Arsip

Supervisi Pendidikan


Berbagai pengetahuan dan keterampilan diperlukan dalam penyusunan rencana supervisi yang efektif. Faktor mana yang lebih diperlukan, tergantung dari situasi, kondisi tempat menyusun rencana itu, dan dari tujuan yang akan dicapai. Tiap supervisor harus menyadari kedudukannya, apakah sebagai Kepala Sekolah, sebagai Penilik/Pengawas, atau sebagai pemegang otoritas administratif. Ia harus dapat menentukan faktor mana yang lebih diperlukannya untuk menyusun rencana yang sesuai dengan situasinya dan tujuan yang akan dicapainya.

Hal-hal yang diperlukan dalam perencanaan supervisi adalah sebagai berikut:
a. Kejelasan tujuan pendidikan di sekolah
Apa yang akan dicapai di sekolah, ke arah mana pendidikan anak-anak di sekolah harus dilaksanakan, merupakan pokok-pokok fikiran yang penting dalam supervisi, dan bukan soal metode atau teknik penyampaian. Metode dan teknik mungkin saja berubah dan harus disesuaikan pada situasi dan kondisi; tetapi tujuannya harus jelas.

Yang perlu disadari sejelas-jelasnya oleh Kepala Sekolah sebagai supervisor ialah apa yang harus dicapai oleh murid-muridnya di sekolah. Semua tindakan di sekolahnya adalah untuk keberhasilan murid-muridnya. Juga bantuan yang diberikan kepada Guru-gurunya, usaha peningkatan kemampuan Guru-guru, semuanya itu adalah untuk membantu murid-muridnya mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Karena itu tujuan pendidikan di sekolah harus jelas bagi Kepala Sekolah dan Guru-guru.

b. Pengetahuan tentang mengajar yang efektif
Kepala Sekolah sebagai supervisor harus benar-benar menguasai prinsip-prinsip yang dipakai dalam proses belajar-mengajar, harus dapat memilih dan menggunakan metode yang sesuai untuk mengaktifkan murid belajar. Dengan kata lain, seorang supervisor haruslah seorang Guru yang baik, yang dapat dan selalu ingin mengajar baik.

Kepala Sekolah harus menyadari bahwa kegiatan supervisi apapun, apakah penataran Guru dalam bidang studi tertentu, atau usaha peningkatan penampilan Guru di depan kelas, akhirnya harus menghasilkan proses belajar-mengajar yang lebih baik. Akhirnya kegiatan supervisi harus sampai kepada penggunaan metode mengajar yang lebih baik dan lebih efektif untuk meningkatkan keberhasilan belajar muridnya. Rencana supervisi tidak akan memadai jika tidak dilandasi dengan pengetahuan tentang mengajar yang efektif.

c. Pengetahuan tentang anak
Pengetahuan supervisi harus didasari pengetahuan tentang anak. Perencanaan supervisi harus ditujukan kepada peningkatan belajar murid, yaitu peningkatan murid-murid tertentu, di sekolah tertentu dalam situasi tertentu. Tujuan akhir supervisi bukan hanya peningkatan kemampuan Guru saja, tetapi peningkatan kegiatan belajar dan hasil belajar murid. Peningkatan Guru baru merupakan tujuan sementara. Karena itu yang perlu direncanakan dalam supervisi, bukan saja apa yang perlu dipelajari Guru dan bagaimana kemampuan belajar Guru, tetapi harus juga diperhitungkan apa yang diperlukan murid dan bagaimana kemampuan belajar murid.

Seorang supervisor bukan saja harus mengenal dan mengetahui Gurunya, tetapi tidak kurang pentingnya, bahkan mungkin lebih penting lagi, ialah mengenal dan mengetahui murid-muridnya. Pengetahuan tentang anak ini yang mendasari pengetahuan tentang kebutuhan Guru-gurunya untuk menentukan bantuan apa yang perlu dan dapat diberikan kepada Guru-gurunya itu.

d. Pengetahuan tentang Guru
Guru adalah peserta dan teman usaha supervisor untuk meningkatkan situasi belajar-mengajar dan hasil belajar murid. Untuk dapat bekerjasama secara efektif, supervisor harus benar-benar mengenal Guru-guru yang diajak bekerjasama itu. Supervisor harus mengetahui di mana kemampuan dan kekurangmampuan Guru, apa kebutuhannya untuk menjadi Guru yang lebih baik. Kegiatan supervisi yang direncanakan harus didasarkan pada kemampuan Guru, minat Guru, kebutuhan Guru. Untuk itu perlu juga diketahui pandangan dan sikap Guru terhadap pendidikan, terhadap tugasnya sebagai pendidik dan sikapnya terhadap masyarakat. Sebab sebelum supervisor dapat mulai meningkatkan kemampuan Guru, harus ada usaha mengubah dulu sikap dan pandangan Guru terhadap pendidikan dan terhadap tugasnya sebagai pendidik dalam masyarakat.

e. Pengetahuan tentang sumber potensi untuk supervisi
Kegiatan supervisi memerlukan keahlian di berbagai bidang, tidak dapat ditangani oleh supervisor saja, yang keahliannya terbatas. Diperlukan pula berbagai fasilitas dan alat: gedung, ruang, alat dan media komunikasi, alat peraga, laboratorium, dan sebagainya, dan tentu juga biaya.

Perencanaan supervisi harus lengkap dengan alat apa yang akan diperlukan dan akan digunakan, di mana tempat mengadakan kegiatan-kegiatannya, siapa yang akan diikutsertakan, terutama sebagai nara sumber, berapa biaya yang diperlukan, dan sebagainya. Karena itu, seorang supervisor bukan saja harus mampu merencanakan apa yang diperlukan, tetapi juga harus tahu bagaimana dapat memperoleh yang diperlukannya itu: dari mana sumbernya dan dengan cara bagaimana mendapatkannya.

f. Kemampuan memperhitungkan faktor waktu
Supervisi memerlukan waktu, kadang-kadang cukup lama, tergantung dari tujuan yang akan dicapai dan tergantung dari situasi dan kondisi. Kalau hanya menambah dan meningkatkan pengetahuan saja, mungkin dapat dicapai dalam beberapa bulan. Meningkatkan keterampilan mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Mengubah sikap akan memerlukan waktu lebih lama lagi.

Dalam penyusunan rencana, seorang supervisor tidak boleh mengabaikan faktor waktu ini, ia tidak boleh terlalu cepat menentukan batas waktu untuk suatu kegiatan yang sifatnya jangka panjang. Dan ia harus berani mengakhiri kegiatan tertentu kalau dianggapnya sudah harus dapat menghasilkan sesuatu.

Itulah hal-hal yang harus diperhatikan dan hal-hal yang diperlukan dalam penyusunan rencana program supervisi. Apakah rencana itu menjadi bagian dari keseluruhan program kegiatan sekolah (program tahunan) atau merupakan program tersendiri, terpisah dari kegiatan-kegiatan administratif dan kegiatan kurikuler lainnya, tidak menjadi soal. Yang perlu ialah adanya perencanaan yang mencantumkan:
1). Apa tujuan supervisi: apa yang ingin dicapai dengan supervisi, peningkatan di bidang apa. Tujuan-tujuan ini dapat merupakan suatu rangkaian, berurutan menurut prioritas atau kemudahan pelaksanaannya.
2). Alasan mengapa kegiatan-kegiatan tersebut perlu dilaksanakan. Alasan ini turut menentukan prioritas pencapaiannya dan teknik-teknik pelaksanaannya.
3). Dengan cara bagaimana (metode dan teknik apa) tujuan-tujuan itu akan dicapai.
4). Siapa yang akan dilibatkan/diikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
5). Bilamana kegiatan-kegiatan dimulai dan diakhiri.
6). Apa yang diperlukan dalam pelaksanaannya dan bagaimana memperoleh hal-hal yang diperlukan itu.

Menyusun rencana tidak mudah dan memerlukan waktu. Waktu diperlukan bukan hanya untuk perumusannya saja, tetapi terutama untuk pengumpulan data-datanya yang diperlukan untuk menyusun rencana. Jelas untuk perencanaan diperlukan pengetahuan tentang murid, pengetahuan tentang Guru, pengetahuan tentang sumber-sumber potensi, dan sebagainya, sebagaimana telah dijelaskan di atas tadi. Jadi segala macam pengetahuan itu tidak boleh merupakan khayalan atau perkiraan, melainkan harus benar-benar merupakan data-data yang riil dan obyektif. Maka dari itu, untuk memperoleh data-data itu saja, sudah diperlukan waktu tertentu.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


a. Tidak ada rencana yang standard dalam supervisi
Tiap guru mempunyai kemampuan dan kelemahan yang berbeda; memerlukan bantuan yang berbeda dari guru-guru yang lainnya dalam keadaan yang tidak sama dengan guru-guru lainnya. Supervisi merupakan usaha untuk membantu Guru meningkatkan kemampuannya dan penampilannya, sesuai dengan kebutuhannya dalam situasi bekerjanya. Karena itu tiap bantuan harus diberikan dan direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan situasi tersebut.

Dalam supervisi tidak dapat digunakan suatu pola tetap dalam rencana, terutama dalam penentuan permasalahannya dan cara-cara pemecahannya. Kalaupun masalahnya mungkin sama, tetapi latar belakang timbulnya masalah mungkin berbeda, dan karena itu cara pemecahannyapun akan berbeda.

b. Perencanaan Supervisi memerlukan kreatifitas
Tiap sekolah mempunyai situasi tersendiri dengan keadaan yang berbeda dan masalah yang berlainan. Peningkatan pendidikan di sekolah harus disesuaikan dengan kebutuhan kebutuhan murid-muridnya, dengan tujuan khusus sekolah itu, dengan keadaan dan kemampuan anggota-anggota stafnya, dengan kemampuan sekolah untuk mengadakan fasilitas yang diperlukan. Semua hal-hal tersebut harus diperhatikan dan dijadikan faktor-faktor penentu dalam menyusun program supervisi di sekolah. Hal itu memerlukan kreativitas dari supervisor dalam menyusun programnya.

Apakah kegiatan supervisi di sekolah akan ditujukan kepada memperkaya pengalaman belajar bagi murid, apakah untuk meningkatkan kemampuan para guru dalam memilih dan menggunakan alat pelajaran, apakah peningkatan disiplin dan sikap professional anggota stafnya, apakah mempererat hubungan dan kerjasama antara sekolah dan masyarakat, dan sebagainya, harus ditentukan berdasarkan kreatifitas supervisor dengan memperhatikan kebutuhan dan situasi setempat.

c. Perencanaan Supervisi harus komprehensif
Usaha peningkatan kegiatan belajar mengajar mencakup berbagai segi yang sukar dipisah-pisahkan. Guru, alat, metode, keadaan fisik, murid, sikap Kepala sekolah, semuanya itu bersangkut-paut dan saling mempengaruhi. Supervisor harus dapat mengatur kegiatan supervisinya agar tujuan-tujuan dapat tercapai sebaik-baiknya, satu persatu, secara berurutan dan bertahap. Setiap tahapan yang dicapai harus berada dalam rangka pencapaian tujuan yang lebih jauh lagi. Semua segi-segi dan tahapan-tahapan yang dicapai harus merupakan satu keseluruhan, suatu kesatuan yang menyeluruh. Karena itu perencanaannya harus komprehensif dan memperhatikan semua segi-segi dari proses belajar-mengajar, meskipun dalam pencapaiannya harus bertahap.

d. Perencanaan supervisi harus kooperatif
Supervisi bukan masalah perorangan. Proses belajar-mengajar menyangkut soal seluruh sekolah, bukan hanya seorang guru saja, atau hanya Kepala Sekolah saja. Dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan supervisinya seorang supervisor akan memerlukan bantuan orang lain, anggota staf lainnya, dan karena itu dalam perencanaannyapun diperlukan bantuan dari orang-orang yang kemudian akan turut dalam pelaksanaannya. Karena itu pulalah perencanaan supervisi harus kooperatif, mengikutsertakan sebanyak mungkin fihak-fihak yang berhubungan dengan proses belajar-mengajar di sekolah.

Supervisor sebagai perencana harus merupakan seorang pemimpin dan pembimbing dalam kerjasama kelompok, dan bukan pengambil keputusan dan pelaksana tunggal. Supervisor sebagai pemimpin harus dapat mendorong orang lain untuk berinisiatif, dan harus dapat memanfaatkan inisiatif orang lain. Karena itu perencanaan yang dilakukan supervisor harus kooperatif.

e. Perencanaan supervisi harus fleksibel
Rencana supervisi harus memberikan kebebasan untuk melaksanakan sesuatu sesuai dengan keadaan dan perubahan yang terjadi. Seorang supervisor yang bijaksana tidak terpaku pada cara-cara pencapaian tujuan yang telah ia rencanakan, tetapi selalu berusaha menyesuaikannya pada situasi baru dan tekanan-tekanan keadaan.

Sifat perencanaan yang fleksibel ini tidak berarti bahwa tujuan yang dirumuskan dalam rencana tidak boleh jelas dan kongkrit. Tujuannya harus jelas dan kongkrit terperinci, cara-cara pencapaiannya harus diperhitungkan dengan seksama. Supervisor harus mampu menyesuaikan rencana pada situasi baru timbul. Untuk itu pada waktu penyusunan rencana harus sudah difikirkan berbagai alternatif-alternatif pemecahannya. Dan untuk itu pula perlunya perencanaan yang kooperatif, agar terhimpun ide sebanyak-banyaknya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Dilihat dari sudut etimologi supervisi berasal dari kata super dan vision yang masing-masing kata itu berarti atas dan penglihatan. Jadi secara etimologis, Supervisi adalah penglihatan dari atas. Pengertian itu merupakan arti kiasan yang menggambarkan suatu posisi yang melihat berkedudukan lebih tinggi dari pada yang dilihat.

Orang yang berfungsi memberi bantuan kepada guru-guru dalam menstimulir guru-guru ke arah usaha mempertahankan suasana belajar mengajar yang lebih baik kita sebut Supervisor. Semua guru tetap pada statusnya sebagai guru, tetapi bila suatu saat dia berfungsi membantu guru memecahkan persoalan belajar dan mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, maka pada saat itu dia berfungsi sebagai Supervisor.
Dalam bukunya Carter V. Good, Dictionary of Education, yang disitir oleh Piet. A. Sahertian dan Frans Mataheru mengatakan bahwa supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan evaluasi pengajaran .

Menurut William H. Burton dan Leo J. Bruckner, yang dikutip oleh Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi mengatakan supervisi adalah suatu teknik yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak . Sedangkan menurut Kimball Wiles, dalam bukunya Piet A. Sahertian dan Frans Mataheru mendefinisikan supervisi yaitu bantuan dalam perkembangan dari belajar mengajar yang baik .

Menurut Ngalim Purwanto, supervisi adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif . Supervisi diartikan sebagai pelayanan yang disediakan oleh pemimpin untuk membantu guru-guru, orang yang dipimpin agar menjadi guru (personil) yang cakap sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan pendidikan khususnya agar mampu meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di sekolah . Jadi, supervisi adalah sebagai suatu usaha layanan dan bantuan berupa bimbingan dari atasan (kepala sekolah) kepada personil sekolah (guru-guru) dan petugas sekolah lainnya.

Supervisor sebagai pengawas pendidikan bertindak sebagai stimulator, pembimbing dan konsultan bagi guru-guru dalam perbaikan pengajaran dan menciptakan situasi belajar mengajar yang baik. Selain itu juga supervisi diharapkan mampu membawa dampak perkembangan yang baik bagi kemajuan proses pengajaran melalui peningkatan kurikulum yang ada di sekolah sebagai salah satu sarana dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Terdapat beberapa landasan yuridis yang mendasari pentingnya kegiatan supervisi pengajaran pada tingkat satuan pendidikan. Landasan yuridis tersebut di antaranya dijelaskan sebagai berikut:

a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional: Bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan;

b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru Dan Dosen: Bahwa untuk menjamin perluasan dan pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru dan dosen secara terencana, terarah, dan berkesinambungan;

c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah: Pasal 1 (1) Untuk diangkat sebagai kepala sekolah/madrasah, seseorang wajib memenuhi standar kepala sekolah/madrasah yang berlaku nasional. (2) Standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Yaitu salah satunya kompetensi supervisi yang meliputi: 1. Merencanakan program supervisi pengajaran dalam rangka peningkatan profesionalisme guru, 2. Melaksanakan supervisi pengajaran terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat, serta 3. Menindaklanjuti hasil supervisi pengajaran terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru: Pasal 1 (1) Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional. (2) Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran Peraturan Menteri ini. Pasal 2 Ketentuan mengenai guru dalam jabatan yang belum memenuhi kualifikasi akademik diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) akan diatur dengan Peraturan Menteri tersendiri .

Berdasarkan landasan yuridis di atas, diharapkan dengan adanya kegiatan supervisi pengajaran yang dilakukan kepala sekolah di tingkat satuan pendidikan dasar dapat memberikan kontribusi yang positif terhadap mutu pendidikan secara umum di negeri ini, serta mampu memperbaiki kinerja guru terutama pada proses belajar mengajar di kelas.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Supervisi pendidikan adalah serangkaian kegiatan membentuk guru mengembangakan kemampuannya, maka dalam melaksanakan supervisi terhadap guru perlu diadakan kemampuan guru, sehingga dapat ditetapkan aspek mana yang perlu dikembangkan dan bagaimana cara yang tepat dalam proses mengembangkannya. Artinya kepala sekolah dapat memberikan penilaian performasi guru dalam mengelola proses belajar mengajar sebagai suatu proses dalam mengelola penampilan guru dalam proses belajar mengajar. Namun, satu hal yang harus ditegaskan, bahwa setelah melakukan penilaian penampilan guru bukan berarti selesai tentang kegiatan supervisi, tetapi harus dilanjutkan dengan perancangan dan pelaksanaan pengembangan kemampuannya.

Kepala sekolah sebagai supervisor harus diwujudkan dalam kemampuan penyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboratorium, dan ujian. Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis, program supervisi nonklinis dan program supervisi kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan harus diwujudkan dala pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan, dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.

Kepala sekolah dalam kedudukannya sebagai supervisor berkewajiban membina para guru agar menjadi pendidik dan pengajar yang baik. Bagi guru yang sudah baik agar dapat dipertahankan kualiasnya dan bagi guru yang belum baik dapat dikembangkan menjadi lebih baik. Sementara itu, semua guru yang baik dan sudah berkompeten maupun yang masih lemah harus diupayakan agar tidak ketinggalan jaman dalam proses pembelajaran maupun materi yang menjadi bahan ajar.

Agar pelaksanaan tugas-tugas itu dapat dikerjakan dengan baik, maka kepala sekolah dituntut mempunyai berbagai cara dan teknik supervisi terutama yang berhubunganya dengan pelaksanaan tugas-tugas guru dan karyawan, dan pertumbuhan jabatan. Karena kepala sekolah sebagai pemimpin utama dan penggerak dalam pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran.

Kepala sekolah dalam pelaksanaan tugas sebagai supervisor, hendaknya dilaksanakan dengan demokratis ia menghargai pendapat guru, dan memberikan kesempatan untuk melahirkan gagasan dan pendapat. Keputusan yang di ambil dengan jalan musyawarah, karena tujuan yang hendak dicapai adalah tujuan bersama.

Oleh karena itu seperti dikatakan oleh Moh. Rifa’i kepala sekolah dalam menjalankan supervisi hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip berikut;
a. Supervisi bersifat konstruktif dan kreatif
b. Supervisi harus berdasarkan kenyataan
c. Supervisi harus sederhana dan informal
d. Supervisi harus memberikan perasaan aman
e. Supervisi harus didasarkan hubungan profesional
f. Supervisi harus memperhatikan sikap
g. Supervisi tidak bersifat mendesak
h. Supervisi tidak boleh atas kekuasaan pangkat
i. Supervisi tidak mencari kesalahan, kekurangan.
j. Supervisi tidak cepat mengharapkan hasil
k. Supervisi hendaknya bersifat freventif, korektif dan kooperatif.

Dengan demikian administrasi pendidikan yang demokratis akan memperhatikan prinsip dan akhirnya mendatangkan pertukaran pikiran guru dan karyawan sehingga mendorong untuk berinisiatif. Oleh karena itu kepala madrasah sebagai supervisor sekaligus sebagai pemimpin pendidikan, perlu memilih penggunaan administrasi sekolah yang demokratis.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan perlu dikembangakan pada setiap guru oleh kepala sekolah sebagai supervisor adalah kepribadian guru, peningkatan profesi secara kontinue, proses pembelajaran, penguasaan materi pelajaran, keragaman kemampuan guru, keragaman daerah, dan kemampuan guru dalam bekerja sama dengan masyarakat.

Kepala sekolah sebagai supervisor atau pengawas yang tugaskan di lembaga Depag maupun Diknas, harus benar-benar mengerti bantuan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh guru dalam melaksanakan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Meningkatkan mutu pembelajaran menjadi landasan profesionalisme supervisi pendidikan. Karenanya diperlukan perubahan dan pengembangan visi berorientasi pada mutu, kecerdasan siswa, dan paradigma baru pendidikan.

Alfonso, Neagley dan Evans, dan Marks Stroops menggambarkan hubungan supervisi, proses pembelajaran dan hasil belajar. Gambar ini menjelaskan bahwa kualitas supervisi direfleksikan pada peningkatan kemampuan guru meningkatkan hasil belajar pesera didik.

Interaksi dalam kegiatan supervisi pendidikan ditampakkan pada: (1) perilaku supervisor dalam memberi pelayanan kepada guru yang disebut dengan pembinaan profesional dengan memberikan penguatan pada perilaku mengajar guru; (2) supervisor membantu menumbuhkan profesionalisme guru dengan meningkatkan intensitas pelayanan supervisor terhadap guru; dan (3) upaya guru membantu peserta didik mencapai harapan belajarnya dengan menggunakan teknik-teknik yang sesuai dengan tuntunan belajarnya. Artinya kemampuan supervisor memberi supervisi kepada guru mengatasi kesulitan belajar siswa menjadi jaminan dalam bahwa kualitas layanan belajar sesuai harapan.

Dalam pelaksanaanya kepala sekolah sebagai supervisor harus memperhatikan prinsip-prinsip:
1. Hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkhis.
2. Dilaksanakan secara demokratis.
3. Berpusat pada tenaga pendidikan (guru).
4. Dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga pendidikan.
5. Merupakan bantuan profesional.

Kepala sekolah sebagai supervisor dapat dilakukan secara efektif antara lain melalui diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual, dan simulasi pembelajaran.
1. bentuk-bentuk pelakasanaa supervisi kepala sekolah
2. Usaha untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pelaksanaan supervisi pendidikan oleh kepala sekolah, maka kegiatan supervisi perlu dilandasi oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Kegiatan supervisi pendidikan harus dilandaskan pada filsafat pancasila. Hal ini berarti dalam melaksanakan bantuan berupa perbaikan proses belajar mengajar, supervisor harus dijiwai oleh penghayatan terhadap nilai-nilai pancasila.
b. Pemecahan masalah supervisi harus dilandaskan kepada pendekatan ilmiah dan dilakukan secara kreatif.
c. Keberhasilan pelaksanaan supervisi harus dilandaskan kepada pendekatan menunjang prestasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar.
d. Supervisi harus dapat menjamin kontinuitas perbaikan dan perubahan program pengajaran.
e. Supervisi bertujuan mengembangkan keadaan yang favorable untuk terjadi proses belajar mengajar yang efektif.
Landasan-landasan pelaksanaan supervisi tersebut, dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan supervisi pendidikan terhadap guru, yaitu:

Pembinaan Profesional Guru
Proses belajar mengajar merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan antara pendidik dan peserta didik. Guru merupakan sebuah profesi yang membutuhkan keahlian khusus sebagai tenaga yang profesional.keberhasilan peserta didik dipengaruhi oleh keprofesionalan guru yang mampu mengorganisir seluruh pengalaman belajar, sedangkan kepala sekolah mempunyai tugas untuk membantu, memberikan stimulus dan mendorong guru untuk bekerja secara optimal.

Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah, tujuannya adalah membantu guru-guru memperbaiki situasi mengajar. Salah satu tugas dalam rangka meningkatkan mutu proses belajar mengajar di sekolah.
Sahertian menganalisa situasi proses belajar mengajar itu terdiri atas komponen yang perlu ditingkatkan. Komponen-komponen tersebut mencakup beberapa hal yaitu:
1. Membantu guru-guru melihat dengan jelas kaitan antara tujuan-tujuan pendidikan
2. membantu guru-guru agar lebih mampu membimbing pengalaman belajar (learning experience) dan keaktifan belajar (learning activities) murid-murid.
3. Membantu guru menggunakan sumber dan media belajar.
4. Membantu guru dalam menerapkan metode dan teknik mengajar yang lebih berdaya guna dan berhasil guna.
5. Membantu guru dalam menganalisa kesulitan-kesulitan belajar dan kebutuhan murid.
6. Membantu guru dalam menilai proses belajar mengajar dan hasil belajar murid.
Dalam pembahasan ini, peneliti tidak menguraikan keseluruhan komponen, tetapi disini ada beberapa komponen yang sangat berpengaruh terhadap aktifitas guru dalam proses belajar mengajar.

a. Membantu guru dalam persiapan mengajar
Keseluruhan kegiatan guru di dalam kelas maupun di luar kelas sangat membutuhkan kesabaran, ketekunan, kelincahan, ketrampilan dan selalu mempunyai inovasi-inovasi baru. Salah satu tugas pokoknya sebagai pendidikan adalah persiapan mengajar, yaitu hal-hal yang harus dipersiapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

b. Membantu guru dalam mengelola kelas
Pengelolaan kelas merupakan bagian dari tugas guru yang dibimbing oleh supervisor atau kepala sekolah. Hal ini penting dilakukan karena selain dapat memperlancar dalam proses belajar mengajar, pengelolaan kelas yang baik juga dapat menentukan mutu pendidikan yang berkualitas. Hal ini didasarkan pada pendapat bahwa pendukung utama tercapainya tujuan pembelajaran adalah kelas yang baik dalam arti seluas-luasnya.

Berdasarkan pendapat di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengelolaan kelas merupakan sebuah proses atau upaya yang dilakukan oleh guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi yang kondusif dan optimal bagi terselenggaranya kegiatan pembelajaran secara aktif dan efisien.

Daftar Rujukan:
1. Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara), hlm. 79
2. Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro) (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 196-198
3. A. Sitohang, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Pradnya Paramita, 2007), hlm. 206
4. Roben T. Kiyosi; Sharon L. Lechter, For People Who Like Helping People Delapan Nilai Tersembunyi dari Bisnis Pemasangan Jaringan Selain Memperoleh Uang (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 14
5. Depdiknas, Metode dan Teknik Supervisi (Jakarta: Depdiknas, 2008), hlm. 8

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.arminaperdana.blogspot.com , www.kmp-malang.com


Regulasi pendidikan mengemukakan bahwa pemerintah dalam menjalankan supervisi pada tingkatan satuan pendidikan mempunyai dua objek sasaran, yaitu secara personal dan institusional. Secara personal, hal itu terlihat pada model supervisi yang menyebutkan bahwa pengawas bertugas membimbing dan melatih profesionalisme pendidikan dan tenaga kependidikan lainnya di satuan pendidikan binaannya. Sedangkan secara institusional menyebutkan bahwa pengawas bertugas meningkatkan kualitas 8 standar nasional pendidikan pada satuan pendidikan.
Sehubungan dengan hal itu, menurut Supardi ada lima tipe supervisi, yaitu:

1. Tipe Inspeksi
Tipe ini merupakan tipe supervisi yang mewajibkan supervisor turun melihat langsung hal-hal yang dikerjakan targer supervisi. Kegiatan supervisi yang menggunkan tipe ini, apabila target supervisi melakukan dalam aktifitas kerjanya, supervisor dapat menginformasikannya secara langsung kepada target supervisi agar langsung menyadari kesalahannya dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah.

Ketika supervisor menjalankan tipe ini, maka yang harus diperhatikan adalah:
a. Supervisi tidak boleh dilakukan berdasarkan hubungan pribadi maupun keluarga.
b. Supervisi hendaknya tidak kemungkinan terhadap perkembangan dan hasrat untuk maju bagi bawahannya. Supervisi tidak boleh terlalu cepat mengharapkan hasil, mendesak.
c. Supervisi tidak boleh menuntut prestasi di luar kemampuan bawahannya.
d. Supervisi tidak boleh egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik dan saran dari bawaannya.

2. Tipe Laisses Faire
Tipe ini target supervisi diberikan kebebasan dalam menjalankan aktifitasnya. Sebab yang dutamakan dalam supervisi model ini adalah hasil akhir sehingga supervisor tidak begitu intens daslam memfokuskan proses kerja yang dilaksanakan target supervisi. Selain itu apabila kita menggunakan tipe inii, supervisor tidak boleh memaksakan kemauannya (otoriter) kepada orang-orang yang disupervisi.
Supervisor juga diharuskan memberikan argumentasi atau alasan yang rasional tentang tindakan-tindakan serta instruksinya. Hendaknya tidak menonjolkan jabatan atau kekuasaannya agar tidak menghambat kreativitas bawahannya.

3. Tipe Coersive
Tipe coersive (paksaan) supervisor dalam melaksanakan tugasnya turut campur dalam mengembangkan pendidiknya. Tipe supervisi seperti ini diperuntukan bagi para pendidik dan tenaga kependidikan yang masih lemah daslam memahami tugas dan tanggung jawabnya. Tipe seperti ini “terpaksa” dilakukan karena pendapat A. Sitohang yang menyatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia masih sangat dibutuhkan. Karena ternyata dari hasil penelitian menunjukan masih banyak kekurangan dan kelemahan yang masih harus diperbaiki, terutama dalam bidang pengetahuan, kemampuan, dan ketrampilan yang sesuai dengan target organisasi. Dalam hal ini adalah seperti lembaga pendidikan Islam. Dengan adanya tipe ini, diharapkan problem seperti ini akan cepat teratasi.

4. Tipe Training and Guidance
Tipe training and guidance (pelatihan dan pendampingan) merupakan tipe supervisi yang menekankan keefektifan target supervisi. Kegiatan supervisi dilaksanakan dengan berbasis kepada pengembangan minat dan bakat target supervisi. Tipe training and guidance ini cocok digunakan apabila target supervisi masih belum berpengalaman dalam melaksanakan tugas keprofesian pendidikan. Namun, tipe ini dapat diterapkan kepada target supervisi yang telah berpengalaman.

Agar tipe training and guidance ini dapat dijalankan secara efektif, maka supervisor hendaknya juga menyiapkan berbagai macam sikap yang bersinergi dengan tugasnya. Teori Kiyosaki, maka beberapa sikap yang dibutuhkan supervisor tersebut antara lain:
a. Supervisor hendaknya bersikap positif terhadap segala macam persepsi baik yang positif maupun negatif kepada dirinya.
b. Supervisor dituntut untuk dapat memimpin organisasi profesi pengawas untuk dapat meningkatkan kinerjanya dalam hal pengawasan dan pemantauan baik secara institusional (satuan pendidikan) maupun personal (pendidikan dan tenaga kependidikan).
c. Supervisor hendaknya memiliki sikap yang superl dalam berkomunikasi kepada segenap stakeholders pendidikan. Sikap yang aktif, efektif dan menyenangkan dalam berkomunikasi akan memperlancar tugas supervisi. Sehinggak pencapaian target akan terealisasi dengan tepat.
d. Supervisor harus bersikap berani terhadap usaha intimidasi atau tekanan dari pihak lain dalam menjalankan tugas pengawasan dan pembinaan.
e. Supervisor dituntut bertanggung jawab atas hasil supervisi terhadap satuan pendidikan yang dibinanya. Pertanggungjawaban atas hasil kerja merupakan indikasi bahwa supervisor melakukan pembinaan dan pengawasan dengan baik kepada satuan pendidikan yang dibinanya.

5. Tipe Demokratis
Keterlibatan target supervisi sangat diandalkan dalam tipe supervisi demokratis. Hal utama yang ingin dituju adalah adanya kerjasama pembinaan antara supervisor dan target supervisor dan target supervisor. Langkah ini dilakukan agar target supervisi ikut merasakan sendiri terhadap program supervisi yang dijalankan kepadanya. Untuk itu, supervisor tidak boleh boleh bersifat otoriter dalam menjalankan kegiatan supervisi. Keseluruhan tipe supervisi demokratis ini difokuskan ke dalam satuan pendidikan meliputi manajemen kurikulum pembelajaran; kesiswaan; sarana prasarana; ketenagaan; keuangan; hubungan sekolah dengan masyarakat dan layanan khusus.

Daftar Rujukan:
1. Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. (Jakarta: Bumi Aksara), hlm. 79
2. Ary H. Gunawan, Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro) (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 196-198
3. A. Sitohang, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Pradnya Paramita, 2007), hlm. 206
4. Roben T. Kiyosi; Sharon L. Lechter, For People Who Like Helping People Delapan Nilai Tersembunyi dari Bisnis Pemasangan Jaringan Selain Memperoleh Uang (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 14
5. Depdiknas, Metode dan Teknik Supervisi (Jakarta: Depdiknas, 2008), hlm. 8

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: kakus.us www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.arminaperdana.blogspot.com , www.kmp-malang.com

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”\@MS Mincho”;} table.MsoTableGrid {mso-style-name:”Table Grid”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-priority:59; mso-style-unhide:no; border:solid black 1.0pt; mso-border-themecolor:text1; mso-border-alt:solid black .5pt; mso-border-themecolor:text1; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-border-insideh:.5pt solid black; mso-border-insideh-themecolor:text1; mso-border-insidev:.5pt solid black; mso-border-insidev-themecolor:text1; mso-para-margin:0in; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”\@MS Mincho”; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

Teknik Supervisi Pendidikan

Secara lengkap, gambaran tentang teknik supervisi pendidikan adalah seperti yang tergambar dalam tabel sebagai berikut.


No

Jenis Pembinaan

Teknik Supervisi

Tujuan

Kelebihan

Kelemahan

1

Kunjungan kelas

Observasi PBM di kelas oleh Penilik, / Kepala Sekolah

Mengetahui cara mengajar guru melaksanakan PBM

Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan, mengetahui kelemahan untuk perbaikan, memberikan saran sesuai dengan kebutuhan

Guru merasa canggung dan kurang bebas

2

Pertemuan Pribadi

Penilik / Kepala Sekolah bertatap muka langsung dengan guru

Bantuan khusus

Berdialog langsung, lebih terarah

Agak sulit menemukan waktu

3

Rapat Staf

Sekolah bertatap muka langsung dengan guru

Bantuan Umum

Bantuan diberikan kepada seluruh guru dalam satu kali pertemuan, pertukaran pikiran secara umum

Agak sulit menentukan dan cukup menyita waktu

4

Kunjungan antar kelas

Guru dari salah satu kelas mengunjungi kelas lain dalam satu sekolah

Mengetahui cara guru lain dalam KBM dan pengelolaan kelas

Hal-hal yang baik dapat dijadikan contoh, hal yang kurang dapat didiskusikan

Mengganggu kelas lain dalam KBM, kelas sendiri ditinggalkan

5

Kunjungan sekolah

Oleh Penilik / Kepala sekolah

Mengetahui keadaan sebenarnya

Dapat memberikan bimbingan aktual

Kurang demokratis

Dengan pemberitahuan

Guru mengetahui maksud dan tujuan kunjungan

Guru dapat menunjukan hasil usahanya

Tidak mencerminkan keadaan sehari-hari

Undangan

Guru ingin diketahui kebrhasilannya

Dapat melayani kebutuhan khusus setempat

Perlu penyediaan waktu yang tepat

6

Kunjungan antar sekolah

Guru dari sekolah lain dikunjungi oleh suatu sekolah

Mengetahui KBM di sekolah lain serta pengelolaan kelas dan sekolahnya

Dapat mengetahui kelebihan yang dapat dikembangkan, mengetahui kelemahan untuk perbaikan, memberikan saran sesuai dengan kebutuhan

Perlu biaya yang banyak, waktu yang tepat, sekolah jadi kurang efektif.

Tabel 2.1. Teknik supervisi pendidikan

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.arminaperdana.blogspot.com , www.kmp-malang.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.