Arsip

Monthly Archives: Oktober 2011

Pikiran kamu jangan langsung jorok dulu ini bukan Video mesum Ahmad Dhani dan Dewi Perssik bukan lagi mesum tetapi kamu harus waspadai jika memperoleh situs phishing yang menunjukkan foto Ahmad Dhani dan penyanyi Indonesia, Dewi Perssik dengan judul ‘Video Mesum Ahmad Dhani yang Terekam Kamera CCTV’. Jika Anda mengklik bisa jadi akan menjadi korban phising.

Bulan Oktober 2011, Symantec, perusahaan menyedia keamanan, mengamati bahwa phisher menggunakan bintang rock Indonesia Ahmad Dhani untuk scam Facebook mereka. Dhani adalah pentolan band rock “Dewa 19″ dan “Ahmad Band”.

Dalam keterangan yang diterima , Kamis (25/10/2011), setelah pengguna memasukkan informasi login Facebook mereka, halaman phishing ini akan mengarahkan pengguna ke sebuah website porno dan phisher telah berhasil mencuri informasi pengguna tersebut untuk pencurian identitas.


Selebriti seringkali digunakan dalam serangan phishing. Sebelumnya, Symantec melihat Aishwarya Rai dan Katrina Kaif digunakan sebagai umpan phishing. Phisher memilih selebriti yang memiliki banyak penggemar karena dengan banyaknya penggemar, maka peluang lebih banyak pengguna yang tertipu semakin besar.

sumber: http://palingseru.com

Iklan

Mendapatkan beasiswa ke luar negeri, baik itu untuk studi, training, ataupun jalan-jalan saja merupakan keinginan dan impian hampir semua orang. Hanya yang membedakan antara orang yang mendapatkan kesempatan itu dengan yang tidak adalah seberapa lama bisa mempertahankan mimpi itu dalam diri kita. Ada yang ngomong,”Life is only about how long you can survive.”

Aku bukanlah orang yang punya otak briliant, ataupun lulus dengan predikat cumlaude s1 kemarin. Tapi, alhamdulillah, setelah lulus s1 di bulan April 2009, apply scholarship. Seleksi selama 1 tahun, akhirnya di terima. Usiaku saat itu 23 th, dimana merupakan penerima beasiswa s2 International Fellowship Programs – Ford Foundation termuda diantara 49 orang lainnya yang datang dari seluruh penjuru Indonesia. Waktu itu jumlah pelamar 9333 orang se-Indonesia.

Mendapatkan beasiswa untuk studi ke luar negeri bukanlah hal yang mudah apalagi bila sponsornya dari luar negeri. Namun, itu juga bukanlah hal yang mustahil untuk di dapatkan. Aku ingat sekali, sewaktu seleksi beasiswa itu. Selama 1 tahun aku tidak bisa menerima tawaran kerja kontrak, terkatung-katung kerja freelance. Pernah ada tetanggaku yang bertanya kepada ibuku:

“Anakmu kerja apa sekarang setelah lulus?”

“Masih ngajar-ngajar les privat itulah,..” terlihat Ibuku sedikit kurang pede menjawabnya.

“Owh,..”

“Tapi dia sekarang sedang ikut seleksi beasiswa s2 ke luar negeri.” lanjut Ibuku, mungkin merasa sedikit di remehkan. Tetangga itu pun berkata,

“Anakmu itu tidak tahu diri. Keinginanannya terlalu muluk. Tidak ingat dengan bagaimana kondisi keluarganya sekarang.”

Sesampai di rumah, ibuku menceritakan semuanya. Wuiihhh,.. rasanya mau nangis diri ini di pangkuan ibu. Jujur waktu itu hidup kami sedang ngak karuan. Uang terbatas, makan pun susah. Aku anak tertua, ayahku sudah tiada. Oleh sebab itu, tanggung jawab keluarga berada di pundakku. Aku hanya bermodalkan keyakinan bahwa aku akan mendapatkan apa yang telah aku impikan. Ridho tuhan bersama ku karena ku melakukan semua ini untuk membahagiakan keluarga dan orang-orang di sekitarku.

Seleksi Beasiswa

Sebenarnya sejak aku mulai kuliah s1 di Universitas Bengkulu, aku sudah menancapkan azam dalam diriku. Aku harus dapat beasiswa s2. Soalnya, s1 ini saja biaya masuknya ngutang. Tidak mungkin s2 nanti kembali gali lobang lagi. Maka, sembari kuliah, aku mengasah kemampuan menulis, terjun di beberapa organisasi untuk mengasah kemampuan leadership dan komunikasi, terjun di kegiatan-kegiatan sosial dan bekerja.

Pada saat aku lagi sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi untuk lulus di bulan April 2009, dua teman dekatku Winda dan Dendi, mengajakku ikut seleksi beasiswa IELSP ke USA. Beasiswa ini memfasilitasi mahasiswa dari beberapa negara untuk belajar selama 2 bulan di USA dengan full funding. Waktu itu aku mulai goyah, antara melanjutkan skripsi, atau take break ikut seleksi beasiswa IELSP. Konsekuensinya, tamat kuliah tertunda. Namun, keluargaku tidak bisa menunggu lebih lama lagi jika aku masih terus kuliah. Ada adik yang harus biaya sekolah dan Ibu yang harus di ringankan beban kerjanya. Akhirnya aku memutuskan untuk fokus ke skripsi ku. Dua teman ku itu mengikuti seleksi, dan kebetulan kuota untuk Provinsi Bengkulu, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Alhamduliallah, mereka berdua dapat, Winda ke Ohio University dan Dendi ke Syracuse University.

Ketika, aku mengantar mereka di bandara. Mau nangis rasanya diri ini. Dua sahabat dekat ku pergi ke luar negeri sedangkan aku tinggal sendiri di sini. Galau pun tak elak muncul dalam benakku. Apakah benar aku bisa mewujudkan keinginananku keluar negeri. Akhirnya, dalam hati ku berkata,”Kalian pergilah 2 bulan ke luar negeri, aku nanti 2 tahun.” Alhamdulillah, ternyata tuhan mendengar suara hatiku dengan mendapatkan beasiswa s2 ini. Studi s2 di University of Manchester 🙂

Kunci utama jika ingin memenangkan sebuah scholarship adalah pahami scholars seperti apa yang diinginkan oleh si funding. Beda beasiswa, beda objek yang mereka cari. Informasi ini bisa di lihat di eligible for pada saat iklan beasiswa itu. Kemudian, cari beasiswa yang kriteria scholarnya mendekati backgorund yang kita miliki, baik itu secara akademisi, pekerjaan dan lain sebagai. Bila ini sudah cocok atau sedikit cocok. Anda sudah satu langkah di depan kandidat yang lain. Langkah selanjutnya adalah bagaimana anda menjelaskan, menggambarkan serta meyakinkan pihak sponsor bahwa apa yang mereka cari ada dalam diri anda. Biasanya pihak sponsor mengetahui hal ini lewat formulir yang kita kirim ke mereka. Tahap ini mungkin di pandang sepele oleh sebagaian orang. Kebanyakan berfikir, interview lah yang paling susah. Tetapi, sebenarnya pihak sponsor sudah menetapkan siapa yang akan di biayinya sejak dari tahap ini. Interview hanya proses meyakinkan saja.

sumber:http://edukasi.kompasiana.com

Kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri kini terbuka lebar bagi abdi negara alias pegawai negeri sipil. Tak perlu lagi ada dilema antara memilih pekerjaan sebagai abdi negara atau melanjutkan studi!

Ariono Hadipuro (Ono), staf di Nuffic NESO Indonesia, mengungkapkan, saat ini justru kesempatan untuk melanjutkan studi di luar negeri bagi para pegawai negeri terbuka lebar. Ia mengatakan, pegawai negeri kini menjadi target utama dari pemberi beasiswa berbagai negara.

“Kenapa pegawai negeri? Pertama, pegawai negeri adalah policy maker,” kata Ono, Senin (10/10/2011) malam, dalam diskusi mengenai studi luar negeri, di Jakarta.

Ia menjelaskan, banyak negara mengutamakan memberikan beasiswa kepada PNS karena fungsi PNS diharapkan bisa mengutamakan kepentingan negara setelah mereka menyelesaikan studinya.

“Istilahnya itu tidak ada makan siang yang gratis,” ujarnya.

Alasan kedua mengapa PNS dianggapnya sangat beruntung adalah karena saat ini beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia jumlahnya meningkat jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Beasiswa dari Pemerintah Indonesia diberikan melalui beberapa kementerian, seperti Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

Belum lagi saat ini ada beasiswa spirit, yaitu beasiswa dari 11 institusi yang mengelola dana pinjaman dari Bank Dunia dalam bentuk beasiswa untuk orang-orang yang bekerja di institusi pemerintahan. Ada ribuan beasiswa tersedia bagi pegawai negeri asal Indonesia dan berbagai negara.

“Saya mau bilang, teman-teman PNS harus memiliki rencana jangka panjang untuk studi di luar negeri dengan beasiswa tersebut,” kata Ono.

Menyimak cerita para alumni yang berhasil meraih beasiswa studi di luar negeri, selalu terselip hal yang menarik dan memotivasi. Misalnya, bagaimana usaha mereka saat berburu universitas, jurusan yang akan diambil, hingga cerita saat menjalani studi di negeri orang.

Salah satunya cerita yang dibagi Muhammad Robi, alumni Columbia University, Amerika Serikat saat melanjutkan S-3 di Negeri Paman Sam tersebut. Menurutnya, yang menarik dari studi di Amerika salah satunya adalah terformatnya aplikasi beasiswa sehingga memungkinkan siapa saja dapat mendaftar beasiswa melalui internet dan langsung pada universitas yang akan dipilih.

Lulusan S-1 bisa langsung studi S-3

Selain itu, yang perlu diketahui adalah, ternyata semua lulusan S-1 dapat langsung melanjutkan studi ke jenjang S-3 tanpa harus menyelesaikan S-2 terlebih dahulu. Ketika mendaftar, setiap mahasiswa S-1 dapat langsung mengajukan aplikasi untuk melanjutkan jenjang S-3. Jika diterima, selain bebas biaya dan mendapatkan uang saku, setiap mahasiswa S-3 juga akan diperlakukan selayaknya mahasiswa S-2, paling tidak satu sampai dua tahun pertama.

“Studi S-3 di Amerika itu tidak perlu S-2. Setelah lulus S-1 bisa langsung apply ke S-3. Nantinya, ibarat lari gawang, semua bertahap, ada ujian, ujian proposal, sampai ujian sidang,” kata Robi, saat diskusi mengenai studi di luar negeri, Senin (10/10/2011) malam, di Jakarta.

Robi yang kini tercatat sebagai peneliti senior di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) mengungkapkan, studi S-3 di Amerika paling cepat dapat ditempuh selama lima tahun. Tanpa S-2 terlebih dahulu membuat lamanya waktu studi S-3 di Amerika menjadi lebih lama jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Meski demikian, menurutnya, hal itu dapat disikapi sebagai investasi energi dan tidak perlu dijadikan masalah.

“Saya menyelesaikan S3 dalam waktu tujuh tahun, memang lama tapi anggap saja itu investasi,” ujarnya.

Jangan terjebak ranking universitas

Ia berpesan, sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi di Amerika hal penting yang harus diperhatikan adalah jangan terjebak pada ranking universitas yang menjadi tujuan. Di Amerika itu terdapat ribuan universitas. Yang harus diperhatikan adalah spesifikasi program studi yang akan dipilih. Selanjutnya, cobalah untuk mulai membangun komunikasi melalui e-mail dengan beberapa profesor yang Anda nilai cocok untuk mendampingi Anda melakukan penelitian.

“Membangun komunikasi dengan profesor itu baik untuk pendekatan dan mengetahui kecocokan Anda dengan profesornya. Tapi jangan memberikan pertanyaan bodoh,” kata Robi.

“Kompetisi di sana sangat kuat dan banyak orang pintar. Maka poinnya adalah kita tidak harus sangat pintar agar diterima, tetapi kita mesti jujur dan sampaikan ‘lagu’ sendiri yang membuat mereka (universitas) tertarik pada kita, jangan takut,” ujarnya.

Bagi para dosen tetap baik dari perguruan tinggi swasta (PTS) dan perguruan tinggi negeri (PTN), bisa mencoba peluang beasiswa yang diselenggarakan Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan DIKTI untuk mengikuti program doktor di Belanda. Beasiswa diberikan kepada calon yang berstatus mahasiswa baru selama maksimum 36 bulan atau 3 tahun. Sementara, untuk tahun keempat akan dibiayai oleh universitas di Belanda.

Persyaratan

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh pelamar BLN Jalur Khusus:
* Dosen tetap dari PTN atau PTS;
* Telah mendapatkan unconditional Letter of Acceptance yang masih berlaku dari Perguruan Tinggi luar negeri yang dituju (diutamakan yang berasal dari perguruan tinggi dengan reputasi baik berdasarkan ranking THES dan Webos);
* Telah mempunyai gelar S2 atau yang setara;
* Penguasaan bahasa Inggris yang memadai (IBT TOEFL minimal 80, atau IELTS minimal 6.0), dan atau bahasa pengantar lain yang digunakan di perguruan tinggi tujuan masing-masing;
* Telah mempunyai usulan penelitian yang disetujui oleh (sekurang- kurangnya sudah dikomunikasikan dengan) calon pembimbing di PT luar negeri yang dituju;
* Umur calon tidak lebih dari 50 tahun ketika mendaftar;
* Pelamar yang berstatus suami dan istri dari bidang keilmuan yang sama, di tidak diperkenankan melamar pada perguruan tinggi yang sama dan/atau dibimbing oleh promotor yang sama.

Prosedur Pendaftaran

1. Pelamar mendaftar secara online di http://www.beasiswa.diki.go.id, setelah itu pelamar akan mendapatkan nomor registrasi;
2. Pelamar mengunduh Formulir A Khusus (beasiswa Dikti-Neso) dari website, kemudian mengisinya;
3. Pelamar mengirim berkas-berkas ke Dikti berupa: * Formulir A Khusus (beasiswa Dikti-Neso) yang sudah diisi;
* Surat izin/persetujuan dari Rektor/Pimpinan universitas tempat pelamar bekerja;
* Surat rekomendasi dari professor lokal (Indonesia);
* Surat persetujuan dari Kopertis, hanya bagi mereka yang bekerja di PTS;
* Salinan ijazah dan transkrip (IPK) S1 dan S2 yang telah dilegalisir
* Surat keterangan/bukti bahwa pelamar adalah dosen tetap;

Berkas dokumen tersebut dikirimkan ke Dikti, dengan alamat:
Direktorat Pendidik & Tenaga Kependidikan
Ditjen Pendidikan Tinggi, Jl. Pintu 1 Senayan, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta 10002.

Di saat yang bersamaan, kandidat yang mengajukan aplikasi juga harus berkomunikasi dengan professor calon pembimbing dan pihak universitas di Belanda agar mereka menyiapkan dokumen-dokumen yang juga menjadi berkas yang disyaratkan.

Dokumen-dokumen yang harus disiapkan oleh universitas di Belanda dan dikirimkan ke Neso Indonesia:
* Surat rekomendasi dari Profesor Belanda;
* Unconditional acceptance letter dari universitas Belanda;
* Surat jaminan keuangan yang dikeluarkan secara resmi oleh pihak manajemen universitas Belanda atas biaya yang harus dikeluarkan di tahun keempat program doktor yang akan dijalani kandidat;
* Bukti kemampuan bahasa Inggris (IELTS minimal 6.0 atau IBT TOEFL minimal 80);
* Proposal penelitian, termasuk rencana penelitian (maksimum 5 halaman);
* Curriculum Vitae.

Batas waktu terakhir pengiriman berkas lengkap pada 1 Desember 2011. Bagi calon yang diterima akan diumumkan pada Maret 2012. Persiapan keberangkatan dilakukan Mei-Juli 2012, sementara pembekalan studi di luar negeri pada bulan Juni-Juli 2012. Para mahasiswa akan diberangkatkan pada Juli-Agustus 2012.

sumber: http://edukasi.kompas.com

EM Food of Life adalah bagian dari program Erasmus Mundus yang diprakarsai oleh Uni Eropa untuk meningkatkan dan mempromosikan pendidikan tinggi Eropa di seluruh dunia. Program Master selama dua tahun akan meningkatkan keahlian mahasiswa, yang ditawarkan empat universitas Eropa, yaitu:

* University of Copenhagen, UC
* Swedish University of Agricultural Science, SLU
* Universitat Autonoma de Barcelona, UAB
* University of Helsinki, UH

Integrasi “Animal Science” dan “Food Science and Technology”

EM Food Life adalah program Master lintas disiplin dalam ilmu makanan hewan. Dalam cara yang unik, tentu saja menggabungkan ilmu hewan dan ilmu pangan dan teknologi yang berfokus pada sosial serta budaya, dan aspek ilmiah dari rantai produksi pangan.

“Double Degree” dari Dua Universitas

Mahasiswa program master EM Food of Life akan belajar di dua negara mitra konsorsium. Jika Anda mendapatkan beasiswa Erasmus Mundus, maka Anda harus memilih dua negara yang berbeda dari negara dimana Anda terakhir mendapatkan gelar.

Anda juga memiliki kesempatan untuk masa studi pendek di Kanada, Inggris, Selandia Baru, atau Italia.

Program ini diajarkan dalam bahasa Inggris dan mengarah ke penghargaan dari Double Degree (120 ECTS) dalam ilmu hewan dan / atau disiplin ilmu pangan, tergantung pada pilihan lembaga.

Lulusan program ini akan mendapatkan dua gelar MSc yang diakui.

Pembiayaan oleh Uni Eropa

Setiap tahunnya tersedia 17-20 beasiswa untuk mahasiswa Non-Uni Eropa sebesar 24.000 Euro/tahun). Sementara, mahasiswa Uni Eropa akan mendapatkan 10.000 Euro/tahun

Kesempatan ini terbuka bagi kandidat mahasiswa yang berasal dari negara non-Uni Eropa dan negara Uni Eropa.

Bagi yang berminat, batas pengajuan aplikasi pada 1 Desember 2011.

Apa saja kriteria dan persyaratan bagi kandidat yang mengajukan aplikasi? Informasi selengkapnya, silakan kunjungi situs web www.emfoodoflife.eu

sumber: http://edukasi.kompas.com

Kementerian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) menggelontorkan dana Rp 8 miliar untuk Beasiswa Nusantara Cerdas bagi putra daerah di Indonesia wilayah timur. Ayo, raih kesempatan berharga ini!

Beasiswa ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pemerataan pendidikan di Indonesia, khususnya dari daerah terpencil di wilayah Indonesia Timur. Padahal, di sana ditemukan tidak sedikit pemuda-pemuda bertalenta unggul, tapi karena kondisi pendidikan yang kurang baik, akhirnya tidak dapat diberdayakan secara optimal. Belum lagi jika dilihat dari tingginya jumlah pengangguran dari tahun ke tahun.

Oleh karena itu, sambutlah kesempatan emas ini. Terutama Anda yang datang dari wilayah Indonesia bagian timur. Menurut Direktur Utama Bank BRI, Sofyan Basir, kerjasama yang bertajuk Program Beasiswa Nusantara Cerdas ini merupakan sebuah kerjasama mutualisme antara pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Nantinya para penerima beasiswa ini akan menjalani masa pendidikan di perguruan tinggi di pulau Jawa. Seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Beasiswa yang ditawarkan mencakup biaya pendidikan selama mengikuti program sarjana, biaya asrama dan biaya hidup sarjana sebesar Rp 1.800.000,- per bulan, kemudian biaya transportasi dari daerah ke perguruan tinggi (sekali), uang saku (transport lokal, fotokopi, buku) sebanyak Rp 500.000,- per bulan.

Selain itu, juga ada bantuan biaya pengadaan laptop, biaya pengembangan diri sebesar Rp 5.000.000,- (maksimal) dan Biaya penelitian sebesar Rp 2.000.000,-. Insentif dosen pendamping sebesar Rp 500.000,- per bulan, serta ada juga biaya asuransi kesehatan serta asuransi pendidikan.

Para pemohon beasiswa harus mengumpulkan seluruh berkas-berkas persyaratan untuk menjadi penerima beasiswa ini. Caranya dengan mengisi terlebih dahulu formulir pendaftaran beasiswa unggulan secara online. Formulir dapat diunduh di beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id

Setelah itu, lengkapi segala persyaratan yang telah ditentukan, seperti melampirkan ijazah dan transkrip nilai yang telah dilegalisir serta para pemohon berasal dari wilayah timur Indonesia yaitu Papua, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, dan juga seleksi administrasi.

Seleksi administrasi ini meliputi kelengkapan dokumen, keabsahan ijazah dan transkrip nilai serta nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) minimal 36,00. Setelah semuanya selesai barulah calon penerima beasiswa diperbolehkan untuk mengikuti wawancara yang bertempat di Bank BRI terdekat. Pendaftaran Beasiswa Unggulan dibuka mulai tanggal 1 Januari 2011 s.d. 31 Desember 2011./Shodiq-Salim

Informasi Lebih Lanjut:
Sekretariat Beasiswa Unggulan
Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri
Sekretariat Jenderal, Kemdiknas
Jl. Jenderal Sudirman Kemdiknas Ged.C Lt.6
Jakarta – 10270
Telp: (021) 573 111 44 ext 2616, Fax: (021) 573 9290
http://www.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id

sumber:http://www.majalahgontor.co.id