Sistem Nilai dalam Budaya Organisasi Sekolah


Hegemoni Barat dalam bidang keilmuan khususnya, telah begitu mencengkeram bangsa-bangsa Timur, khususnya yang tergolong belum maju. Padahal perlu disadari bahwa kajian keilmuan yang dihasilkan Barat, tidak selamanya cocok (compatible) dengan masyarakat timur khususnya Indonesia. Noer (1986) menyatakan bahwa perlu dilakukan pendekatan khusus, bukan pendekatan ala Barat terhadap kajian masyarakat Indonesia. Ia mengemukakan bahwa pada umumnya penulis Barat dipengaruhi oleh dua aliran: liberalis-kapitalis dan/atau marxis. Akal, pikiran dan perasaan yang mendasari perilaku manusia, bagi mereka lebih berhubungan dengan kebenaran/duniawi, sama sekali tidak mempertimbangkan dimensi transenden/ukhrowi.
Dalam konteks pendidikan atau persekolahan, Tafsir (1994) telah lama merasakan hal tersebut. Banyak sistem diadopsi dari Barat, namun tidak berhasil karena ruh yang menjiwai sistem tersebut berbeda. Sekolah sebagai sustu subsistem dalam sistem sosial, memiliki nilai-nilai, tradisi-tradisi atau budaya tertentu (Mundilarno, 1995). Bagi sekolah-sekolah swasta yang berpegang pada nilai-nilai keagamaan yang dianut seperti sekolah-sekolah Islam dan sekolah Kristen atau Katolik tentu akan teraktualisasi dalam perilaku manajerial. Begitu juga bagi sekolah-sekolah negeri yang lebih bersifat nasionalis tentunya akan teraktualisasi dalam perilaku manajerialnya. Oleh karena itu untuk mencermati lembaga pendidikan yang berpegang pada nilai keagamaan atau faham tertentu, selayaknya dikaji implikasi ajaran yang dijadikan pegangan sebagai sumber nilai .
Beberapa nilai yang bersifat universal yang dapat dikembangkan di lingkungan sekolah antara lain: (1) nilai kebangsaan/nasionalitas, (2) nilai keunggulan/kualitas, (3) nilai ketertiban dan kedisiplinan, (4) nilai keteladanan, (5) nilai saling menghargai dan toleransi, (5) nilai keadilan dan kejujuran, (6) nilai tanggungjawab, dan (7) nilai prestise atau kebanggaan. Sedang nilai-nilai yang bersumber dari agama yang dapat dikembangkan di sekolah sebagaimana hasil penelitian Ekosusilo (2003) di SMA Al Islam I Surakarta, antara lain: (1) nilai dasar ajaran Islam, yaitu tauhid; (2) nilai ibadah; (3) nilai kesatuan (integritas) antara dunia dan akhirat serta antara ilmu agama dan ilmu umum; (4) nilai perjuangan (jihad), (5) nilai tanggungjawab (amanah); (6) nilai keikhlasan; (7) nilai kualitas; (8) nilai kedisiplinan; (9) nilai keteladanan; (10) nilai persaudaraan dan kekeluargaan; serta (11) nilai-nilai pesantren, yaitu: kesederhanaan atau kesahajaan, tawadhu’ (rendah hati), dan sabar.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: