Menggabungkan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif

Di antara pertanyaan penting dari para pembaca sebagai bahan diskusi lebih lanjut ialah “Pak, Bisakah Kedua Metode Penelitian itu Digabung, ?”, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. “Jika digabung kan semakin sempurna”, begitu rata-rata komentar dari para pembaca. Saya merasa perlu melanjutkan diskusi dengan tema ini — walau singkat — karena ada hal-hal prinsip yang perlu dketahui oleh khalayak pembaca. Selain itu, tampaknya ada ghiroh yang tinggi untuk mendalami ilmu penelitian.

Ini fenomena sangat baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang metodologi penelitian. Perlu disadari bahwa ilmu akan berkembang jika penelitian juga dikembangkan. Sebagai pelopor ilmu pengetahuan, maka penting bagi ilmuwan, termasuk mahasiswa, memiliki pengetahuan yang cukup di bidang penelitian. Oleh karena itu, jika sebuah universitas ingin maju maka kegiatan penelitian harus menjadi salah satu prioritas pengembangan. Berikut penjelasan singkatnya.

Tidak ada penelitain yang tidak punya payung paradigma. Artinya, tidak ada penelitian yang tidak berangkat dari pemikiran filsafati, yakni antara cara berpikir positivistik — yang memandang segala sesuatu serba empirik, deterministik, dan selalu dalam hubungan kausalitas —-,dan cara berpikir interpretif yang berasumsi bahwa yang tampak hakikatnya hanya merupakan refleksi atau pantulan dari yang tidak tampak. Ini pula sebabnya cara pandang demikian sering juga disebut paradigma fenomenologi.

Jika paradigma positivistik — sebagai landasan metode kuantitatif — berurusan dengan hal-hal yang empirik (tampak) untuk dicari hubungan pada masing-masing variabelnya, maka justru sebaliknya paradigma interpretif — sebagai landasan metode kualitatif— berurusan dengan hal-hal yang tidak tampak untuk digali realitas yang sebenarnya. Untuk menjelaskan ini, saya sering menggunakan kalimat “Behind what appears there is something. And, that something is reality”. Karena itu, saya sering membedakan antara fakta (facts) dan realitas (reality). Sebab, belum tentu orang yang faktanya menangis itu susah, dan sebaliknya yang faktanya tertawa itu senang atau bahagia. Karena itu, tugas peneliti untuk membongkar apa di balik ‘tangis’ dan ‘tawa’.

Jika data metode kuantitatif diperoleh lewat kuesioner dari responden — dan semakin banyak responden semakin memiliki nilai keterwakilan tinggi, maka data metode kualitatif diperoleh lewat wawancara subjek atau informan yang tidak menggunakan ukuran keterwakilan, tetapi kedalaman masalah. Karena itu tidak relevan menanyakan berapa banyak subjek atau informan yang diperlukan dalam penelitian kualitatif.

Begitu juga tentang posisi teori. Jika pada penelitian kuantitatif teori untuk dibuktikan atau diverifikasi, — karena itu biasanya ada hipotesis—, maka pada metode kualitatif teori untuk dipakai sebagai piranti untuk memahami fenomena. Jika ada hipotesis pada penelitian kualitatif, maka hipotesis tersebut tidak untuk dibuktikan tetapi sebagai pintu masuk memahami permasalahan yang diteliti.

Terkait dengan kriteria data juga ada pebedaan mencolok di antara kedua jenis metode penelitian tersebut. Berikut paparannya:

Kuantitatif

Kualitatif

validity

credibility

reliability

dependability

objectivity

conformability

generalability

transferability

Jika pada penelitian kuantitatif data harus memenuhi syarat validity, reliability, objectivity, dan generalability, maka pada metode kualitatif data harus memenuhi syarat credibility, dependability, conformability dan transferability. (selengkapnya tentang perbedaan paradigmatik kedua jenis metode penelitian disajikan pada “Perbedaan Paradigma Positivism dan Interpretivism” silahkan baca di menu web materi kuliah ) .

Nah, jika landasan paradigmanya saja sudah sedemikian berbeda — sebagaimana saya paparkan pada tulisan sebelumnya — , biasanya saya balik bertanya bagaimana cara menggabungkannya. Saya sangat setuju bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan dengan cara penggabungan keduanya akan diperoleh kesempurnaan secara metodologis. Idenya saya setujui seratus persen. But how to implement it is the question.

Sebagai disiplin ilmu, metodologi penelitian juga terus mengalami perkembangan. Para ahli terus saja mencari cara untuk menutupi kekurangan masing-masing metode. Hasilnya diperoleh paradigma metode campuran (mixed method). Secara operasional, metode ini mencoba mengkualitatifkan hasil kuantitatif dan mengkuantitatifkan hasil kualitatif. Misalnya, hasil penelitian kuantitatif yang berakhir dengan generalisasi atau adanya hubungan antar-variabel yang berupa angka, maka angka itu dicoba dikualitatifkan dengan mengajukan pertanyaan baru. Sebaliknya, penelitian kualitatif yang berakhir dengan kesimpulan berupa narasi atau tesis diteruskan dengan mencoba mencari hubungan antar-variabel dengan mengajukan pertanyaan baru.

Jika demikian halnya, maka metode campuran hakikatnya adalah dua jenis penelitian yang satu dilakukan sebelum atau sesudah yang lain dalam satu proyek kegiatan. Sah kah metode ini? Tentu saja sah. Tetapi peneliti yang akan melakukannya harus bersiap-siap untuk lebih berlama-lama lagi berurusan dengan data, teori, dan model analisis yang tentu akan menggunakan model keduanya. Menurut saya daripada pusing-pusing melakukan metode campuran, mengapa tidak memilih satu metode saja tetapi dengan penguasaan yang sempurna.

Harus disadari bahwa secanggih apapun metode keilmuan yang kita pakai tetap saja memiliki kekurangan. Sekali lagi, ini hanya buah karya manusia, bukan karya Tuhan yang kebenarannya mutlak. Kawan lama saya yang di Amerika berkomentar lewat web saya “…no method, approach, and paradigm are perfect. They will remain insufficient”. Saya sangat setuju dengan pendapat kawan saya itu dan lebih setuju lagi jika kita sadar bahwa kita semua masih punya banyak kekurangan !

Written by: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Published by:
M. Asrori Ardiansyah, M.Ed
Teacher at Malang Indonesia

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: