Pengelompokan dan Evaluasi dalam Cooperative Learning

Pengelompokan dalam Cooperative Learning
Pengelompokan dalam CL menggunakan pengelompokan heterogen yang dibentuk dengan memperhatikan keanekaragaman, baik keanekaragaman gender, prestasi, latar belakang agama, sosio-ekonomik, dan etnik. Ada tiga jenis kelompok dalam CL, yaitu:
a. Kelompok informal (Informal Group)
Kelompok formal adalah kelompok yang bersifat sementara, pengelompokan ini hanya digunakan dalam satu periode pengajaran. Kelompok ini biasanya hanya terdiri dari dua orang murid. Tujuan kelompok informal adalah untuk menjelaskan harapan akan hasil yang ingin dicapai, membantu murid untuk lebih fokus pada materi pembelajaran, memberi kesempatan pada murid untuk bisa secara lebih mendalam memproses informasi yang diajarkan atau menyediakan waktu untuk melakukan pengulangan dan menjangkarkan informasi.[1]
b. Kelompok Formal (Formal Group)
Kelompok formal digunakan untuk memastikan bahwa murid mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan suatu tugas dengan baik. Lamanya kelompok ini bekerja bisa selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu tergantung pada tugas yang diberikan kepada mereka.[2]
c. Kelompok Dasar (Base Group)
Kelompok dasar atau kelompok permanen adalah pengelompokan dengan tenggang waktu yang lebih panjang (misalnya selama satu semester atau satu tahun). Tujuannya adalah untuk memberi suatu dukungan yang berkelanjutan kepada murid.[3]
Evaluasi Cooperative Learning (CL)
Dalam penilaian CL, siswa mendapat nilai pribadi dan nilai kelompok. Siswa bekerjasama dengan metode CL dengan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk tes. Kemudian masing-masing mengerjakan tes sendiri-sendiri dan menerima nilai pribadi. Nilai kelompok tradisional biasanya dibentuk dengan beberapa cara. Pertama, nilai kelompok bisa diambil dari nilai terendah yang didapat oleh siswa dalam kelompok. Kedua, nilai kelompok juga diambil dari ratarata nilai semua anggota kelompok.[4] Kelebihan cara tersebut adalah semangat gotong royong yang ditanamkan. Dengan cara ini kelompok lebih keras untuk membantu semua anggota dalam mempersiapkan diri untuk tes. Namun kekurangannya adalah perasaan negatif dan tidak adil. Siswa yang mampu akan merasa dirugikan oleh nilai rekannya yang rendah, sedangkan siswa yang lemah mungkin bisa merasa bersalah karena nilai sumbangannya paling rendah. Untuk menjaga rasa keadilan ada cara lain yang bisa dipilih. Setiap anggota menyumbangkan poin diatas nilai rata-rata mereka sendiri sehingga setiap siswa mempunyai kesempatan untuk memberikan kontribusi nilai terhadap kelompok mereka.


[1] Adi W. Gunawan, Genius Learning Strategy, (Jakarta: Gramedia, 2003), hlm. 201-203
[2] Ibid, hlm. 202
[3] Shlomo Sharan, op.cit., hlm 54
[4] Anita Lie, op.cit., hlm. 88

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: