Pelatihan Kewirausahaan Manajemen Pemasaran



Proposal
Pelatihan Kewirausahaan
Manajemen Pemasaran yang Kompetitif


A. Dasar Pemikiran
Berbicara masalah manajemen pemasaran, sangat terkait dengan angka pengangguran yang meningkat tiap tahun sebaiknya cepat dicermati oleh pemerintah dan segera mengambil langkah-langkah yang cukup signifikan. Jumlah angkatan kerja Indonesia yang terserap pada tahun 2003 hanya sekitar 1,4 juta orang, sedangkan jumlah angka pengangguran mencapai 40 juta orang baik itu dari pengangguran terbuka maupun yang setengah menganggur.

Masalah pengangguran ini merupakan tanggungjawab di semua sektor. Dan salah satu cara untuk mengurangi angka pengangguran adalah melalui peran manajemen pemasaran yang kompetitif dan religius. Peran tersebut sangat menyentuh langsung, di sektor riil merupakan langkah strategis dalam mengatasi pengangguran dengan cara memperluas usaha atau meningkatkan usaha sehingga dapat membuka peluang kerja. Sedangkan untuk menambah modal dalam memperluas usaha sebaiknya bekerja sama dengan bank-bank khususnya bank syari’ah yang memakai sistem bagi hasil dan sangat cocok diterapkan bagi usaha-usaha yang ada di masyarakat sekitar.

Dengan adanya wacana pemikiran pemasaran yang kompetitif dan mempunyai nilai religi, didorong oleh realitas bisnis yang mengabaikan nilai-nilai moralitas. Bagi sementara pihak, bisnis adalah aktivitas ekonomi manusia yang bertujuan mencari laba semata-mata. Karena itu, cara apapun boleh dilakukan demi meraih tujuan tersebut. Konsekuensinya bagi pihak ini, aspek moralitas tidak bisa dipakai untuk menilai bisnis. Aspek moralitas dalam persaingan bisnis dianggap akan menghalangi kesuksesannya. Pada satu sisi, aktivitas bisnis dimaksudkan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, sementara prinsip-prinsip moralitas, “membatasi” aktivitas bisnis.

Berlawanan dengan kelompok pertama, kelompok kedua berpendapat bahwa bisnis bisa disatukan dengan etika. Kalangan ini beralasan bahwa etika merupakan alasan-alasan rasional tentang semua tindakan manusia dalam semua aspek kehidupannya, tak terkecuali aktivitas bisnis. Secara umum, bisnis merupakan suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, atau juga sebagai suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Dengan adanya pandangan demikian, ide mengenai etika bisnis bagi banyak pihak termasuk ahli ekonomi merupakan hal yang problematik. Problematika ini terletak pada kesangsian apakah moralitas mempunyai tempat dalam kegiatan bisnis dan ekonomi pada umumnya. Dari kalangan yang menyangsikan, kemudian dikenal istilah “mitos bisnis amoral”. Perilaku bisnis tidak bisa dibarengkan dengan aspek moralitas. Antara bisnis dan moralitas tidak ada kaitan apa-apa dan karena itu merupakan kekeliruan jika aktivitas bisnis dinilai dengan menggunakan tolak ukur moralitas.

Selain itu, dalam realitas bisnis kekinian terdapat…….

Download Poposal DI SINI

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, http://grosirlaptop.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: