Arsip

Pengelolaan Kelas

Hambatan-hambatan Manajemen Kelas
Dalam manajemen kelas akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan tersebut bisa datang dari guru sendiri, peserta didik, lingkungan keluarga ataupun karena faktor fasilitas. Dan dari uraian diatas tampaklah bahwa kewenangan penanganan masalah pengelolaan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu:
a. Masalah yang ada dalam wewenang guru.
Ada sejumlah masalah pengelolaan kelas yang ada dalam ruang lingkup wewenang seorang guru bidang studi untuk mengatasinya. Hal ini berarti bahwa seorang guru bidang studi yang sedang mengelola proses pembelajaran dituntut untuk dapat menciptakan, memperhatikan dan mengembalikan iklim belajar kepada kondisi belajar mengajar yang menguntungkan kalau ada gangguan sehingga peserta didik berkesempatan untuk mengambil manfaat yang optimal dari kegiatan belajar yang dilakukannya.
b. Masalah yang ada dalam wewenang sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Dalam kenyataan sehari-hari di kelas, akan ditemukan masalah pengelolaan yang lingkup wewenang untuk mengatasinya berada di luar jangkauan guru bidang studi. Masalah ini harus diatasi oleh sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan. Bahkan mungkin juga ada masalah pengelolaan yang tidak bisa hanya diatasi oleh satu lembaga pendidikan akan tetapi menuntut penanganan bersama antarasekolah.
Masalah-masalah yang ada dibawah wewenang sekolah antara lain pembagian ruangan yang adil untuk setiap tingkat atau jurusan, pengaturan upacara bendera pada setiap hari senin dan bila pada hari itu turun hujan lebat, menegur peserta didik yang selalu terlambat pada saat apel bendera, mengingatkan peserta didik yang tidak mau memakai seragam sekolah, menasehati peserta didik yang rambutnya gondrong, memberi peringatan keras kepada peserta didik yang merokok di kelas atau sekolah dan suka minum-minuman keras, sampai kepada mendamaikan peserta didik jika terjadi perselisihan antarsekolah.
c. Masalah yang ada di luar wewenang guru bidang studi dan sekolah.
Dalam mengatasi masalah semacam ini mungkin yang harus terlibat adalah orang tua, lembaga-lembaga yang ada dalam masyarakat seperti karang taruna, bahkan para pengusaha dan lembaga pemerintahan setempat.
Selain masalah diatas ada juga beberapa faktor yang menjadi penghambat dalam manajemen kelas adalah:
1) Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari sini berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang.
2) Faktor peserta didik. Kekurangsadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas.
3) Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik penganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home.
Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.

Ada beberapa pendekatan yang dijadikan sebagai alternatif pertimbangan dalam usaha menciptakan disiplin kelas yang efektif, antara lain:
a. Pendekatan Manajerial
Pendekatan ini dilihat dari sudut pandangan manajemen yang berintikan konsepsi-konsepsi tentang kepemimpinan. Dalam pendekatan ini dapat dibedakan:
1) Kontrol otoriter, dalam menegakkan disiplin kelas guru harus bersikap keras, kalu perlu dengan hukuman-hukuman yang berat.
2) Kebebasan liberal, menurut konsep ini siswa harus diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangannya.
3) Kebebasan terbimbing, konsep ini merupakan perpaduan diantara kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Dari sini siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas, namun terbimbing atau terkontrol. Disiplin kelas yang baik menurut konsep ini lebih ditekankan kepada kesadaran dan pengendalian diri sendiri.

b. Pendekatan psikologis
Terdapat beberapa pendekatan yang didasarkan atas studi psikologi yang dapat dimanfaatkan oleh guru dalam membina disiplin kelas kepada siswanya. Pendekatan yang dimaksud antara lain:
1) Pendekatan Modifikasi Tingkah laku (Behavior-Modification Approach).
Pendekatan ini bertolak dari psikologi behavioral yang mengemukakan asumsi bahwa:
a) Semua tingkah laku yang baik dan kurang baik merupakan hasil proses belajar.
b) Ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud, yaitu di antaranya penguatan positif (positif reinforcement) seperti hadiah, ganjaran, pujian, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang disenangi oleh siswa, dan penguatan negatif (negatif reinforcement) seperti hukuman, penghapusan hak dan ancaman.
Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus memberikan penguatan positif (pemberian ganjaran atau penghapusan hukuman). Sedangkan untuk mengurangi atau menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, guru harus menggunakan penguatan negatif (pemberian hukuman atau penghapusan hak).
Penguatan ini sendiri ada dua macam, yaitu penguatan primer (penguatan yang tanpa dipelajari) misalnya makanan, air, kehangatan badaniah dan penguatan sekunder (penguatan sebagai hasil proses belajar, misalnya perhatian, pujian, sanjungan serta kegiatan lain yang disenangi oleh peserta didik.
2) Pendekatan iklim sosio-emosional (Sosio-Emotional-Climate Approach).
Pendekatan ini berlandaskan psikologi klinis dan konseling yang mempradukan: pertama, proses belajar-mengajar yang efektif mempersyaratkan keadaan sosio-emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan antara pribadi guru dengan siswa dan antara siswa dengan siswa. Kedua, guru merupakan unsur terpenting bagi terbentuknya iklim sosio-emosional yang baik. Guru diperlukan bersikap tulus di hadapan siswa, menerima dan menghargai siswa sebagai manusia, dan mengerti siswa dari sudut pandangan siswa sendiri.
Selanjutnya Carl A. Rogers menekankan pentingnya guru bersikap tulus di hadapan peserta didik (roalness, genueness, and congruence); menerima dan menghargai peserta didik sebagai manusia (Acceptance, prizing, caring dan trust); dan mengerti peserta didik dari sudut pandangan peserta didik sendiri (emphatio understanding) .
3) Pendekatan proses kelompok (Group-Processess Approach).
Pendekatan ini didasarkan pada psikologi klinis dan dinamika kelompok. Yang menjadi anggapan dasar dari pendekatan ini ialah pengalaman belajar sekolah berlangsung dalam konteks sosial dan tugas pokok guru yang terutama dalam pengelolaan kelas ialah membina kelompok yang produktif dan efektif.
Adapun unsur-unsur pengelolaan kelas dalam rangka pendekatan proses kelompok yang dapat diwujudkan kelompok produktif dan efisien, antara lain:
a) Harapan timbal-balik tingkah laku antara guru dengan siswa dan siswa dengan Siswa.
b) Sifat kepemimpinan, baik dari pihak guru maupun pihak siswa, yang mengarahkan kegiatan kelompok ke arah pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
c) Pola persahabatan antar kelas, semakin baik ikatan persahabatan antar siswa maka semakin besar peluang kelompok menjadi produktif.
d) Norma-norma kelompok yang produktif dimiliki dan dipertahankan, sedangkan yang kurang baik dihilangkan.
e) Terjadinya komunikasi yang efektif.
f) Kekohesifan (keakraban)), yaitu perasaan keterikatan masing-masing anggota terhadap kelompok seraca keseluruhan.

4) Pendekatan eklektik (Eclectic Approach)
Dalam pendekatan ini seorang guru hendaknya:
a) Menguasai pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang potensial, dalam hal ini pendekatan perubahan tingkah laku.
Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah pengelolaan kelas.

Mengenai kunci keberhasilan manajemen kelas, guru dan wali kelas yang merupakan pengemban amanat kepala sekolah perlu memperhatikan kunci keberhasilan supaya dapat mengatasi dan menghadapi ancaman, gangguan serta hambatan dan tantangan ketika merealisasikan tugas-tugas yang relevan dengan maksud perealisasian amanat.

A. Prosedur Preventif
Prosedur usaha preventif merupakan inisiatif guru dan wali kelas untuk menciptakan kondisi yang baru dari interaksi biasa menjadi interaksi edukatif, dengan senantiasa membangkitkan motivasi belajar siswa. Yang dilakukan dalam prosedur ini menurut Maslahah dalam bukunya Mujamil Qomar adalah:
1. Peningkatan kesadaran guru sebagai pendidik, bahwa apapun corak proses pendidikan yang terjadi pada diri peserta didik adalah tanggung jawab guru sepenuhnya.
2. Peningkatan kesadaran siswa, dalam hal ini siswa harus menyadari hak dan kewajibannya sebagai siswa.
3. Penampilan sikap guru. Sikap guru terhadap siswa harus dilandasi sikap tulus dan hangat secara wajar dalam mendukung kegiatan pendidikan.
4. Pengenalan terhadap tingkah laku siswa.
5. Penemuan alternatif pengelolaan kelas. Dengan mengetahui tingkah laku siswa baik yang mendukung maupun menolak dengan menetapkan alternatif pemecahannya.
6. Pembuatan kontrak sosial. Kontrak sosial pada hakekatnya merupakan norma/ peraturan dan tata tertib kelas yang sudah disepakati sebagai standar tingkah laku siswa sebagai individu maupun kelompok.
B. Prosedur Kuratif
Prosedur kuratif merupakan inisiatif guru dan wali kelas untuk mengatasi bentuk perbuatan siswa yang dipandang bisa berpengaruh negatif terhadap proses belajar mengajar dengan jalan memberhentikan perbuatannya itu sekaligus membimbingnya agar memiliki perbuatan pendukung proses belajar mengajar. Adapun yang bisa dilakukan dalam pandangan Maslahah juga adalah:
1. Langkah identifikasi kasus: memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang mengganggu proses pendidikan di kelas.
2. Langkah analisis masalah: mengetahui latar belakang serta sebab-sebabnya timbul tingkah laku yang menyimpang guna mencari sumbernya.
3. Penetapan alternatif pemecahannya: guru berusaha mengatasi masalah sesuai dengan situasi yang dihadapi dengan menggunakan pendekatan yang tepat.
4. Langkah monitoring: mengadakan pemantauan terhadap upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan.
5. Memanfaatkan umpan balik.
Kedua kunci keberhasilan manajemen kelas itu memperhatikan bahwa kompetensi guru dan wali kelas selaku pemegang kunci adalah menjadi penentu utama keberhasilan inovasi manajemen kelas sebagai pemacu kedinamisan pembelajaran.

Masalah Manajemen Kelas
Tingkah laku anak didik bervariasi. Dan variasi perilaku anak merupakan permasalahan bagi guru dalam upaya manajemen kelas. Menurut Made Pidarta, masalah-masalah manajemen kelas berhubungan dengan perilaku anak didik adalah:
1. Kurang kesatuan, dengan adanya kelompok-kelompok dan pertentangan jenis kelamin.
2. Tidak ada standar perilaku dalam bekerja kelompok, misalnya ribut, bercakap-cakap dan sebagainya.
3. Reaksi negatif terhadap anggota kelompok, misalnya ribut bermusuhan, mengucilkan, dan merendahkan kelompok bodoh.
4. Kelas mentoleransi kekeliruan-kekeliruan temannya, menerima dan mendorong perilaku anak didik yang keliru.
5. Mudah mereaksi ke hal-hal negatif/ terganggu, misalnya bila didatangi monitor, tamu-tamu, iklim yang berubah.
6. Moral rendah, permusuhan, agresif, misalnya dalam lembaga yang alat-alat belajarnya kurang.
7. Tidak mampu menyesuaikan dengan lingkungan yang berubah seperti tugas-tugas tambahan, anggota kelas yang baru, situasi baru dan sebagainya.

Mengenai masalah manajemen kelas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Meskipun seringkali perbedaan antara kedua kelompok itu hanya merupakan perbedaan tekanan saja. Tindakan manajemen kelas seorang guru akan efektif apabila ia dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi, sehingga pada gilirannya ia dapat memilih strategi penanggulangannya yang tepat pula.
Lois V. Johnson dan Mary A. Bany mengemukakan enam kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio-ekonomi.
2. Kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya. Misalnya mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara menyanyi dengan suara sambung.
3. ”Membesarkan” hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.
4. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah dikerjakan.
5. Semangat kerja rendah. Misalnya semacam aksi protes kepada guru karena menganggap tugas yang diberikan kurang adil.
6. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Misalnya gangguan jadwal antar guru kelas terpaksa diganti sementara oleh guru lain.

Ruang Lingkup dan Aspek-aspek Manajemen Kelas

Ruang lingkup manajemen kelas menurut Johanna Kasin Lemlech adalah sebagai berikut:
a)      Perencanaan kurikulum yang lengkap mulai dari rumusan tujuannya, bahan ajarannya, sampai pada evaluasinya. Tanpa perencanaan, usaha penataan kelas tidak sebaik yang diharapkan.
b)       Pengorganisasian proses belajar-mengajar dan sumber belajar sehingga serasi dan bermakna kegiatan guru dan murid diatur, sehingga terjadi interaksi yang responsive. Penataan sumber belajar akan selalu berkaitan dengan pengorganisasian proses belajar mengajar.
c)      Penataan lingkungan yang bernafaskan pokok bahasan menjadi usaha guru dalam menata kelas agar kelas merangsang dan penuh dorongan untuk memunculkan proses belajar yang efektif dan efisien.[1]
Sedangkan menurut Udin Saifuddin, bahwa ruang lingkup manajemen kelas terdiri atas kegiatan akademik berupa perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran. Selain itu juga berupa kegiatan administratif yang mencakup kegiatan procedural dan organisasional, seperti penataan ruangan, pengelompokan siswa dan tugas, penegakan disiplin kelas, pengadaan tes dan menilainya, iklim kelas yang favourable, pengorganisasian kelas, penataan kelas dan pelaporan.[2]
Mengenai aspek-aspek manajemen kelas ini, maka dibedakan menjadi dua:
1)          Kegiatan Administratif Manajemen.
Kegiatan administratif pendidikan tidak terlepas dari proses manajemen. Administratif dalam pandangan Shulhan adalah seluruh kegiatan dalam setiap usaha kerjasama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Berkaitan dengan hal ini Nawawi berpandangan bahwa “…sebuah kelas pada dasarnya merupakan suatu unit kerja yang di dalamnya bekerja sejumlah orang untuk mencapai tujuan”. [3]
Dengan demikian, dalam suatu kelas harus ada upaya untuk menciptakan kondisi kelas yang diliputi dorongan untuk aktif secara terarah yang dikembangkan melalui kreatifitas dan inisiatif siswa dalam sebuah kelompok. Oleh sebab itu, dalam mengelola suatu kelas, guru atau wali kelas tentu menjalani langkah-langkah manajemen administrative yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengkomunikasian dan pengontrolan. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
    1. Perencanaan.
Perencanaan mengenai program tahunan, program semester, program bulanan, program mingguan dan harian harus disusun secara rapi dan disesuaikan dengan alokasi waktu dan beberapa kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler.
    1. Pengorganisasian.
 Dalam program kerja kelas sebagai rencana kerja harus bersifat realistis dengan tujuan yang realistis. Dengan demikian guru dan wali kelas harus membagi beban kerja kepada seluruh personal yang ikut dalam pengelolaan kelas agar aktifitas kelas dapat berjalan dengan tertib sesuai dengan tujuan dan rencana.
    1. Pengarahan.
 Guru harus memberi instruksi, petunjuk dan bimbingan sebagai pengarahan agar kegiatan yang dilaksanakan tidak menyimpang dari perencanaan. Pengarahan ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan kepala sekolah selaku pucuk pimpinan dan penanggung jawab, juga kerjasama dengan pihak-pihak yang terkait, demi mewujudkan proses belajar mengajar di kelas yang efektif  dan efisien.
    1. Pengkoordinasian.
Pengkoordinasian ini bisa diwujudkan dengan menciptakan kerjasama yang disadari saling pengertian akan tugas dan peranan masing-masing, sehingga mampu menciptakan hubungan kerja yang harmonis dan pekerjaan menjadi produktif.
    1. Pengkomunikasian.
 Dalam pengkomunikasian harus selalu terjalin antara guru dan wali kelas dengan siswa di dalam kelas, agar tercipta situasi kelas yang dinamis. Komunikasi antar personal di kelas dapat berlangsung secara formal dalam acara rapat, musyawarah, diskusi dan dapat berlangsung secara informal melalui kontak antar pribadi dala setiap kesempatan di dalam dan di luar sekolah.
    1. Pengontrolan.
Kegiatan kontrol ini memungkinkan untuk mengetahui kebaikan dan kekurangan dalam melaksanakan program kelas. Pengontrolan kelas dapat dilakukan terhadap realisasi jadwal pelajaran, kedisiplinan siswa, partisipasi siswa terhadap kegiatan, realisasi tugas siswa. [4]
2)          Kegiatan Operatif Manajemen.
Agar seluruh program kelas dapat direalisasikan secara efektif mencapai tujuan, maka kegiatan administrative manajemen di atas harus ditunjang oleh kegiatan operatif manajemen berikut ini:
a.   Tata Usaha.
Tata usaha berfungsi untuk melakukan pencatatan tentang segala sesuatu yang terjadi di kelas yang bisa digunakan guru dan wali kelas untuk mengambil suatu kebijakan pendinamisan kelas.
b.  Perbekalan Kelas.
Perbekalan kelas merupakan alat bantu yang memungkinkan program kelas dapat direalisasikan secara efektif. Perbekalan kelas itu menurut Nawawi dibedakan menjadi 2 macam :
1)      Alat-alat kependidikan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar seperti: papan tulis, kapur tulis, kertas untuk ulangan, berbagai alat peraga.
2)      Alat-alat non-kependidikan yang tidak langsung berhubungan dengan proses pembelajaran seperti: meja kursi, lemari, papan absent, buku raport, absensi, buku agenda dan lain-lain.[5]
c.   Keuangan kelas.
Pengadaan dan pemeliharaan perbekalan kelas mengharuskan ada dukungan dana. Dana ini diperlukan sekali ketika pembelian perbekalan kelas, sekaligus perawatannya agar segala bentuk perbekalan itu bisa dimanfaatkan dalam jangka waktu yang relatif panjang dan tidak segera rusak atau hilang.
d.  Personal kelas.
Di lingkungan kelas, para siswa sebagai personal kelas harus dikelola dengan baik. Kegiatan ini berkenaan dengan penempatan siswa dalam kelompok belajar, olah raga, kesenian dan lain-lain dengan mempertimbangkan faktor intelegensi, bakat, minat dan lain-lain.
e.   Kehumasan.
Kehumasan secara ekstern dapat dilakukan terhadap wali murid melalui pemberian informasi program kelas agar mendapatkan dukungan penuh, terutama bila curahan pikiran, tenaga, waktu dan keuangan dari wali murid benar-benar dibutuhkan.[6]

[1] Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Op.Cit., hlm.113.
[2] Ibid.
[3] Mujamil Qomar, Op.Cit., hlm. 285.
[4] Ibid., hlm. 288.
[5] Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas Sebagai Lembaga Pendidikan  (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1989), hlm. 26.
[6] Mujamil Qomar, Op.Cit., hlm. 291.

Dengan adanya otonomi daerah sekarang ini muncul sebuah keputusan baru sektor pendidikan  dalam upaya peningkatan mutu pendidikan sekolah yaitu Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Dari sini setiap kepala sekolah dituntut untuk melakukan fungsinya sebagai manajer sekolah dalam meningkatkan proses pembelajaran dengan melakukan supervisi kelas, membina dan memberikan saran-saran positif kepada guru. Disamping itu juga harus melakukan tukar pikiran, sumbang saran, serta studi banding antar sekolah untuk menyerap dan menfilter kiat-kiat kepemimpinan kepala sekolah yang lain.

Dalam rangka mengimplementasikan MBS secara efektif dan efisien, guru harus berkreasi dalam meningkatkan manajemen kelas. Guru adalah teladan dan panutan langsung para peserta didik di kelas. Oleh karena itu, guru perlu siap dengan segala kewajiban, baik manajemen maupun persiapan isi materi pelajaran. Guru harus mengorganisasikan kelasnya dengan baik, jadwal pelajaran, pembagian tugas, peserta didik, kebersihan, keindahan serta ketertiban kelas. Pengaturan tempat duduk peserta didik, penempatan alat-alat harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Manajemen kelas yang baik memungkinkan guru mengajar dengan baik, karena kelas yang terhindar dari konflik menjadikan guru mengembangkan kemampuannya sehingga terjadi hubungan yang efisien dengan siswanya.[1] Suasana kelas yang menyenangkan dan penuh disiplin sangat diperlukan untuk mendorong semangat belajar peserta didik. Kreatifitas dan daya cipta guru untuk mengimplementasikan MBS perlu terus menerus didorong dan dikembangkan.[2]
Sebelum kita membicarakan tentang definisi manajemen kelas, terlebih dahulu kita perlu mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan manajemen dan kelas.
Menurut Made Pidarta dalam bukunya Manajemen Pendidikan Indonesia sebagaimana yang telah dikutip oleh Mujamil Qomar, mengatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dalam mengintegrasikan sumber-sumber (mencakup orang-orang, alat-alat, media bahan-bahan uang dan sarana semuanya) diarahkan dan dikoordinasi agar terpusat dalam rangka menyelesaikan tujuan. [3]
Adapun menurut Nawawi, bahwa kelas adalah sebagai suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah, yang sebagai satu kesatuan diorganisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan pembelajaran yang kreatif  untuk mencapai suatu tujuan”.[4]
Dengan demikian, yang dimaksud dengan kelas bukan hanya kelas yang merupakan ruangan yang dibatasi dinding tempat para siswa berkumpul bersama untuk mempelajari segala yang disajikan oleh pengajar, tetapi lebih dari itu kelas merupakan satuan unit kecil siswa yang berinteraksi dengan guru dalam proses pembelajaran dengan beragam keunikan yang dimiliki, contoh: aspek fisik, psikis, latar keluarga, bakat dan minat. Seluruh aspek tersebut perlu ditanggapi secara positif sebagai faktor pemacu dalam mewujudkan situasi dinamis yang dapat berlangsung dalam kelas, sehingga segenap siswa diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara efektif dan terarah sesuai dengan tugas-tugas perkembangan mereka. Dan situasi seperti inilah yang akan mendorong terciptanya kerjasama sekaligus persaingan yang sportif dalam meraih prestasi belajar. Hubungan manusiawi yang efektif ini dapat menjadi motivator belajar siswa, dan merupakan faktor pendukung bagi penciptaan lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan proses belajar mengajar. Selain itu Nawawi juga menegaskan bahwa definisi kelas dibagi dua yaitu:
1) Kelas dalam arti sempit yakni ruangan yang dibatasi oleh empat dinding tempat sejumlah siswa berkumpul untuk mengikuti proses belajar mengajar. Dalam pengertian tradisional mengandung sifat statis, karena sekedar menunjuk pengelompokan siswa menurut tingkat perkembangannya yang didasarkan pada batas umur kronologis masing-masing.
2) Kelas dalam arti luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai kesatuan diorganisir menjadi unit kerja secara dinamis menyelenggarakan berbagai kegiatan belajar-mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan.[5]
Berdasarkan pendapat tentang manajemen dan kelas dari para ahli diatas, maka  pengertian manajemen kelas adalah antara lain:
 Menurut Pidarta seperti yang telah dikutip oleh Saiful Bakhri, mengatakan bahwa “Manajemen kelas adalah proses seleksi dan penggunaan alat-alat yang tepat terhadap problem kelas. Ini berarti guru bertugas menciptakan, memperbaiki dan memelihara sistem/ organisasi kelas, sehingga anak didik dapat memanfaatkan kemampuannya, bakatnya dan energinya pada beberapa tugas individualnya”.[6]
Menurut Sudirman, bahwa “Manajemen kelas merupakan upaya dalam mendayagunakan potensi kelas, karena itu kelas mempunyai peranan dan fungsi tertentu dalam menunjang keberhasilan proses interaksi edukatif, maka agar memberikan dorongan dan rangsangan terhadap anak didik untuk belajar, kelas harus dikelola sebaik-baiknya oleh guru”.[7]
Dari kedua pendapat tersebut dapat ditarik garis tengah, bahwa manajemen kelas suatu upaya memberdayakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif  dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Sedangkan Menurut Johanna Kasin Lemlech, (Cece Wijaya:1994) manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seorang guru dalam menata kehidupan yang ada di kelas mulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimalkan efisiensi dan memantau kemajuan siswa serta mengantisipasi beberapa masalah yang kemungkinan timbul di kelas tersebut.[8]
Menurut Oemar Hamalik, seperti yang telah dikutip oleh Made Pidarta definisi manajemen kelas ada dua paham, yaitu paham lama dan paham baru. Paham lama mengatakan manajemen kelas hanya merupakan sebuah pertahanan kelas dengan tujuan mewujudkan ketertiban kelas. Dan paham baru mengatakan bahwa manajemen kelas merupakan suatu proses seleksi dalam menggunakan alat-alat yang tepat terhadap beberapa problema dalam perwujudan situasi kelas yang efisien.[9]

[1]. Seni Mengelola Kelas. Disadur dari Craft of the Classroom pengarang Michael Marland (Semarang: Dahara Prize, 1985),  hlm. 11
[2] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2004), cet V,  Hlm. 57
 [3] Mujamil Qomar, Op.Cit., hlm. 298.
[4] Ibid.
[5] Sudirman dkk, Ilmu Pendidikan:Kurikulum, Program pengajaran, Efek Intruksional dan pengiring, CBSA, Metode mengajar, Media pendidikan, Pengelolaan kelas dan Evaluasi hasil belajar (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 310-311
[6] Saiful Bakhri Djamarah, Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif  (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 172-173
[7] Ibid.
[8] Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan, Op.Cit., hlm. 113
[9] Made pidarta, Pengelolaan Kelas  (Surabaya: Usaha Nasional, ___), hlm. 11

Berdasarkan pengelolaan kelas yang disampaikan oleh beberapa pakar pendidikan, maka sasaran pengelolaan kelas itu bisa dibedakan menjadi dua macam yaitu pengelolaan fisik dan pengelolaan siswa.
a. Pengelolaan fisik
Pengelolaan kelas fisik ini berkaitan dengan ketatalaksanaan atau pengaturan kelas yang merupakan ruangan yang dibatasi dinding. Siswa berkumpul mempelajari segala yang diberikan pengajar dengan harapan proses belajar mengajar berlangsung secara efektif dan efisien. Pengelolaan kelas yang bersifat fisik ini meliputi pengadaan pengaturan ventilasi dan tata cahaya, tempat duduk siswa, alat-alat pengajaran, penataan keindahan dan kebersihan kelas, dan lain-lain sebagai inventaris kelas (Djamarah, 1996: 228).
b. Pengelolaan siswa
Pengelolaan siswa ini berkaitan dengan pemberian stimulus dalam rangka membangkitan dan mempertahankan kondisi motivasi siswa untuk sadar dan berperan aktif dan terlibat proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Manifestasinya dapat berbentuk kegiatan tingkah laku, suasana yang diatur atau diciptakan guru dengan menstimulus siswa agar berperan serta aktif dengan proses pendidikan dan pembelajaran secara penuh (Djamarah, 1996: 237).
Bila kelas diberi batasan sebagai kelompok orang yang belajar bersama, yang mendapat pengajaran dari guru, maka didalamnya terdapat orang-orang yang melakukan kegiatan belajar dengan karakteristik mereka, masing-masing berbeda yang satu dengan yang lainnya.
Perbedaan ini perlu guru pahami agar mudah melakukan pengelolaan dalam mengefektifkan belajar mengajar. Menurut Louis V Johnson dalam Djamarah (1996: 241), untuk mengelola kelas secara efektif perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Kelas adalah kelompok kerja yang diorganisasi untuk tujuan tertentu yang dilengkapi oleh tugas-tugas dan diarahkan oleh guru.
2. Dalam situasi kelas, guru bukan tutor untuk satu anak pada waktu tertentu, tapi bagi semua anak atau kelompok.
3. Kelompok mempunyai perilaku sendiri yang berbeda dengan perilaku-perilaku individu. Kelompok itu mempengaruhi individu-individu dalam hal bagaimana mereka memandang dirinya masing-masing dan bagaimana belajar.
4. Kelompok kelas menyisipkan pengaruhnya pada anggota-anggota. Pengaruh yang jelek dapat dibatasi oleh usaha guru dalam membimbing mereka di kelas di kala belajar.
5. Praktik guru di kala belajar cenderung berpusat pada hubungan guru dan murid. Makin meningkat keterampilan guru mengelola kelas secara kelompok, makin puas anggota-anggota di dalam kelas.
6. Struktur kelompok, pola komunikasi, dan kesatuan kelompok ditentukan olah guru dalam mengelola, baik untuk mereka yang tertarik pada sekolah maupun pada mereka yang apatis, masa bodoh atau bermusuhan.
7. Ditambahkannya lagi, bahwa organisasi kelas tidak berfungsi sebagai dasar terciptanya interaksi guru dan siswa, tetapi menambah terciptanya efektifitas, yaitu interaksi yang bersifat kelompok.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan, bahwa masalah yang perlu diperhatikan untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif yang dapat meningkatkan kemampuan siswa adalah sebagai berikut:
a. Manajemen kelas, harus ada fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan bekerja sama.
b. Anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar.
c. Anggota-angota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbangan, ketegangan dan perasaan tertekan.
d. Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat diantara siswa.
Keharmonisan hubungan guru dengan siswa mempunyai efek terhadap pengelolaan kelas. Guru yang apatis terhadap siswa membuat siswa menjauhinya. Siswa lebih banyak menolak kehadiran guru. Rasa dengki yang tertanam dalam diri siswa yang menyebabkan bahan pelajaran sukar diterima oleh siswa dengan baik. Kecenderungan sikap siswa yang negatif lebih dominan. Sikap kemunafikan ini menciptakan jurang pemisah antara guru dan siswa.
Lain halnya dengan guru yang selalu memperhatikan siswa selalu terbuka, selalu tanggap terhadap keluhan siswa, selalu mendengarkan kesulitan belajar siswa, selalu bersedia mendengarkan saran dan kritikan dari siswa, dan sebagainya adalah guru yang disenangi siswa. Siswa rindu akan kehadirannya serta nasehat-nasehat yang diberikannya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.