Arsip

Pendidikan Agama


Hampir terdapat kesepakatan di kalangan para ahli bahwa pendidikan merupakan faktor penentu yang paling dominan bagi kemajuan dan kemunduran suatu bangsa. Berbagai persoalan rumit yang dihadapi suatu bangsa pasti dapat dilacak akar-akarnya pada problem yang terjadi dalam dunia pendidikannya. Memang ia bukan satu-satunya faktor. Tetapi, setiap persoalan kompleks, seperti krisis multidimensi yang kini tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia, dapat dipastikan sebabnya adalah kompleks juga. Ia bagaikan lingkaran setan yang tidak berujung pangkal. Tetapi, jika kita benar-benar hendak keluar dari musibah semacam ini, kita harus berani memutus satu titik dari mata rantai lingkaran setan tersebut, dan itu adalah bidang pendidikan.

Membincangkan pendidikan dalam konteks Indonesia tidak akan terlepas dari pembahasan mengenai pendidikan pesantren; sebuah sistem pendidikan yang memiliki akar historis dalam tradisi dan budaya bangsa ini. Sehingga, pesantren disebut sebagai sistem pendidikan yang indigenous.

Dalam perjalanannya yang panjang, lembaga pendidikan pesantren telah berkiprah secara signifikan pada zaman-zaman yang dilaluinya; baik sebagai lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran Islam, sebagai kubu pertahanan Islam, sebagai lembaga perjuangan dan dakwah, maupun sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Kiprah positif semacam ini harus tetap dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Tetapi persoalannya adalah bagaimana hal itu dilakukan ketika berhadapan dengan tantangan yang semakin rumit dan perubahan yang berlangsung begitu cepat sebagai dampak dari modernisasi?

Tulisan berikut ini akan berusaha membahas secara singkat mengenai pendidikan pesantren di era modern dengan menumpukan perhatian pada pembacaan penerapan konsep-konsep pendidikan modern dalam lembaga pendidikan pesantren yang juga sering disebut sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam.

***
Secara umum pesantren atau pondok didefinisikan sebagai “lembaga pendidikan Islam dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai titik pusat yang menjiwainya.” Sebagai lembaga yang mengintegrasikan seluruh pusat pendidikan, pendidikan pesantren bersifat total, mencakup seluruh bidang kecakapan anak didik; baik spiritual (spiritual quotient), intelektual (intellectual quotient), maupun moral-emosional (emotional quotient). Untuk itu, lingkungan pesantren secara keseluruhannya adalah lingkungan yang dirancang untuk kepentingan pendidikan. Sehingga segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga seluruh penghuni pesantren, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan cara ini pesantren telah mewujudkan sebuah masyarakat belajar yang kini dikenal dengan istilah learning society.

Demikian pula ketika proses penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran di dunia pesantren dicermati secara lebih mendalam dan kemudian dicoba dibaca dengan menggunakan paradigma belajar (learning paradigm) yang lebih modern sebagaimana dirumuskan dalam empat visi pendidikan menuju abad 21 versi UNESCO, akan ditemukan bahwa proses-proses belajar modern tersebut bukanlah benda asing dalam pendidikan pesantren yang tradisional itu.

Pertama, proses belajar yang bersifat teoritis dan berorientasi pada pengetahuan rasional dan logis (learning to know/think) adalah sesuatu yang inheren dalam pendidikan pesantren. Di pesantren para santri bukan hanya belajar untuk mengetahui, tetapi juga belajar untuk menyatakan pendapat secara kritis melalui berbagai media yang disediakan untuk itu. Istilah-istilah dalam tradisi dan sistem belajar di pesantren yang disebutkan berikut ini dapat mecerminkan apa yang dimaksudkan dengan paradigma belajar ini. Di antara istilah tersebut adalah sorogan, bandongan atau weton, dan halaqah, di samping istilah khithabah, munazharah, atau juga bahtsul masail. Sedangkan dalam tradisi pesantren yang sudah mengembangkan pendidikan modern tentu saja hal ini juga didapati dalam istilah-istilah yang berbeda.

Kedua, belajar untuk melakukan atau berbuat sesuatu (learning to do). Visi ini lebih terkait dengan sisi praktis dan teknis yang pencapaiannya dilakukan melalui pembekalan santri dengan ketrampilan-ketrampilan yang dapat membantunya menyelesaikan persoalan-persoalan keseharian yang dihadapinya. Ini tercermin, misalnya, dalam pendidikan kemandirian yang sangat kentara dalam kehidupan keseharian santri dari pagi hingga ke pagi lagi.
Ketiga, learning to live together. Pendidikan ini bermaksud menanamkan kesadaran bahwa kita hidup dalam sebuah masyarakat global dengan aneka ragam latar belakang sosial, budaya, bahasa, suku, bangsa, dan agama. Dalam kehidupan masyarakat yang demikian ini, nilai-nilai toleransi, tolong-menolong, persaudaraan, saling menghormati, dan perdamaian harus dijunjung tinggi oleh setiap orang. Dalam kaitan ini maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pesantren merupakan pioner bagi terciptanya suatu tatanan kehidupan masyarakat plural yang harmonis. Sebab, selain masalah agama, seluruh keanekaragaman latarbelakang yang disebutkan di atas terdapat dalam masyarakat didik di pesantren, dan semuanya hidup dalam suasana yang damai dan harmonis.

Keempat, learning to be. Visi ini sangat kental hubungannya dengan dunia pesantren. Karena visi belajar yang secara harfiah berarti “belajar menjadi diri sendiri” ini pada intinya adalah pendidikan untuk membentuk sosok pribadi yang berakhlak karimah. Sejak semula pesantren adalah lembaga yang menjadi kawah penempaan akhlak mulia, dan perjalanan waktu telah membuktikan keberhasilan pesantren dalam menjalankan misi ini. Sehingga pesantren dapat disebut sebagai basis pertahanan akhlak dan moral bangsa pada masa-masa krtitis. Pendidikan ini jelas sangat penting di tengah derasnya arus kehidupan modern yang serba permisif dan hedonis.

Selanjutnya para ahli menyimpulkan keempat visi belajar tersebut menjadi satu kata kunci yang mencakup semuanya, yaitu learning how to learn, artinya belajar bagaimana belajar. Di sini anak didik menjadi pembelajar sejati, dia dapat belajar mengenai apa saja, dari siapa dan apa saja, kapan saja, dan di mana saja. Proses belajar telah menjadi suatu sikap kepribadian dan karakter yang melekat pada diri seorang peserta didik. Bagi pembelajar sejati ini, alam adalah sebuah sekolah yang besar (al-`alam madrasatun kubra). Disadari atau tidak, kepemilikan ketrampilan hidup (life skill) berupa learning how to learn ini telah menjadi ciri yang menonjol dari para lulusan pendidikan pesantren. Learning how to learn sebagai ketrampilan hidup ini ditanamkan di pesantren melalui berbagai cara; dari pengajaran formal, pengajian, pengarahan, pembimbingan, penugasan, pelatihan, penataran, dan seterusnya bahkan terkadang juga pemaksaan. Sehingga, seperti telah disebutkan di atas, “segala yang didengar, dilihat, dirasakan, dikerjakan, dan dialami para santri, bahkan juga seluruh penghuni pesantren, adalah dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan”. Dengan cara inilah ketrampilan learning how to learn itu disemaikan.

Pada tataran lain, para ahli pendidikan saat ini juga tengah gencar menggalakkan pelaksanaan konsep-konsep pendidikan modern semisal menejemen berbasis sekolah (school based management), pendidikan berbasis sekolah (school based education), ataupun pendidikan berbasis masyarakat (community based education). Sekali lagi, jika diperhatikan secara seksama, konsep-konsep ini pada dasarnya bukanlah sesuatu yang sama sekali tidak dikenal oleh dunia pesantren. Istilah-istilahnya saja yang baru, tetapi maksud dan isinya sebenarnya telah menjadi ciri khas sistem pendidikan pesantren dengan tingkat intensitas penerapannya yang bervariasi.

Demikian pula dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum), yaitu penyusunan kurikulum yang didasarkan pada kemampuan dasar minimal yang harus dikuasai oleh seorang peserta didik setelah yang bersangkutan menamatkan satu unit pelajaran, satu satuan waktu, dan atau satu satuan pendidikan. Meski belum sepenuhnya diterapkan sesuai dengan tuntutan rumusan konsep mengenai hal ini, nuansanya telah dapat dicermati dalam sistem pendidikan pesantren. Contohnya seorang santri di kelas tertentu mesti sudah menguasai ketrampilan atau kecakapan akademik tertentu, memiliki kualitas spiritual tertentu, dan memiliki karakter tertentu pula.

Tetapi ini tidak berarti bahwa pendidikan pesantren telah memiliki segalanya. Sebab kenyataannya banyak pesantren di mana baginya konsep-konsep sebagaimana dibahas di atas hanya berupa potensi yang belum diaktualisasikan, dan banyak juga yang telah mengaktualisasikannya tetapi belum disertai dengan kesadaran, ataupun dengan kesadaran yang rendah; sedangkan di sisi lain perubahan berlangsung begitu cepat dan tantangan yang dihadapi pesantren juga semakin berat. Karena itu, sudah semestinya pesantren selalu berintropeksi dan melakukan otokritik agar tetap dapat berkiprah secara positif dalam membangun umat dan bangsa ke depan. Wallahu a`lam bi al-shawab.

Oleh: Dr. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A.
Pimpinan Pondok Modern Gontor
Disampaikan dalam Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren se Jawa Tengah dengan Tema “Kontribusi Pondok Pesantren dalam Pengembangan Pendidikan Nasional”, diselenggarakan oleh Sekretariat Daerah Pemerintah Propinsi Jawa Tengah, Kamis, 16 Oktober 2003, di Gedung B Lantai V Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jl. Pahlawan No. 9, Semarang.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Sejak pemikiran manusia memasuki tahap positif dan fungsional sekitar abad ke-18, pendidikan (baca: pendidikan agama) mulai digugat eksistensinya. Suasana kehidupan modern dengan kebudayaan massif serta terpenuhinya berbagai mobilitas kehidupan secara teknologis-mekanis, pada satu sisi telah melahirkan krisis etika dan moral. Meminjam bahasanya Zainuddin, Manusia di penjuru dunia ini cenderung mengabaikan aturan-aturan yang diberikan oleh Tuhan dan memisahkan fungsi pengaturan kehidupan dari campur tangan agama (sekuler ).

Dalam konteks ke-Indonesiaan, badai krisis tersebut puncak kulminasinya terjadi pada bulan Mei 1998 berupa kerusuhan yang telah memporak-porandakan tatanan nilai agama dan masyarakat. Etika dan tatakrama yang selama ini terinternalisasi dalam budaya anak bangsa yang santun, berubah menjadi gugusan retorika yang tak bermakna. Bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ber- tipikal Qur’anik karena indahnya kehidupan di tengah kondisi bangsa yang serba plural, menjadi bangsa kanibal (pemangsa sesamanya) yang menakutkan dan menjijikkan.

Krisis moral tersebut tidak hanya melanda masyarakat lapisan bawah (grass root), tetapi juga meracuni atmosfir birokrasi negara mulai dari level paling atas sampai paling bawah. Munculnya fenomena white collar crimes (kejahatan kerah putih atau keja¬hatan yang dilakukan oleh kaum berdasi, seperti para eksekutif, birokrat, guru, politisi atau yang setingkat dengan mereka), serta isu KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang dilakukan oleh para elit, merupakan indikasi kongkrit bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensional.

Realitas di atas mendorong timbulnya berbagai gugatan terhadap efektivitas pendidikan agama yang selama ini dipandang oleh sebagian besar masyarakat telah gagal dalam membangun afeksi anak didik dengan nilai-nilai yang eternal serta mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah (aktual). Terlebih lagi dalam hal ini, dunia pendidikan yang mengemban peran sebagai pusat pengembangan ilmu dan SDM, pusat sumber daya penelitian dan sekaligus pusat kebudayaan kurang berhasil dalam mengemban misinya. Sistem pendidikan yang dikembangkan selama ini lebih mengarah pada pengisian kognitif mahasiswa un-sich, sehingga melahirkan lulusan yang cerdas tetapi kurang bermoral. Aspek afeksi dan psikomotor yang sangat vital keberadaannya terabaikan begitu saja.

Fenomena di atas tidak terlepas dari adanya pemahaman yang kurang benar tentang agama (religi) dan keberagaan (religiusitas). Agama sering kali dimaknai secara dangkal, tekstual dan cenderung esklusif. Nilai-nilai agama hanya dihafal sehingga hanya berhenti pada wilayah kognisi, tidak sampai menyentuh aspek afeksi dan psikomotorik.
Keberagamaan (religiusitas) tidak selalu identik dengan agama. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan, dalam aspek yang resmi, yuridis, peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya. Sedangkan keberagamaan atau religiusitas lebih melihat aspek yang “di dalam lubuk hati nurani” pribadi. Dan karena itu, religiusitas lebih dalam dari agama yang tampak formal.

Istilah nilai keberagamaan (religius) merupakan istilah yang tidak mudah untuk diberikan batasan secara pasti. Ini disebabkan karena nilai merupakan sebuah realitas yang abstrak. Secara etimologi nilai keberagamaan berasal dari dua kata yakni: nilai dan keberagamaan. Menurut Rokeach dan Bank bahwasannya nilai merupakan suatu tipe kepercayaan yang berada pada suatu lingkup sistem kepercayaan di mana seseorang bertindak untuk menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang dianggap pantas atau tidak pantas. Ini berarti pemaknaan atau pemberian arti terhadap suatu objek. Sedangkan keberagamaan merupakan suatu sikap atau kesadaran yang muncul yang didasarkan atas keyakinan atau kepercayaan seseorang terhadap suatu agama.
Menurut Gay Hendricks dan Kate Ludeman dalam Ari Ginanjar, terdapat beberapa sikap agama yang tampak dalam diri seseorang dalam menjalankan tugasnya, di antaranya:

a. Kejujuran
Rahasia untuk meraih sukses menurut mereka adalah dengan selalu berkata jujur. Mereka menyadari, justru ketidakjujuran kepada pelanggan, orangtua, pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya akan mengakibatkan diri mereka sendiri terjebak dalam kesulitan yang berlarut-larut. Total dalam kejujuran menjadi solusi, meskipun kenyataan begitu pahit.
b. Keadilan
Salah satu skill seseorang yang religius adalah mampu bersikap adil kepada semua pihak, bahkan saat ia terdesak sekalipun. Meraka berkata, “pada saat saya berlaku tidak adil, berarti saya telah mengganggu keseimbangan dunia.
c. Bermanfaat bagi Orang Lain
Hal ini merupakan salah satu bentuk sikap religus yang tampak dari diri seseorang. Sebagaimana sabda Nabi saw: “sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain”.
d. Rendah Hati
Sikap rendah hati merupakan sikap tidak sombong mau mendengarkan pendapat orang lain dan tidak memaksakan gagasan atau kehendaknya. Dia tidak merasa bahwa dirinyalah yang selalu benar mengingat kebenaran juga selalu ada pada diri orang lain.
e. Bekerja Efisien
Mereka mampu memusatkan semua perhatian mereka pada pekerjaan saat itu, dan begitu juga saat mengerjakan pekerjaan selanjutnya. Mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan santai, namun mampu memusatkan perhatian mereka saat belajar dan bekerja.
f. Visi ke Depan
Mereka mampu mengajak orang ke dalam angan-angannya. kemudian menjabarkan bagitu terinci, cara-cara untuk menuju kesana. Tetapi pada saat yang sama ia dengan mantap menatap realitas masa kini.
g. Disiplin Tinggi
Mereka sangatlah disiplin. Kedisiplinan mereka tumbuh dari semangat penuh gairah dan kesadaran, bukan berangkat dari keharusan dan keterpaksaan. Mereka beranggapan bahwa tindakan yang berpegang teguh pada komitmen untuk diri sendiri dan orang lain adalah hal yang dapat menumbuhkan energi tingkat tinggi
h. Keseimbangan
Seseorang yang memiliki sifat beragama sangat menjaga keseimbangan hidupnya, khusunya empat aspek inti dalam kehidupannya, yaitu: keintiman, pekerjaan, komunitas dan spiritualitas.

Dalam kontek pembelajaran, beberapa nilai agama tersebut bukankan tanggung jawab guru agama semata. Kejujuran tidak hanya disampaikan lewat mata pelajaran agama saja, tetapi juga lewat mata pelajaran lainnya. Misalnya seorang guru matematika mengajarkan kejujuran lewat rumus-rumus pasti yang menggambarkan suatu kondisi yang tidak kurang dan tidak lebih atau apa adanya. Begitu juga seorang guru ekonomi bisa menanamkan nilai-nilai keadilan lewat pelajaran ekonomi. Seseorang akan menerima untung dari suatu usaha yang dikembangkan sesuai dengan besar kecilnya modal yang ditanamkan. Dalam hal ini, aspek keadilanlah yang diutamakan.

Keberagamaan atau religiusitas seseorang diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupannya. Aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati seseorang.

Menurut Nurcholis Madjid, agama bukanlah sekedar tindakan-tindakan ritual seperti shalat dan membaca do’a. Agama lebih dari itu, yaitu keseluruhan tingkah laku manusia yang terpuji, yang dilakukan demi memperoleh ridla atau perkenan Allah. Agama dengan demikian meliputi keseluruhan tingkah laku manusia dalam hidup ini, yang tingkah laku itu membentuk keutuhan manusia berbudi luhur atas dasar percaya atau iman kepada Allah dan tanggung jawab pribadi di hari kemudian.

Dewasa ini telah muncul suatu kajian agama yang menggunakan antropologi dan sosiologi sebagai basis pendekatannya. Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya untuk memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan serta memberikan jawabannya. Dengan kata lain, cara yang digunakan disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah, dapat pula digunakan untuk memahami agama. Untuk itu, Berbagai pendekatan dalam memahami agama yang selama ini digunakan, akan dipandang pincang tanpa memahami realitas yang melingkupi manusia yang tercermin dari budayanya.

Dari beberapa penjelasan di atas dapat dipahami bahwa nilai agama adalah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan tumbuh-kembangnya kehidupan beragama yang terdiri dari tiga unsur pokok yaitu aqidah, ibadah dan akhlak yang menjadi pedoman perilaku sesuai dengan aturan-aturan Illahi untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup di dunia dan akhirat.
Bila nilai-nilai agama tersebut telah tertanam pada diri siswa dan dipupuk dengan baik, maka dengan sendirinya akan tumbuh menjadi jiwa agama.

Dalam hal ini jiwa agama merupakan suatu kekuatan batin, daya dan kesanggupan dalam jasad manusia yang menurut para ahli Ilmu Jiwa Agama, kekuatan tersebut bersarang pada akal, kemauan dan perasaan. Selanjutnya, jiwa tersebut dituntun dan dibimbing oleh peraturan atau undang-undang Illahi yang disampaikan melalui para Nabi dan Rosul-Nya untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan baik di kehidupan dunia ini maupun dan di akhirat kelak.

Bila jiwa agama telah tumbuh dengan subur dalam diri siswa, maka tugas pendidik selanjutnya adalah menjadikan nilai-nilai agama sebagai sikap beragama siswa. Sikap keberagamaan merupakan suatu keadaan yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan kadar ketaatannya kepada agama. Sikap keagamaan tersebut karena adanya konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif, perasaan terhadap agama sebagai unsur afektif dan perilaku terhadap agama sebagai unsur konatif/ psikomotorik. Jadi sikap keagamaan pada anak sangat berhubungan erat dengan gejala kejiwaan anak yang terdiri dari tiga aspek tersebut.

Rujukan:
1. Zainuddin, Tantangan Pendidikan Tinggi Islam Pada Millenium Ketiga, dalam tabloid GEMA STAIN Malang, edisi Mei-Juni 2000, 2.
2. Moh. Yunus, ”Pluralitas Agama dan Kekerasan Kolektif, Perspektif Sosiolagi Agama”, Dalam majalah el-Harakah STAIN Malang, Edisi April – Juni 2000, 26.
3. Lihat dalam A. Qodri Azizy, Pendidikan (Agama) Untuk Membangun Etika Sosial :Mendidik Anak Sukses Masa Depan : Pandai dan Bermanfaat, (Semarang: Aneka Ilmu, 2002), 8-14.
4. Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT. RemajaRosdakarya: 2004), 288.
5. Madyo Ekosusilo, Hasil Penelitian Kualitatif Sekolah Unggul Berbasis Nilai (Studi Multi Kasus di SMA Negeri 1, SMA Regia Pacis, dan SMA Al Islam 01 Surakarta), Sukoharjo: Univet Bantara Press, 2003), 22.
6. Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangkitkan ESQ Power: Sebuah Inner Journey Melalui Ihsan, (Jakarta: ARGA, 2003), 249.
7. Djamaluddin Ancok, Psikologi Islami, Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi, Cet. II, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 76.
8. Nurcholis Madjid, Masyarakat Religius, ( Jakarta: Paramadina, 1997), 124.
9. Akhmad Taufiq, et. Al., Metodologi Studi Islam, (Malang: Bayumedia Publishing, 2004), 15.
10. Jamhari Ma’ruf, “Pendekatan Antropologi Dalam Kajian Islam,” http://www.ditpertais.net/artikel/ jamhari01.asp, (diakses pada 17 September 2007), 1.
11. Muhaimin dan Abdul Mudjib, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalnya, (Bandung: Triganda Karya, 1993), 35.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


Di dalam Qolbu terhimpun perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qolbu, yaitu dengan cara penyucian jiwa (Tazkiyah An Nafs) yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela.

Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah (jiwa yang mencela) dan akhirnya menjadi An Nafs Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah (Dzikrullah).

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk pencerahan Qolbu adalah, antara lain :
1. Biasakan sekuat daya untuk melakukan pembersihan atau pelurusan Qalbu.
2. Senantiasa berkemauan kuat untuk meningkatkan kemampuan (keprofesionalan) diri dalam bidang apapun. (Valiuddin, 2000 : 225)

Realisasi kunci pertama dilakukan dengan berusaha untuk introspeksi (penilaian) diri dengan tekad untuk memperbaiki diri. Penilaian diri dimulai dari lingkungan yang terkecil seperti keluarga. Setelah lingkungan keluarga, penilaian diri diperluas ke saudara-saudara terdekat dan kemudian orang-orang di sekitar kita. Yakinlah bahwa semakin diri dapat dibuat terbuka, dapat menerima kritikan dengan keikhlasan, Insya Allah perkembangan kemampuan diri akan semakin baik. Untuk pembersihan hati ada lima tahap yang perlu ditempuh, antara lain :
1. Adanya tekad kuat untuk memahami dan memperbaiki diri serta membersihkan hati.
2. Memiliki “ilmu” mengenai pemahaman atau pengenalan diri. Sebab seseorang dapat membersihkan hati melalui perbaikan diri secara kontinu jika telah menyadari keadaan dirinya.
3. Menafakuri diri sendiri melalui evaluasi diri dengan bekal ilmu (tentang pengendalian diri) yang dimilikinya.
4. Proses mengevaluasi diri perlu untuk diperluas. Dengan kata lain, evaluasi diri dibicarakan secara terbuka dan bersama-sama sehingga proses pembersihan Qalbu semakin efektif.
5. Berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu bagaimana diri mau belajar dari diri orang lain. (Gymnastiar, 2002 : 235 – 239)

Sedangkan untuk kunci yang kedua diperlukan adanya kejujuran sebagai modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari (Gymnastiar, 2002 : 2). Manajemen Qalbu tidak hanya membentuk manusia yang ahli dzikir dan ahli fikir tetapi juga manusia yang ahli ikhtiar. Hal ini akan berkaitan dengan amal nyata dan karya nyata melalui proses pelatihan bidang untuk peningkatan kualitas keprofesionalan (Gymnastiar, 2002 : 106 – 108)

Adapun bentuk pelaksanaan Manajemen Qolbu yang bersifat kelompok, dilaksanakan dengan sistem ta’lim yang dibagi ke dalam beberapa kelompok lain. Materi yang diberikan bertendensi kepada pembentukan akhlak seperti ; kesabaran, kejujuran, keteladanan. Ayat-ayat dan hadits-hadits pendukung juga disiapkan dalam materi tersebut. Ada tiga materi pokok yang terkait dengan Manajemen Qolbu yaitu keutamaan hati, mengenal potensi manusia dan potensi diri sendiri serta pengenalan diri (Gymnastiar, 2002 : 103 – 106).

Di dalam Qolbu terhimpun perasaan moral, mengalami dan menghayati tentang salah-benar, baik buruk serta berbagai keputusan yang harus dipertanggung jawabkannya secara sadar, sehingga kualitas Qalbu akan menentukan apakah dirinya bisa tampil sebagai subjek, bahkan sebagai wakil Tuhan di muka bumi, ataukah terpuruk dalam kebinatangan yang hina. Untuk itu perlu upaya untuk membersihkan dan memberikan pencerahan Qolbu, yaitu dengan cara penyucian jiwa (Tazkiyah An Nafs) yang berarti menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji, sesudah membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Dengan kata lain diri dibersihkan dari kotoran dan kerusakannya diubah menjadi An Nafs Al Lawwamah (jiwa yang mencela) dan akhirnya menjadi An Nafs Al Muthma’innah. Selanjutnya adalah dengan cara menghapus kecintaan terhadap dunia serta menghilangkan segenap kesedihan, kedukaan dan kekhawatiran atas segala sesuatu yang tidak berguna yaitu dengan cara senantiasa dan terus menerus mengingat Allah (Dzikrullah).

Adapun upaya lain yang dapat dilakukan untuk pencerahan Qolbu adalah, antara lain :
1. Biasakan sekuat daya untuk melakukan pembersihan atau pelurusan Qalbu.
2. Senantiasa berkemauan kuat untuk meningkatkan kemampuan (keprofesionalan) diri dalam bidang apapun. (Valiuddin, 2000 : 225)

Realisasi kunci pertama dilakukan dengan berusaha untuk introspeksi (penilaian) diri dengan tekad untuk memperbaiki diri. Penilaian diri dimulai dari lingkungan yang terkecil seperti keluarga. Setelah lingkungan keluarga, penilaian diri diperluas ke saudara-saudara terdekat dan kemudian orang-orang di sekitar kita. Yakinlah bahwa semakin diri dapat dibuat terbuka, dapat menerima kritikan dengan keikhlasan, Insya Allah perkembangan kemampuan diri akan semakin baik. Untuk pembersihan hati ada lima tahap yang perlu ditempuh, antara lain :
1. Adanya tekad kuat untuk memahami dan memperbaiki diri serta membersihkan hati.
2. Memiliki “ilmu” mengenai pemahaman atau pengenalan diri. Sebab seseorang dapat membersihkan hati melalui perbaikan diri secara kontinu jika telah menyadari keadaan dirinya.
3. Menafakuri diri sendiri melalui evaluasi diri dengan bekal ilmu (tentang pengendalian diri) yang dimilikinya.
4. Proses mengevaluasi diri perlu untuk diperluas. Dengan kata lain, evaluasi diri dibicarakan secara terbuka dan bersama-sama sehingga proses pembersihan Qalbu semakin efektif.
5. Berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu bagaimana diri mau belajar dari diri orang lain. (Gymnastiar, 2002 : 235 – 239)

Sedangkan untuk kunci yang kedua diperlukan adanya kejujuran sebagai modal dasar untuk membentuk jiwa yang tangguh, penuh dedikasi dan disiplin dalam menjalankan kerja sehari-hari (Gymnastiar, 2002 : 2). Manajemen Qalbu tidak hanya membentuk manusia yang ahli dzikir dan ahli fikir tetapi juga manusia yang ahli ikhtiar. Hal ini akan berkaitan dengan amal nyata dan karya nyata melalui proses pelatihan bidang untuk peningkatan kualitas keprofesionalan (Gymnastiar, 2002 : 106 – 108)

Adapun bentuk pelaksanaan Manajemen Qolbu yang bersifat kelompok, dilaksanakan dengan sistem ta’lim yang dibagi ke dalam beberapa kelompok lain. Materi yang diberikan bertendensi kepada pembentukan akhlak seperti ; kesabaran, kejujuran, keteladanan. Ayat-ayat dan hadits-hadits pendukung juga disiapkan dalam materi tersebut. Ada tiga materi pokok yang terkait dengan Manajemen Qolbu yaitu keutamaan hati, mengenal potensi manusia dan potensi diri sendiri serta pengenalan diri (Gymnastiar, 2002 : 103 – 106).

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Guru agama Islam merupakan figur pemimpin yang mana disetiap perkataan atau perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik, maka disamping berprofesi sebagai guru, seorang guru agama hendaklah menjaga kewibawaannya agar jangan sampai seorang guru agama islam melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.

A. Tugas Guru Agama Islam
Secara umum tugas guru agama Islam adalah mendidik, yaitu mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi psikomotorik, kognitif maupun potensi afektif. Potensi ini harus dikembangkan secara seimbang sampai ketingkat tinggi.

Tugas guru agama Islam sebagai pendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup kepada anak didik. Tugas sebagai pengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada anak didik.

Sebagai pengajar guru harus memahami karakter dan arti dari mengajar, dan mengetahui teori-teori mengajar serta dapat melaksanakannya. Dengan mengetahui dan mendalaminya, guru akan lebih berhati-hati dalam menjalankan tugasnya dan dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan yang telah dilakukannya.

Menurut Prof. Dr. S. Nasution MA ada beberapa prinsip umum untuk tugas semua guru, yaitu:
1. Guru harus memahami dan menghargai murid (siswa). Mengajar adalah suatu hubungan antar manusia. Anak didik adalah manusia yang berhak atas perlakuan baik dari guru karena kelak menjadi warga Negara yang dewasa yang mau menghormati orang lain. Guru yang baik adalah guru yang lebih bersifat demokratis yang banyak membicarakan dan mempertimbangkan sesuatu dengan anak didik.
2. Guru harus mempersiapkan bahan pelajaran yang akan diberikan dengan pengertian ia harus menguasai bahan itu sepenuhnya, jangan hanya mengenal isi buku pelajaran saja, melainkan juga mengetahui pemakaian dan kegunaannya bagi kehidupan anak dan manusia umumnya.
3. Guru harus mampu menyesuaikan metode mengajar dengan bahan pelajaran.
4. Guru harus mampu menyesuaikan bahan pelajaran dengan kesungguhan individu anak. Kesungguhan anak dalam berbagai hal berbeda-beda. Biasanya guru mencoba menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan rata-rata kelas. Bagi anak yang pandai pelajaran tertentu itu terlalu mudah, sedangkan bagi anak yang lambat dalam memahami pelajaran tersebut maka itu terasa sulit untuk menyesuaikan pelajaran dengan kemampuan individual, Kondisi yang demkian ini berarti yang harus diperhatikan bukan anak-anak yang lambat saja, akan tetapi juga anak-anak yang pandai, sehingga setiap anak dapat berkembang sesuai dengan kecepatan dan bakat masing-masing.
5. Guru harus mengaktifkan murid dalam hal belajar. Karena berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung aktif tidaknya murid tersebut. Kalau murid itu bisa aktif berarti apa yang telah disampaikan oleh guru tersebut dapat di mengerti oleh murid.
6. Guru harus menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan murid. Tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja tapi seorang guru harus bisa menyampaikan/ mengaitkan pelajaran yang diajarkan dengan kehidupan yang sering dilakukan murid dalam sehari-hari.
7. Guru harus memberi pengertian dan bukan hanya dengan kata-kata belaka. Karena kalau hanya dengan kata-kata/ bicara saja, itu tidak akan bisa membuat siswa itu mengerti dengan apa yang telah disampaikan oleh guru. Maka guru harus bisa memberikan pengertian apa maksud dari materi yang sudah diajarkan.
8. Guru harus merumuskan tujuan yang akan dicapai pada setiap mata pelajaran yang diberikan. Sehingga ketika dalam menyampaikan pelajaran, guru sudah mengerti tujuan dari pelajaran yang akan disampaikan dan tidak hanya mengajar saja, tapi juga ada tujuan yang ingin dicapai dari apa yang sudah diajarkan.
9. Guru jangan hanya terikat oleh satu teks book saja, sebab tujuan mengajar bukanlah mengusahakan agar anak-anak mengenal dan menguasai suatu tex book.
10. Tugas guru tidak hanya menguasai dalam arti menyampaikan pengetahuan saja kepada murid, melainkan senantiasa membentuk pribadi murid.
Dengan demikain, maka tugas guru adalah mendidik dan mengajar, yang bertujuan untuk mengubah tingkah laku anak kearah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Maka gurulah yang bertanggung jawab untuk menyediakan dan menciptakan lingkungan yang asri, nyaman dan menyenangkan agar terjadi proses belajar yang efektif.

Memperhatikan pentingnya perkembangan yang baik dan terarah suatu pendidikan di sekolah, maka guru agama Islam juga harus memperhatikan program dan rancangan kegiatan yang akan diberikan terhadap anak didik. Adapun program-program di sekolah yang harus dilakukan oleh guru agama Islam adalah sebagai berikut:
a. Membuat persiapan atau program pengajaran yang terdiri dari:
1) Program tahunan pelaksanaan kurikulum
2) Program semester/ catur wulan
3) Perencanaan program mengajar
b. Mengajar atau melaksanakan pengajaran
1) Menyampaikan materi (dalam GBPP)
2) Menggunakan metode mengajar
3) Menggunakan media/ sumber
4) Mengelola kelas/ mengelola interaksi belajar mengajar
c. Melaksanakan/ mengevaluasi hasil pengajaran
1) Menganalisa hasil evaluasi belajar
2) Melaporkan hasil evaluasi belajar
3) Melaksanakan program perbaikan dan pengayaan

Oleh karena itu jika dilihat lebih rinci lagi maka tugas guru agama Islam adalah:
a. Mengajarkan ilmu pengetahuan Islam
b. Menanamkan keimanan dalam jiwa anak
c. Mendidik anak agar taat menjalankan agama
d. Mendidik anak agar berbudi pekerti yang mulia

Dengan demikian tugas guru agama Islam tidak hanya mempersiapkan bahan pelajaran, melaksanakan/ menyampaikan materi pelajaran dan mengevaluasi hasil pengajaran. Akan tetapi, juga harus bisa menanamkan nilai-nilai keimanan dalam jiwa anak agar taat dalam menjalankan agama islam dan mendidik siswa agar memiliki akhlak yang mulia.

B. Tanggung jawab guru agama Islam
Guru adalah orang yang bertanggung jawab mencerdaskan kehidupan anak didik. Karena profesinya sebagai guru adalah berdasarkan panggilan jiwa untuk selalu mencintai, menghargai, menjaga dan meningkatkan tugas dan tanggung jawab profesinya. Menjadi tanggung jawab guru untuk memberikan sejumlah norma kepada anak didik agar tahu mana perbuatan yang susila dan asusila, mana perbuatan yang bermoral dan amoral.

Guru harus sadar bahwa tugas dan tanggung jawabnya tidak bisa dilakukan oleh orang lain, kecuali oleh dirinya. Demikian hendaklah ia menyadari bahwa dalam melaksanakan tugasnya selalu dituntut untuk bersungguh-sungguh dan bukan merupakan pekerjaan sampingan. Guru harus sadar bahwa yang dianggap baik ini, belum tentu benar di masa yang akan datang.

Adapun sebagai guru yang bertanggung jawab adalah guru yang memiliki beberapa sifat, yaitu:
a. Menerima dan mematuhi norma, nilai-nilai kemanusiaan
b. Memikul tugas mendidik dengan bebas, berani, gembira (tugas bukan menjadi beban baginya)
c. Sadar akan nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatannya serta akibat-akibat yang timbul (kata hati)
d. Menghargai orang lain, termasuk anak didik
e. Bijaksana dan hati-hati
f. Takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Dengan demikian, tanggung jawab guru agama Islam adalah bagimana membentuk anak didik agar menjadi orang yang bersusila, cakap, menghargai orang lain, berguna bagi agama, nusa dan bangsa baik dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Dengan begitu diharapkan lahir generasi – generasi muda yang berprestasi.

Rujukan:
1. S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar. Edisi IV, (Bandung: Jem Mars , 1982), hlm. 12-17
2. Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997),
hlm. 9
3. Zuhairini, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya: Usaha Nasional, 1983),
hlm. 35
4. Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru, 1989), hlm. 16

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber
: www.kabar-pendidikan.blogspot.com,
www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com


Menjadi guru berdasarkan tuntutan hati nurani tidaklah semua orang dapat melakukannya, karena orang harus merelakan sebagian besar dari seluruh hidup dan kehidupannya mengabdi kepada Negara dan bangsa guna mendidik anak didik menjadi manusia susila yang cakap, demokratis, dan bertanggung jawab atas pembangunan dirinya dan pembangunan bangsa dan Negara.

Guru merupakan suatu jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang. Seorang dapat diangkat sebagai guru apabila telah memenuhi persyaratan sebagaimana yang dijelaskan dalam UUSPN No. 2 tahun 1989 Bab 7 Pasal 28 ayat 2 berikut ini:
“Untuk dapat diangkat sebagai tenaga pengajar, tenaga pendidik yang bersangkutan harus beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan pancasila dan UUD 1945 serta memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar.”

Berdasarkan UUSPN tersebut mengandung pengertian bahwa syarat-syarat menjadi seorang guru adalah:
1. Beriman dan bertakwa kepada Allah swt.
Guru, sesuai tujuan ilmu pendidikan Islam, tidak mungkin mendidik anak didik agar beriman dan bertakwa kepada Allah, jika ia sendiri tidak bertakwa kepada-Nya. Sebab guru adalah teladan bagi anak didiknya sebagaimana Rasulullah saw. Menjadi teladan bagi umatnya. Allah berfirman dalam surat Al- Ahzab ayat 21:
Artinya: ” Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Sejauh mana seorang guru mampu memberi teladan yang baik kepada semua anak didiknya, sejauh itu pulalah ia diperkirakan akan berhasil mendidik mereka agar menjadi generasi penerus bangsa yang baik dan mulia.
Mengenai ketakwaan seseorang itu juga dijelaskan dalam firman Allah surat Al- Imron ayat 102:
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.

2. Berwawasan pancasila dan UUD tahun 1945
Seorang guru harus menghayati pancasila dan UUD tahun 1945 dengan baik, sehingga bukan saja menjadi pengetahuan dan pemahaman yang baik, akan tetapi juga dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Wawasan pancasila dan UUD 1945 ini sangat penting sekali bagi seorang guru, karena guru tidak akan dapat mendidik siswa menjadi manusia pancasilais jika ia sendiri tidak berwawasan pancasila.
Hal itu sesuai dengan pendapat Oemar Hamalik, bahwa guru bertugas membentuk/ mendidik siswa menjadi manusia pancasilais sejati, karena kiranya tidak munghkin ia dapat melaksanakan tugasnya itu seandainya dia sendiri bukan orang pancasilais.

3. Memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar
Guru sebagai tenaga pengajar harus memiliki kualifikasi sebagai tenaga pengajar, yaitu disamping harus menguasai materi ilmu yang akan diajarkan, juga dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan mengajar, menguasai metode mengajar, dan hal-hal lain yang dapat menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.

Selain syarat guru di atas, M Ngalim Purwanto juga menambahkan beberapa persyaratan diataranya berijazah, sehat jasmani dan rohani, berkelakuan baik dan bertanggung jawab.
Persyaratan tersebut akan penulis jelaskan masing-masing sebagai berikut:
a. Berijazah
Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukan untuk suatu jabatan. Gurupun harus mempunyai ijazah agar ia diperbolehkan mengajar. Seorang guru harus memiliki pengetahuan yang luas, dimana pengetahuan itu nantinya dapat diajarkan kepada muridnya. Makin tinggi pendidikan atau ilmu yang guru punya, maka makin baik dan tinggi pula tingkat keberhasilan dalam memberikan pelajaran.

b. Sehat Jasmani dan rohani
Kesehatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar untuk menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular, umpamanya, sangat membahayakan kesehatan anak didiknya. Disamping itu guru yang berpenyakit tidak akan bergairah mengajar. Ingat pada semboyan “mens sana in corpore sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat terkandung jiwa yang sehat. Guru yang sakit-sakitan kerapkali terpaksa absent dan tentunya akan mengganggu kegiatan belajar mengajar dan merugikan anak didik. Begitu juga dengan guru yang cacat sedikit banyak akan mempengaruhi proses belajar mengajar, sehingga proses belajar mengajar tidak bisa maksimal.

c. Berkelakukan Baik
Diantara tujuan pendidikan yaitu membentuk akhlak yang mulia pada diri pribadi anak didik dan ini hanya mungkin bisa dilakukan jika pribadi guru berakhlak mulia pula. Guru yang tidak berakhlak mulia tidak mungkin dipercaya untuk mendidik. Diantara akhlak mulia guru tersebut adalah mencintai jabatannya sebagai guru, bersikap adil terhadap semua anak didiknya, berlaku sabar dan tenang, berwibawa, gembira, bersifat manusiawi, bekerjasama dengan guru-guru lain, bekerjasama dengan masyarakat. Dan bisa menjadi suri tauladan yang baik bagi anak didiknya.

Rujukan:
1. Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm 119
2. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988), hlm. 171
3. Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Angkasa, 1984), hlm. 39

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Sebelum penulis membicarakan tentang pengertian guru agama Islam, perlulah kiranya penulis awali dengan menguraikan pengertian guru agama secara umum, hal ini sebagai titik tolak untuk memberikan pengertian guru agama Islam.
a. Pengertian Guru secara ethimologi (harfiah) ialah orang yang pekerjaannya mengajar. Kemudian lebih lanjut Muhaimin menegaskan bahwa: seorang guru biasa disebut sebagai ustadz, mu`alim, murabbiy, mursyid, mudarris, dan mu`addib, yang artinya orang yang memberikan ilmu pengetahuan dengan tujuan mencerdaskan dan membina akhlak peserta didik agar menjadi orang yang berkepribadian baik.
b. Sedangkan pengertian guru ditinjau dari sudut therminologi yang diberikan oleh para ahli dan cerdik cendekiawan, adalah sebagai berikut:
1) Menurut Muhaimin dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar menguraikan bahwa guru adalah orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan siswanya, baik secara individual ataupun klasikal. Baik disekolah maupun diluar sekolah. Dalam pandangan Islam secara umum guru adalah mengupayakan perkembangan seluruh potensi/aspek anak didik, baik aspek cognitive, effective dan psychomotor.
2) Zakiah Daradjat dalam bukunya ilmu pendidikan Islam menguraikan bahwa seorang guru adalah pendidik Profesional, karenanya secara implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan.
3) Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam setiap melakukan pekerjaan yang tentunya dengan kesadaran bahwa yang dilakukan atau yang dikerjakan merupakan profesi bagi setiap individu yang akan menghasilkan sesuatu dari pekerjaannya. Dalam hal ini yang dinamakan guru dalam arti yang sederhana adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.
4) M. Ngalim Purwanto dalam bukunya Ilmu Pendidikan Praktis dan Teoritis menjelaskan guru adalah orang yang telah memberikan suatu ilmu/ kepandaian kepada yang tertentu kepada seseorang/ kelompok orang.

Dari rumusan pengertian guru diatas dapat disimpulkan bahwa guru adalah orang yang memberikan pendidikan atau ilmu pengetahuan kepada peserta didik dengan tujuan agar peserta didik mampu memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian apabila istilah kata guru dikaitkan dengan kata agama islam menjadi guru agama islam, maka pengertiannya adalah menjadi seorang pendidik yang mengajarkan ajaran agama Islam dan membimbing anak didik kearah pencapaian kedewasaan serta membentuk kepribadian muslim yang berakhlak mulia, sehingga terjadi keseimbangan antara kebahagiaan didunia dan kebahagiaan diakhirat.

Sebagai guru agama Islam haruslah taat kepada Tuhan, mengamalkan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Bagaimana ia akan dapat menganjurkan dan mendidik anak untuk berbakti kepada Tuhan kalau ia sendiri tidak mengamalkannya. Jadi sebagai guru agama islam haruslah berpegang teguh kepada agamanya, memberi teladan yang baik dan menjauhi yang buruk. Anak mempunyai dorongan meniru, segala tingkah laku dan perbuatan guru akan ditiru oleh anak-anak. Bukan hanya terbatas pada hal itu saja, tetapi sampai segala apa yang dikatakan guru itulah yang dipercayai murid, dan tidak percaya kepada apa yang tidak dikatakannya.

Dengan demikian seorang guru agama Islam ialah merupakan figure seorang pemimpin yang mana disetiap perkataan atau perbuatannya akan menjadi panutan bagi anak didik, maka disamping sebagai profesi seorang guru agama hendaklah menjaga kewibawaannya agar jangan sampai seorang guru agama islam melakukan hal-hal yang bisa menyebabkan hilangnya kepercayaan yang telah diberikan masyarakat.

Ahmad Tafsir mengutip pendapat dari Al-Ghazali mengatakan bahwa siapa yang memilih pekerjaan mengajar, ia sesungguhnya telah memilih pekerjaan besar dan penting. Karena kedudukan guru agama Islam yang demikian tinggi dalam Islam dan merupakan realisasi dari ajaran Islam itu sendiri, maka pekerjaan atau profesi sebagai guru agama Islam tidak kalah pentingnya dengan guru yang mengajar pendidikan umum.

Dengan demikian pengertian guru agama Islam yang dimaksud disini adalah mendidik dalam bidang keagamaan, merupakan taraf pencapaian yang diinginkan atau hasil yang telah diperoleh dalam menjalankan pengajaran pendidikan agama Islam baik di tingkat dasar, menengah atau perguruan tinggi. Guru merupakan jabatan terpuji dan guru itu sendiri dapat mengantarkan manusia menuju kesempurnaan dan dapat pula mengantarkannya menjadi manusia hakiki dalam arti manusia yang dapat mengemban dan bertanggung jawab atas amanah Allah.

Rujukan:
1. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm. 377
2. Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 44-49
3. Muhaimin, Strategi Belajar Mengajar (Surabaya: Citra Media, 1996), hlm. 70
4. Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Angkasa, 1984), hlm. 39
5. Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hlm. 31.
6. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1988), hlm. 169
7. Rachman Shaleh, Didaktik Pendidikan Agama Disekolah Dan Petunjuk Mengajar Bagi Guru Agama (Bandung: Pustaka Pelajar, 1969), hlm 142.
8. Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), hlm.76

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.kmp-malang.com www.arminaperdana.blogspot.com

Metode merupakan suatu alat dalam pelaksanaan pendidikan, yakni yang digunakan dalam penyampaian materi tersebut. Materi pelajaran yang mudah pun kadang-kadang sulit berkembang dan sulit diterima oleh peserta didik, karena cara atau metode yang digunakannya kurang tepat. Namun, sebaliknya suatu pelajaran yang sulit akan mudah diterima oleh peserta didik, karena penyampaian dan metode yang digunakan mudah dipahami, tepat dan menarik.

Dalam dunia pendidikan terdapat berbagai macam metode mengajar yang dalam penggunaannya harus disesuaikan dengan berbagai hal, seperti situasi dan kondisi kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, fasilitas yang tersedia, dan sebagainya harus disesuaikan dengan tujuan pendidikan yang hendak dicapai.

Adapun menurut Abudin Nata, (1997:91), metode Pendidikan Agama Islam adalah sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi obyek sasaran, yaitu pribadi muslim. Atau dengan kata lain metode Pendidikan Agama Islam adalah sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Namun dalam pelaksanaannya, faktor gurulah yang sangat menentukan keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Jadi bukan terletak pada bentuk metode mengajar maupun pada fasilitas yang tersedia. Dengan demikian, keterampilan guru dalam penggunaan metode mengajar merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan yang diharapkan secara efektif dan efisien.

Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan sangat signifikan untuk mencapai tujuan bahkan metode sebagai seni dalam mentransfer ilmu pengetahuan atau materi pelajaran kepada siswa dianggap lebih signifikan dibanding dengan materi sendiri. Suatu realita bahwa cara penyampaian yang komunikatif lebih disenangi siswa walaupun sebenarnya materi yang disampaikan sesungguhnya tidak terlalu menarik. Sebaliknya, materi yang cukup baik, karena disampaikan dengan cara yang kurang menarik maka materi itu sendiri kurang dapat dicerna siswa. Oleh karena itu, penerapan metode yang sangat tepat akan mempengaruhi pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Metode yang tidak tepat akan berakibat terhadap pemakaian waktu yang tidak efisien.

Sebelum menjelaskan macam-macam metode Pendidikan Agama Islam, terlebih dahulu penulis jelaskan tentang pendekatan dalam Pendidikan Agama Islam. Karena metode lahir untuk merealisasikan pendekatan yang telah ditetapkan sebelumnya. Metodologi Pendidikan Agama Islam yang dinyatakan dalam Al-Quran menggunakan sistem multi approach yang meliputi antara lain:
a. Pendidikan religius, bahwa manusia diciptakan memilili potensi dasar (fitrah) atau bakat agama.
b. Pendekatan filosofis, bahwa manusia adalah makhluk rasional atau berakal pikiran untuk mengembangkan diri dan kehidupannya.
c. Pendekatan rasio-kultural, bahwa manusia adalah makhluk bermasyarakat dan berkebudayaan sehingga latar belakangnya mempengaruhi proses pendidikan.
d. Pendekatan scientific, bahwa manusia memiliki kemampuan kognitif, dan afektif yang harus ditumbuhkembangkan (Armei Arief, 2002: 41).

Berdasarkan multi approach tersebut, penggunaan metode harus dipandang secara komprehensif terhadap siswa. Karena siswa tidak hanya dipandang dari segi perkembangan, tetapi juga harus dilihat dari berbagai aspek yang mempengaruhinya. Beberapa metode pengajaran yang dikenal secara umum antara lain.
a. Metode ceramah, memberikan pengertian dan uraian suatu permasalahan atau topik.
b. Metode diskusi, memecahkan masalah dengan berbagai tanggapan.
c. Metode eksperimen, mengetahui proses terjadinya suatu masalah.
d. Metode demonstrasi, menggunakan peraga untuk memperjelas suatu permasalahan.
e. Metode pemberian tugas atau resitasi, dengan cara memberikan tugas tertentu secara bebas dan bertanggungjawab.
f. Metode sosio drama, menunjukkan tingkah laku kehidupan.
g. Metode drill, mengukur daya serap terhadap pelajaran.
h. Metode kerja kelompok, mengukur kemampuan kerjasama dalam kelompok.
i. Metode tanya jawab, mengukur daya ingat terhadap pelajaran.
j. Metode proyek, memecahkan masalah dengan langkah-langkah secara ilmiah, logis dan sistematis (Armei Arief, 2002:41).

Proses belajar PAI di sekolah umum dilaksanakan kegiatan intra dan ekstra kurikuler yang keduanya saling menunjang dan saling melengkapi. Maka untuk menunjang penggunaan metode itu, guru harus menggunakan berbagai pendekatan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yaitu meliputi:
a. Pendekatan pengalaman, yaitu pemberian pengalaman keagamaan kepada siswa dalam rangka penanaman nilai keagamaan. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk mendapatkan pengalaman keagamaan, baik secara individual maupun kelompok.
b. Pendekatan pembiasaan, yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama, baik secara individual maupun kelompok dalam kehidupan sehari-hari.
c. Pendekatan emosional, yaitu usaha untuk menggugah perasaan dan emosi siswa dalam meyakini, memahami dan menghayati ajaran agamanya. Dengan pendekatan ini diusahakan selalu mengembangkan perasaan keagamaan siswa agar bertambah kuat keyakinannya. Pendekatan rasional, yaitu usaha memberikan peranan kepada rasio (akal) dalam memahami dan menerima kebenaran ajaran agama. Dengan pendekatan ini siswa diberi kesempatan menggunakan akalnya dalam memahami hikmah dan fungsi ajaran agama.
d. Pendekatan fungsional, yaitu usaha menyajikan ajaran agama Islam dengan menekankan pada segi kemanfaatannya bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkat perkembangnnya (Depag RI, 1995: 14).
Dari metode dan pendekatan di atas, apabila guru mampu dan terampil dalam mengaplikasikannya dalam kegiatan belajar mengajar, maka sangat mungkin pencapaian tujuan pendidikan yang dirumuskan maka akan behasil dengan baik.

Dipublikasikan Oleh:
M. Asrori Ardiansyah, M.Pd
Pendidik di Malang

Sumber: www.kabar-pendidikan.blogspot.com, www.arminaperdana.blogspot.com, www.kmp-malang.com