehat. Hanya orang-orang yang sehat mentalnya sajalah yang dapatb memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan cara membawa kepada kebahagiaan dan ketenteraman umat manusia, terutama yang berhubungan dengan dia. Kesanalah arah pembangunan mental yang dituju (Zakiah Daradjat, 1975 : 39).

Dasar-dasar Pembinaan Mental
a. Dasar Religius
Yang dimaksud disini adalah dasar-dasar agama yang bersumber dari sumber pokok ajaran Islam yaitu Al-qur’an dan al-Hadits.

b. Dasar Yuridis atau Hukum
1. Dasar ideal adalah falsafah pancasila. Segala sesuatu yang berlaku di Indonesia harus berlandaskan pancasila yang merupakan dasar hokum bangsa Indonesia.
2. Dasar oprasional
Yang dimaksud disini adalah dasar secara langsung yang mengatur pelaksanaan pembinaan mental sebagaimana telah dijabarkan dalam TAP MPR No. 1/MPR/1998 tentang GBHN yang berbunyi:
“Pembinaan anak dan remaja diarahkan pada penumbuhan kesadaran dan perilaku hidup sehat, jati diri, serta penumbuhan idealisme, nasionalisme, dan rasa cinta tanah air dalam pembangunan nasional. Sebagai pengamalan pancasila dan peningkatan kemampuan penyesuaian diri dengan lingkungan dan masyarakat. Dilaksanakan melalui peningkatan pembangunan, keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak yang mulia, budi pekerti luhur, kualitas gizi, penumbuhan minat belajar, minat membaca, peningkatan daya cipta dan daya nalar serta kreatifitas.”
3. Dasar social psikologis
Setiap manusia dalam hidupnya di dunia selalu membutuhkan adanya suatu pegangan hidup yang disebut agama. Ftrah keagamaan dalam diri manusia memang sudah dianugrahi Allah sejak manusia masih dalam arwah. Manusia sering merasakan dalam jiwanya ada perasaan yang mengakui adanya dzat yang Maha Kuasa, tempat mereka berlindung dan minta pertolongan. Hal ini terjadi pada setiap manusia. Meraka akan merasa tenang hatinya lalu mereka dapat mendekat dan mengabdi kepada Tuhannya. Hal nini sesuai dengan Firman Allah surat Ar-Ra’du ayat 28 :
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (Q.S. Ar-Ra’du : 28).

Tujuan Pembinaan Mental Siswa
Masalah pada anak bukan merupakan maslah yang baru. Kita sering mendengar dan membaca di media masa, dari sekian banyak masalah yang dibicarakan banyal terjadi kenakalan anak dan remaja baik perbuatannya melanggar norma susial maupun norma agama, antara lain mencuri sepeda montor, narkotika, pembunuhan, tawuran dan lain sebagainya.

Transformasi budaya adalah merupakan suatu ilfiltrasi (pengaruh yang sangat halus) terhadap kebudayanaan Indonesia. Hal ini dapat kita lihat pada kenyataan masa modern ini. Banyak dampak-dampak yang diakibatkan oleh anak dan remaja yang akhirnya membahayakan antara lain:
a. Menimbulkan gangguan keamanan dan keterlibatan dengan sendirinya mengganggu stabilitas nasional.
b. Menghancurkan dan merusak akhlak anak dan remaja sebagai harapan bangsa.
c. Menghambat pembangunan
d. Ancaman terhadap keselamatan bangsa dan Negara (Safarli Sofyan, 1975 : 21).

Dengan adanya permasalahan di atas maka diperlukan perhatian yang khusus dibidang pembinaan mental anak. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan seluruh lapisan mayarakat.

Adapun tujuan pembinaan mental disini adalah mengandung pengertian suatu usaha yang preventif yaitu segala usaha pencegahan terhadap hal-hal yang merusak tatanan kehidupan individu maupun masyarakat.

Usaha-usaha pembinaan untuk pencegahan itu meliputi beberapa sasaran antara lain:
a. Ditujukan untuk pembentukan bribadi
b. Ditujukan kepada perbaikan lingkingan terhadap anak antara lain melakukan kegiatan belajar, bermain dan berhubungan dengan masyarakat.
c. Pengawasan dan penertiban tingkah laku anak terhadap tempat dan benda bagi anak untuk berbuat suatu kenakalan.
d. Memberi contoh dan suri tauladan yang positif oleh orang tua, guru, para pejabat, pemuka masyarakat, penegak hukum dan lain sebagainnya.
e. Situasi keluarga harus merupakan situasi pendidikan terutama bagi anak yang sedang tumbuh dan berkembang (Safarli Sofyan, 1975 : 47).

