Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman  Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur.
————–

Semantik Kondisi Kebenaran versus Semantik Tindak Tutur
Ada perbedaan pendapat antara SKK dan STT dalam memaknai wacana atau memaknai bahasa yang benar. Teori SKK dalam memaknai sutu wacana lebih mendasarkan pada pola berpikir logis, faktual, dan lebih didasarkan pada pendekatan dikotomis (salah benar). Pola berpikir yang digunakan lebih mengedepankan pola berpikir Aristotle dengan silogismenya dan pola berpikir kaum empiris. Kaum empiris menegaskan, bahwa ungkapan verbal itu bermakna hanya jika makna ungkapan itu dapat ditemui dalam pengalaman atau dapat diidentifikasi dengan ungkapan-ungkapan yang memiliki kebenaran (Wahab, 1999b).

SKK sebagai suatu teori dalam memberikan makna yang benar terhadap suatu wacana sebagaimana dikemukakan di atas memiliki kelemahan. Dalam hal ini Kempson (1977) sendiri menyatakan bahwa teori semacam ini akan dinyatakan salah, karena teori ini akan membuat prediksi yang salah atau teori ini kurang cukup sebagai teori makna dalam bahasa manusia. Selanjutnya Kempson (1977) menegaskan, bahwa teori SKK ini tidak dapat menjangkau medan makna yang lebih jauh di luar ranah teori makna yang berdasar kebenaran. Banyak kalimat yang tidak dapat dilihat dari sisi teori kondisi kebenaran, misalnya kalimat tanya, kalimat perintah, maupun ujaran-ujaran performatif. Bahkan kalau dikatakan bahwa teori SKK ini hanya cocok untuk kalimat deklaratif juga tidak seluruhnya benar, karena ada kalimat deklaratif yang pada hakikatnya bukan bermakna deklaratif, tetapi boleh jadi bermakna perintah, larangan, penyesalan, atau bermakna permohonan.

Bagaimana halnya dengan teori STT? Teori ini tampaknya dapat menjelaskan makna wacana yang tidak dapat dijelaskan oleh teori SKK. Contoh (6) sampai contoh (10) di atas, tampaknya lebih akurat jika didekati dengan teori STT daripada teori SKK. Meskipun demikian, teori STT dalam memaknai suatu wacana juga memiliki kelemahan. Di antara kelemahannya adalah bahwa teori |STT ini terbentur pada masalah ketaksaan (fenomena kebahasaan yang dapat ditafsirkan lebih dari satu). Artinya teori STT tidak mampu memberikan kepastian makna suatu wacana yang taksa.
Berikut ini kalimat taksa yang dikutip dari Kempson (1977).
(11) Ada empat banteng besar di ladang

Kalimat (11) tersebut adalah kalimat taksa. Ada kemungkinan dapat dipakai (a) sebagai peringatan bagi pejalan kaki yang akan melintasi pagar, (b) sebagai suatu bualan bagi sesama peternak, (c) sebagai suatu ancaman bagi anak yang rewel, dan (d) sebagai suatu pernyataan bagi penjaga ternak yang baru bekerja, bahwa di ladang tersebut memang benar-benar ada empat banteng besar. Dengan demikian, teori STT tidak mampu memberikan kepastian makna dari suatu kalimat yang taksa.

Kelemahan berikutnya adalah bahwa teori STT bertentangan dengan gagasan yang dikemukakan sendiri. Artinya bahwa teori STT ini mengandung unsur lokusi sebagai salah satu unstr dalam sistem teori STT. Hal ini tampak pada cara pemaknaan yang dilakukan oleh teori STT yang kurang memperhatikan bentuk atau struktur kalimat atau wacana yang disebut sebagai lokusi, tetapi lebih memperhatikan makna di balik struktur kalimat yang disebut ilokusi dan perlokusi. Selain itu, kelemahan yang terdapat pada teori STT adalah bahwa STT terperosok ke dalam bentuk bebas makna yang sudah barang tentu bertentangan dengan dunia realita. Artinya tidak ada konsistensi antara bentuk dan substansi.

————–

Demikian artikel/makalah tentang  Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur . semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian  Semantik Kondisi Kebenaran dan Semantik Tindak Tutur . Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: