Arsip

Pendidikan Islam


Sebagai lembaga pendidikan Islam yang bertujuan membentuk santri-santrinya menjadi manusia yang mandiri, yang dapat diharapkan dapat menjadi pemimpin umat dalam menuju keridhoan Allah SWT. Pesantren memiliki tugas yang besar yaitu mencetak manusia yang benar-benar ahli dalam bidang agama dan ilmu pengetahuan kemasyarakatan serta berakhlak mulia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka pesantren mengajarkan berbagai ilmu yang umumnya meliputi ilmu tauhid, ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu ma’ani, ilmu hadi’ dan bayan, ilmu ushul fiqh, ilmu mushthalah hadits, dan ilmu mantiq. Pengajaran ilmu-ilmu tersebut sering distandarisasikan dengan kitab-kitab wajib sebagai buku teks yang dikenal dengan sebutan kitab kuning. Sedangkan kitab yang digunakan beragam mulai dari yang sederhana sampai tingkat atas atau yang lebih rinci. Antara satu pesantren dengan pesantren yang lain tidak selalu sama kitab yang digunakan, meskipun demikian semuanya sama dalam macam jenis ilmu yang diajarkan.

Adapun metode pengajaran yang umumnya digunakan untuk mendalami kitab-kitab tersebut di pesantren adalah metode wetonan, metode sorogan, metode mudzakarah, dan metode majlis ta’lim. Metode-metode ini sudah diterapkan sejak berdirinya pesantren sampai sekarang ini, meskipun ada beberapa perkembangan. Metode-metode tersebut masih menunjukkan efektivitasnya untuk tetap digunakan dalam pengajaran.

Metode-metode tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Metode Wetonan
Pelaksanaan metode pengajaran wetonan ini adalah sebagai berikut; Kyai yang membaca suatu kitab dalam waktu tertentu sedangkan santrinya membawa kitab yang sama lalu mendengarkan dan menyimak bacaan kyai. “Perkataan weton asal mulanya dari perkataan jawa “wektu”, maka disebut weton karena pelajaran yang diberikan pada waktu-waktu tertentu, misalnya waktu sehabis shalat shubuh atau dhuhur (Amir Hamzah Wirjosukarto, 1995: 25)”.
Metode ini mendidik santri supaya kreatif dan dinamis karena di dalam metode ini nampak adanya kebebasan, tidak ada absensi dan tidak ada pemaksaan melainkan menurut kesadaran masing-masing santri karena tidak sistem kenaikan kelas. Santri yang cepat menamatkan kitab boleh melanjutkan ke kitab yang lebih tinggi atau mempelajari kitab yang lain yang diminatinya.

2) Metode Sorogan
Istilah sorogan berasal dari kata “sorog” (dari bahasa Jawa) mendorong. Asal mulanya disebut sorogan ialah karena santri-santri yang mau belajar mendorongkan (menyodorkan) kitabnya di hadapan guru (Amir Hamzah Wirjosukarto, 1995: 28). Dalam metode ini santri menghadap kyai secara bergantian satu persatu dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya, kemudian dibaca, diterjemahkan, dan dijelaskan maksudnya. Kalau dalam membaca dan memahami kitab tersebut ada kesalahan maka langsung dibenarkan oleh kyai.

Metode sorogan ini dilakukan untuk santri yang permulaan belajar atau sebaliknya dilakukan oleh santri-santri khusus yang dianggap pandai dan diharapkan di kemudian hari menjadi orang alim, metode ini memerlukan ketelatenan, kerajinan, dan kedisiplinan santri. Dalam hal ini Zamakhsyary Dhofir mengatakan bahwa “metode sorogan dalam pengajian merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan metode pendidikan Islam tradisional, sebab metode tersebut menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan, dan disiplin pribadi dari murid (Zamakhsyari Dhofir, 1982: 28)”. Meskipun demikian metode ini diakui paling intensif, karena dilakukan seorang demi seorang dan ada kesempatan tanya jawab langsung.

3) Metode Mudzakarah
Mudzakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyah seperti ibadah dan akidah serta masalah agama pada umumnya (Imron Arifin, 1993: 39). Metode mudzakarah ada yang diselenggarakan oleh santri dengan sesama santri dan ada pula yang dipimpin oleh Kyai.

Metode mudzakarah yang diselenggarakan oleh sesama santri untuk membahas suatu masalah dengan tujuan melatih para santri agar terlatih dalam memecahkan persoalan dengan menggunakan kitab-kitab yang tersedia. Salah seorang santri ditunjuk sebagai juru bicara untuk menyampaikan kesimpulan dari masalah yang didiskusikan.

Metode mudzakarah yang dipimpin oleh Kyai adalah kelanjutan dari mudzakarah para santri, dimana hasil yang telah mereka peroleh dari mudzakarah sesama santri diajukan untuk dibahas dan dinilai seperti pada suatu seminar. Biasanya lebih banyak berisi suatu tanya jawab dan hampir seluruhnya diselenggarakan dalam bahasa Arab.

Metode ini bertujuan menguji ketrampilan santri bauk dalam bahasa Arab maupun ketrampilan mengutip sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab Islam klasik. Biasanya santri yang dinilai cukup matang untuk sumber-sumber referensi, memiliki keluasan bahan-bahan bacaan dan mampu menemukan atau menyelesaikan problem-problem, maka santri tersebut akan ditunjuk sebagai pengajar kitab-kitab yang dikuasainya.

4) Metode Majlis Ta’lim
Majlis ta’lim adalah suatu media penyampaian ajaran Islam yang bersifat umum dan terbuka ((Imron Arifin, 1993: 39). Dalam majlis ta’lim ini tidak hanya santri yang mengaji, tetapi juga berbagai lapisan masyraakat di sekitarnya atau bahkan dari daerah lain yang memiliki latar belakang pengetahuan yang bermacam-macam dan tidak dibatasi oleh tingkatan usia maupun jenis kelamin. Pengajian atau metode ini hanya diadakan pada waktu-waktu tertentu saja.

Adapun materi yang diajarkan Kyai dalam majlis ta’lim ini biasanya bersifat umum dan berisi nasehat-nasehat keagamaan seperti amar ma’ruf nahi mungkar. Ada kalanya materi itu diambil dari kitab-kitab tertentu seperti tafsir al-Qur’an dan Hadits.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sistem pengajaran di pesantren pada umumnya menggunakan metode-metode yang telah dijelaskan di atas. Metode-metode tersebut sepintas lalu nampak sederhana atau tradisional. Namun di sisi lain memiliki efektivitas untuk tetap digunakan dalam sistem pengajaran di pesantren pada masa sekarang, meskipun mungkin perlu adanya perubahan sebagai perkembangan dari kebutuhan dan perkembangan zaman.

Untuk Daftar Rujukan Silakan Klik DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com

Pada dasarnya pesantren adalah lembaga pendidikan Islam, di mana pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan agama Islam diharapkan dapat diperolah di pesantren. Adapun usaha yang dilakukan untuk meningkatkan pesantren di masa kini atau masa yang akan datang tetap pada prinsip ini, artinya pesantren tetap merupakan lembaga pendidikan Islam dengan ciri-ciri khasnya meskipun ada perkembangan di dalamnya.

Sekalipun tujuan pendidikan belum secara rinci dijabarkan dalam suatu sistem yang lengkap dan konsisten, tetapi secara sistematis tujuan pendidikan di pesantren jelas menghendaki produk lulusan yang mandiri dan berakhlak baik serta bertakwa, dengan memilahkan secara tegas antara aspek pendidikan dan pengajaran yang keduanya saling mengisi. Jelasnya dimensi pendidikan dalam arti membina budi pekerti anak didik memperoleh porsi yang seimbang di samping dimensi pengajaran yang membina dan mengembangkan intelektual anak didik.

Dengan adanya keharmonisan antara dimensi pendidikan dengan dimensi pengajaran, maka tujuan pendidikan di pesantren menjadi jelas. Zamakhsyari Dhofir mengatakan bahwa: “Tujuan pendidikan di pesantren tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran murid dengan penjelasan-penjelasan, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, membentuk sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati (Zamakhsari Dhofir, 1982: 21)”.

Karena tujuan pendidikan pesantren seperti itu, maka tidak heran kalau sistem yang diterapkan adalah sistem non klasikal, yaitu murid-murid dididik sesuai dengan kemampuannya dan didorong untuk terus mengembangkan diri.

Bertolak dari tujuan pendidikan di atas, maka dalam sistem pendidikan pesantren tidak dikenal adanya kelas-kelas sebagai tingkatan atau jenjang. Makin cerdas seseorang maka semakin sedikit waktu yang digunakan untuk belajar di pesantren. Bahkan di pesantren dikenal dengan santri kelana yang merupakan tradisi khas seseorang dalam mencari ilmu di pesantren yang bersifat amat individual.