Maka pembinaan mental dalam kehidupan sehari-hari adalah untuk mewujudkan tujuan yang mulia dan merupakan usaha yang penting serta harus ditingkatkan terus pelaksanaannya dengan suatu program yang terkoordinasi dan terarah. Masalah pembinaan mental merupakan tugas dan kewajiban bersama. Tujuan pembinaan mental tersebut antara lain adalah:
a. Terbentuknya anak atau remaja yang berbudi pekerti yang luhur.
b. Terbentuknya anak atau remaja yang seimbang antara pengetahuan umum dan agama.
c. Memounyai tingkah laku yang baik dan terpuji.
d. Mempersiapkan mental dalam menghadapi teknologi dan budaya modern.
Menurut S. Hidayat dalam pembinaan mental generasi muda menyebutkan bahwa tujuan pembinaan mental antara lain:
a. Terwujudnya suatu generasi penerus perjuangan bangsa dan tetap berpegang teguh pada pancasila sebagai ideologi bangsa dan Negara serta UUD 1945.
b. Mencetak kader-kader pembangunan yang berbudi pekerti luhur, dinamis, kreatif dan berketrampilan.
c. Terciptanya warga negara Indonesia yang berpola kreatif berbudaya nasional modern tanpa meninggalkan cirri-ciri kepribadian bangsa.

Dari berbagai tujuan pembinaan mental di atas sangatlah penting pembinaan mental dilakukan pada anak sedini mungkin agar anak dapat mempunyai kepribadian yang baik. Selain itu bekal keagamaan haruslah diberikan kepada anak sebagai pegangan hidup.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Artikel ini mbembahas tentang Urgensi Metode Pembiasaan dan Keteledanan Dalam Penanaman Nilai-nilai Islam, untuk itu pertama-tama akan dibahas tentang penerapan metode pembiasaan dan dilanjutkan dengan aplikasi metode keteladanan dalam upaya penanaman nilai-nilai Islam.

***

Kebiasaan mempunyai peranan paling penting dalam kehidupan manusia, karena kebiasaan akan menghemat kekuatan pada manusia. Namun demikian kebiasaan juga akan menjadi penghalang manakala tidak ada “penggeraknya”. Sedangkan metode keteladanan diterapkan secara bersama-sama dengan metode pembiasaan, sebab pembiasaan itu perlu adanya keteladanan dari seorang guru dan dengan contoh tersebut guru diharapkan menjadi teladan yang baik.

Islam menggunakan kebiasaan itu sebagai salah satu teknik pendidikan, lalu ia merubah seluruh sifat-sifat baik menjadi kebiasaan. Menurut Quthb (dalam Ismail SM, 2002 : 224) dalam menumbuhkan kebiasaan, harus dihidupkan dulu kecintaan, seterusnya mengubah kecintaan itu menjadi kegairahan, berbuat sekaligus kecintaan yang gairah, tidak merupakan tindakan yang hampa dengan perasaan senang. Sedang menurut Moezlichatoen (dalam Ismail SM, 2002 : 225), agar terjadi pembiasaan tingkah laku yang baik terlebih dahulu diciptakan iklim sosial yang dapat meningkatkan perasaan saling percaya karena tingkah laku yang baik hanya dapat terjadi dalam suasana saling percaya.

Pembiasaan yang sifatnya adalah pengulangan merupakan teknik pendidikan yang jitu, walaupun ada kritik terhadap metode ini karena cara ini tidak mendidik siswa untuk menyadari tentang apa yang dilakukannya. Pada mulanya anak merasa dipaksa untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan tersebut, namun lama kelamaan anak akan terbiasa melakukannya dan akan melekat kedalam jiwa sang anak dan bahkan kalau tidak melakukannya akan terasa ada beban yang membebaninya. Sedangkan ditinjau dari segi perkembangan anak, pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara seimbang.

Metode pembiasaan tidak akan sempurna jika tidak tidak diiringi dengan metode keteladanan. Karena anak didik selain melakukan pembiasaan, juga perlu adanya seorang figur yang dijadikan contoh untuk ditiru. Secara psikologis anak senang meniru, tidak saja yang baik-baik yang jelek pun ditirunya, dan secara psikologis pula manusia membutuhkan tokoh teladan dalam hidupnya. Disinilah letak relevansi dan keterkaitan antara metode keteladanan dengan metode pembiasaan, artinya guru tidak hanya bisa bicara (memerintah) tetapi juga harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak.

Internalisasi nilai-nilai agama Islam melalui pembiasaan dan keteladanan, misalkan dalam bidang akhlak yaitu dengan jalan membiasakannya untuk bertingkah laku atau berakhlak Islam. Dalam menumbuhkan kebiasaan berakhlak baik seperti; kejujuran, adil, berlaku benar, memelihara lidah, tiada dusta, yang kesemuanya itu dapat bermanfaat untuk membentuk pribadi muslim anak.

Dalam hal ini, orang tua asuh atau pendidik harus mampu memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari maka dalam diri sang anak akan tertanam kepribadian yang baik. Contoh, si anak terbiasa menerima perilaku adil dan dibiasakan berbuat adil, maka dalam diri pribadi anak akan tertanam rasa keadilan dan akan menjadi salah satu unsur pribadinya.

Dalam bidang ibadah yaitu dengan membiasakan setiap harinya sholat wajib lima waktu berjamaah dan membiasakan sholat sunnah baik sholat sunnah rawatib maupun sholat sunnah malam, serta membiasakan setiap hari senin dan kamis untuk berpuasa sunnah. Dengan begitu anak akan terbiasa melaksanakan syariat Islam dan dalam dirinya akan tertanam pribadi yang baik. Tidak lupa pula sebagai pendidik juga harus memberikan contoh terhadap apa yang mereka anjurkan.

Dengan pembiasaan-pembiasaan akan dapat memasukkan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh, karena kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah terbentuk pada diri seorang anak akan merasa ringan untuk mengerjakan apa-apa yang telah menjadi kebiasaanya.
Dr Zakiyah Drajat berpendapat :
“Apabila si anak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah (secara konkrit seperti sembahyang, puasa, membaca Al-Quran dan berdoa) dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang disuruh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta tidak dilatih untuk menghindari larangan-Nya, maka pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama atau sekurang-kurangnya ia tidak merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Tapi sebaliknya anak yang banyak mendapat latihan dan pembiasaan agama, pada waktu dewasanya nanti akan semakin merasakan kebutuhan akan agama.”

Membiasakan anak terhadap ibadah seperti di atas, dalam kehidupan sehari-hari akan besar manfaatnya terhadap peserta didik atau anak asuh, dimana kesan agama akan semakin meresap dalam kehidupan pribadinya secara mendalam sehingga benar-benar menyatu dan tercermin dari segala gerak langkahnya dalam perjalanan hidupnya kelak.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


1926 merupakan tahun bersejarah bagi umat Islam Indonesia. Pada tahun tersebut umat Islam Indonesia mengadakan kongres di Surabaya yang berlangsung dari tanggal 18-23 September 1926. Kongres ini dihadiri oleh tokoh-tokoh utama umat dari berbagai golongan, antara lain, sekadar menyebut sebagai misal, H.O.S. Cokroaminoto, Kyai Mas Mansyur, H. Agus Salim, A.M. Sangaji, dan Usman Amin.

Di antara keputusan penting yang disepakati oleh Kongres Umat Islam ini adalah mengirim seorang utusan untuk menghadiri Muktamar Islam se- Dunia yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Mekkah. Kongres menyepakati bahwa utusan yang akan dikirim itu sekurang-kurangnya mahir berbahasa Arab dan Inggris. Di sinilah kemudian timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Karena tidak seorang pun dari peserta Kongres yang menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik. Akhirnya dipilihlah dua orang utusan; yang satu pandai berbahasa Inggris, yaitu H.O.S. Cokroaminoto, dan satu lagi adalah Kyai Mas Mansyur yang mahir berbahasa Arab.

Peristiwa pemilihan utusan dengan kriteria semacam ini meninggalkan kesan sangat kuat dalam diri K.H. Ahmad Sahal, yang menjadi peserta Kongres mewakili umat Islam di wilayah Madiun. Sepulang dari Kongres masalah ini menjadi topik pembicaraan bersama kedua adiknya dan merupakan masukan pemikiran yang sangat berharga bagi bentuk dan ciri lembaga pendidikan yang akan dibina, yang meletakkan B. Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar dalam belajar dan bahasa komunikasi harian para santri…..

Artikel Lengkapnya silakan Download DI SINI

Artikel Ditulis Oleh:
Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
Pimpinan Pondok Modern Gontor

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.