Arsip

Teori Motivasi


Motivasi menurut Anderson dan Kyprianou (1994:63-64) adalah sesuatu yang membuat orang berkehendak atau berperilaku dalam cara-cara tertentu. Anderson dan Kyprianou (1994:64) menjelaskan bahwa motivasi merupakan konsep yang kita gunakan untuk mengambarkan dorongan-dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Menurut Mitchell yang diedit oleh Timpe (1991:445) menyatakan bahwa motivasi terdiri dari proses psikologis tertentu yang menyebabkan timbulnya gairah, pengarahan, dan kegigihan dari tindakan sukarela yang menuju ke sasaran.
Gitosudarmo dan Sudito (1997:28) menyatakan bahwa motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan, mengarahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu. Di sisi lain, Moekiyat (2000:63) memperkuat pengertian motivasi sebagai suatu proses psikologis yang azasi dalam perilaku manusia dan memberikan dasar untuk teori-teori dan penerapan motivasi kerja yang diperlukan. Menurut Wexley dan Yukl yang dikutip oleh M. As’ad (1986:45) mengartikan motivasi sebagai the process by which behavior is energized and directed.
Oemar Hamalik (2000:72) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Selanjutnya, motivasi sebagai suatu sistem menurut Moekiyat (2000:70-71) ada tiga unsur yang saling mempengaruhi dan saling bergantung, yaitu:

1) Kebutuhan-kebutuhan
Definisi kebutuhan dengan satu kata yang terbaik adalah kekurangan. Dalam arti homeostatis kebutuhan-kebutuhan timbul apabila ada suatu ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis.
2) Perangsang-perangsang
Dengan sedikit pengecualian, perangsang-perangsang atau motif-motif diperlukan untuk mengurangi kebutuhan-kebutuhan. Suatu perangsang dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu kekurangan akan pengarahan. Perangsang-perangsang merupakan inti dari proses memotivasi.
3) Tujuan-tujuan
Suatu tujuan dalam siklus motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu yang akan meringankan suatu kebutuhan dan mengurangi suatu perangsang. Dengan demikian, mencapai suatu tujuan akan cenderung memperbaiki imbalan fisiologis atau psikologis dan akan mengurangi atau menghilangkan perangsang.
Pengertian motivasi berkaitan erat dengan timbulnya suatu kecenderungan untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan. Oleh karena itu, proses motivasi menurut Gitosudarmo dan Sudito (1997:28) terdiri dari beberapa tahapan proses yang meliputi:
1) Munculnya suatu kebutuhan yang belum terpenuhi menyebabkan adanya ketidakseimbangan (tention)k dalam diri seseorang dan berusaha untuk menguranginya dengan perilaku tertentu;
2) Seseorang kemudian mencari cara-cara untuk memuaskan keinginan tersebut;
3) Seseorang mengarahkan perilakunya ke arah pencapaian tujuan atau prestasi dengan cara-cara yang telah dipilihnya dengan didukung oleh kemampuan, keterampilan, maupun pengalamannya;
4) Penilaian prestasi dilakukan oleh diri sendiri atau orang lain (atasan) tentang keberhasilannya dalam mencapai tujuan. Perilaku yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan kebanggaan biasanya dimulai oleh yang bersangkutan. Sedangkan perilaku yang ditujukan untuk memenuhi suatu kebutuhan finansial atau jabatan, umumnya dilakukan oleh atasan atau pimpinan organisasi;
5) Imbalan atau hukuman yang diterima atau dirasakan tergantung kepada evaluasi atau prestasi yang dilakukan; dan
6) Akhirnya, seseorang menilai sejauhmana perilaku dan imbalan telah memuaskan kebutuhannya, maka keseimbangan atau kepuasan atas kebutuhan tertentu dirasakan. Akan tetapi apabila masih ada kebutuhan yang belum terpenuhi, akan terjadi proses pengulangan dari siklus motivasi dengan perilaku yang berbeda.
Oemar Hamalik (2000:72-74) menyatakan bahwa antara kebutuhan –motivasi – perbuatan/tingkah laku – tujuan dan kepuasan ada hubungan yang kuat. Tiap perbuatan senantiasa berkat adanya dorongan motivasi. Timbulnya motivasi disebabkan adanya suatu kebutuhan dan karenanya perbuatan tersebut terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Tingkah laku yang telah memberikan kepuasan terhadap suatu kebutuhan cenderung untuk diulang kembali, sehingga menjadi lebih kuat dan lebih mantap.
Timpe (1991:209) merangkum beberapa sifat yang melandasi definisi teknis motivasi, meliputi:
1) Secara tradisional, motivasi dianggap sebagai fenomena individual. Setiap individu unik dan semua teori motivasi utama diijinkan dengan satu dan lain jalan, memperkenankank keunikan ini supaya terlihat (yaitu setiap orang mempunyai kebutuhan, harapan, nilai, sikap, riwayat, perkuatan, dan sasaran yang berbeda);
2) Motivasi biasanya dijelaskan sebagai sengaja, yaitu motivasi yang berada di bawah kendalik pegawai. Kebanyakan perilaku dipengaruhi oleh motivasi seperti yang banyak terlihat (yaitu usaha dalam pekerjaan) dipandang khas sebagai tindakan yang dipilih oleh individu untuk dilaksanakan;
3) Motivasi itu bermuka banyak. Dua faktor penting ialah timbulnya gairah (pengaktifan, pemicu), pengarah (pilihan) perilaku. Timbulnya gairah telah memuaskan perhatian pada pertanyaan: apa yang dapat membuat orang menjadi aktif, keadaan apa yang membuat orang menjadi bergairah sehingga mereka ingin berlaku sebaik mungkin. Dan jika seseorang sudah digairahkan, apa yang membuat ia akan menuju ke arah tertentu; dan
4) Maksud dari teori perilaku agar dapat meramal perilaku. Motivasi berkepentingan dengan tindakan dan kekuatan intern dan ekstern yang mempengaruhi perilaku tidak dan seseorang. Motivasi bukanlah perilaku itu sendiri dan bukan pula performa. Perilaku adalah kriterium yang dipilih. Dan dalam beberapa kasus tindakan yang dipilih merupakan pencerminan yang baik dari performa. Tetapi proses psikologis, perilaku sebenarnya dan performa seluruhnya adalah barang yang berbeda. Motivasi menjadi derajat sampai dimana individu ingin dan memilih untuk bertingkah laku spesifik tertentu.
Selanjutnya Timpe (1991:121) merangkum beberapa pada dari beberapa pakar manajemen tentang faktor motivasi, sebagai berikut:
1) Carrel dan Goodman, menyarankan bahwa orang itu termotivasi karena ingin ke dalam, jika percaya mendapat perlakuan adil, maka mereka akan berperilaku sedemikian rupa yang menurut kepercayaan mereka akan mengembalikan perasaan ke dalam yang hilang. Orang lebih dapat menerima imbalan berlebih daripada imbalan yang berkurang. Jika iak merasa mendapat imbalan berkurang dan tidak dapat berbuat banyak untuk mempengaruhinya mereka cenderung menjadi tidak puas, mengurangi bekerja dan lebih sering absen dibanding dengan bila mereka merasa diperlakukan dengan adil.
2) Creight, ada sistem lima peran untuk memotivasi peningkatan performa (kinerja) yang meliputi:
a) peran penentu sasaran;
b) pelatih;
c) penasehat;
d) penilai; dan
e) pembuatan keputusan
Jika kelima peran yang lebih kecil ini dapat saling dipadukan dengan berhasil, maka hal tersebut membuka peluang bagi manajer dan pengawas untuk memotivasi peningkatan performa pegawai.
3. Kinlaw, ada empat faktor yang menunjang performa, yaitu:
1) Pegawai mengerti dengan jelas yang diharapkan darinya;
2) Pegawai mempunyai kompetensi untuk melaksanakan;
3) Pegawai didukung oleh lingkungan kerja yang memadai; dan
4) Pegawai termotivasi untuk berperforma (kinerja tinggi).
Dalam pengertian faktor yang terakhir ini, motivasi adalah keinginan untuk berperforma (berkinerja tinggi) sesuai dengan pengharapnnya. Maka, motivasi merupakan salah satu langkah di antara empat faktor yang menentukan performa.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian motivasi di atas, maka dapat diartikan oleh penulis bahwa motivasi merupakan kekuatan rela;tif dan dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk berusaha mengaktualisasikan potensi terbaiknya, guna memenuhi keinginan sesuai dengan kebutuhannya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajarnya. Motivasi disini merupakan syarat mutlak didalam belajar. Oleh karena itu seorang guru disini diharapkan bisa memberi motivasi belajar kepada siswa.

Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya “psikologi belajar dan mengajar” menyatakan motivasi adalah suatu perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Adapun pengertian motivasi menurut para pakar pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menurut James O. Whittaker menyatakanan motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
2. Menurut Mc Donal, “Motivation is a nergy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”. Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.
3. Menurut Ghuthrie motivasi hanya menimbulkan variasi respons pada individu, dan bila dihubungkan dengan hasil belajar, motivasi tersebut bukan instrumental dalam belajar .
4. Menurut Wood Worth dan Marques motif adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya.

Dari devinisi atas dapat diartikan bahwa motivasi adalah sebab-sebab yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu aktivitas atau perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi disini berasal dari dalam diri sendiri, dan juga motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar individu tersebut.

Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205-206.
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 72

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada kesempatan ini, pada bab ini akan dijelaskan lima teori yaitu: teori hedonisme, teori naluri, teori reaksi yang dipelajari, teori daya pendorong dan teori kebutuhan. Adapun perincianya sebagai berikut:
1. Teori Hedonisme
Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Oleh karena itu setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternativ pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan, dan sebagainya.

Implikasi dari teori ini ialah adanya anggapan bahwa semua orang akan ceenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.

2. Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok yaitu: (1). Dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri. (2). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri. (3). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau mempertahankan jenis. Dengan demikian ketika naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan apapun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.

Sering kali kita temukan seseorang bertindak melakukan seseuatu karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi kita untuk menetukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu. Sebagai contoh: seorang mahasiswa tekun dan rajin belajar meskipun dia hidup didalam kemiskinan bersama keluarganya. Hal apakah yang menggerakkan mahasiswa itu tekun dan rajin belajar? Mungkin karena ia benar-benar ingin menjadi pandai (naluri mengembangkan diri). Akan tetapi mungkin juga karena ia ingin meningkatkan karier pekerjaanya sehingga dapat hidup senang bersama keluarganya dan dapat membiayai sekolah anak-anaknya (naluri mengembangkan atau mempertahankan jenis dan naluri mempertahankan diri).

3. Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan ditempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan ditempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan.

Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita dapat mengetahui polah tingkah. lauknya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah.

4. Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun, cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar belkang kebudayaan masing-masing.

Oleh karena itu, menurut teori ini, bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya. Memotivasi anak didik yang sejak kecil dibesarkan didaerah gunung kidul misalnya, kemungkinan besar akan berbeda dengan cara memberikan motivasi pada anak yang dibesarkan di kota medan meskipun masalah yang dihadapinya sama.

5. Teori kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pemimpin ataupun pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang, ia berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya.

Berikut ini salah sartu dari teori kebutuhan yang dimaksud. Teori Abraham Maslow. Sebagai seorang pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Keterangan:
a. Kebutuhan fisiologis: kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan fital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dansebagainya.
b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil, dan sebagainya.
c. Kebutuhan sosial (social needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama.
d. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau setatus, pangkat, dan sebagainya.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization), seperti antara lain: kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas , dan ekspresi diri.

Tingkat atau hirarki kebutuhan dari maslow ini tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang –yang akan dimotivasi- bertindak melakukan sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandanagan atau falsafah hidup, cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.

Setiap individu tidak akan berusaha meloncat kepemuasan kebutuhan ke tingkat atas sebelum kebutuhan yang ada dibawahnya terpuaskan. Bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah berada dalam keadaan sepenuhnya puas. Hal ini terlihat dari kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia tidak pernah berhenti menuntut adanya pemuasan. Kebutuhan yang pada suatu saat telah terpuaskan dilain saat akan kembali menuntut adanya pemuasan. Demikian seterusnya sehingga tuntutan dan pemuasan kebutuhan membentuk lingkaran yang tidak berujung.

Rujukan:
1. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 74-78.
2. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989), hlm. 223
3. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
4. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com , www.arminaperdana.blogspot.com

Proses motivasi dan berbagai factor yang mempengaruhinya telah dibahas oleh para pakar motivasi dari sudut pandang yang berbeda-beda dan menghasilkan pengertian yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena motivasi sangatlah komplek yang tidak bisa didefinisikan dan diinterpretasikan dari sust pandang tertentu saja. Bukan berarti definisi yang ada semuanmya salah, akan tetapi semuanya saling mendukung satu sama lain. Suatu hal yang lumrah dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak eksak.

Motivasi tidak bisa dibahas dengan cermat apabila masih difahami sebagai suatu kepribadian (personality) yang dimiliki oleh sementara orng saja. Hal ini lebih baik dimengerti dalam komitmennya dengan dampak lingkungan terhadap nama orng bereaksi. Maksudnya penerjemahan dan penafsiran tentang motivasi sulit untuk bisa diterima oleh setiap indiviudu dengan berbagai latar beakang dan karakteristiknya, karena proses terbentuknya motivasi antara satu orang dengan yang lainnya tidak mesti sama, sehingga menghasilkan tingkat motivasi yang berbeda pula walaupun rangsangannya sama. Motivasi itu hendaknya dipahami dengan melihat reaksi individu atas berbagai rangsangan yang ada.

Pada satu sisi motivasi tampak sebagai kebutuhan dan sekaligus sebagai pendorong yang dapat menggerakkan semua potensi setiap orang. Sedangkan disisi lain motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan daya dan potensi yang ada, sehingga menghasilkan kinerja yang bagus demi tercapainya tuuan yang telah ditetapkan, baik tujuan organisasi maupun tujuan individual. Dalam hubungan inilah Raymond B. Cattel menemukan suatu kenyataan bahwa konsep motivasi berkaitan erat dengan konsep “sintality”. Dengan “sintality” atau sintalitas diartikan “pencapaian ” atau “pemuasan tujuan”.

Konsep lain yang bertalian dengan motivasi adalah konsep yang biasanya diutarakan dengan istilah “need” atau kebutuhan dan istilah “incetive” atau perangsang. Kedua istilah ini bagaikan dua sisi dari mata uang logam yang sama. Hubungan kedua logam ini sebanding dengan hubungan konsep tujuan dan alat untuk mencapai tujuan itu (Ends and mean concept). Perangsang atau insentif ini dapat dipandang alat untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan.

Keadaan motivasi seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu situasi motivasi yang subyektif dan situasi motivasi yang obyektif. Yang subyektif merupakan keadaan yang terdapat dalam diri seseorangyang disebut need (kebutuhan), drive (dorongan), desire (keinginan), dan Impuls (bisikan-bisikan hati). Sedangkan yang obyektif adalah keadaan yang berada diluar seseorang yang biasa disebut dengan istilah incentive (rangsangan) dan goal (tujuan). Suatu kesimpulan yang dapat diambil adalah bagaimana konsep motivasi didefinisikan atau ditafsirkan tidak akan lepas dari tiga komponen dasar yaitu tujua, kebutuhan dan dorongan atau rangsangan.

Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992).
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
4. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989)

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang



Model dan Prosedur Penerapan Pendekatan Belajar Aktif (Active Learning Strategy)
Berikut ini adalah beberapa metode / strategi pembelajaran aktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar (khususnya mata pelajaran pendidikan agama Islam), diantara metode-metode tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pembelajaran Terbimbing (Guided Teaching)
Dalam tehnik ini, guru mengajukan satu atau beberapa pertanyaan untuk melacak pengetahuan siswa atau mendapatkan hipotesis atau simpulan mereka dan kemudian memilah-milahnya menjadi sejumlah kategori. Metode pembelajaran terbimbing merupakan selingan yang mengasyikkan di sela-sela cara pengajaran biasa. Cara ini memungkinkan guru untuk mengetahui apa yang telah di ketahui dan dipahami oleh siswa sebelum memaparkan apa yang guru ajarkan. Metode ini sangat berguna dalam mengajarkan konsep-konsep abstrak. (Silberman, 1996: 137)

Prosedur:
1. Ajukan pertanyaan atau serangkaian pernyataan yang menjajaki pemikiran siswa dan pengetahuan yang mereka miliki. Gunakan pertanyaan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban, semisal “Bagaimana kamu menjelaskan seberapa cerdasnya seseorang?”.
2. Berikan waktu yang cukup kepada siswa secara berpasangan atau berkelompok untuk membahas jawaban mereka.
3. Perintahkan siswa untuk kembali ketempat masing-masing dan catatlah pendapat mereka. Jika memungkinkan, seleksilah jawaban mereka menjadi beberapa kategori terpisah yang terkait dengan kategori atau konsep yang berbeda semisal “kemampuan membuat mesin” pada kategori kecerdasan kinestetika-tubuh.
4. Sajikan poin-poin pembelajaran utama yang ingin anda ajarkan. Perintahkan siswa untuk menjelaskan kesesuaian jawaban mereka dengan poin-poin ini. Catatlah gagasan yang memberi informasi tambahan bagi poin pembelajaran dari pelajaran anda. (Silberman, 1996: 137-138)

Variasi:
a. Jangan memilah-milah jawaban siswa menjadi daftar yang terpisah. Sebagai gantinya, buatlah satu daftar panjang dan perintahkan mereka untuk mengkategorikan gagasan mereka terlebih dahulu sebelum anda membandingkannya dengan konsep yang ada dipikiran anda.
b. Mulailah pelajaran dengan tanpa kategori yang sudah ada dibenak anda. Cermati bagaimana siswa dan anda secara bersama bisa memilah-milah gagasan-gagasan mereka menjadi kategori yang berguna. (Silberman, 1996: 138)
2) Pemecahan Masalah (Prblem Solving)
Strategi pemecahan masalah adalah satu strategi yang mendorong siswa mengawasi langkah-langkah yang mereka gunakan dalam memecahkan satu masalah. Mereka akan ‘menunjukkan dan menjelaskan’ bagaimana mereka menyelesaikan masalah itu. Dengan menganalisis langkah-langkah yang rinci, guru dapat memperoleh informasi yang berharga tentang kecakapan pemecahan masalah yang dimiliki oleh siswa-siswa. Untuk menjadi pemecah masalah, siswa perlu belajar berbuat dari pada hanya mengoreksi jawaban-jawaban masalah yang ada dalam buku teks. (Hisyam, 2005: 200)

Prosedur:
1. Pilihlah satu, dua atau tiga masalah di antara masalah-masalah yang telah dipelajari oleh siswa.
2. Pecahkan sendiri (guru) masalah-masalah itu dan tulis semua langkah-langkah atau prosedur yang dilalui untuk memecahkan masalah itu. (Catat berapa lama anda menyelesaikan masalah itu).
3. Kalau anda mendapatkan masalah memerlukan waktu yang banyak atau terlalu sulit, ganti dengan yang lain.
4. Sewaktu anda mendapatkan satu masalah yang bagus yang dapat anda pecahkan dan dokumentasikan kurang dari tigapuluh menit, berikan mereka kepada siswa. (Asumsikan bahwa siswa akan menyelesaikan sekitar satu jam).
5. Buatlah perintah atau petunjuk kerja dengan sangat jelas.
6. Berikan dan jelaskan evaluasi masalah-masalah kepada siswa.
7. Jelaskan kepada mereka bahwa ini bukan tes atau ulangan atau quiz.
8. Berikan waktu yang layak kepada siswa untuk mengerjakan tugas ini,
9. Setelah siswa mengerjakan tugas, anda mengumpulkannya dan siap untuk melakukan koreksi atau evaluasinya dengan criteria yang sudah dibuat.
10. Setelah dikoreksi, anda mengembalikannya kepada siswa. (Hisyam, 2005: 200-201)
3) Belajar ala Permainan Jigsaw (Learning Jigsaw)
Belajar ala Jigsaw (menyusun potongan gambar) merupakan tehnik yang paling banyak dipraktikkan. Tehnik ini serupa dengan pertukaran kelompok-dengan kelompok, namun ada satu perbedaan penting yakni tiap siswa mengajarkan sesuatu. Ini merupakan alternative menarik bila ada materi belajar yang bias disegmentasikan atau dibagi-bagi dan bila bagian-bagiannya harus diajarkan secara berurutan. Tiap siswa mempelajari sesuatu yang, bila digabungkan dengan materi yang dipelajari oleh siswa lain, membentuk kumpulan pengetahuan atau ketrampilan yang padu. (Silberman, 1996: 192)

Prosedur:
1. Pilihlah materi belajar yang bisa dipecah menjadi beberapa bagian. Sebuah bagian bisa sependek kalimat atau sepanjang beberapa paragraph. (Jika materinya panjang, perintahkan siswa untuk membaca tugas mereka sebelum pelajaran). Contoh diantaranya:
• Modul berisi beberapa poin penting.
• Bagian-bagian eksperimen ilmu pengetahuan.
• Sebuah naskah yang memiliki bagian atau sub judul yang berbeda.
• Sebuah daftar definisi.
• Sejumlah artikel setebal majalah atau jenis bacaan pendek yang lain.
2. Hitunglah jumlah bagian yang hendak dipelajari dan jumlah siswa. Bagikan secara adil berbagai tugas kepada berbagai kelompok siswa. Sebagai contoh, bayangkan sebuah kelas yang terdiri dari 12 siswa. Dimisalkan bahwa anda bisa membagi materi pelajaran menjadi tiga segmen atau bagian. Anda mungkin selanjutnya dapat membentuk kwartet (kelompok empat anggota), dengan memberikan segmen 1, 2, atau 3 kepada tiap kelompok. Kemudian, perintahkan tiap kwartet atau ‘kelompok belajar’ untuk membaca, mendiskusikan, dan mempelajari materi yang mereka terima. (Jika anda menghendaki, anda dapat membentuk dua pasang ‘rekan belajar’ terlebih dahulu dan kemudian menggabungkan pasangan-pasangan itu menjadi kwartet untuk berkonsultasi dan saling berbagi pendapat.)
3. Setelah waktu belajar selesai, bentuklah kelompok-kelompok ‘belajar ala jigsaw,’ kelompok tersebut terdiri dari perwakilan tiap ‘kelompok belajar’di kelas. Dalam contoh yang baru saja diberikan, anggota dari tiap kwartet dapat berhitung mulai dari 1, 2, 3, dan 4. Kemudian bentuklah kelompok belajar jigsaw dengan jumlah yang sama. Hasilnya adalah empat kelompok trio. Dalam masing-masing trio akan ada satu siswa yang telah mempelajari segmen 1, segmen 2, dan segmen 3.
4. Perintahkan anggota kelompok ‘jigsaw’ untuk mengajarkan satu sama lain apa yang telah mereka pelajari.
5. Perintahkan siswa untuk kembali keposisi semula dalam rangka membahas pertanyaan yang masih tersisa guna memastikan pemahaman yang akurat. (Silberman, 1996: 195)

Variasi:
a. Berikan tugas baru -misalnya menjawab sejumlah pertanyaan- yang didasarkan pada pengetahuan akumulatif dari semua anggota kelompok belajar jigsaw.
b. Beri siswa tanggung jawab untuk mempelajari ketrampilan, sebagai alternatif dari pemberian informasi kognitif. Perintahkan siswa untuk saling mengajarkan ketrampilan yang telah mereka pelajari. (Silberman, 1996: 160-162)
4) Diskusi Panel
Silberman (1996: 155) mengungkapkan bahwa “Aktivitas ini merupakan cara yang baik untuk menstimulasi diskusi dan memberi siswa kesempatan untuk mengenali, menjelaskan, dan mengklarifikasi persoalan sembari tetap bisa berpartisipasi aktif dengan seluruh siswa.”

Prosedur:
1. Pilihlah sebuah masalah yang akan mengundang minat siswa. Sajikan persoalan itu agar siswa terstimulasi untuk mendiskusikan pendapat mereka. Sebutkan lima pertanyaan untuk didiskusikan.
2. Pilihlah empat hingga enam siswa untuk membentuk kelompok diskusi panel. Aturlah mereka dalam formasi semi lingkaran di bagian depan kelas.
3. Perintahkan siswa yang lain untuk duduk di sekeliling kelompok diskusi pada tiga sisi dalam formasi sepatu kuda.
4. Mulailah dengan pertanyaan pembuka yang provokatif. Serahkan tanggungjawab diskusi panel kepada kelompok inti sedangkan siswa yang lain membuat catatan dalam rangka mempersiapkan giliran diskusi mereka.
5. Pada akhir periode diskusi yang sudah ditetapkan, pisahkan seluruh kelas menjadi kelompok-kelompok kecil untuk melanjutkan diskusi tentang pertanyaan yang masih ada. (Silberman, 1996: 155-156)

Variasi:
a. “Baliklah urutannya, mulailah dengan diskusi kelompok kecil dan diikuti dengan diskusi panel”.
b. “Perintahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan diskusi”. (Silberman, 1996: 156)
5) Studi Kasus Bikinan – Siswa (student-created case studies)
Studi kasus diakui secara luas sebagai salah satu metode belajar terbaik. Diskusi kasus pada umumnya berfokus pada persoalan yang ada dalam situasi atau contoh konkret, tindakan yang mesti diambil dan pelajaran yang bias dipetik, serta cara-cara menangani atau menghindari situasi semacam itu dimasa mendatang. Tehnik-tehnik yang berikut ini memungkinkan siswa untuk membuat studi kasus mereka sendiri. (Silberman, 1996: 201)

Prosedur:
1. Bagilah kelas menjadi pasangan atau trio. Perintahkan mereka untuk membuat studi kasus yang bisa dianalisis dan didiskusikan oleh siswa lain.
2. Jelaskan bahwa tujuan dari sebuah studi kasus adalah mempelajari sebuah topik dengan mengkaji situasi atau contoh konkret yang mencerminkan topik itu. Berikut adalah beberapa contohnya:
• Sebuah syair Jepang bisa ditulis untuk menunjukkan cara membacanya.
• Sebuah resume aktual bisa dianalisis untuk mempelajari cara menulis resume.
• Sebuah laporan tentang cara seseorang melakukan eksperimen ilmiah bisa didiskusikan untuk mempelajari tentang prosedur ilmiah.
• Sebuah dialog antara seorang manager dan karyawan bisa ditelaah untuk mempelajari cara memberikan dukungan positif.
• Sejumlah langkah yang diambil oleh orang tua dalam situasi konflik dengan seorang anak bisa dikaji untuk mempelajari cara menangani perilaku.
3. Sediakan waktu yang mencukupi bagi pasangan atau trio untuk membuat studi kasus singkat yang mengandung contoh atau isu untuk didiskusikan atau sebuah persoalan untuk dipecahkan yang relevan dengan materi pelajaran dikelas.
4. Bila studi kasus ini selesai, perintahkan kelompok untuk menyajikannya kepada siswa lain. Beri kesempatan anggota kelompok untuk memimpin diskusi kasus. (Silberman, 1996: 201-203)

Variasi:
a. “Tunjuk beberapa orang siswa untuk telah terlebih dahulu menyiapkan studi kasus untuk siswa lain. (penyiapan sebuah studi kasus merupakan tugas belajar yang baik.)”
b. “Buatlah beberapa kelompok dalam jumlah genap. Pasangkan kelompok dan perintahkan mereka untuk bertukar studi kasus.” (Silberman, 1996: 203)
6) Pencarian Informasi
Metode ini bisa disamakan dengan ujian open-book. Tim-tim di kelas mencari informasi (biasanya yang diungkap dalam pengajaran ala ceramah) yang menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Metode ini sangat membantu menjadikan materi yang biasa-biasa saja menjadi lebih menarik. (Silberman, 1996: 173)

Prosedur:
1. Buatlah sekumpulan pertanyaan yang dapat dijawab dengan mencari informasi yang bisa ditemukan dalam buku sumber yang telah anda bagikan kepada siswa. Materi sumbernya bias mencakup:
• Buku pegangan
• Dokumen
• Buku teks
• Panduan referensi
• Informasi yang diakses melalui computer
• Artifak
• Peralatan ‘berat’ (misalnya mesin)
2. Bagikan pertanyaan-pertanyaan tentang topiknya.
3. Perintahkan siswa untuk mencari informasi dalam tim-tim kecil. Kompetisi yang bersahabat bisa diwujudkan untuk mendorong partisipasi.
4. Bahaslah jawabannya di depan kelas. Perluaslah jawabannya guna memperluas cakupan pembelajaran. (Silberman, 1996: 173-174)


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Komponen-Komponen Strategi Belajar Aktif (Active Learning Strategy)
Salah satu karakteristik dari pembelajaran yang menggunakan pendekatan belajar aktif (active learning strategy) adalah adanya keaktifan siswa dan guru, sehingga terciptanya suasana belajar aktif. Untuk menciptakan suasana belajar aktif tidak lepas dari beberapa komponen yang mendukungnya.
Sukandi (2003: 9) menyebutkan bahwa komponen-komponen pendekatan belajar aktif (active learning strategy) dalam proses belajar-mengajar adalah terdiri dari:

a. Pengalaman
Sukandi (2003: 10) mengungkapkan bahwa “Pengalaman langsung mengaktifkan lebih banyak indra dari pada hanya melalui mendengarkan”. Sedangkan Zuhairini (1993: 116) menyebutkan bahwa “cara mendapatkan suatu pengalaman adalah dengan mempelajari, mengalami dan melakukan sendiri”. Melalui membaca, siswa lebih menguasai materi pelajaran yang mereka pelajari dari pada hanya mendengarkan penjelasan dari guru.
b. Interaksi

Belajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila berlangsung dalam suasana diskusi dengan orang lain, berdiskusi, saling bertanya dan mempertanyakan, dan atau saling menjelaskan. Pada saat orang lain mempertanyakan pendapat kita atau apa yang kita kerjakan, maka kita terpacu untuk berpikir menguraikan lebih jelas lagi sehingga kualitas pendapat itu menjadi lebih baik.
Diskusi, dialog dan tukar gagasan akan membantu anak mengenal hub
ungan-hubungan baru tentang sesuatu dan membantu memiliki pemahaman yang lebih baik. Anak perlu berbicara secara bebas dan tidak terbayang-bayangi dengan rasa takut sekalipun dengan pernyataan yang menuntut (alasan/argumen). Argumen dapat membantu mengoreksi pendapat asalkan didasarkan pada bukti. (Sukandi, 2003: 10)
c. Komunikasi
Pengungkapan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan, merupakan kebutuhan setiap manusia dalam rangka mengungkapkan dirinya untuk mencapai kepuasan. Pengungkapan pikiran, baik dalam rangka mengemukakan gagasan sendiri maupun menilai gagasan orang lain, akan memantapkan pemahaman seseorang tentang apa yang sedang di
pikirkan atau dipelajari. (Sukandi, 2003: 11)
d. Refleksi
Bila seseorang mengungkapkan gagasannya kepada orang lain dan mendapat tanggapan, maka orang itu akan merenungkan kembali (merefleksi) gagasannya, kemudian melakukan perbaikan, sehingga memiliki gagasan yang lebih mantap. Refleksi dapat terjadi akibat adanya interaksi dan komunikasi. Umpan balik dari guru atau siswa lain terhadap hasil kerja seorang siswa yang berupa pernyataan yang menantang (membuat siswa berpikir) dapat merupakan pemicu bagi siswa untuk melakukan refleksi tentang apa yang sedang dipikirkan atau dipelajari. (Sukandi, 2003: 11)
Agar suasana belajar akt
if dapat tercipta secara maksimal, maka diantara beberapa komponen diatas terdapat pendukungnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Sukandi (2003: 12) antara lain:

1) Sikap dan prilaku guru
Sesuai dengan pengertian mengajar yaitu menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar siswa, maka sikap dan prilaku guru hendaknya:
- Terbuka, mau mendengarkan pendapat siswa.
- Membiasakan siswa untuk mendengarkan bila guru atau siswa lain berbicara.
- Menghargai perbedaan pendapat.
- Mentolelir kesalahan siswa dan mendorong untuk memperbaikinya.
- Memberi umpan balik terhadap hasil kerja siswa.
- Tidak terlalu cepat untuk membantu siswa.
- Tidak kikir untuk memuji dan menghargai.
- Tidak menertawakan pendapat atau hasil karya siswa sekalipun kurang berkualitas, dan yang lebih penting ……

- Mendorong siswa untuk tidak takut salah dan berani menanggung resiko. (Sukandi, 2003: 12)
2) Ruang kelas yang menunjang belajar aktif, yaitu diantaranya:
- Berisikan banyak sumber belajar, seperti buku dan benda nyata.
- Berisi banyak alat bantu belajar, seperti media atau alat peraga.
- Berisi banyak hasil kerja siswa, seperti lukisan laporan percobaan, dan alat hasil percobaan.
- Letak bangku dan meja diatur sedemikian rupa sehingga siswa leluasa untuk bergerak. (Sukandi, 2003: 14)


Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat digambarkan sebuah diagram sebagaimana berikut ini:

Bagan: 1
Komponen-Komponen Strategi Belajar Aktif (Active Learning Strategy)
dan Pendukung-Pendukungnya


(Sukandi, 2003: 15)
Berdasarkan gambar diatas, maka dapat dijelaskan bahwa komponen belajar aktif dan pendukungnya saling mempengaruhi dan saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. Dari tampilan siswa dapat dilihat adanya pengalaman, interaksi, komunikasi dan refleksi. Sedangkan pendukungnya adalah sikap guru dan ruang kelas, dari tampilan guru dapat dilihat adanya sikap dan prilaku guru yang harus dimiliki oleh seorang guru dan tampilan ruang kelas yang memiliki ciri-ciri khusus untuk menunjang belajar aktif.

Jelas sekali, guru merupakan aktor intelektual perekayasa tampilan siswa dan tampilan ruang kelas. Gurulah sebagai fasilitator tercipta kedua tampilan tersebut. Dengan perkataan lain, suasana belajar aktif hanya mungkin terjadi bila gurunya aktif pula, maksudnya aktif sebagai fasilitator.

Sehingga tidaklah benar adanya pendapat yang menganggap bahwa dalam kegiatan belajar mengajar yang bernuansa belajar aktif hanya siswalah yang aktif, sedangkan gurunya tidak. Keduanya harus aktif tetapi dalam peran masing-masing, dimana siswa aktif dalam belajar dan guru aktif dalam mengelola kegiatan belajar mengajar.

Bagi guru yang aktif, biasanya sebelum mengajar terlebih dahulu mempersiapkan rancangan pembelajaran (RP) yang matang dan media-media apa saja yang dibutuhkan sehingga pada waktu kegiatan proses belajar mengajar berlangsung guru sudah bisa menerapkannya dengan penuh keyakinan dan siswa juga senang dan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan kegiatan-kegiatan dalam belajar aktif dapat dijelaskan sebagaimana table berikut:

Tabel: Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan Pendekatan Belajar Aktif
(Active Learning strategy)

(Sukandi, 2003: 16)
Kegiatan belajar mengajar diatas menunjukkan adanya feed back (timbal balik) antara guru dengan siswa.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Prinsip-Prinsip pendekatan Belajar Aktif (Active Learning Strategy)
Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pendekatan belajar aktif (active learning strategy) adalah tingkah laku yang mendasar bagi siswa yang selalu nampak dan menggambarkan keterlibatannya dalam proses belajar mengajar baik keterlibatan mental, intelektual maupun emosional yang dalam banyak hal dapat diisyaratkan sebagai keterlibatan langsung dalam berbagai bentuk keaktifan fisik.

Sedangkan dalam penerapan strategi belajar aktif, seorang guru harus mampu membuat pelajaran yang diajarkan itu menantang dan merangsang daya cipta siswa untuk menemukan serta mengesankan bagi siswa. Untuk itu seorang guru harus memperhatikan beberapa prinsip dalam menerapkan pendekatan belajar aktif (active learning strategy), sebagaimana yang diungkapkan oleh Semiawan (1992: 10) dan Zuhairini (1993: 116-118) bahwa prinsip-prinsip penerapan pendekatan belajar aktif (active learning strategy) adalah sebagai berikut:
1) Prinsip Motivasi
Motif adalah daya dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Kalau seorang siswa rajin belajar, guru hendaknya menyelidiki apa kiranya motif yang mendorongnya. Kalau seorang siswa malas belajar, guru hendaknya menyelidiki mengapa ia berbuat demikian. Guru hendaknya berperan sebagai pendorong, motivator, agar motif-motif yang positif dibangkitkan dan atau ditingkatkan dalam diri siswa.

Ada dua jenis motivasi, yaitu motivasi dari dalam diri anak (intrinsik) dan motivasi dari luar diri anak (ekstrinsik). Motivasi dalam diri dapat dilakukan dengan menggairahkan perasaan ingin tahu anak, keinginan untuk mencoba, dan hasrat untuk maju dalam belajar. Motivasi dari luar dapat dilakukan dengan memberikan ganjaran, misalnya melalui pujian, hukuman, misalnya dengan penugasan untuk memperbaiki pekerjaan rumahnya (Semiawan, 1992: 10).

2) Prinsip Latar atau Konteks
Kegiatan belajar tidak terjadi dalam kekosongan. Sudah jelas, para siswa yang mempelajari sesuatu hal yang baru telah pula mengetahui hal-hal lain yang secara langsung atau tak langsung berkaitan. Karena itu, para guru perlu meyelidiki apa kira-kira pengetahuan, perasaan, ketrampilan, sikap, dan pengalaman yang telah dimiliki para siswa. Perolehan ini perlu dihubungkan dengan bahan pelajaran baru yang hendak diajarkan guru atau dipelajari para siswa. Dalam mengajarkan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan atau hewan misalnya, para guru dapat mengaitkannya dengan pengalaman para siswa dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang dipelihara orang tuanya, yang berada dilingkungan sekitarnya. Dengan cara ini, para siswa akan lebih mudah menangkap dan memahami bahan pelajaran yang baru (Semiawan, 1992: 10).

3) Prinsip Keterarahan kepada Titik Pusat atau Focus Tertentu.
Seorang guru diharapkan dapat membuat suatu bentuk atau pola pelajaran, agar pelajaran tidak terpecah-pecah dan perhatian murid terhadap pelajaran dapat terpusat pada materi tertentu. Untuk itu seorang guru harus merumuskan dengan jelas masalah yang hendak dipecahkan, merumuskan pertanyaan yang hendak dijawab. Upaya ini akan dapat membatasi keluasan dan kedalaman tujuan belajar serta akan memberikan arah kepada tujuan yang hendak dicpai secara tepat (Zuhairini dkk, 1993: 117).

4) Prinsip Hubungan Social atau Sosialisasi
Dalam belajar para siswa perlu dilatih untuk bekerja sama dengan rekan-rekan sebayanya. Ada kegiatan belajar tertentu yang akan lebih berhasil jika dikerjakan secara bersama-sama, misalnya dalam kerja kelompok, daripada jika dikerjakan sendirian oleh masing-masing siswa. Belajar mengenai bahan bangunan yang biasanya digunakan oleh masyarakat dalam membangun rumah tentu saja akan lebih mudah dan lebih cepat jika para siswa bekerja sama. Mereka dapat dibagi kedalam kelompok dan kepada setiap kelompok diberikan tugas yang berbeda-beda. Latihan bekerja sama sangatlah penting dalam proses pembentukan kepribadian anak (Semiawan, 1992: 11).

5) Prinsip Belajar Sambil Bekerja
Anak-anak pada hakikatnya belajar sambil bekerja atau melakukan aktivitas. Bekerja adalah tuntutan pernyataan dari anak. Karena itu, anak-anak perlu diberikan kesempatan untuk melakukan kegiatan nyata yang melibatkan otot dan pikirannya. Semakin anak bertumbuh semakin berkurang kadar bekerja dan semakin bertambah kadar berpikir. Apa yang diperoleh anak melalui kegiatan bekerja, mencari, dan menemukan sendiri tak akan mudah dilupakan. Hal itu akan tertanam dalam hati sanubari dan pikiran anak. Para siswa akan bergembira kalau mereka diberi kesempatan untuk menyalurkan kemampuan bekerjanya (Semiawan, 1992: 11).

6) Prinsip Perbedaan Perorangan atau Individualisasi
Zuhairini dkk (1993: 117) mengungkapkan bahwa “masing-masing individu mempunyai kecenderungan yang berbeda. Untuk itu para guru diharapkan tidak memperlakukan sama terhadap siswa-siswanya. Seorang guru diharapkan dapat mempelajari perbedaan itu agar kecepatan dan keberhasilan belajar anak dapatlah ditumbuh kembangkan dengan seoptimal mungkin”.

7) Prinsip Menemukan
Seorang guru hendaknya dapat memberikan kesempatan kepada semua siswanya untuk mencari dan menemukan sendiri beberapa informasi yang telah dimiliki. Informasi guru tersebut hendaknya dibatasi pada informasi yang benar-benar mendasar dan ‘memancing’ siswa untuk ‘mengail’ informasi selanjutnya. Jika para siswa ini diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri informasi itu, maka mereka akan merasakan getaran pikiran, perasaan dan hati. Getaran-getaran dalam diri siswa ini akan membuat kegiatan belajar tidak membosankan, malah menggairahkan (Zuhairini dkk, 1993: 117-118).

8) Prinsip Pemecahan Masalah
Seluruh kegiatan siswa akan terarah jika didorong untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Guna mencapai tujuan-tujuan, para siswa dihadapkan dengan situasi bermasalah agar mereka peka terhadap masalah. Kepekaan terhadap masalah dapat ditimbulkan jika para siswa dihadapkan kepada situasi yang memerlukan pemecahan. Para guru hendaknya mendorong para siswa untuk melihat masalah, merumuskannya, dan berdaya upaya untuk memecahkannya sejauh taraf kemampuan para siswa (Semiawan, 1992: 13).

Jika prinsip-prinsip ini diterapkan dalam proses belajar mengajar nyata dikelas, maka pintu kearah pendekatan belajar aktif (active learning strategy) mulai terbuka.


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang



1. Definisi Minat
Kata minat dalam bahasa Inggris disebut interest yang berarti menarik atau tertarik. Menurut Slameto minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri, dengan sesuatu dan dengan luar, semakin kuat dan dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Higlard dalam Slameto (2003) menyatakan minat adalah kecenderungan untuk tetap memperhatikan dan menikmati beberapa kegiatan. Slameto sendiri mendefinisikan sebagai rasa suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau sesuatu tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2003:57-180).

Shaleh dan Wahab (2004:263) mendefinisikan minat sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang menjadi obyek minat tersebut dengan disertai perasaan senang.

Minat belajar menurut Lester D. Crow, Alice D. Crow adalah kemampuan untuk memberikan stimulus yang mendorong untuk memperhatikan seseorang, suatu barang atau kegiatan (L. Crow & A. Crow, 1985:351). Sedangkan menurut W. S Wingkel (1984:30) menyatakan bahwa minat merupakan kecondongan merasa terbaik pada bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang-bidang itu.

Whitherington (1991:135) mendefinisikan minat adalah kesadaran seseorang bahwa suatu obyek seseorang, suatu soal atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya. Dan minat harus dipandang sebagai suatu sambutan yang sadar, jika tidak demikian minat tidak mempunyai arti sama sekali.

Minat sangat berpengaruh pada pekerjaan seseorang. Jika seseorang menaruh minat pada sebuah pelajaran maka ia akan melaksanakan tugas dengan baik, sekalipun menyita waktu sehingga tanpa disadari ia bekerja melebihi batas waktu maupun kesehatannya. Dengan kata lain, minat erat hubungannya dengan rasa suka atau tidak suka seseorang terhadap sesuatu tindakan.

2. Cara Meningkatkan Minat
Adapun S. Nasution (1982:85) menyatakan bahwa minat dapat ditingkatkan dengan cara:
1. Bangkitkan suatu kebutuhan, kebutuhan untuk menghargai keindahan, untuk mendapatkan penghargaan dan sebagainya.
2. Hubungan dan masa lampau.
3. Beri kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik.
4. Gunakan berbagai bentuk belajar seperti diskusi, kerja kelompok, membaca, demonstrasi dan sebagainya.

Terkait minat siswa terhadap mata pelajaran tertentu dapat mengarah pada adanya kebutuhan, usaha sadar dalam meningkatkan hasil pembelajaran, dan pengaruhnya terhadap keinginan untuk mencapai hasil yang maksimal sehingga akan membawa keberhasilan prestasi siswa (L.Crow & A. Crow, 1989:304). Dengan kata lain, semakin tinggi minat seseorang akan semakin tinggi kesadaran untuk belajar mendapatkan nilai tertinggi atau prestasi yang diharapkan.

3. Macam-Macam Minat
Minat dapat dibagi berdasarkan timbul, arah dan cara mengungkapkannya.
a. Berdasarkan timbulnya minat dapat dibedakan menjadi minat primitif dan minat kultural. Minat primitif adalah minat yang timbul karena kebutuhan biologis atau jaringan-jaringan tubuh, misalnya kebutuhan akan makanan, perasaan enak atau nyaman dan seks. Sedangkan minat kultural atau minat sosial adalah minat yang timbulnya karena proses belajar, minat ini tidak secara langsung berhubungan dengan diri kita. Misalnya keinginan untuk memiliki hobi, kekayaan dan lain-lain.

b. Berdasarkan arahnya, minat dapat dibedakan menjadi minat instrinsik dan minat ekstrinsik. Minat intrinsik adalah minat yang langsung berhubungan dengan aktivitas itu sendiri, ia merupakan minat yang asli dan mendasar. Sebagai contoh, seorang belajar karena memang senang membaca bukan karena ingin dipuji. Minat ekstrinsik adalah minat yang berhubungan dengan tujuan akhir dari kegiatan tersebut. Misalnya, seseorang yang belajar dengan tujuan agar menjadi juara kelas atau lulus ujian.

c. Berdasarkan cara mengungkapkannya, minat dapat dibedakan menjadi empat yaitu: expressed interest, manifest interest, tested interest dan inventoried interest.
1). Expressed Interest (minat yang diekspresikan)
Adalah minat yang diungkapkan dengan cara meminta kepada subyek untuk menyatakan atau menuliskan kegiatan-kegiatan baik yang berupa tugas maupun bukan tugas yang disenangi dan yang paling tidak disenangi. Dari jawabannya dapat diketahui minatnya.
2). Manifest Interest (minat yang diwujudkan)
Adalah minat yang diungkapkan dengan cara mengobservasi atau melakukan pengamatan secara langsung terhadap aktivitas-aktivitas yang dilakukan subyek atau dengan mengetahui hobinya.
3). Tested Interest
Adalah minat yang diungkapkan dengan cara menyimpulkan dari jawaban hasil tes obyektif yang diberikan, nilai-nilai yang tinggi pada suatu obyek biasanya menunjukkan minat yang tinggi pula terhadap hal tersebut.
4). Inventoried Interest
Adalah minat yang diungkapkan dengan menggunakan alat-alat yang sudah distandarkan, dimana biasanya berisi pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada subyek apakah ia senang atau tidak senang terhadap sejumlah obyek yang ditanyakan (Shaleh dan Wahab, 2004:263-265).
Dari konsep di atas, dapat diketahui perkembangan minat siswa dari rasa senang pada pelajaran yang diikutinya, dalam aplikasinya siswa akan senang mengerjakan tugas yang terkait dengan pelajaran tersebut.

4. Aspek-Aspek Minat
Hurlock (1993:116) membagi minat dalam dua aspek, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif. Dalam aspek ini nantinya akan diketahui indikator peningkatan minat siswa dalam belajar Aqidah Akhlak. Adapun Aspek tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Aspek kognitif
Aspek kognitif minat berdasarkan atas konsep yang dikembangkan anak mengenai bidang yang terkait dengan minat, misalnya aspek kognitif dari minat anak terhadap mata pelajaran tertentu. Seorang siswa akan menganggap kelas adalah tempat yang menyenangkan untuk belajar, jika mereka dapat menemukan suasana yang tidak membosankan, misalnya dengan menemukan hal-hal yang baru, baik strategi pembelajaran maupun wawasan yang dipelajari, sehingga menimbulkan rasa ingin tahu yang terus menerus. Untuk mengetahui minat seorang siswa terhadap sesuatu yang disukai maka seorang siswa akan terus mencari tahu sesuatau yang terkait dengan minatnya.

1). Kebutuhan akan informasi
Siswa akan berminat terhadap pelajaran, jika dalam diri siswa merasa butuh terhadap tersebut, karena siswa secara sadar beranggapan bahwa sebuah materi bermanfaat dan penting bagi kehidupan sehari-hari. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut siswa akan memperhatikan hal-hal yang disampaikan oleh pengajar. Maka siswa akan berusaha menggali sebanyak mungkin informasi yang berkaitan dengan apa yang disukainya.

2). Rasa ingin tahu
Besarnya rasa ingin tahu siswa terhadap mata pelajaran dapat menentukan tingkat keterkaitan seseorang terhadap mata pelajaran tersebut, seorang siswa yang merasa ingin tahu lebih dalam tentang aqidah dan akhlak, maka siswa selalu memperhatikan dan aktif dalam kelas.
Semakin besar tingkat keingintahuan seseorang maka semakin banyak hal-hal yang dicari dalam memenuhi kebutuhannya. Demikian pula dengan siswa, jika besar rasa keingintahuannya pada Aqidah Akhlak secara otomatis akan menggalinya dengan banyak membaca buku-buku yang terkait.

b. Aspek afektif
Aspek afektif minat berkembang dari pengalaman pribadi yang berasal dari lingkungan keluarga maupun sekolah.
Lingkungan belajar akan lebih berpengaruh kepada suasana belajar di kelas maupun di luar. Dalam pembelajaran di kelas tentunya dipengaruhi oleh interaksi guru dan siswa, kondisi kelas yang aktif dan menyenangkan akan membangkitkan minat siswa dalam belajar yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

Menurut L. Crow & A. Crow (1989:302-303 lingkungan belajar siswa yang terkait dengan keaktifan siswa akan berpengaruh pada arah berfikir seseorang barulah dapat terpengaruh jika minat seseorang dipengaruhi oleh situasi yang ditemuinya, dan pada gilirannya tingkah laku (sikap) seseorang terpengaruh oleh pengalaman indra dan kesadaran yang bersifat tanggapan sehingga memungkinkan berubahnya hubungan antara gagasan dan proses pemikiran ketika hal ini dialami dan diekspresikan.
Perasaan senang terhadap obyek yang diminati tentunya akan berpengaruh pada fikir sehingga mendorong rasa aktif dalam lingkungan.

Kedua aspek minat (aspek kognitif dan aspek afektif) di atas sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa, seperti yang diungkapkan Muhibbin Syah (1999:136-137) yang menyatakan pada dasarnya minat seseorang dapat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang-bidang tertentu, karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa lebih giat dan pada akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.

Minat yang tumbuh pada peserta didik terhadap sebuah mata pelajaran tentunya dipengaruhi oleh lingkungan baik dari materi yang disajikan atua cara penyampaian materi. Dengan demikian seorang guru selalu dituntut untuk membuat pola-pola kreatif dalam pembelajaran sehingga menimbulkan minat terhadap siswa untuk belajar.

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.