Arsip

Bahasa

Telaah sastra merupakan tahap awal dalam penelitian karya sastra yang harus dilakukan untuk mengetahui karya sastra itu berkualitas apa tidak, tetapi untuk mengetahui hal tersebut tidak bisa hanya dilihat dari satu sisi saja melainkan harus dari semua elemen secara keseluruhan. Analisis struktural merupakan salah satu cara untuk mengetahui kualitas sastra, dan merupakan jembatan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam karya sastra. Oleh karena itu, peneliti hendaknya tidak terjebak dalam analisis struktural sebab tujuan utama dalam penelitian adalah mengkaji makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Fananie (2000: 76) penilaian karya sastra yang baik tidak hanya dinilai berdasarkan pada salah satu elemennya melainkan harus dilihat secara keseluruhan. Oleh karena itu, karya sastra yang hanya bagus dalam salah satu aspeknya, belum dapat dikatakan sebagai sastra yang berkualitas atau sastra yang baik, begitu juga sebaliknya.

Analisis struktural sastra disebut juga pendekatan objektif dan menganalisis unsur intrinsiknya, Fananie (2000: 112) mengemukakan bahwa pendekatan objektif adalah pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan. Pendekatan yang dinilai dari eksistensi sastra itu sendiri berdasarkan konveni sastra yang berlaku.

Konvensi tersebut misalnya, aspek-aspek instrinsik sastra yang meliputi kebulatan makna, diksi, rima, struktur kalimat, tema, plot (setting), karakter. Yang jelas, penilaian yang diberikan dilihat dari sejauh mana kekuatan atau nilai karya sastra tersebut berdasarkan keharmonisan semua unsur pembentuknya.

Pada aspek ini semua karya sastra baru bisa disebut bernilai apabila masing-masing unsur pembentuknya (unsur intrinsiknya) yang tercermin dalam strukturnya, seperti tema, karakter, plot (setting). Bahasa merupakan satu kesatuan yang utuh. Kesatuan yang mencerminkan satu harmonisasi sebagaimana yang dituntut dalam kriteria estetik. Sebuah struktur mempunyai tiga sifat yaitu totalitas, trasformasi, dan pengaturan diri.

Transformasi yang dimaksud bahwa struktur terbentuk dari serangkaian unsur, tetapi unsur-unsur itu tunduk kepada kaidah-kaidah yang mencirikan sistem itu sebagai sistem. Dengan kata lain, susunannya sebagai kesatuan akan menjadi konsep lengkap dalam dirinya. Transformasi dimaksudkan bahwa perubahan-perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur dan mengakibatkan hubungan antarstruktur menjadi berubah pula. Pengaturan diri dimaksudkan bahwa sruktur itu dibentuk oleh kaidah-kaidah instrinsik dari hubungan antarunsur yang akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16).
Transformasi yang terjadi pada sebuah struktur karya sastra bergerak dan melayang-layang dalam teksnya serta tidak menjalar keluar teksnya. Karya sastra sebagai sebuah struktur merupakan sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur, yang satu dengan yang lainnya saling berkaitan. Karena itu, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan hubungan antarunsur menjadi berubah. Perubahan hubungan antarunsur pada poisinya itu secara otomatis akan mengatur diri (otoregulasi) pada posisinya semula (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16).

Struktur bukanlah suatu yang statis, tetapi merupakan suatu yang dinamis karena didalamnya memiliki sifat transformasi. Karena itu, pengertian struktur tidak hanya terbatas pada struktur (structure), tetapi sekaligus mencakup pengertian proses menstruktur (structurant) (Peaget dalam Sangidu, 2004: 16). Dengan demikian, teori struktural adalah suatu disiplin yang memandang karya sastra sebagai suatu struktur yang terdiri atas beberapa unsur yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya.

1. Novel
Dalam the America college dictionary (1960:830). Disebutkan bahwa novel merupakan cerita prosa yang fiktif dengan panjang tertentu yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut (tarikan,1986 : 164)

Novel menurut Jacob sumardjo (19990 adalah cerita, dan cerita digemari oleh manusia sejak kecil. Setiap hari manusia senang dengan cerita, baik cerita faktual gurauan, atau hanya sekedar ilustrasi dalam percakapan. Novel kebanyakan mengandung suspense dalam alur ceritanya dan dapat menimbulkan penasaran bagi pembacanya.

Novel adalah salah sastu genre sastra dari Eropa yang muncul pertama kali di lingkungkan kaum borjuis inggria pada awal abad 18. Novel merupakan produk masyarakat kota yang terpelajar, mapan,dan cukup mempunyai banyak waktu luang untuk menikmatinya. Dan diindonesia novel mengalami masa pertumbuhan yang pesat pada tahun 1970 dikalangan pembaca wanita (sumardjo, 1986:3).

Novel dalam bahasa latin disebut novellus yang diturunkan dari kata novies yang berarti baru. Dikatakan baru karena dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, naka novel muncul kemudian. (Tarigan 1986 : 164). Novel juga biassa disebut novellet dalam bahasa inggris Novellete dapat diartikan sebagai karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgianto, 1995 : 9).

Pengertian novel lebih mendalam lagi dikemukakan oleh Aminudin (1995 : 66) yang menyatakan bahwa novel merupakan kisahan atau cerita yang diemban oleh perilaku0perilaku tertentu dalam pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita yang bertolak dari imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Wujud dari novel adalah konsentrasi pemusatan kehidupan dalam satu saatm dalam satu krisis yang menentukan (jasin dalam suroto 1989 : 19).

Dari beberapa pengertian tersebut sangatlah jelas vahwa novel merupakan ungkapan jiwa pengarang. Oleh karena itu dalam penciptaan sebuah karya sastra pengarang banyak dipenuhi oleh beberapa faktor. Baik faktor pengalaman yang ada dalam diri pengarang yang berasal dari kenyataan yang dihayati tokoh-tokoh, jalan cerita, maupun faktor yang hadir melalui tema yang sedang dikerjakan.

2. Unsur Intrinsik Novel
Menurut Stanton (2007:20) membagi unsur-unsur instrinsik yang dipakai dalam menganalisis struktural karya sastra diantaranya, alur, karakter, latar, tema, sarana-sarana sastra, judul, sudut pandang, gaya dan tone, simbolisme dan ironi.
a) Alur
Stanton, (2007: 26) mengemukakan bahwa alur adalah rangkaian-rangkaian dalam sebuah cerita.
b) Karakter (penokohan)
Stanton (2007: 33) mengemukakan bahwa karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita seperti ketika ada orang yang bertanya; “Berapa karakter yang ada dalam cerita itu?”. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu.
c) Latar
Stanton (2007: 35) mengemukakan bahwa latar (setting) adalah lingkungan yang melingkupi sebuah peristiwa dalam cerita, semesta yang berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung.
d) Tema
Stanton (2007: 36) mengemukakan bahwa tema merupakan aspek cerita yang sejajar dengan “makna” dalam pengalaman manusia; suatu yang menjadikan suatu pengalaman yang diangkat.
e) Sarana-Sarana Sastra
Stanton (2007: 46) mengemukakan bahwa sarana sastra dapat diartikan sebagai metode pengarang memilih dan menyusun detail cerita agar tercapai pola-pola yang bermakna. Metode ini perlu karena dengannya pembaca dapat melihat berbagai fakta melalui kacamata pengarang, memahami apa maksud fakta-fakta tersebut sehingga pengalaman pun dapat dibagi.
f) Judul
Stanton (2007: 51) mengemukakan bahwa judul selalu relevan terhadap karya yang diampunya sehingga keduanya membentuk satu kesatuan. Pendapat ini dapat diterima ketika judul menuju pada sang karakter utama atau satu latar.
g) Sudut pandang
Stanton (2007: 53) mengemukakan bahwa sudut pandang adalah posisi tokoh dalam cerita.
h) Gaya dan Tone
Stanton (2007: 61) mengemukakan bahwa gaya atau tone dalam sastra adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa.
i) Simbolisme
Stanton (2007: 64) mengemukakan bahwa simbol adalah tanda-tanda yang digunakan untuk melukiskan atau mengungkapkan sesuatu dalam cerita.
j) Ironi
Stanton (2007: 71) mengemukakan bahwa secara umum ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya.

Bimo Walgito (dalam Fananie, 2000: 177) mengemukakan psikologi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang objek studinya adalah manusia, karena perkataan psyche atau psicho mengandung pengertian “jiwa”. Dengan demikian, psikologi mengandung makna “ilmu pengetahuan tentang jiwa”.

Psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Penelitian psikologi sastra dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relefan untuk melakukan analisis (Ratna, 2004: 344).

Siswantoro (2004: 31-32) menyatakan bahwa secara kategori, sastra berbeda dengan psikologi, sebab sastra berhubungan dengan dunia fiksi, drama, puisi, dan esay yang diklasifikasikan ke dalam seni (art), sedangkan psikologi merujuk kepada studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental. Meski berbeda, keduanya memiliki titik temu atau kesamaan, yakni keduanya berangkat dari manusia dan kehidupan sebagai sumber kajian. Bicara tentang manusia, psikologi jelas terlibat erat, karena psikologi mempelajari perilaku. Perilaku manusia tidak lepas dari aspek kehidupan yang membungkusnya dan mewarnai perilakunya. Psikologi sastra mempelajari fenomena, kejiwaan tertentu yang dialami oleh tokoh utama dalam karya sastra ketika merespon atau bereaksi terhadap diri dan lingkunganya. Dengan demikian, gejala kejiwaaan dapat terungkap lewat perilaku tokoh dalam sebuah karya sastra.

Istilah psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan pengertian. Yaitu studi proses kreatif, psikologi pengarang baik sebagai suatu tipe maupun individual, studi tipe-tipe dan hukum-hukum psikologi dalam karya sastra, dan studi yang mempelajari dampak karya sastra terhadap pembaca atau psikologi pembaca. Dalam penelitian ini peneliti menggabungkan keempat kemungkinan pengertian dalam melakukan penelitian. terhadap pembaca atau psikologi pembaca.

Karya sastra merupakan karya seorang pengarang yang merupakan hasil perenungan dan imajinasi secara sadar dari hal-hal yang diketauhi, dihindari, dirasa, ditanggapi, dan difantasikan, disampaikan kepada khalayak melalui media bahassa dengan segala perangkatnya, sehingga menjadi sebuah karya yang indah. Itulah sebabnjya masalh-masalh yang te5rdapat di dalam karya sastra mempunyai kemiripan dengan keadaan diluar karya sastra. Sesuai pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra merupakan cermin dari dunia nyata. Baik cermin dari dunia nyata yang sesungguhnya, maupun cermin dari dunia nyata yang sudah bercampur dengan imajinasi dan perunangan pengarang (Siswanto, 1993: 19).

Pendekatan adalah salah sau prinsip dasar yang digunakan sebagai alat untuk mengapresiasi karya sastra, salah satunya ialah ditentukan oleh tujuan dan pa yang hendak ditentukan lewat teks sastra, pembaca dapat menggunakan beberapa pendekatan, salah satunya adalah pendekatan psikologis. Semi (1993:76) menyatakan pendekatan psikologi sastra adalah pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu membahas tentang kehidupan manusia yang senantiasa memperlihatkan perilaku yang beragam. Apresiasai sastra menggunakan pendekatan psikologi sastra pada mulanya diperkenalkan di Barat oleh L.A Richard, dan di Indonesia pertama kali dilakukan oleh M.S Hutahulung, Boen S. Oemarjati, dan Made Mukada.

Budi Utama (2004:138)_ mengemukakah tiga alasan psikologi sastra masuk dalam kajian sastra adalah sebagai berikut (1) mengetahui perilaku dan motivasi para tokoh dalam karya sastra. Langsung atau tidak langsung, perilaku dan motivasi para tokoh nampak juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita juga bertemu dengan orang-orang yang perilaku dan motivasinya mirip dengan perilaku dan motivasi para t tokoh dalam karya sastra, (2) mengetahui perilaku dan motivasi pengarang, dan (3) mengetahui reaksi psikologi pembaca.

Karya sastra merupakan hasil ungkapan jiwa seorang pengaran yang di dalamnya melukiskan suasana kejiwaan pengarang,baik suasana pikit maupun emosi. Roekan (dalam aminudin 1990:91). Psikologi sastra memandang bahwa karya sastra merupakan hasil kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa dan diababdikan untuk kepentingan estetik.

Melalui bagan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai manusia yang hidup berdampingan dengan manusia lain dan pengarang banyak melakukan pengamatan dengan manusia-manusia lain di sekitarnya, seperti yang dikemukakan oleh Freud, manusia sebagai sistem yang kompleks memiliki energi untuk berbagai tujuan seperti bernafas, bergerak, mengamati, dan mengingat. Mereka mempunyai kepekaan tinggi sehingga mereka mampu menangkap suassana batin manusia lain yang paling dalam.

Hubungan antara karya sastra dan psikologi juga dikemukakan oleh suwardi (2004:96) yang mengemukakah bahwa karya sastra dipandang sebagai gejala psikologis, akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa prosa atau drama sedangkan jika dalam bentuk puisi akan disampaikan melalui larik-larik dan pilihan kata khas.

Sastra sebagai “gejala kejiwaan” yang didalamnya terkandung fenomena yang tampak melalui perilaku tokoh-tokohnya. Sedangkan psikologi (Pasaribu dan Simanjuntak, 1984:3-4), adalah ilmu jiwa atau studi tentang jiwa. Dengan demikian, teks sastra (karya sastra) dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi. Hal ini dikarenakan sastra dan psikologi memiliki hubungan lintas yang bersifat tak langsung dan fungsional (Darmanto yatman dan Roekhan dalam Aminudin, 1990:93).

Hubungan tak langsung yang dimaksudkan adalah baik sastra maupun psikologi sastra kebetulan memiliki tempat berangkat yang sama, yaitu kejiwaan manusia. Pengarang dan psikolog adalah sama-sama manusia biasa. Mereka menangkap kejiwaan manusia secatra mendalam, kemudian diungkapkan dalam bentuk karya sastr. Sedangkan hubungan fungsional antara sastra dan psikologi adalah keduanya sama-sama berguna sebagai sarana untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Perbedaannya adalah adalah dalam karya sastra gejala-gejala kejiwaan dari manusia-masia imajiner sebagai tokoh dalam karya sastra, sedangkan dalam psikologi adalah gejala kejiwaan manusia-manusia riil (Suwardi,2004:97).

Fiksi psikologi sastra adalah salah satu aliran sastra yang berusaha mengeksplorasi pikiran sang tokoh utama, terutama pada bagian yang terdalam yaitu alam bawah sadar. Fiksi psikologis sering mengunakan teknik bernama “arus kesadaran”. Istilah ini ditemukan oleh William James pada tahun 1890 dan digunakan untuk mengambarkan kepingan-kepingan inspirasi, gagasan, kenangan dan sensasi yang membentuk kesadaran manusia ( Stanton, 2007: 134).

Ada beberapa kategori yang dipakai sebagai landasan pendekatan psikoanalisis, sebagaimana dikemukakan oleh Norman H. Holland (dalam Fananie., 2000: 181) adalah sebagai berikut: (1) Histeri, manic, dan schizophrenic, (2) Freud dan pengikutnya menambah dengan tipe perilaku birahi seperti anal, phallic, oral, genital, dan urethral., (3) ego-psikologi, yaitu cara yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan internal dan eksternal yang bisa sama dan juga berbeda untuk tiap-tiap individu., (4) Defence, exspectation, fantasy, transformation (DEFT). Maksud dari karegori tersebut dalam konteks sastra adalah apakah karakter pelaku dan permasalahan-pernasalahan yang mendasari tema cerita melibatkan pula unsur-unsur di atas.

Analisis Novel Pudarnya Pesona Cleopatra Karya Habiburrahman El Shirazy, tinjauan psikologi sastra menggunakan pendekatan tekstual (tertulis), yaitu mengkaji aspek psikologi tokoh Raihana dalam sebuah karya sastra dengan cara membaca kepribadian tokoh Raihana dalam novel yang digunakan sebagai sumber data primer.

Membaca dengan aksara atau membaca aksara merupakan sebuah kelaziman. Sebab, dunia baca membaca memang terkait erat dengan aksara. Menjadi tidak lazim jika membaca dilakukan tanpa aksara. Banyak ahli mengatakan garis tangan dan raut wajah seseorang bisa dibaca untuk menggali perilaku dan dunia batinnya. Belakangan ini, seni membaca perilaku atau karakter orang lain dilakukan tidak hanya lewat garis tangan dan raut wajah, tetapi juga tanda tangan. Para ahli psikologi menyebutnya dengan istilah ‘grafologi’, yakni kemampuan membaca tulisan dan tanda tangan seseorang untuk mengetahui karakternya secara umum.

Tabloid Tempo (5/1/2010) membuat ulasan sangat menarik tentang grafologi. Menurut seorang pakar grafologi, Reni Akbar Hawadi, membaca dan menganalis tulisan dan tanda tangan seseorang itu seperti melihat lukisan. Tulisan sama halnya dengan lukisan. Jika diperhatikan, setiap lukisan atau tulisan memiliki kesan umum. “Perhatikan tarikan garis tulisan seseorang, kemudian tentukan energi emosional si penulis”, begitu ungkap Reni di Tabloid Tempo beberapa bulan lalu.

Setiap goresan tangan seseorang baik lewat lukisan, tulisan maupun tanda tangan memiliki energi emosional yang bisa menggambarkan perilaku dan dunia batinnya. Energi ini, menurut Reni yang sangat berpengalaman dalam dunia grafologi dan menjadi profesinya itu, bisa dilihat pada ketebalan dan tekanan tulisan yang. Tekanan garis dan ketebalannya bisa dilihat dengan meraba belakang permukaan kertas yang ditulis. Seberapa besar tekanan garis menggambarkan seberapa besar energi emosionalnya yang dapat mempengaruhi perilaku dan karakter seseorang.

Energi emosional merepresentasikan kepribadian dan memiliki dampak langsung terhadap karakter kepribadian penulisnya. Sebab, energi tersebut merupakan kombinasi antara fisik dan tingkat energi. Studi yang dilakukan Reni menunjukkan seseorang yang tulisanya memiliki tekanan besar — garis tulisannya tebal-tebal— umumnya memiliki mental yang kuat dan tingkat kesuksesan tinggi. Selain itu, dia memiliki banyak vitalitas dan pengalaman emosional yang bertahan lama. Sebaliknya, tulisan yang garis tekannya nya tipis cenderung menghindari situasi yang menguras energi. Pengamatan saya selama ini dengan melihat tulisan dan tanda tangan mahasiswa saya – sekadar untuk menghindari kepenatan perkuliahan — menunjukkan orang dengan gaya tulisan demikian umumnya cenderung tidak mau bersusah-payah dalam bekerja dan mau enak sendiri dan pragmatis.

Indikator lainnya, menurut Reni, adalah kemiringan garis pada tulisan. Kemiringan garis merupakan indikasi respons penulis terhadap dunia luar. Studi Reni menunjukkan tulisan yang miring ke kanan menggambarkan respons yang kuat penulisnya terhadap situasi emosionalnya. Selain itu, orang dengan gaya tulisan demikian umumnya bersifat penuh perhatian, hangat dan outgoing pada orang lain. Dia memakai hati untuk mengendalikan pikirannya.

Tulisan tegak lurus menunjukkan penulisnya mencoba bersikap rasional. Berbeda dengan gaya tulisan miring ke kanan di mana hati mengendalikan pikiran, maka tulisan tegak menggambarkan pikiranlah yang menguasai hati. Sedangkan tulisan miring ke kiri umumnya menunjukkan sifat penulisnya yang dingin dan indifferent. Orang dengan gaya tulisan demikian umumnya sulit diajak bicara karena dia hanya memberikan respons seadanya dan tidak mau membuka pembicaraan dengan orang lain lebih dahulu. Dia akan memberikan respons agak hangat jika pembicaraan menyangkut hal-hal yang dia senangi atau yang ia banggakan.

Terkait dengan sikap itu, saya pernah mengalaminya waktu mengadakan wawancara dengan salah seorang informan penelitian dalam rangka penulisan tesis. Informan ini hanya mau menjawab pertanyaan yang saya berikan. Itu pun pendek-pendek, seperti ‘yes-no questions’saja. Dia sama sekali tidak mau membuka pembicaraan atau membahas hal-hal di luar yang saya tanyakan. Dalam istilah metodologi penelitian, saya memperoleh apa yang disebut ‘informan dingin’. Sebagai pewawancara saya sangat kecewa karena tidak mampu menggali informasi yang dalam mengenai tema yang saya angkat. Padahal, saya tahu orang ini merupakan informan kunci yang sangat mengetahui bidang yang saya teliti, yakni tentang perubahan sosial.

Dalam kebekuan yang hampir satu jam itu, saya berpikir kira-kira tema apa yang dapat menggugah hatinya. Secara kebetulan di dinding tembok ruang keluarga terpasang foto lama di mana di tengah ada orang tua mengenakan blangkon dan pakaian Jawa sambil diapit dua orang asing (baca:Belanda). Saya tanya itu foto siapa. Dengan spontan informan saya itu menjawab bahwa itu foto kakeknya. Lho kok dengan orang Belanda pak? tanya saya. Menurutnya, kakeknya dulu orang berpengaruh di desanya dan sering diajak orang-orang Belanda untuk bertukar pengalaman. “Lho kalau begitu bapak adalah cucu orang hebat dan bukan orang sembarangan ya”, imbuh saya. Dia menjawab “ya itulah saya sebenarnya. Hanya orang-orang di kampung ini tidak banyak mengetahui tentang saya dan keluarga. Bahkan yang memberi nama desa ini adalah kakek saya itu”, katanya. Sejak itu pembicaraan berlangung hangat hingga larut malam. Saya telah menemukan bahwa informan saya yang tadinya begitu dingin menjadi sangat hangat karena saya menemjukan tema untuk menggungah hatinya. Ini sekadar contoh untuk orang yang sikapnya dingin dan kebetulan gaya tulisannya miring ke kiri.

Menurut para ahli grafologi tangan dipandu oleh otak. Karena itu, segala yang keluar dari aktivitas tangan baik dalam bentuk lukisan, tulisan biasa dan tanda tangan mirip dengan hasil sirkuit dua arah otak dan refkeks motor tangan. Karena itu, tulisan tangan menjadi poligraf seseorang. Sekadar pengalaman, untuk mengetahui karakter mahasiswa saya pada umumnya pada awal perkuliahan biasanya saya minta semua mahasiswa tanda tangan di atas secark kertas. Setelah selesai, semua saya kumpulkan dan kemudian saya tanyakan apa mereka bersedia tanda tangannya saya baca. Secara serentak mereka umumnya mengatakan siap. Satu per satu tanda tangan itu saya baca dan selama ini tak satu pun hasil pembacaan saya meleset. Mereka tertawa mengetahui karakternya saya baca di depan kelas. Tetapi sikap negatifnya tidak saya sampaikan. Tetapi ketika ditanya apa dasar pembacaan itu, saya tidak bisa menjelsakan mengapa hasil pembacaan saya demikian. Tetapi saya bisa merasakan bahwa setiap goresan menyiratkan makna. Ini yang disebut membaca tanpa aksara.

Semudah itukah membaca karakter seseorang? Tentu tidak. Sebab, kesulitan akan muncul tatkala sejumlah ketentuan akan dipraktikkan. Misalnya, margin, spasi, bentuk huruf, letak titik, panjang pendek tulisan, garis dasar, letak titik dan jarak antarkata dan sebagainya. Margin, spasi, bentuk huruf dan semuanya itu menggambarkan karakter penulisnya. Garis bawah di setipa tanda tangan dan titik di akhir tanda tangan serta bentuk huruf menyiratkan makna dan jenis karakter penulisnya. Sekadar mainan, praktik grafologi bisa dipakai untuk mengisi waktu luang atau sambil menunggu pesawat atau kendaraan yang akan mengangkut agar pikiran tidak ngelantur ke sana kemari. Selamat mencoba !


Ditulis Oleh: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Konferensi Internasional bertema “Language, Education, and Millenium Development Goals (MDGs) pada 11 November 2010 di Bangkok, Thailand menyimpulkan bahwa penggunaan bahasa asing di sekolah-sekolah di Indonesia yang berstatus rintisan internasional dinilai tidak efektif. Sebabnya adalah tidak ada standar pengajaran yang jelas sehingga masing-masing guru di setiap sekolah mengajar materi berbeda-beda dengan metode pengajaran yang berbeda pula. Kesimpulan tersebut dipaparkan oleh Danny Whitehead, Head of English Development British Council dari hasil penelitian Stephen Bax, dari University of Bedfordshire, Inggris (Kompas, 12/11/2010).

Penelitian itu juga menyebutkan bahwa ketidakefektifan pengajaran bahasa asing disebabkan oleh rendahnya kemampuan guru berbahasa Inggris. Menurutnya, tidak mencapai 25% guru yang ada di sekolah RSBI yang menguasai bahasa Inggris dengan baik, dalam arti mampu berbahasa Inggris dengan baik dan menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa Inggris. Selebihnya, adalah guru yang baru bisa berbahasa Inggris. Itupun pas-pasan. Dari pengamatan yang saya lakukan secara acak, malah ada beberapa guru bidang sains yang baru saja dikursuskan bahasa Inggris dan langsung ditugaskan mengajar di kelas yang mereka sebut sebagai kelas internasional. Bisa dibayangkan bagaimana hasil pengajaran seperti itu. Lebih konyol lagi ada guru yang merasa bisa bahasa Inggris — karena dulu pernah kursus— juga minta mengajar di kelas rintisan internasional.

Tampaknya perlu segera diluruskan bahwa seseorang mampu berbahasa Inggris bukan berarti mampu mengajar dalam bahasa Inggris. Ini dua hal yang berbeda. “Teaching English is not teaching in English”. Misalnya, alumni dari Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sudah barang tentu memiliki kemampuan berbahasa Inggris lebih baik daripada alumni dari luar jurusan bahasa Inggris. Tetapi bagaimana mungkin dia bisa mengajar materi sains (biologi, fisika, dan kimia) yang bukan bidangnya. Sementara guru-guru bidang sains yang menguasai materinya tidak bisa berbahasa Inggris. Karena itu, jika praktik pengajaran seperti ini dipaksakan dengan alasan menjalankan amanah undang-undang, maka siswa dirugikan dalam dua hal sekaligus, yaitu :1). secara substantif siswa tidak mengerti apa yang disampaikan guru karena menggunakan pengantar bahasa Inggris — yang dalam bahasa Indonesia saja belum tentu paham, dan 2).siswa memperoleh role model bahasa Inggris yang tidak bagus, mulai aspek gramatika, pilihan kosa kata, struktur kalimat, hingga pronunciation. Perlu diketahui bahwa kesalahan dari role model yang salah akan sangat sulit diperbaiki di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Selain merugikan siswa, praktik pengajaran seperti itu jutsru bertentangan dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen di mana guru dituntut memiliki empat kompetensi dasar, yaitu: professional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Dari sisi kompetensi professional di mana guru dituntut mengajar bidang studi sesuai disiplin ilmu yang dikuasai, maka praktik pengajaran sebagaimana gambaran di atas justru tidak sesuai dengan nafas undang-undang yang dipakai sebagai payung hokum pelaksanaan.

Oleh sebab itu, hasil penelitian pakar tersebut mesti segera dijadikan bahan evaluasi kebijakan pemerintah tentang pendirian sekolah-sekolah bertaraf internasional yang menggunakan payung hukum Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) pasal 50 ayat 3 yang menyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional. Sebenarnya dalam undang-undang tersebut tidak disebutkan kata ‘harus’ menyelenggarakan satuan pendidikan bertaraf internasional di setiap daerah, yang jika tidak dilakukan akan diberi sanksi. Akibatnya, sebagaimana kita saksikan saat ini sekolah-sekolah rintisan menuju taraf internasional semarak di Tanah Air di semua jenjang pendidikan. Saya tidak mengerti siapa yang mereduksi redaksi bunyi undang-undang itu sehingga penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional seolah menjadi keharusan bagi setiap daerah dan satuan pendidikan.

Andai saja hasil yang diperoleh dari kebijakan ‘internasionalisasi sekolah’ tersebut efektif dan memuaskan semua pihak, terutama siswa dan orangtuanya, penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional tentu tidak banyak dipersoalkan orang. Tetapi kenyataannya status sebagai ‘rintisan internasional’ dijadikan dalih bagi pengelola pendidikan untuk menarik beaya pendidikan yang mahal. Alasannya, penyelenggaraan kelas internasional memerlukan sarana dan prasarana secara khusus, diperlukan guru dengan kompetensi dan kualifikasi khusus, manajemen secara khsusus dan seterusnya yang ujungnya semua memerlukan beaya pendidikan yang tinggi. Beaya pendidikan tinggi hanya akan bisa dinikmati oleh kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. Sementara sekitar 40 juta warga negara Indonesia tergolong berekonomi golongan menengah ke bawah. Kemudian muncul lagi pertanyaan klasik: apakah orang golongan ekonomi menengah ke bawah tidak boleh mengenyam pendidikan yang bermutu? Pendidikan merupakan hak dasar bagi setiap warga negara, apapun agama, warna kulit, bahasa dan sukunya. Karena itu, adalah kewajiban negara untuk menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas.

Kebijakan tentang internasionalisai pendidikan kini sudah berusia tujuh tahun sejak diundangkan. Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah mengambil kebijakan sangat cepat mengatasi persoalan ini dengan bijak. Sebagaimana pada tulisan saya sebelumnya “Segera Evaluasi RSBI”, saya bukan tidak setuju dengan kebijakan penyelenggaraan SBI atau RSBI. Tetapi yang menjadi persoalan adalah telah terrjadi simplikasi makna internasionalisasi pendidikan. Karena terjadi kesalahpaham atau ketidakmengertian baik di kalangan pengambil keputusan dan pengelola satuan pendidikan, maka tentu terjadi kesalahan implementasinya.

Bahasa Inggris memang salah satu bahasa internasional. Tetapi internasionalisasi pendidikan bukan sekadar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar mengajar, tetapi juga mulai sistem pendidikan, kurikulum, standar, dan kualitasnya yang internasional. Karena itu, sungguh tidak tepat jika berbahasa Inggris dijadikan satu-satunya ukuran penyelenggaraan kelas-kelas internasional.

Saya sedang merenung ke mana sesunggunya bangsa ini akan dibawa. Baru saja kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang pesannya adalah betapa nasionalisme bangsa terutama generasi muda penting dibangun melalui kesadaran berbangsa yang satu di tengah-tengah keragaman budaya, suku, dan agama, serta bahasa nasional yakni bahasa Indonesia, kita justru menguras tenaga untuk menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Saya bukan tidak suka bahasa Inggris, tetapi ingin menempatkan posisi bahasa Inggris secara proporsional. Bahasa Inggris diakui sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Hampir 90% publiksi ilmiah internasional tertulis dalam bahasa Inggris. Karena itu, tidak mungkin untuk menjadi ilmuwan tanpa menguasai bahasa Inggris. Tetapi bahasa Inggris tidak bisa menjadikan anak didik kita memiliki nasionalisme tentang ‘keindonesiaan’ yang tinggi. Jadi tanpa kita sadari telah terjadi paradoks dalam praktik pendidikan kita. Di satu sisi, kita ingin mengokohkan jati diri bangsa dan nasionalisme salah satunya melalui bahasa Indonesia sebagai bahsa nasional, tetapi di lain pihak kita menggelorakan semanagt pentingnya kekuasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris secara berlebihan. Karena itu, wajaar jika hasil UAN 2010 nillai bahasa Indonesia jeblok.

Sebagai alternatif solusi adalah kebijakan menginternasionalkan sekolah tetap dilaksanakan, tetapi tidak harus semua daerah dan sekolah mengembangkan sekolah rintisan internasional. Pemerintah menyeleksi dengan menunjuk para pakar pendidikan untuk menentukan mana sekolah yang layak untuk dikembangkan ke rintisan internasional. Karena itu, cukup ada beberapa sekolah saja yang memang layak untuk deprogram menjadi sekolah internasional daripada setiap sekolah dan di setiap daerah menyelenggarakan program internasional tetapi sebenarnya main-main saja.

Selanjutnya, sekolah yang dinilai layak terus dipacu dan dibina dengan ukuran standar yang benar-benar internasional. mulai dari aspek kurikulum, input, proses belajar, tenaga pengajar, manajemen, sarana, beaya, evaluasi hingga output nya. Kemampuan berbahasa Inggris guru-guru bidang sains yang mengajar di kelas internasional ditingkatkan pelatihan secara intensif di lembaga-lembaga pendidikan dan pengembangan bahasa Inggris yang credible., setidaknya selama enam bulan penuh dengan pembeayaan pemerintah. Tetapi jangan memaksa guru bahasa Inggris mengajar bidang sains yang memang bukan bidangnya. Mata pelajaran bidang sains tidak bisa diberikan lewat pelatihan sebagaimana bahasa Inggris. Sebab, sains adalah ilmu content, sedangkan bahasa (Inggris) adalah ilmu alat.

Selebihnya, sekolah yang dinilai tidak layak tidak perlu dipaksakan, tetapi ditingkatkan kualitasnya dengan prioritas utama pengembangan kompetensi dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikannya. Untuk menghasilkan lulusan yang kompettif tidak harus melalui internasionalisasi sekolah. Saya sangat yakin di tangan guru yang berkualitas akan lahir lulusan yang berkualitas pula. Sebaliknya, di tangan guru yang kualitasnya rendah, tidak akan pernah lahir lulusan yang bermutu, sekalipun lembaganya berlabel ‘internasional’.

Saya berharap pendidikan yang memiliki misi suci dan mulia tidak jadi salah arah dan fungsi. Para pengambil kebijakan di bidang pendidikan selayaknya memahami secara mendasar filosofis di balik setiap kebijakan yang diambil. Kesalahan pemahaman akan berakibat kesalahan pelaksanaan yang ujungnya adalah merugikan masyarakat. Sudah banyak sekali komentar, ulasan, bahkan penelitian tentang efektifitas penyelenggaraan sekolah-sekolah rintisan internasional yang dilakukan para pakar, pemerhati dan pecinta pendidikan sudah selayaknya dijadikan evaluasi oleh pemerintah agar pendidikan yang memiliki misi sangat mulia tidak bergeser ke praktik dan tujuan yang salah. Institusi pendidikan yang sarat nilai harus bersih dari kesalahan dan tujuan yang justru mencoreng pendidikan itu sendiri.

Tulisan sederhana ini sekadar urun rembuk untuk memberikan kontribusi pada perbaikan pendidikan di Tanah Air, tetapi diharapkan bermanfaat dan menjadi bahan renungan semua pihak, terutama pemerintah, para praktisi dan pengelola dan pecinta pendidikan.


Ditulis Oleh: Prof. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Setiap kali menguji tesis atau skrispi mahasiswa, saya seringkali menemukan ungkapan-ungkapan lucu dan aneh yang disampaikan mahasiswa baik ketika menjelaskan isi tesis atau skripsi secara ringkas maupun ketika menjawab pertanyaan dosen penguji. Tampaknya kesalahan tersebut telah menjadi salah kaprah berkepenjangan untuk segera memperoleh perhatian. Misalnya, pada penggunaan kata “kami” dan “kita”. Karena penasaran dengan seringnya penggunaan kedua kosakata tersebut secara tidak tepat, saya terpaksa membuka buku semantik dan kamus Bahasa Indonesia serta kamus beberapa bahasa asing untuk mencari makna sesungguhnya dan mencari alasan mengapa kesalahan itu sering terjadi.

Dalam bahasa Inggris, kedua kata “kami” dan “kita” hanya diwakili oleh kata “we”, dalam bahasa Arab “nahnu”, dalam bahasa Jerman “wir“, dalam bahasa Belanda “wij“, dalam bahasa Perancis “nous”, sedangkan dalam bahasa Rusia “Mbl”. Dengan kata lain, untuk mengungkapkan konsep “kita” dan “kami”, dalam bahasa Inggris, Arab, Jerman, Belanda, Perancis, dan Rusia hanya ada satu kata.

Dengan demikian, meskipun sebenarnya tidak ada satu pun bahasa di dunia ini yang dapat dikatakan sebagai bahasa paling kaya atau sebaliknya, sebagai pemilik dan pemakai bahasa Indonesia kita patut berbangga, sebab kita memiliki dua kata untuk mengungkapkan konsep kata ganti orang pertama jamak (the first person plural)., yaitu “kita” dan “kami”. Tetapi karena ini pula banyak anggota masyarakat kita sering salah menggunakannya. Misalnya, seorang mahasiswa ditanya kapan dan di mana dia melakukan penelitian untuk penulisan tesisnya. Jawabannya “Kami melakukan penelitian di sebuah sekolah yang kami pandang memiliki beberapa kelebihan dalam pengelolaan manajemen”.

Saya merasa bingung atas jawaban mahasiswa yang menggunakan kata “kami” tersebut. Sebab, saya merasa tidak terlibat penelitian mahasiswa itu dan tidak pernah memandang bahwa sekolah tersebut memiliki kelebihan tertentu. Pun ketika mahasiswa tersebut menyatakan “Kami akan melakukan perbaikan segera Pak”. Wah jadi repot nih, gumam saya. Sebab, saya pikir dia akan mengajak saya memperbaiki tesisnya yang memang amburadul. Dan, saya pasti merasa keberatan karena perbaikannya hampir di semua bagian tesis. Dasar mahasiswanya tidak begitu cerdas!

Kendati saya peringatkan untuk tidak lagi menggunakan kata “kami” dan “kita” yang salah itu dan menggantinya dengan kata “saya”, toh tetap saja kedua kosakata itu muncul setiap kali mahasiswa itu memberikan penjelasan. Tampaknya, kesalahan itu terjadi karena ketidaktahuan mahasiswa tersebut sehingga telah menjadi salah kaprah yang berkepanjangan. Menurutnya, selama ini dia menggunakan kedua kosakata tersebut dalam berkomunikasi dan tak ada satu pun orang yang mengingatkan bahwa pemakaian keduanya tidak tepat.Terbukti setelah ujian selesai di luar forum ujian saya bertanya mengapa sering menggunakan kata “kita” dan “kami”, mahasiswa tersebut menjawab “agar tampak sopan dan halus, dan kata ‘saya’ terasa egois”. Itulah pikiran yang selama ini ada di benak mahasiswa saya itu, yang salah. Jadi dia memang benar-benar tidak mengerti perbedaan kapan menggunakan kata “kita” “kami” dan “saya”.

Kesalahan serupa ternyata tidak saja terjadi pada mahasiswa, tetapi juga para selebritis bahkan pejabat pemerintah. Dalam sebuah wawancara langsung yang disiarkan TV swasta, saya secara kebetulan menyaksikan seorang artis terkenal sedang ditanya wartawan “Kapan anda akan menikah?” Jawaban sang artis “Persisnya gak tahu, tapi yang pasti kita akan menikah paling lambat akhir tahun ini”. Merujuk makna dasar yang terkandung dalam kata “kita”, maka jawaban sang artis bisa dilogikakan bahwa dia akan menikah dengan wartawan yang mewancarainya paling lambat akhir tahun ini. Padahal, bisa dipastikan sang artis tidak akan menikah dengan sang wartawan tersebut. Untung saja sang wartawan juga sama-sama tidak paham makna dasar kata “kita”. Andaikan memahaminya, dia pasti berbunga-bunga, sebab akan dinikahi seorang artis terkenal di negeri ini. Nah, pembaca yang budiman, maknanya jadi kacau kan?

Lebih menarik lagi memperhatikan ungkapan seorang pejabat pemerintahan. Perhatikan ungkapan seorang pejabat menganggapi pertanyaan wartawan atas banyaknya musibah kecelakaan dalam sistem transportasi di Indonesia. “Kami harus segera mengadakan koreksi dan introspeksi serta perbaikan-perbaikan ke dalam organisasi kami atas berbagai musibah selama ini ”.Padahal, bisa dipastikan yang akan melakukan koreksi dan introspeksi di tubuh organiasi itu adalah pejabat itu sendiri beserta jajarannya dan tidak akan mungkin melibatkan wartawan.

Dalam ilmu Linguistik bahasa Indonesia, kedua kosakata tersebut memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya keduanya sebagai kata ganti orang pertama jamak (the first person plural). Perbedaannya “kita” bersifat inklusif dan “kami” bersifat ekslusif. Dengan demikian, kata “kita” melibatkan pendengar, pembaca atau lawan bicara, sedangkan kata “kami” tidak. Karena itu, setiap pengguna bahasa Indonesia seharusnya memahami persamaan dan perbedaan kedua kosakata tersebut sehingga tidak menjadi salah kaprah.

Sebagai kekhasan dan keunikan linguistik, makna dasar kedua kosakata tersebut harus kita jaga agar tidak terjadi distorsi semantik (semantic distortion). Sebab, kekhasan dan keunikan makna kedua kosakata tersebut sekaligus merupakan kekayaan linguistik (linguistic wealth) yang harus kita jaga kelestariannya bersama dengan kekayaan-kekayaan lain yang kita miliki sebagai bangsa. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki bahasa Indonesia. Karena itu, harus kita jaga kelanggengan maknanya. Tetapi tampaknya sebagian masyarakat kita gagal melakukannya. Saya sering berpikir hipotetik “Kalau melestarikan makna kata saja kita tidak bisa, apalagi melestarikan budaya-budaya besar peninggalan nenek moyang kita?”.

Tetapi saya juga sadar bahwa bangsa kita ini memang susah sekali merawat apa yang kita miliki, baik itu berupa karya kita sendiri maupun lebih-lebih warisan atau peninggalan para pendahulu kita. Kecerobohan dan kesalahkaprahan berbahasa barangkali bisa dijadikan bukti otentik kelemahan kita melestarikan budaya bangsa kita sendiri. Sebagai anak sah peradaban yang pertama, setiap bahasa tentu memiliki kekhasan dan keunikan sendiri yang tidak perlu dibaurkan dengan bahasa-bahasa lainnya. Saya lalu teringat ajaran pakar bahasa Indonesia Prof. Jus Badudu yang menyatakan “Ketika berbahasa Indonesia, ikutilah kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika berbahasa Inggris, juga ikuti kaidah dan aturan bahasa Inggris yang baik dan benar. Pun ketika berbahasa lainnya, misalnya bahasa Arab, juga harus mengikuti aturan dan kaidah bahasa Arab yang baik dan benar”.

Karena itu, jangan membaurkan kaidah dan makna satu bahasa ke bahasa lainnya sebagaimana membaurkan konsep kata “kita” dan “kami” dengan bahasa lainnya. Sebab, pembauran bisa jadi akan melahirkan makna ambigu. Dan, satuan bahasa yang ambigu seringkali menimbulkan ketidakpastian. Mungkin itu sebabnya, ketidakpastian melanda dalam kehidupan kita sebagai bangsa sampai saat ini. Sebab, kita memang paling pinter membaurkan apa saja yang kita maui tanpa kita sendiri tahu makna hakikinya. Barangkali karena ini juga mengapa makanan sejenis gado-gado, yang tidak jelas spesifikasi rasanya, begitu laris di jual di warung atau restoran dan menjadi salah satu makanan khas Indonesia.

Ditulis Oleh: Prof. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Tak siapapun menyangkal peran penting bahasa dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia dapat saling berkomunikasi dan mengembangkan ilmu pengetahuan serta kebudayaan dalam rangka membangun peradaban yang lebih baik. Bahasa menyimpan seluruh warisan peradaban manusia. Pencarian makna sejarah suatu bangsa, misalnya, dilalui lewat bahasa, sebab ke dalam bahasalah bangsa tersebut menitipkan seluruh pesan, harapan, cita-cita dan pengalaman hidup mereka bagi generasi berikutnya.

Begitu penting, sampai seorang filsuf bahasa kenamaan Ludwig Wittgenstein menyatakan “Die Grenze meiner Sprache bedeuten die Grenze meiner Welt (Batas bahasaku adalah batas duniaku). Secara lebih bebas artinya adalah batas dunia manusia identik dengan batas bahasa logika yang dibangunnya.

Lebih dari sekadar pernyataan biasa, ungkapan Wittgenstein menyiratkan makna bahwa kemampuan berbahasa seseorang sangat menentukan sejauh mana dia mampu menembus batas-batas dunianya sendiri. Adalah bahasa yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Sebab, hanya manusia yang dapat memproduksi sistem bunyi (sound system) yang demikian kompleks. Selain itu, bahasa juga menunjukkan kondisi psikologis dan intelektual seseorang. Orang yang pikirannya sedang kacau, bisa dipastikan bahasanya juga kacau. Menurut Samsuri (1998) kemampuan berbahasa menunjukkan kemampuan otak seseorang. Orang yang bahasanya kacau—baik lisan maupun tulis—hampir bisa dipastikan kemampuan otaknya juga kacau. Mengutip seorang ahli bahasa terkemuka dari Amerika Tony Crowley, Samsuri (1998) menyatakan bahwa kekacauan berbahasa merupakan penyebab terjadinya kekacauan sosial.

Kendati perannya begitu penting, bahasa sering disepelekan banyak orang. Buktinya, banyak warga masyarakat kita membuat kesalahan-kesalahan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi andaikan saja sadar bahwa bahasa menggambarkan citra sosial, emosional, psikologis bahkan dan intelektual penggunanya.

Misalnya, betapa salah ucap kata-kata yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang begitu jelas terjadi bukan hanya di kalangan kelas bawah, tetapi juga elit. Misalnya, publik diucapkan pablik, pasca dibaca paska, musyawarah dilafalkan musyawaroh, Arab diucapkan Arob, klien diucapkan klain, sukses dibaca sakses, produk dibaca prodak, faks dibaca feks, psikologi diucapkan saikoloji, dapat dibaca dapet, semakin dilafalkan semangkin dan masih banyak lagi yang lain. Salah ucap istilah asing yang belum ada padanannya dalam bahasa Indonesia malah lebih banyak lagi. Inilah cermin konkret perilaku berbahasa masyarakat kita.

Menurut Kridalaksana (1999: 12), pengetahuan mengenai asal usul kata berikut ucapannya memang tidak harus dimiliki oleh setiap orang, tetapi bahasa manapun di dunia ini mempunyai konvensi lafal yang menjadi salah satu rambu kerjasama sosial. Untuk melafalkan unsur-unsur bahasa tidak diperlukan pengetahuan etimologi, karena sudah tersedia kamus yang siap untuk dirujuk setiap saat. Lafal yang tepat itu ibarat pakaian rapi yang memberi suasana nyaman dalam pergaulan manusia yang santun.

Bagi pengkaji sosiolinguistik, salah ucap seperti itu tidak bisa dipandang sekadar slip of the tongue sebagaimana alasan yang biasanya dikemukakan ketika orang salah ucap, sehingga dianggap sederhana. Bukankah perilaku berbahasa menunjukkan siapa penggunanya baik secara sosial maupun intelektual? Menggunakan perspektif Chaika (1982) sebagaimana disebutkan di atas, maka dengan sangat mudah dikesan dunia batin macam apa yang terjadi pada masyarakat kita dari kekacauan berbahasa seperti itu.

Kesalahkaprahan pada aspek semantik bahkan lebih serius. Contoh, bagaimana kata “demokrasi” memiliki berbagai makna sehingga menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat kita. Seorang pakar ilmu sosial bernama Bertnand de Jouvenel menyatakan bahwa pembahasan tentang demokrasi secara intelektual sama sekali tidak bermanfaat, karena orang tidak mengetahui apa yang dibicarakan (Kridalaksana, 2000: 12). Pengamatan menujukkan bahwa kata tersebut telah diberi pengertian beraneka ragam; di dunia politik dikenal demokrasi sosial, demokrasi ekonomi, demokrasi industri, demokrasi parlementer dan sebagainya.

Di Indonesia dikenal istilah demokrasi liberal, demokrasi terpimpin pada era Soekarno, dan demokrasi Pancasila oleh rezim Soeharto, dan di era Megawati, meminjam istilah Arbi Sanit, dikenal istilah demokrasi semu. Kehidupan sosial politik saat ini banyak yang menyebutnya sebagai “demokrasi kebablasan”, yang kesemuanya semakin menujukkan kesemrawutan makna demokrasi. Karena maknanya kabur, maka praktiknya pun menjadi tidak jelas. Makna demokrasi di setiap negara dan rezim berbeda-beda. Lebih luas lagi, apa yang dimaui oleh penguasa atau negara tentang demokrasi bisa berbeda dengan yang dipahami rakyat. Maka itu sebabnya, membangun demokrasi di Indonesia sulitnya luar biasa.

Demokrasi memang bukan konsep lokal warisan nenek moyang kita, tetapi merupakan konsep Barat, sehingga kita mengkonstruksi sendiri maknanya seiring dengan tuntutan demokratisasi di berbagai bidang kehidupan. Karena konsep demokrasi tidak pernah diajarkan—atau tidak dianggap penting oleh nenek moyang kita—sehingga kita menjadi asing dengan praktik kehidupan “berdemokrasi” , maka wajar jika kita mengalami kesulitan mencari padanan kata tersebut. Karena bahasa merupakan realitas simbolik, maka kata hakikatnya adalah representasi realitas. Implikasinya, kalau realitas tidak ada, maka kata tidak tercipta. Bandingkan dengan kata rice (Suparno, 2000:2) dalam bahasa Inggris yang dapat diungkap dengan sejumlah kata yang spesifik dalam bahasa Indonesia: padi, gabah, beras, nasi, lontong, upo (Jawa) dan sebagainya.

Dengan banyaknya ragam kata yang berhubungan dengan hajat hidup ini bisa ditafsir bahwa kita memang diajar untuk ‘hidup’, karena itu tidak boleh lapar, tetapi tidak diajarkan bagaimana mengisi ‘kehidupan’. Dalam falsafah Jawa kita kenal istilah ‘pokoke urip’ (asal hidup). Tafsir ini tampaknya benar dengan merujuk teori hubungan antara bahasa, pikiran dan budaya Franz Boas (dalam Blount, 1974), bahwa setiap bahasa merepresentasikan klasifikasi pengalaman dan budaya masyarakat.

Contoh sejenis menjadi panjang lagi lewat kajian Rosidi (2001: 38) yang menemukan betapa banyak kata atau istilah yang menggambarkan kekerasan, seperti tabok, pukul, jitak, tinju, jotos, bogem, tonjok, tunjek, sodok, tempeleng, gebuk, tampar, sikat, timpuk, dan hantam. Mengapa demikian banyak kata yang berhubungan dengan tindak kekerasan tersebut? Mengikuti teori Boas tentang hubungan bahasa dan budaya, bukankah itu semua menunjukkan dengan gamblang gambaran budaya masyarakat kita yang suka kekerasan? Dengan demikian jelas bahwa semula berbahasa adalah dorongan natural, namun sekaligus bahasa adalah fenomena kultural sehingga kemampuan berbahasa tidak bisa diwariskan secara genetik. Orangtua yang baik kemampuan berbahasanya tidak berarti anaknya juga akan baik. Demikian pula orangtua yang kebetulan bisu, tidak berarti anaknya menjadi bisu pula.

Belum tuntas persoalan makna demokrasi, belakangan kita disibukkan dengan istilah ‘wacana’. Sejak era reformasi bergulir, istilah ‘wacana’ menjadi demikian intensif diucapkan berbagai kalangan. Masalah apapun dijadikan wacana. Ribut-ribut upaya melengserkan Megawati oleh beberapa elemen mahasiswa dikatakan sekadar ‘wacana’. Setiap ada isu kenaikan harga BBM, pemerintah selalu menyatakan semuanya hanya ‘wacana’.

Tampaknya dari semua ungkapan mengenai ‘wacana’ dapat disimpulkan bahwa kata wacana diberi makna sebagai ‘gagasan awal yang belum matang dan sengaja dilontarkan untuk memperoleh tanggapan publik’., maka Gus Dur ketika menjadi presiden dianggap tokoh yang suka membuat ‘wacana’. Atau arti lain yang tidak jauh dari rumusan itu adalah ‘sekadar percakapan atau obrolan’ karena itu tidak perlu ditanggapi secara serius (Ayatrohaedi, 2002: 12).

Para linguis dan peminat studi linguistik merasa sangat berkepentingan untuk meluruskan makna kata wacana tersebut sesuai aslinya agar tidak menimbulkan kekacauan lebih jauh. Sebermula kata wacana digunakan oleh para ahli bahasa untuk mencari padanan istilah discourse atau diskursus dalam bahasa asing. Mereka menemukan istilah wacana sebagai padananannya yang dianggap cocok atau sesuai maksud yang terkandung dalam istilah asing tersebut. Kamus Inggris-Indonesia John Echols-Hassan Shadily (1978: 185) memberi makna wacana sebagai pidato, atau tulisan, percakapan, ceramah.

Sementara Webster’s New World College Dictionary (1996: 392) di antaranya mendefinisikan discourse sebagai (1) communication of ideas, information etc., esp. by talking: conversation, (2) a long and formal treatment of a subject, in speech or writing; lecture; treatise or dissertation, (3) ability to reason; rationality , (4) to speak or write ( on or upon a subject) formally at some length. Dari pelacakan ini terlihat jelas bahwa makna kata “discourse” yang berkembang di masyarakat kita berbeda jauh dari makna asalnya dan tak satupun definisi mengenai wacana sebagai “sekadar (just) pembicaraan” awal atau gagasan awal. Kita semakin bingung siapa yang memulai memberi makna kata tersebut sebagaimana yang berkembang sekarang. Inilah kesalahpahaman dan kesalahkaprahan berbahasa masyarakat kita yang mungkin bisa saja terjadi pada aspek kehidupan yang lain.

Berbahasa selalu bersifat publik, artinya bahasa selalu tumbuh bersama di tengah masyarakat. Dalam teori Language Game-nya, Wittgenstein (Mulkhan, 2001: 42), menyatakan manusia memperlakukan bahasa bagaikan sebuah permainan di mana ada pemain, penonton dan wasit. Sebuah permainan selalu memiliki aturan yang disepakati. Demikian juga berbahasa, tak sesiapapun bisa dengan seenaknya dan secara anarkis memberi makna dan memahami kata apalagi memaksakan makna sesuai yang dikehendaki tanpa melalui proses konvensi yang merupakan ciri fundamental bahasa.

Tanpa adanya aturan sebuah permainan dan komunikasi, bahasa akan menciptakan kekacauan yang urutannya bangunan ilmu pengetahuan dan tertib sosial juga akan ikut kacau. Berbahasa yang benar memang bukan sekadar menata kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragraf sesuai aturan gramatika, melainkan pula harus menyiratkan makna dengan penuh kejujuran.

Ditulis Oleh: Prof. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

From its term, sociolinguistics is derived from two different disciplines: sociology and

linguistics.

A. Sociology: a study about social structure, social organizations, relationship

between and within groups of people, and social behaviour. In a broader sense, it sociology studies about groups of people in society (family, clan, tribes, and nations), how they behave an d affect each other.

Sociologists assume sociology as a single discipline which is not related at all with any other disciplines and consider that society could be constituted without language.

All scientists (sociologists, psychologists, physicists, biologists, linguists, economists, historians, literary scholars) are all interested in arrangements. Basically, all disciplines try to find patterns of arrangements.

Sociology focuses on three basic arrangements:

1. the arrangement of words and ideas (culture) that we use to make sense of one another and our surroundings,

2. the arrangement of social relationships ( social structure) such as those that link authors and readers, parents and children, lovers and enemies, rich and poor, poweful and the weak, spectators and performers.

3. the arrangement of people in physical space (ecology): from how the placement of furniture can affect who emerges as a group’s leader to the differences between life in large, populous cities and life in small, rural villages.

Therefore, sociology is the study of the arrangements through which people know, share and affect one another’s lives.

B. LINGUISTICS (often called general linguistics, or structural linguistics) is a study

about phones (phonology), words (morphology) and sentences

(syntax). Only very recently, it studies discourses (texts).

Linguistics assumes : (1) language as a single entity, (2) language as a close system, (3) and language as a system of which components are homogenous.

Linguists treat language as an abstract object which can be accounted for without reference to social concerns of any kinds.

C. SOCIOLINGUISTICS (often called a functional linguistics, and a cross disciplinary

study) of which terms was first coined in 1950’s to try to bring together the perspectives of linguists and sociologists to bear on issues concerning the the place of language in society, and to address the social contexts of linguistic diversity.

Sociolinguistics is the field that studies the relationship between language and society, between the uses of language and the social structures in which the users of language live. It is the field of study that assumes that human society is made up of many related patters and behaviours, some of which are linguistic (Spolsky, 1998: 3)

Sociolinguistics assumes (1) every language has its own variations (2) every dialect ia also varied, (3) human speech is also varied depending on whom he speaks to. (4) language is closely related to social system and social structure, (5) language is a system which is not separated from the characteristics of its speakers, and the sociocultural values applied by its speakers.



Written by: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Published by:

M. Asrori Ardiansyah, M.Ed

Teacher at Malang Indonesia

Sumber:

www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com

www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com