Membaca Tanpa Aksara Dengan Grafologi

Membaca dengan aksara atau membaca aksara merupakan sebuah kelaziman. Sebab, dunia baca membaca memang terkait erat dengan aksara. Menjadi tidak lazim jika membaca dilakukan tanpa aksara. Banyak ahli mengatakan garis tangan dan raut wajah seseorang bisa dibaca untuk menggali perilaku dan dunia batinnya. Belakangan ini, seni membaca perilaku atau karakter orang lain dilakukan tidak hanya lewat garis tangan dan raut wajah, tetapi juga tanda tangan. Para ahli psikologi menyebutnya dengan istilah ‘grafologi’, yakni kemampuan membaca tulisan dan tanda tangan seseorang untuk mengetahui karakternya secara umum.

Tabloid Tempo (5/1/2010) membuat ulasan sangat menarik tentang grafologi. Menurut seorang pakar grafologi, Reni Akbar Hawadi, membaca dan menganalis tulisan dan tanda tangan seseorang itu seperti melihat lukisan. Tulisan sama halnya dengan lukisan. Jika diperhatikan, setiap lukisan atau tulisan memiliki kesan umum. “Perhatikan tarikan garis tulisan seseorang, kemudian tentukan energi emosional si penulis”, begitu ungkap Reni di Tabloid Tempo beberapa bulan lalu.

Setiap goresan tangan seseorang baik lewat lukisan, tulisan maupun tanda tangan memiliki energi emosional yang bisa menggambarkan perilaku dan dunia batinnya. Energi ini, menurut Reni yang sangat berpengalaman dalam dunia grafologi dan menjadi profesinya itu, bisa dilihat pada ketebalan dan tekanan tulisan yang. Tekanan garis dan ketebalannya bisa dilihat dengan meraba belakang permukaan kertas yang ditulis. Seberapa besar tekanan garis menggambarkan seberapa besar energi emosionalnya yang dapat mempengaruhi perilaku dan karakter seseorang.

Energi emosional merepresentasikan kepribadian dan memiliki dampak langsung terhadap karakter kepribadian penulisnya. Sebab, energi tersebut merupakan kombinasi antara fisik dan tingkat energi. Studi yang dilakukan Reni menunjukkan seseorang yang tulisanya memiliki tekanan besar — garis tulisannya tebal-tebal— umumnya memiliki mental yang kuat dan tingkat kesuksesan tinggi. Selain itu, dia memiliki banyak vitalitas dan pengalaman emosional yang bertahan lama. Sebaliknya, tulisan yang garis tekannya nya tipis cenderung menghindari situasi yang menguras energi. Pengamatan saya selama ini dengan melihat tulisan dan tanda tangan mahasiswa saya – sekadar untuk menghindari kepenatan perkuliahan — menunjukkan orang dengan gaya tulisan demikian umumnya cenderung tidak mau bersusah-payah dalam bekerja dan mau enak sendiri dan pragmatis.

Indikator lainnya, menurut Reni, adalah kemiringan garis pada tulisan. Kemiringan garis merupakan indikasi respons penulis terhadap dunia luar. Studi Reni menunjukkan tulisan yang miring ke kanan menggambarkan respons yang kuat penulisnya terhadap situasi emosionalnya. Selain itu, orang dengan gaya tulisan demikian umumnya bersifat penuh perhatian, hangat dan outgoing pada orang lain. Dia memakai hati untuk mengendalikan pikirannya.

Tulisan tegak lurus menunjukkan penulisnya mencoba bersikap rasional. Berbeda dengan gaya tulisan miring ke kanan di mana hati mengendalikan pikiran, maka tulisan tegak menggambarkan pikiranlah yang menguasai hati. Sedangkan tulisan miring ke kiri umumnya menunjukkan sifat penulisnya yang dingin dan indifferent. Orang dengan gaya tulisan demikian umumnya sulit diajak bicara karena dia hanya memberikan respons seadanya dan tidak mau membuka pembicaraan dengan orang lain lebih dahulu. Dia akan memberikan respons agak hangat jika pembicaraan menyangkut hal-hal yang dia senangi atau yang ia banggakan.

Terkait dengan sikap itu, saya pernah mengalaminya waktu mengadakan wawancara dengan salah seorang informan penelitian dalam rangka penulisan tesis. Informan ini hanya mau menjawab pertanyaan yang saya berikan. Itu pun pendek-pendek, seperti ‘yes-no questions’saja. Dia sama sekali tidak mau membuka pembicaraan atau membahas hal-hal di luar yang saya tanyakan. Dalam istilah metodologi penelitian, saya memperoleh apa yang disebut ‘informan dingin’. Sebagai pewawancara saya sangat kecewa karena tidak mampu menggali informasi yang dalam mengenai tema yang saya angkat. Padahal, saya tahu orang ini merupakan informan kunci yang sangat mengetahui bidang yang saya teliti, yakni tentang perubahan sosial.

Dalam kebekuan yang hampir satu jam itu, saya berpikir kira-kira tema apa yang dapat menggugah hatinya. Secara kebetulan di dinding tembok ruang keluarga terpasang foto lama di mana di tengah ada orang tua mengenakan blangkon dan pakaian Jawa sambil diapit dua orang asing (baca:Belanda). Saya tanya itu foto siapa. Dengan spontan informan saya itu menjawab bahwa itu foto kakeknya. Lho kok dengan orang Belanda pak? tanya saya. Menurutnya, kakeknya dulu orang berpengaruh di desanya dan sering diajak orang-orang Belanda untuk bertukar pengalaman. “Lho kalau begitu bapak adalah cucu orang hebat dan bukan orang sembarangan ya”, imbuh saya. Dia menjawab “ya itulah saya sebenarnya. Hanya orang-orang di kampung ini tidak banyak mengetahui tentang saya dan keluarga. Bahkan yang memberi nama desa ini adalah kakek saya itu”, katanya. Sejak itu pembicaraan berlangung hangat hingga larut malam. Saya telah menemukan bahwa informan saya yang tadinya begitu dingin menjadi sangat hangat karena saya menemjukan tema untuk menggungah hatinya. Ini sekadar contoh untuk orang yang sikapnya dingin dan kebetulan gaya tulisannya miring ke kiri.

Menurut para ahli grafologi tangan dipandu oleh otak. Karena itu, segala yang keluar dari aktivitas tangan baik dalam bentuk lukisan, tulisan biasa dan tanda tangan mirip dengan hasil sirkuit dua arah otak dan refkeks motor tangan. Karena itu, tulisan tangan menjadi poligraf seseorang. Sekadar pengalaman, untuk mengetahui karakter mahasiswa saya pada umumnya pada awal perkuliahan biasanya saya minta semua mahasiswa tanda tangan di atas secark kertas. Setelah selesai, semua saya kumpulkan dan kemudian saya tanyakan apa mereka bersedia tanda tangannya saya baca. Secara serentak mereka umumnya mengatakan siap. Satu per satu tanda tangan itu saya baca dan selama ini tak satu pun hasil pembacaan saya meleset. Mereka tertawa mengetahui karakternya saya baca di depan kelas. Tetapi sikap negatifnya tidak saya sampaikan. Tetapi ketika ditanya apa dasar pembacaan itu, saya tidak bisa menjelsakan mengapa hasil pembacaan saya demikian. Tetapi saya bisa merasakan bahwa setiap goresan menyiratkan makna. Ini yang disebut membaca tanpa aksara.

Semudah itukah membaca karakter seseorang? Tentu tidak. Sebab, kesulitan akan muncul tatkala sejumlah ketentuan akan dipraktikkan. Misalnya, margin, spasi, bentuk huruf, letak titik, panjang pendek tulisan, garis dasar, letak titik dan jarak antarkata dan sebagainya. Margin, spasi, bentuk huruf dan semuanya itu menggambarkan karakter penulisnya. Garis bawah di setipa tanda tangan dan titik di akhir tanda tangan serta bentuk huruf menyiratkan makna dan jenis karakter penulisnya. Sekadar mainan, praktik grafologi bisa dipakai untuk mengisi waktu luang atau sambil menunggu pesawat atau kendaraan yang akan mengangkut agar pikiran tidak ngelantur ke sana kemari. Selamat mencoba !


Ditulis Oleh: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: