Arsip

Metodologi Penelitian


Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian yang akan lebih proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.

Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.

Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Dari segi peristilahan para akhli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan yang dipakai para akhli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel 1 berikut ini..

Untuk Membaca Makalah Ini lebih Lanjut Download Filenya..
KLIK DI SINI

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com


Salah satu persoalan mendasar dan menjadi bagian penting yang tak terpisahkan dalam penelitian adalah rumusan pertanyaan penelitian. Sebab, kualitas penelitian salah satunya sangat ditentukan oleh bobot atau kualitas pertanyaan yang diajukan. Tetapi kenyatannya berdasarkan pengalaman mengajar matakuliah metodologi penelitian, membimbing dan menguji skripsi, tesis, dan disertasi selama ini, masih terdapat banyak persoalan terkait rumusan pertanyaan penelitian.

Banyak pertanyaan yang diajukan tidak jelas dan tidak layak sebagai pertanyaan penelitian. Terkesan remeh dan tidak menarik, sehingga membuat orang tidak tertarik membacanya. Betapapun menariknya tema atau topik yang akan diteliti, tetapi jika pertanyaannya tidak dirumuskan dengan baik, penelitian tersebut tidak menarik minat orang. Jika ini terjadi, hasil penelitian tidak banyak memberikan nilai guna karena tidak dibaca orang. Padahal, salah satu syarat penelitian yang baik adalah memberikan nilai guna, baik secara teoretik maupun praktis.

Selain itu, sering terjadi tumpang tindih antara pertanyaan untuk metode penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Padahal, masing-masing berbeda secara tajam, mulai paradigma yang melandasi kedua metode tersebut, tujuan, hakikat realitas, cara perolehan data, analisis data, hingga temuan akhirnya. Karena itu, merumuskan masalah penelitian harus cermat dan hati-hati serta tidak sekali jadi. diperlukan waktu untuk merenungkannya sehingga terwujud rumusan pertanyaan penelitian yang memenuhi syarat ilmiah yang baik. setiap kata dalam rumusan masalah berimplikasi sangat luas, baik secara substantif, teoretik maupun metodologis. Karena itu, ia harus jelas, tidak saja bagi peneliti sendiri tetapi juga bagi pembacanya. Berikut penjelasan ringkasnya yang disari dari berbagai sumber.

Syarat Pertanyaan Penelitian

Pada hakikatnya pertanyaan penelitian dirumuskan dengan melihat kesenjangan yang terjadi antara:

1. Apa yang seharusnya terjadi (prescriptive) dan yang sebenarnya terjadi (descriptive)

2. Apa yang diperlukan (what is needed) dan apa yang tersedia (what is available)

3. Apa yang diharapkan (what is expected) dan apa yang dicapai (what is achieved)

Pertanyaan penelitian selalu diawali dengan munculnya masalah yang sering disebut sebagai fenomena atau gejala tertentu. Tetapi tidak semua masalah bisa diajukan sebagai masalah penelitian. Ada syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar bisa diangkat sebagai masalah penelitian. Berdasarkan kajian referensi buku-buku metodologi peneltian, setidaknya terdapat tujuh syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

1) Tersedia data atau informasi untuk menjawabnya,

2) Data atau informasi tersebut diperoleh melalui metode ilmiah, seperti wawancara, observasi, kuesioner, dokumentasi, partisipasi, dan evaluasi/tes,

3) Memenuhi persyaratan orisinalitas, diketahui melalui pemetaan penelitian terdahulu (state of the arts),

4) Memberikan sumbangan teoretik yang berarti bagi pengembangan ilmu pengetahuan,

5) Menyangkut isu kontroversial dan unik yang sedang hangat terjadi,

6) Masalah tersebut memerlukan jawaban serta pemecahan segera, tetapi jawabannya belum diketahui masyarakat luas, dan

7) Masalah itu diajukan dalam batas minat (bidang studi) dan kemampuan peneliti.

Untuk mencapai maksud tersebut di atas, peneliti perlu melakukan pertanyaan reflektif sebagai pemandu. Menurut Raco (2010: 98-99), ada beberapa pertanyaan awal untuk dijawab sebagai berikut:

1) Mengapa masalah tersebut penting untuk diangkat,

2) Bagaimana kondisi sosial di sekitar peristiwa, fakta atau gejala yang akan diteliti,

3) Proses apa yang sebenarnya terjadi di sekitar peristiwa tersebut,

4) Perkembanghan atau pergeseran apa yang sedang berlangsung pada waktu peristiwa terjadi, dan

5) Apa manfaat penelitian tersebut baik bagi pengembangan ilmu pengetahun dan masyarakat secara luas di masa yang akan datang.

Dilihat dari jenis pertanyaannya, para ahli metodologi penelitian seperti Marshall & Rossman (2006), dan Creswell (2007: 107) setidaknya membaginya menjadi tiga macam pertanyaan, yaitu:

1) Deskriptif (yakni mendeskripsikan fenomena atau gejala yang diteliti apa adanya), dengan menggunakan kata tanya ‘apa’. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

2) Eksploratoris (yakni untuk memahami gejala atau fenomena secara mendalam), dengan menggunakan kata tanya “bagaimana”. Lazimnya diajukan untuk

pertanyaan penelitian kualitatif.

3) Eksplanatoris (yakni untuk menjelaskan pola-pola yang terjadi terkait dengan fenomena yang dikaji, dengan mengajukan pertanyaan ‘apa ada hubungan

atau korelasi, pengaruh antara faktor X dan Y). Lazimnya untuk pertanyaan penelitian kuantitatif.

Contoh untuk masing-masing pertanyaan penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pertanyaan deskriptif: Apa aja strategi yang dipakai Kepala Sekolah dalam memajukan sekolah yang dipimpinnya?

2. Pertanyaan eksploratif : Bagaimana model kepemimpinan Kepala Sekolah tersebut dalam upaya memajukan sekolah?

3. Pertanyaan eksplanatif: Bagaimana pengaruh model kepemimpinan otoriter terhadap kepatuhan staf?

Ciri Masalah Penelitian yang Baik

1. Memiliki nilai kebaruan (novelty).

2. Jawabannya penting untuk diketahui masyarakat luas

3. Memiliki nilai nilai guna atau manfaat.

4. Fisibel, artinya terjangkau dari sisi perolehan data, beaya, waktu, dan kualifikasi peneliti.

5. Tidak bertentangan dengan norma atau nilai yang ada di tempat penelitian dilakukan.

Sebagai tambahan wawasan perlu disajikan pula tipe penelitain berdasarkan bidang kajian, lokus, pemakaian, dan tujuan utama penelitian sebagai berikut:

1. Berdasarkan bidang yang dikaji: pendidikan, manajemen pendidikan, sejarah, bahasa, hukum, politik, agama, politik dsb.,

2. Berdasarkan lokus atau tempat penelitian: lapangan, laboratorium, pustaka

3. Berdasarkan pemakaian: dasar (basic) atau murni (pure) dan terapan (applied)

4. Berdasarkan tujuan utama: deskriptif, eksploratif, eksplanatif, verifikatif.

Paparan di atas tentu tentu belum cukup untuk dipakai sebagai modal menyusun pertanyaan penelitian yang baik. Diperlukan pengalaman, kerja keras dan semangat untuk terus menggali informasi dan pengetahuan terkait dengan metodologi penelitian dari berbagai sumber dan forum-forum akademik seperti seminar, lokakarya, konferensi, dan sejenisnya. Selamat mencoba.

Ditulis Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Karena paradigma, proses, metode, dan tujuannya berbeda, penelitian kualitatif memiliki model desain yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif, sebab; (1) instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya, (2) proses penelitian kualitatif bersifat siklus, sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku, dan (3) umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu, sehingga sulit untuk dirumuskan format desain yang baku.

Namun demikian, dari pengalaman beberapa kali melakukan penelitian kualitatif format berikut, penulis menggunakan format berikut untuk dipakai sebagai contoh yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

  1. PENDAHULUAN
  2. Tema Penelitian
  3. Konteks Penelitian
  4. Fokus Penelitian
  5. Tujuan Penelitian
  6. Tinjauan Pustaka
  1. METODE PENELITIAN
  2. Objek dan Informan Penelitian
  3. Metode Perolehan dan Pengumpulan Data
  4. Metode Pengecekan Keabsahan Data
  5. Metode Analisis Data
  6. Diskusi Hasil Penelitian
  7. Laporan Penelitian

Contoh Proses Penelitian Kualitatif

Proses penelitian disajikan menurut tahap-tahapnya, yaitu: (1) Tahap Pra-lapangan, (2) Tahap Kegiatan Lapangan, dan (3) Tahap Pasca-lapangan.

1. Tahap Pra-lapangan

Beberapa kegiatan dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan. Masing-masing adalah: (1) Penyusunan rancangan awal penelitian, (2) Pengurusan ijin penelitian, (3) Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian,(4) Pemilihan dan interaksi dengan subjek dan informan, dan (5) Penyiapan piranti pembantu untuk kegiatan lapangan.

Perlu dikemukakan, peneliti menaruh minat dan kepedulian terhadap gejala menglaju dan akibat-akibat sosialnya. Pengamatan sepintas sudah dilakukan jauh sebelum rancangan penelitian disusun dan diajukan sebagai topik penelitian.

Berbekal pengamatan awal dan telaah pustaka, peneliti mengajukan usulan penelitian tentang mobilitas penduduk dan perubahan di pedesaan. Usulan yang diajukan dan diseminarkan dengan mengundang teman sejawat dan pakar.

Karena berpendekatan kualitatif, usulan penelitian itu dipandang bersifat sementara (tentative). Karena itu peluang seminar digunakan untuk menangkap kritik dan masukan, baik terhadap topik maupun metode penelitian. Berdasarkan kritik dan masukan tersebut, peneliti membenahi rancangan penelitiannya dan melakukan penjajakan lapangan.

Penjajakan lapangan dilakukan dengan tiga teknik secara simultan dan lentur, yaitu (a) pengamatan; peneliti mengamati secara langsung tentang gejala- gejala umum permasalahan, misalnya arus menglaju pada pagi dan sore hari, (b) wawancara; secara aksidental peneliti mewawancari beberapa informan dan tokoh masyarakat, (c) telaah dokumen; peneliti memilih dan merekam data dokumen yang relevan, baik yang menyangkut Bandulan maupun Kotamadya Dati II Malang.

Perumusan masalah dan pemilihan metode penelitian yang lebih tepat dilakukan lagi berdasarkan penjajakan lapangan (grand tour observation). Sepanjang kegiatan lapangan, ternyata pusat perhatian dan teknik-teknik terus mengalami penajaman dan penyesuaian.

Dalam ungkapan Lincoln dan Guba (1985: 208), kecenderungan rancangan penelitian yang terus-menerus mengalami penyesuaian berdasarkan interaksi antara peneliti dengan konteks ini disebut rancangan membaharu (emergent design).

Berdasarkan penjajakan lapangan, peneliti menetapkan tema pokok penelitian ini, yaitu: perubahan sosial di mintakat penglaju (commuters’ zone). Pusat perhatian diberika pada peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan, Kecamatan Sukun, Kotamadya Malang.

Secara rinci pusat perhatian ini mencakup beberapa pertanyaan sebagaimana diajukan dalam bab pendahuluan, yaitu: (1) Faktor apa saja, baik dari dalam diri, dari dalam desa, maupun dari luar desa, yang mendorong perilaku menglaju pada sebagian penduduk Bandulan? Apakah makna menglaju sebagaimana dihayati oleh mereka?, (2) Bagaimanakah ragam gaya hidup, pola interaksi sosial, solidaritas dan peran sosial masing-masing kategori empiris penduduk dalam perubahan sosial di Bandulan?, dan (3) Akibat-akibat sosial apa saja yang terjadi karena banyaknya penduduk yang menglaju ke luar Bandulan, baik pada sistem nilai dan kepercayaan, pranata sosial dan ekonomi, dan pola pelapisan sosial sebagaimana dirasakan oleh masyarakat setempat?

2. Tahap Pekerjaan Lapangan

Sepanjang pelaksanaan penelitian, ternyata penyempurnaan tidak hanya menyangkut pusat perhatian penelitian, melainkan juga pada metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor (1975:126) memang menegaskan agar para peneliti sosial mendidik (educate) dirinya sendiri. “To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches”.

Konsep sampel dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi mantap dan terpercaya mengenai unsur-unsur pusat perhatian penelitian.

Pemilihan informan mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Bila pengenalan dan interaksi sosial dengan responden berhasil maka ditanyakan kepada orang tersebut siapa-siapa lagi yang dikenal atau disebut secara tidak langsung olehnya.

Dalam menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data, peneliti menggunakan konsep sampling yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu maximum variation sampling to document unique variations. Peneliti akan menghentikan pengumpulan data apabila dari sumber data sudah tidak ditemukan lagi ragam baru. Dengan konsep ini, jumlah sumber data bukan merupakan kepedulian utama, melainkan ketuntasan perolehan informasi dengan keragaman yang ada.

Tidak semua penduduk bisa memberikan data yang diperlukan. Karena itu, hanya 25 orang sumber data yang diwawancarai secara mendalam. Masing-masing adalah 14 orang penduduk asli penglaju, 6 orang penduduk asli bukan penglaju, dan 5 orang penduduk pendatang penglaju.

Karena data utama penelitian ini diperoleh berdasarkan interaksi dengan responden dalam latar alamiah, maka beberapa perlengkapan dipersiapkan hanya untuk memudahkan, misalnya : (1) tustel, (2) tape recorder, dan (3) alat tulis termasuk lembar catatan lapangan. Perlengkapan ini digunakan apabila tidak mengganggu kewajaran interaksi sosial.

Pengamatan dilakukan dalam suasana alamiah yang wajar. Pada tahap awal, pengamatan lebih bersifat tersamar. Teknik ini seringkali memaksa peneliti melakukan penyamaran. Misalnya: untuk mengamati aspek-aspek yang berhubungan dengan perilaku dan gaya hidup, peneliti beranjang-sana di rumah informan. Sambil berbincang-bincang, peneliti mencermati cara berbicara, berpakaian, penataan ruang, gaya bangunan rumah, benda-benda simbolik dan sebagainya.

Ketersamaran dalam pengamatan ini dikurangi sedikit demi sedikit seirama dengan semakin akrabnya hubungan antara pengamat dengan informan. Ketika suasana akrab dan terbuka sudah tercipta, peneliti bisa mengkonfirmasikan hasil pengamatan melalui wawancara dengan informan.

Dengan wawancara, peneliti berupaya mendapatkan informasi dengan bertatap muka secara fisik danbertanya-jawab dengan informan. Dengan teknik ini, peneliti berperan sekaligus sebagai piranti pengumpul data.

Selama wawancara, peneliti juga mencermati perilaku gestural informan dalam menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kekakuan suasana wawancara, tidak digunakan teknik wawancara terstruktur. Bahkan wawancara dalam penelitian ini seringkali dilakukan secara spontan, yakni tidak melalui suatu perjanjian waktu dan tempat terlebih dahulu dengan informan. Dengan ini peneliti selalu berupaya memanfaatkan kesempatan dan tempat-tempat yang paling tepat untuk melakukan wawancara.

Selama kegiatan lapangan peneliti merasakan bahwa pengalaman sosialisasi, usia dan atribut- atribut pribadi peneliti bisa mempengaruhi interaksi peneliti dengan informan. Semakin mirip latar belakang informan dengan peneliti, semakin lancar proses pengamatan dan wawancara.

Sebaliknya, ketika mewawancarai informan yang berbeda latar belakang, peneliti harus menyesuaikan diri dengan mereka. Banyak ragam cara menyesuaikan diri. Di antaranya dengan cara berpakaian, bahasa yang digunakan, waktu wawancara, hingga penyamaran seolah-olah peneliti memiliki sikap dan kesenangan yang sama dengan informan. Karena kendala itu, pengumpulan data terhadap penduduk asli, baik penglaju dan lebih-lebih yang bukan penglaju, berjalan agak lamban.

Kejenuhan, bahkan rasa putus-asa kadang-kadang muncul dan menyerang peneliti. Dalam keadaan demikian, peneliti beristirahat untuk mengendapkan, membenahi catatan lapangan, dan merenungkan hasil-hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, peneliti bisa menemukan informasi penting yang belum terkumpul.

Kedekatan antara tempat tinggal peneliti dengan informan ternyata sangat membantu kegiatan lapangan. Secara tidak sengaja peneliti bisa bertemu dengan informan, sehingga pembicaraan setiap saat bisa berlangsung. Kendati tidak dirancang, bila hasil percakapan itu memiliki arti penting bagi penelitian, akan dicatat dan diperlakukan sebagai data penelitian.

Pada dasarnya wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadangwawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Misalnya, setelah mengamati suasana rumah tangga dan keluarga informan, peneliti menuliskan hasilnya dalam bentuk catatan lapangan. Wawancara dilakukan setelah itu untuk mengungkapkan makna dari setiap hasil pengamatan yang menarik.

Penelaahan dokumentasi dilakukankhususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi di lakukan terhadap catatan-catatan, arsip- arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian.

Perekaman dokumen menjadi lebih mudah karena dokumen, baik dari kelurahan maupun dari Kotamadya cukup lengkap. Agar tidak menyulitkan lembaga yang menyediakan, peneliti meminta ijin untuk menfoto-copy dokumen-dokumen yang diperlukan atau menyalinnya ke dalam catatan peneliti.

Pemeriksaan keabsahan (trustworthiness) data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985: 289-331). Masing-masing adalah derajat: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability).

Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data perolehan, dilakukan dengan teknik: (1) perpanjangan keikut-sertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pemeriksaan sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota.

Kegiatan lapangan penelitian ini semula dijadwal tidak lebih dari enam bulan. Dengan pertimbangan bahwa peningkatan waktu masih memunculkan informasi baru, maka lama kegiatan lapangan diperpanjang. Dengan perpanjangan waktu ini, seperti dikemukakan Moleong (1989), peneliti dapat mempelajari “kebudayaan”, menguji kebenaran dan mengurangi distorsi.

Dengan mengamati secara tekun, peneliti bisa menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam suatu situasi yang sangat relevan dengan peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan. Bila perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.

Triangulasi dilakukan untuk melihat gejala dari berbagai sudut dan melakukan pengujian temuan dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan berbagai teknik. Empat macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaandengan memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori.

Meskipun Lincoln dan Guba (1985) tidak menganjurkan triangulasi teori, tampaknya Patton (1987: 327) berpendapat lain. Menurutnya, triangulasi antar teori tetap dibutuhkan sebagai penjelasan banding (rival explanation).

Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor (1975). Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif.

Pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang diterapkan dalam penelitian ini memang menghasilkan data yang masih kacau. Untuk memilah dan memberi makna pada data tersebut, peneliti tidak bisa tidak harus berpaling kepada teori-teori sosiologi dan antropologi yang relevan.

Pemeriksaan sejawat dilakukan dengan cara mengetengahkan (to expose) hasil penelitian, baik yang bersifat sementara maupun hasil akhir, dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Dengan cara ini peneliti berusaha mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan mencari peluang untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari peneliti (pemikiran peneliti).

Sebelum menetapkan temuan sebagai kecenderungan pokok, peneliti melakukan pengecekan anggota. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berapa proporsi kasus yang mendukung temuan, dan berapa yang bertentangan dengan temuan. Bila ada penyimpangan dalam kasus-kasus tertentu, peneliti menelaahnya secara lebih cermat.

Telaah lebih cermat terhadap kasus-kasus yang menyimpang sering disebut sebagai analisis kasus negatif. Teknik ini dilakukan untuk menelaah kasus-kasus yang saling bertentangan dengan maksud menghaluskan simpulan sampai diperoleh kepastian bahwa simpulan itu benar untuk semua kasus atau setidak-tidaknya sesuatu yang semula tampak bertentangan, akhirnya dapat diliput aspek-aspek yang tidak berkesesuaian tidak lagi termuat. Dengan kata-kata lain dapat dijelaskan “duduk persoalannya”.

Selain itu, peneliti juga menguji kecukupan acuan dalam menarik simpulan. Kecukupan acuan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengajukan kritik internal terhadap temuan penelitian. Berbagai bahan digunakan untuk meneropong temuan penelitian.

Usaha meningkatkan keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara “uraian rinci” (thick description). Untuk itu, peneliti melaporkan hasil penelitiannya secermat dan selengkap mungkin yang menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas. Dengan demikian, peneliti menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh pembacanya untuk dapat memahami temuan-temuan.

Kebergantungan penelitian ini diupayakan dengan audit kebergantungan. Dalam hal ini peneliti memberikan hasil penelitian dan melaporkan proses penelitian termasuk “bekas-bekas” kegiatan yang digunakan. Berdasarkan penelusurannya, seorang auditor dapat menentukan apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan.

Kepastian penelitian ini diupayakan dengan memperhatikan topangan catatan data lapangan dan koherensi internal laporan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.

3. Tahap Pasca Lapangan

Telah disinggung bahwa penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata orang baik tertulis maupun lisan dan tingkah laku teramati, termasuk gambar (Bogdan and Taylor, 1975).

Walau peneliti tidak sependapat dengan teknik-teknik analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (1987), model analisis interaktif yang digambarkannya sangat membantu untuk memahami proses penelitian ini. Model analisis interaktif mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengujian simpulan.

Mengacu model interaktif, analisis data tidak saja dilakukan setelah pengumpulan data, tetapi juga selama pengumpulan data. Selama tahap penarikan simpulan, peneliti selalu merujuk kepada “suara dari lapangan” untuk mendapatkan konfirmabilitas.

Analisis selama pengumpulan data (analysis during data collection) dimaksudkan untuk menentukan pusat perhatian (focusing), mengembangkan pertanyaan-pertanyaan analitik dan hipotesis awal, serta memberikan dasar bagi analisis pasca pengumpulan data (analysis after data collection). Dengan demikian analisis data dilakukan secara berulang-ulang (cyclical).

Pada setiap akhir pengamatan atau wawancara, dicatat hasilnya ke dalam lembar catatan lapangan (field notes). Lembar catatan lapangan ini berisi: (1) teknik yang digunakan, (2) waktu pengumpulan data dan pencatatannya, (3) tempat kegiatan atau wawancara, (4) paparan hasil dan catatan, dan (5) kesan dan komentar. Contoh catatan lapangan dapat diperiksa pada lampiran.

Pendirian ontologis penelitian adalah bahwa tujuan penyelidikan adalah mengembangkan suatu bangunan pengetahuan idiografik dalam bentuk “hipotesis kerja” yang menggambarkan kasus individual (Lincoln and Guba, 1985: 38). Implikasinya, konstruksi realitas, yang dalam hal ini adalah gejala menglaju dan pengaruh sosialnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks (kedisinian, Bandulan) dan waktu (kekinian, 1996).

Untuk itu peneliti memandang penting untuk menyelidiki secara cermat akar-akar gejala menglaju sebagai konteks kajian. Berdasarkan asal faktor pemicu gejala menglaju peneliti menemukenali tiga kategori faktor, yaitu: (1) dari dalam diri, (2) dari dalam desa, dan (3) dari luar desa.

Empat teknik analisis data kualitatif sebagaimana dianjurkan oleh Spradley (1979) diterapkan dalam penelitian ini. Masing-masing adalah: (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis). dan (4) analisis tema budaya (discovering cultural themes).

Analisis ranah bermaksud memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat “permukaan” tentang berbagai ranah atau kategori konseptual. Kategori konseptual ini mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu.

Pada tahap awal, berdasarkan pola mobilitas hariannya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan. Masing-masing adalah penduduk penglaju dan bukan penglaju. Berdasarkan asalnya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan, yaitu: penduduk asli dan penduduk pendatang.

Pada analisis taksonomik, pusat perhatian penelitian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam upaya memaparkan atau menjelaskan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Pilihan atau pembatasan pusat perhatian dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai strategik temuannya bagi program peningkatan kualitas hidup subyek penelitian atau mengacu pada strategic ethnography (Faisal, 1990 : 43).

Analisis taknonomik tidak dilakukan secara murni berdasar data lapangan, tetapi dikonsultasikan dengan bahan-bahan pustaka yang telah ada. Beberapa anggota ranah yang menarik dan dipandang penting dipilih dan diselidiki secara mendalam. Dalam hal ini adalah bagaimana peran masing-masing kategori tersebut dalam proses perubahan sosial yang berlangsung di Bandulan.

Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi. Dalam hemat peneliti, kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami karakteristik tertentu yang berasosiasi dengannya.

Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai suatu pokok permasalahan. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman makna dari masing-masing warga ranah secara holistik.

Hasil lacakan kontras di antara warga suatu ranah dimasukkan ke dalam lembar kerja paradigma (Spradley, 1979: 180). Kontras-kontras tersebut selalu diperiksa kembali sebagaimana dalam model analisis interaktif. Ringkasananalisis komponensial, yang digunakan sebagai pemandu penulisan paparan hasil penelitian inidisajikan dalam lampiran.

Dalam mengungkap tema-tema budaya, peneliti menggunakan saran yang diberikan oleh Bogdan dan Taylor (1975:82-93). Langkah-langkah yang dilakukan adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan, (2) memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.

Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya

Ditulis Oleh: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Setiap mengawali perkulihan matakuliah metodologi penelitian, saya selalu berharap agar para mahasiswa memahami materi matakuliah dengan baik sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir, baik skripsi, tesis maupun disertasi dengan baik pula. Penguasaan metodologi penelitian merupakan syarat utama bagi siapa pun yang akan melakukan penelitian. Jika berharap hasil yang baik, belajar metodologi penelitian tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Sayangnya tidak semua mahasiswa menyadari hal itu, sehingga kehadirannya tidak dimaksimalkan untuk menguasai materi, melainkan sekadar memenuhi jam wajib hadir. Jika ini terjadi, siapa pun yang mengajar, berapa lama pun belajar dengan metode apa pun, maka hasil maksimal itu tidak akan pernah tercapai, sehingga waktu perkuliahan hilang begitu saja tanpa membawa manfaat berarti.

Skripsi, tesis atau disertasi hakikatnya merupakan hasil penelitian yang telah dilaporkan ke khalayak setelah beberapa tahapan dilalui, mulai penyusunan proposal, seminar proposal, pengumpulan data, analisis data, dan seminar hasil penelitian hingga ujian. Demikkian banyak tahapan yang dilalui oleh seorang calon sarjana, magister atau doktor, sehingga diharapkan karya akhir itu berkualitas. Mahasiswa bisasanya bertanya apa ukuran kualitas karya ilmiah? Berikut uraiannya.

Ada beberapa ukuran untuk menilai kualitas karya ilmiah, sebagai berikut: (1) novelty (kebaruan), artinya bidang yang dikaji sangat baru dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, (2) memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan, (3) dilalui dengan proses metodologis yang benar, (4) bukan pengulangan, apalagi penjiplakan, dari karya sebelumnya, dan (5) dilakukan dengan penuh kejujuran.

Novelty atau kebaruan sangat penting sebagai tolok ukur karya ilmiah. Logikannya sederhana, hal-hal baru biasanya menarik perhatian orang untuk dipelajari dan dikaji lebih dalam. Ilmu pengetahuan berkembang demikian cepat sehingga menuntut orang untuk selalu ingin mengetahui perkembangan terbaru dalam setiap bidang ilmu pengetahuan. Orang mesti berpikir untuk apa membuang-buang waktu dan menghabiskan energi mengkaji hal-hal yang telah usang dan tidak ada lagi gunanya. Persoalannya bagaimana seorang peneliti tahu bahwa materi kajiannya merupakan hal baru. Hal ini bisa dilakukan dengan cara melakukan kajian terhadap penelitian atau studi- studi terdahulu yang sudah terpublikasikan lewat jurnal, buku ilmiah, majalah atau lewat internet , yang para ahli meneybutnya sebagai ‘state of the arts’. .

Pencarian karya sebelumnya bukan pekerjaan gampang. Biasanya orang mudah putus asa pada tahapan ini. Sebab, pekerjaan ini menguras energi dan pikiran yang tidak sedikit. Pelacakan studi sebelumnya tidak saja siapa meneliti apa dan di mana, melainkan juga apa yang diteliti, bagaimana menelitinya (metodenya apa), teori apa yang digunakandan dengan hasil apa. Dan, diteruskan dengan mediskusikan hasil penelitian itu dengan penelitian yang lain untuk sampai pada akhirnya menempatkan posisi rencana penelitian kita dalam jejeran penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan demikian, semakin panjang daftar jumlah penelitian terdahulu dapat diketahui, maak akan semakin jelas posisi rencana penelitian kita. Persoalan klasik yang selalu muncul — dan, maaf, merupkan penyakit peneliti—adalah orang selalu ingin menyebut penelitiannya yang paling baru, dan bahkan satu-satunya di bidangnya karena belum ada orang lain yang melakukan hal itu. Ungkapan demikian sering saya peroleh ketika melakukan pembimbingan dan ujian, bahkan sampai tingkat disertasi sekalipun. Karena itu, kepada mahasiswa saya selalu wanti-wanti untuk tidak mengatakan “penelitian saya adalah yang pertama’. Sebenarnya ungkapan demikian bisa dihindari jika peneliti sanggup melakukan kajian secara menyeluruh terhadap penelitian sebelumnya. Persoalannya orang belum tahu siapa saja yang telah melakukan penelitian bidang sejenis sudah buru-buru mengatakan penelitiannya merupakan yang pertama. Belum diketahui bukan berarti tidak ada.

Keuntungan lain dengan melakukan pelacakan studi sebelumnya secara tuntas adalah untuk mengetahui wilayah mana saja yang sudah dikaji oleh peneliti terdahulu, sehingga bisa memudahkan peneliti menyusun rumusan masalah atau fokus penelitian baru. Banyak orang menemui kesulitan menyusun rumusan masalah karena berangkat dari pengetahuan kosong, sehingga rumusan yang disusun bukan merupakan rumusan masalah/pertanyaan penelitian sesuai metodologi penelitian. Atau, bisa jadi rumusan masalah itu merupakan rumusan yang bermasalah. Ini sering dijumpai pada proposal atau hasil penelitian para peneliti pemula. Rumusan masalah penelitian bukan sekadar pertanyaan biasa, melainkan pertanyaan konseptual yang untuk menjawabnya diperlukan renungan dan analisis data. Para ahli menyarankan untuk tidak membuat rumusan masalah yang bersifat teleologis, artinya pertanyaan yang jawabnya sudah banyak diketahui khalayak umum.

Penelitian merupakan kerja dan aktivits ilmiah untuk mengungkap masalah yang tidak diketahui oleh orang awam. Karena itu, peneliti bukan orang sembarangan. Dia ada;lah ilmuwan yang tugasnya membuka misteri di balik fenomena melalui kerja yang sistematis dan sistemik dengan hasil yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan orang banyak. Dengan istilah lain, sebagai kerja ilmiah maka hasil penelitian harus bisa diverifikasi oleh siapa saja, di mana saja dan kapan saja. Karena itu, bukan pertanyaan penelitian jika jawabannya sudah dapat ditebak dan diketahui oleh masyarakat banyak. Untuk menghindari hal itu, maka seorang peneliti bisa mengajukan pertanyaan penelitian berangkat dari masalah yang telah diteliti sebelumnya. Bolehkah ini dilakukan? Jawabnya boleh, asalkan dilakukan dengan metode dan perspektif lain. Gejala atau fenomena yang sama diteliti dengan cara yang berbeda dan dengan menggunakan perspektif yang berbeda akan memperkaya khasanah pengetahuan.

Ditulis Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Bagian II

Enam Pendekatan Utama

Paling tidak, kini telah berkembang enam pendekatan terhadap wacana (approaches to discouse). Masing-masing adalah: (1) pendekatan tindak tutur (the speech act approach); (2) pendekatan sosiolinguistik interaksional (interactional sociolinguistics); (3) pendekatan etnografi komunikasi (the ethnography of communication); (4) pendekatan pragmatika (pragmatic approach); (5) analisis percakapan (conversational analysis); dan (6) pendekatan variasionis (variationists approach).[1]

Walaupun teori tindak tutur pertama kali tidak dikembangkan untuk mengkaji wacana, sejumlah isu dalam teori tindak tutur ini seperti indirect speech acts dan multiple functions of utterances telah mengarah kepada analisis wacana.

Pendekatan sosiolinguistik interaksional mewakili kombinasi tiga disiplin anthropoly, sosiologi, dan linguistik. Pusat perhatiannya adalah bagaimana orang-orang dari budaya berbeda bisa berbagi pengetahuan gramatikal suatu bahasa tetapi secara berlainan mengkontekstualisasikan apa yang dikatakan sehingga pesan yang berbeda akan terjadi.

Menurut etnografi komunikasi, cara kita berkomunikasi bergantung banyak kepada kebudayaan darimana kita berasal. Berkaitan dengan hal ini, bisa dianalisis misalnya alasan-alasan mengama suatu prasangka bisa muncul.

Pendekatan pragmatika menegaskan bahwa setiap komunikasi diprasyarati oleh kaidah-kaidah kerjasama dan maksim percakapan (the cooperative principal and conversational maxims).

Analisis percakapan lebih tertarik pada urutan percakapan. Diasumsikan bahwa orang-orang yang berinteraksi sekurang-kurangnya harus memiliki asumsi minimum satu sama lain. Orang bisa saja meminta giliran bicara dengan sekedar berdehem.

Pendekatan variasionis mendasarkan diri pada asumsi bahwa semua teks memiliki sejumlah pola formal tertentu. Penilaian terhadap suatu teks didasarkan pada penyimpangannya dari struktur sintaktis sederhana.

Secara keseluruhan, sebelum perkembangan analisis wacana kritis, fokut kajian, dan rumusan masalah kajian dalam keenam pendekatan analisis wacana tersebut bisa disajikan sebagai berikut:

Pendekatan kajian wacana

Fokus kajian

Rumusan Masalah

Struktural

Analisis Percakapan

Urutan struktur

Mengapa kemudian itu?

Variasionis

Kategori struktural dalam teks

Mengapa bentuk itu?

Fungsional

Tindak Tutur

Tindakan komunikatif

Bagaimana melakukan sesuatu dengan kata-kata?

Etnografi komunikasi

Komunikasi sebagai perilaku budaya

Bagaimana wacana mencerminkan budaya?

Sosiolinguistik interaksional

Makna linguistik dan sosial yang terbentuk selama berkomunikasi

Apa yang mereka lakukan?

Pragmatika

Makna dalam interaksi

Apa yang hendak dikatakan pembicara?

Belakangan, sejalan dengan perkembangan paradigma kritis, juga berkembang analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis mengalami perkembangan sangat pesat karena sangat berpotensi untuk digunakan tidak hanya dalam hubungan asimetris antar dua atau lebih pengguna bahasa, tetapi juga untuk menganalisis konflik sosial antara kelompok masyarakat. Berkenaan dengan analisis wacana kritis ini, berikut disajikan kerangka dasarnya.

Kerangka Dasar Analisis Wacana Kritis

Dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah buah karya Norman Fairclough dan Teun van Dijk.[2] Dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Karena itu, model analisis wacana kritis ini pula terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.

Kohesi yang merupakan tautan atau hubungan antar bagian dalam wacana sehingga menjadi satu kesatuan, menjadi salah satu kata kunci dalam analisis wacana positivistik. Ini pula yang diperkenalkan lebih awal oleh para pengajar pengantar linguistik kepada para mahasiswanya.[3]

Berbeda dari pandangan tersebut, dalam kerangka analisis wacana kritis, struktur wacana tersusun atas tiga aras yang membentuk satu kesatuan. Masing-masing adalah struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure). Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana.[4]

Superstruktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana.[5]

Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi.[6]

Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti (pronouns).[7]

Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis.[8]

Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan.[9]

Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial.[10]

Penutup

Banyak topik kajian dalam studi keislaman bisa dipilih untuk didekati dengan analisis wacana. Perdebatan tentang penetapan hari raya iedul fitri, misalnya, cukup menarik untuk dianalisis dengan pendekatan analisis wacana kritis. Demikian pun tentang berbagai bentuk discourse marker yang menjadi pengait antara satu ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an akan sangat bermanfaat bila dianalisis dengan teknik analisis wacana konvensional dengan menekankan pada koherensi dan kohesi teks Al Qur’an. Naskah-naskah ceramah agama pun cukup menarik untuk dianalisis sebagai wacana.

Selamat mencoba!


[1] Schiffrin, D., 1994. Approaches to Discourse. Oxford UK, Cambridge USA: Blackwell.

[2] Eriyanto. 2001. Analisis Wacana. Yogyakarta: LkiS. Periksa pula Stephen W. Littlejohn. 1996. Theories of Human Communication. Belmont: Wadsworth Publishing Company.

[3] George Yule. 1985. The Study of Language. Cambridge: Cambridge University Press.

[4] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[5] Teun A. van Dijk. 2003. Discourse analysis as Ideology analysis. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[6] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

[7] Teun A. van Dijk. 2004. Ideology and Discourse Analysis. Ideology Symposium Oxford, September 2004.

[8] Teun A. van Dijk. 2004. Ideology and Discourse Analysis. Ideology Symposium Oxford, September 2004.

[9] Teun A. van Dijk. 2001. Knowledge and News. Paper for the Cuadernos de Filología Valencia). University of Amsterdam. Universitat Pompeu Fabra, Barcelona. February, 2001.

[10] Teun A. van Dijk. 2003. Ideology and discourse: A Multidisciplinary Introduction. Internet Course for the Oberta de Catalunya (UOC).

Lihat Analisis Wacana Dalam Studi Keislaman (Part I)

KLIK DI SINI


Ditulis Oleh: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com

Di antara pertanyaan penting dari para pembaca sebagai bahan diskusi lebih lanjut ialah “Pak, Bisakah Kedua Metode Penelitian itu Digabung, ?”, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. “Jika digabung kan semakin sempurna”, begitu rata-rata komentar dari para pembaca. Saya merasa perlu melanjutkan diskusi dengan tema ini — walau singkat — karena ada hal-hal prinsip yang perlu dketahui oleh khalayak pembaca. Selain itu, tampaknya ada ghiroh yang tinggi untuk mendalami ilmu penelitian.

Ini fenomena sangat baik untuk kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang metodologi penelitian. Perlu disadari bahwa ilmu akan berkembang jika penelitian juga dikembangkan. Sebagai pelopor ilmu pengetahuan, maka penting bagi ilmuwan, termasuk mahasiswa, memiliki pengetahuan yang cukup di bidang penelitian. Oleh karena itu, jika sebuah universitas ingin maju maka kegiatan penelitian harus menjadi salah satu prioritas pengembangan. Berikut penjelasan singkatnya.

Tidak ada penelitain yang tidak punya payung paradigma. Artinya, tidak ada penelitian yang tidak berangkat dari pemikiran filsafati, yakni antara cara berpikir positivistik — yang memandang segala sesuatu serba empirik, deterministik, dan selalu dalam hubungan kausalitas —-,dan cara berpikir interpretif yang berasumsi bahwa yang tampak hakikatnya hanya merupakan refleksi atau pantulan dari yang tidak tampak. Ini pula sebabnya cara pandang demikian sering juga disebut paradigma fenomenologi.

Jika paradigma positivistik — sebagai landasan metode kuantitatif — berurusan dengan hal-hal yang empirik (tampak) untuk dicari hubungan pada masing-masing variabelnya, maka justru sebaliknya paradigma interpretif — sebagai landasan metode kualitatif— berurusan dengan hal-hal yang tidak tampak untuk digali realitas yang sebenarnya. Untuk menjelaskan ini, saya sering menggunakan kalimat “Behind what appears there is something. And, that something is reality”. Karena itu, saya sering membedakan antara fakta (facts) dan realitas (reality). Sebab, belum tentu orang yang faktanya menangis itu susah, dan sebaliknya yang faktanya tertawa itu senang atau bahagia. Karena itu, tugas peneliti untuk membongkar apa di balik ‘tangis’ dan ‘tawa’.

Jika data metode kuantitatif diperoleh lewat kuesioner dari responden — dan semakin banyak responden semakin memiliki nilai keterwakilan tinggi, maka data metode kualitatif diperoleh lewat wawancara subjek atau informan yang tidak menggunakan ukuran keterwakilan, tetapi kedalaman masalah. Karena itu tidak relevan menanyakan berapa banyak subjek atau informan yang diperlukan dalam penelitian kualitatif.

Begitu juga tentang posisi teori. Jika pada penelitian kuantitatif teori untuk dibuktikan atau diverifikasi, — karena itu biasanya ada hipotesis—, maka pada metode kualitatif teori untuk dipakai sebagai piranti untuk memahami fenomena. Jika ada hipotesis pada penelitian kualitatif, maka hipotesis tersebut tidak untuk dibuktikan tetapi sebagai pintu masuk memahami permasalahan yang diteliti.

Terkait dengan kriteria data juga ada pebedaan mencolok di antara kedua jenis metode penelitian tersebut. Berikut paparannya:

Kuantitatif

Kualitatif

validity

credibility

reliability

dependability

objectivity

conformability

generalability

transferability

Jika pada penelitian kuantitatif data harus memenuhi syarat validity, reliability, objectivity, dan generalability, maka pada metode kualitatif data harus memenuhi syarat credibility, dependability, conformability dan transferability. (selengkapnya tentang perbedaan paradigmatik kedua jenis metode penelitian disajikan pada “Perbedaan Paradigma Positivism dan Interpretivism” silahkan baca di menu web materi kuliah ) .

Nah, jika landasan paradigmanya saja sudah sedemikian berbeda — sebagaimana saya paparkan pada tulisan sebelumnya — , biasanya saya balik bertanya bagaimana cara menggabungkannya. Saya sangat setuju bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, dan dengan cara penggabungan keduanya akan diperoleh kesempurnaan secara metodologis. Idenya saya setujui seratus persen. But how to implement it is the question.

Sebagai disiplin ilmu, metodologi penelitian juga terus mengalami perkembangan. Para ahli terus saja mencari cara untuk menutupi kekurangan masing-masing metode. Hasilnya diperoleh paradigma metode campuran (mixed method). Secara operasional, metode ini mencoba mengkualitatifkan hasil kuantitatif dan mengkuantitatifkan hasil kualitatif. Misalnya, hasil penelitian kuantitatif yang berakhir dengan generalisasi atau adanya hubungan antar-variabel yang berupa angka, maka angka itu dicoba dikualitatifkan dengan mengajukan pertanyaan baru. Sebaliknya, penelitian kualitatif yang berakhir dengan kesimpulan berupa narasi atau tesis diteruskan dengan mencoba mencari hubungan antar-variabel dengan mengajukan pertanyaan baru.

Jika demikian halnya, maka metode campuran hakikatnya adalah dua jenis penelitian yang satu dilakukan sebelum atau sesudah yang lain dalam satu proyek kegiatan. Sah kah metode ini? Tentu saja sah. Tetapi peneliti yang akan melakukannya harus bersiap-siap untuk lebih berlama-lama lagi berurusan dengan data, teori, dan model analisis yang tentu akan menggunakan model keduanya. Menurut saya daripada pusing-pusing melakukan metode campuran, mengapa tidak memilih satu metode saja tetapi dengan penguasaan yang sempurna.

Harus disadari bahwa secanggih apapun metode keilmuan yang kita pakai tetap saja memiliki kekurangan. Sekali lagi, ini hanya buah karya manusia, bukan karya Tuhan yang kebenarannya mutlak. Kawan lama saya yang di Amerika berkomentar lewat web saya “…no method, approach, and paradigm are perfect. They will remain insufficient”. Saya sangat setuju dengan pendapat kawan saya itu dan lebih setuju lagi jika kita sadar bahwa kita semua masih punya banyak kekurangan !

Written by: Prof. Dr. Mudjia Rahardjo

Published by:
M. Asrori Ardiansyah, M.Ed
Teacher at Malang Indonesia

Sumber:
www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com
www.arminaperdana.blogspot.com
, http://grosirlaptop.blogspot.com