Problematika Guru Dalam Penerapan KBK


Profesi mengajar adalah suatu pekerjaan professional tidak pernah luput dari problematika. Apalagi bila pekerjaan tersebut dilakukan dilingkungan masyarakat yang dinamis, dan dihubungkan dengan keperluan perorangan atau kemasyarakatan, maka keanekaan problematika tersebut makin luas.

Problematika-problematika itu sebenarnya selain dari pribadi guru juga timbul dari gejala dinamika masyarakat itu sendiri, yaitu hal-hal yang menunjukkan bahwa hidup manusia itu menurut kemajuan-kemajuan yang perlu dipenuhi oleh anggota masyarakat itu sendiri .

Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa guru dalam melaksanakan tugasnya tidak selalu berjalan dengan mulus, guru akan senantiasa dihadapkan pada problematika-problematika yang bersifat pribadi maupun sosial. Hal ini secara umum disebabkan terbatasnya kemampuan pada manusia. Sedangkan guru sendiri harus mampu menyadari bahwa manusia itu masih harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengembangkan kemampuan dirinya agar bisa mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Secara garis besar yang menyebabkan timbulnya problem dalam penerapan KBK ada beberapa faktor, yaitu:
a. Faktor Internal
Factor ini ada beberapa bagian yaitu: latar belakang pendidikan guru, pengalaman balajart, kondisi fisik atau psikis.
b. Faktor Eksternal
Factor eksternal ini juga ada beberapa bagian antara lain: terbatasnya sarana dan prasarana, pengawasan dari kepala madrasah dan kurangnya pelatihan.

Adapun problematika yang dihadapi oleh guru dalam melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
a. Problem Guru Dalam Penyusunan Silabus
Silabus dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu produk pengembangan kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan kemampuan dasar yang ingin dicapai dan pokok-pokok serta uraian materi yang perlu dipelajar peserta didik dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kemampuan dasar.

Manfaat dari silabus adalah sebagai pedoman dalam pengembangan pembelajaran, pengelolaan kegiatan pembelajaran dan pengembangan sistem penilaian. Silabus merupakan sumber pokok dalam penyusunan rencana pembelajaran, baik rencana pembelajaran untuk satu standar kompetensi maupun satu kompetensi dasar.

b. Problem Guru Dalam Pengembangan Materi
Materi pokok atau materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi yang harus dipelajari peserta didik sebagai sarana pencapaian kompetensi dasar yang harus dikuasai oleh peserta didik. Jika kompetensi dasar dirumuskan dalam bentuk kata kerja, maka materi pokok atau pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kata benda atau kata kerja yang dibedakan.

Selanjutnya materi pokok atau pembelajaran itu perlu dirinci atau diuraikan kemudian diurutkan untuk memudahkan kegiatan pembelajarannya. Satu hal perlu diperhatikan dalam merinci atau menguraikan pembelajaran adalah melakukan identifikasi terhadap meteri tersebut.

c. Problem Guru Dalam Pengambangan Metode
Dalam memilih metode mengajar, guru harus mempertimbangkan system pengajaran yang lain baik itu tujuan, materi media dan yang lainnya karena tanpa adanya kesesuaian antara system pengajaran maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan efektif dan efisien.
Namun pada kenyataannya banyak guru yang tidak menerapkan metode yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran dikelas. Mayoritas mereka hanya menggunakan metode tertentu, tanpa ada pengembangan. Oleh karena itu dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi ini guru harus memiliki metode yang tepat dalam menyampaikan materi pelajaran dan harus disesuaikan dengan kemampuan guru sendiri, situasi, alat-alat yang ada dan tingkat kemampuan peserta didik.

d. Problem Guru Dalam Menentukan Media
Media sebagai salah satu komponen yang mendukung dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Media ini adalah alat yang dapat membantu proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.

Manfaat dari penggunaan media adalah menambah kegiatan belajar murid, menghemat waktu belajar, menyebabkan agar hasil belajar lebih permanen, memberikan kemudahan dalam pemahaman materi bagi peserta didik. Dari sini maka dapat dilihat akan pentingnya penggunaan media, tetapi yang menjadi problem yaitu tersedianya alat pengajaran yang relatif terbatas berkaitan dengan biaya yang ada. Dalam hal ini guru harus bersikap kreatif mampu menciptakan media sendiri secara sederhana tetapi dapat dimengerti oleh peserta didik.

e. Problem Guru Dalam Menentukan Evaluasi (penilaian)
Evaluasi yang sering disebut penilaian adalah alat untuk mengukur kemapuan sampai dimana penguasaan murid terhadap pendidikan yang telah diberikan. Adapun dasar tujuan evaluasi adalah untuk mengetahui atau mengumpulkan informasi tentang taraf perkembangan dan kemajuan yang diperoleh peserta didik, dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum.

Sesuai dengan tujuan evaluasi diatas, maka untuk mengetahui efektifitas dan efisien pelaksanaan proses belajar mengajar harus diadakan evaluasi. Evaluasi ini sebaiknya dilakukan tiap selesai berlangsungnya pelajaran atau pada awal kegiatan belajar-mengajar dimulai. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan peserta didik dalam mengikuti pelajaran yang akan dilaksanakan.

Menurut Eddy SoewarsikartaWijadjaja, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui taraf kesiapan murid dalam kegiatan tertentu
2. Untuk mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai dalam proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
3. Untuk menguasai penguasaan bahan pelajaran oleh peserta didik
4. Sebagai bahan informasi dalam memberikan bimbingan tentang jenis pendidikan atau jabatan yang cocok bagi peserta didik
5. Sebagai bahan iniformasi tentang seorang anak apakah peserta didik naik atau tinggal kelas
6. Menafsirkan peserta didik apakah ia bisa terjun ke masyarakat atau harus melanjutkan belajarnya
7. Mengadakan seleksi calon yang paling cocok untuk suatu jabatan atau suatu jenis pendidikan
8. Mengetahui taraf efisiensi metode mengajar yang digunakan di kelas.

Dengan mengadakan evaluasi,seorang guru akan dapat mengetahui sampai dimana pengetahuan peserta didik, dan apa metode yang sesuai untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan guru dalam menyampaikan materi.

Rujukan:
1. Arifin,”Kapita Selekta Pendidikan”, Jakarta, Bumi Aksara, 2003, edisi revisi, hal 110
2. Eddy Soewardi Kartawidjaja,”Pengukuran dan Hasil Eavaluasi Belajar”, Bandung, Sinar Baru, 1987, hal 8-9

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: