Arsip

Pendidikan Bahasa

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang 

Hakikat Perubahan Makna (Semantik)

. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang 

Hakikat Perubahan Makna (Semantik)

 sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema 

Hakikat Perubahan Makna (Semantik)

.

————–

Hakikat Perubahan Makna
Dilihat dari prespektif sosiologi, masyarakat secara perlahan atau cepat selalu mengalami perubahan seiring dengan perubahan jaman. Akselerasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi, memberikan andil yang cukup besar dalam mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Perkembangan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan serta perkembangan teknologi mempunyai hubungan kausalitas. Melalui kreatifitas manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang, dan melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini pula masyarakat juga berkembang.

Perkembangan yang terjadi dalam masyarakat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bermuara pada perubahan atau perkembangan cara pandang masyarakat terhadap berbagai fenomena yang ada. Di antara implikasi yang muncul akibat perubahan cara pandang ini adalah perubahan budaya. Hal ini beralasan mengingat budaya itu sendiri merupakan wujud dari produk cipta, karsa, dan rasa manusia.

Salah satu wujud dari perubahan pada ranah budaya adalah perubahan yang terjadi pada tindak berbahasa. Pandangan yang sama dikemukakan oleh Pateda (2001), bahwa bahasa berkembang terus sesuai dengan perkembangan pemikiran pemakai bahasa. Dengan ungkapan lain, karena pemikiran manusia berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang pula atau berubah. Perkembangan atau perubahan yang dimaksud bukan saja pada aspek bentuknya (form), melainkan juga pada aspek maknanya (meaning).

Kata ulama misalnya telah mengalami perubahan dari makna dasarnya. Kata ulama yang diserap dari bahasa Arab—yang merupakan jamak dari kata ‘alim– pada mulanya mengacu pada para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, sehingga para pakar ilmu bahasa (linguis), para pakar pertanian, para pakar ekonomi, para pakar informasi, para pakar ilmu agama, dan lainnya juga disebut dengan ulama. Akan tetapi, ketika kata ulama ini diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan berbagai variabel kultural yang mempengaruhi, maka kata ini sudah dibatasi pada para pakar di bidang ilmu agama Islam atau kaum agamawan (muslim). Perubahan inilah yang disebut dengan penyempitan arti dan ini merupakan contoh perubahan makna kata serapan.

Perubahan makna ini memperoleh perhatian dari para linguis sekitar awal abad ke 19 tatkala semasiologi pertama kali memperoleh perhatian dari para linguis Jerman. Selanjutnya semasiologi ini juga berkembang di Perancis melalui para ahli sosiologi bahasa, dan pada saat itu pula mereka berupaya menempatkan berbagai perubahan yang terjadi pada makna bahasa dan membuat katagori atas dasar wilayah (daerah). Di antara butir penting yang memperoleh perhatian dari mereka adalah kajian tentang objek perubahan makna, gambaran perubahan makna, sebag-sebab perubahan makna, dan berbagai faktor yang menyebabkan suatu kata itu tetap hidup (digunakan oleh penuturnya) dan suatu kata itu tidak digunakan lagi oleh penuturnya (mati). Dalam hal ini, Cohen dalam bukunya The Diversity of Meaning mengemukakan suatu pertanyaan, Apakah makna itu berubah? Pertanyaan ini dijawab sendiri olehnya, bahwa karena perkembangan bahasa seiring dengan perkembangan jaman, maka kata itu sendiri akan mendapatkan makna lain (Umar, 1982).


————–
Demikian artikel/makalah tentang Hakikat Perubahan Makna (Semantik). semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang H

akikat Perubahan Makna (Semantik)

. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.

Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang  Konsep Medan Leksikal atau Medan Makna. Diharapkan makalah pendidikan/artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang  Konsep Medan Leksikal atau Medan Makna sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema  Konsep Medan Leksikal atau Medan Makna.
————-

Medan Makna
Konsep medan leksikal atau medan makna atau ranah makna merupakan padanan konsep wortfeld yang dikemukakan oleh Trier (1931) atau semantic field oleh Lounsbury (1956) atau lexical field oleh Coseriu (1967), Lehrer (1974), dan Lyons (1977), atau semantic domain oleh Nida (1975) (Wedhawati, 1999). Istilah teori medan makna atau theory of semantic field berkaitan dengan teori bahwa perbendaharaan kata dalam suatu bahasa memeiliki medan struktur, baik secara leksikal maupun konseptual (Aminuddin, 2003).

Menurut Umar (1982), medan makna (al-haqlu ad-dilali) mdrupakan seperangkat atau kumpulan kata yang maknanya saling berkaitan. Dalam teori ini ditegaskan, bahwa agar kita memahami makna suatu kata, maka kita harus memahami pula sekumpulan kosa kota yang maknanya berhubungan (Umar, 1982). Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Kridalaksana (1984), bahwa medan makna merupakan domain semantik. Ia merupakan bagian dari sistem bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kehidupan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Contoh: nama warna membentuk medan makna tertentu, begitu pula nama perabot rumah tangga, resep makanan dan minuman, peristilahan penerbangan, dst. de Saussure sebagaimana dikutip oleh Wedhawati (1999) menyatakan bahwa stiap butir leksikal terlibat dalam jaringan asosiasi yang menghubungkannya dengan butir leksikal lain berdasarkan kesamaan maknanya atau berdasarkan kesamaan bentuk dan maknanya.

Dalam kaitannya dengan medan makna ini, para pencetus teori ini, Lyon misalnya berpendapat, bahwa (a) setiap butir leksikal hanya ada pada satu medan makna, (b) tidak ada butir leksikal yang tidak menjadi anggota pada medan makna tertentu, (c) tidak ada alasan untuk mengabaikan konteks, dan (d) ketidakmungkinan kajian terhadap kosa kata terlepas dari struktur (Umar, 1982). Trier (1931) sebagaimana dikutip oleh Wedhawati (1999) menegaskan bahwa nilai sebuah kata hanya dapat diidentifikasi jika nilai itu dihadapkan pada nilai kata-kata yang bertetangga dan berlawanan. Hanya sebagai unsur dari keutuhannya sebuah kata mempunyai makna, sebab hanya di dalam medan kita jumpai makna.

Dalam bahasa Arab, kata alwan mempunyai sederetan kata yang maknanya berhubungan, yaitu ahmar ‘merah’, azraq ‘biru’, ashfar ‘kuning’, ahdlar ‘hijau’, dan abyadl ‘putih’. Kita juga mengenal istilah kekerabatan dalam bahasa Indonesia, misalnya anak, cucu, cicit. piut, bapak/ayah, ibu, kakek, nenek, moyang, buyut, paman, bibi, saudara, kakak, adik, sepupu, kemenakan, istri, suami, ipar, mertua, menantu, dan besan (Chaer, 2002).
Secara rinci Umar (1982) mengidentifikasi kosa kata yang berada pada satu medan makna sebagai berikut ini.

1- أشياء حية – حيوان – حشرة –حيوان يمشي على أربع …
2- عثة – بعوض – بق …
3- طائر – صقر – حمامة …
4- دب – ذئب – ثعلب …
5- حيوان – بقرة – خنزير – حمار – خروف – فرس …
6- وبر – صوف …
7- جناح – ذيل – قرن …
8- رجل – إنسان – شخص …
9- رجل – شيخ – صبي – ولد …
10- امرأة – عجوز – فتاة – بنت …
11- طفل – رضيع …
12- جيل – ؂ريب – أسرة – قبيلة – جنس …
13- نجل – ابن – ابنة – حفيد …
14- جد – أب – أم – جدة …
15- زوج – زوجة – حماة – عريس – عروس …
16- ناس – فريق – جمهور …
17- رأس – جمجمة –عين – أذن …
18- سماء – سحاب – هواء – شمس – قمر …
19- حديد – فضة – نحاس
20- صخر – رمل – طين – تربة – غبار …
21- فاكهة – زيتون – بذور …
22- غصن – ورقة – جذر – زهرة …
23- سرير – كرسي – عرش – منضدة …
24- يضرب – يصدم – يدق …
25- يحمل – يلد …

Kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat dilihat hubungannya melalui tinjauan/relasi sintagmatik dan paradigmatik. Yang dimaksud dengan sintagmatik adalah hubungan linier antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu. Hubungan itu dikatakan hubungan in praesentia (Kridalaksana, 1984). Istilah lain dari hubungan sintagmatik adalah kolokasi. Kata kolokasi berasal dari bahasa Latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan) dengan menunjuk kepada hubungan sintagmatik. Artinya, kata-kata tersebut berada dalam satu kolokasi atau satu tempat atau lingkungan (Chaer, 2002).

Selanjutnya Chaer (2002) memberikan contoh Tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam bagai, lalu perahu itu digulung ombak, dan tenggelam beserta isinya. Kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan tenggelam merupakan kata-kata dalam satu kolokasi. Kolokasi berarti asosiasi hubungan makna kata yang satu dengan yang lain yang masing-masingnya memiliki hubungan ciri yang relative tetap, misalnya kata pandangan berhubunungan dengan mata, bibir dengan senyum, serta kata menyalak memiliki hubungan dengan anjing (Aminuddin, 2003).

Berkaitan dengan hubungan sintagmatik ini (al-huqul as-sintajmatiyyah) ini, Umar (1982) memberikan contoh-contoh berikut.
كلب – نباح.
فرس – صهيل.
زهر – تفتح.
طعام – يقدم.
يمشي – قدم.
ينتقل – سيارة.
يرى – عين.
يسمع – اذن.
اشقر – شعر.

Sementara itu, yang dimaksud dengan hubungan paradigmatik adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu dengan unsur-unsur lain di luar tataran itu yang dapat dipertukarkan; misal dalam kalimat Kami bermain bola antara kami dengan orang itu, saya, dsb. dan antara bermain dengan menyepak, mengambil, dsb. Hubungan antara unsur-unsur itu dikatakan hubungan in absentia (Kridalaksana, 1984). Dalam hal ini, Aminuddin (2003) memberikan contoh kalimat Menjelang pagi, perut saya lapar sekali, untung ada (—-). Garis dalam kurung itu dapat diisi roti, nasi, tempe goreng, tahu, dan sebagainya. Kata-kata tersebut dan sekian lagi kata yang lainnya dapat diisikan di dalamnya karena kata-kata tersebut menunjuk acuan referen “dapat dimakan” sehingga mampu menanggulangi lapar. Istilah lain yang semakna dengan hubungan paradigmatik ini adalah golongan set. Yakni kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam satu set dapat saling menggantikan (Chaer, 2002).
Selanjutnya Chaer (2002) menegaskan bahwa suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan.

Dalam bahasa Arab, hubungan paradigmatik dapat kita lihat pada kalimat berikut ini.
1- (يأكل أحمد) الرز
(نأكل)
(أكل)

2- يأكل أحمد (الرز)
( الخبز)
(الموز)
(التفاحة)
3- ( يشرب) زيد الماء
(يأخذ)
(يصب)

4- (يأخذ) أحمد زين العارف كرة القدم
(يشتري)
(يرفس)
(يرمي)


————–
Demikian artikel/makalah tentang Konsep Medan Leksikal atau Medan Makna. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang  Konsep Medan Leksikal atau Medan Makna. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.
Artikel pendidikan ini berusaha menjelaskan tentang Makna Konseptual dan Makna Asosiatif. Diharapkan artikel pendidikan singkat ini memberi pemahaman tentang Makna Konseptual dan Makna Asosiatif sehingga memberi referensi tambahan bagi penulis makalah pendidikan atau pegiat penelitian yang bertema Makna Konseptual dan Makna Asosiatif.

————–


Didasarkan pada ada atau tidaknya hubungan (asosiasi, refleksi) makna sebuah kata dengan makna kata lain, makna dibedakan menjadi makna konseptual dan makna asosiatif (Chaer, 2002). Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya/referennya dan tidak dikaitkan dengan asosiasi-asosiasi tertentu. Karena itu makna konseptual pada prinsipnya sama dengan makna referensial, makna leksikal, ataupun makna denotatif.

Berbalikan dengan makna konseptual, makna asosiatif adalah makna sebuah kata dikaitkan, dihubungkan , diasoshasikan dengan hal-hal tertentu di luar bahasa. Menurut Leech (dalam Chaer, 2002) makna asosiatif mencakup makna konotatif, stilistika, afektif, refleksi, dan kolokatif. Kata نور ‘cahaya’ berasosiasi dengan kebenaran dan petunjuk. Sebaliknya kata ظلمات ‘kegelapan’ berasosiasi dengan kesesatan atau kekufuran.

Sebagaimana dikutip dari Leech (dalam Chaer, 2002), makna asosiatif mencakup makna stilistika, afektif, dan kolokatif. Makna stilistika adalah makna asosiasi yang dikaitkan dengan perbedaan status sosial. Dalam kaitan ini, kata تلميذ dan طالب secara stilistika dibedakan. Demikian juga kataمعالي, صاحب السماحة، سادة dan sejenisnya. Kata تلميذ dan طالب pada dasarnya bermakna ‘yang belajar atau menuntut ilmu’, tetapi keduanya dibedakan dalam hal tingkatannya. Yang pertama, penuntut ilmu di sekolah dasar dan menengah. adapun yang kedua, penuntut ilmu di perguruan tinggi. Karena itu dari aspek stilistika, contoh (22) dan (23) di bawah berterima, sedangkan contoh (24) dan (25) tidak berterima.

(22) أحمد تلميذ في المدرسة.
(23) حميد طالب في الجامعة.
*(24) أحمد تلميذ في الجامعة.
*(25) حميد طالب في المدرسة.

Kata سادة، صاحب السمو، معالي، صاحب الفخامة، dan sejenisnya juga mengandung makna stilistika yang memperhatikan status sosial. Sapaan seperti صاحب الفخامة digunakan untuk pejabat setingkat raja/pemimpin negara (26), صاحب السمو sapaan untuk pejabat dari keluarga raja (27) معالي sapaan untuk pejabat tinggi di luar keluarga raja atau menteri dari negara lain (28), dan سادة atau فضيلة merupakan sapaan penghormatan yang bersifat umum dan digunakan untuk orang-orang terhormat pada umumnya, misalnya tokoh agama dan ilmuwan (29).

(26) وصل إلى جدة أمس فخامة الرئيس عبد الرحمن واحد رئيس جمهورية إندونيسيا لأداء مناسك العمرة (الندوة 29 يناير 2000)
(27-ا) يفتتح صاحب السموّ الملكي الأمير عبد المجيد بن عبد العزيز أمير منطقة مكة المكرمة يوم الثلاثاء القادم متحف الحرمين الشريفين (الندوة 29 يناير 2000).
(27-ب) يرعى صاحب السموّ الملكي الأمير مشعل بن ماجد بن عبد العزيز محافظ محافظة جدة مساء يوم الثلاثاء القادم الحفل السنوي الذي تقيمه إدارة التعليم بجدة لتكريم أوائل الطلاب المتفوقين بمختلف المراحل (الندوة 29 يناير 2000).
(27-ج) قال صاحب السموّ الملكي الأمير نايف بن عبد العزيز وزير الداخلية الرئيس الفخري لمجلس وزراء العرب: كما هو معلوم أن جميع دورات مجلس وزراءالداخلية السابقةكلها ولله الحمد تنتهي بنجاح .. (الندوة 29 يناير 2000).
(28-ا) يقوم معالي وزير الحج الأستاذ أياد أمين مدني يوم الثلاثاء القادم بزيارة لمؤسسة مطوفي حجاج جنوب آسيا بحي الرصيفة بمكة المكرمة .. (الندوة 29 يناير 2000).
(28-ب) نوّه معالي وزير الموصلات والطرق ورئيس بعثة الحج السيرلانكية السيد عبد الحميد بن محمد فوزي بالخدمات الجليلة والتسهيلات العظيمة والإمكانيات الكبيرة والرعاية الكريمة التي توفرها المملكة لخدمة و راحة ضيوف الرحمن (الندوة 29 يناير 2000).
(29) أوصى فضيلة إمام وخطيب المسجد الحرام الشيخ محمد السبيل المسلمين بتقوى الله عز و جل في السر والعلن .. (الندوة 29 يناير 2000).

Dari contoh-contoh tersebut jelas bahwa berbagai sapaan kehormatan tersebut mempunyai makna stilistika terkait dengan status sosial. صاحب السمو digunakan untuk menyapa pejabat dari keluarga raja meskipun tingkat jabatannya berbeda, misalnya amir (27-a), gubernur (27-b), atau menteri (27-c). معالي digunakan untuk pejabat setingkat menteri yang bukan dari keluarga raja (28-a) atau menteri dari negara luar (28-b). Adapun فضيلة pada (29) digunakan untuk tokoh agama. Setara dengan فضيلة adalah sapaan سادة /سعادةmisalnya pada (30) berikut ini.

(30) أصدر صاحب السمو الملكي الرئيس العام لرعاية الشباب و رئيس اللجنة الوطنية لمكافحة المخدرات أمرأ بمنح بعض المسئولين بهذا الوطن العزيز شهادات تقدير نظير الجهود التي بذلوها في المشاركة والمساهمة الفعالة في مجال التوعية بأضرار المخدرات ومكافحتها .. و هم كالتالي:
1- سعادة الدوكتور/ سعيد عطية أبوعالي مدير عام التعليم بالشرقية
2- سعادة الدكتور/ عبد الرحمن إبراهيم الشاعر مساعد عميد مركز خدمة المجتمع والتعليم المستمر بالرياض
3- سعادة العقيد دكتور إبراهيم عبد الرحـمن الطخيس مساعد مجلس الأمن الوطني (الندوة 25 جمادى الآخرة 1410).
4- dst.

Makna afektif merupakan makna yang muncul sebagai akibat atau reaksi pendengar/pembaca terhadap penggunaan kata atau kalimat. terkait dengan perasaan pembicara terhadap teman bicara ataupun topik (Pateda, 2001). Misalnya seorang dosen berkata kepada mahasiswa yang jarang masuk kuliah:

(31) لماذا تَغَيَّبتَ كثيرًا؟

Frasa تَغَيَّبتَ كثيرًا memunculkan makna afektif, yakni menunjukkan kemalasan. Demikian halnya ketika seseorang mengatakan kepada temannya kalimat (32) pendengar mungkin bereaksi dengan mengatakan “hebat kamu memang hebat”.

(32) في الامتحان أمس حصلتُ على نتيجة مائة.

Makna kolokatif merupakan makna kata dalam kaitannya dengan makna kata kata lain yang mempunyai tempat yang sama dalam sebuah konstruksi atau lingkungan kebahasan. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata cantik dan tampak. Dalam hal ini bisa dikatakan gadis itu cantik dan pemuda itu tampan. Tetapi tidak bisa dikatakan, *gadis itu tampan atau *pemuda itu cantik. Dalam bahasa Arab mungkin kita bisa mengatakan نظيف وطاهر البلاط tetapi agak janggal jika dikatakan نظيف وطاهر البيت*

Sekarang perhatikan contoh contoh berikut.
(33) البيتُ كبير
(34) القصرُ فخم
(35) المعبد ضخم
(36) البرنامج عظيم

Kata كبير – فخم – ضخم – عظيم mempunyai informasi yang mirip. Keempat kata tersebut juga bisa saling dipertukarkan pada tiga kalimat yang pertama, tetapi tampaknya tidak pada kalimat yang keempat. Kata عظيم pada (36) hanya bisa diganti dengan كبير (37) tetapi tidak bisa ditukar dengan فخم (38) ataupun ضخم (39).

(37) البرنامج كبير
(38) البرنامج فخم
(39) البرنامج ضخم

————–

Demikian artikel/makalah tentang Makna Konseptual dan Makna Asosiatif. semoga memberi pengertian kepada para pembaca sekalian tentang Makna Konseptual dan Makna Asosiatif. Apabila pembaca merasa memerlukan referensi tambahan untuk makalah pendidikan atau penelitian pendidikan anda, tulis permohonan, kritik, sarannya melalui komentar.