Arsip

Pembelajaran Kooperatif

Dalam proses belajar mengajar dewasa ini dikenal istilah Cooperative Learning atau pembelajaran gotong royong. Cooperative Learning (CL) terdiri dari dua kata yaitu Cooperative dan Learning. Cooperative berarti “acting together with a common purpose”.[1] Basyiruddin Usman mendefinisikan cooperative sebagai belajar kelompok atau bekerjasama.[2] Menurut Burton yang dikutip oleh Nasution, kooperatif atau kerjasama ialah cara individu mengadakan relasi dan bekerjasama dengan individu lain untuk mencapai tujuan bersama.[3]
Sedangkan Learning adalah “the process through which experience causes permanent change in knowledge and behavior” yakni proses melalui pengalaman yang menyebabkan perubahan permanent dalam pengetahuan dan perilaku.[4] Senada dengan hal itu Arthur T. Jersild, yang dikutip Syaiful Sagala, mendefinisikan bahwa Learning adalah “modification of behavior through experience and training” yakni pembentukan perilaku melalui pengalaman dan latihan.[5] Dia menambahkan bahwa learning sebagai kegiatan memperoleh pengetahuan, perilaku dan ketrampilan dengan cara mengolah bahan ajar.[6]
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa CL adalah usaha mengubah perilaku atau mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan secara gotong royong atau kerjasama.
David dan Roger Johnson mendefinisikan CL adalah “a teaching strategy in which small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve their understanding of a subject.”[7] (Strategi pembelajaran dalam bentuk kelompok-kelompok kecil dimana setiap siswa memiliki tingkat kemampuan berbeda, dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi). Asep Gojwan mendefinisikan Cooperative Learning sebagai suatu model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok kecil untuk mencapai tujuan yang sama dengan menggunakan berbagai macam aktifitas belajar guna meningkatkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran dan memecahkan masalah secara kolektif.[8]
Setiap anggota kelompok bukan hanya belajar materi apa yang diajarkan tetapi juga membantu anggota yang lain untuk belajar. Model pembelajaran ini menganut prinsip saling ketergantungan positif (Positive Interdependence), tanggungjawab perseorangan (Individual Accountability), tatap muka (Face to face Interaction), ketrampilan sosial (Social Skill) dan proses kelompok (Group Processing).[9]

Inti dari CL ini adalah konsep synergy, yakni energi atau tenaga yang terhimpun melalui kerjasama sebagai salah satu fenomena kehidupan masyarakat.[10] Penerapannya beranjak dari konsep Dewey yang dikutip oleh Yurnetti bahwa “classroom should mirror the large society and be a laboratory for real life learning.”[11] Terjemahan bebasnya bahwa kelas seharusnya mencerminkan keadaan masyarakat luas dan menjadi laboratorium untuk belajar kehidupan nyata. Jadi CL dirancang untuk memanfaatkan fenomena kerjasama/gotong royong dalam pembelajaran yang menekankan terbentuknya hubungan antara siswa yang satu dengan yang lainnya, terbentuknya sikap dan perilaku yang demokratis serta tumbuhnya produktivitas kegiatan belajar siswa.


[1] Sally Wehmeier, Oxford Advanced Learner’s Dictionary, (New York: Oxford University Press,2000), hlm. 276
[2] M. Basyiruddin Usman, Metode Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 14
[3] S. Nasution, Didaktik Azas Mengajar, (Bandung: Bumi Aksara, 2000), hlm. 148.
[4] Anita E. Woofolk, Educational Psychology, (USA: Allyn & Bacon,1996), cet. VI, hlm. 196.
[5] Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm. 12.
[6] Ibid. Ibid.
[7] David and Roger Johnson, “Cooperative Learning”, http//:www.clrcc.com/pages/cl.html, [Online] 15 October 2001.
[8] Asep Gojwan, “Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif pada Mata Pelajaran PAI”, http://pps.upi.edu/org/
[9] David dan Roger T. Johnson, “Learning Together”, dalam Shlomo, Sharan (ed.),
Handbook of Cooperative Learning Methods, (Connecticut London: Praeger,1999), hlm. 58.
[10] Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 177 Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 177
[11] Yurnetti, “Pembelajaran Kooperatif Sebagai Model Alternatif”, Jurnal Himpunan Fisika Indonesia, Volume B5, Agustus 2002, hlm. 1

Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Siswa Bekerja Dalam Kelompok-Kelompok Kecil
Siswa ditempatkan dalam kelompok – kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.

2. Games Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing – masing ditempatkan dalam meja – meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen.

Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu – kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut.

Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.

Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali – kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.
Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.

3. Penghargaan Kelompok
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata – rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut. Dimana penentuan poin yang diperoleh oleh masing – masing anggota kelompok didasarkan pada jumlah kartu yang diperoleh oleh seperti ditunjukkan pada tabel berikut.

Tabel 2.1
Perhitungan Poin Permainan Untuk Empat Pemain

Pemain dengan
Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top Scorer
40
High Middle Scorer
30
Low Middle Scorer
20
Low Scorer
10

Tabel 2.2
Perhitungan Poin Permainan Untuk Tiga Pemain
Pemain dengan
Poin Bila Jumlah Kartu Yang Diperoleh
Top scorer
60
Middle scorer
40
Low scorer
20
(Sumber : Slavin, 1995:90)

Dengan keterangan sebagai berikut:
Top Scorer (skor tertinggi), High Middle scorer ( skor tinggi ), Low Middle
Scorer ( skor rendah ), Low Scorer ( skor terendah), ( skor sedang )
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :
1. Mengajar (teach)
Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
2. Belajar Kelompok (team study)
Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras / suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
3. Permainan (game tournament)
Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing – masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan – pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
4. Penghargaan kelompok (team recognition)
Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan. Lembar penghargaan dicetak dalam kertas HVS, dimana penghargaan ini akan diberikan kepada tim yang memenuhi kategori rerata poin sebagai berikut.

Tabel 2.3
Kriteria Pengahrgaan Kelompok
Kriteria ( Rerata Kelompok )
Predikat
30 sampai 39
Tim Kurang baik
40 sampai44
Tim Baik
45 sampai 49
Tik Baik Sekali
 50 ke atas
Tim Istimewa
(Sumber Slavin, 1995 )

Daftar Rujukan:

1. Arikunto, Suharsini. 1996. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

2. Arikunto, Suharsini. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta

3. Dimyati. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud

4. Lie, A. 2002. Cooperative Learning. Mempraktekkan Cooperatif Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indo
5. Noornia, A. 1997. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model STAD pada Pengajaran Persen di Kelas IV SD Islam Ma’arif 02 Singosari. Tesis Tidak Diterbitkan. Malang: Program Pasca Sarjana
6. Sardiman, A.M. 1990. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Persada

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  pembelajaran kooperatif model TGT . Diharapkan artikel pendidika singkat ini memberi pmahaman tentang pembelajaran kooperatif model TGT sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema pembelajaran kooperatif model TGT. 

Menurut Hopkins (Noornia, 1997:14) Teams-Games Tournament (TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif di mana setelah siswa belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing anggota kelompok. Mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya.
Seperti karakteristik pembelajaraan kooperatif lainnya, TGT memunculkan adanya kelompok dan kerjasama dalam belajar. Di samping itu, terdapat persainga antar individu maupun antar kelompok. Dalam TGT, siswa yang mempunyai kemampuan dan jenis kelamin yang berbeda dijadikan dalam sebuah tim yang terdiri dari 4 sampai 5 siswa. Sebagai salah satu model pembelajaran kooperatif TGT sangat mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus membedakan adanya perbedaan status, melibatkan siswa sebagai tutor sebaya, dan adanya unsur reinforcement.
Kemudahan penerapan TGT ini disebabkan dalam pelaksanaanya tidak adanya fasilitas pendukung yang harus tersedia seperti peralatan atau ruangan khusus. Selain mudah diterapkan dalam penerapannya TGT juga melibatkan aktivitas seluruh siswa untuk memperoleh konsep yang diinginkan. Kegiatan tutor sebaya terlihat ketika siswa melaksanakan turnamen yaitu setelah masing-masing anggota kelompok membuat soal dan jawabannya, untuk selanjutnya saling mengajukan pertanyaan dan belajar bersama. Sedangkan untuk memotivasi belajar siswa dalam TGT terdapat unsure reinforcement. Secara sistematis penerapan model TGT meliputi empat langkah yaitu: apersepsi, orientasi, turnamen, dan refleksi.
Penerapan pembelajaran kooperatif model TGT memang sangat penting, karena TGT sebagai bagian dari metode pembelajaran dalam KBK mampu memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi jika dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Berikut tinjauan dari konsep kompetensi yang disebutkan Gordon (Mulyasa, 2002:38-39):
1. Pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam aspek kognitif, dengan menggunakan TGT pengetahuan siswa mengenai materi pelajaran akan lebih mendalam karena dalam TGT ada unsur tutor sebaya.
2. Pemahaman (understanding); yaitu kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Di samping memahami meteri pelajaran dengan TGT siswa juga dilatih untuk memahami perasaan orang lain.
3. Kemampuan (skill); adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Kompetensi ini dapat dengan mudah diperoleh siswa, karena dalam TGT mengembangkan banyak kompetensi diantaranya membuat pertanyaan dan menjelaskan kepada siswa lain.
4. Nilai (value); adalah suatu standar perilaku yang diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Kompetensi ini pada TGT terkandung dalam kejujuran dalam merahasiakan soal masing-masing individu, keterbukaan dalam memberikan penjelasan kepada teman lain dan demokrasinya terlihat ketika berdiskusi untuk menyatukan pendapat yang berbeda.
5. Sikap (attitude); yaitu perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang akan datang dari luar. Kompetensi sikap diperoleh siswa karena dalam TGT siswa belajar dengan kelompok masing-masing tanpa ada tekanan dari guru, sehingga siswa merasa senang dan santai.
6. Minat (interest); adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Adanya turnamen dalam TGT meningkatkan minat belajar siswa untuk mempelajari materi pelajaran.
Jika ditinjau dari prinsip pendukung pengembangan KBK yang tercantum dalam Depdiknas I-A (2003:25) pembelajaran kooperatif model TGT merupakan metode pembelajaran yang benar-benar efektif dan efisien. Berikut ini analisis penerapan pembalajaran kooperatif model TGT terhadap prinsip pendukung pengembangan KBK.
1. Berpusat pada peserta didik
Dalam TGT peserta didik diposisikan sebagai subjek belajar, artinya yang melaksanakan KBM adalah siswa. KBM dengan TGT ini dilakukan dengan melakukan turnamen yaitu saling menanyakan antar anggota dalam kelompok, sehingga konsep diperoleh berdasarkan hasil diskusi dalam masing-masing kelompok dan guru hanya bertindak sebagai fasilitator.
2. Mengembangkan kreativitas peserta didik
KBM perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kesempatan peserta didik untuk berkreasi secara berkesinambungan guna mengembangkan dan mengoptimalkan kreativitas peserta didik. Pada TGT pengembangan kreativitas ini terwujud dengan pemberian tugas individu siswa untuk membuat pertanyaan sekaligus jawaban secara bebas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
3. Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang
Proses pembelajaran dalam TGT dilaksanakan oleh setiap kelompok sehingga dapat berjalan lebih rileks. Suasana belajar yang menyenangkan sangat doperlukan karena otak tidak akan bekerja secara optimal bila perasaan dalam keadaan tertekan. Selain itu dalam turnamen pada proses pembelajaran TGT setiap siswa bersaing untuk memperoleh nilai yang setinggi-tingginya, sehingga dengan persaingan tersebut siswa akan merasa lebih tertantang untuk menjadi yang terbaik.
4. Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai
Peserta didik akan belajar secara optimal jika pengalaman belajar yang disajikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan seperti kemampuan logis matematis, bahasa, musik, kinestetik, dan kemampuan inter ataupun intra personal. Pengembangan kemampuan dalam TGT terbukti dengan adanya tugas membuat pertanyaan, kerjasama untuk saling melengkapi dalam memperoleh konsep yang benar dan adanya kebiasaan untuk berusaha memahami siswa lain.
5. Menyediakan pengalaman belajar yang beragam
Keragaman pengalaman belajar menuntut keragaman penyediaan sumber belajar, keragaman cara penilaian, keragaman tempat belajar, keragaman waktu, dan keragaman organisasi kelas. Pengalaman belajar juga menyediakan proporsi yang seimbang antara pemberian informasi dan penyajian terapannya. Metode TGT memberikan pengalaman yang sangat beragam pula diantaranya cara memberikan penjelasan kepada orang lain, melakukan penilaian dan cara bekerjasama dalam suatu tim. Penyediaan proporsi yang seimbang dalam TGT terbukti adanya perlengkapan konsep oleh guru yang memerlukan adanya tambahan media atau bahan amatan, seperti: charta, model atau bahan asli.
6. Belajar melalui berbuat
Melalui TGT siswa belajar berbuat untuk memperoleh konsep dengan bekerjasama dalam setiap kelompok. Hasil belajar akan meningkat bila kegiatan pembelajaran dalam TGT dikondisiskan sedemikian rupa supaya peserta didik melakukan kegiatan praktis, seperti penggunaan telinga untuk mendengarkan penjelasan teman.

Daftar Pustaka Klik DI SINI

Demikian artikel singkat tentang pembelajaran kooperatif model TGT ini. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang pembelajaran kooperatif model TGT. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, mohon kritik dan sarannya melalui komentar.

Belajar kooperatif (Cooperatif Learning) adalah metode belajar mengajar yang didesain untuk mengembangkan kerjasama dan tanggung jawab siswa. Metode ini dirancang untuk mengurangi persaingan yang banyak ditemui di kelas dan cenderung mengarah pada pola “kalah dan menang” (Slavin, 1994). Definisi di atas menjelaskan bahwa belajar kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan adanya kerjasama antara siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan belajar. Lebih lanjut Watson (Jufri, 2000:14) menyatakan bahwa:

Cooperatif learning (belajar kelompok) merupakan suatu lingkungan belajar di kelas, di mana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang mempunyai kemampuan yang berbeda-beda untuk mencapai suatu tujuan umum. Belajar kelompok merupakan pendekatan yang dilakukan agar siswa dapat bekerja sama dengan yang lain untuk memahami kebermaknaan isi pelajaran dan bekerja sama secara aktif dalam menyelesaikan tugas.

Pengelompokkan siswa secara heterogen dimaksudkan untuk mengembangkan penerimaan siswa terhadap keragaman dan keterampilan sosial. Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai paling tidak 3 tujuan pembelajaran yaitu hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial (Corebima, dkk.2002). melalui anggota kelompoknya baik kemampuan akademik, jenis kelamin, usia, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Para siswa juga diharapkan menerima keragaman tersebut dan memaksimalkan kerja sama kelompok, sehingga masing-masing anggota kelompok siap menghadapi tes dan hasil belajar akan tercapai dengan optimal.
Kerjasama kelompok dalam pembelajaran kooperatif dapat digambarkan seperti dua orang atau lebih yang sedang mengangkat balok kayu. Jika salah satu saja melepaskan pegangannya maka keseimbangan akan berubah. Keseimbangan yang terjadi dapat mengakibatkan balok kayu tersebut lepas dan kemudian jatuh.
Selain itu ada kelebihan heterogen dalam metode belajar kooperatif yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengajar (Peer Tutoring) dan meningkatkan interaksi serta memudahkan guru dalam mengelola kelas (Lie,2002:42). Melalui belejar kelompok, secara khusus siswa berperan sebagai sumber belajar antara satu dengan yang lain, berbagi dan mengumpulkan informasi serta saling membantu untuk mencapai keberhasilan bersama. Dengan kata lain siswa sebagai tutor sebaya bagi kelompoknya, sebab kecenderungan bahwa siswa lebih mudah menerima dan memahami informasi dari teman sebayanya. Menurut Arikunto (1996:62) adakalanya siswa lebih mudah memperoleh keterangan dari teman sebayanya karena malu untuk bertanya kepada guru.
Roger dan David Johnson dalam Lie (2002) menyatakan bahwa “tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning”. Menurutnya untuk mencapai hasil yang maksimal ada 5 unsur model pembelajaran yang harus diterapkan, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggung jawab perseorangan; (3) tatap muka; (4) komunikasi pada anggota; dan (5) evaluasi kelompok.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap anggota kelompok saling bekerja sama menyelesaikan tugas untuk mencapai tujuan bersama. Adanya kerjasama kelompok menunjukkan bahwa keberhasilan kelompok ditentukan oleh hasil belajar bersama dalam kelompok, sehingga dalam satu kelompok terjadi ketergantungan positif. Selain itu setiap anggota kelompok bertanggung jawab perseorangan, maka setiap anggota kelompok berkesempatan memberi kontribusi bagi kesuksesan kelompoknya.
Setiap kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan dalam pembelajaran kooperatif selalu melibatkan interaksi (tatap muka) dan komunikasi antara gutu dan siswa. Interaksi yang terjadia diantara anggota kelompok membantu siswa meningkatkan pemahaman suatu konsep sebab siswa lebih mudah berkomunikasi dengan teman sebayanya melalui bahasa yang sederhana dan mudah dipahami bila dibandingkan berkomunikasi dengan guru. Interaksi dan komunikasi yang muncul dalam pembelajaran diharapkan berjalan secara multi arah (guru-siswa, siswa-siswa).
Kegiatan pembelajaran selalu diakhiri dengan evaluasi, tujuannya adalah untuk emngatur ketercapaian tujuan belajar. Pembelajaran kooperatif menekankan evaluasi kelompok yang berarti keberhasilan siswa mencapai tujuan belajar sangat tergantung pada hasil belajar kelompok. Kelompok yang memperoleh skor tertinggi berhak memperoleh penghargaan.
Mbulu (2001:72) menyebutkan bahwa dalam setiap pembelajaran, siswa harus merasakan bahwa aktivitas yang dilakukannya memperoleh sukses. Setiap sukses yang diperoleh merupakan reinforcement yang memacu aktivitas belajar menjadi lebih kuat untuk memperoleh sukses berikutnya. Kesuksesan suatu pembelajaran dapat dilihat dari peningkatan hasil belajar. Jadi dengan memberikan penghargaan, maka siswa akan lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajarnya.
Selain itu pembelajaran kooperatif juga membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruang kelas dan membutuhkan perabot yang bisa dipindahkan. Pengaturan model cluster dan swing adalah dua contoh pengaturan ruang kelas yang cocok digunakan dalam pembelajaran kooperatif (Depdiknas, 2002:18).
Menurut Noornia (1997:14) terdapat banyak model pembelajaraan kooperatif yang berhasil dikembangkan peneliti-peneliti pendidikan dan telah diterapkan pada beragam materi pembelajaran diantaranya adalah:
1. STAD (Student Teams-Achievement Divisions) merupakan pembelajaran kooperatif yang menekankan pada kerja sama kelompok dan tanggung jawab kelompok untuk mencapai ketuntasan belajar dengan melibatkan peran tutor sebaya.
2. JIGSAW merupakan pembelajaran kooperatif yang anggota kelompoknya diberi tugas berbeda satu dengan yang lainnya dari sebuah tema yang dibahas, kemudian tes diberikan secara menyeluruh agar semua kelompok mengetahui semua pokok bahasan.
3. Teams-Games Tournament (TGT) merupakan bentuk pembelajaran kooperatif dimana setelah siswa belajar secara individual, untuk selanjutnya dalam kelompok masing-masing anggota kelompok mengadakan turnamen atau lomba dengan anggota kelompok lainnya sesuai dengan tingkat kemampuannya.
4. Investigation Group merupakan suatu pembelajaran kooperatif di mana semua anggotanya dituntut untuk merencanakan apa yang diteliti dan bersama-sama kelompok membuat rencana pemecahannya.
Berdasarkan uraian di atas diketahui terdapat bermacam-macam model pembelajaraan kooperatif. Slavin (Noornia, 1997:17) menyatakan walaupun metode pembelajaran kooperatif berbeda-beda, akan tetapi semua mendasarkan pelaksanaannya pada lima karakteristik berikut:
1. Tujuan kelompok
2. Tanggung jawab individual
3. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
4. Spesialisasi tugas
5. Adaptasi terhadap kebutuhan individual
Sebagai metode pembelajaran tentunya pembelajaran kooperatif juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Beberapa ahli (Depdiknas, 2002:10) menegaskan dari hasil penelitian menyimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif mempunyai kelebihan sebagai berikut:
1. Lebih meningkatkan pencurahan waktu untuk tugas
2. Mengedepankan penerimaan terhadap perbedaan individu
3. Dengan waktu yang sedikit dapat menguasai materi secara mendalam
4. Proses belajar mengajar berlangsung dengan keaktifan siswa (student center)
5. Mendidik siswa untuk berlatih bersosialisasi dengan orang lain
6. Rasa harga diri lebih tinggi
7. Memperbaiki sikap terhadap IPS dan sekolah
8. Memperbaiki kehadiran motivasi belajar tinggi
9. Motivasi berlajar tinggi
10. Hasil belajar lebih tinggi
11. Retensi lebih lama
12. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Sedangkan Sudjana (2000:70) menyatakan beberapa kelemahan pembelajaran kooperatif adalah:
1. Bagi guru
a. Sulitnya mengelompokkan siswa yang mempunyai kemampuan haterogen dari segi prestasi akademis
b. Waktunya yang dihabiskan untuk diskusi oleh siswa cukup banyak sehingga siswa melewati waktu yang sudah ditetapkan
2. Bagi siswa
Masih adanya siswa berkemampuan tinggi yang mempunyai kesempatan untuk memberi penjelasan kepada siswa lain kurang terbiasa dan sulit memberikan penjelasan.
Melalui model pembelajaran kooperatif ini diharapkan siswa memiliki kepekaan dalam berkomunikasi dengan orang lain, seperti empati dan respek terhadap jawaban atau pertanyaan diajukan oleh siswa lain. Guru harus terfokus pada kecakapan komunikasi, bukan topik masalah yang dikemukakannya melainkan siswa diberi kesempatan yang sama untuk melatih kecakapan komunikasinya dalam bentuk pertanyaan kepada siswa lain dalam satu kelompok guna menghidupkan suasana pembelajaran kooperatif.

Daftar Pustaka Klik DI SINI 

Model jigsaw dibangun oleh Aronson. Dalam metode ini setiap siswa dalam kelompok diberikan informasi tentang suatu bahan pelajaran. Semua siswa perlu mengetahui semua informasi agar kelompok berhasil. Dalam metode ini setiap siswa akan bergabung dalam kelompok ahli tentang suatu masalah tertentu. Siswa itu bertugas untuk mengajari siswa-siswa yang lain dalam kelompoknya.
Pemikiran dasar dari model ini adalah memberikan kesempatan siswa untuk
berbagi dengan yang lain. Mengajar serta diajar oleh sesama siswa dan sosialisasi yang berkesinambungan merupakan bagian terpenting dalam pembelajaran ini. Mula-mula siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 5-6 orang. Masing-masing anggota kelompok mengerjakan salah satu bagian berbeda dengan yang dikerjakan anggota kelompok asalnya. Tiap anggota kelompok asal akan menjadi kelompok ahli. Setiap ahli mempunyai tugas yang sama bergabung untuk memecahkan masalah atau materi yang mereka terima. Setelah menemukan pemecahan masalahnya, siswa ahli kembali ke kelompok asal untuk mengajar anggota lain mengenai materi yang telah dipelajari dikelompok ahli. Kemudian pengajar menunjuk salah satu siswa untuk mempersentasikan hasil yang diperoleh. Selanjutnya penilaian dengan kuis. Penilaian dilakukan secara individu dan kelompok. Sintak pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dapat dilihat pada tabel 2.3:

Tabel 2.3 Fase-fase pembelajaran kooperatif tipe jigsaw

Fase

Tingkah laku

Fase 1:

Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2:

Menyajikan informasi.

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Menjelaskan aturan main pembelajaran kooperatif tipe jigsaw dan keterampilan sosial yang akan digunakan.

Fase 3:

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Membagi siswa dalam kelompok jigsaw (kelompok asal) terdiri 5-6 siswa yang heterogen.

Membimbing kelompok asal untuk membentuk 4 kelompok siswa ahli, kemudian meminta siswa ahli dari tiap kelompok untuk bergabung membentuk kelompok ahli

Setelah berdiskusi dengan kelompok ahli, siswa kembali ke kelompok asal

Fase 4:

Membimbing kelompok bekerja dan belajar.

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.

Fase 5:

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6:

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu kelompok.

guru membimbing siswa membuat rangkuman pelajaran dan menjawab permasalahan di awal pelajaran

Pembelajaran kooperatif model jigsaw ini sangat penting diterapkan pada siswa SMA, karena dalam pembelajaran ini menuntut siswa untuk saling bekerja sama yaitu dapat berkomunikasi dengan baik, menghargai pendapat, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing, dari kerja sama mendorong agar siswa saling merasa dihargai dan saling membutuhkan, hal ini akan menimbulkan saling ketergantungan positif, yang menuntut adanya interaksi promotif, yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Pada pembelajaran ini juga siswa dituntut untuk bertanggung jawab secara individu dimana setiap siswa mempunyai tugas yang berbeda-beda dan harus melaksanakan tugasnya dengan baik untuk keberhasilan kelompok.

Urutan langkah-langkah perilaku guru menurut model pembelajaran kooperatif yang diuraikan oleh Arends adalah sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini:

Fase
Tingkah laku
Fase 1:
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Lanjutan Tabel 2.2
Fase 2:
Menyajikan informasi.
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3:
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4:
Membimbing kelompok bekerja dan belajar.
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas.
Fase 5:
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6:
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu kelompok.

(Zainuddin & Suriasa, 2007: 31)
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, yaitu:
(1) Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas hasil belajar akademis penting lainnya..
(2) Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya.
(3) Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam pengembangan keterampilan sosial (Amri & Ahmadi, 2010).

Pembelajaran kooperatif dikembangkan dari teori ketergantungan sosial (social interdependence) yang berasal dari kerja Lewin (1930-an) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Deutsch. Dalam teorinya Lewin menyatakan bahwa kelompok sesungguhnya merupakan kesatuan yang dinamis. Kelakuan anggota kelompok adalah interaktif sehingga akan membuahkan hasil yang jauh lebih besar jika setiap anggota bekerja sama daripada jumlah kerja individual. Berdasarkan teori ini Deutsch mengembangkan teori baru yang menyatakan bahwa ketika beberapa orang bekerja sama hasilnya akan meningkat drastis daripada bekerja sendiri-sendiri atau berkompetisi satu dengan yang lain. Teori ini kemudian diadopsi peneliti pendidikan untuk meningkatkan pencapaian belajar siswa.

Artikel singkat ini berusaha menjelaskan tentang tujuan pembelajaran kooperatif

Metode pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran kooperatif, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial.

a. Hasil Belajar Akademik
Dari berbagai metode yang digunakan dalam pembelajaran ekonomi, pembelajaran kooperatif merupakan metode alternatif untuk mencapai tujuan pembelajaran ekonomi antara lain meningkatkan kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain, dan pada saat yang sama dapat meningkatkan prestasi akademik. Hal ini dikarenakan bahwa metode pembelajaran kooperatif sesuai untuk pelajaran ekonomi karena memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pembelajaran ekonomi dan penerapannya pada dunia ril.

Ada beberapa dugaan tantang faktor yang menyebabkan lebih tingginya prestasi akdemik dalam metode pembelajaran kooperatif jika dibandingkan dengan metode lainnya. Dari perspektif perkembangan metode pembelajaran kooperatif, pengaruh pembelajaran kooperatif pada prestasi siswa sebagian besar disebabkan oleh penggunaan tugas terstruktur.

Dalam pandangan ini kesempatan bagi siswa untuk berdiskusi, berdebat, mengemukakan pendapat dan mendengarkan pendapat orang lain merupakan unsur penting dari pembelajaran kooperatif yang menyebabkan meningkatnya prestasi akademik. Dalam kegiatan tersebut siswa lebih banyak dirangsang dengan membaca, mendengar, dan berdiskusi. Informasi yang diulang-ulang dengan bantuan teman dengan bahasa yang mudah dipahami dapat menyebabkan siswa banyak terlibat dalam penerimaan informasi.

b. Penerimaan Terhadap Perbedaan Individu
Metode pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dalam kondisi untuk saling bekerja, saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif dan belajar untuk menghargai satu sama lain.

Maka, untuk dapat merealisasikan hal tersebut dalam metode Cooperative Learning dibentuk kelompok kooperatif yang heterogen, yang berfungsi untuk penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidak mampuan.

c. Pengembangan Keterampilan Sosial
Tujuan utama pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki dalam masyarakat, karena sebagai manusia kita membutuhkan orang lain dan perlu bekerja sama dengan orang lain.

Ada banyak alasan mengapa pembelajaran kooperatif dikembangakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson (1984) melalui metode meta-analisis menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif sebagaimana berikut ini:
1. Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial.
2. Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati
3. Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial dan pandangan.
4. Memungkinkan terbentuknya dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
5. Meningkatkan keterampilan meta-kognitif
6. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois dan egosentris.
7. Meningkatkan kepekaan dan kesetiaan sosial
8. Membebaskan siswa dari penderitaan akibat kesendirian atau keterasingan.
9. Dapat Menjadi acuan bagi perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
10. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa.
11. Mencegah timbulnya gangguan.
12. Menimbulkan perilaku rasional dimasa remaja.
13. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekkan.
14. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
15. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
16. Meningkatkan keyakinan terhadap ide atau gagasan sendiri.
17. Meningkatkan perasaan penuh makna mengenai arah dan tujuan hidup.
18. Meningkatkan kesedian menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
19. Meningkatkan motivasi belajar intrinsik
20. Menigkatkan kegemaran berteman tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, etnis, kelas sosial, agama dan orientasi tugas.
21. Mengembangkan kesadaran bertanggung jawab dan saling menjaga perasaan.
22. Meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.
23. Meningkatkan keterampilan hidup bergotong royong
24. Meningkatkan kesehatan psikologi
25. Meningkatkan sikap tenggang rasa.
26. Meningkatkan kemampuan berfikir divergen atau berfikir kreatif.
27. Memungkinkan siswa mampu mengubah pandangan klise dan streotip menjadi pandangan yang dinamis dan realistis.
28. Meningkatkan rasa harga diri (self-system) dan penerimaan diri (self-acceptance).
29. Memberikan harapan yang lebih besar terhadap terbentuknya sikap dewasa yang mampu menjalin hubungan dengan sesamanya, baik ditempat kerja maupun di lingkungan masyarakat.
30. Meningkatkan hubungan positif antar siswa dan guru dan personel sekolah.
31. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya sebagai penunjang keberhasilan akademik tetapi juga perkembangan kepribadian yang sehat dan terintegrasi.
32. Meningkatkan pandangan siswa terhadap guru yang bukan hanya mengajar tetapi juga mendidik.

Dipublikasikan Oleh:

M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang


Demikian Artikel singkat tentang tujuan pembelajaran kooperatif ini. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang tujuan pembelajaran kooperatif.