Zamakhsyari Dhofir menegaskan bahwa: “Ada dua sebab yang mengakibatkan timbulnya tradisi santri kelana. Yang pertama, seorang santri berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain untuk memuaskan kehausannya akan ilmu pengetahuan tanpa ia mempedulikan atau memikirkan ijazah formal. Yang kedua santri yang sangat cerdasnya hingga dalam waktu singkat ia dapat menyelesaikan suatu bidang ilmu untuk kemudian ia diberi pengantar oleh Kyai di pesantren tersebut agar berguru ke pesantren lain untuk bidang ilmu yang lain (Zamakhsari Dhofir, 1982: 30).

Tradisi santri kelana ini sekrang sudah mulai menghilang seiring dengan perubahan dan perkembangan sistem pendidikan di lingkungan pesantren yang disebabkan kebutuhan masyarakat dan kemajuan zaman. Sistem pendidikan pesantren sekarang sudah banyak menggunakan sistem klasikal atau madrasah bahkan banyak pesantren salafiyah berkembang menjadi pesantren khalafiyah atau pesantren modern.


Untuk Daftar Rujukan Silakan Klik DI SINI


Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com


Untuk menghindari kekaburan pemahaman atau ketidakjelasan pada pembahasan ini, terlebih dahulu penulis jelaskan tentang pengertian strategi pesantren dalam mengembangkan sumber daya manusia. Adapun pengertian tersebut adalah berdasarkan pada definisi operasional yaitu sebagai berikut :
1. Strategi adalah ”prosedur yang mempunyai alternatif-alternatif pada pelbagai tahap atau langkah untuk mencapai sesuatu (Soejono Soekamto, 1983: 484).
2. Pesantren mahasiswa adalah berasal dari kata ”pesantren” dan ”mahasiswa” adalah suatu lembaga pendidikan Islam yang memberikan pengajaran agama pada santri yang berstatus mahasiswa dengan sistem asrama (pondok) dan di bawah pengasuhan seorang kyai.
3. Pengembangan sumber daya manusia adalah suatu usaha untuk memperbesar produksi seseorang, baik dalam pekerjaan, seni maupun kegiatan yang lain yang dapat memperbaiki hidup bagi diri sendiri atau orang lain.

Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil sebuah pengertian tentang Strategi Pesantren Mahasiswa dalam Mengembangkan Sumber Daya Manusia adalah suatu prosedur, cara atau langkah yang memiliki alternatif yang dilakukan oleh Pesantren Mahasiswa dalam usaha memperbesar berproduksi seseorang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Berdasarkan batasan masalah yang ada, maka yang penulis maksud dengan Sumber Daya Manusia di sini adalah sumber daya yang dimiliki oleh santri mahasiswa. Jadi tegasnya pengertian dari Strategi Pesantren Mahasiswa dalam Mengembangkan Sumber Daya Manusia adalah upaya, cara atau langkah yang mempunyai alternatif-alternatif yang dilakukan oleh pesantren mahasiswa dalam mengembangkan sumber daya manusia di pesantrennya (sumber daya santri).

Adapun pesantren mahasiswa dalam mengembangkan sumber daya manusia, antara lain :
1. Pembentukan Kepribadian
Agama Islam menghendaki pribadi-pribadi muslim yang Islam yakni bertindak, berbuat, bertingkah laku, bersikap, dan bertanggungjawab sesuai dengan ajaran Islam. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan Marimba yaitu: “Kepribadian muslim ialah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya, baik bertingkah laku luarnya kegiatan-kegiatan jiwanya maupun falsafah hidupnya dan kepercayaannya menunjukkan pengabdiannya kepada Tuhan, menyerahkan diri kepada-Nya (Sidi Gazalba, 1970: 30).”

Dengan maksud yang sama, Sidi Gazalba mengemukakan bahwa: ”Secara sederhana dapatlah dirumuskan bahwa kepribadian Islam itu berbentuk Takwa atau terperinci dalam iman dan amal shaleh itulah bentuk kepribadian Islam dan orang yang beriman dan beramal shaleh itulah yang bertakwa (Ahmad D. Marimba, 1987: 28).”

Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian Islam itu adalah kepribadian yang memiliki nilai-nilai ajaran Islam. Manusia yang berkepribadian muslim akan terlihat dari tingkah laku, keyakinan, amal ibadahnya, karena dalam ajaran Islam semuanya itu sudah ditetapkan atau sudah disyari’ahkan.

Kepribadian seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui proses yang panjang dan bertahap. Sehubungan dengan hal ini Ahmad D. Marimba (1987: 59) mengemukakan bahwa proses pembentukan kepribadian terdiri atas tiga tahap yaitu:
a. Pembiasaan.
b. Pembentukan pengertian, sikap, dan minat.
c. Pembentukan kerohanian yang luhur.
Ketiga tahap tersebut merupakan mata rantai yang saling mempengaruhi, sehingga keseluruhan proses pembentukan kepribadian tersebut mampu membentuk kepribadian yang utuh.
Adapun upaya pembentukan kepribadian sebagai salah satu strategi pesantren mahasiswa dalam mengembangkan SDM yang dapat dilakukan melalui:
a. Penanaman ketauhidan
Yaitu pembinaan yang dilakukan pesantren di bidang aqidah atau teologis agar santri mempunyai fundamen keimanan yang kuat, kokoh, dan memiliki pengangan hidup serta keyakinan yang mantab, sehingga santri sanggup menghadapi tantangan yang menjerumuskan dirinya pada kemurtadan dan kemusyrikan. M. Dawam Rahardjo (1974: 3) memaparkan bahwa: “Ilmu Tauhid yang diajarkan pesantren adalah ilmu yang operasional, yang harus dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari, yang tujuannya adalah memberi dasar pegangan keyakinan hidup supaya orang sadar dan mengetahui asal usul kejadian alam dan peranannya, yakni tujuan untuk apa manusia hidup. Sikap tauhid itu juga harus dicerminkan dalam akhlak atau norma-norma tingkah laku serta budi pekerti dalam pergaulan sosial.”

Pendapat diatas menggambarkan bahwa ilmu tauhid yang diperoleh di pesantren itu amat besar manfaat dan pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Ilmu yang didapat di pesantren tidak hanya dipelajari saja tetapi lebih luas lagi dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, yakni selain diwujudkan dalam hubungan dengan Allah, juga diwujudkan dalam hubungannya dengan sesama manusia.

Melalui penanaman ketauhidan ini, pesantren telah membantu terbentuknya kepribadian yang sesuai dengan ajaran agama Islam, kepribadian yang kuat sebagai landasan manusia yang berkualitas yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana pendapat Nurcholis Madjid (1995: 99) yaitu karena dasar keimanan dan ketakwaan itulah maka SDM Indonesia bekerja tidak dengan keyakinan keliru bahkan kebahagiaan sebagai manusia utuh terletak dalam ekspediensi fisik dan material, tetapi dalam peningkatan kualitas jiwa dan rohani. Dengan begitu ia tidak tersesat masuk ke dalam sikap-sikap mementingkan diri sendiri dan memenuhi keinginan rendah diri sendiri.

b. Peningkatan ibadah
Dalam Islam ibadahlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia, baik ibadah yang bersifat wajib maupun yang bersifat sunnah. Ibadah-ibadah tersebut adalah sarana manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengabdi yang baik dan dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharap ridla dari Allah SWT. Segala amal perbuatan manusia yang baik dan dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap ridla dari Allah adalah dinilai ibadah. Dengan demikian ibadah itu tidak terbatas pada shalat, zakat, pasa, dan haji saja sebagaimana pendapat sebagian orang selama ini.

Peningkatan ibadah di pesantren dimaksudkan untuk menciptakan suasana yang agamis disamping mengharap ridla Allah. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh K.H. Hasyim Muzadi (1992: 1) bahwa “dalam pesantren diharapkan tercipta suasana keagamaan, pengkajian keagamaan dan pengalamannya sekaligus. Apabila telah tercipta lingkungan/suasana yang agamis akan memotivasi santri untuk selalu menjalani hidupnya sesuai dengan ajaran agama Islam, sehingga santri benar-benar memiliki kepribadian yang baik atau kepribadian Muslim.
Allah SWT. telah menyerukan umatnya untuk memperbanyak amal kebajikan yang baik (ibadah) dalam Al- Qur’an surat Al-Baqoroh ayat 148 yang berbunyi :

….. فاستبقوا الخيرات …..

Artinya: “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) suatu kebajikan.”

Di samping itu Allah juga menjanjikan balasan yang setimpal sesuai amal ibadah yang dilakukan hambanya, sebagaimana firman-Nya dalam surat Fushshilat ayat 46, yaitu:

من عمل صالحا فلنفسه ومن أساء فعليها وما ربك بظلام للعبيد Ộ

Artinya: “ Barang siapa mengerjakan amal shaleh maka pahalanya untuk dirinya, dan barang siapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya, dan sekali-sekali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hambanya.”

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, jelaslah bahwa peningkatan ibadah itu tidak hanya dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia itu tidak hanya dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas bagi pembangunan bangsa, tetapi juga kebutuhan manusia sebagai hamba Allah untuk mendapatkan keridlaan-Nya di dunia dan akhirat.

c. Pembinaan akhlakul karimah
Akhlak seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia, karena kejayaan dan kemuliaan manusia di muka bumi ini tergantung dari akhlak mereka. Hal ini sebagaimana yang telah diungkapkan pula oleh Rachmat Djatmiko (1966: 92), yaitu: “Karena pentingnya kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia ini, maka misi (risalah) Rasulullah SAW. itu sendiri adalah keseluruhan untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” Pengakuan beliau ini sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW.:

عن أبى هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
( رواه البخارى والحاكم والبيحاقى )

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW. telah bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Bukhari, Hakim, dan Baihaqi)
Pembinaan akhlak dalam pesantren bertujuan agar santri memiliki akhlak yang terpuji sesuai dengan ajaran Islam yang ditauladani oleh Rasulullah SAW., dan merupakan dasar moral untuk mengantarkan santri agar memiliki pribadi yang luhur.

d. Pendisiplinan diri
Aspek pendisiplinan diri perlu di bina di pesantren karena dengan disiplin segala aktivitas akan dapat berjalan dengan baik dan tertib. Sikap disiplin bisa mempengaruhi pola perilaku santri dalam kehidupan sehari-hari yang akhirnya dapat membentuk kebiasaan. Kebiasaan ini dapat dibentuk dengan berbagai cara berdasarkan kondisi dan kebutuhan pesantren, misalnya dengan diadakan peraturan atau tata tertib bagi santri. Sejalan dengan ini M. Saleh Widodo mengatakan: “Dalam pesantren ini, kehidupan diatur menurut sebuah peraturan tata tertib. Sejak mulai bangun tidur, para santri dididik untuk mengikuti peraturan jam bangun, agar bisa mengikuti shalat subuh di masjid secara berjama’ah, sampai waktu tidur yang ditentukan pada jam sebelas malam.”

Pendapat ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW. sebagai berikut:

عن عا ئشة رضى الله عنها قالت أن النبى صلى الله عليه وسلم دخـل عليها وعندها امراة فقال من هذه قالت فلانة تذكر من صلاتها قال مه عليكم بما تطيقون فو الله لا يمـل الله حتى تمـلوا وكان أحب الدين إليـه مادوام عليه صاحبه (رواه البخارى)

Artinya: “Dari Aisyah ra berkata: bahwasanya Nabi Muhammad SAW. masuk ke rumah Aisyah dan di sisi Aisyah ada seorang wanita lalu bertanya: ”Siapakah wanita itu?” Aisyah menjawab:” Dia adalah fulanah yang terkenal karena shalatnya”. Beliau bersabda:”Janganlah begitu, lakukanlah sesuai dengan kesanggupan kalian, demi Allah, Allah tak akan jemu, sehingga kalian yang jemu untuk berbuat amal, dan amal agama yang paling dicinta di sisi Allah adalah amal yang dilakukan secara terus menerus dan tertib.” (HR. Bukhori)
Sebagai santri dianjurkan mengikuti tata tertib yang ada atau yang telah ditetapkan pesantren dan apabila santri melakukan pelanggaran maka dia selayaknya menerima sanksi sesuai dengan tingkat pelanggarannya. Pemberian peraturan dan sanksi ini diharapkan dapat menambah sikap disiplin santri, terutama disiplin waktu, disiplin ibadah, dan disiplin kerja. Hal ini telah disuriteladani oleh Rasulullah SAW. dalam kehidupan sehari-hari beliau, dan salah satunya adalah disiplin waktu.

Sebagaimana Hadits Nabi Muhammad SAW.:

عن ابن مسعود رضى الله عنه أن رجلا سأل رسول الله صلى الله عليه وسلم : أى الأعمال أفضـل ؟ قال الصلاة لوقـتها وبر الوالدين ثم الجهاد فى سبيل الله ( رواه البخارى )

Artinya: ”Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasanya ada orang bertanya kepada Rasulullah SAW.: “Amal yang bagaimanakah yang paling utama?” Beliau menjawab:”Sholatlah tepat pada waktunya, berbakti kepada kedua orang tua, dan berjuang di jalan Allah.” (H.R. Bukhori) (Muhammad bin Ismail Al Kahlani, Subulus Salam, Juz I, 1960: 116)

2. Pengembangan Wawasan Intelektual
Sejalan dengan dinamika dan perkembangan zaman yang semakin kompleks banyak membawa tuntutan dan tantangan bagi manusia. Dalam hal ini pesantren merasa terpanggil untuk ikut mengantisipasi tuntutan dan tantangan tersebut. Adapun salah satu tuntutan itu adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dan untuk mencapai atau menuju ke sana dibutuhkan wawasan intelektual yang luas. Pesantren berupaya untuk mengembangkan wawasan intelektual santrinya, tidak hanya terbatas pada wawasan keagamaan saja melainkan juga wawasan keilmuan yang lainnya.

M. Yusuf Hasyim mengatakan bahwa: “Dalam rangka memenuhi tuntutan-tuntutan perkembangan dan tantangan masa depan, pesantren yang telah mencapai tingkat tertentu dan menjadi panutan, perlu melangkah lebih maju dengan antara lain: dibentuknya kelompok-kelompok kajian yang secara khusus mendiskusikan masalah-masalah sosial kemasyarakatan, dan kelompok ini diusahakan justru muncul dari kalangan santri atau siswa. Karena merekalah yang nantinya diharapkan jadi motivator pembangunan ketika telah selesai dari studinya di pesantren.

Dari kutipan di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mengembangkan wawasan intelektual santri bisa dengan cara membentuk kelompok-kelompok kajian, diskusi masalah agama, sosial, yang sesuai dengan perkembangan-perkembangan dan kebutuhan zamannya. Dengan demikian potensi-potensi/kemampuan intelektual yang dimiliki santri dapat dikembangkan di pesantren.

3. Pengembangan Keterampilan
Yaitu pemberian pelajaran kepada santri tentang hal-hal yang berkenaan dengan ketrampilan. Potensi dasar yang dimiliki santri perlu dikembangkan dalam rangka menyiapkan santri untuk berperan aktif dalam pembangunan bangsa. Pembinaan ketrampilan ini mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Abdul Rahman Shaleh (1985: 50) memaparkan: “Sesuai dengan tujuan penyelenggaraan komponen kegiatan pendidikan ketrampilan kejuruan di pondok yaitu untuk memberikan bekal pengetahuan ketrampilan yang praktis pada santri di samping pengetahuan agama. Supaya para santri yang terjun ke masyarakat terutama yang putus sekolah (putus pendidikan) dapat hidup di tengah-tengah masyarakat secara wajar serta dapat pula menyumbangkan partisipasinya dalam membangun masyarakat lingkungan di mana ia bertempat tinggal.”

Sejalan dengan pendapat di atas, Edwar mengatakan bahwa: “Pendidikan ketrampilan juga ditujukan untuk membuat keseimbangan antara perkembangan rohani dan perkembangan jasmani, keseimbangan antara pendidikan dalam ruangan dengan pendidikan di lapangan.”
Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan ketrampilan dapat mengembangkan kreativitas dan produktivitas yang dimiliki santri yang merupakan bagian dari sumber daya manusia.

Upaya pengembangan sumber daya manusia yang dilakukan oleh pesantren merupakan wujud atau bukti keikutsertaan pesantren sendiri dalam memikirkan generasi yang siap pakai bagi masa depan pembangunan bangsa. Sedangkan masa depan pembangunan bangsa ini akan ditentukan oleh tingkat kualitas sumber daya manusia. Kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup dapat diambil manfaatnya jika ada sumber daya manusia yang berkualitas unggul. Hal ini sangat berkaitan dengan upaya yang dilakukan pesantren dalam mengembangkan diri. A. Hanif Zubairi (1992: 56) berpendapat: “Kehadiran pesantren hingga sekarang ini tetap menampakkan peranannya secara eksistensial, khususnya di masyarakat pedesaan. Melalui kelebihan-kelebihan yang dimiliki para Kyai terutama dalam hal moralitas, keshalihan, dan sportivitasnya pesantrenyang sudah dapat diterima masyarakat, dan untuk mensisialisasikan program-programnya, yang tidak hanya terbatas dalam bidang keagamaan saja, tetapi dapat diperluas dalam bidang-bidang lain.

Dengan strategi yang dilakukan pesantren tersebut di atas dalam rangka mengembangkan sumber daya manusia, diharapkan akan terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu santri yang berguna bagi agama, masyarakat, dan bangsa. Landasan IPTEK, landasan IMTAK dan juga keterampilan adalah perwujudan strategi pengembangan sumber daya manusia di pesantren.

Untuk Daftar Rujukan Silakan Klik DI SINI


Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com

Pengertian dan Fungsi Manajemen Pendidikan Islam

Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.

Pendidikan Agama Islam dengan berbagai jalur, jenjang, dan bentuk yang ada seperti pada jalur pendidikan formal ada jenjang pendidikan dasar yang berbentuk Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), jenjang pendidikan menengah ada yang berbentuk Madrasah Alyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), dan pada jenjang pendidikan tinggi terdapat begitu banyak Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) dengan berbagai bentuknya ada yang berbentuk Akademi, Sekolah Tinggi, Institut, dan Universitas. Pada jalur pendidikan non formal seperti Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA), Majelis Ta’lim, Pesantren dan Madrasah Diniyah. Jalur Pendidikan Informal seperti pendidikan yang diselenggarakan di dalam kelurarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan. Kesemuanya itu perlu pengelolaan atau manajemen yang sebaik-baiknya, sebab jika tidak bukan hanya gambaran negatif tentang pendidikan Islam yang ada pada masyarakat akan tetap melekat dan sulit dihilangkan bahkan mungkin Pendidikan Islam yang hak itu akan hancur oleh kebathilan yang dikelola dan tersusun rapi yang berada di sekelilingnya, sebagaimana dikemukakan Ali bin Abi Thalib :”kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dihancurkan oleh kebathilan yang tersusun rapi”.

A. Pengertian Manajemen Pendidikan Islam.
Dari segi bahasa manajemen berasal dari bahasa Inggris yang merupakan terjemahan langsung dari kata management yang berarti pengelolaan, ketata laksanaan, atau tata pimpinan. Sementara dalam kamus Inggris Indonesia karangan John M. Echols dan Hasan Shadily (1995 : 372) management berasal dari akar kata to manage yang berarti mengurus, mengatur, melaksanakan, mengelola, dan memperlakukan.

Ramayulis (2008:362) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :
Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah : 05).

Dari isi kandungan ayat di atas dapatlah diketahui bahwa Allah swt adalah pengatur alam (manager). Keteraturan alam raya ini merupakan bukti kebesaran Allah swt dalam mengelola alam ini. Namun, karena manusia yang diciptakan Allah SWT telah dijadaikan sebagai khalifah di bumi, maka dia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah mengatur alam raya ini.

Sementara manajemen menurut istilah adalah proses mengkordinasikan aktifitas-aktifitas kerja sehingga dapat selesai secara efesien dan efektif dengan dan melalui orang lain (Robbin dan Coulter, 2007:8).

Sedangkan Sondang P Siagian (1980 : 5) mengartikan manajemen sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka mencapai tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain.

Bila kita perhatikan dari kedua pengertian manajemen di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa manajemen merupkan sebuah proses pemanfaatan semua sumber daya melalui bantuan orang lain dan bekerjasama dengannya, agar tujuan bersama bisa dicapai secara efektif, efesien, dan produktip. Sedangkan Pendidikan Islam merupakan proses transinternalisasi nilai-nilai Islam kepada peserta didik sebagai bekal untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008:260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

B. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan Islam

Berbicara tentang fungsi manajemen pendidikan Islam tidaklah bisa terlepas dari fungsi manajemen secara umum seperti yang dikemukakan Henry Fayol seorang industriyawan Prancis, dia mengatakan bahwa fungsi-fungsi manajemn itu adalah merancang, mengorganisasikan, memerintah, mengoordinasi, dan mengendalikan. Gagasan Fayol itu kemudian mulai digunakan sebagai kerangka kerja buku ajar ilmu manajemen pada pertengahan tahun 1950, dan terus berlangsung hingga sekarang.
Sementara itu Robbin dan Coulter (2007:9) mengatakan bahwa fungsi dasar manajemen yang paling penting adalah merencanakan, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan. Senada dengan itu Mahdi bin Ibrahim (1997:61) menyatakan bahwa fungsi manajemen atau tugas kepemimpinan dalam pelaksanaannya meliputi berbagai hal, yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan.

Untuk mempermudah pembahasan mengenai fungsi manajemen pendidikan Islam, maka kami (kelompok 1) akan menguraikan fungsi manajemen pendidikan Islam sesuai dengan pendapat yang dikemukan oleh Robbin dan Coulter yang pendapatnya senada dengan Mahdi bin Ibrahim yaitu : Perencanaan, pengorganisasian, pengarahan/kepemimpinan, dan pengawasan.

1. Fungsi Perencanaan (Planning)
Perencanaan adalah sebuah proses perdana ketika hendak melakukan pekerjaan baik dalam bentuk pemikiran maupun kerangka kerja agar tujuan yang hendak dicapai mendapatkan hasil yang optimal. Demikian pula halnya dalam pendidikan Islam perencanaan harus dijadikan langkah pertama yang benar-benar diperhatikan oleh para manajer dan para pengelola pendidikan Islam. Sebab perencanaan merupakan bagian penting dari sebuah kesuksesan, kesalahan dalam menentukan perencanaan pendidikan Islam akan berakibat sangat patal bagi keberlangsungan pendidikan Islam. Bahkan Allah memberikan arahan kepada setiap orang yang beriman untuk mendesain sebuah rencana apa yang akan dilakukan dikemudian hari, sebagaimana Firman-Nya dalam Al Qur’an Surat Al Hasyr : 18 yang berbunyi :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ketika menyusun sebuah perencanaan dalam pendidikan Islam tidaklah dilakukan hanya untuk mencapai tujuan dunia semata, tapi harus jauh lebih dari itu melampaui batas-batas target kehidupan duniawi. Arahkanlah perencanaan itu juga untuk mencapai target kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga kedua-duanya bisa dicapai secara seimbang.

Mahdi bin Ibrahim (l997:63) mengemukakan bahwa ada lima perkara penting untuk diperhatikan demi keberhasilan sebuah perencanaan, yaitu :

1. Ketelitian dan kejelasan dalam membentuk tujuan
2. Ketepatan waktu dengan tujuan yang hendak dicapai
3. Keterkaitan antara fase-fase operasional rencana dengan penanggung jawab operasional, agar mereka mengetahui fase-fase tersebut dengan tujuan yang hendak dicapai
4. Perhatian terhadap aspek-aspek amaliah ditinjau dari sisi penerimaan masyarakat, mempertimbangkan perencanaa, kesesuaian perencanaan dengan tim yang bertanggung jawab terhadap operasionalnya atau dengan mitra kerjanya, kemungkinan-kemungkinan yang bisa dicapai, dan kesiapan perencanaan melakukan evaluasi secara terus menerus dalam merealisasikan tujuan.
5. Kemampuan organisatoris penanggung jaawab operasional.

Sementara itu menurut Ramayulis (2008:271) mengatakan bahwa dalam Manajemen pendidikan Islam perencanaan itu meliputi :
1. Penentuan prioritas agar pelaksanaan pendidikan berjalan efektif, prioritas kebutuhan agar melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam proses pendidikan, masyarakat dan bahkan murid.
2. Penetapan tujuan sebagai garis pengarahan dan sebagai evaluasi terhadap pelaksanaan dan hasil pendidikan
3. Formulasi prosedur sebagai tahap-tahap rencana tindakan.
4. Penyerahan tanggung jawab kepada individu dan kelompok-kelompok kerja.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dalam Manajeman Pendidikan Islam perencanaan merupakan kunci utama untuk menentukan aktivitas berikutnya. Tanpa perencanaan yang matang aktivitas lainnya tidaklah akan berjalan dengan baik bahkan mungkin akan gagal. Oleh karena itu buatlah perencanaan sematang mungkin agar menemui kesuksesan yang memuaskan.

2. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

Ajaran Islam senantiasa mendorong para pemeluknya untuk melakukan segala sesuatu secara terorganisir dengan rapi, sebab bisa jadi suatu kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi akan dengan mudah bisa diluluhlantakan oleh kebathilan yang tersusun rapi.

Menurut Terry (2003:73) pengorganisasian merupakan kegiatan dasar dari manajemen dilaksnakan untuk mengatur seluruh sumber-sumber yang dibutuhkan termasuk unsur manusia, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan sukses.
Organisasi dalam pandangan Islam bukan semata-mata wadah, melainkan lebih menekankan pada bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan secara rapi. Organisasi lebih menekankan pada pengaturan mekanisme kerja. Dalam sebuah organisasi tentu ada pemimpin dan bawahan (Didin dan Hendri, 2003:101).

Sementara itu Ramayulis (2008:272) menyatakan bahwa pengorganisasian dalam pendidikan Islam adalah proses penentuan struktur, aktivitas, interkasi, koordinasi, desain struktur, wewenang, tugas secara transparan, dan jelas. Dalam lembaga pendidikan Isla, baik yang bersifat individual, kelompok, maupun kelembagaan.

Sebuah organisasi dalam manajemen pendidikan Islam akan dapat berjalan dengan lancar dan sesuai dengan tujuan jika konsisten dengan prinsip-prinsip yang mendesain perjalanan organisasi yaitu Kebebasan, keadilan, dan musyawarah. Jika kesemua prinsip ini dapat diaplikasikan secara konsisten dalam proses pengelolaan lembaga pendidikan islam akan sangat membantu bagi para manajer pendidikan Islam.

Dari uraian di atas dapat difahami bahwa pengorganisasian merupakan fase kedua setelah perencanaan yang telah dibuat sebelumnya. Pengorganisasian terjadi karena pekerjaan yang perlu dilaksanakan itu terlalu berat untuk ditangani oleh satu orang saja. Dengan demikian diperlukan tenaga-tenaga bantuan dan terbentuklah suatu kelompok kerja yang efektif. Banyak pikiran, tangan, dan keterampilan dihimpun menjadi satu yang harus dikoordinasi bukan saja untuk diselesaikan tugas-tugas yang bersangkutan, tetapi juga untuk menciptakan kegunaan bagi masing-masing anggota kelompok tersebut terhadap keinginan keterampilan dan pengetahuan.

3. Fungsi Pengarahan (directing).
Pengarahan adalah proses memberikan bimbingan kepada rekan kerja sehingga mereka menjadi pegawai yang berpengetahuan dan akan bekerja efektif menuju sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Di dalam fungsi pengarahan terdapat empat komponen, yaitu pengarah, yang diberi pengarahan, isi pengarahan, dan metode pengarahan. Pengarah adalah orang yang memberikan pengarahan berupa perintah, larangan, dan bimbingan. Yang diberipengarahan adalah orang yang diinginkan dapat merealisasikan pengarahan. Isi pengarahan adalah sesuatu yang disampaikan pengarah baik berupa perintah, larangan, maupun bimbingan. Sedangkan metode pengarahan adalah sistem komunikasi antara pengarah dan yang diberi pengarahan.

Dalam manajemen pendidikan Islam, agar isi pengarahan yang diberikan kepada orang yang diberi pengarahan dapat dilaksanakan dengan baik maka seorang pengarah setidaknya harus memperhatikan beberapa prinsip berikut, yaitu : Keteladanan, konsistensi, keterbukaan, kelembutan, dan kebijakan. Isi pengarahan baik yang berupa perintah, larangan, maupun bimbingan hendaknya tidak memberatkan dan diluar kemampuan sipenerima arahan, sebab jika hal itu terjadi maka jangan berharap isi pengarahan itu dapat dilaksanakan dengan baik oleh sipenerima pengarahan.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa fungsi pengarahan dalam manajemen pendidikan Islam adalah proses bimbingan yang didasari prinsip-prinsip religius kepada rekan kerja, sehingga orang tersebut mau melaksanakan tugasnya dengan sungguh- sungguh dan bersemangat disertai keikhlasan yang sangat mendalam.

4. Fungsi Pengawasan (Controlling)
Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan kegiatan operasional guna menjamin bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Bahkan Didin dan Hendri (2003:156) menyatakan bahwa dalam pandangan Islam pengawasan dilakuan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah dan membenarkan yang hak.
Dalam pendidikan Islam pengawasan didefinisikan sebagai proses pemantauan yang terus menerus untuk menjamin terlaksananya perencanaan secara konsekwen baik yang bersifat materil maupun spirituil.

Menurut Ramayulis (2008:274) pengawasan dalam pendidikan Islam mempunyai karakteristik sebagai berikut: pengawasan bersifat material dan spiritual, monitoring bukan hanya manajer, tetapi juga Allah Swt, menggunakan metode yang manusiawi yang menjunjung martabat manusia. Dengan karakterisrik tersebut dapat dipahami bahwa pelaksana berbagai perencaan yang telah disepakati akan bertanggung jawab kepada manajernya dan Allah sebagai pengawas yang Maha Mengetahui. Di sisi lain pengawasan dalam konsep Islam lebih mengutamakan menggunakan pendekatan manusiawi, pendekatan yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman.

C. Penutup
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Manajemen Pendidikan Islam adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (ummat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

Banyak sekali para ulama di bidang manajemen yang menyebutkan tentang fungsi-fungsi manajemen diantaranya adalah Mahdi bin Ibrahim, dia mengatakan bahwa fungsi manajemen itu di antaranya adalah Fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan.
Bila Para Manajer dalam pendidikan Islam telah bisa melaksanakan tugasnya dengan tepat seuai dengan fungsi manajemen di atas, terhindar dari semua ungkupan sumir yang menyatakan bahwa lembaga pendidikan Islam dikelola dengan manajemen yang asal-asalan tanpa tujuan yang tepat. Maka tidak akan ada lagi lembaga pendidikan Islam yang ketinggalan Zaman, tidak teroganisir dengan rapi, dan tidak memiliki sisten kontrol yang sesuai.

Artikel Oleh : A. Farhan Syaddad dan Agus Salim

Bahan Bacaan
1. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008
2. Sondang P Siagian, Filsafah Administrasi, CV Masaagung, Jakarta, 1990
3. Didin Hafidudin dan Hendri Tanjung, Manajemen Syariah dalam Prkatik, Gema Insani, Jakarta, 2003.
4. Mahdi bin Ibrahim, Amanah dalam Manajemen, Pustaka Al Kautsar, Jakarta, 1997
5. Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, Rineka Cipta, 2004.
6. George R Terry, Prinsip-prinsip Manajemen, Bumi Aksara, Jakarta, 2006
7. Robbin dan Coulter, Manajemen (edisi kedelapan), PT Indeks, Jakarta, 2007
8. UU sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003


Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


1926 merupakan tahun bersejarah bagi umat Islam Indonesia. Pada tahun tersebut umat Islam Indonesia mengadakan kongres di Surabaya yang berlangsung dari tanggal 18-23 September 1926. Kongres ini dihadiri oleh tokoh-tokoh utama umat dari berbagai golongan, antara lain, sekadar menyebut sebagai misal, H.O.S. Cokroaminoto, Kyai Mas Mansyur, H. Agus Salim, A.M. Sangaji, dan Usman Amin.

Di antara keputusan penting yang disepakati oleh Kongres Umat Islam ini adalah mengirim seorang utusan untuk menghadiri Muktamar Islam se- Dunia yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Mekkah. Kongres menyepakati bahwa utusan yang akan dikirim itu sekurang-kurangnya mahir berbahasa Arab dan Inggris. Di sinilah kemudian timbul masalah tentang siapa yang akan menjadi utusan. Karena tidak seorang pun dari peserta Kongres yang menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik. Akhirnya dipilihlah dua orang utusan; yang satu pandai berbahasa Inggris, yaitu H.O.S. Cokroaminoto, dan satu lagi adalah Kyai Mas Mansyur yang mahir berbahasa Arab.

Peristiwa pemilihan utusan dengan kriteria semacam ini meninggalkan kesan sangat kuat dalam diri K.H. Ahmad Sahal, yang menjadi peserta Kongres mewakili umat Islam di wilayah Madiun. Sepulang dari Kongres masalah ini menjadi topik pembicaraan bersama kedua adiknya dan merupakan masukan pemikiran yang sangat berharga bagi bentuk dan ciri lembaga pendidikan yang akan dibina, yang meletakkan B. Arab dan Inggris sebagai bahasa pengantar dalam belajar dan bahasa komunikasi harian para santri…..

Artikel Lengkapnya silakan Download DI SINI

Artikel Ditulis Oleh:
Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
Pimpinan Pondok Modern Gontor

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


Hampir terdapat kesepakatan di kalangan para ahli bahwa pendidikan merupakan faktor penentu yang paling dominan bagi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa. Berbagai persoalan rumit yang dihadapi suatu bangsa pasti dapat dilacak akar-akarnya pada problem yang terjadi dalam dunia pendidikannya. Memang ia bukan satu-satunya faktor. Tetapi, setiap persoalan kompleks, seperti krisis multidimensi yang kini tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia, dapat dipastikan sebabnya adalah kompleks juga. Ia bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung pangkal. Tetapi, jika kita benar-benar hendak keluar dari musibah semacam ini, kita harus berani memutus satu titik dari mata rantai lingkaran setan tersebut, dan itu adalah bidang pendidikan.

Membincangkan pendidikan dalam konteks Indonesia tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai pendidikan pesantren; sebuah sistem pendidikan yang memiliki akar historis dalam tradisi dan budaya bangsa ini. Sehingga, pesantren disebut sebagai sistem pendidikan yang indigenous.

Dalam perjalanannya yang panjang, lembaga pendidikan pesantren telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya; baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai kubu pertahanan Islam, sebagai lembaga perjuangan dan dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Kiprah positif semacam ini harus tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Tetapi persoalannya adalah bagaimana hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan tantangan yang semakin rumit dan perubahan yang berlangsung begitu cepat sebagai dampak dari modernisasi?

Tulisan berikut ini akan berusaha membahas secara singkat mengenai pendidikan pesantren di era modern dengan menumpukan perhatian pada pembacaan penerapan konsep-konsep pendidikan modern dalam lembaga pendidikan pesantren yang juga sering disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam.

***
Secara umum pesantren atau pondok didefinisikan sebagai “lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik; baik spiritual (spiritual quotient), intelektual (intellectual quotient), maupun moral-emosional (emotional quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga seluruh penghuni pesantren, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan cara ini pesantren telah mewujudkan sebuah masyarakat belajar yang kini dikenal dengan istilah learning society.

Demikian pula ketika proses penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di dunia pesantren dicermati secara lebih mendalam dan kemudian dicoba dibaca dengan menggunakan paradigma belajar (learning paradigm) yang lebih modern sebagaimana dirumuskan dalam empat visi pendidikan menuju abad 21 versi UNESCO, akan ditemukan bahwa proses-proses belajar modern tersebut bukanlah benda asing dalam pendidikan pesantren yang tradisional itu.

Pertama, proses belajar yang bersifat teoritis dan berorientasi pada pengetahuan rasional dan logis (learning to know/think) adalah sesuatu yang inheren dalam pendidikan pesantren. Di pesantren para santri bukan hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga belajar untuk menyatakan pendapat secara kritis melalui berbagai media yang disediakan untuk itu. Istilah-istilah dalam tradisi dan sistem belajar di pesantren yang disebutkan berikut ini dapat mecerminkan apa yang dimaksudkan dengan paradigma belajar ini. Di antara istilah tersebut adalah sorogan, bandongan atau weton, dan halaqah, di samping istilah khithabah, munazharah, atau juga bahtsul masail. Sedangkan dalam tradisi pesantren yang sudah mengembangkan pendidikan modern tentu saja hal ini juga didapati dalam istilah-istilah yang berbeda.

Kedua, belajar untuk melakukan atau berbuat sesuatu (learning to do). Visi ini lebih terkait dengan sisi praktis dan teknis yang pencapaiannya dilakukan melalui pembekalan santri dengan ketrampilan-ketrampilan yang dapat membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapinya. Ini tercermin, misalnya, dalam pendidikan kemandirian yang sangat kentara dalam kehidupan keseharian santri dari pagi hingga ke pagi lagi.
Ketiga, learning to live together. Pendidikan ini bermaksud menanamkan kesadaran bahwa kita hidup dalam sebuah masyarakat global dengan aneka ragam latar belakang sosial, budaya, bahasa, suku, bangsa, dan agama. Dalam kehidupan masyarakat yang demikian ini, nilai-nilai toleransi, tolong-menolong, persaudaraan, saling menghormati, dan perdamaian harus dijunjung tinggi oleh setiap orang. Dalam kaitan ini maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pesantren merupakan pioner bagi terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat plural yang harmonis. Sebab, selain masalah agama, seluruh keanekaragaman latarbelakang yang disebutkan di atas terdapat dalam masyarakat didik di pesantren, dan semuanya hidup dalam suasana yang damai dan harmonis.

Keempat, learning to be. Visi ini sangat kental hubungannya dengan dunia pesantren. Karena visi belajar yang secara harfiah berarti “belajar menjadi diri sendiri” ini pada intinya adalah pendidikan untuk membentuk sosok pribadi yang berakhlak karimah. Sejak semula pesantren adalah lembaga yang menjadi kawah penempaan akhlak mulia, dan perjalanan waktu telah membuktikan keberhasilan pesantren dalam menjalankan misi ini. Sehingga pesantren dapat disebut sebagai basis pertahanan akhlak dan moral bangsa pada masa-masa krtitis. Pendidikan ini jelas sangat penting di tengah derasnya arus kehidupan modern yang serba permisif dan hedonis.

Selanjutnya para ahli menyimpulkan keempat visi belajar tersebut menjadi satu kata kunci yang mencakup semuanya, yaitu learning how to learn, artinya belajar bagaimana belajar. Di sini anak didik menjadi pembelajar sejati, dia dapat belajar mengenai apa saja, dari siapa dan apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Proses belajar telah menjadi suatu sikap kepribadian dan karakter yang melekat pada diri seorang peserta didik. Bagi pembelajar sejati ini, alam adalah sebuah sekolah yang besar (al-`alam madrasatun kubra). Disadari atau tidak, kepemilikan ketrampilan hidup (life skill) berupa learning how to learn ini telah menjadi ciri yang menonjol dari para lulusan pendidikan pesantren. Learning how to learn sebagai ketrampilan hidup ini ditanamkan di pesantren melalui berbagai cara; dari pengajaran formal, pengajian, pengarahan, pembimbingan, penugasan, pelatihan, penataran, dan seterusnya bahkan terkadang juga pemaksaan. Sehingga, seperti telah disebutkan di atas, “segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga seluruh penghuni pesantren, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan”. Dengan cara inilah ketrampilan learning how to learn itu disemaikan.

Pada tataran lain, para ahli pendidikan saat ini juga tengah gencar menggalakkan pelaksanaan konsep-konsep pendidikan modern semisal menejemen berbasis sekolah (school based management), pendidikan berbasis sekolah (school based education), ataupun pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Sekali lagi, jika diperhatikan secara seksama, konsep-konsep ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak dikenal oleh dunia pesantren. Istilah-istilahnya saja yang baru, tetapi maksud dan isinya sebenarnya telah menjadi ciri khas sistem pendidikan pesantren dengan tingkat intensitas penerapannya yang bervariasi.

Demikian pula dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum), yaitu penyusunan kurikulum yang didasarkan pada kemampuan dasar minimal yang harus dikuasai oleh seorang peserta didik setelah yang bersangkutan menamatkan satu unit pelajaran, satu satuan waktu, dan atau satu satuan pendidikan. Meski belum sepenuhnya diterapkan sesuai dengan tuntutan rumusan konsep mengenai hal ini, nuansanya telah dapat dicermati dalam sistem pendidikan pesantren. Contohnya seorang santri di kelas tertentu mesti sudah menguasai ketrampilan atau kecakapan akademik tertentu, memiliki kualitas spiritual tertentu, dan memiliki karakter tertentu pula.

Tetapi ini tidak berarti bahwa pendidikan pesantren telah memiliki segalanya. Sebab kenyataannya banyak pesantren di mana baginya konsep-konsep sebagaimana dibahas di atas hanya berupa potensi yang belum diaktualisasikan, dan banyak juga yang telah mengaktualisasikannya tetapi belum disertai dengan kesadaran, ataupun dengan kesadaran yang rendah; sedangkan di sisi lain perubahan berlangsung begitu cepat dan tantangan yang dihadapi pesantren juga semakin berat. Karena itu, sudah semestinya pesantren selalu berintropeksi dan melakukan otokritik agar tetap dapat berkiprah secara positif dalam membangun umat dan bangsa ke depan. Wallahu a`lam bi al-shawab.

Oleh: Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
Pimpinan Pondok Modern Gontor
Disampaikan dalam Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren se Jawa Tengah dengan Tema “Kontribusi Pondok Pesantren dalam Pengembangan Pendidikan Nasional”, diselenggarakan oleh Sekretariat Daerah Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Kamis, 16 Oktober 2003, di Gedung B Lantai V Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl. Pahlawan No. 9, Semarang.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Dalam penelitian ini, istilah “kepemimpinan” disandingkan dengan kata “pendidikan”. Hal ini mengandung dua pengertian. Di mana kata “pendidikan” menerangkan dalam lapangan apa dan di mana kepemimpinan itu berlangsung, sekaligus menjelaskan pula sifat atau ciri-ciri yang harus dimiliki oleh kepemimpinan tersebut.

Untuk itu, Sebelum membahas pengertian kepemimpinan sebagai suatu kesatuan, maka perlu dijelaskan juga pengertian pendidikan dari M.J Langeveld yang berpendapat bahwa pendidikan atau pedagogi adalah kegiatan membimbing anak manusia menuju pada kedewasaan dan kemandirian. Adapun pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.

Adapun pengertian kepemimpinan telah banyak sekali para ahli yang berusaha mendefinisikannya, di antaranya sebagai berikut:
a. Kepemimpinan adalah suatu proses di mana individu mempengaruhi kelompok untuk mencapai tujuan umum.
b. Kepemimpinan itu adalah kemampuan untuk menanamkan keyakinan dan memperoleh dukungan dari anggota organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Menurut Rivai definisi kepemimpinan secara luas adalah meliputi proses mempengaruhi dan menetukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan, dan mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
d. Menurut Nawawi, kepemimpinan berarti kemampuan menggerakkan memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan melalui keberanian mengambil keputusan tentang kegiatan yang harus dilakukan.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses kegiatan seseorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, mendorong, mengarahkan, dan menggerakkan individu-individu supaya timbul kerjasama secara teratur dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan bersama. Senada dengan kesimpulan ini, Prabowo menyatakan bahwa dari berbagai defini kepemimpinan kesemuanya mengarah pada adanya suatu proses untuk memberi pengaruh secara sosial kepada orang lain, sehingga orang lain tersebut menjalankan sesuatu sebagaimana diinginkan oleh pemimpin. Dari banyaknya definisi tentang kepemimpinan tidak ada yang “benar”, ia hanya merupakan masalah sejauh mana definisi tersebut berguna untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Lebih lanjut, Mike PEGG (1994) memperkenalkan kepemimpinan positif yang diadopsi dari model-model kepemimpinan tokoh-tokoh sukses yang memunculkan dua kesimpulan: pertama, pemimpin positif memiliki banyak ciri pemimpin yang dalat mendorong untuk bekerja guna mencapai tujuan yang pasti. Kedua, mereka dapat membangun tim kepemimpinan yang baik.

Apabila pengertian kepemimpinan dipadukan dengan pengertian pendidikan, maka pengertian kepemimpinan pendidikan merupakan suatu proses mempengaruhi, mengkoordinir, dan menggerakkan orang lain yang ada hubungan dengan pengembangan ilmu pendidikan dan pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran agar kegiatan-kegiatan yang dijalankan dapat lebih efisien dan efektif demi mencapai tujuan-tujuan pendidikan dan pembelajaran.

Kepemimpinan pendidikan juga dapat diartikan sebagai proses kegiatan usaha mempengaruhi, menggerakkan, dan mengkoordinasi-kan personal di lingkungan pendidikan pada situasi tertentu agar mereka melalui kerjasama mau bekerja dengan penuh tanggung jawab dan ikhlas demi tercapainya demi tercapainya tujuan pendidikan yang telah dirumuskan.

Menjadi pemimpin lembaga pendidikan, terutama pendidikan Islam tidak saja dituntut untuk menguasai teori kepemimpinan, akan tetapi ia juga harus terampil dalam menerapkan situasi praktis di lapangan dan memiliki etos kerja yang tinggi untuk membawa lembaga pendidikan yang dipimpinnya dan memiliki pengaruh yang kuat. Di sini Para ulama berkonsensus bahwa inti efektivitas proses kepemimpinan terlatak pada wibawa (pengaruh) interaktif antara pemimpin dan pengikutnya. Kepemimpinan yang sukses adalah yang mampu mempengaruhi perilaku individu-individu untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target organisasi (jamaah), mengembangkan, memegang teguh, dan menjaga kekuatan bagunannya.

Rujukan:
1. Kartini Kartono, Pengantar Ilmu Mendidik Teoritis (Bandung: Mandar Maju, 1992), 22.
2. Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), 86.
3. P. G. Northouse, Leadership: Theory and Practice (New Delhi: Response Book, 2003), 3.
4. Imam Suprayogo, Reformulasi Visi dan Misi Pendidikan Islam (Malang: STAIN Press, 1999), 160.
5. A. J. Dubrin, 2001, Leadership: Research Findings, Practices, and Skills (Boston: Houghton Mifflin Company, 2001), 3.
6. Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2003), 2.
7. Hadari Nawawi, Administrasi Pandidikan (Jakarta: Haji Masagung, 1998), 81; dan Burhanuddin, Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), 63. Sedikit berbeda dengan pengertian Nawawi, Dirawat menambahkan perlunya kesiapan untuk memimpin dan bertindak bahkan bila perlu memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh pemimpin tersebut. Lihat Dirawat, et.al., Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha Nasional, 1986), 80.
8. Sugeng Listyo Prabowo, Manajemen Pengembangan Mutu Sekolah/Madrasah (Malang: UIN Malang Press, 2008), 11-12.
9. Gary Yulk, “Leadership in Organizations”, diterjemahkan Jusuf Udaya, Kepemimipinan dalam Organisasi (Jakarta: Prenhallindo, 1998),15.
10. Mike PEGG, “Positive Leadership”, diterjemahkan Arif Suyoko, Kepemimpinan Positif (Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo, 1994), 6.
11. Hendyat Soetopo, et.al., Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan (Jakarta: Bina Aksara, 1984), 4.
12. M. Ahmad Rohani, et.al., Pedoman Penyelenggaraan Administrasi Pendidikan di Sekolah (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), 88.
13. Jamal Madhi, “Al-Qiyadah Al-Muatsirah”, diterjemahkan Amang Syafrudin, et.al., Menjadi Pemimpin yang Efektif dan Berwibawa (Bandung: Syamil Cipta Media, 2004), 2-3.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Sebelum penulis membicarakan tentang pengertian guru agama Islam, perlulah kiranya penulis awali dengan menguraikan pengertian guru agama secara umum, hal ini sebagai titik tolak untuk memberikan pengertian guru agama Islam.
a. Pengertian Guru secara ethimologi (harfiah) ialah orang yang pekerjaannya mengajar. Kemudian lebih lanjut Muhaimin menegaskan bahwa: seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu`alim, murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu`addib, yang artinya orang yang memberikan ilmu pengetahuan dengan tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik agar menjadi orang yang berkepribadian baik.
b. Sedangkan pengertian guru ditinjau dari sudut therminologi yang diberikan oleh para ahli dan cerdik cendekiawan, adalah sebagai berikut:
1) Menurut Muhaimin dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar menguraikan bahwa guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan siswanya, baik secara individual ataupun klasikal. Baik disekolah maupun diluar sekolah. Dalam pandangan Islam secara umum guru adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi/aspek anak didik, baik aspek cognitive, effective dan psychomotor.
2) Zakiah Daradjat dalam bukunya ilmu pendidikan Islam menguraikan bahwa seorang guru adalah pendidik Profesional, karenanya secara implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan.
3) Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam setiap melakukan pekerjaan yang tentunya dengan kesadaran bahwa yang dilakukan atau yang dikerjakan merupakan profesi bagi setiap individu yang akan menghasilkan sesuatu dari pekerjaannya. Dalam hal ini yang dinamakan guru dalam arti yang sederhana adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.
4) M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Praktis dan Teoritis menjelaskan guru adalah orang yang telah memberikan suatu ilmu/ kepandaian kepada yang tertentu kepada seseorang/ kelompok orang.

Dari rumusan pengertian guru diatas dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memberikan pendidikan atau ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian apabila istilah kata guru dikaitkan dengan kata agama islam menjadi guru agama islam, maka pengertiannya adalah menjadi seorang pendidik yang mengajarkan ajaran agama Islam dan membimbing anak didik kearah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak mulia, sehingga terjadi keseimbangan antara kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat.

Sebagai guru agama Islam haruslah taat kepada Tuhan, mengamalkan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Bagaimana ia akan dapat menganjurkan dan mendidik anak untuk berbakti kepada Tuhan kalau ia sendiri tidak mengamalkannya. Jadi sebagai guru agama islam haruslah berpegang teguh kepada agamanya, memberi teladan yang baik dan menjauhi yang buruk. Anak mempunyai dorongan meniru, segala tingkah laku dan perbuatan guru akan ditiru oleh anak-anak. Bukan hanya terbatas pada hal itu saja, tetapi sampai segala apa yang dikatakan guru itulah yang dipercayai murid, dan tidak percaya kepada apa yang tidak dikatakannya.

Dengan demikian seorang guru agama Islam ialah merupakan figure seorang pemimpin yang mana disetiap perkataan atau perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik, maka disamping sebagai profesi seorang guru agama hendaklah menjaga kewibawaannya agar jangan sampai seorang guru agama islam melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.

Ahmad Tafsir mengutip pendapat dari Al-Ghazali mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar, ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Karena kedudukan guru agama Islam yang demikian tinggi dalam Islam dan merupakan realisasi dari ajaran Islam itu sendiri, maka pekerjaan atau profesi sebagai guru agama Islam tidak kalah pentingnya dengan guru yang mengajar pendidikan umum.

Dengan demikian pengertian guru agama Islam yang dimaksud disini adalah mendidik dalam bidang keagamaan, merupakan taraf pencapaian yang diinginkan atau hasil yang telah diperoleh dalam menjalankan pengajaran pendidikan agama Islam baik di tingkat dasar, menengah atau perguruan tinggi. Guru merupakan jabatan terpuji dan guru itu sendiri dapat mengantarkan manusia menuju kesempurnaan dan dapat pula mengantarkannya menjadi manusia hakiki dalam arti manusia yang dapat mengemban dan bertanggung jawab atas amanah Allah.

Rujukan:
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 377
2. Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 44-49
3. Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 70
4. Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Angkasa, 1984), hlm. 39
5. Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 31.
6. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988), hlm. 169
7. Rachman Shaleh, Didaktik Pendidikan Agama Disekolah Dan Petunjuk Mengajar Bagi Guru Agama (Bandung: Pustaka Pelajar, 1969), hlm 142.
8. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm.76

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

a. Pengertian Manajemen Pembelajaran
Manajemen pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemen program pembelajaran sering disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran (Bafadhal, 2004: 11).

Pada dasarnya manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik dikategorikan berdasarkan kurikulum inti maupun penunjang berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya, oleh Departemen Agama atau Departemen Pendidikan Nasional.

b. Manajemen Pembelajaran dalam Perspektif Islam.
Manajemen dalam perspektif Islam berbeda dengan manajemen menurut barat. Hal ini dikarenakan dasar-dasar manajemen dalam Islam bersumber dari Al Qur’an dan Sunnah.

