Prosedur Pembelajaran Kooperatif

Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends adalah sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini:

Fase
Tingkah laku
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Lanjutan Tabel 2.2
Fase 2:
Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Fase 5:
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu kelompok.

(Zainuddin & Suriasa, 2007: 31)
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, yaitu:
(1) Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas hasil belajar akademis penting lainnya..
(2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
(3) Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam pengembangan keterampilan sosial (Amri & Ahmadi, 2010).

Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori ketergantungan sosial (social interdependence) yang berasal dari kerja Lewin (1930-an) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Deutsch. Dalam teorinya Lewin menyatakan bahwa kelompok sesungguhnya merupakan kesatuan yang dinamis. Kelakuan anggota kelompok adalah interaktif sehingga akan membuahkan hasil yang jauh lebih besar jika setiap anggota bekerja sama daripada jumlah kerja individual. Berdasarkan teori ini Deutsch mengembangkan teori baru yang menyatakan bahwa ketika beberapa orang bekerja sama hasilnya akan meningkat drastis daripada bekerja sendiri-sendiri atau berkompetisi satu dengan yang lain. Teori ini kemudian diadopsi peneliti pendidikan untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: