Arsip

Perilaku

Kecelakaan dikelompokkan menjadi 3 bentuk kecelakaan yaitu :
1) Kecelakaan akibat kerja pada perusahaan
2) Kecelakaan lalu lintas
3) Kecelakaan dirumah
Pengelompokkan 3 bentuk kecelakaan ini merupakan pernyataan yang jelas, bahwa kecelakaan lalu lintas merupakan bagian dari kecelakaan kerja, Sedangkan definisi yang pasti mengenai kecelakaan lalu lintas adalah suatu kejadian kecelakaan yang tidak terduga, tidak direncanakan dan diharapkan yang terjadi di jalan raya atau sebagai akibat dari kesalahan dari suatu akitivitas manusia di jalan raya, yang mana mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan.
Sedangkan korban kecelakaan lalu lintas adalah manusia yang menjadi korban akibat terjadinya kecelakaan lalu lintas, Berdasarkan tingkat keparahannya korban kecelakaan (casualitas) dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Korban meninggal dunia atau mati (fatality killed)
2) Korban luka-luka berat (serious injury)
3) Korban luka-luka ringan (slight injury)

Negara-negara didunia tidak seragam dalam mendefinisikan korban mati (fatality) khusunya mengenai jangka waktu setelah terjadinya kecelakaan, namun secara umum, jangka waktu ini berkisar antara 1 sampai 30 hari.17

Klasifikasi Kecelakaan Lalu lintas
Klasifikasi kecelakaan pada dasarnya dibuat berdasarkan tingkat keparahan korban, dengan demikian kecelakaan lalu lintas dibagi dalam 4 macam kelas sebagai berikut 18:
1) Klasifikasi berat (fatality accident), apabila terdapat korban yang mati (meskipun hanya satu orang) dengan atau korban luka-luka berat atau ringan.
2) Klasifikasi sedang, apabila tidak terdapat korban yang mati namun dijumpai sekurang-kurangnya satu orang yang mengalami luka-luka berat.
3) Klasifikasi ringan, apabila tidak terdapat korban mati dan luka-luka berat, dan hanya dijumpai korban yang luka-luka ringan saja.
4) Klasifikasi lain-lain ( kecelakaan dengan kerugian materiil saja ), yaitu apabila tidak ada manusia yang menjadi korban, hanya berupa kerugian materiil saja baik berupa kerusakan kendaraan, jalan, jemabatan, ataupun fasilitas lainnya.

Kecelakaan didefinisikan sebagai suatu kejadian yang tak terduga, semula tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas dan dapat menimbulkan kerugian baik bagi manusia dan atau harta benda, Sedangkan kecelakaan kerja adalah kejadian yang tak terduga dan tidak diharapkan dan tidak terencana yang mengakibatkan luka, sakit, kerugian baik pada manusia, barang maupun lingkungan. Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan dapat berupa banyak hal yang mana telah dikelompokkan menjadi 5, yaitu :
1) Kerusakan
2) Kekacauan organisasi
3) Keluhan, kesakitan dan kesedihan
4) Kelainan dan cacat
5) Kematian

Bagian mesin, alat kerja, tempat dan lingkungan kerja mungkin rusak oleh kecelakaan, Akibat dari itu, terjadilah kekacauan organisasi (biasanya pada proses produksi), Orang yang ditimpa kecelakaan mengeluh dan menderita, sedangkan keluarga dan kawan-kawan sekerja akan bersedih hati, kecelakaan tidak jarang berakibat luka-luka, terjadinya kelainan tubuh dan cacat, bahkan tidak jarang kecelakaan merenggut nyawa dan berakibat kematian.

Latar Belakang Terjadinya Kecelakaan Kerja

Pada dasarnya latar belakang terjadinya kecelakaan di pengaruhi oleh 2 faktor, yaitu16 :
1) Unsafe Condition
Dimana kecelakaan terjadi karena kondisi kerja yang tidak aman, sebagai akibat dari, beberapa poin dibawah ini :
a) Mesin, Peralatan, Bahan, dsb
b) Lingkungan Kerja
c) Proses Kerja
d) Sifat Pekerjaan
e) Cara Kerja
2) Unsafe Action
Dimana kecelakaan terjadi karena perbuatan / tindakan yang tidak aman, sebagai akibat dari beberapa poin dibawah ini :
a) Kurangnya pengetahuan dan keterampilan
b) Karakteristik fisik
c) Karakteristik mental psikologis
d) Sikap dan tingkah laku yang tidak aman

Artikel ini sambungan dari HAKIKAT PERILAKU I, KLIK DI SINI

d. Proses Pembentukan Perilaku
Proses pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri, faktor-faktor tersebut antara lain :
1) Persepsi
Persepsi adalah sebagai pengalaman yang dihasilkan melalui indera penglihatan, pendengaran, penciuman, dan sebagainya.
2) Motivasi
Motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak untuk mencapai sutau tujuan tertentu, hasil dari pada dorongan dan gerakan ini diwujudkan dalam bentuk perilaku
3) Emosi
Perilaku juga dapat timbul karena emosi, Aspek psikologis yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, sedangkan keadaan jasmani merupakan hasil keturunan (bawaan), Manusia dalam mencapai kedewasaan semua aspek yang berhubungan dengan keturunan dan emosi akan berkembang sesuai dengan hukum perkembangan, oleh karena itu perilaku yang timbul karena emosi merupakan perilaku bawaan.
4) Belajar
Belajar diartikan sebagai suatu pembentukan perilaku dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan. Barelson (1964) mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang dihasilkan dari perilaku terdahulu.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Perilaku
Faktor-faktor yang memegang peranan dalam pembentukan perilaku dapat dibedakan menjadi dua yaitu12 :
1) Faktor Intern
Yakni, Kecerdasan, Persepsi, Motivasi, Minat, Emosi dan sebagainya untuk mengolah pengaruh-pengaruh dari luar.
2) Faktor Ekstern
Yakni, Obyek, Orang, Kelompok, dan Hasil-hasil kebudayaan yang dijadikan sasaran dalam mewujudkan bentuk perilaku yang selaras dengan lingkungannya apabila perilaku terbentuk dapat diterima oleh lingkungannya, dan dapat diterima oleh individu yang bersangkutan.

f. Penyebab Seseorang Berperilaku
Tim Ahli WHO (1984) menganalisa bahwa yang menyebabkan seseorang berperilaku karena adanya 4 alasan pokok, yaitu :
1) Pemikiran dan Perasaan, dalam bentuk pengetahuan-pengetahuan, kepercayaan-kepercayaan, sikap-sikap, nilai-nilai:
a) Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman, Pengetahuan ini dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain.
b) Kepercayaan
Kepercayaan sering diturunkan atau diperoleh dari orang tua atau dari orang yang dipercaya, Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan, tanpa adanya pembuktian lebih dahulu, Kepercayaan adalah merupakan bagian dari kehidupan setiap orang, sehingga kadang-kadang sulit untuk dirubah.
c) Sikap
Sikap menggambarkan suka atau tidak suka seseorang terhadap suatu obyek, Sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari orang lain yang paling dekat, Sikap membuat seseorang untuk dekat atau menjauhi seseorang atau sesuatu.
d) Nilai-nilai
Di dalam suatu masyarakat apapun pula selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat.
2) Orang penting sebagai referensi
Perilaku orang banyak dipengaruhi oleh orang-orang yang
dianggap penting, Apabila seseorang itu penting maka apa yang ia katakan dan ia lakukan cenderung untuk dicontoh, Orang-orang yang dianggap penting ini sering disebut kelompok referensi lain atau terdiri dari: Guru, Alim Ulama, Kepala Adat, Kepala Desa dan sebagainya.
3) Sumber-sumber daya
Yang dimaksud dengan sumber daya adalah Fasilitas, Uang, Waktu, Tenaga kerja, Pelayanan, Keterampilan dan sebagainya, ini semua berpengaruh terhadap perilaku seseorang, Pengaruh sumber-sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif.
4) Kebudayaan
Perilaku normal, Kebiasaan, Nilai-nilai dan Penggunaan sumber-sumber didalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life), Yang pada umumnya disebut sebagai kebudayaan, Kebudayaan ini terbentuk berabad-abad lamanya sebagai hasil dari pada kehidupan suatu masyarakat bersama, Kebudayaan selalu berubah, baik lambat maupun cepat sesuai dengan peradaban umat manusia. Kebudayaan atau pola hidup disini adalah merupakan kombinasi dari semua yang telah disebutkan diatas, perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan, dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku.

