Dasar-dasar Pelaksanaan Cooperative Learning

Segala kegiatan sebelum dimulai pasti mempunyai dasar dalam melaksanakannya. Begitu juga CL, yang menampakkan wujudnya dalam bentuk kelompok. Menurut Bimo Walgito, dasar bentuk pembelajaran ini dapat digolongkan menjadi dua:[1]
a.   Dasar Paedagogis
Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[2]
Kalau ditinjau lebih dalam, tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Untuk mencapai tujuan semacam itu system pendidikan harus berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.[3] Melalui CL inilah anak-anak lebih dapat dibentuk menjadi manusia utuh seperti yang diharapkan oleh tujuan pendidikan nasional.
b.   Dasar Psikologis
Dasar psikologis tersebut akan terlihat pada diri manusia dalam kehidupan sehari-hari. Manusia mempunyai kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain.[4] Sebagaimana juga dikatakan oleh Walgito bahwa kegiatan manusia digolongkan menjadi 3, yaitu:
1) Kegiatan yang bersifat Individual
2) Kegiatan yang bersifat Sosial
3) Kegiatan yang bersifat Ketuhanan. [5]

Kegiatan sosial dalam poin kedua itulah yang menjadi landasan pelaksanaan Cooperative Learning.


[1] Bimo Walgito, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, (Yogyakarta: Andi Offset, 1995), hlm. 103-104
[2] UU RI No 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional, Pasal 3, hlm. 76
[3] Mulyana Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm 124
[4] “Kebutuhan” ini akan terlihat ketika kita ada pada situasi “sendiri” sepanjang hari atau ketika kita menjadi “orang baru” dalam sebuah komunitas/group. Perasaan sendiri sebenarnya adalah jenis kecemasan (anxiety). Anxiety diartikan oleh Rollo May sebagai “the fear of becoming nothing”. Kecemasan dalam kesendirian ini menunjukkan betapa pentingnya orang lain bagi eksistensi kita sebagai individu. Tanpa ada orang lain kita merasa cemas dan merasa tidak bermakna. Lihat Henry Clay Lindgren, Educational Psychology in the classroom, (New York: John Wiley and Sons Inc, 1959), hlm. 109
[5] Bimo Walgito, op.cit., hlm 103-104. Bimo Walgito, op.cit., hlm 103-104.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: