Arsip

Supervisi Pendidikan


Pada tahapan terakhir dari kegiatan supervisi pengajaran, yang harus dilakukan seorang supervisor adalah menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran yang sudah terlaksana melalui informasi yang didapat dari hasil supervisi untuk dijadikan landasan membuat keputusan, seperti tidak hadirnya tenaga pengajar dalam kelas, lemahnya pengaruh pengajaran pada belajar anak didik harus disikapi dengan tegas. Melalui cara ini peningkatan mutu pengajaran akan tercapai.

Selain itu yang menjadi tugas supervisor dalam menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terdapat dua indicator utama yang harus dilakukan, yaitu:
1. Menyusun rencana program tindak lanjut bersama dengan pihak terkait sesuai dengan kebijakan sekolah.
2. Mensosialisasikan hasil supervisi ke seluruh warga sekolah dan pihak lain yang terkait sesuai dengan tugas fungsi pokoknya.

Melihat tugas pokok supervisor dalam menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran di atas, supervisor dapat merencanakan beberapa program yang menurut pertimbangan supervisor sesuai dengan kebutuhan guru-guru dengan melihat hasil supervisi sebelumnya, seperti halnya program inservice-training dan upgrading di sekolah.
1. Inservice-training
2. Upgrading.

Diharapkan dengan adanya pembinaan dan usaha perbaikan pendidikan melalui program inservice-training dan upgrading terhadap guru-guru akan dapat memberikan perbaikan mutu pengetahuan pada para pelaksana pendidikan yaitu guru yang pada akhirnya mempunyai implikasi terhadap keberhasilan proses pengajaran sehingga menjadi pendidikan yang bermutu di sekolah yang dipimpinnya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Dalam usaha meningkatkan program sekolah, kepala sekolah sebagai supervisor dapat menggunakan berbagai teknik atau metode supervisi pendidikan. Supervisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dengan tujuan agar apa yang diharapkan bersama dapat tercapai. Teknik supervisi pendidikan berarti suatu cara atau jalan yang digunakan supervisor pendidikan dalam memberikan pelayanan atau bantuan kepada para guru.

Hendyat Soetopo membagi teknik supervisi menjadi empat bagian yaitu: Teknik Kelompok, Teknik Perseorangan, Teknik langsung, dan Teknik Tidak Langsung . Kemudian Baharuddin Harahap mengemukakan teknik supervisi meliputi: Teknik Individual, Teknik Kelompok, Teknik Lisan, Teknik Tulisan, Teknik langsung dan Teknik Tak Langsung.

Yang dimaksud dengan teknik perseorangan adalah supervisi yang dilakukan secara individual. Beberapa kegiatan yang akan dilakukan yaitu:
a. Mengadakan Kunjungan Kelas (Class room Visitation)
Ada 3 macam kunjungan kelas:
1) Kunjungan tanpa diberitahu (unannounced visitation), supervisor tiba-tiba datang ke kelas tanpa diberitahu terlebih dahulu.
2) Kunjungan dengan cara memberitahu terlebih dahulu (announced visitation)
3) Kunjungan atas undangan

b. Mengadakan kunjungan observasi (Observation Visit).
Ada 2 macam observasi kelas
1) Observasi langsung (direck observation)
2) Observasi tak langsung (indireck observation)

c. Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa atau mengatasi masalah yang dialami siswa.

d. Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan kurikulum sekolah antara lain :
1) Menyusun program catur wulan/ program semester
2) Menyusun atau membuat program satuan pelajaran
3) Mengorganisasi kegiatan-kegiatan pengelolaan kelas
4) Melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran
5) Menggunakan media dan sumber dalam PBM
6) Mengorganisasi kegiatan siswa dalam bidang ektrakurikuler, studi tour dan sebagainya.