a. Konsep dan Pengertian Perilaku
Pengertian perilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa untuk berpendapat, berfikir, bersikap, dan lain sebagainya yang merupakan refleksi dari berbagai macam aspek, baik fisik maupun non fisik.
Perilaku juga diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya, reaksi yang dimaksud digolongkan menjadi 2, yakni dalam bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau konkrit), dan dalam bentuk aktif (dengan tindakan konkrit), Sedangkan dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan oleh makhluk hidup.
Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan, dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula. Robert Y. Kwick (1972)
menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari.

b. Perilaku Kerja
Perilaku Kerja diartikan sebagai suatu aksi dan tindakan atau perbuatan seseorang dalam melaksanakan pekerjaan, dimana setiap perilaku yang dihasilkan, sesuai dengan jenis pekerjaan, tempat dan kegiatan dimana pekerjaan dilakukan, sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah suatu aksi dan tindakan atau perbuatan pengemudi taksi dalam melaksanakam pekerjaan yakni pada saat mengemudi.

c. Bentuk-bentuk Perilaku
Pada dasarnya bentuk perilaku dapat diamati, melalui sikap dan tindakan, namun demikian tidak berarti bahwa bentuk perilaku itu hanya dapat dilihat dari sikap dan tindakannya saja, perilaku dapat pula bersifat potensial, yakni dalam bentuk pengetahuan, motivasi dan persepsi.

Bloom (1956), membedakannya menjadi 3 macam bentuk perilaku, yakni Coqnitive, Affective dan Psikomotor, Ahli lain menyebut Pengetahuan, Sikap dan Tindakan, Sedangkan Ki Hajar Dewantara, menyebutnya Cipta, Rasa, Karsa atau Peri akal, Peri rasa, Peri tindakan.

Bersambung Hakikat Perilaku II, KLIK DI SINI

Bagi siswa, kegiatan yang paling pokok adalah belajar. Belajar adalah merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pendidikan. Prestasi yang dicapai oleh seorang murid adalah hasil dari belajar. Oleh karena itu ketekunan atau kedisiplinan belajar bagi siswa perlu ditanamkan.
1. Pengertian Disiplin
Menurut Soeganda Poerbakawatja disiplin belajar adalah “Suatu tingkat tata tertib tertentu untuk mencapai kondisi yang baik guna memenuhi fungsi pendidikan”. (Soegarda Poerbakawatja, 2000: 151).

Otong Sutrisno berpendapat “Disiplin dalam ketaatan terhadap peraturan dan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dam bernegara yang dilaksanakan secara sadar, ikhlas, lahir dan batin sehingga tumbuh rasa malu untuk melanggar peraturan dan terkena sangsi serta rasa takut terhadap Tuhan Yang Maha Esa”. (Otong Sutrisno, 1987: 97).

Jadi kedisiplinan atau ketekunan sangat menekankan pada ketaatan melaksanakan aturan-aturan yang ada. Dengan ketekunan seorang siswa akan dapat meraih apa yang diharapkan, utamanya adalah dalam belajar, yakni akan memperoleh prestasi yang baik.

2. Ciri-ciri anak yang tekun dalam belajar
Anak yang tekun dalam belajar, maka ia akan mampu menerima, menanggapi serta memahami hal-hal yang disampaikan oleh gurunya. Dalam hal ini penulis akan menyebutkan hal-hal yang perlu diusahakan oleh siswa dalam belajarnya.
a. Memperhatikan dan mendengarkan keterangan guru
b. Rajin mencatat hal-hal yang penting
c. Rajin mengikuti pelajaran
d. Mau mengadakan latihan soal
e. Membuat tanda khusus atau menggarisbawahi pada hal-hal yang penting
f. Membuat ringkasan atau rangkuman
g. Menghafal rumus-rumus
h. Memilih buku-buku yang lengkap
i. Mau bertanya pada bab yang belum jelas
j. Membaca atau mengulang kembali bahan pelajaran
k. Mengerjakan tugas-tugas dari guru
l. Menaati peraturan yang ada di sekolah
Anak yang tekun dalam belajar, ia akan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Ia juga tidak merelakan waktunya hilang dan berlalu dengan sia-sia. Menurut Edward de Bono dalam bukunya pelajaran berpikir De Bono Belian menyatakan: banyak alasan di belakang penggunaan disiplin waktu ini. Pertama, disiplin waktu membuat berpikir lebih hati-hati dan lebih terpusat. Pemikir menghidupkan pikirannya dan menerapkannya, pemikir langsung berpusat pada pekerjaannya (Edward de Bono, 1990: 180).

Abu Ahmadi menjelaskan bahwa “kebiasaan belajar yang baik, disiplin diri, harus sepagi mungkin kita tanamkan, karena kedua hal ini secara mutlak harus dimiliki oleh anak-anak kita (Abu Ahmadi : 2005: 136)”
Jadi belajar untuk mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan yang diharapkan mutlak memerlukan ketekunan. Semakin sering membaca, maka apa yang diingat semakin bertambah. Latihan-latihan yang dilakukan akan membatu memperoleh pengalaman yang baru sehingga akan bertambah pengalaman.

1. Keluarga Keluarga merupakan faktor penentu bagi perkembangan atau pembentukan kepribadian seorang anak selanjutnya.
2. Lingkungan Tempat Tinggal dan Kawan Sepermain Keadaan lingkungan yang tidak baik tersebut dapat memengaruhi seseorang untuk terlihat dan terpengaruh untuk melakukan penyimpangan sosial.
3. Media Massa Tayangan acara “smack down” di salah satu televise swasta yang digugat akhir-akhir ini telah mempengaruhi anak-anak Indonesia berperilaku menyimpang.

Usaha yang dilakukan dalam menangatasi perilaku menyimpang dapat dilakukan dengan cara:
1. Usaha di lingkungan keluarga
a.) Menciptakan keluarga yang harmonis, terbuka dan jauh dari kekacauan. Dengan keadaan keluarga yang seperti ini, mengakibatkan anak-anak lebih sering tinggal dirumah daripada keluyuran di luar rumah. Tindakan ini lebih mendekatkan hubungan orang tua dengan anaknya.

b.) Memberikan kemerdekaan kepada anak untuk mengemukakan pendapatnya dalam batas-batas kewajaran tertentu. Dengan tindakan seperti ini, anak-anak dapat berani untuk menentukan langkahnya, tanpa ada keraguan dan paksaan dari berbagai pihak. Sehingga mereka dapat menjadi lebih bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan.

c.) Orang tua selalu berbagi (sharing) pengalaman, cerita dan informasi kepada anak-anak. Sehingga mereka dapat memilih figure dan sikap yang cocok unutk dijadikan pegangan dalam bertingkah laku.
d.) Orang tua sebaiknya memperlihatkan sikap-sikap yang pantas dan dapat diteladani oleh anak-anak mereka.

2. Usaha di lingkungan sekolah
a.) Menegakkan disiplin sekolah yang wajar dan dapat diterima siswa dan penhuni sekolah. Disiplin yang baik dan wajar dapat diterapkan dengan pembentukan aturan-aturan yang sesuai dan tidak merugikan berbagai pihak.

b.) Pelaksanaan peraturan dengan adil dan tidak pandang bulu. Tinadakan dilakukan dengan cara memberikan sangsi yang sesuai terhadap semua siswa yang melanggar peraturan tanpa melihat keadaan orang tua siswa tersebut. Seperti siswa yang berasal dari kaluarga terpandang atau pejabat.

c.) Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitar sekolah. Dengan cara ini, masyarakat dapat melaporkan langsung penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan siswa di luar pekarangan sekolah. Seperti bolos, tawuran, merokok dan minum minuman keras.

3. Usaha di lingkungan masyarakat
a.) Menegur anak-anak yang sedang melakukan tindakan-tindakan yang telah melanggar norma.

b.) Menjadi teladan yang baik bagi anak-anak yang tinggal di lingkungan tempat tinggal.

1. Teori Differential Association Menurut pandangan teori ini penyimpangan sosial bersumber pada pergaulan yang berbeda. Penyimpangan terjadi melalui proses alih budaya.
2. Teori Labeling Menurut teori ini, seseorang menjadi menyimpang karena proses labeling, pemberian julukan, cap, etiket dan merek yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang.
3. Teori Marton Teori ini berdasarkan sumber penyimpangan dari struktur sosial. Menurut Marton struktur sosial tidak hanya menghasilkan perilaku konformis.
4. Teori Fungsi Durkheim Dalam pandangan teori ini bahwa keseragaman dalam kesadaran moral semua anggota masyarakat tidak mungkin terjadi. Bahkan menurut Durkheim kejahatan itu perlu, agar moralitas dan hukum itu berkembang secara normal.
5. Teori Konflik Penganjur teori ini adalah Karl Marx. Ia mengemukakan bahwa kejahatan erat terkait dengan perkembangan kapitalisme. Menurut teori ini, apa yang merupakan prilaku menyimpang hanya dalam pandangan kelas yang berkuasa untuk melindungi kepentingan mereka.

Bentuk-Bentuk Penyimpangan
a. Penyimpangan Individu Dilakukan oleh individu yang menolak norma yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya penyimpanan dilakukan tanpa bersama orang lain. Pelaku bertindak secara sendiri.
b. Penyimpana Kelompok Dilakukan oleh sekelompok orang yang tunduk pada norma kelompoknya yang bertentangan dengan norma yang berlaku dalam masyarakatnya. Penyimpangan kelompok ini terjadi dalam subkebudayaan yang menyimpang dalam masyarakat.

Latar Belakang Terjadinya Perilaku Menyimpangnya
Latar belakang terjadinya prilaku penyimpangan dapat disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak sempurna atau tidak berhasil. Seseorang yang tidak berhasil dalam proses sosialisasi tidak memiliki perasaan bersalah setelah melakukan penyimpangan.
Terbentuknya prilaku penyimpangan yang dipengaruhi oleh beberapa hasil sosialisasi nilai subkebudayaan menyimpang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti fektor ekonomi, selain faktor ekonomi, faktor agama juga dapat mempengaruhi pembentukan penyimp

Faktor – Faktor Penyebab Penyimpangan Sosial
a. Faktor Dari Dalam Faktor penyimpangan sosial yang berasal dari dalam adalah intelegensi atau tingkat kecerdasan, usia, jenis kelamin dan kedudukan seseorang dalam keluarga.
b. Faktor Dari Luar Faktor luar penyebab penyimpangan sosial adalah kehidupan rumah tangga atau keluarga, pendidikan disekolah, pergaulan dan media masa.

Jenis – Jenis penyimpangan Sosial
a. Tawuran atau Perkelahian Antar Pelajar Perkelahian termasuk prilaku menyimpang karena bertentangan dengan norma dan nilai-nilai masyarakat.
b. Penyalahgunaan Narkotika, Obat-Obat Terlarang dan Minuman Keras Penyalahgunaan narkotika adalah penggunaan narkotika tanpa izin dengan tujuan hanya untuk memperoleh kenikmatan. Penggunaan narkotika yang tidak sesuai dengan norma dan tujuannya tidak untuk kepentingan yang positif, termasuk tindakan penyimpangan.
c. Hubungan Seks di Luar Nikah, pelacuran dan HIV/AIDS Hubungan seksual diluar nikah merupakan tindakan penyimpangan atau tidak dibenarkan oleh masyarakat. Contoh hubungan seks diluar nikah adalah tinggal serumah tanpa status menikah, pelacuran dan pemerkosaan.
d. Tindakan Kriminal Tindakan criminal adalah tindakan kejahatan atau tibdakan yang merugikan orang lain dan melanggarnorma hukum, norma sosial dan norma agama.
e. Penyimpangan Sosial Penyimpangan ini meliputi homoseksual, lesbian dan transeksual. Homo seksual adalah kecenderungan seorang laki-laki untuk tertarik pada jenis kelamin yang sejenis, sedangkan lesbian adalah sebutan bagi wanita yang secara seksual tertarik pada jenis kelamin sesame wanita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.