Menurut Gibson yang dikutip Ndhara (1988: 93) mendifinikan manajemen sebagai berikut: “Management consist of activites under taken by one or more person to corrdinate the activities of others person to achieve result not achievable by one person alone. (Manajemen merupakan suatu hal yang terdiri dari aktivitas-aktivitas yang dikelola oleh satu atau beberapa orang untuk mengatur aktivitas orang lain agar mencapai hasil yang diinginkan).

Sedangkan menurut Konntz (1972: 16) bahwa: ”management is getting things done trough people. In bringing about this cordinating of group activity, the manager, as a manager plan, organizes, staff, direct, and control the activities other people”. (Yaitu manajemen adalah suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu melalui suatu kegiatan orang lain. Dengan demikian, manajer mengadakan koordinasi atas sejumlah aktivitas orang lain yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penempatan, pengerahan dan pengendalian).

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa: (1) manajemen merupakan suatu tindakan atau aktivitas ke arah pencapaian tujuan, (2) manajemen merupakan sistem kerjasama, dan (3) manajemen melibatkan orang lain baik manusia maupun non- manusia.
Dalam pandangan Islam, manajemen lebih diartikan sebagai sebuah tindakan yang digunakan untuk mengatur sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab, sesuai dengan pembagian tugas yang dilakukan oleh pemimpin untuk seluruh staf dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. (Effendi, 1986: 17).

Sebagaimana firman Allah di dalam al Qur’an tentang tanggung jawab:
Terjemah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Isra’: 36).

Terjemah: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Dari uraian di atas, dapat penulis simpulkan bahwa manajemen dalam pandangan Islam merupakan suatu aktivitas untuk mengelola sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab, yang dilakukan dengan pembagian tugas masing-masing sesuai dengan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

a. Perencanaan
Dalam Al-Qur’an, fungsi perencanaan dapat kita temuan dari ayat berikut ini, yakni di dalam Al Qur’an surat al-Hasyr ayat 18 yang berbunyi:
Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Juga dalam hadits (CD Hadits-Kutub at Tis’ah)) Rasulullah bersabda
إِنمَّاَ اْلأعْمَلُ باِلنِّيَّاتِ وِإِنمّاَ لِكُلٍّ امْرِئ ٍمَانوَىَ (رواه بخاري)

“Bahwasannya semua pekerjaan diawali dengan niat, dan bahwasannya pekerjaan tergantung pada niat (rencananya)” (HR. Bukhari: 01)

Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu harus direncanakan (niatkan). Dalam upaya mengelola pembelajaran diperlukan sebuah niat (rencana), perencanaan yang baik, bentuk perencanaan yang baik meliputi:
1) Perencanaan selalu berorientasi pada masa depan, yaitu dalam perencanaan berusahan untuk memprediksi bentuk dan masa depan siswa dalam pembel;ajaran berdasarkan kondisi dan situasi saat ini.
2) Perencanaan merupakan suatu hal yang benar-benar dilakukan bukan kebetulan, sebagai hasil dari ekplorasi dan evaluasi kegiatan pembelajaran sebelumnya.
3) Perencanaan memerlukan tindakan dari orang-orang yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, baik secara individu maupun kelompok.
4) Perencanaan harus bermakna, dalam arti usaha-usaha yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan diselenggarakannya pendidikan menjadi semakin efektif dan efisien.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap kegiatan yang ingin mencapi tujuan sebagaimana yang diharapkan harus terlebih dahulu dilakukan proses perencanaan.

b. Pengorganisasian
Menurut Hick dan Gullet (1981: 321) pengorganisasian adalah kegiatan membagi tugas dan tanggung jawab dan wewenang sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 103 dapat diambil sebuah pemahaman tentang adanya fungsi manajemen, yaitu organizing (pengorganisasian). Sebagaimana firman Allah:
Terjemahnya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Dari beberapa ayat tersebut menunjukkan perlunya persatuan dalam setiap tindakan yang terpadu, utuh, kuat, dan karenanya Allah melarang bercerai berai. Artinya bahwa mengorganisasi sesuatu hal dengan baik agar supaya tidak terpecah-pecah antara satu dan lain menjadi prinsip dalam manajemen menurut Islam.

Terjemah : Dan dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al An’am: 165)

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa seseorang dalam menjalani hidup, pasti dihadapkan pada sesuatu yang berbeda, mereka ada pada tingkatan yang berbeda, yang dikenal dengan sebutan stuktur organisasi. Dengan demikian, pengorganisasian sesungguhnya merupakan kegiatan untuk menyusun atau membentuk hubungan-hubungan agar diperoleh kesesuaian dalam upaya mencapai tujuan.

c. Pengarahan
Menurut Terry dalam Hasibun (2001: 183) mendefinisikan bahwa pengarahan adalah membuat semua anggota kelompok, agar mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Di dalam Islam, fungsi pengarahan dilakukan oleh seorang nabi (guru) atau pemimpin, untuk memberikan petunjukan tentang hal yang baik dan yang buruk. Di dalam Al Qur;an surat Al Imran ayat 110 Allah berfirman:
Artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Al Imran: 110)

Ayat di atas, mengisyaratkan bahwa sebagai umat manusia (umat Muhammad) yang terbaik diperintahkan untuk memberikan anjuran (pengarahan) kepada umat Islam laiinya agar senantiasa melakukan pekerjaan yang baik dan menjauhkan diri dari melakukan pekerjaan yang melanggar perintah agama.

Di dalam Surat Al Baqarah ayat 213 Allah berfirman:
Terjemahnya: “Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan.”

Proses actuating adalah memberikan perintah, petunjuk, dan nasehat serta keterampilan dalam berkomunikasi.

Berkenaan dengan manajemen pembelajaran, maka seorang kepala sekolah harus memberikan pengarahan kepada para pegawainya baik guru maupun karyawan dengan berbagai macam pendekatan agar tujuan yang telah direncanakan dapat dicapai dengan baik. Oleh karena, peran kepala sekolah dalam manajemen pembelajaran sangat penting sekali.

d. Pengawasan
Di dalam Islam, fungsi pengawasan dapat terungkap pada ayat-ayat di dalam al Qur’an surat As-Shof ayat 3:
Terjemahnya: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ayat tersebut memberikan ancaman dan peringatan terhadap orang yang mengabaikan control terhadap perbuatannya. Dalam hal control Islam menurut Jawahir (1983: 66) sangat memperhatikan adanya bentuk pengawasan terhadap diri terlebih dahulu sebelum melakukan pengawasan terhadap orang lain. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah saw yang berbunyi:
حَاسِبُوْا أَنْفَسكُمْ قَبْلَ اَنْ تُحَاسَبُوْا (الترميذى)
Artinya: “Periksalah dirimu sebelum memeriksa orang lain. Lihatlah terlebih dahulu atas kerjamu sebelum melihat kerja orang lain.” (HR. Tirmidzi: 2383). (CD Hadits: Kutub at Tis’ah)

Juga di dalam surat Al Zalzalah Allah berfirman:
Terjemah: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Dalam pandangan Islam segala sesuatu harus dilakukan secara terencana, dan teratur. Tidak terkecuali dengan proses kegiatan belajar-mengajar yang merupakan hal yang harus diperhatikan, karena substansi dari pembelajaran adalah membantu siswa agar mereka dapat belajar secara baik dan maksimal. Manajemen dalam hal ini berarti mengatur atau mengelola sesuatu hal agar menjadi baik.
Hal ini sesuai dengan hadits, An-Nawawi (1987: 17) yang diriwayatkan dari Ya’la Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ اْلأَحْسَانَ عَلىَ كُلِّ شَيْئ ٍ (رواه البخاري)
Artinya: “Sesungguhnya mewajibkan kepada kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu.” (HR. Bukhari: 6010). (CD Hadits: Kutub at Tis’ah)

Selain itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَاعَمَلَ اَحَدُكُمُ الْعَمَلَ اَنْ يَتْقَنَهُ (رواه الطبران)
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang jika melakukan suatu pekerjaan, dilakukan secara itqan (tepat, terarah, dan tuntas) (HR. Thabrani).

Menurut An-Nawawi (1987: 17) dalam bukunya hadits Ar’bain bahwasannya Rasulullah juga memerintahkan manusia agar mendidikan anak-anaknya secara terencana sesuai dengan fase-nya.
“Didiklah anakmu dalam tiga tahap, tujuh tahun pertama ajaklah ia sambil bermain, tujuh tahun kedua ajaklah dia untuk disiplin, dan tujuh tahun ketiga ajaklah dia sebagai teman”. (HR. Baihaqi)

Dari hadits tersebut dapat penulis ambil suatu dasar bahwasannya sekolah/madrasah merupakan salah satu tempat untuk mendidik anak bermain, disiplin dan memperlakukan anak didik sebagai teman dalam proses belajar mengajar, sehingga mereka nantinya dapat tumbuh sebagai generasi-generasi yang tangguh.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd

Pendidik di Malang


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.