Sedangkan teknik kelompok adalah suatu cara pelaksanaan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Bentuk-bentuk teknik yang bersifat kelompok ini, di antaranya yang paling pokok adalah :
a. Dengan mengadakan pertemuan atau rapat dengan guru-guru untuk membicarakan berbagai hal yang berhubungan dengan proses dan hasil belajar siswa.
b. Mengadakan dan membimbing diskusi kelompok di antara guru-guru bidang studi.
c. Memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk mengikuti penataran yang sesuai dengan bidangnya.
d. Membimbing guru-guru dalam mempraktekkan hasil-hasil penataran yang telah diikuti.

Adapun teknik kelompok di antaranya yang umum dikenal adalah :
a. Pertemuan orientasi bagi guru baru.
b. Kepanitiaan
c. Rapat Guru
d. Diskusi
e. Tukar menukar pengalaman (sharing of experience).
f. Loka Karya (workshop)
g. Diskusi Panel
h. Seminar
i. Simposium.

Teknik langsung adalah teknik yang digunakan secara langsung seperti penyelenggaraan rapat guru, workshop, kunjungan kelas, mengadakan converence. Sedangkan teknik tidak langsung adalah teknik yang dilakukan secara tidak langsung misalnya melalui bulletin board, questioner.

Teknik lisan adalah supervisi yang dilakukan secara tatap muka misalnya, supervisor mendiskusikan hasil observasi yang dilakukan guru, rapat dengan guru membicarakan hasil evaluasi belajar. Sedangkan teknik tulisan adalah supervisi yang dilakukan dengan menggunakan tulisan misalnya dalam kegiatan observasi untuk memperoleh data yang objektif tentang situasi belajar mengajar, supervisi menggunakan alat-alat observasi berbentuk chek-list atau daftar sejumlah pertanyaan (evaluatif chek-list).

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Berbagai pengetahuan dan keterampilan diperlukan dalam penyusunan rencana supervisi yang efektif. Faktor mana yang lebih diperlukan, tergantung dari situasi, kondisi tempat menyusun rencana itu, dan dari tujuan yang akan dicapai. Tiap supervisor harus menyadari kedudukannya, apakah sebagai Kepala Sekolah, sebagai Penilik/Pengawas, atau sebagai pemegang otoritas administratif. Ia harus dapat menentukan faktor mana yang lebih diperlukannya untuk menyusun rencana yang sesuai dengan situasinya dan tujuan yang akan dicapainya.

Hal-hal yang diperlukan dalam perencanaan supervisi adalah sebagai berikut:
a. Kejelasan tujuan pendidikan di sekolah
Apa yang akan dicapai di sekolah, ke arah mana pendidikan anak-anak di sekolah harus dilaksanakan, merupakan pokok-pokok fikiran yang penting dalam supervisi, dan bukan soal metode atau teknik penyampaian. Metode dan teknik mungkin saja berubah dan harus disesuaikan pada situasi dan kondisi; tetapi tujuannya harus jelas.

Yang perlu disadari sejelas-jelasnya oleh Kepala Sekolah sebagai supervisor ialah apa yang harus dicapai oleh murid-muridnya di sekolah. Semua tindakan di sekolahnya adalah untuk keberhasilan murid-muridnya. Juga bantuan yang diberikan kepada Guru-gurunya, usaha peningkatan kemampuan Guru-guru, semuanya itu adalah untuk membantu murid-muridnya mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Karena itu tujuan pendidikan di sekolah harus jelas bagi Kepala Sekolah dan Guru-guru.

b. Pengetahuan tentang mengajar yang efektif
Kepala Sekolah sebagai supervisor harus benar-benar menguasai prinsip-prinsip yang dipakai dalam proses belajar-mengajar, harus dapat memilih dan menggunakan metode yang sesuai untuk mengaktifkan murid belajar. Dengan kata lain, seorang supervisor haruslah seorang Guru yang baik, yang dapat dan selalu ingin mengajar baik.

Kepala Sekolah harus menyadari bahwa kegiatan supervisi apapun, apakah penataran Guru dalam bidang studi tertentu, atau usaha peningkatan penampilan Guru di depan kelas, akhirnya harus menghasilkan proses belajar-mengajar yang lebih baik. Akhirnya kegiatan supervisi harus sampai kepada penggunaan metode mengajar yang lebih baik dan lebih efektif untuk meningkatkan keberhasilan belajar muridnya. Rencana supervisi tidak akan memadai jika tidak dilandasi dengan pengetahuan tentang mengajar yang efektif.

c. Pengetahuan tentang anak
Pengetahuan supervisi harus didasari pengetahuan tentang anak. Perencanaan supervisi harus ditujukan kepada peningkatan belajar murid, yaitu peningkatan murid-murid tertentu, di sekolah tertentu dalam situasi tertentu. Tujuan akhir supervisi bukan hanya peningkatan kemampuan Guru saja, tetapi peningkatan kegiatan belajar dan hasil belajar murid. Peningkatan Guru baru merupakan tujuan sementara. Karena itu yang perlu direncanakan dalam supervisi, bukan saja apa yang perlu dipelajari Guru dan bagaimana kemampuan belajar Guru, tetapi harus juga diperhitungkan apa yang diperlukan murid dan bagaimana kemampuan belajar murid.

Seorang supervisor bukan saja harus mengenal dan mengetahui Gurunya, tetapi tidak kurang pentingnya, bahkan mungkin lebih penting lagi, ialah mengenal dan mengetahui murid-muridnya. Pengetahuan tentang anak ini yang mendasari pengetahuan tentang kebutuhan Guru-gurunya untuk menentukan bantuan apa yang perlu dan dapat diberikan kepada Guru-gurunya itu.

d. Pengetahuan tentang Guru
Guru adalah peserta dan teman usaha supervisor untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar dan hasil belajar murid. Untuk dapat bekerjasama secara efektif, supervisor harus benar-benar mengenal Guru-guru yang diajak bekerjasama itu. Supervisor harus mengetahui di mana kemampuan dan kekurangmampuan Guru, apa kebutuhannya untuk menjadi Guru yang lebih baik. Kegiatan supervisi yang direncanakan harus didasarkan pada kemampuan Guru, minat Guru, kebutuhan Guru. Untuk itu perlu juga diketahui pandangan dan sikap Guru terhadap pendidikan, terhadap tugasnya sebagai pendidik dan sikapnya terhadap masyarakat. Sebab sebelum supervisor dapat mulai meningkatkan kemampuan Guru, harus ada usaha mengubah dulu sikap dan pandangan Guru terhadap pendidikan dan terhadap tugasnya sebagai pendidik dalam masyarakat.

e. Pengetahuan tentang sumber potensi untuk supervisi
Kegiatan supervisi memerlukan keahlian di berbagai bidang, tidak dapat ditangani oleh supervisor saja, yang keahliannya terbatas. Diperlukan pula berbagai fasilitas dan alat: gedung, ruang, alat dan media komunikasi, alat peraga, laboratorium, dan sebagainya, dan tentu juga biaya.

Perencanaan supervisi harus lengkap dengan alat apa yang akan diperlukan dan akan digunakan, di mana tempat mengadakan kegiatan-kegiatannya, siapa yang akan diikutsertakan, terutama sebagai nara sumber, berapa biaya yang diperlukan, dan sebagainya. Karena itu, seorang supervisor bukan saja harus mampu merencanakan apa yang diperlukan, tetapi juga harus tahu bagaimana dapat memperoleh yang diperlukannya itu: dari mana sumbernya dan dengan cara bagaimana mendapatkannya.

f. Kemampuan memperhitungkan faktor waktu
Supervisi memerlukan waktu, kadang-kadang cukup lama, tergantung dari tujuan yang akan dicapai dan tergantung dari situasi dan kondisi. Kalau hanya menambah dan meningkatkan pengetahuan saja, mungkin dapat dicapai dalam beberapa bulan. Meningkatkan keterampilan mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Mengubah sikap akan memerlukan waktu lebih lama lagi.

Dalam penyusunan rencana, seorang supervisor tidak boleh mengabaikan faktor waktu ini, ia tidak boleh terlalu cepat menentukan batas waktu untuk suatu kegiatan yang sifatnya jangka panjang. Dan ia harus berani mengakhiri kegiatan tertentu kalau dianggapnya sudah harus dapat menghasilkan sesuatu.

Itulah hal-hal yang harus diperhatikan dan hal-hal yang diperlukan dalam penyusunan rencana program supervisi. Apakah rencana itu menjadi bagian dari keseluruhan program kegiatan sekolah (program tahunan) atau merupakan program tersendiri, terpisah dari kegiatan-kegiatan administratif dan kegiatan kurikuler lainnya, tidak menjadi soal. Yang perlu ialah adanya perencanaan yang mencantumkan:
1). Apa tujuan supervisi: apa yang ingin dicapai dengan supervisi, peningkatan di bidang apa. Tujuan-tujuan ini dapat merupakan suatu rangkaian, berurutan menurut prioritas atau kemudahan pelaksanaannya.
2). Alasan mengapa kegiatan-kegiatan tersebut perlu dilaksanakan. Alasan ini turut menentukan prioritas pencapaiannya dan teknik-teknik pelaksanaannya.
3). Dengan cara bagaimana (metode dan teknik apa) tujuan-tujuan itu akan dicapai.
4). Siapa yang akan dilibatkan/diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
5). Bilamana kegiatan-kegiatan dimulai dan diakhiri.
6). Apa yang diperlukan dalam pelaksanaannya dan bagaimana memperoleh hal-hal yang diperlukan itu.

Menyusun rencana tidak mudah dan memerlukan waktu. Waktu diperlukan bukan hanya untuk perumusannya saja, tetapi terutama untuk pengumpulan data-datanya yang diperlukan untuk menyusun rencana. Jelas untuk perencanaan diperlukan pengetahuan tentang murid, pengetahuan tentang Guru, pengetahuan tentang sumber-sumber potensi, dan sebagainya, sebagaimana telah dijelaskan di atas tadi. Jadi segala macam pengetahuan itu tidak boleh merupakan khayalan atau perkiraan, melainkan harus benar-benar merupakan data-data yang riil dan obyektif. Maka dari itu, untuk memperoleh data-data itu saja, sudah diperlukan waktu tertentu.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


a. Tidak ada rencana yang standard dalam supervisi
Tiap guru mempunyai kemampuan dan kelemahan yang berbeda; memerlukan bantuan yang berbeda dari guru-guru yang lainnya dalam keadaan yang tidak sama dengan guru-guru lainnya. Supervisi merupakan usaha untuk membantu Guru meningkatkan kemampuannya dan penampilannya, sesuai dengan kebutuhannya dalam situasi bekerjanya. Karena itu tiap bantuan harus diberikan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi tersebut.

Dalam supervisi tidak dapat digunakan suatu pola tetap dalam rencana, terutama dalam penentuan permasalahannya dan cara-cara pemecahannya. Kalaupun masalahnya mungkin sama, tetapi latar belakang timbulnya masalah mungkin berbeda, dan karena itu cara pemecahannyapun akan berbeda.

b. Perencanaan Supervisi memerlukan kreatifitas
Tiap sekolah mempunyai situasi tersendiri dengan keadaan yang berbeda dan masalah yang berlainan. Peningkatan pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan kebutuhan kebutuhan murid-muridnya, dengan tujuan khusus sekolah itu, dengan keadaan dan kemampuan anggota-anggota stafnya, dengan kemampuan sekolah untuk mengadakan fasilitas yang diperlukan. Semua hal-hal tersebut harus diperhatikan dan dijadikan faktor-faktor penentu dalam menyusun program supervisi di sekolah. Hal itu memerlukan kreativitas dari supervisor dalam menyusun programnya.

Apakah kegiatan supervisi di sekolah akan ditujukan kepada memperkaya pengalaman belajar bagi murid, apakah untuk meningkatkan kemampuan para guru dalam memilih dan menggunakan alat pelajaran, apakah peningkatan disiplin dan sikap professional anggota stafnya, apakah mempererat hubungan dan kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan sebagainya, harus ditentukan berdasarkan kreatifitas supervisor dengan memperhatikan kebutuhan dan situasi setempat.

c. Perencanaan Supervisi harus komprehensif
Usaha peningkatan kegiatan belajar mengajar mencakup berbagai segi yang sukar dipisah-pisahkan. Guru, alat, metode, keadaan fisik, murid, sikap Kepala sekolah, semuanya itu bersangkut-paut dan saling mempengaruhi. Supervisor harus dapat mengatur kegiatan supervisinya agar tujuan-tujuan dapat tercapai sebaik-baiknya, satu persatu, secara berurutan dan bertahap. Setiap tahapan yang dicapai harus berada dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih jauh lagi. Semua segi-segi dan tahapan-tahapan yang dicapai harus merupakan satu keseluruhan, suatu kesatuan yang menyeluruh. Karena itu perencanaannya harus komprehensif dan memperhatikan semua segi-segi dari proses belajar-mengajar, meskipun dalam pencapaiannya harus bertahap.

d. Perencanaan supervisi harus kooperatif
Supervisi bukan masalah perorangan. Proses belajar-mengajar menyangkut soal seluruh sekolah, bukan hanya seorang guru saja, atau hanya Kepala Sekolah saja. Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan supervisinya seorang supervisor akan memerlukan bantuan orang lain, anggota staf lainnya, dan karena itu dalam perencanaannyapun diperlukan bantuan dari orang-orang yang kemudian akan turut dalam pelaksanaannya. Karena itu pulalah perencanaan supervisi harus kooperatif, mengikutsertakan sebanyak mungkin fihak-fihak yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar di sekolah.

Supervisor sebagai perencana harus merupakan seorang pemimpin dan pembimbing dalam kerjasama kelompok, dan bukan pengambil keputusan dan pelaksana tunggal. Supervisor sebagai pemimpin harus dapat mendorong orang lain untuk berinisiatif, dan harus dapat memanfaatkan inisiatif orang lain. Karena itu perencanaan yang dilakukan supervisor harus kooperatif.

e. Perencanaan supervisi harus fleksibel
Rencana supervisi harus memberikan kebebasan untuk melaksanakan sesuatu sesuai dengan keadaan dan perubahan yang terjadi. Seorang supervisor yang bijaksana tidak terpaku pada cara-cara pencapaian tujuan yang telah ia rencanakan, tetapi selalu berusaha menyesuaikannya pada situasi baru dan tekanan-tekanan keadaan.

Sifat perencanaan yang fleksibel ini tidak berarti bahwa tujuan yang dirumuskan dalam rencana tidak boleh jelas dan kongkrit. Tujuannya harus jelas dan kongkrit terperinci, cara-cara pencapaiannya harus diperhitungkan dengan seksama. Supervisor harus mampu menyesuaikan rencana pada situasi baru timbul. Untuk itu pada waktu penyusunan rencana harus sudah difikirkan berbagai alternatif-alternatif pemecahannya. Dan untuk itu pula perlunya perencanaan yang kooperatif, agar terhimpun ide sebanyak-banyaknya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Seorang pemimpin pendidikan yang berfungsi sebagai supervisor dalam melaksanakan supervisi hendaknya bertumpu pada prinsip supervisi sebagai berikut:
a. Ilmiah (scientific)
Yang mencakup unsur-unsur sebagai berikut:
1) Sistematis, yaitu dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinyu
2) Objektif artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran pribadi
3) Menggunakan alat/instrumen yang dapat memberikan informasi sebagai umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.

b. Demokratis
Menjunjung tinggi asas musyawarah. Memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat, serta sanggup menerima pendapat orang lain.

c. Kooperatif
Seluruh staf sekolah dapat bekerja sama, mengembangkan usaha bersama dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.

d. Konstruktif dan kreatif
Membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif menciptakan suasana dimana tiap orang merasa aman dan dapat mengembangkan potensi-potensinya.

Di samping prinsip itu dapat dibedakan juga prinsip positif dan prinsip negatif.
a. Prinsip positif, yaitu prinsip yang patut kita ikuti
1) Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif
2) Supervisi harus kreatif dan konstruktif
3) Supervisi harus scientific dan efektif
4) Supervisi harus dapat memberi perasaan aman kepada guru-guru
5) Supervisi harus berdasarkan kenyataan
6) Supervisi harus memberi kesempatan kepada guru mengadakan Self Evolution.

b. Prinsip Negatif, yaitu prinsip yang tidak patut kita ikuti
1) Seorang supervisor tidak boleh bersifat otoriter
2) Seorang supervisor tidak boleh mencari kesalahan pada guru-guru
3) Seorang supervisor bukan inspektur yang ditugaskan memeriksa apakah peraturan dan instruksi yang telah diberikan dilaksanakan dengan baik.
4) Seorang supervisor tidak boleh menganggap dirinya lebih tinggi dari para guru.
5) Seorang supervisor tidak boleh terlalu banyak memperhatikan hal kecil dalam cara guru mengajar.
6) Seorang supervisor tidak boleh lekas kecewa jika mengalami kegagalan.

Bila prinsip-prinsip di atas diterima maka perlu diubah sikap para pemimpin pendidikan yang hanya memaksa bawahannya, menakut-nakuti dan melumpuhkan kreatifitas dari anggota staf. Sikap korektif harus diganti dengan sikap kreatif yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana orang merasa aman dan tenang untuk mengembangkan kreatifitasnya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu proses kerjasama hanyalah merupakan cita-cita yang masih perlu diwujudkan melalui tindakan-tindakan yang nyata. Begitu juga seorang supervisor dalam merealisasikan program supervisinya memiliki sejumlah tugas dan tanggungjawab yang harus dijalankan secara sistematis.

Menurut W.H. Burton dan Leo J. Bruckner sebagaimana dikutip oleh Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa fungsi utama supervisi adalah menilai dan memperbaiki faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran peserta didik.

Menurut Swearingen, yang dikutip Sahertian terdapat 8 (delapan) hal yang menjadi fungsi supervisi pendidikan yakni:
a. Mengkoordinasikan semua usaha sekolah
b. Memperlengkapi kepemimpinan sekolah
c. Memperluas pengalaman guru-guru
d. Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif
e. Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus
f. Menganalisis situasi belajar mengajar
g. Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf
h. Mengintegrasikan tujuan pendidikan dan membantu meningkatkan mengajar guru-guru.

Sesuai dengan fungsinya, supervisi harus bisa mengkoordinasikan semua usaha-usaha yang ada di lingkungan sekolah. Ia bisa mencakup usaha setiap guru dalam mengaktualisasikan diri dan ikut memperbaiki kegiatan-kegiatan sekolah. Dengan demikian perlu dikoordinasikan secara terarah agar benar-benar mendukung kelancaran program secara keseluruhan. Usaha-usaha tersebut baik di bidang administrasi maupun edukatif, membutuhkan keterampilan supervisor untuk mengkoordinasikannya, agar terpadu dengan sasaran yang ingin dicapai.

Oteng Sutisna mengemukakan beberapa fungsi supervisi :
a. Sebagai penggerak perubahan
b. Sebagai program pelayanan untuk memajukan pengajaran
c. Sebagai keterampilan dalam hubungan manusia
d. Sebagai kepemimpinan kooperatif.

Supervisi sebagai penggerak perubahan ditujukan untuk menghasilkan perubahan manusia kearah yang dikehendaki, kemudian kegiatan supervisi harus disusun dalam suatu program yang merupakan kesatuan yang direncanakan dengan teliti dan ditujukan kepada perbaikan pembelajaran.

Terkait dengan itu, proses bimbingan dan pengendalian, supervisi pendidikan menghendaki agar proses pendidikan dapat berjalan lebih baik, efektif dan optimal. Adapun indikasi lebih baik itu diantaranya adalah:
a. Lebih mempercepat tercapainya tujuan
b. Lebih memantapkan penguasaan materi
c. Lebih menarik minat belajar siswa
d. Lebih baik daya serapnya
e. Lebih banyak jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar
f. Lebih mantap pengelolaan administrasinya
g. Lebih mantap pemanfaatan media belajarnya.

Menurut Zakiyah Drajat ada tiga fungsi supervisor, yaitu fungsi kepemimpinan, fungsi pembinaan dan fungsi pengawasan . Fungsi kepemimpinan kepala sekolah bertindak sebagai pencipta hubungan yang harmonis dikalangan guru-guru dan karyawan, pendorong bagi kepribadian guru dan karyawan sebagai pelaksana kegiatan belajar, pelaksana dalam pengawasan, dan pelaksana dalam penempatan atau pemberian tugas dan tanggung jawab terhadap guru dan karyawan.

Fungsi pembinaan berarti kepala sekolah meningkatkan kemampuan profesi guru dalam bidang pengajaran, bimbingan dan penyuluhan dalam bidang pengelolaan kelas.
Sedangkan fungsi pengawasan diartikan sebagai membina pengertian melalui komunikasi dua arah lebih menjamin terlaksananya kegiatan sesuai dengan program kerja.
Jadi dari beberapa pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa inti dari fungsi supervisi pendidikan adalah ditujukan untuk perbaikan dan peningkatan pembelajaran.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Dalam melakukan suatu pekerjaan orang yang terlibat dalam pekerjaan itu harus mengetahui dengan jelas apakah tujuan pekerjaan itu, yaitu apa yang hendak dicapai. Di bidang pendidikan dan pengajaran seorang supervisor pendidikan harus mempunyai pengetahuan yang cukup jelas tentang apakah tujuan supervisi itu. Tujuan umum supervisi pendidikan adalah memperbaiki situasi belajar mengajar, baik belajar para siswa, maupun situasi mengajar guru.

Wiles dan W.H. Burton sebagaimana dikutip oleh Burhanuddin mengungkapkan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah membantu mengembangkan situasi belajar mengajar kearah yang lebih baik. Tujuan supervisi pendidikan tidak lain adalah untuk meningkatkan pertumbuhan siswa dan dari sini sekaligus menyiapkan bagi perkembangan masyarakat.

Amatembun merumuskan tujuan supervisi pendidikan (dalam hubungannya dengan tujuan pendidikan nasional) yaitu membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia-manusia pembangunan yang dewasa yang berpancasila.

Yushak Burhanuddin mengemukakan bahwa tujuan supervisi pendidikan adalah dalam rangka mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik melalui pembinaan dan peningkatan profesi mengajar, secara rinci sebagai berikut:
a. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi belajar mengajar
b. Mengendalikan penyelenggaraan bidang teknis edukatif di sekolah sesuai dengan ketentuan-ketentuan dan kebijakan yang telah ditetapkan
c. Menjamin agar kegiatan sekolah berlangsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga berjalan lancar dan memperoleh hasil optimal.
d. Menilai keberhasilan sekolah dalam pelaksanaan tugasnya
e. Memberikan bimbingan langsung untuk memperbaiki kesalahan, kekurangan, dan kehilafan serta membantu memecahkan masalah yang dihadapi sekolah, sehingga dapat dicegah kesalahan yang lebih jauh.

Pelaksanaan supervisi dalam lapangan pendidikan pada dasarnya bertujuan memperbaiki proses belajar mengajar secara total. Dalam hal ini bahwa tujuan supervisi tidak hanya memperbaiki mutu mengajar guru, akan tetapi juga membina pertumbuhan profesi guru dalam arti luas termasuk pengadaan fasilitas yang menunjang kelancaran pembelajaran, meningkatkan mutu pengetahuan dan keterampilan guru, memberikan bimbingan dan pembinaan dalam pelaksanaan kurikulum, pemilihan dan penggunaan metode mengajar dan teknik evaluasi pengajaran.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.