Arsip

Ibu dan Anak


Banyak ibu dan ayah menganggap anak mereka pintar, tapi kebanyakan anak hanya jenius di mata orangtua mereka. Namun, beberapa anak sebenarnya dicap sebagai yang pintar. Apakah anak anda adalah salah satunya? Ada beberapa pedoman perkembangan yang sering mengindikasikan kepintaran anak. Berikut ini ada sepuluh tanda anak pintar.

1. Mempertahankan Informasi: Istilah “masuk telinga kiri keluar telinga kanan” nampaknya berlaku bagi kebanyakan anak. Akan tetapi anak yang pintar benar-benar mempertahankan berbagai informasi dan mampu mengingatnya di lain waktu. Sebuah contoh dari National Association of Gifted Children (NAGC) ialah: “Seorang anak berusia enam tahun kembali dari perjalanan museum ruang angkasa dan mereproduksi kembali secara akurat gambar roket ruang angkasa yang telah dilihatnya.

2. Memiliki Ketertarikan Luas: Anak pintar menampilkan minat dalam berbagai topik. Mereka mungkin suka dengan dinosaurus dalam satu bulan, ruang angkasa bulan berikutnya, dan seterusnya.

3. Menulis dan Membaca Lebih Awal: Jika anak anda adalah seseorang yang pintar, dia mungkin dapat membaca dan menulis sangat dini dan tanpa pengajaran formal.

4. Berbakat di Bidang Musik atau Seni: Anak yang menampilkan bakat luar biasa untuk musik dan seni sering dianggap pintar. Anak yang dapat menggambar, bernyanyi dengan sempurna, atau menampilkan bentuk persepsi seni yang tinggi lainnya biasanya masuk dalam kategori anak pintar.

5. Menunjukkan Waktu Konsentrasi Intens: Anak tidak begitu identik dengan rentang perhatian yang panjang, tapi anak pintar mampu memiliki waktu lebih konsentrasi intens.

6. Memiliki Ingatan Baik: Beberapa anak pintar mampu mengingat hal-hal sewaktu mereka lebih kecil. Misalnya, anak berumur dua tahun mungkin ingat dan membawa kembali kejadian ketika dia berusia 18 bulan.

7. Memiliki Kosakata Tinggi: Seorang anak yang terlalu dini untuk berbicara bukan saja merupakan tanda kepintaran, tapi jika anak anda berbicara menggunakan kosakata yang lebih maju dan kalimat-kalimat, maka dia mungkin memang sepintar yang anda bayangkan. Menurut NAGC, “Anak pada usia dua tahun membuat kalimat seperti: ‘Ada anjing.’ Anak dua tahun yang pintar mungkin akan berkata, ‘Ada seekor anjing di belakang rumah dan ia mengendus bunga.'”

8. Memperhatikan Detil: Anak pintar memiliki mata tajam untuk detil. Anak yang lebih tua mungkin ingin tahu rincian spesifik tentang bagaimana segala sesuatu bekerja, sedangkan anak yang lebih muda akan dapat menaruh kembali mainan persis di mana ia mendapatkannya atau memperhatikan jika sesuatu telah dipindahkan dari tempat biasa.

9. Bertindak sebagai Kritikus Sendiri: Pada umumnya anak tidak terlalu khawatir tentang diri mereka sendiri atau orang lain, kecuali teman mereka memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Sebaliknya, anak pintar prihatin dengan orang lain, tapi yang paling penting diri mereka sendiri.

10. Memahami Konsep Kompleks: Anak yang sangat pintar memiliki kemampuan untuk memahami konsep yang kompleks, memahami hubungan, dan berpikir abstrak. Mereka mampu memahami masalah secara mendalam dan berpikir tentang solusi.

Iklan

Ada banyak penyakit yang tiba-tiba saja merusak tubuh tanpa pernah menyebabkan gejala. Itulah sebabnya pemeriksaan medis sangat pentingnya, setidaknya sekali setahun. Apalagi jika gaya hidup kita tidak sehat.

Nah, berikut ini adalah tes kesehatan yang penting dilakukan oleh wanita menurut MedicMagic.

Mamografi
Jika Anda adalah orang yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara (memiliki riwayat keluarga), disarankan untuk melakukan mammografi dari usia 40 tahun. Selain mammografi, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri setiap bulannya untuk mendeteksi dini adanya kelainan pada payudara.

