Arsip

Prestasi Belajar

Adapun bentuk upaya dalam meningkatkan proses prestasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Tujuan
Tujuan menunjukkan arah dari suatu usaha, sedangkan arah menunjukkan jalan yang harus ditempuh. Setiap kegiatan mempunyai tujuan tertentu karena berhasil tidaknya suatu kegiatan diukur sejauh mana kegiatan tersebut mencapai tujuannya.
2. Metode dan Alat
Dalam proses belajar mengajar, metode merupakan komponen yang ikut menentukan berhasil atau tidaknya program pengajaran dan tujuan pendidikan. Adapun pengertian metode adalah suatu cara yang dilakukan dengan fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan.
3. Bahan atau Materi
Dalam pemilihan materi atau bahan pengajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan kemampuan siswa yang selalu berpedoman pada tujuan yang ditetapkan. Karena dengan kegiatan belajar mengajar akan merumuskan suatu tujuan, setelah tujuan dapat diketahui baru kemudian menetapkan materi. Setelah materi ditetapkan maka guru dapat menentukan metode yang akan dipakai dalam menyampaikan materi tersebut.
4. Evaluasi
Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan metode, alat dan bahan atau materi yang digunakan untuk mencapai tujuan yang diinginkan bisa tercapai semaksimal mungkin.
Adapun dalam penggunaan metode resitasi ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh pengajar, antara lain:
a. Fase Memberikan Tugas.
Yaitu guru memberikan tugas pada siswa baik itu secara perseorangan atau kelompok. Dan hasil yang diperoleh dapat sesuai dengan yang diinginkan, hendaknya tugas yang diberikan pada siswa memperhatikan:
1. Tujuan yang akan dicapai.
2. Jenis tugas yang jelas dan tepat sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut
3. Sesuai dengan kemampuan siswa.
4. Ada petunjuk atau sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
5. Sediakan waktu yang cukup untuk mengerjakan tugas tersebut.
b. Langkah pelaksanaan.
1. Diberikan bimbingan atau pengawasan.
2. Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
3. Diusahakan dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.
4. Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh.
c. Fase Mempertanggung Jawabkan Tugas
Hal yang harus dikerjakan siswa pada fase ini, antara lain:
1. Laporan siswa baik lisan atau tertulis dari apa yang telah dikerjakannya.
2. Ada tanya jawab atau diskusi kelompok.
3. Meneliti hasil pekerjaan siswa baik secara tes maupun non tes.
Dengan fase mempertanggunag jawabkan inilah yang disebut dengan resitasi. (Drs. Syaiful Bahri D: 2002).
Sedangkan menurut Zakiah Darajat: 2001, pemberian tugas dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:
1. Siswa diberi tugas mempelajari bagian dari suatu buku atau teks, baik secara kelompok atau individu, diberi waktu tertentu untuk mengerjakanya, kemudian murid yang bersangkutan mempertanggung jawabkanya.
2. Siswa diberi tugas untuk melaksanakan sesuatu yang tujuannya melatih mereka dalam hal yang bersifat kecakapan mental dan motorik.
3. Siswa diberi tugas untuk mengatasi masalah tertentu dengan cara mencoba untuk memecahkannya, dengan tujuan agar siswa biasa berfikir ilmiah dalam memecahkan suatu masalah.
4. Siswa diberi tugas untuk mengerjakan suatu proyek, dengan tujuan agar siswa terbiasa untuk bertanggung jawab terhadap penyelesaian suatu masalah yang telah disediakan dan bagaimana mengelola selanjutnya.
Dalam pemberian metode tugas atau resitasi ini supaya bisa sesuai dengan yang diinginkan maka ada beberapa syarat yang harus diketahui oleh pendidik dan siswa yang diberi tugas, yaitu:
1. Tugas yang diberikan harus berkaitan dengan pelajaran yang telah mereka pelajari, sehingga murid disamping sanggup mengerjakan juga sanggup menghubungkan dengan pelajaran-pelajaran tertentu.
2. Guru harus dapat mengukur dan memperkirakan bahwa tugas yang diberikan kepada siswa akan dapat dilaksanakannya karena sesuai dengan kesanggupan dan kecerdasan yang dimilikinya.
3. Guru harus mananamkan keadaan murid bahwa tugas yang diberikan pada siswa akan dikerjakan atas kesadaran sendiri yang timbul dari hati sanubarinya.
4. Jenis tugas yang diberikan harus dimengerti benar-benar sehingga murid tidak ada keraguan dalam melaksanakanya.

Daftar Rujukan:
1. Arief, Armai. Pengantar Ilmu Pendidikan Islam, 2002. Jakarta: Ciputat Pres
2. Barnadib, Imam. Filsafat pendidikan, System dan Metode, 1987. Yogyakarta: Yayasan Penerbit IKIP
3. Hadi, Sutrisno. Metodologi Research, 1986. 1986. Yogyakarta: Andi Offset
4. Muhaimin, dkk. Strategi Belajar Mengajar: Penerapan Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama, 1996. Surabaya: CV. Citra Media
5. Sudjana, Nana. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar, 2000. Bandung: Sinar Baru Algesindo
6. Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, 2001. Bandung: Remaja Rosda Karya
7. Ramayulis. Metodologi Pengajaran Agama Islam, 1990. Jakarta: Kalam Mulia

Hasil belajar yang sering disebut dengan istilah “scholastic achievement”
atau “academic achievement” adalah seluruh kecakapan dan hasil yang dicapai melalui proses belajar mengajar di sekolah yang dinyatakan dengan angka-angka atau nilai-nilai berdasarkan tes hasil belajar. Menurut Gagne dan Driscoll, hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa. Gagne dan Brings menyatakan bahwa hasil belajar merupakan kemampuan internal yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu.

Dick dan Reiser dalam Ekawarna (2010) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran, yang terdiri atas empat macam, yaitu: pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motorik dan sikap. Sedangkan Bloom, et. Al membedakan hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu ranah kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah psikomotorik (keterampilan motorik).

Setiap ranah diklasifikasikan lagi dalam beberapa tingkat atau tahap kemampuan yang harus dicapai. Untuk ranah pengetahuan mulai dari tingkat paling ringan yaitu mengingat kembali, memahami, penerapan, analisis, sintesis sampai evaluasi. Ranah sikap mulai dari menangkap/merespon pasif, bereaksi dengan sukarela/merespon aktif, mengapresiasi, menghayati/internalisasi, sampai akhirnya menjadi karakter atau jiwa didalam dirinya. Sedangkan ranah psikomotorik mulai dari tingkat mengamati, selanjutnya membantu melakukan, melakukan sendiri, melakukan dengan lancer sampai secara otomatis atau reflekstoris.

Menurut Arikunto yang dimaksud dengan hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti proses pengajaran yang dilakukan oleh guru. Hasil belajar ini biasanya dinyatakan dalam bentuk angka, huruf, atau kata-kata baik, sedang, kurang dan sebagainya.

Berdasarkan beberapa pernyataan diatas, maka dapat disimpukan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar (Ekawarna, 2010: 40).

Suatu proses belajar mengajar tentang suatu bahan pengajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan instruksional khusus (TIK) tersebut dapat tercapai (User Usman, 1993: 7)
Adapun fakta yang mempengaruhi hasil belajar adalah :
1. Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal)
a. Faktor jasmaniah baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yyang termasuk faktor ini adalah panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Misalnya sakit, cacat tubuh atau perkembangan tidak berfungsi, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
b. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh yang terdiri atas:
1) Faktor intelektif yang meliputi fakta potensial yaitu kecerdasan dan bakat.
2) Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat kebutuhan, motivasi, emosi, dan penyesuaian diri
c. Faktor kematangan fisik maupun psikis

2. Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal)
a. Faktor sosial yang terdiri atas:
b. Faktor budaya seperti adat istiadat, pengetahuan, teknologi dan kesesuaian
c. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar
d. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.
Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar, selain faktor yang tersebut si atas, karakteristik siswa juga dapat mempengaruhi. Beberapa karakteristik siswa adalah:
1. Anak yang cepat dalam belajar
Anak yang cepat dalam belajar akan dapat menyelesaikan kegiatan belajar dalam waktu yang lebih cepat. Ia tidak akan memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan suatu masalah, karena lebih mudah dalam menerima pelajaran. Dalam kelompoknya anak-anak ini tergolong anak yang memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata

2. Anak yang lambat dalam belajar
kelompok anak yang lambat dalam belajar, pada umumnya lebih banyak membutuhkan waktu yang lebih aman dari waktu yang diperkirakan untuk anak-anak normal. Akibatnya anak-anak golongan ini sering ketinggalan dalam belajar

3. Anak yang kreatif
anak kreatif umumnya dari golongan cepat, namun ada juga dari golongan rata-rata (normal). Anak golongan ii menunjukkan kreativitas dalam kegiatan-kegiatan tertentu, misalnya melukis, kesenian, olah raga, organisasi dan kegiatan lainnya. Kelompok ini selalu ingin memecahkan masalah (persoalan-persoalan) lebih percaya diri dan bertanggung jawab. Bahkan kadang-kadang mampu menemukan sesuatu yang baru.

Kadang kita melihat, ada sebagian anak tampak senang sekali dengan situasi sekolahnya. Otak anak diibaratkan seperti spons yang dapat menyerap apa saja yang terjadi dengan lingkungannya. Anak-anak seperti ini biasanya menunjukkan prestasi belajar yang baiknantinya.
Namun sebagian lain dari anak-anak tersebut tampak menunjukkan sikap negatif terhadap sekolah. Mereka tampak enggan melakukan berbagai kegiatan. Atau malah suka menyendiri dari pada bergabung bersama teman-temannya. Jika demikian, bagaimana mengharapkan anak-anak ini berprestasi kelak?

Yang sering terjadi kemudian, orang tua lalu menyalahkan guru dan sekolah karena rendahnya motivasi anak-anak mereka untuk belajar. Padahal, menurut Dr. Sylvia Rimm dalam bukunya Smart Parenting , How to Raise a Happy Achieving Child , orang tua memiliki pengaruh positif yang sangat besar terhadap pendidikan anak-anaknya.
Berikut ini beberapa kiat/cara yang dapat diterapkan sejak dini untuk membantu meningkatkan keinginan si kecil belajar dan berprestasi di sekolahnya kelak. Tentu saja tidak dengan cara memaksa maupun menuntut, namun lebih pada berbagai arahan dan dukungan yang membuat anak merasa nyaman berkegiatan.

1. Menciptakan Rutinitas
Rutinitas membantu anak mandiri menjalani hari-harinya. Jika terus bergantung pada orang dewasa, anak-anak ini akan memiliki perasaan negatif terhadap dirinya, dan belajar bahwa orang lain akan selalu mengambil tanggung jawab dirinya. Akibatnya, aktivitas Anda juga terganggu dengan ketergantungan anak. Karenanya, ciptakan rutinitas sejak dini dengan membiarkan si kecil melakukan sendiri kegiatan rutinnya. Misalnya, bangun tidur, diikuti dengan membersihkan tempat tidur, menggosok gigi lalu sarapan bersama-sama Anda.

2. Pembiasaan Belajar
Anak usia pra sekolah memang belum memiliki beban akademis yang mengharuskannya belajar pada waktu-waktu tertentu di rumah. Namun tidak ada salahnya Anda membiasakan anak duduk di meja belajar yang disediakan baginya pada saat yang sama setiap harinya, dan untuk jangka waktu yang sama pula.

3. Meningkatkan Komunikasi
Komunikasi yang baik merupakan prioritas utama dari semua kebiasaan yang dapat meningkatkan keinginan anak berprestasi. Mendengar adalah salah satu bagian penting dalam komunikasi. Jika orang tua terbiasa mendengar anaknya berbicara, maka anak juga akan mendengar jika Anda berbicara. Menurut Dr. Rimm, jika orang tua memiliki kebiasaan bercakap-cakap secara teratur setiap harinya, anak akan lebih terbuka kelak ketika memasuki usia remaja. Terkadang, keengganan anak untuk berprestasi (underachievement) merupakan efek lanjutan dari komunikasi yang buruk antara orang tua dan anak.

4. Bermain & Permainan
Bermain merupakan sarana utama bagi anak untuk belajar dan permainan merupakan bentuk latihan yang bagus untuk menghadapi kompetisi. Manfaat mainan dan permainan, antara lain meningkatkan imaginasi dan pelampiasan emosi. Cobalah bersenang-senang bersama dengan menciptakan berbagai permainan dengan anak.

5. Menjadi Model Bagi Anak
Anak akan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Mereka menjadikan Anda, orang tuanya, sebagai model yang patut diikuti. Namun, tentu saja si kecil hanya akan meniru perilaku yang terlihat olehnya. Anda bisa mulai menunjukkan pada si kecil bahwa Anda sangat menyukai apa pun yang Anda kerjakan. Karena, jika tidak, si kecil akan meniru perilaku Anda yang gemar mengeluhkan pekerjaan. Bukan tidak mungkin jika nantinya si kecil akan sering mengeluhkan pelajaran maupun guru-guru di sekolahnya jika Anda tidak segera mengubah sikap.

Sumber

Keberhasilan atau kegagalan siswa dalam belajar, dapat ditunjukkan melalui prestasi belajar yang telah dicapai, prestasi belajar adalah bukti usaha yang dapat dicapai (Winkel, 1983). Prestasi adalah hasil yang dicapai oleh seseorang, baik berupa kuantitas maupun kualitas, sebagai akibat perbuatan belajar yang telah dilakukan oleh seseorang. Seseorang yang telah melakukan kegiatan belajar, akan nampak perubahan, baik dalam bidang pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap juga perubahan. Prestasi belajar siswa dapat diketahui melalui keseluruhan penyelenggaraan pengajaran, bahkan terdapat hubungan timbal balik antara penilaian pengajaran. Prosedur penilaian tertentu menuntut terselenggaranya program pengajaran yang sesuai, sebaliknya suatu pendekatan tertentu menuntut usaha-usaha penilaian yang tertentu pula. Prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya; motivasi belajar, kesiapan siswa, ketekunan, kesanggupan untuk memahami pelajaran, dan waktu yang tersedia untuk belajar (Khutobah, 1983).
Berbicara mengenai prestasi belajar, tidak akan lepas dari bahasan tentang proses belajar mengajar. Dari proses belajar mengajar akan diperoleh suatu hasil, umumnya disebut dengan hasil pengajaran, atau tujuan pembelajaran atau hasil belajar. Untuk memperoleh hasil optimal dari proses belajar mengajar, haruslah dilakukan secara sadar dan sengaja serta terorganisir dengan baik. Dalam proses belajar mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subyek belajar, dituntut memiliki profil kualifikasi tertentu. Kualifikasi tersebut menyangkut : pengetahuan, kemampuan, sikap dan tata nilai serta sifat-sifat pribadi.
Belajar adalah proses mental yang mengarah kepada penguasaan pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap, yang semuanya diperoleh, disimpan dan dilaksanakan, sehingga menimbulkan tingkah laku yang progesif dan adaptif. Dengan demikian prestasi dapat dimaknai sebagai hasil yang dicapai sebagai bukti usaha dalam belajar, yang ditunjukkan dengan adanya perubahan tingkah laku kearah penguasaan pengetahuan dan sikap sehingga mempunyai perkembangan. Dimana, belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan cara serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Belajar akan lebih baik jika si subyek belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik.
Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan. Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar. Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996) adalah: “ Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.”
Menurut Abdullah (2005) prestasi belajar merupakan indikator kualitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh siswa. Prestasi belajar siswa merupakan hasil sistem pendidikan sehingga tingkat keberhasilannya ditentukan oleh elemen dalam sistem itu sendiri. Sekolah sebagai salah satu sistem pendidikan formal membentuk siswa untuk meningkatkan prestasi belajar melalui proses belajar. Prestasi belajar merupakan ukuran untuk memahami tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar.
Batasan ranking merupakan ukuran penentuan keberhasilan siswa setelah mengikuti proses pendidikan di sekolah. Dalam kamus umum bahasa Indonesia, kata prestasi diartikan sebagai hasil yang dicapai. Djamarah (2004) menyatakan prestasi sebagai hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan dan diciptakan baik secara individual maupun kelompok.
Berdasarkan batasan pengertian belajar tersebut, dapat diambil pengertian bahwa prestasi belajar pada dasarnya merupakan hasil yang telah dicapai oleh siswa melalui kegiatan belajar, yang dapat dilakukan secara individu dan secara kelompok. Jadi, prestasi belajar paling tidak memiliki dua ciri, yaitu adanya suatu tindakan baik yang dilakukan secara individu atau secara kelompok dan adanya suatu hasil.
Selanjutnya belajar diartikan sebagai modification of behavior through experience and training (Arthur dalam Tathawi, 1999). Pengertian ini menunjukkan bahwa perubahan yang terjadi dari belajar bersumber dari pengalaman atau dari pelatihan. Sedangkan menurut Pasaribu (2003) bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan kegiatan dan reaksi terhadap lingkungan. Proses perubahan tidak dapat disebut belajar apabila hanya disebabkan oleh pertumbuhan atau keadaan sementara dari seseorang.
Menurut Sardiman (2006) belajar diartikan sebagai rangkaian kegiatan jiwa raga, psikosifik menuju pada perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa, karsa, ranah kognitif, dan psikomotorik. Lebih jauh Sardiman menjabarkan bahwa aktivitas dari belajar sangat rinci dan memiliki tujuan yang lebih luas yaitu, perkembangan pribadi seutuhnya. Hal ini senada dengan pendapat Slameto (1991) bahwa belajar sebagai proses dari usaha yang dilakukan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman diri sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Hilgrad (dalam Ahmadi, 1990) mendefinisikan belajar sebagai berikut: “learning is the prosess by which an activity originates or changed though training proceduress weather is the laboratory or in the natural environment as disiinguished from changes by factors not attribut to training”. Dalam definisi itu dijelaskan bahwa seseorang yang belajar, kelakuannya akan berubah dari yang sebelum itu. Jadi belajar tidak hanya mengenai bidang intelektual, akan tetapi belajar juga mengenai seluruh pribadi seseorang, sehingga perubahan kelakuan karena mabuk misalnya, bukan merupakan hasil dari belajar.
Hudoyo (2001) mengemukakan pengertian belajar adalah suatu proses aktif dalam memperoleh pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku. Dengan demikian, belajar pada dasarnya merupakan suatu proses, artinya kegiatan belajar senantiasa dinamis dan mengarah pada terjadinya perubahan dalam diri pembelajar. Senada dengan pendapat tersebut Pasaribu (2003) melukiskan belajar sebagai suatu proses perubahan kegiatan, reaksi terhadap lingkungan. Belajar sebagai suatu proses di dalamnya terdapat faktor yang mendorong terjadinya proses belajar yang efektif, antara lain, motivasi, kualitas dan kuantitas perhatian selama belajar, kemampuan menerima dan mengingat, kemampuan menerapkan pada situasi baru yang dihadapi dan kemampuan mendemonstrasikannya.
Peserta didik yang mengalami perubahan dalam segi pengetahuan dan pengertian (kognitif) dapat dilihat dari sudut kemampuan belajar dan perubahan pada sikap. Dari sudut kemampuan belajar peserta didik, belajar dapat diartikan sebagai upaya untuk mengingat ataupun menyimpan informasi, mengadakan perbandingan, mengadakan aplikasi, membuat analisa, mengadakan sistesis, dan mengadakan penilaian untuk mengambil suatu keputusan. Sedangkan belajar dengan perubahan pada sikap dapat dilakukan penilaian dari sudut timbulnya penerimaa atau kesadaran baru itu, memberi respon dan tertarik terhadap pelajaran, membuat penilaian, mampu mentransfer nilai atau konsep baru untuk membentuk situasi baru.
Belajar merupakan proses berkesinambungan dan dapat mendemonstrasikan gaya hidup sesuai dengan nilai baru yang telah dipelajari. Belajar adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan kesan suatu aktifitas yang dilakukan secara sadar dengan tujuan yang dicapai. Dengan demikian, tujuan belajar adalah terjadinya suatu perubahan prestasi belajar dalam diri individu.
Prestasi belajar pada dasarnya merupakan perilaku sebagai hasil dari suatu tindakan. Senada dengan itu Winkel (1997) menyatakan bahwa perubahan yang terjadi sebagai aktifitas disebut dengan prestasi belajar atau hasil belajar. Begitu juga Djamarah (2004) bahwa prestasi belajar adalah hasil yang diperoleh, berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktifitas dalam belajar.
Berdasar pendapat tersebut disimpulkan bahwa terdapat dua ciri belajar, yaitu terjadinya interaksi dan adanya tingkah laku baru sebagai hasil dari interaksi. Tingkah laku yang baru itulah yang pada umumnya disebut sebagai prestasi belajar. Dengan demikian, prestasi belajar siswa adalah perubahan perilaku siswa (pengetahuan, sikap dan ketrampilan) sebagai hasil dari interaksi dengan para guru di sekolah.
Dalam kaitannya dengan perubahan perilaku siswa sebagai hasil belajar, maka Gagne (1993) membagi hasil belajar ke dalam lima ragam belajar yang digunakan untuk mengenali kapabilitas sebagai prestasi belajar, yaitu: 1) informasi verbal, 2) ketrampilan intelektual, 3) ketrampilan motorik, 4) sikap, 5) siasat kognitif.
Menurut Tanthawi (2001) bahwa prestasi belajar yang diharapkan setelah siswa mengikuti program pendidikan atau proses belajar-mengajar adalah adanya perubahan perilaku siswa terhadap informasi mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku, serta ketrampilan yang dicapai selama selang waktu tertentu. Kaitannya dengan pendapat tersebut Bloom dalam Sudjana (1992) mengemukakan tentang tiga taksonomi ranah prestasi belajar, yaitu:
(a) Ranah kognitif meliputi: ingatan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi;
(b) Ranah afektif meliputi: penerimaan, jabatan atau reaksi, penilaian, organisasi, internalisasi;
(c) Ranah psikomotor meliputi: gerakan refleks, ketrampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketetapan, gerakan berupa ketrampilan yang bersifat kompleks, dan gerakan ekspresif dan interprelatif.
Berdasarkan pendapat Bloom dalam Sudjana (1992) bahwa prestasi belajar siswa dapat dirujuk pada ranah kognitif, ranah afektif, dan rahah psikomotor. Bloom mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan hasil perubahan tingkah laku yang meliputi tiga dominan yakni, pengetauna, sikap dan ketrampilan dalam kaitannya dengan prestasi belajar di sekolah. Mappa (1993) memberikan konsep yang lebih tegas lagi yaitu hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi tertentu harus menggunakan tes standar sebagai alat pengukur keberhasilan belajar seorang siswa.

Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Adanya prestasi belajar tentunya juga tidak terlepas adanya kesulitan yang dialami siswa dalam meraih prestasi tersebut. Kesulitan belajar merupakan kondisi dalam proses belajar mengajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu dalam mencapai hasil belajar. Kesulitan belajar itu adalah adanya jarak antara prestasi akademik yang diharapkan dengan prestasi akademik yang nampak sekarang (prestasi actual). Juga anak yang mengalami kesulitan belajar adalah anak yang mempunyai intelegensi normal tetapi menunjukkan satu atau beberapa kekurangan yang penting dalam proses belajar mengajar, baik dalam persepsi, ingatan, perhatian ataupun fungsi motoriknya. Kekurangan ini dapat berwujud verbal atau-pun non verbal.
Kesulitan belajar atau hambatan yang muncul dalam kegiatan belajar dapat bermacam-macam. Ada yang bersifat fisiologis misalnya waktu belajar sering merasa pusing, cepat mengantuk, mata sakit bila membaca dll. Hambatan yang bersifat psikologis misalnya tidak minat belajar, kemampuan tidak menunjang dalam kondisi stress, ada juga hambatan yang bersifat sosial kehadiran teman waktu belajar, situasi keluarga yang ramai, keluarga tidak harmonis, dan sebagainya.Hambatan tersebut baik disadari atau tidak disadari sangat mengganggu proses belajar sehinga anak tidak dapat mencapai hasil prestasi belajar dengan baik. Adapun gejala kesulitan belajar ditunjukan oleh;
1. Learning Disorder atau kekacauan belajar adalah suatu keadaan proses belajar anak terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan pada anak yang mengalami kekacauan belajar seperti ini potensi dasarnya tidak dirugikan, akan tetapi belajar anak terhambat oleh adanya reaksi-reaksi belajar yang bertentangan , sehingga tidak bisa menguasai bahan yang dipelajari dengan baik. Jadi dalam belajar anak mengalami kebingungan untuk memahami bahan belajar.
2. Learning Disabilities atau ketidak mampuan belajar.
Adalah suatu gejala anak tidak mampu belajar atau menghindari kegiatan belajar dengan berbagai sebab sehingga hasil belajar yang dicapai berada di bawah potensi intelektualnya.
3. Learning disfungctions suatu kesulitan belajar yang mengacu pada gejala proses belajar tidak dapat berfungsi dengan baik, walaupun anak tidak menunjukka adanya subnormal mental, gangguan alat indera, ataupun gangguan psikologis yang lain. Misalnya anak sudah belajar dengan tekun namun tidak mampu menguasai bahan belajar dengan baik.
4. Under Achiever suatu kesulitan belajar yang terjadi pada anak yang tergolong potensi intelektualnya di atas normal tetapi prestasi belajarnya yang dicapai rendah.
5. Slow Learner atau lambat belajar anak sangat lambat dalam proses belajarnya sehingga setiap melakukan kegiatan membutuhkan waktu yang lebih lama dibanding dengan anak lain yang memiliki potensi intelektual yang sama.

Ditulis oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
http://kabar-pendidikan.blogspot.com

Disiplin belajar adalah predis posisi (kecenderungan) suatu sikap mental untuk mematuhi aturan, tata tertib, dan sekaligus mengendalikan diri, menyesuaikan diri terhadap aturan-aturan yang berasal dari luar sekalipun yang mengekang dan menunjukkan kesadaran akan tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban (Agus, 1987). Jika dimengerti tentang disiplin tersebut menyebabkan orang menjadi tertekan, beku tidak mempunyai insiatif, dan menimbulkan efek yang negatif, bagi perkembangan jiwa anak. Bahkan ada yang menganggap bahwa disiplin belajar sebagai suatu proses dan latihan belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan, seseorang telah dikatakan berhasil mempelajari atau ia berhasil mengikuti dengan sendirinya proses disiplin tersebut. Degunarso (1986). Proses disiplin belajar dilalui seseorang melalui tahapan latihan atau belajar. Disiplin belajar awalnya memang berat tapi bila kita sudah berhasil mempelajari atau berlatih, kita akan dapat mengikuti dengan sendirinya tanpa merasa tertekan.

Fungsi dan Tujuan Disiplin Belajar

Fungsi utama disiplin belajar adalah mengajar mengendalikan diri dengan mudah, menghormati dan mentaati peraturan berkaitan dengan hal tersebut diatas menerangkan sebagai berikut: (a) Menerapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara lain mengenal hak milik orang lain;. (b) Mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan merasa mengerti larangan-larangan (c) Mengerti tingkah laku yang baik dan tidak baik (d) Belajar mengendalikan diri, keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa terancam oleh hukuman. e. Mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain (Singgi, 1985). Jadi dalam menanamkan pendidikan pada anak perlu menanamkan pendidikan kedisiplinan, artinya menumbuhkan dan mengembangkan pengertian-pengertian yang berasal dari luar yang merupakan proses untuk melatih dan mengajarkan anak bersikap dan bertingkah laku sesuai harapan.

Perkembangan Disiplin Belajar
Telah diketahui bahwa perkembangan disiplin belajar anak bukan merupakan sesuatu yang terjadi kebetulan melainkan membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang. Dalam hal ini Singgih (1985) mengemukakan lima tahapan antara lain : (a) Pada tahapan pertama disiplin belajar dimulai seseorang untuk menghindari hukuman; (b) Pada perkembangan tahap kedua, disiplin belajar diwujudkan hanya untuk membuat atau mendapatkan imbalan; (c) Pada tahap ketiga, disiplin belajar dijalankan demi disiplin belajar atau aturan itu sendiri; (d) Pada tahap keempat, disiplin belajar diterapkan berdasarkan kesadaran, bahwa untuk hidup bermasyarakat perlu mengikuti peraturan yang dilandasi oleh kepentingan pribadi atau kepentingan perorangan; (e) Pada tahap kelima, tahapan disiplin belajar ini dianggap tahapan yang paling tinggi atau sempurna di antara yang lain dimana sikap disiplin belajar sudah diwujudkan oleh kebutuhan informal dari dalam dari sendiri (Singgih,1987).

Ditulis Oleh: M.Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.