Arsip

Teori Motivasi

Winkel (2005: 92) menjelaskan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai suatu tujuan.

Menurut Usman (2004: 24) motivasi merupakan suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu. Menurut Dimyati dan Mudjiono (1994: 75) motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar.

Selanjutnya motivasi merupakan daya penggerak yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu perbuatan dengan cara tertentu (Moeslichatoen,1992:2). Motivasi di kelas berpengaruh pada aktivitas belajar itu sendiri maupun pengaruhnya pada tingkah laku tersebut. Pendapat lain mengemukakan bahwa motivasi adalah “pendorongan” suatu usaha yang disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu (Purwanto, 1991:71).

Berdasarkan pengertian di atas, motivasi dapat pula diartikan sebagai suatu keseluruhan kekuatan dalam diri individu yang mendorong tingkah laku seseorang untuk melakukan sesuatu yang lebih dibanding yang lain untuk mencapai tujuan tertentu. Uraian tersebut menggambarkan bahwa motivasi belajar memegang peranan yang sangat penting terhadap keberhasilan belajar seseorang, karena motivasi belajar merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar dan sesuatu yang mengarahkan tingkah laku atau aktivitas siswa kepada tujuan belajar, dan peranannya yang lain yaitu menumbuhkan gairah, merasa senang dan semangat belajar.

Seperti yang dikemukakan oleh beberapa ahli, berikut ini adalah ciri-ciri siswa yang memiliki motivasi belajar.


Motivasi pada diri seseorang dapat berubah bila motif yang mendorongnya untuk melaksanakan aktivitas juga berubah. Karena motivasi bukan sesuatu yang bebas dari pengaruh-pengaruh, misalnya lingkungan, kemampuan fisik, pengalaman masa lampau, taraf intelegensi, minat dan cita-cita hidup. Mengenai motivasi berprestasi yang pertama kalinya disiapkandiperkenalkan oleh Clelland (Robbins, 1992: 47) dinyatakan sebagai berikut: Achievement motivation is indicated by some on waiting to perform better or carrying about performing better.

Clelland (Mangkunegara, 2001:103) mengemukakan enam karakteristik orang yang mempunyai motivasi tinggi:
1) Memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi;
2) Berani mengambil dan memikul resiko;
3) Memiliki tujuan yang realistik;
4) Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan berjuang untuk merealisaiskan tujuan;
5) Memanfaatkan umpan balik yang kongkret dalam semua kegiatan yang dilakukan; dan
6) Mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah diprogramkan.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com


Motivasi berasal dari kata latin “movere” yang berarti dorongan atau menggerakkan. Motivasi (motivation) dalam manajemen hanya ditujukan pada sumber daya manusia umumnya dan bawahan pada khususnya. Motivasi mempersoalkan bagaimana cara menggerakkan dan mengerahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan (Hasibuan, 2000:141).
Orang mau bekerja adalah untuk dapat memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan yang disadari (conscious needs), maupun kebutuhan yang tidak di sadari (unconscious needs), berbentuk materi dan non materi, kebutuhan fisik maupun non fisik. Menurut Peterson dan Plowman (Hasibuan, 2000:142-143), orang mau bekerja karena adanya faktor-faktor:
a) Keinginan untuk hidup (the desire to live);
b) Keinginan untuk suatu posisi (the desire for position);
c) Keinginan untuk kekuasaan (the desire for power); dan
d) Keinginan akan pengakuan (the desire for recognition);
Beberapa teori lain tentang motivasi dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Hierarki kebutuhan Maslow, menurut Robbins (1992:45-46)
Teori Maslow menganggap bahwa kebutuhan orang bergantung kepada apa yang telah mereka miliki. Dalam pengertian, suatu kebutuhan yang telah terpenuhi bukan merupakan faktor motivator. Kebutuhan manusia tersusun dalam suatu hierarki kepentingan yang meliputi:
1) Fisiologis, yaitu makan, minum, tempat tinggal, dan sembuh dari rasa sakit;
2) Keamanan dan keselamatan, yaitu kebutuhan untuk kemerdekaan dari ancaman, yaitu keamanan dari kejadian atau lingkungan yang mengancam;
3) Rasa memiliki, sosial, dan kasih sayang, yaitu kebutuhan akan persahabatan, kelompok, interaksi, dan kasih sayang;
4) Penghargaan (esteem), yaitu kebutuhan atas harga diri (self esteem) dan penghargaan dari pihak lain;
5) Aktualisasi diri, yaitu kebutuhan untuk memenuhi diri seseorang melalui memaksimukan penggunaan kemampuan, keahlian, dan potensi.
Teori Maslow ini menganggap bahwa orang mencoba memuaskan kebutuhan yang lebih mendasar terlebih dahulu, sebelum mengarahkan perilaku dalam memuaskan kebutuhan yang lebih tinggi.
b. Teori ERG-Alderfer menurut Gitosudarmo dan Sudito (1997:32-34)
Teori ERG menganggap bahwa kebutuhan manusia memiliki tiga hierarkik kebutuhan. Ketiga kebutuhan tersebut adalah:
1) Kebutuhan eksistensi (existence needs);
Kebutuhan eksistensi ini berupa semua kebutuhan yang termasuk dalam kebutuhan fisiologis dan natural, dan kebutuhan rasa aman seperti kebutuhan akan makanan, minuman, pakaian, perumahan, dan keamanan. Dalam suatu organisasi, kebutuhan ini termasuk di dalamnya seperti rapat, kondisi kerja, jaminan sosial, dan lain sebagainya.
2) Kebutuhan akan keterikatan;
Kebutuhan akan keterikatan sama dengan kebutuhan sosial dari Maslow. Kebutuhan akan keterikatan meliputi semua bentuk kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan hubungan antar pribadi di tempat kerja.
3) Kebutuhan akan pertumbuhan;
Kebutuhan akan pertumbuhan meliputi semua kebutuhan yang berkaitan dengan perkembangan potensi seseorang, sebagaimana kebutuhan aktualisasi diri dan penghargaan dari teori Maslow. Kepuasan atas kebutuhan akan pertumbuhan oleh orang-orang yang terlibat dalam suatu tugas tidak saja ingin menggunakan dan menunjukkan kemampuannya secara maksimal, tetapi juga untuk cepat mengembangkan kemampuan-kemampuan baru.
c. Teori Dua Faktor Utama
Herzberg yang dikutip Hasibuan (2000:157) menyebutkan bahwa pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya dipengaruhi oleh dua faktor untuk ama yang merupakan kebutuhan, yaitu:
1) Faktor-faktor pemeliharaan (maintenance factors);
Faktor ini merupakan faktor yang berhubungan dengan hakekat pekerja yang ingin memperoleh pemenuhan kebutuhan atas keukurangan badaniah. Kebutuhan ini akan berlangsung terus menerus, seperti misalnya lapar – kenyang – lapar – kenyang. Dalam bekerja, kebutuhan ini misalnya gaji, kepastian pekerjaan, dan supervisi yang baik. Jadi faktor-faktor ini bukanlah sebagai motivator, tetapi merupakan keharusan bagi perusahaan.
2) Faktor-faktor motivasi (motivation factors);
Faktor-faktor ini merupakan faktor-faktor motivasi yang menyangkut kebutuhan psikologis yang berhubungan dengan penghargaan terhadap pribadi yang secara langsung berkaitan dengan pekerjaan, misalnya ruangan yang nyaman, penempatan pekerja yang sesuai dan lainnya.

d. Teori Tiga Kebutuhan
Pendapat Clelland yang dikutip oleh Robbins (1992:50) menyebutkan bahwa seorang pekerja memiliki energi potensial yang dapat dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang yang ada. Adapun kebutuhan pekerja yang dapat memotivasi gairah kerja, adalah:
1) kebutuhan akan prestasi;
2) kebutuhan akan kekuasaan; dan
3) kebutuhan akan afiliasi.
e) Teori Harapan dari Vroom yang dikutip oleh Siagian (1998:292)
Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat dari hasil yang ingin dicapai oleh seseorang dan perkiraan yang bersangkutan, bahwa tindakannya akan mengarah pada hasil yang diinginkan. Apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan nampaknya terbuka untuk memperolehnya, maka seseorang akan berusaha mendapatkannya. Dalam kotneks ini maka apabila seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, maka yang bersangkutan akan terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Namun apabila kemungkinan itu tipis, maka motivasinya untuk berupaya pun juga akan menjadi rendah.
Dari pendapat para ahli di atas, maka dalam penelitian ini penulis akan mengadopsi pendapat Clelland sebagai landasan teori. Dalam teori ini disebutkan bahwa kebutuhan manusia yang dapat memotivasi kedisiplinan pegawai adalah kebutuhan akan berprestasi. Kebutuhan akan berprestasi, adalah kebutuhan yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawabnya atas tugas dan pekerjaannya, serta aktivitas untuk pemecahan suatu masalah.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com


Motivasi menurut Anderson dan Kyprianou (1994:63-64) adalah sesuatu yang membuat orang berkehendak atau berperilaku dalam cara-cara tertentu. Anderson dan Kyprianou (1994:64) menjelaskan bahwa motivasi merupakan konsep yang kita gunakan untuk mengambarkan dorongan-dorongan yang timbul pada atau di dalam seorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku. Menurut Mitchell yang diedit oleh Timpe (1991:445) menyatakan bahwa motivasi terdiri dari proses psikologis tertentu yang menyebabkan timbulnya gairah, pengarahan, dan kegigihan dari tindakan sukarela yang menuju ke sasaran.
Gitosudarmo dan Sudito (1997:28) menyatakan bahwa motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan, mengarahkan perilakunya untuk memenuhi tujuan tertentu. Di sisi lain, Moekiyat (2000:63) memperkuat pengertian motivasi sebagai suatu proses psikologis yang azasi dalam perilaku manusia dan memberikan dasar untuk teori-teori dan penerapan motivasi kerja yang diperlukan. Menurut Wexley dan Yukl yang dikutip oleh M. As’ad (1986:45) mengartikan motivasi sebagai the process by which behavior is energized and directed.
Oemar Hamalik (2000:72) mengemukakan bahwa motivasi merupakan suatu perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Selanjutnya, motivasi sebagai suatu sistem menurut Moekiyat (2000:70-71) ada tiga unsur yang saling mempengaruhi dan saling bergantung, yaitu:

1) Kebutuhan-kebutuhan
Definisi kebutuhan dengan satu kata yang terbaik adalah kekurangan. Dalam arti homeostatis kebutuhan-kebutuhan timbul apabila ada suatu ketidakseimbangan fisiologis dan psikologis.
2) Perangsang-perangsang
Dengan sedikit pengecualian, perangsang-perangsang atau motif-motif diperlukan untuk mengurangi kebutuhan-kebutuhan. Suatu perangsang dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu kekurangan akan pengarahan. Perangsang-perangsang merupakan inti dari proses memotivasi.
3) Tujuan-tujuan
Suatu tujuan dalam siklus motivasi dapat didefinisikan sebagai suatu yang akan meringankan suatu kebutuhan dan mengurangi suatu perangsang. Dengan demikian, mencapai suatu tujuan akan cenderung memperbaiki imbalan fisiologis atau psikologis dan akan mengurangi atau menghilangkan perangsang.
Pengertian motivasi berkaitan erat dengan timbulnya suatu kecenderungan untuk berbuat sesuatu guna mencapai tujuan. Oleh karena itu, proses motivasi menurut Gitosudarmo dan Sudito (1997:28) terdiri dari beberapa tahapan proses yang meliputi:
1) Munculnya suatu kebutuhan yang belum terpenuhi menyebabkan adanya ketidakseimbangan (tention)k dalam diri seseorang dan berusaha untuk menguranginya dengan perilaku tertentu;
2) Seseorang kemudian mencari cara-cara untuk memuaskan keinginan tersebut;
3) Seseorang mengarahkan perilakunya ke arah pencapaian tujuan atau prestasi dengan cara-cara yang telah dipilihnya dengan didukung oleh kemampuan, keterampilan, maupun pengalamannya;
4) Penilaian prestasi dilakukan oleh diri sendiri atau orang lain (atasan) tentang keberhasilannya dalam mencapai tujuan. Perilaku yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan akan kebanggaan biasanya dimulai oleh yang bersangkutan. Sedangkan perilaku yang ditujukan untuk memenuhi suatu kebutuhan finansial atau jabatan, umumnya dilakukan oleh atasan atau pimpinan organisasi;
5) Imbalan atau hukuman yang diterima atau dirasakan tergantung kepada evaluasi atau prestasi yang dilakukan; dan
6) Akhirnya, seseorang menilai sejauhmana perilaku dan imbalan telah memuaskan kebutuhannya, maka keseimbangan atau kepuasan atas kebutuhan tertentu dirasakan. Akan tetapi apabila masih ada kebutuhan yang belum terpenuhi, akan terjadi proses pengulangan dari siklus motivasi dengan perilaku yang berbeda.
Oemar Hamalik (2000:72-74) menyatakan bahwa antara kebutuhan –motivasi – perbuatan/tingkah laku – tujuan dan kepuasan ada hubungan yang kuat. Tiap perbuatan senantiasa berkat adanya dorongan motivasi. Timbulnya motivasi disebabkan adanya suatu kebutuhan dan karenanya perbuatan tersebut terarah pada pencapaian tujuan tertentu. Tingkah laku yang telah memberikan kepuasan terhadap suatu kebutuhan cenderung untuk diulang kembali, sehingga menjadi lebih kuat dan lebih mantap.
Timpe (1991:209) merangkum beberapa sifat yang melandasi definisi teknis motivasi, meliputi:
1) Secara tradisional, motivasi dianggap sebagai fenomena individual. Setiap individu unik dan semua teori motivasi utama diijinkan dengan satu dan lain jalan, memperkenankank keunikan ini supaya terlihat (yaitu setiap orang mempunyai kebutuhan, harapan, nilai, sikap, riwayat, perkuatan, dan sasaran yang berbeda);
2) Motivasi biasanya dijelaskan sebagai sengaja, yaitu motivasi yang berada di bawah kendalik pegawai. Kebanyakan perilaku dipengaruhi oleh motivasi seperti yang banyak terlihat (yaitu usaha dalam pekerjaan) dipandang khas sebagai tindakan yang dipilih oleh individu untuk dilaksanakan;
3) Motivasi itu bermuka banyak. Dua faktor penting ialah timbulnya gairah (pengaktifan, pemicu), pengarah (pilihan) perilaku. Timbulnya gairah telah memuaskan perhatian pada pertanyaan: apa yang dapat membuat orang menjadi aktif, keadaan apa yang membuat orang menjadi bergairah sehingga mereka ingin berlaku sebaik mungkin. Dan jika seseorang sudah digairahkan, apa yang membuat ia akan menuju ke arah tertentu; dan
4) Maksud dari teori perilaku agar dapat meramal perilaku. Motivasi berkepentingan dengan tindakan dan kekuatan intern dan ekstern yang mempengaruhi perilaku tidak dan seseorang. Motivasi bukanlah perilaku itu sendiri dan bukan pula performa. Perilaku adalah kriterium yang dipilih. Dan dalam beberapa kasus tindakan yang dipilih merupakan pencerminan yang baik dari performa. Tetapi proses psikologis, perilaku sebenarnya dan performa seluruhnya adalah barang yang berbeda. Motivasi menjadi derajat sampai dimana individu ingin dan memilih untuk bertingkah laku spesifik tertentu.
Selanjutnya Timpe (1991:121) merangkum beberapa pada dari beberapa pakar manajemen tentang faktor motivasi, sebagai berikut:
1) Carrel dan Goodman, menyarankan bahwa orang itu termotivasi karena ingin ke dalam, jika percaya mendapat perlakuan adil, maka mereka akan berperilaku sedemikian rupa yang menurut kepercayaan mereka akan mengembalikan perasaan ke dalam yang hilang. Orang lebih dapat menerima imbalan berlebih daripada imbalan yang berkurang. Jika iak merasa mendapat imbalan berkurang dan tidak dapat berbuat banyak untuk mempengaruhinya mereka cenderung menjadi tidak puas, mengurangi bekerja dan lebih sering absen dibanding dengan bila mereka merasa diperlakukan dengan adil.
2) Creight, ada sistem lima peran untuk memotivasi peningkatan performa (kinerja) yang meliputi:
a) peran penentu sasaran;
b) pelatih;
c) penasehat;
d) penilai; dan
e) pembuatan keputusan
Jika kelima peran yang lebih kecil ini dapat saling dipadukan dengan berhasil, maka hal tersebut membuka peluang bagi manajer dan pengawas untuk memotivasi peningkatan performa pegawai.
3. Kinlaw, ada empat faktor yang menunjang performa, yaitu:
1) Pegawai mengerti dengan jelas yang diharapkan darinya;
2) Pegawai mempunyai kompetensi untuk melaksanakan;
3) Pegawai didukung oleh lingkungan kerja yang memadai; dan
4) Pegawai termotivasi untuk berperforma (kinerja tinggi).
Dalam pengertian faktor yang terakhir ini, motivasi adalah keinginan untuk berperforma (berkinerja tinggi) sesuai dengan pengharapnnya. Maka, motivasi merupakan salah satu langkah di antara empat faktor yang menentukan performa.
Dari berbagai pendapat tentang pengertian motivasi di atas, maka dapat diartikan oleh penulis bahwa motivasi merupakan kekuatan rela;tif dan dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang untuk berusaha mengaktualisasikan potensi terbaiknya, guna memenuhi keinginan sesuai dengan kebutuhannya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Beberapa teori motivasi yang akan dibicarakan pada kesempatan ini, pada bab ini akan dijelaskan lima teori yaitu: teori hedonisme, teori naluri, teori reaksi yang dipelajari, teori daya pendorong dan teori kebutuhan. Adapun perincianya sebagai berikut:
1. Teori Hedonisme
Hedone adalah bahasa Yunani yang berarti kesukaan, kesenangan atau kenikmatan. Hedonisme adalah suatu aliran didalam filsafat yang memandang bahwa tujuan hidup yang utama pada manusia adalah mencari kesenangan (hedone) yang bersifat duniawi. Menurut pandangan hedonisme, manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mementingkan kehidupan yang penuh kesenangan dan kenikmatan. Oleh karena itu setiap menghadapi persoalan yang perlu pemecahan, manusia cenderung memilih alternativ pemecahan yang dapat mendatangkan kesenangan dari pada yang mengakibatkan kesukaran, kesulitan, penderitaan, dan sebagainya.

Implikasi dari teori ini ialah adanya anggapan bahwa semua orang akan ceenderung menghindari hal-hal yang sulit dan menyusahkan, atau yang mengandung resiko berat, dan lebih suka melakukan sesuatu yang mendatangkan kesenangan baginya.

2. Teori Naluri
Pada dasarnya manusia memiliki tiga dorongan nafsu pokok yaitu: (1). Dorongan nafsu (naluri) mempertahankan diri. (2). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan diri. (3). Dorongan nafsu (naluri) mengembangkan atau mempertahankan jenis. Dengan demikian ketika naluri pokok itu, maka kebiasaan-kebiasaan apapun tindakan-tindakan dan tingkah laku manusia yang diperbuatnya sehari-hari mendapat dorongan atau digerakkan oleh ketiga naluri tersebut. Oleh karena itu, menurut teori ini untuk memotivasi seseorang harus berdasarkan naluri mana yang akan dituju dan perlu dikembangkan.

Sering kali kita temukan seseorang bertindak melakukan seseuatu karena didorong oleh lebih dari naluri pokok sekaligus sehingga sukar bagi kita untuk menetukan naluri pokok mana yang lebih dominan mendorong orang tersebut melakukan tindakan yang demikian itu. Sebagai contoh: seorang mahasiswa tekun dan rajin belajar meskipun dia hidup didalam kemiskinan bersama keluarganya. Hal apakah yang menggerakkan mahasiswa itu tekun dan rajin belajar? Mungkin karena ia benar-benar ingin menjadi pandai (naluri mengembangkan diri). Akan tetapi mungkin juga karena ia ingin meningkatkan karier pekerjaanya sehingga dapat hidup senang bersama keluarganya dan dapat membiayai sekolah anak-anaknya (naluri mengembangkan atau mempertahankan jenis dan naluri mempertahankan diri).

3. Teori Reaksi yang Dipelajari
Teori ini berpandangan bahwa tindakan atau perilaku manusia tidak berdasarkan naluri-naluri tetapi berdasarkan pola-pola tingkah laku yang dipelajari dari kebudayaan ditempat orang itu hidup. Orang belajar paling banyak dari lingkungan kebudayaan ditempat ia hidup dan dibesarkan. Oleh karena itu, teori ini disebut juga teori lingkungan kebudayaan.

Menurut teori ini, apabila seorang pemimpin atau seorang pendidik akan memotivasi anak buah atau anak didiknya, pemimpin atau pendidik itu hendaknya mengetahui benar-benar latar belakang kehidupan dan kebudayaan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan mengetahui latar belakang kebudayaan seseorang kita dapat mengetahui polah tingkah. lauknya dan dapat memahami pula mengapa ia bereaksi dan bersikap yang mungkin berbeda dengan orang lain dalam menghadapi suatu masalah.

4. Teori Daya Pendorong
Teori ini merupakan perpaduan antara “teori naluri” dengan “teori reaksi yang dipelajari”. Daya pendorong adalah semacam naluri, tetapi hanya suatu dorongan kekuatan yang luas terhadap suatu arah yang umum. Misalnya suatu daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Semua orang dalam semua kebudayaan mempunyai daya pendorong pada jenis kelamin yang lain. Namun, cara-cara yang digunakan dalam mengejar kepuasan terhadap daya pendorong tersebut berlain-lainan bagi tiap individu menurut latar belkang kebudayaan masing-masing.

Oleh karena itu, menurut teori ini, bila seorang pemimpin atau seorang pendidik ingin memotivasi anak buahnya, ia harus mendasarkannya atas daya pendorong yaitu atas naluri dan juga reaksi yang dipelajari dari kebudayaan lingkungan yang dimilikinya. Memotivasi anak didik yang sejak kecil dibesarkan didaerah gunung kidul misalnya, kemungkinan besar akan berbeda dengan cara memberikan motivasi pada anak yang dibesarkan di kota medan meskipun masalah yang dihadapinya sama.

5. Teori kebutuhan
Teori ini beranggapan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan psikis. Oleh karena itu, menurut teori ini, apabila seorang pemimpin ataupun pendidik bermaksud memberikan motivasi kepada seseorang, ia berusaha mengetahui terlebih dahulu apa kebutuhan-kebutuhan orang yang akan dimotivasinya.

Berikut ini salah sartu dari teori kebutuhan yang dimaksud. Teori Abraham Maslow. Sebagai seorang pakar psikologi, Maslow mengemukakan adanya lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Keterangan:
a. Kebutuhan fisiologis: kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan fital yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang, dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dansebagainya.
b. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (safety and security) seperti terjamin keamanannya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil, dan sebagainya.
c. Kebutuhan sosial (social needs) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama.
d. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs), termasuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau setatus, pangkat, dan sebagainya.
e. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization), seperti antara lain: kebutuhan mempertinggi potensi-potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara maksimum, kreatifitas , dan ekspresi diri.

Tingkat atau hirarki kebutuhan dari maslow ini tidak dimaksud sebagai suatu kerangka yang dapat dipakai setiap saat, tetapi lebih merupakan kerangka acuan yang dapat digunakan sewaktu-waktu bila mana diperlukan untuk memperkirakan tingkat kebutuhan mana yang mendorong seseorang –yang akan dimotivasi- bertindak melakukan sesuatu.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mengamati bahwa kebutuhan manusia itu berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi adanya perbedaan tingkat kebutuhan itu antara lain latar belakang pendidikan, tinggi rendahnya kedudukan, pengalaman masa lampau, pandanagan atau falsafah hidup, cita-cita dan harapan masa depan, dari tiap individu.

Setiap individu tidak akan berusaha meloncat kepemuasan kebutuhan ke tingkat atas sebelum kebutuhan yang ada dibawahnya terpuaskan. Bagaimanapun manusia adalah makhluk yang tak pernah berada dalam keadaan sepenuhnya puas. Hal ini terlihat dari kebutuhan-kebutuhan yang ada dalam diri manusia tidak pernah berhenti menuntut adanya pemuasan. Kebutuhan yang pada suatu saat telah terpuaskan dilain saat akan kembali menuntut adanya pemuasan. Demikian seterusnya sehingga tuntutan dan pemuasan kebutuhan membentuk lingkaran yang tidak berujung.

Rujukan:
1. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 74-78.
2. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989), hlm. 223
3. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
4. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com , www.arminaperdana.blogspot.com

Proses motivasi dan berbagai factor yang mempengaruhinya telah dibahas oleh para pakar motivasi dari sudut pandang yang berbeda-beda dan menghasilkan pengertian yang berbeda-beda pula. Hal ini disebabkan karena motivasi sangatlah komplek yang tidak bisa didefinisikan dan diinterpretasikan dari sust pandang tertentu saja. Bukan berarti definisi yang ada semuanmya salah, akan tetapi semuanya saling mendukung satu sama lain. Suatu hal yang lumrah dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak eksak.

Motivasi tidak bisa dibahas dengan cermat apabila masih difahami sebagai suatu kepribadian (personality) yang dimiliki oleh sementara orng saja. Hal ini lebih baik dimengerti dalam komitmennya dengan dampak lingkungan terhadap nama orng bereaksi. Maksudnya penerjemahan dan penafsiran tentang motivasi sulit untuk bisa diterima oleh setiap indiviudu dengan berbagai latar beakang dan karakteristiknya, karena proses terbentuknya motivasi antara satu orang dengan yang lainnya tidak mesti sama, sehingga menghasilkan tingkat motivasi yang berbeda pula walaupun rangsangannya sama. Motivasi itu hendaknya dipahami dengan melihat reaksi individu atas berbagai rangsangan yang ada.

Pada satu sisi motivasi tampak sebagai kebutuhan dan sekaligus sebagai pendorong yang dapat menggerakkan semua potensi setiap orang. Sedangkan disisi lain motivasi tampak sebagai suatu usaha positif dalam menggerakkan daya dan potensi yang ada, sehingga menghasilkan kinerja yang bagus demi tercapainya tuuan yang telah ditetapkan, baik tujuan organisasi maupun tujuan individual. Dalam hubungan inilah Raymond B. Cattel menemukan suatu kenyataan bahwa konsep motivasi berkaitan erat dengan konsep “sintality”. Dengan “sintality” atau sintalitas diartikan “pencapaian ” atau “pemuasan tujuan”.

Konsep lain yang bertalian dengan motivasi adalah konsep yang biasanya diutarakan dengan istilah “need” atau kebutuhan dan istilah “incetive” atau perangsang. Kedua istilah ini bagaikan dua sisi dari mata uang logam yang sama. Hubungan kedua logam ini sebanding dengan hubungan konsep tujuan dan alat untuk mencapai tujuan itu (Ends and mean concept). Perangsang atau insentif ini dapat dipandang alat untuk memenuhi atau memuaskan kebutuhan.

Keadaan motivasi seseorang dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu situasi motivasi yang subyektif dan situasi motivasi yang obyektif. Yang subyektif merupakan keadaan yang terdapat dalam diri seseorangyang disebut need (kebutuhan), drive (dorongan), desire (keinginan), dan Impuls (bisikan-bisikan hati). Sedangkan yang obyektif adalah keadaan yang berada diluar seseorang yang biasa disebut dengan istilah incentive (rangsangan) dan goal (tujuan). Suatu kesimpulan yang dapat diambil adalah bagaimana konsep motivasi didefinisikan atau ditafsirkan tidak akan lepas dari tiga komponen dasar yaitu tujua, kebutuhan dan dorongan atau rangsangan.

Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992).
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991).
4. E. koeswara, Motivasi, (Bandung: Angkasa, 1989)

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Dalam proses belajar mengajar motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajarnya. Motivasi disini merupakan syarat mutlak didalam belajar. Oleh karena itu seorang guru disini diharapkan bisa memberi motivasi belajar kepada siswa.

Menurut Oemar Hamalik dalam bukunya “psikologi belajar dan mengajar” menyatakan motivasi adalah suatu perubahan energi dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Adapun pengertian motivasi menurut para pakar pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Menurut James O. Whittaker menyatakanan motivasi adalah kondisi-kondisi atau keadaan yang mengaktifkan atau memberi dorongan kepada makhluk untuk bertingkah laku mencapai tujuan yang ditimbulkan oleh motivasi tersebut.
2. Menurut Mc Donal, “Motivation is a nergy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction”. Motivasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.
3. Menurut Ghuthrie motivasi hanya menimbulkan variasi respons pada individu, dan bila dihubungkan dengan hasil belajar, motivasi tersebut bukan instrumental dalam belajar .
4. Menurut Wood Worth dan Marques motif adalah suatu tujuan jiwa yang mendorong individu untuk aktivitas-aktivitas tertentu dan untuk tujuan-tujuan tertentu terhadap situasi disekitarnya.

Dari devinisi atas dapat diartikan bahwa motivasi adalah sebab-sebab yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu aktivitas atau perbuatan untuk mencapai suatu tujuan. Motivasi disini berasal dari dalam diri sendiri, dan juga motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar individu tersebut.

Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Psikologi Belajar dan Mengajar, (Bandung: Sinar baru, 1992), hlm. 186
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 205-206.
3. Mustaqim dan Abdul Wahib, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 72

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.