Tes tiroid
Berat badan turun walaupun nafsu makan meningkat, cemas, berkeringat, bengkak di pangkal leher, adalah gejala penyakit hipertiroid. Wanita lebih mungkin mengidapnya daripada pria. Hipertiroidisme bisa serius jika tidak diobati. Komplikasinya termasuk masalah jantung. Penyakit ini bisa dideteksi dengan tes darah.

Pap smear
Pap smear dimulai dari usia 21 tahun, kecuali Anda sudah berhubungan seks sebelumnya. Setiap wanita disarankan untuk melakukan tes pap smear untuk mendeteksi tanda-tanda kanker serviks.

Tes mata
Jika Anda menggunakan kacamata atau lensa kontak, kunjungi dokter mata setiap tahunnya untuk pemeriksaan berkala. Wanita lebih rentan terhadap gangguan mata, seperti sindrom mata kering atau penyakit autoimun yang mempengaruhi penglihatan.

Tes darah
Setelah tes darah dasar untuk menentukan kadar kolesterol pada usia 20, setidaknya ulangi tes ini pada usia 40 tahun. Periksakan kolesterol dan gula darah karena risiko penyakit jantung dan diabetes meningkat dengan bertambahnya usia.

Sudahkah Anda memeriksakan kesehatan Anda?

sumber: http://www.tribunnews.com/2011/09/12/hai-perempuan-sudahkah-periksa-5-tes-kesehatan-ini


Pernahkah Anda mendengar anjuran “carilah istri yang cerdas supaya bisa mempunyai anak yang cerdas karena kecerdasan itu diturunkan dari seorang ibu”. Namun, Anda pasti bingung dan bertanya-tanya, yaitu bagaimana kecerdasan itu diturunkan dari ibu? apakah kecerdasan itu bisa ditingkatkan? dan apa saja yang mempengaruhi kecerdasan?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, berikut uraian yang mungkin bisa menjadi referensi Anda.

Apakah Kecerdasan Diturunkan?
Menjelang akhir 1997, seorang ilmuwan mengumumkan bahwa ia telah menemukan satu gen kecerdasan di kromosom 6. Orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tsb. Penemuan Robert Plomin ini segera mengundang kontroversi. Tak banyak perdebatan dalam sejarah sains yang berlangsung seseru perdebatan seputar kecerdasan. Parameter uji kecerdasan dengan IQ sendiri merupakan kontroversi. Di akhir 1990-an, banyak ilmuwan memperkenalkan kecerdasan yang lain: emotional, spiritual, adversity quotience, dll. Seorang pakar, Howard Gardner, bahkan telah mendefinisikan 9 jenis kecerdasan yang berbeda, di antaranya kecerdasan visual, kecerdasan verbal, kecerdasan musik, bahkan kecerdasan atletik. Penelitian yang terakhir ini rasanya lebih adil. Mengatakan Mozart, Hemingway, atau Zidane lebih bodoh daripada Newton, kini akan terdengar cukup konyol.

Penelitian lain dilakukan Thomas Bouchard. Dimulai th 1979, ia mengumpulkan pasangan-pasangan kembar terpisah dari seluruh dunia dan menguji kepribadian dan IQ mereka. Hasil yang diluar dugaan dari penelitian ini adalah korelasi antara anak-anak adopsi yang dibesarkan bersama ternyata nol. Artinya,tidak ada pengaruh asuhan keluarga terhadap IQ. Jika bukan asuhan keluarga, lalu apa yang menentukan IQ? Jawabnya adalah peran penting rahim seorang Ibu! Menurut studi lain, pengaruh peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kandungan terhadap kecerdasan tiga kali lebih besar dibanding apapun yang diperbuat oleh orangtua sesudah bayi lahir.

Kesimpulan yang dapat diambil dari studi tadi adalah, kali ini menurut Ridley, bahwa kira-kira separuh IQ kita dapatkan melalui pewarisan, dan kurang dari 20% berasal dari asuhan keluarga. Sisanya berasal dari kandungan, sekolah, dan teman sepergaulan. Sifat pewarisan IQ sewaktu anak-anak porsinya kurang lebih 45%, sedangkan pada masa akhir remaja naik menjadi 75%. Sejalan dengan pertumbuhan, anak secara berangsur mengekspresikan kecerdasan bawaan dan meninggalkan pengaruh-pengaruh sebelumnya yang ditanamkan orang lain. Akhirnya, meskipun terbukti sahih bahwa kecerdasan diwariskan, sifat pewarisan bukan berarti tidak dapat berubah. Kecerdasan bawaan sangat berperan, sebagaimana pengaruh lingkungan asuhan tak dapat disepelekan. Ambillah orok dari sepasang suami-istri profesor mekanika kuantum dan doktor biologi molekuler, lalu besarkanlah ia di Nusa Tenggara Timur, tempat dimana anak-anak menderita marasmus. Tujuh belas tahun kemudian kita akan membuktikan kesimpulan Ridley.
Siapa yang Lebih Berperan dalam Mewariskan Kecerdasan pada Anak?
Faktor genetik seorang Ibu seangat berpengaruh terhadap kecerdasan anak. Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Dr Ben Hamel “Pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X yang berasal dari ibu”.

Karena itu, ibu yang cerdas berpotensi besar melahirkan anak yang cerdas pula. “Dengan demikian, lebih baik memiliki ibu yang cerdas daripada ayah yang cerdas,” ujar Hamel. Namun, kelainan genetika dari seorang ibu juga dapat diturunkan kepada anak-anaknya, termasuk di antaranya retardasi mental.

Dalam keadaan normal, setiap manusia memiliki 23 pasang kromosom yang terdiri atas 22 pasang kromosom autosom dan sepasang kromosom seks. Ada 23 kromosom berasal dari ibu yang disebut kromosom XX dan 23 pasang lagi berasal dari ayah yang disebut kromosom XY.

Kromosom dari ayah dan ibu akan bergabung saat terjadinya fertilisasi, yaitu pertemuan antara sel sperma dan sel telur yang akan menghasilkan zigot. Dalam keadaan normal, zigot akan melakukan pembelahan sel secara mitosis sehingga setiap sel dalam tubuh manusia akan membawa informasi genetik yang sama.

Otak dikatakan berfungsi optimal jika memiliki kemampuan berfikir kreativ dan innovative pada saat yang tepat. Untuk mendapatkan sel otak yang bisa berfungsi maksimal, selain factor genetic, juga dipengaruhi oleh asupan gizi, dan ransangan luar.

Genetik diturunkan dari kedua orang tua, asupan gizi dan ransangan dari luar tergantung dari bagaimana kita memenuhi kebutuhan gizi anak, dan melayani anak, apakah permainan, interaksi orang tua dan anak. Permainan edukatif dan yang banyak mengundang kreativitas anak tentu akan lebih baik untuk perkembangan otak yang sempurna. Sehingga kecerdasan yang sebenarnya itu adalah akumulasi dari genetic, supply gizi dan ransangan. Dengan artian walaupun orang tua mempunyai genetic yang baik, tapi anak tidak diberi makanan yang baik dan tanpa diransang justeru kecerdasan itu nggak akan muncul sempurna.

Bagaimana Seorang Ibu Berperan Penting dalam Pewarisan Kecerdasan Anak?
Bagaimana bisa seorang ibu menjadi penentu kecerdasan anak-anaknya? Mungkin pertanyaan ini akan terdengar kurang indah ditelinga kaum laki-laki karena pada dasarnya seorang anak terlahir dari pertemuan antara sperma (laki-laki) dan ovum (perempuan) melalui proses fertilisasi dimana setelah terjadi proses fertilisasi tersebut, kedua sel gamet itu akan melebur menjadi satu dan membentuk zygot kemudian membelah menjadi morula, blastula, gastrula, dan berdiferensiasi menjadi makhluk hidup kecil di dalam rahim yg disebut dengan fetus (janin).

Ovum merupakan sel gamet yang terdiri dari inti sel dan sitoplasma lengkap dengan organel-organel yang akan berperan dalam proses pembelahan dan perbanyakan sel. Sperma merupakan sel gamet yang terdiri atas kepala dengan inti sel dan ekor yang mengandung mitokondria sebagai pemberi energi bagi pergerakan sperma. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa 14 jam setelah proses fertilisasi maka ekor sperma yang mengandung mitokondria akan dilepas dan dibuang, inti sel ovum dan sperma akan melebur menjadi satu sehingga terbentuklah sel baru (zygot) 2n. Inti zigot merupakan gabungan antara inti sperma dan ovum sedangkan sitoplasma dan organel-organel sel berasal dari organel sel ovum. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa prosentase peran ovum lebih besar daripada sperma dalam aktivitas pembelahan sel selanjutnya.

Di sinilah awal peran Ibu dalam menentukan kecerdasan, yaitu melalui mitokondria. Yang menarik, mitokondria ini hanya diwariskan oleh ibu, tidak oleh ayah. Sebab, mitokondria berasal dari sel telur bukan dari sel sperma (sebagaimana penjelasan sebelumnya). Dalam setiap sel manusia ada sebuah organela yang sangat strategis fungsinya. Organela ini dinamakan mitokondria. Organelnya berongga berbentuk bulat lonjong, selaputnya terdiri dari dua lapis membran, membran dalam bertonjolan ke dalam rongga (matriks), serta mengandung banyak enzim pernapasan. Tugas utama mitokondria adalah memproduksi kimia tubuh bernama ATP (adenosin tri phosphat). Energi hasil reaksi dari ATP inilah yang menjadi sumber energi bagi manusia. Mitokondria bersifat semiotonom karena 40 persen kebutuhan protein dan enzimnya dihasilkan sendiri oleh gennya. Mitokondria adalah salah-satu bagian sel yang punya DNA sendiri, selebihnya dihasilkan gen di inti sel. Itulah sebabnya investasi seorang ibu dalam diri anak mencapai 75 persen.

Keseimpulannya, berdasarkan uraian 3 pertanayaan di atas. Secara teori, kecerdasan anak mungkin sangat dipengaruhi oleh kecerdasan seorang ibu. Namun, fenotip (penampakan) yang kita lihat bukanlah melulu hasil dari faktor genetik melainkan hasil interaksi dengan lingkungan juga.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda tertarik untuk mencari calon istri yang cerdas dengan harapan anak-anak Anda juga cerdas di kemudian hari. Tapi yang terpenting adalah bagaimana nantinya cara Anda mendidik anak-anak hingga memiliki akhlak dan budi pekerti yang mulia. Bukankah itu hal yang lebih utama 🙂

sumber: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=9100067

Hubungan Lama Pemberian Susu Formula dengan Karies Gigi
Anak usia prasekolah umumnya masih banyak yang mengkonsumsi susu formula, khususnya menggunakan botol. Pemberian susu ini cenderung dibiarkan sampai anak tertidur dalam keadaan menghisap botol yang berisi susu atau kadang air gula sehingga susu atau cairan manis tersebut menggenang di sekitar maksila bagian depan. Kebiasaan minum ini bisa mengakibatkan karies gigi pada anak yang sering disebut dengan Nursing Bottle Caries, Nursing Bottle Mounth, Baby Bottle Caries, dan Early Childhood Caries (ECC) (Susilowati, 2008).
Lubang gigi ini disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang di mulut sepanjang malam, akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam (Retno, 2001). Gula pasir/sukrosa merupakan makanan penyebab utama karies dentin. Sedangkan gula laktosa dalam ASI tidak semanis gula pada sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Tingkat kemanisan laktosa hanya seperenam kemanisan glukosa, itulah sebabnya bayi yang diberi ASI tidak mengalami karies gigi (Marimbi, 2010).

Bakteri yang sering muncul dalam plak adalah Streptococcus, dengan salah satu spesiesnya yaitu Streptococcus mutans. Bakteri Streptococcus berada dalam mulut secara anaerobic melalui enzim yang diproduksi mampu mencerna atau menghidrolisis sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Dari hasil metabolisme jenis gula tersebut, terbentuklah polimer rantai panjang dari glukosa dan fruktosa. Dari situlah kemudian berkembang menjadi noda pada permukan gigi. Noda-noda tersebut bersifat gel yang lengket sekali (Koswara, 2006). Streptococcus mutans berkembang dengan subur jika ada kombinasi gula, sedikit air ludah dan tingkat keasaman (pH rendah) dalam air ludah. Sebagian dari populasi ini sekitar 20% diperkirakan semakin bertambah banyak dalam suasana sangat asam yang dihasilkan bakteri (Nita, 2007).

Proses pengeroposan gigi sendiri disebabkan oleh pengaruh asam laktat, yaitu produksi hasil sampingan dari metabolisir fruktosa. Bayi dan anak kecil yang dibiasakan minum susu formula/cairan manis dalam botol sambil tidur lebih memungkinkan terjadi laju penyedotan isi botol lebih cepat dari laju penelanan, sehingga sering susu berada di dalam mulut terlalu lama (Koswara, 2006). Asam yang diproduksi tersebut mempengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitive pada pH rendah. Ketika itu, proses demineralisasi menjadi lebih cepat karena menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi (Kuntari, 2008). Permukaan gigi tampak utuh, tetapi sebenarnya lapisan di bawahnya telah larut. Demineralisasi awal tampak seperti bercak putih di gigi dan lama-lama menjadi kecoklatan (Nita, 2007).

Aliran saliva di dalam rongga mulut sebenarnya dapat membantu membersihkan asam yang menempel pada permukaan gigi. Namun ketika anak tertidur, aliran saliva secara signifikan akan berkurang dan kondisi ini akan diikuti oleh tergenangnya asam yang dihasilkan oleh fermentasi gula yang terdapat pada susu formula/larutan manis yang mengandung gula di dalam rongga mulut sehingga akan mempercepat terbentuknya karies gigi. Dan jika gigi dibiarkan tidak dirawat, maka lubang akan berkembang (Kuntari, 2008).

Hasil penelitian Drg. Yuke Yulianingsih Heriandi, MS, Universitas Trisakti tahun 2005 menunjukkan terdapat pertumbuhan karies gigi yang lebih tinggi yaitu rata-rata 39,622% pada anak balita yang mengkonsumsi makanan kariogenik, karena makanan kariogenik mengandung sukrosa 4,4 kali lebih banyak daripada makanan non-kariogenik. Dari hasil penelitian yang terdahulu yang berjudul hubungan lama pemberian susu botol dengan kejadian karies gigi pada anak TK Arafat, Semanggi, Surakarta yang dilakukan oleh Ida Ayu Komang Ari Purnamaastuti tahun 2006 menunjukkan bahwa pemberian susu formula lebih
dini akan mengakibatkan angka kejadian keparahan karies gigi yang lebih tinggi juga.
Salah satu keburukan mengkonsumsi susu formula terutama bila anak sudah balita dan pemberian susu telah dilakukan lebih dari 1 tahun adalah kemungkinan terjadinya karies susu botol. Memperpanjang waktu susu formula yang melebihi masa peralihan pemberian makanan cair ke makanan padat, akan menyebabkan karies lebih dini. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai saat bayi berusia 6 bulan yang berupa makanan padat/semi padat. Kepadatan makanan yang diberikan pada bayi meningkat secara bertahap sampai mendekati usia 1 tahun (Kuntari, 2008).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula
Menurut Roesli (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian susu formula yaitu:
1. ASI tidak cukup
Alasan ini merupakan alasan utama bagi ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif. Walaupun banyak ibu yang merasa ASInya kurang,tetapi hanya sedikit (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya. Selebihnya ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya.
2. Ibu bekerja dengan cuti hamil 3 bulan
Bekerja bukan alasan untuk tidak memberikan ASI, karena waktu ibu bekerja, bayi dapat diberi ASI perah yang diperoleh sehari sebelumnya.
3. Takut ditinggal suami
Alasan ini karena mitos yang salah, yaitu menyusui akan mengubah bentuk payudara menjadi jelek. Sebenarnya yang mengubah bentuk payudara adalah waktu kehamilan bukan menyusui.
4. Bayi akan tumbuh menjadi anak yang tidak mandiri dan manja.
Pendapat bahwa bayi akan tumbuh menjadi anak karena terlalu sering didekap dan dibelai adalah tidak benar. Justru anak akan tumbuh menjadi kurang mandiri, manja, dan agresif karena kurang diperhatikan oleh orang tua dan keluarga.
5. Susu formula lebih praktis
Pendapat ini tidak benar, karena untuk membuat susu formula diperlukan api atau listrik untuk memasak air, peralatan yang harus steril, dan waktu untuk mendinginkan susu formula. Sementara ASI siap pakai dengan suhu yang tepat setiap saat serta tidak memerlukan api, listrik, dan perlengkapan yang harus steril.
6. Takut badan gemuk
Pendapat bahwa ibu menyusui akan sulit menurunkan berat badan adalah tidak benar. Didapatkan bukti bahwa menyusui akan menurunkan berat badan lebih cepat daripada ibu yang tidak menyusui. Timbunan lemak yang terjadi sewaktu hamil akan dipergunakan untuk proses menyusui, sedangkan wanita yang tidak menyusui akan lebih sulit untuk menghilangkan timbunan lemak tersebut.
Kurniasih (2008) menambahkan bahwa alasan ibu memberikan susu formula yaitu:
a. Stress sehingga menghambat produksi ASI
b. Puting susu ibu masuk kedalam sehingga bayi kesulitan untuk menghisap ASI
c. Ibu menderita sakit tertentu semisal kanker atau jantung sehingga harus mengkonsumsi obat-obatan yang dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi
d. Kurang percaya diri
e. Ibu kecanduan narkotika dan zat adiktif lainya (NAPZA)

Dampak pemberian susu formula

Berbagai dampak negatif yang terjadi pada bayi akibat dari pemberian susu formula, antara lain:
1. Gangguan saluran pencernaan (muntah, diare)
Judarwanto (2007) menjelaskan bahwa anak yang sering mendapatkan susu formula lebih sering muntah/gumoh, kembung, “cegukan”, sering buang angin, sering rewel, gelisah terutama malam hari. Sering buang air besar (>3 kali perhari), tidak BAB setiap hari, feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah, hernia umbilikalis (pusar menonjol), inguinalis (benjolan diselakangan, daerah buah zakar atau pusar) karena sering ngeden sehingga tekanan dalam perut meningkat. Gangguan ini merupakan biasanya reaksi bayi pada saat saluran pencernaan beradaptasi terhadap susu formula (Raizah, 2008)

2. Infeksi saluran pernafasan
Bila gangguan saluran pencernaan terjadi dalam jangka panjang dapat mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsillitis/amandel) berulang dan kadang setiap bulan atau lebih (Judarwanto, 2007).
3. Meningkatkan resiko serangan asma
Para peneliti telah mengevaluasi terhadap efek perlindungan dari pemberian ASI, bahwa pemberian ASI melindungi terhadap asma dan penyakit alergi lain. Sebaliknya, pemberian susu formula dapat meningkatkan resiko tersebut (Oddy dkk (2003) dalam Roesli, 2008).
4. Menurunkan perkembangan kecerdasan kognitif
Menurut penelitian Smith dkk (2003) dalam Roesli (2008),bayi yang tidak diberi ASI ternyata mempunyai skor lebih rendah dalam semua fungsi intelektual, kemampuan verbal, dan kemampuan visual motorik dibandingkan dengan bayi yang diberi ASI.
5. Meningkatkan resiko kegemukan (obesitas)
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Amstrong dkk (2002) dalam Roesli (2008) membuktikan bahwa kegemukan jauh lebih tinggi pada anak-anak yang diberi susu formula. Kries (1999) dalam Roesli (2008) menambahkan bahwa kejadian obesitas mencapai 4,5%-40% lebih tinggi pada anak yang tidak pernah diberikan ASI.
6. Meningkatkan resiko penyakit jantung dan pembuluh darah
Anak yang mendapat susu formula tekanan darahnya lebih tinggi daripada anak yang mendapat ASI. Para peneliti menyimpulkan bahwa pemberian ASI pada anak yang lahir prematur dapat menurunkan darah pada tahun berikutnya (Singhal dkk (2001) dalam Roesli, 2008).
7. Meningkatkan resiko infeksi yang berasal dari susu formula yang tercemar
Dari kasus merebaknya wabah Enterobacteri zakazakii di Amerika Serikat, dilaporkan kematian bayi berusia 20 hari yang mengalami demam, takikardia, menurunnya aliran darah, dan kejang pada usia 11 hari. Kuman ditemukan pada susu formula tercemar yang dipakai unit perawatan intensif neonatal tersebut (Weir (2002) dalam Roesli, 2008).
8. Meningkatkan kurang gizi
Pemberian susu formula yang encer untuk menghemat pengeluaran dapat mengakibatkan kekurangan gizi karena asupan kurang pada bayi. Secara tidak langsung, kurang gizi juga akan terjadi jika anak sering sakit, terutama diare, dan radang pernafasan (Roesli, 2008).
9. Meningkatkan resiko kematian
Menurut Chen dkk (2004) dalam Roesli (2008), bayi yang tidak pernah mendapat ASI berisiko meninggal 25% lebih tinggi dalam periode sesudah kelahiran daripada bayi yang mendapat ASI. Pemberian ASI yang lebih lama akan menurunkan resiko mortalitas bayi.
10. Meningkatkan kejadian karies gigi susu
Sukrosa merupakan sejenis karbohidrat dalam susu yang dapat mamberikan rasa manis dan sumber energi cepat untuk tubuh (dapat meningkatkan gula darahdalam waktu singkat). Konsumsi sukrosa dalam jumlah berlebihan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan karies gigi.
Kebiasaan anak minum susu formula dengan menggunakan botol saat menjelang tidur dapat menyebabkan karies gigi. Laktosa dan sukrosa dalam sisa susu yang tergenang dalam mulut sepanjang malam akan mengalami proses hidrolisa oleh bakteri plak menjadi asam (Retno, 2001).
Jika makanan yang dimakan mengandung gula, pH mulut akan turun dalam waktu 2,5 menit dan tetap rendah selama 1 jam. Bila gula yang mengandung sukrosa dikonsumsi 3 kali sehari, artinya pH mulut selama 3 jam akan berada dibawah 5,5. Demineralisasi ini tidak terjadi di permukaan, melainkan subsurface/lapisan di bawah permukaan gigi. Proses demineralisasi yang terjadi selama periode waktu ini sudah cukup untuk mengikis lapisan email (Nita,2007).

Konsep Susu Formula
2.1.1 Pengertian
Susu adalah cairan yang dihasilkan oleh kelenjar (mammae) baik dari binatang maupun seorang ibu. Menurut Roesli (2004), susu formula adalah cairan yang berisi zat yang mati didalamnya,tidak ada sel yang hidup seperti sel darah putih, zat pembunuh bakteri, antibodi, serta tidak mengandung enzim maupun hormon yang mengandung faktor pertumbuhan. Raspy (2007) juga berpendapat bahwa susu formula adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak yang berfungsi sebagai pengganti ASI.
2.1.2 Jenis-jenis susu formula
Di Indonesia telah beredar berbagai macam susu formula dengan berbagai merk dagang. Kurniasih (2008) membagi susu formula menjadi dua, yaitu :
1. Susu formula menurut bahan dasar
Susu formula ini dapat dibedakan menjadi :
a. Susu formula berbahan dasar sapi
Umumnya susu formula untuk bayi yang beredar di pasaran berasal dari susu sapi. Susu sapi adalah salah satu susu pilihan untuk bayi yang tidak memiliki riwayat alergi dalam keluarga.
b. Susu formula berbahan dasar soya atau kedelai
Susu yang berasal dari sari kedelai ini diperuntukkan bagi bayi yang memiliki alergi terhadap protein susu sapi tetapi tidak alergi terhadap protein soya. Fungsinya sama dengan susu sapi yang protein susunya telah terhidrolisis dengan sempurna sehingga dapat digunakan sebagai pencegahan alergi tersier.
c. Susu formula hidrolisa atau elemental
Susu formula jenis ini kandungan lemaknya sudah diperkecil. Selain itu kandungan protein kaseinnya sudah dipecah menjadi asam amino.
Biasanya pada kemasan tertuliskan HA atau hipoalergenic.

d. Susu formula khusus
Susu formula khusus ini disediaka bagi bayi yang memiliki problem dengan saluran pencernaannya. Pemberian susu formula khusus ini biasanya atas pengawasan dan petunjuk dokter.
e. Susu formula rendah laktosa
Susu formula rendah laktosa adalah susu sapi yang bebas dari kandungan laktosa (low lactose atau free lactose). Sebagai penggantinya, susu formula jenis ini akan menambahkan kandungan gula jagung. Susu ini cocok untuk bayi yang tidak mampu mencerna laktosa (intoleransi laktosa) karena gula darahnya tidak memilii enzim untuk mengolah laktosa.
2. Susu formula menurut usia bayi
Menurut Kurniasih (2008), susu formula ini dibagi sebagai berikut:
a. Susu formula adaptasi
Susu formula ini khusus untuk bayi usia dibawah 6 bulan dan disarankan mempunyai kandungan sebagai berikut:
1. Lemak, kadar lemak yang terkandung antara 2,7-41g setiap 100ml atau, dari jumlah ini 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik.
2. Protein, kadarnya berkisar antara 1,2-1,9g/100ml dan komposisi asam aminonya harus identik dengan protein dalam ASI.
3. Karbohidrat, kandungannya antara 5,4-8,2g/100ml dan dianjurkan terdiri atas laktosa dan glukosa.
4. Mineral, terdiri dari Na, K, Ca, P, Mg, dan Cl dengan komposisi sekitar 0,25-0,34g/100ml.
5. Vitamin, harus ditambahkan pada pembuatan susu formula.
6. Energi, harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal
b. Susu formula awal lengkap
Susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk BBL sampai usia 6 bulan. Walaupun demikian, susu ini sedikit berbeda dengan dari formula adptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi, tidak disesuaikan dengan kandungan dalam ASI dan juga kandungan mineralnya lebih tinggi. Keuntungan susu formula ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi.
c. Formula lanjutan
Susu formula ini khusus untuk bayi usia 6 bulan lebih karena mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun awal lengkap. Kadar mineral, karbohidrat, lemak dan energinya juga lebih tinggi karena untuk mengimbangi kebutuhan tumbuh kembang anak.
Berikut ini adalah tabel ringkasan perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula:

Tabel 2.1 Ringkasan Perbedaan antara ASI, susu sapi dan susu formula

Porperti

ASI

Susu Sapi

Susu formula

Kontaminasi bakteri

Tidak ada

Mungkin ada

Mungkin ada bila dicampurkan

Faktor anti infeksi

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Faktor pertumbuhan

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Protein

Jumlah sesuai dan mudah dicerna

Kasein : Whey (40:60)

Whey: alfa

Terlalu banyak dan sukar dicerna

Kasein : Whey (80:20)

Whey: Betalaktoglobulin

Sebagian diperbaiki. Disesuaikan dengan ASI

Lemak

Cukup mengandung asam lemak esensial (ALE), DHA dan AA

Mengandung Lipase

Kurang ALE

Tidak ada Lipase

Kurang ALE

Tidak ada DHA dan AA

Tidak ada Lipase

Zat Besi

Jumlah kecil tapi mudah dicerna

Jumlah lebih banyak tapi tidak diserap dengan baik

Ditambahkan ekstra tidak diserap dengan baik

Vitamin

Cukup

Tidak cukup Vit A dan Vit C

Vitamin ditambahkan

Air

Cukup

Perlu tambahan

Mungkin perlu tambahan

(sumber: Suradi, R, dan H.K.P. 2007. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi, Jakarta: Perinasia).


Keterangan :
Susu formula yang dimaksud dalam tabel adalah susu formula selain yang berbahan dasar susu sapi, terdiri dari susu formula berbahan dasar kedelai dan susu formula hidrolisa.

Bagi anda ibu yang baru punya anak bayi, mungkin belum terlalu mengetahui cara menggosok gigi bayi anda, namun jika usia bayi anda sudah berusia 4 bulan, maka anda harus mulai mengetahui tips untuk menggosok gigi anak anda, karena pada usia iulah gigi bayi anda mulai tumbuh. Meski hanya dinamakan gigi susu yang masih baru, tetapi tetap diperlukan perawatan untuk menjaga gigi tetap sehat.

Berikut ini Tips aman mudah menggosok gigi si buah hati :

1. 0-6 Bulan. Usap gigi dan gusi dengan kain kasa steril atau kapas yang dibasahi air matang hangat. Usap secara perlahan agar gusi anak anda tidak lecet.

2. 6-12 Bulan. Inilah saatnya bayi memiliki sikat gigi pertamnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah: berikan sikat gigi yang sangat lembut, sikat gigi bayi tanpa pasta gigi sedikitnya sekali sehari. Saat mandi, biarkan anak bermain dengan sikat giginya, untuk lebih membuatnya akrab dengan benda itu.

3. 12-24 Bulan. Pada usia ini, anak sudah bisa belajar menyikat gigi sendiri namun dengan bantuan. Tunggulah hingga ia bisa meludah atau berkumur sebelum memakai pasta gigi khusus anak. Berikan pasta gigi itu sedikit saja, kira-kira sebesar biji kacang polong. Lakukan minimal 2 kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

4. Di atas 24 Bulan. Kini anak sudah bisa menyikat gigi sendiri, namun tetap dalam pengawasan. Berikan pasta gigi itu sedikit saja. Lakukan minimal dua kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur.

Itulah tips aman dan udah untuk menggook gigi bayi anda, semoga bisa bermanfaat untuk anda terutama para ibu yang baru saja punya anak yang giginya baru tumbuh.