Teori Kepribadian Sigmund Freud

Kata personality dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu prosopan atau persona yang artinya topeng yang biasa dipakai artis dalam teater. Para artis itu bertingkah laku sesuai dengan ekspresi topeng yang dipakainya seolah-olah topeng itu mewakili ciri kepribadian tertentu. Jadi, konsep awal dari pengertian personalia (pada masyarakat awam) adalah tingkah laku yang ditampakkan ke lingkungan sosial. kesan mengenai diri yang diinginkan agar dapat ditangkap oleh lingkungan sosial. Ketika personaliti menjadi istilah ilmiah pengertiannya berkembang menjadi lebih bersifat internal, sesuatu yang relatif permanen, menuntun, mengarahkan dan mengorganisir aktivitas manusia. (Alwisol, 2007:8).

Menurut Alwisol (2007:1) teori psikologi kepribadian bersifat diskriptif dalam wujud penggambaran tingkah laku secara sistematis dan mudah difahami.

Kepribadian adalah ranah kajian psikologi, pemahaman tingkah laku, fikiran, perasaan kegiatan manusia memakai sistematik metode dan rasional disiplin ilmu yang lain seperti ilmu ekonomi biologi atau sejarah, bukan teori psikologi kepribadian. Teori psikologi kepribadian itu mempelajari individu secara spesifik, siapa dia, apa yang dimilikinya, dan apa yang dikerjakannya. Analisis terhadap selain individu (misalnya kelompok, bangsa, binatang atau mesin) berarti memandang mereka sebagai individu, bukan sebaliknya. (Alwisol, 2007: 2).

Kepribadian adalah bagian dari jiwa yang membangun keberadaan keberadaan manusia menjadi satu kesatuan, tidak terpecah-pecah dalam fungsi-fungsi, memahami kepribadian berarti memahami aku, diri, self, atau memahami manusia seutuhnya. Hal terpenting yang harus diketahui dengan pemahaman kepribadian adalah bahwa pemahaman itu sangat dipengaruhi paradigma yang dipakai sebagai acuan untuk mengembangkan teori itu sendiri (Alwisol, 2007: 2).

Dalam psikologi kepribadian Sigmund Freud berpendapat manusia sebagai sistem yang kompleks memiliki energi untuk berbagai tujuan seperti bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Kegiatan psikologik juga membutuhkan energi. Yang disebutnya energi psikik (psychic energy) energi yang ditranform dari energi fisik melalui id beserta insting-instingnya. Ini sesuai dengan kaidah fisika, bahwa energi tidak dapat hilang tetapi dapat pindah dan berubah bentuk (Freud dalam Alwisol, 2007: 21).

Dalam hal psikologi kepribadian Freud membagi dinamika kepribadian menjadi bagian-bagian yang saling berhubungan.
1. Insting (instinct)
Pemuasan misalnya insting lapar berasal berasal dari kebutuhan tubuh yang kekurangan nutrisi yang secara jiwani maujud dalam bentuk keinginan makan. Hasrat atau motivasi atau dorongan dari insting secara kuantitatif adalah energi psikis dan kumpulan energi dari kumpulan energi dari seluruh insting yang dimiliki seorang merupakan energi yang tersedia untuk menggerakkan proses kepribadian
Freud membagi insting menjadi dua jenis yaitu:
1) Insting Hidup dan Insting Seks
Freud mengajukan dua kategori umum, instng hidup (life instinct) dan insting mati (death instinct) insting hidup disebut juga eros adalah dorongan yang menjamin survival dan reproduksi, seperti lapar, haus, dan seks. Energi yang dipakai oleh insting hidup disebut libido. Menurut insting seks bukan hanya berkenaan dengan kenikmatan organ seksual tetapi berhubungan dengan kepuasan yang diperoleh dari bagian tubuh lainnya yang dinamakan daerah erogen (erogenous zone); suatu daerah atau baguan tubuh yang peka dan perangsangan pada daerah itu akan menimbulkan kepuasan dan menghilangkan ketegangan.
2) Insting Mati
Menurut Freud tujuan semua kehidupan adalah kematian, dorongan agresif (aggressive drive) adalah derivatif insting mati yang terpenting. Insting mati mendorong seseorang untuk merusak dirinya sendiri dan dorongan agresif merupakan bentuk penyaluran agar orang tidak membunuh dirinya sendiri (suicide)

2. Distribusi dan Pemakaian Energi pada Id, Ego dan Super Ego
Dinamika kepribadian ditentukan cara energi psikis didistribusi dan dipakai oleh id, ego, dan super ego. Jumlah energi psikis terbatas dan ketiga unsur struktur itu bersaing untuk mendapatkannya, kalau salah satu unsur mejadi lebih kuat maka dua yang lain menjadi lemah, kecuali ada energi baru yang dipindahkan atau ditambah ke sistem itu (Freud dalam Alwisol, 2007: 24)
1) Id
Id adalah sistem kepribadian yang asli dibawa sejak lahir. Dan dari id akan muncul ego dan super ego. Id berisi semua aspek psikologis yang diturunkan, seperti insting, impuls dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah tak sadar (unconscious). Id beroperasi berdasarkan prinsip kenikmatan (pleasure prinsiple) yaitu berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit.
2) Ego
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang memiliki dua tugas utama; Pertama, memilih stimulasi mana yang hendak direspon dan atau insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan dengan tersedianya peluang yang resikonya minimal. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusaha memenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang mencapai kesempurnaan dari super ego, ego sebenarnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidak memiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id.
3) Super Ego
Super ego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasi memakai prinsip idealistik(idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsip realistik dari ego. Super ego berkembang dari ego, dan seperti ego dia tidak memiliki energi sendiri. Sama dengan ego, super ego beroperasi di tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkan tidak realistis (id tidak realistis dalam memperjuangkan kenikmatan)

3. Kecemasan (anxiety)
Kecemasan adalah variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Kecemasan sebagai dampak dari konflik yang menjadi bagian dari kehidupan yang tak terhindarkan, dipandang sebagai dinamika kepribadian yang utama, kecemasan adalah fungsi ego untuk memperingatkan individu tentang kemungkinan datangnya suatu bahaya sehingga dapat disiapkan reaksi adaptasi yang sesuai. Kecemasan akan timbul manakala orang tidak siap menghadapi ancaman. Freud dalam Alwisol, (2007: 27) mengemukakan tiga jenis kecemasan: yaitu realitic anxiety, neurotic anxiety, dan moral anxiety.

Kecemasan realistik adalah takut kepada bahaya yang nyata ada di dunia luar. Kecemasan realistik ini akanmenjadi asal muasal timbulnya kecemasan neurotik dan kecemasan moral. Kecemasan neurotik adalah ketakutan terhadap hukuman yang bakal diterima jadi masih bersifat khayalan, sedangkan kecemasan moral timbul ketika orang standar nilai dari norma yang ada. Kecemasan moral dan kecemasan neurik tampak mirip, tetapi memiliki perbedaan prinsip yakni; tingkat kontrol ego, pada kecemasan moral orang tetap rasional dalam memikirkan masalah berkat energi super ego, sedangkan pada kecemasan neurotik orang dalam keadaan distres, terkadang panik sehingga mereka tidak dapat berfikir jelas dengan energi id menghambat penderita kecemasan neurotik membedakan antara khayalan dengan realita.

4. Pertahanan (defense)
Fungsi utama psikodinamik kecemasan adalah membantu individu menolak impuls yang dikehendaki masuk kesadaran, dan memberi kepuasan kepada impuls itu secara tidak langsung. Bagi Freud, mekanisme pertahanan adalah strategi yang dipakai individu untuk bertahan melawan ekspresi impuls id serta menentang tekanan super ego. Freud membagi defense menjadi beberapa mekanisme, namun menurut freud, jarang ada orang yang memakai hanya satu mekanisme pertahanan untuk melindungi diri dari kecemasan, umumnya orang memakai beberapa mekanisme pertahanan. Adapun mekanisme tersebut adalah sebagai berikut:
1) Identifikasi (identification)
Identifikasi adalah cara mereduksi tegangan dengan meniru (mengimitasi) atau mengidentifikasikan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil memuaskan hasratnya dibanding dirinya.
2) Pemindahan/Reaksi promi(Displacement/Reactions Compromise)
Pemindahan adalah manakala objek kataksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapat dicapai karena tekanan dari luar (sosial, alami) atau dari dalam (antikateksis), insting itu direpres kembali ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru, yang berarti pemindahan energi dari objek satu keobjek yang lain sampai ditemukan yang dapat meredupsi tegangan.
3) Represi (Repression)
Represi adalah proses ego memakai kekuatan anticathaxes untuk menekan segala sesuatu (ide, insting, ingatan, fikiran) yang dapat menimbulkan kecemasan keluar dari kesadaran.
4) Fiksasi dan Regresi (Fixation and Regression)
Fiksasi adalah terhentinya perkembangan moral pada tahap perkembangan tertentu karena perkembangan lanjutan sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan kecemasan yangterlalu kuat, sedangkan regresi adalah mundur ketahap perkembangan yang dahulu di mana dia merasa puas di sana.
5) Pembentukan reaksi (Reaction Formation)
Pembentukan adalah tindakan defensif dengan cara mengganti impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan impuls atau perasaan lawan/kebalikannya dalam kesadaran.
6) Pembalikan (Revarsal)
Pembalikan adalah mengubah status ego dari aktif menjadi pasif, mengubah keingginan perasaan dari impuls yang menimbulkan kecemasan menjadi ke arah diri sendiri.
7) Projection (Projection)
Projection adalah mekanisme mengubah kecemasan neurotik/moral menjadai kecemasan realistik dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke objek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu diprojeksi dari objek eksternal diri orang itu sendiri.
8) Reaksi Agresi (Agressive Reaction)
Reaksi adalah dimana ego memanfaatkan drive agesif untuk menyerang objek yang menimbulkan frustasi.
9) Intelektualisasi (Intelektualization)
Intelektualisasi adalah di mana ego menggunakan logika rasional untuk menerima ketaksis objek sebagai realitas yang cocok dengan impuls asli.
10) Penolakan (Escaping-Avoiding)
Penolakan adalah melarikan diri atau menghindar atau menolak stimulus eksternal secara fisik agar emosi yang tidak menyenangkan tidak timbul.
11) Pengingkaran (negation)
Pengingkaran adalah impuls-impuls yang direspon diekspresikan alam bentuk yang negatif, semacan deniel terhadap impuls/drive, impuls-id yang menimbulkan ancaman oleh ego diingkari dengan memikirkan hal itu tidak ada.
12) Penahanan diri (ego restraction)
Penahanan adalah suatu keadaan yang menolak usaha berprestasi, dengan menganggap situasi yang melibatkan usaha itu tidak ada, karena cemas kalau-kalau hasilnya buruk atau negatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: