Arsip

Teori Belajar

Berbagai upaya sudah dilakukan agar anak semangat belajar. Tapi, hasilnya justru sebaliknya. Seringkali penyebabnya muncul dari orangtua.

Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.

Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

1. Komunikasi tidak efektif

Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”

Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”

Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan

‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.

Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas

Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.

Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.

Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik

Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.

Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek

Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya.

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”

Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”

Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.

sumber: http://ahzami.wordpress.com/2008/06/13/empat-penyebab-anak-malas-belajar/

Disamping ditinjau dari segi proses, keberhasilan pembelajaran dapat dilihat dari segi hasil. Asumsi dasar adalah proses pembelajaran yang optimal memungkinkan hasil belajar yang optimal pula. Ada korelasi antara proses pembelajaran dengan hasil yang dicapai. Makin besar usaha untuk menciptakan kondisi proses pembelajaran, maka makin tinggi pula hasil atau produk dari pembelajaran tersebut (Widjaja, 1987).
1. Menentukan keberhasilan Pembelajaran Siswa
a. Dari segi perubahan tingkah laku secara menyeluruh (komprehensif) yang terdiri dari unsur kognitif, afektif dan psikomotorik.
b. Dari segi daya guna pengaplikasian dalam kehidupan siswa, terutama dalam pemecahan masalah yang dihadapinya.
c. Dari segi pemahaman materi atau konsep yang diberikan (Widjaja, 1987:58).


2. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu :
a. Faktor dari dalam diri siswa
Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai, seperti yang dikemukakan oleh Clark (1981:12) bahwa hasil belajar di sekolah 70 % dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30 % dipengaruhi oleh lingkungan. Selain faktor kemampuan, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (Sudjana, 2000:70).

b. Faktor lingkungan
Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil di sekolah adalah kualitas pembelajaran yaitu tinggi rendah atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran, ada tidaknya fasilitas atau alat, termasuk laboratorium dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu hasil belajar di sekolah dipengaruhi olek kemampuan siswa dan kualitas pembelajaran (Sudjana, 2000:71).

Belajar diartikan sebagai suatu perubahan individu karena pengalaman (Slavin, 1994:98). Perubahan ini disebabkan oelh perkembangan yang bertahap dalam belajar. Sedangkan Sadirman (1990) mendefinisikan belajar sebagai suatu usaha seseorang secara aktif dan sadar untuk melakukan perubahan menuju kesempurnaan terhadap dirinya. Definisi tersebut mengandung makna bahwa dalam belajar dibutuhkan aktivitas sadar sebab berarti melakukan perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.

Lebih lanjut Benjamin S.Bloom (1990:1) mendefinisikan belajar sebagai proses dimana otak atau pikiran mengadakan reaksi terhadap kondisi-kondisi luar dan reaksi-reaksi itu dapat dimodifikasi dengan pengalaman-pengalaman yang dialami sebelumnya. Bila kondisi lingkungan belajar kondusif maka respon yang diberikan siswa akan menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar lebih efektif. Respon tersebut berupa aktivitas belajar positif selama proses pembelajaran berlangsung, sehingga hasil belajar akan tercapai dengan baik.

Kegiatan belajar mengajar yang berorientasi pada keberhasilan tujuan, sangat memerlukan aktivitas siswa sebagai subjek didik yang mempunyai potensi dan energi untuk melaksanakan kegiatan belajar atas bimbingan guru (Sardiman, 1990:97). Dalam kegiatan belajar mengajar guru berperan sebagai fasilitator dan motivator untuk menciptakan lingkungan pembelajaran kondusif agar siswa dapat belajar lebih efektif, sebab lingkungan belajar kondusif sangat diperlukan siswa agar lebih berkonsentrasi dalam proses belajar mengajar. Dengan demikian belajar akan tercapai dengan baik yang ditandai adanya perubahan tingkah laku dan peningkatan hasil belajar.

Namun mengingat kondisi siswa yang sangat heterogen di dalam kelas, muncul karakteristik siswa yang berbeda-beda. Hal ini dapat menjadi faktor penghambat bagi guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Perbedaan karakterristik siswa dalam pembelajaran sering menimbulkan kesenjangan di antara siswa, sehingga mereka cenderung membuat kelompok dengan teman sebayanya yang mempunyai kesamaan minat dan potensi.

Terdapat kecenderungan bahwa siswa lebih mudah menerima dan memahami informasi dari teman sebayanya disebanding dari orang lain termasuk guru (Arikunto, 1996:62). Siswa merasa malu untuk bertanya atau memberikan pendapat selama proses belajar mengajar. Akibatnya proses belajar tampak pasif. Oleh karena itu guru perlu mengupayakan pembaharuan dalam pengelolaan kelas, salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran kooperatif.

Daftar Pustaka Klik DI SINI 

Hakikat Belajar
Dalam keseluruhan kegiatan pendidikan yang berlangsung di sekolah, yang paling utama adalah kegiatan belajar, ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai peserta didik.

Belajar merupakan suatu proses usaha atau interaksi yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu yang baru dan perubahan keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman itu sendiri. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996:13) pengertian belajar adalah “(1) berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu; (2) Berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”.

Rusyan (1998: 8) mengemukakan bahwa “belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap atau mengenai sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai aspek kehidupan atau pengalaman yang terorganisasi”. Selanjutnya Dewey (1998:18) mengemukakan bahwa belajar adalah “integrasi dari pengalaman masa lalu dengan keadaan seseorang pada waktu sekarang untuk kemudian diaplikasikan di masa datang”.

Senada dengan pendapat itu dari Davidoff (1998:198) menjelaskan bahwa belajar adalah “sebagai perubahan secara selektif yang berlangsung lama pada perilaku yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman masa lalu”.

Dari beberapa pandapat di atas dapat dijelaskan bahwa belajar adalah suatu perubahan atau transformasi yang terjadi dalam proses mental yang diperoleh melalui praktik atau latihan yang dapat menunjang perubahan tingkah laku. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengertian belajar adalah setiap kegiatan atau usaha untuk memperoleh pengetahuan, pengertian, dan keterampilan tertentu sehingga terjadi perubahan atau peningkatan kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Daftar Pustaka Klik DI SINI 

Agama Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin sangat menganjurkan kepada manusia untuk selalu belajar, bahkan Islam mewajibkan kepada setiap orang yang beriman belajar. Setiap apa yang diperintahkan Allah untuk dikerjakan, maka dibalik perintah Allah tersebut pasti terkandung hikmah atau sesuatu yang penting bagi manusia itu sendiri. Demikian juga dengan perintah untuk belajar, beberapa hal yang penting berkaitan dengan belajar antara lain:
1). Bahwa orang yang belajar akan dapat memiliki ilmu pengetahuan yang akan berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya. Sehingga dengan ilmu pengetahuan yang didapatkannya manusia akan dapat mempertahankan kehidupannya. Dengan demikian orang yang tidak pernah belajar mungkin mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan atau mungkin ilmu pengetahuan yang mereka miliki sangat terbatas, sehingga mereka akan kesulitan ketika harus memecahkan persoalan-persoalan kehidupan yang dihadapinya. Karena itu kita diajak oleh Allah untuk merenungkan, mengamati, dan membandingkan, antara orang-orang yang mengetahui dan tidak, sebagaimana yang terdapat pada firman Allah QS Al-Zumar : 9

“ Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya, hanya orang-orang yang berakalah yang mampu menerima pelajaran”.

2). Allah melarang manusia untuk tidak mengetahui segala sesuatu yang manusia lakukan. Apapun yang dilakukan manusia mereka harus mengetahui kenapa mereka melakukan sesuatu perbuatan. Dengan belajar kita dapat menengetahui apa yang kita lakukan, sehingga manusia dapat memahami tujuan dari segala perbuatannya. Selain itu, dengan belajar manusia akan memiliki ilmu pengetahuan dan terhindar dari taqlid buta, karena setiap apa yang kita perbuat akan dimintai pertanggungan jawaban oleh Allah, sebagaimana firmanNYA pada Al-Isra: 36,

“Dan janganlah kamu membiasakan diri pada apa yang kamu tidak ketahui, karena sesungguhnya penglihatan, pendengaran, dan daya nalar pasti akan ditanyai tentang hal itu”.

Aktivitas mengetahui adalah hasil dari belajar. Hanya orang-orang yang belajarlah yang mampu memahami:

Dan perumpamaan-perumpamaan ini kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya, kecuali orang-orang yang berilmu. (QS. Al-Ankabut/29:43).

Dan hanya orang-orang yang berilmulah yang takut kepada Allah:
“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama…(Qs.Faatir/35:28).

3). Dengan ilmu yang dimiliki oleh manusia melalui proses belajar, maka Allah akan memberikan derajat yang lebih tinggi kepada hambanya. Hal ini dinyatakan dalam surat Mujadalah: 11 yang berbunyi :

“…. niscaya Allah akan meninggikan beberapa derajat kepada orang-orang beriman dan berilmu”.

Ilmu dalam hal ini bukan hanya pengetahuan tentang agama saja, tetapi juga ilmu non-agama yang relevan dengan tuntutan kemajuan zaman. Selain itu, ilmu tersebut juga harus bermanfaat bagi kehidupan orang banyak dan diri orang yang menuntut ilmu.

Pendapat bahwa belajar sebagai aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, ternyata bukan hanya sebagai pendapat dari hasil renungan manusia semata. Ajaran agama sebagai pedoman hidup manusia juga menganjurkan manusia untuk selalu melakukan kegiatan belajar. Walaupun tidak ada ajaran agama yang secara detail membahas tentang belajar, namun setiap ajaran agama baik secara eksplisit maupun implisit telah menyinggung bahwa belajar adalah aktivitas yang dapat memberikan kebaikan kepada manusia.

Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-qur’an dan Al- sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan (wisdom), serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Di dalam al-Qur’an, kata al-‘ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama, yang diwahyukan kepada Rasulullah saw., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia:

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah. Dan Tuhanmullah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘Alaq/96:1-5).

Sejak turunnya wahyu yang pertama kepada nabi Muhammad saw., Islam telah menekankan perintah untuk belajar, ayat pertama juga menjadi bukti bahwa Al-quran memandang penting balajar agar manusia dapat memahami seluruh kejadian yang ada disekitarnya, sehingga meningkatkan rasa syukur dan mengakui akan kebesaran Allah. Pada ayat pertama dalam surat Al-Alaq terdapat kata Iqra’, dimana melalui malaikat jibril Allah memerintahkan kepada Muhammad untuk “membaca” (iqro’). Menurut Shihab (1997) iqra’ berasal dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun inilah lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Berbagai makna yang muncul dari kata iqra’ tersebut sebenarnya secara tersirat menunjukkan perintah untuk melakukan kegiatan belajar, karena dalam belajar juga mengandung kegiatan-kegiatan seperti mendalami, meneliti, membaca, dn lain sebagainya.

Masih menurut Shihab (1997), wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang dibaca, karena Al-qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah,dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda –tanda sejarah, diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Dengan kata lain obyek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.

Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ngulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu mengisyaratkan mengulang-ulang bacaan bismirobbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru.

Selain al-Qur’an (firman Allah) yang menganjurkan umat Islam untuk belajar, di dalam hadis Nabi Muhammad saw. juga memuji pentingnya ilmu dan orang-orang yang terdiidik. Beberapa hadis tentang pentingnya belajar dan menuntut ilmu, di antaranya adalah sebagai berikut:

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.

Carilah ilmu walaupun di negeri Cina.

Carilah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.

Para ulama itu adalah pewaris para Nabi.

Pada hari kiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada, maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.

A. Ciri-ciri Belajar
Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai belajar nampak adanya beberapa cirri-ciri belajar yaitu,
1. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkahlaku (change behavior). Ini berarti bahwa hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkahlaku yaitu adanya perubahan tingkahlaku, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak terampil menjadi terampil, dan lain sebagainya. Tanpa pengamatan dari tingkahlaku hasil belajar kita tidak dapat mengetahui ada tidaknya hasil belajar. Karena perubahan hasil belajar hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang dapat diamati.
2. Perubahan perilaku relative permanent, ini diartikan bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah-berubah, akan tetapi dilain pihak tingkahlaku tersebut tidak akan terpancang seumur hidup.
3. Perubahan tingkah laku tidak harus segera dapat diamati pada saat proses belajar sedang berlangsung, perubahan prilaku tersebut bersifat potensial.
4. Perubahan tingkahlaku merupakan hasil latihan atau pengalaman.
5. Pengalaman atau latihan itu dapat memberi penguatan. Sesuatu yang memperkuat memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.

B. Prinsip-prinsip
Didalam tugasnya melaksanakan proses belajar mengajar, seorang guru perlu mengingat beberapa prinsip-prinsip belajarl sebagaimana yang disebutkan (Davis (1971 dalam Soekmtao dan Winataputra,1997) sebagai berikut;
1. Apapun yang dipelajari siswa, dialah yang harus belajar bukan oang lain. Untuk itu siswalah yang harus bertindak aktif.
2. Setiap siswa belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya
3. siswa akan dapat belajar dengan baik bila mendapat peguatan langsung pada setiap langkah yang dilakukan selama proses belajar.
4. Penguasaan yang sempurna dari setiap langkah yang dilakukan siswa akan membuat proses belajar lebih berarti.
5. Siswa akan lebih meningkat motivasinya untuk belajar apabila ia diberi tanggungjawab serta kepercayaan penuh atas belajarnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.