Arsip

PAKEM

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Pembelajaran Aktif
Aktif dalam pendidikan pada dasarnya mengajak siswa untuk belajar berinteraksi dalam kegiatan belajar mengajar. Menurut Silberman (2004) ada beberapa perlengkapan belajar aktif diantaranya:
1). Tata letak menyusun Kelas
Keadaan kelas (lingkungan belajar) sangat berpengaruh saat pembelajaran berlangsung. Dengan formasi bangku yang berbeda akan membawa semangat belajar aktif dan menjadikan pembelajaran yang menyenangkan.



2). Partisipasi
Kegiatan yang aktif tidak akan terjadi tanpa adanya partisipasi dari siswa. Beberapa cara dibawah ini akan menarik respon siswa dalam berbicara di kelas.
a. Diskusi terbuka
b. Bermain kartu
c. Jajak pendapat
d. Diskusi kelompok

e. Mitra belajar
f. Adanya penyemangat
g. Panel
h. Ruang terbuka
i. Permainan
j. Mendatangkan pemateri

3). Mendapatkan mitra belajar
Salah satu cara yang paling tepat untuk mengaktifkan adalah dengan menggunakan mitra belajar, yakni membagi kelas menjadi berpasang-pasangan dan membentuk kemitraan dalam belajar.

4). Pertanyaan untuk mengetahui harapan siswa
Lingkungan belajar aktif merupakan tampat dimana kebutuhan, harapan dan persoalan siswa mempengaruhi rencana pembelajaran guru. Pengajar dapat membuat variasi pertanyaan yang kita ajukan untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan siswa. Seperti “informasi apakah yang ingin kalian dapatkan pada mata pelajaran ini?”. Dengan pertanyaan ini siswa akan tertarik karena informasi tersebut mereka butuhkan.

5). Strategi membentuk kelompok belajar
Kelompok belajar merupakan bagian penting dari kegiatan belajar aktif. Sehingga mereka berhak memilih kelompok mereka, sesuai dengan yang diperintahkan (Silberman, 2004:30-49).
Belajar aktif memiliki banyak keuntungan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga siswa dengan sendirinya menggali dan mencari apa yang dibutuhkan, dengan belajar aktif guru berperan sebagai fasilitator dan pengontrol, dimana tercipta lingkungan yang mendukung. Adapun perbedaan belajar aktif dan pasif menurut DePorter dan Hernacki (2005:55) sebagai berikut:


Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Definisi dan Indikator Pembelajaran Aktif
Aktif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti giat (bekerja, berusaha) dan “mengaktifkan” memiliki arti menjadi aktif, dan menggiatkan. Sedangkan aktif menurut Mulyasa, merupakan keikutsertaan berpola, giat, lincah (Mulyasa, 2005:43). Aktif digunakan dalam berbagai aspek, seperti pendidikan. Dikatakan pembelajaran aktif, jika memiliki beberapa indikator. Menurut Ahmad Tafsir ada indikator yang menandai siswa aktif dalam pembelajaran:
1). Segi Siswa
a. Keinginan, keberanian menampilkan bakat, dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi.
b. Keinginan dan keberanian serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan, proses berkelanjutan dalam belajar.
c. Penampilan berbagai usaha belajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar sampai mencapai hasil.
d. Kemandirian belajar.

2). Segi Guru
a. Usaha mendorong, membina gairah belajar dan berpartisipasi dalam proses pengajaran secara aktif.
b. Peran guru yang tidak mendominasi kegiatan belajar siswa.
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan keadaan msing-masing.
d. Menggunakan metode mengajar dan pendekatan multimedia.

3). Segi Program
a. Tujuan pembelajaran sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuan siswa.
b. Program cukup jelas bagi siswa dan menantang siswa untuk melakukan kegiatan belajar.

4). Segi Situasi
a. Hubungan erat antara siswa dan guru, siswa dengan siswa, guru dengan guru, serta dengan unsur pimpinan sekolah.
b. Siswa bergairah belajar.

5). Segi sarana pembelajaran
a. Sumber belajar yang memadai.
b. Fleksibilitas bagi kegiatan belajar.
c. Dukungan media pembelajaran.
d. Kegiatan belajar di dalam maupun di luar kelas (Tafsir, 1995:145).

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif
Untuk menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta mengetahui prinsip-prinsinya, Nana Sudjana (1989:27-29) mengungkapkan prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
1). Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar (Soemanto, 1999:108). Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan mudah.

2). Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek (Suryabrata, 1993:14). Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai (Sardiman, 1996:101).

Perhatian dan motivasi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada kegiatan belajar, pengajar dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.

3). Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.

4). Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.

5). Asosiasi
Secara sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon (Syah, 1995:119). Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Di sini siswa dihadapkan kepada situasi baru yang dapat menuntut pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya (Sudjana, 1989:27-29).

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Pembelajaran Bermakna dan Kontekstual Sebagai Suatu Pendekatan PAKEM
Ratna (2001) menyatakan bilamana siswa mempelajari sesuatu yang berarti pada kondisi terbaiknya dapat dikatakan bahwa siswa belajar materi pelajaran yang bermakna dalam kehidupannya. Akan tambah pengalamannya jika siswa belajar meteri pelajaran yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka dan menemukan arti dalam proses pembelajaran, proses belajar mengajar tersebut akan menjadi lebih berarti dan menyenangkan.

The Nortwest Regional Education Laboratory dalam Rustana (2001) mengidentifikasi enam kunci dasar dari belajar dan mengajar kontekstual sebagai berikut:
a. Pembelajaran bermakna: pemahaman, relevansi, dan penilaian pribadi dimana seorang siswa berkepentingan dengan isi materi pelajaran yang harus dipelajarinya. Pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau dengan kata lain siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, sehigga merasa berkepentingan untuk belajar demi kehidupan di masa mendatang. Prinsip ini sejalan dengan konsep pembelajaran bermakna (meaningful learning) dari ausuble. Dimana arti meaningful learning adalah dapat mentransfer dalam kehidupan siswa kini dan kelak.
b. Penerapan mengetahuan: kemampuan untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam tatanan kehidupan dan berguna di masa sekarang atau di masa depan.
c. Berfikir tingkat tinggi: siswa diwajibkan untuk memanfaatkan berfikir kritis dan berfikir kreatifnya dalam mengumpulkan data, pemahaman data, pemahaman isu, pemecahan masalah dan mampu menjawab pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”.
d. Kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar isi pembelajaran dikaitkan dengan standar lokal, provinsi, nasional, perkembangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dunia kerja.
e. Responsif terhadap budaya: guru harus memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, karena pendidikan, masyarakat tempat ia mendidik. Ragam individu dan budaya tersebut akan mempengaruhi pembelajaran dan sekaligus akan berpengaruh terhadap cara mengajar guru.
f. Penilaian autentik: penggunaan berbagai strategi penilaian (misalnya penilaian proyek, unjuk kinerja siswa, portofolio rubrik, daftar cek, pedoman obsevasi dan sebagainya) akan merefleksikan hasil belajar yang sesungguhnya.

Dalam rangka pelaksanaan belajar dan mengajar kontekstual diperlukan berbagai strategi, antara lain:
a. Menekankan pada pemecahan masalah.
b. Mengakui kebutuhan belajar dan mengajar yang terjadi di berbagai konteks misalnya rumah, masyarakat dan sekolah.
c. Mengajar siswa untuk mengontrol dan mengarahkan pembelajarannya, sehingga mereka menjadi pembelajar yang mandiri (self-regulated learners).
d. Bermuara pada mengajar siswa yang memiliki keragaman konteks hidup.
e. Mendorong siswa untuk belajar dari sesamanya dan bersama-sama atau menggunakan grup belajar interdependen (interdependen learning group).
f. Menggunakan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment).

Dalam metode pembelajaran efektif dan bermakna, setiap materi yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya, sehingga pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah dikenal dan dipahami peserta didik, kemudian guru menambahkan unsur-unsur pembelajaran dan kompetensi baru yang disesuaikan dengan pengetahuan dan kompetensi yang telah dimiliki peserta didik (Mulyasa, 2006:197).

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Cooperative Learning Dalam PAKEM
Pembelajaran kooperatif atau gotong royong adalah salah satu jenis belajar kelompok dapat menjadikan pembelajaran lebih efektif, adapun karakteristik kooperatif sebagai berikut:
a. Kelompok terdiri dari anggota yang heterogen (kemampuan, jenis kelamin, etnik dan sebagainya).
b. Ada ketergantungan yang positif di antara anggota-anggota kelompok, karena setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan tugas kelompok dan tugas individual (tugas tidak selalu berupa tugas mengerjakan soal, dapat juga memahami materi pelajaran, sehingga dapat menjelaskan materi tersebut).
c. Kepemimpinan dipegang bersama, tetapi ada pembagian tugas selain kepemimpinan.
d. Guru mengamati kerja kelompok dan melakukan intervensi bila perlu.
e. Setiap anggota kelompok harus siap menyajikan hasil kerja kelompok (Setiawan, Depdiknas: 2004).

Nurhadi dan Agus Gerrad S (2003:60) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga menjadi sumber bagi siswa bukan hanya guru dan bukan hanya buku ajar tetapi juga sesama siswa.

Dalam PAKEM, kooperatif juga disajikan dalam bentuk kelompok yang menjadikan siswa lebih aktif dalam ketergantungan positif, dimana guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan, saling ketergantungan mencapai tujuan, menyelesaikan tugas, saling memberikan bahan atau sumber, saling berperan, saling membagi hadiah.

Kooperatif dengan interaksi tatap muka juga dapat membantu menjadi sumber belajar yang bervariasi, selain itu kooperatif juga dituntut dalam penilaian individual meskipun belajar dalam berkelompok dan kooperatif merupakan pembelajaran keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide, berani mempertahankan pikiran logis, tidak medominasi orang lain dan mandiri.

Holubec ( 2001 ) dalam Nurhadi dan Agus Gerrad S ( 2003: 59 )
menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning)
memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dan mencapai tujuan belajar.

Salah satu metode kooperatif yang lebih mudah untuk diterapkan adalah kooperatif struktural, yaitu menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Dimana siswa saling merespon dan saling membantu satu sama lain.

Adapun secara garis besar langkah dalam melaksanakan kooperatif struktural adalah sebagai berikut:
1. Membagi kelompok dengan memberikan penomeran atau pengenal pada kelompok.
2. Memberikan pertanyaan atau memberi perintah untuk memahami teks atau materi sesuai dengan kompetensi yang dicapai.
3. Membahas pertanyaan atau memberikan kesempatan untuk bertukar ide pada teks yang telah dipahami untuk dipecahkan bersama (Nurhadi, 2003:66).

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Untuk melaksanakan PAKEM secara optimal maka perlu dilakukan proses pembelajaran yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah matang. Mulyasa (2006:194-197) menyatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

1. Pemanasan dan apersepsi
Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan peserta didik, memotivasi dengan menyajikan materi yang menarik dan mendorong untuk mengetahui berbagai hal-hal yang baru. Apersepsi dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Memulai pembelajaran dengan hal-hal yang diketahui dan pahami peserta didik.
b. Memotifasi peserta didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi kehidupan mereka.
c. Menggerakkan peserta didik agar tertarik dan bernafsu untuk mengetahui hal-hal yang baru.

2. Eksplorasi
Tahap eksplorasi merupakan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan bahan dan mengaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik. Hal berikut dapat ditempuh sebagai berikut:
a. Memperkenalkan materi standar dan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik.
b. Mengaitkan materi standar dan kompetensi dasar yang baru dengan pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
c. Memilih metode yang paling tepat dan bervariasi untuk meningkatkan konsentrasi peserta didik terhadap materi standar dan kompetensi baru.

3. Konsolidasi pembelajaran
Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan peserta didik dalam pembentukan kompetensi dengan mengaitkan kompetensi peserta didik. Konsolidasi pembelajaran ini dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam manafsirkan dan memahami materi standar dan kompetensi baru.
b. Melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah (problem solving), terutama dalam masalah-masalah aktual.
c. Mengaitkan secara struktural antara materi standar dan kompetnsi baru dengan berbagai aspek kehidupan dalam lingkungan masyarakat.
d. Memilih metodologi yang paling tepat sehingga materi standar dapat diproses menjadi kompetensi peserta didik.

4. Pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku
Pembentukan kompetensi, sikap dan perilaku peserta didik dapat dilakukan sebagai berikut:
a. Mendorong peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian dan kompetensi yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
b. Mempraktekkan pembelajaran secara langsung agar peserta didik dapat membangun kompetensi, sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.
c. Menggunakan metodologi yang tepat agar terjadi perubahan kompetensi, sikap dan perilaku peserta didik.

5. Penilaian
a. Mengembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta didik.
b. Menggunakan hasil penilaian untuk menganalisis kelemahan atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi guru dalam memberikan kemudahan kepada peserta didik.
c. Memilih metodologi yang paling tepat dan sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com

Oleh: M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Menyenangkan dalam PAKEM
Pembelajaran menyenangkan (joy instruction) merupakan suatu proses pembelajaran yang didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar peserta didik dalam proses pembelajaran, bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari peserta didiknya. Hal ini dimungkinkan pesatnya perkembangan teknologi informasi tidak memungkinkan lagi guru untuk mendapatkan informasi lebih cepat dari peserta didiknya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis, dan tidak ada beban baik bagi guru maupun peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru harus mampu merancang pembelajaran yang baik, memilih materi yang tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan peserta didik secara optimal (Mulyasa, 2006:194).

Bambang Ari Sugianto, fasilitator Managing Basic Education Bahasa Inggris, menyatakan bahwa pembelajaran yang menyenangkan berarti siswa asyik terlibat dalam proses pembelajaran karena penugasan yang diberikan guru menantang, sesuai dengan kebutuhannya serta berada dalam dunianya. Di lain pihak siswa merasa nyaman karena tidak dimarahi atau dicemooh ketika siswa membuat kesalahan sehingga berani berbeda dan tidak takut membuat kesalahan.

Pelaksanaan PAKEM dapat menjadikan kelas adalah tempat yang nyaman dalam belajar. Memajang hasil karya siswa di kelas, diadakan sudut-sudut baca dalam kelas, diharapkan mampu meningkatkan minat belajar, sebaliknya keadaan kelas yang kosong, tanpa pajangan akan menjadikan suasana kelas gersang, membosankan, dan tidak menggugah minat siswa (Supriono. S dkk, 2001:29).

Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM) sebagai strategi pembelajaran meliputi:
1. Bermain peran
2. Belajar kelompok
3. Menulis dengan kata-kata sendiri
4. Memecahkan masalah
5. Diskusi kelas
6. Debat praktek keterampilan
7. Penelitian
8. Drama.

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com