Metode Pengukuran Intelegensi


Metode yang dipergunakan untuk mengukur suatu intelegensi seseorang adalah metode tes yang disebut mengemukakan, bahwa penggunaan tes IQ ini dimaksudkan untuk memperkirakan atau menilai kapasitas seseorang untuk belajar (Witherington, 1982) dan hasil tes intelegensi dapat digunakan untuk memprediksi hasil belajar. Dalam penelitian ini pengukuran IQ dilakukan dengan menggunakan tes Progressive Matrices (PM). Tes PM merupakan tes sangat populer dalam pengukuran intelegensi. Tes ini kemudian dikembangkan oleh Raven dari Inggris pada tahun 1938. Item-item tes PM digambarkan sebagai berikut ini (Nurkancana, 1983).

Dalam membuat rumus pengukuran intelegensi Binet menggunakan pedoman selisih tetap umur mental (mental age) selanjutnya disingkat MA dengan unsur kronologis (“chronological age” selanjutnya disingkat CA). Individu dinyatakan normal jika selisih MA dan CA sebesar 3 tahun. Tetapi cara ini kemudian diperbaiki lagi tahun 1911 dengan menggunakan perbandingan tetap antara umur kronologis dengan umur mental. Dengan demikian tingkat intelegensi ditunjukkan dengan perbandingan kecerdasan yang disebut dengan istilah Intelegensi Quotient yang biasa disingkat IQ. Oleh karena itu IQ dapat dirumuskan sebagai IQ = MA/CA (Soemanto, 1984). Hasil yang diperoleh dari rumus diatas sering memberikan bilangan pecahan. Kemudian Terman pada tahun 1911 mengalikannya dengan 100 sehingga diperoleh bilangan bulat. Dengan demikian rumus IQ = MA/Ca x 100.

Pada lingkungan sekolah, tujuan pengukuran psikologis dimaksudkan untuk mengetahui kecerdasan umum dan bakat penjurusan Fisika, Biologi, Sosial dan Budaya. Sedangkan aspek yang diungkapkan meliputi berikut ini:

Gambar 1. Contoh tes Progressive Matrices

a. Kecerdasan umum :
Mengungkapkan kemampuan berfikir dan memecahkan masalah secara umum.
b. Bakat
1. Logical Verbal : Mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memahami dan memecahkan masalah secara logis dengan menggunakan bahas.
2. Arithematic : mengungkapkan kemampuan berfikir yang berhubungan dengan angka dan memperhitungkan secara cepat dan tepat hal-hal yang bersifat kuantitatif.
3. Pandang ruang : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pandang ruang dan mengimajinasikan bentuk akhir suatu obyek dari rancangan yang sudah ditentukan.
4. Mechanical : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk masalah yang berhubungan dengan prinsip dasar dan gerakan-gerakan mekanis.
5. Penalaran : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang bersifat abstrak dan hubungan antara dua hal dengan mempergunakan tanda-tanda yang tidak terkait oleh bahasa.
6. Dasar ilmu pasti : mengungkapkan kemampuan berfikir untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan persamaan dan perbedaan antara obyek-obyek atau simbol-simbol secara tepat dan teliti.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com http://grosirlaptop.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: