Arsip

Humas Pendidikan


Secara sederhana “hubungan” atau communication” dapat diartikan sebagai process by wich a person transmits a massage to another (proses penyampaian berita dari seorang kepada orang lain). Kerja sama lembaga pendidikan dengan masyarakat disini mengandung beberapa pelibatan secara langsung yaitu:

1) Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (juga sebagai sumber berita)
2) Apa yang disampaikan (isi/informasi)
3) Alat, medis yang digunakan (dapat berupa kata-kata bunyi, laporan dan lain sebagainya)
4) Tujuan penyampaian, (dapat perintah, pemberitahuan)
5) Orang yang menerima informasi (komunikasi/communicate)
6) Response/jawaban yang diberikan oleh sipenerima.

Di bagian sebelumnya telah sedikit disinggung mengenai bentuk kerjasama lembaga pendidikan dengan masyarakat. Berbagai bentuk humas dalam lingkup lembaga pendidikan dapat dikelompokkan lagi menjadi bentuk langsung dan tidak langsung. Bentuk langsung anatara lain pertemuan formal (rapat) antara guru, pertemuan dengan orangtua /wali murid, pertemuan sekolah dengan masyarakat atau instansi terkait lainnya.

Bentuk tidak langsung misalnya melalui media cetak (majalah dinding, majalah pendidikan, pamflet), media elektronik (iklan pada televisi dan radio), dan media pameran sekolah. Beberapa bentuk kerjasama hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat sebagaimana telah disebutkan di atas adalah majalah dinding dan media pendidikan. Dalam membuat media publisitas tersebut, ada beberapa asas publisitas yang seharusnya diperhatikan, yaitu :
1) Materi obyektif dan resmi
2) Penyelenggara mading terorganisir
3) Mendorong partisipasi warga sekolah
4) Mempertahanka kontinyuitas
5) Memperhatikan respons/tanggapan

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Sebelum membahas tentang bagaimana pendekatan pelibatan masyarakat dalam humas pendidikan Islam terlebih dahulu di uraikan beberapa definisi humas itu sendiri. Istilah hubungan masyarakat (Humas) dikemukakan pertama kali oleh presiden Amerika serikat Thomas Jefferson tahun 1807.

Menurut Glennand Denny Griswold (1966) secara singkat dijelaskan bahwa humas merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai dan menyimpulkan sikap-sikap publik, penyesuaian prosedur instansi atau organisasi dengan kepentingan umum, menjalankan suatu progam untuk mendapatkan pengertian dan dukungan masyarakat.

Dalam bukunya: Scool Public Relations, Kindred Leslie mengemukakan: bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah suatu proses komunikasi antara sekolah dan masyarakat tentang kebutuhan dari praktek pendidikan serta mendorong minat dan kerja sama para anggota masyarakat dalam rangka usaha memeperbaiki sekolah.

Dari beberapa definisi tersebut diatas, mengandung sebuah pemahaman bahwa dalam pelaksanaannya pendekatan dan teknik pelibatan masyarakat dalam humas pendidikan Islam mengandung beberapa unsure. Adapun unsur-unsur tersebut adalah:
a. Humas merupakan filsafat manajemen yang bersifat social, yaitu humas merupakan filsafat sosial dari manajemen yang meletakkan kepentingan masyarakat lebih dulu pada segala sesuatu yang berkenaan dengan prilaku organisasi atau lembaga. Contoh: dalam sebuah lembaga sekolah bahwa tujuan utama sekolah bukan hanya untuk menguntungkan lembaga sekolah saja, akan tetapi juga untuk menguntungkan siswa dan orang tua siswa serta masyarakat yang ada
b. Humas adalah suatu keputusan kebijaksanaan, yaitu setiap lembaga pada hakekatnya memiliki kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus diikuti dalam kegiatannya. Penciptaan kebijaksanaan ini merupakan tanggung jawab pokok dari pemimpin.

c. Humas adalah komunikasi dua arah, unsur dasar humas yang selanjutnya adalah komunikasi dua arah (two-way communications). Melalui kesamaan dalam mendengarkan opini publiknya, dan kepekaan dalam menginterpretasikan setiap kecenderungan kegagalan dalam komunikasi, mengevaluasi, serta mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah sifat, pendekatan, dan penekanan setiap fase kebijaksanaannya.

Selain beberapa unsur diatas, ada beberapa unsure yang terlibat dalam humas suatu lembaga pendidikan. Inilah beberapa unsur yang terlibat dalam humas suatu lembaga pendidikan , yaitu:
Pertama sekolah: sebagai pusat pendidikan formal. Sekolah lahir dan berkembang dari pemikiran efisiensi dan aktivitas didalam pemberian pendidikan kepada warga masyarakat. Lembaga pendidikan formal atau persekolahan adalah kelahiran dan pertumbuhannya dari dan untuk masyakat bersangkutan artinya adalah sekolah sebagai pusat kegiatan pendidikan formal merupakan perangkat masyarakat yang diserahi kewajiban pemberian pendidikan. Sekolah merupakan lembaga sosial yang tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat oleh karena itu segala bentuk tujuan sekolah kesemuanya harus diarahkan kepada pembentukan corak pribadi dan kemampuan warga masyarakat sebagaimana target dan sasaran pendidikan di masyarakat tersebut.

Kedua Orang tua murid: Hubungan sekolah dan orang tua murid hendaknya dibawa kedalam hubungan yang konstruktif dengan program sekolah. Hubungan antara keduanya harus saling mendukung.

Ketiga Murid dan Guru: Murid adalah unsur sekolah yang sangat penting begitu pula seorang guru. Tugas seorang guru tidak hanya sekedar menyampaikan ilmu pengetahuannya kepada anak didik saja akan tetapi harus memperhatikan tingkah laku, perbuatan, pergaulan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan murid.

Pelaksanaan kegiatan humas ditilik dari jenis sasarannya terdiri atas dua bagian, yakni humas dengan masyarakat internal dan dengan masyarakat eksternal lembaga pendidikan. Masyarakat internal terdiri atas guru, pegawai keseluruhan, dan peserta didik. Adapun masyarakat eksternal yakni orangtua, Komite Sekolah, masyarakat sekitar, sekolah lain, dunia kerja, dan instansi lainnya. Humas yang ditujukan kepada masyarakat internal bertujuan menjelaskan kebijakan sekolah, menampung saran, dan memelihara hubungan harmonis atau kerjasama antar warga. Humas yang ditujukan masyarakat eksternal bertujuan untuk memperoleh pengertian atau simpati masyarakat, memperoleh bantuan dalam penyelenggaraan program pendidikan, bantuan material, atau fasilitas pendidikan, serta dukungan moral dalam melaksanakan kegiatan pendidikan.

Jenis kerjasama dalam humas pada lembaga pendidikan terdiri dari dua, yaitu :
1) Jenis kerjasama formal. Diwujudkan dengan pertemuan formal seperti rapat, upacara sekolah, penerbitan brosur atau pamflet, surat dinas, dan lain-lain
2) Jenis kerjasama informal. Diwujudkan dengan pertemuan informal seperti pembicaraan biasa, pertemuan yang sifatnya kekeluargaan, informasi lisan, dan lain-lain. Dalam penyelenggaraannya, kegiatan humas memerlukan media pendukung, baik visual, audio, maupun audio visual.

Adapun cara pendekatan pelibatan masyarakat dalam humas pendidikan Islam yang perlu diperhatikan secara persuasif artinya dengan teratur dan perlahan-lahan di sesuaikan dengan kondisi masyarakat. Atas dasar itu maka ada beberapa hal yang dapat ditempuh:
1) Pertemuan dari hati ke hati
2) Perkunjungan rumah
3) Laporan kemajuan belajar kepada orang tua
4) pertemuan kelompok, seperti
a. Tatap Muka
b. tukar menukar pengalaman
c. diskusi bersama.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Keberadaan Dewan Pendidikan harus bertumpu pada landasan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan di daerah. Oleh karena itu, pembentukannya harus memperhatikan pembagian peran sesuai posisi dan otonomi yang ada.

Adapun peran yang dijalankan Dewan Pendidikan adalah sebagai berikut.
a) Pemberi pertimbangan (advisory body) dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan pendidikan.
b) Pendukung (supporting agency), baik yang berwujud finansial, pemikiran maupun tenaga dalam penyelenggaraan pendidikan.
c) Pengontrol (controlling agency) dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan.
d) Mediator antara pemerintah (eksekutif) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (legislatif) dengan masyarakat.
Untuk menjalankan perannya itu, Dewan Pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut.
a) Mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
b) Melakukan kerja sama dengan masyarakat (perorangan/organisasi), pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.
c) Menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan, dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.
d) Memberikan masukan, pertimbangan, dan rekomendasi kepada pemerintah daerah/DPRD mengenai
e) Kebijakan dan program pendidikan
f) Kriteria tenaga pendidikan
g) Kriteria fasilitas pendidikan.

Dalam hal perannya sebagai pemberi pertimbangan (advisory) maka fungsinya adalah memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah/DPRD mengenai kebijakan dan program pendidikan, kriteria tenaga pendidikan, kriteria fasilitas pendidikan. Sebagai pendukung (supporting) baik yang berwujud finansial maka fungsinya mendorong tumbuhnya perhatian dan komitmen masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan yang bermutu serta mendorong orang tua dan masyarakt untuk berpartisipasi dalam pendidikan.

Perannya sebagai pengontrol dalam rangka transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan dan keluaran pendidikan, maka fungsinya melakukan evaluasi terhadap kebijakan, program, penyelenggaraan dan keluaran pendidikan. Peran terakhir sebagai mediator oleh pengurus Dewan Pendidikan antara pemerintah (eksekutif) dan DPRD (legislatif) dengan masyarakat maka fungsinya melakukan kerja sama dengan masyarakat, pemerintah dan DPRD berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu serta menampung dan menganalisis aspirasi, ide, tuntutan dan berbagai kebutuhan pendidikan yang diajukan oleh masyarakat.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Pada dasarnya komunikasi yang efektif antara lembaga pendidikan dengan masyarakat merupakan teknik yang paling efektif dalam menjalin hubungan yang harmonis. Komunikasi yang efektif tersebut dapat dilakukan dengan cara memberdayakan orang-orang kunci dalam artian orang-orang yang berpengaruh dalam masyarakat seperti para tokoh masyarakat, ketua-ketua organisasi, kepala desa ketua RT dan RW dan seterusnya. Selain teknik tersebut warga internal satuan pendidikan harus terbuka (egalite) terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi seperti kritik, saran dan berbagai hal yang berkembang tentang lembaga dan pendidikan secara universal di tengah-tengah masyarakat. Selanjutnya adalah bahwa komunikasi harus berlangsung secara terus menerus dan tidak karena disebabkan oleh suatu kegiatan belaka guna mengintegrasikan persepsi menjadi alternatif yang terbaik, kemudian yang terakhir adalah menjadi kewajiban bagi satuan pendidikan untuk melibatkan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan yang diinginkan, karena masyarakat adalah pengguna layanan.

Lebih detailnya, teknik-teknik yang efektif dan efisien untuk mengimplementasikan program-program pendidikan antara lain adalah: a). Teknik pertemuan kelompok. Pertemuan ini dapat diterapkan dalam bentuk diskusi, seminar, lokakarya atau serasehan; b). Teknik tatap muka. Teknik ini biasa dilakukan lewat kunjungan pihak internal sekolah ke rumah-rumah orang tua siswa atau masyarakat secara umum dan berkepentingan guna membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sekolah dan siswa serta pendidikan secara universal; c). Observasi dan partisipasi. Teknik ini dilakukan lewat kunjungan orang tua atau masyarakat ke sekolah, mengamati, atau berpartisipasi dalam kegiatan sekolah sehingga mengetahui keberhasilan dan berbagai hambatan yang terjadi; d). Surat menyurat dengan berbagai pihak yang berkaitan penting dengan penyelenggaraan pendidikan.

Teknik lain yang dapat dipergunakan dalam menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat, antara lain:
a). Laporan kepada orang tua santri.
b). Majalah sekolah. Majalah dapat dijadikan sumber informasi bagi orang tua dan masyarakat mengenai keadaan sekolah.
c). Pameran (exhibition) sekolah.
d). Open house, yaitu memberikan kesempatan kepada masyarakat yang berminat untuk mengunjungi sekolah, serta mengobservasi kegiatan yang ada terhadap berbagai hal yang telah dihasilkan oleh para santri. Teknik ini bisa dikategorikan kunjungan ke sekolah yang mana orang tua santri mengunjungi sekolah dikala jam pelajaran berlangsung.
e). Kunjungan ke rumah santri. Teknik ini merupakan teknik yang cukup efektif dalam rangka mewujudkan hubungan yang harmonis dengan orang tua santri.
f). Gambaran keadaan sekolah melalui para santri. Dalam hal ini sekolah dapat memberi pesan baik kepada para santri agar dapat menjelaskan keseluruhan program sekolah dengan baik. Teknik ini sangat efektif dengan catatan tidak dipaksakan.
g). Melalui koran, radio dan televisi. Dalam hal ini adalah memberikan/menyiarkan kondisi (kemajuan) sekolah secara keseluruhan.
h). Melalui organisasi perkumpulan alumni sekolah. Alumni merupakan para santri yang telah lulus dan tentu memiliki hubungan dan ikatan moral yang baik dengan sekolah. Lewat merekalah informasi tentang sekolah dapat dijelaskan kepada masyarakat luas.
i). Melalui praktek kerja atau praktek lapangan. Hubungan kemitraan sekolah dengan dunia luar, baik organisasi maupun lembaga pendidikan lain merupakan sarana yang sangat baik dalam rangka menunjukkan kemajuan yang telah dicapai dan mengangkat reputasi sekolah lewat para santri yang dibimbingnya.

Selain pembahasan di atas, masih sangat banyak sekali teknik-teknik lainnya yang perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi yang ada. Mayoritas teknik humas diterapkan lewat media-media sebagai tersebut di atas atau sebagai tambahan adalah media pers, audio-visual, bahan-bahan cetakan, penerbitan buku khusus (sponsored books), surat langsung (direct mail), pesan-pesan lisan (spoken word), pemberian sponsor (sponsorship), jurnal organisasi (house jurnals), ciri khas (house style) seperti warna organisasi yang dipakai agar mudah dikenal khalayak atau juga dapat disebut identitas perusahaan/lembaga (corporate identity) dan sebagaianya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Pada hakekatnya, masyarakat itu mau membantu suatu lembaga pendidikan bilamana lembaga pendidikan tersebut dapat dan mampu menampakkan performannya dengan baik, keunggulannya, eksistensinya serta keberhasilannya secara menyeluruh. Karenanya satuan pendidikan perlu dan bahkan harus mengaplikasikan prinsip-prinsip kelembagaannya dengan sempurna.

Dalam hal ini Maisyaroh mengemukan beberapa prinsip meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pendidikan agar mencapai mutu pendidikan yang efektif, yaitu:
a). Fleksibilitas. Perkembangan kebijakan pendidikan yang sering berubah-rubah, yang menjadi istilah paradigma baru perlu diperhatikan dengan baik oleh satuan pendidikan, sehingga dituntut adanya kelenturan dan adaptasi program satuan pendidikan yang dirancang secara kontinyu terhadap paradigma tersebut, dan itu terjadi pada masyarakat secara umum.

b). Relevansi. Peran dan fungsi lembaga pendidikan perlu ditetapkan sesuai dengan kondisi masyarakat sekitar yang menjadi latar belakang peserta didik, mau tidak mau lembaga pendidikan harus memperhatikan hal tersebut dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang diinginkan. Cocok tidaknya layanan pendidikan tergantung kepada masyarakat sekitar lembaga dan yang menggunakan layanan tersebut.

c). Partisipasi. Lewat program hubungan lembaga pendidikan dan masyarakat, maka lembaga pendidikan harus merencanakan dan membuat program dengan masyarakat serta mengembangkannya guna memperluas dan memperbaiki serta mamadukan pengalaman, kebutuhan dan harapan setiap pihak dengan baik dan efektif.

d). Komprehensi. Lembaga pendidikan tidak hanya menjalin hubungannya dengan masyarakat sekitar, namun lebih dari itu hubungannya (relations) harus pula diperluas dengan masyarakat secara universal baik dengan masyarakat pada kelompok dunia usaha, politik, sosial dan semacamnya yang sifatnya saling menguntungkan.
e). Melembaga. Bahwa layanan pendidikan yang efektif adalah dalam format organisasi, karena manajemen organisasi lembaga pendidikan perlu dibenahi dengan baik relevan dengan kebutuhan dan perkembangan manajemen organisasi yang ada, namun tidak meninggalkan hal lama yang sudah baik dan efektif.

Berkaitan dengan sekolah, maka prinsip-prinsip yang harus diperhatikan sebagai berikut:
a). Prinsip otoritas. Kepala sekolah memiliki peran utama dan tanggungjawab dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi seluruh program.
b). Prinsip kesederhanaan. Program-program hubungan sekolah dengan masyarakat disusun dan harus dilaksanakan dengan sederhana, jelas dan realistis sesuai dengan kondisi masyarakat, jangan berlebihan.
c). Prinsip kejujuran. Kejujuran merupakan unsur terpenting dan bahkan wajib diterapkan dalam keorganisasian, sekali terdapat informasi yang tidak benar kepada masyarakat maka loyalitas masyarakat akan menurun draktis dan bahkan hilang sama sekali.
d). Prinsip ketepatan. Segala sesuatu yang akan disampaikan pihak sekolah kepada masyarakat harus memperhatikan ketepatannya, baik isi, waktu, tempat serta tujuan akan dicapainya.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Komponen-komponen pendidikan pada setiap lembaga pendidikan memiliki jalur aktivitas masing-masing guna mendukung eksistensi dan efektifitas proses pendidikan mencapai tujuan pendidikan yang ingin digapai. Bidang kurikulum mengatur segala hal yang berkenaan dengan kebijakan materi pelajaran, bidang kesiswaan menangani masalah kesiswaan secara universal, bidang sarana dan prasarana berkelut dalam hal yang berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan secara umum seperti alat peraga, gedung sekolah dan sebagainya.

Sama halnya dengan bidang humas pendidikan. Bidang tersebut juga memiliki skope tersendiri yang dikelola guna mencapai kesempurnaan proses pendidikan pada satuan pendidikan dan pendidikan secara universal lewat hubungannya dengan masyarakat dan lewat berbagai program yang direncanakannya seperti memberdayakan masyarakat sekitar dalam berbagai aspek kegiatan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak dengan harapan proses pendidikan pada lembaga mendapat dukungan yang penuh dan positif dari khalayak masyarakat sehingga mencapai mutu pendidikan yang sempurna.

Salah satunya dari hal di muka adalah rekrutmen terhadap masyarakat sekitar yang memiliki skill ektrakurikuler sebagai tenaga pengajar praktek, pelibatan masyarakat dalam menjaga keamanan dan kenyamanan pada satuan pendidikan, pemeransertaan masyarakat dalam kepanitiaan dalam suatu program satuan pendidikan serta juga hal yang sangat urgen pula adalah memberdayakan masyarakat lewat berbagai kegiatan seperti majlis-majlis ta’lim yang diadakan oleh lembaga pendidikan dan seterusnya sehingga hubungan antara lembaga dengan masyarakat benar-benar terasa kenyamanan dan keharmonisannya.

Ruang lingkup humas pendidikan pada sekolah meliputi beberapa hal berikut ini:
a). Kelompok orang tua santri baik secara perorangan maupun kelompok dalam wadah komite sekolah atau majlis sekolah dengan tujuan utama menyadarkan orang tua akan pentingnya peran serta.
b). Kelompok masyarakat luas (umum) lewat berbagai kegiatan dengan tujuan menunjukkan kemajuan yang telah dicapai sekolah sehingga mendapatkan kesan positif atau dalam istilah lainnya sebagai proses promosi.
c). Kelompok instansi (dunia usaha) lewat kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan tujuan mendapatkan umpan balik (feedback) terhadap relevansi program dengan kebutuhan dunia usaha, atau juga sebagai upaya guna meningkatkan akuntabilitas program sekolah.

Di samping itu, dalam konsep ruang lingkup humas pendidikan ada sebutan pelanggan yaitu pelanggan internal dan eksternal. Adapun pelanggan internal meliputi para guru, pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga administrasi. Sedangkan pelanggan eksternal adalah siswa (primer), orang tua, pemerintah, dan masyarakat (sekunder), dan pemakai/penerima lulusan (tersier).

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Salah satu tujuan Undang-Undang No. 22/1999 tentang Pemerintahan Daerah adalah memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa dan kreativitas, serta meningkatkan peran serta masyarakat, termasuk dalam meningkatkan sumber dana dan penyelenggaraan pendidikan. Peran serta masyarakat dalam pendidikan dapat dilakukan oleh perorangan, kelompok, ataupun lembaga seperti yayasan, organisasi masyarakat atau pihak swasta lainnya.

Proses peran serta tersebut akan menjadi efektif karena hasilnya dapat secara langsung dinikmati oleh masyarakat itu sendiri. Bila secara ekplisit dikemukakan salah satu tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
a). Memelihara, menumbuhkan, menjaga dan meningkatkan serta mengembangkan pendidikan.
b). Saling memberikan atau sharing informasi antara sekolah dengan orang tua murid demi kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan atau keberhasilan siswa di sekolah.
c). Dari kegiatan tersebut masyarakat mempunyai rasa memiliki (senses of belonging) terhadap keberadaan suatu lembaga pendidikan.

Bilamana diadopsi dari beberapa point penting yang dikemukakan oleh S. Thomas Foster (2007) mengenai alasan pentingnya suatu layanan terhadap pelanggan dilakukan, adalah sebagai berikut: a). Pelanggan sebagai masyarakat akan mengatakan dua kali tentang pengalaman baik dan buruk yang dialaminya; b). Ketidakpuasan pelanggan akan terkemuka lewat 8 sampai dengan 10 masyarakat yang mengalaminya; (c). Tujuh puluh persen (70%) dari masalah pelanggan, akan mengingatkannya bahwa anda dapat memecahkan komplain yang terjadi dengan memuaskan; d). hal ini lebih memudahkan mendapatkan pelanggan dari pada harus menemukan bisnis baru; e). kepastian layanan bersandar pada 85% sampai dengan 95% terulangnya bisnis pelanggan; f). delapan puluh (80%) dari produk baru dan gagasan layanan berasal dari pelanggan; dan terakhir g). biaya pemeliharan pelanggan adalah 1-6 dari pada biaya penarikan pelanggan baru.

Selain itu Ricard A. Gorton (1977) dalam bukunya yang berjudul “School Administration” juga mengemukakan tiga (3) tujuan dari pada program hubungan masyarakat yang sangat penting diimplemantasikan dalam dunia pendidikan ini, antara lain:
a). Guna menjual (memberikan layanan) program pendidikan kepada masyarakat, maka darinya mereka akan menaruh rasa bangga dan mendukung sekolah. Untuk mengimplementasikan program ini maka sekolah perlu mempromosikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki;
b). Guna menjelaskan program pendidikan yang beroperasi kepada masyarakat sehingga mereka paham dengan baik mengenai bebagai hal yang dikerjakan sekolah dan mereka bisa mendukungnya. Untuk mengimplementasikan hal ini maka perlu dijelaskan tujuan dan prosedur dalam suatu laporan serta mengenai kekuatan dan kelemahan program yang diselenggarakan;
c). Guna menumbuhkan minat dan peran serta masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Dalam hal ini perlu menggunakan informasi yang tepat, nasehat, dan asisten secara individual atau kelompok masyarakat yang memiliki minat. Dari hal ini akan didapatkan kekuatan dan kelemahan program sekolah yang diselenggarakan.

Sedangkan dalam wilayah sekolah, tujuan tersebut adalah:
a). Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan serta sasaran yang ingin direalisasikan sekolah.
b). Meningkatkan pemahaman sekolah tentang keadaan serta aspirasi masyarakat terhadap sekolah.
c). Menggalang usaha orang tua dan guru-guru dalam memenuhi kebutuhan anak didik, serta meningkatkan kuantitas dan kualitas bantuan orang tua murid dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di sekolah.
d). Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya peranan pendidikan di sekolah dalam era pembangunan.
e). Membangun dan memelihara kepercayaan masyarakat terhadap sekolah serta program-program sekolah.
f). Memberitahu masyarakat tentang pertanggungjawaban sekolah atas harapan yang dibebankan masyarakat kepada sekolah.
g). Mencari dukungan serta bantuan dari masyarakat dalam memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk meneruskan dan meningkatkan program sekolah.

Terdapat beberapa keuntungan baik bagi pihak sekolah maupun pihak masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan sekolah, yang diantaranya adalah: a). Wali santri atau masyarakat dapat memberikan informasi tentang pendidikan pada umumnya dan khususnya di sekolah; b). Partisipasi wali santri atau masyarakat dapat menumbuhkan komitmen mereka untuk mendorong prestasi pendidikan putra-putrinya di sekolah; dan terakhir c). Partisipasi wali santri atau masyarakat dalam proses pembuatan keputusan akan mengurangi tingkat resistensi (daya tahan) dalam implementasi program-program pendidikan sekolah.

Manfaat lain yang lebih profit antara lain:
a). Dunia usaha dan industri dapat memberikan dukungan finansial bagi sekolah.
b). Dunia usaha dan industri dapat memberikan sumbangan pengembangan keterampilan kecakapan hidup (life skills) bagi para santri sekolah melalui kemitraan.
c). Dan bagi dunia usaha dan industri, hubungan baiknya dengan sekolah dapat memberikan manfaat positif tersendiri, di mana dapat melakukan promosi dan memasarkan berbagai produk yang dikeluarkannya baik pada lingkungan umum maupun lingkungan sekolah yang padat dengan penduduk dan padat kebutuhan barang-barang industri, terutama kebutuhan para santri sehari-hari.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com