Arsip

Studi Islam

Pengembangan pendidikan Islam disini kita pahami, dalam konteks plurallisme yaitu secara menyeluruh artinya bahwa didalam pendidikan Islam mempuyai suatu keinginanan yang luas seperti pertama (1) Pendidikan Islam tidak hanya merupakan alternatif dalam pendidikan nasional, pendidikan Islam tidak mau ditempatkan dalam kerangka ‘diaklektik’ atau bahkan ‘diametral’ dengan sistem pendidikan yang berlaku, penempatan pendidikan Islam tidak sekedar sebagai pelengkap atau memiliki sepadan dengan pendidikan pada umumnya.
Meskipun pendekatan alternatif bukanlah suatu yang ‘tabu’ dalam memahami sistem pendidikan, ini jika konsisten menempatkan pendidikan sebagai ‘a macroscopic social institution’, Artinya pendidikan ditempatkan dalam sebua pranata sosial dengan skala persoalanya yang luas, yang bertalian dengan pola struktur dan perubahan.
1. Perlunya Kesadaran Pluralisme
Bangsa Indonesia sejak dini sudah mempunyai tekadnya untuk berunity in iversity atau ber-Bhineka Tunggal Ika (tunggal Ika) justru dikembangkan sebaliknya yang bhineka (dyversity) justru di SARA-kan, sehingga tampilannya menjadi monoloyalitas (kesetiaan Tunggal).
Didalam ajaran Islam terdapat suatu pandangan yang Universal, yaitu bahwa manusia diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang terbaik dan termulia (Q.s. al-Tin: 5, dan al-Isra’:70) serta di ciptakan dalam keaadaan suci (fitra) atau berpotensi benar. Disisi lain manusia juga diciptakan oleh Allah sebagai mahluk yang dlaif (Qs. Al-Nisa’: 28), kesimpulannya potensi manusia mempunyai sifat benar dan salah, pandangan seperti ini berimplikasi pada sikap dan prilaku seorang yang agamis, Islam harus menghormati, manghargai pendapat orang lain, atau kelompok lain, dan tidak bersikat kemutlakan (absulutisme), serta tidak menerapakan faham kultus individu.
2. Arah Pengembangan Pendidikan Agama Islam ke-Depan
Uraian diatas menggaris bawahi bahwa arah pendidikan islam mempunyai sikap toleran , untuk mewujudkan integrasi (persatuan dan kesatuan) dalam kehidupan bermasyarakat. Dan fenomena seperti ini banyak ditentukan oleh (1) doktrin agama/ teologi agama; (2) Sikap pemahaman agama oleh pemeluknya; (3) dalam prilaku lingkungan, sosio-kultural; (4) pengaruh pemuka agama.18
Namun demikian bangsa Indonesia yang Bhinika Tunggal Ika, pengembangan pendidikan Islam diharapkan agar tidak (1) menumbukan fanatisme buta; (2) sikap intoleran dikalangan peserta didik dan masyarakat; dan (3) memperlemah kerukunan hidup beragama, berbagsa dan bernegara19. Sebaliknya arah pengembangan pendidikan Islam diharapkan agar mampu menciptakan ukhuwa islamiyah dalam arti luas, yakni persaudaraan yang bersifat Islami (rohmatan lil ‘alamiin).

Dalam hitungan hari, umat Islam dipelosok dunia akan merayakan Idul Adha (Idul Qurban). Bagi umat Islam yang mampu, dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban. Pada dasarnya, penyembelihan binatang kurban ini mengandung dua nilai yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

Kesalehan ritual berarti dengan berkurban, kita telah melaksanakan perintah Tuhan yang bersifat transedental. Kurban dikatakan sebagai kesalehan sosial karena selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan yang sangat luas.

Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban. Perintah berkurban bagi yang mampu ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang respek terhadap fakir-miskin dan kaum dhu’afa lainnya. Dengan disyari’atkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.

Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna esensial dari pesan yang disampaikan teks, bukan memahami teks secara literal. Oleh karenanya, semangat untuk terus ’berkurban’ senantiasa kita langgengkan pasca Idul Adha.

Saat ini kerap kita jumpai, banyak kaum muslimin yang hanya berlomba meningkatkan kualitas kesalehan ritual tanpa diimbangi dengan kesalehan sosial. Banyak umat Islam yang hanya rajin shalat, puasa bahkan mampu ibadah haji berkali-kali, namun tidak peduli dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah fenomena yang menyedihkan. Mari kita jadikan Idul Adha sebagai momentum untuk meningkatkan dua kesalehan sekaligus yakni kesalehan ritual dan kesalehan sosial.


Perintah Qurban
Dalam Al-Quran dalam Surat Al-Maidah : 27, Ash-Shaffat : 102 – 107 dan Al-Kautsar : 2 yang berbunyi : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” Dan Ibadah Kurban merupakan pembuktian kecintaan dan keikhlasan kita kepada sang Khaliq.

Sejarah Kurban
Ibadah kurban memiliki sejarah yang begitu panjang. Allah SWT telah memerintahkan ibadah kurban kepada umat manusia, sejak zaman Nabi Adam AS. Perintah kurban mulai diperintahkan kepada dua putra Nabi Adam AS, yakni Habil yang berprofesi sebagai petani dan Qabil seorang peternak. Keduanya diminta untuk berkurban dengan harta terbaik yang mereka miliki.

Peristiwa kurban dua anak manusia itu dikisahkan dalam Alquran surat al-Maaidah ayat 27. Allah SWT berfirman, ”Dan ceritakanlah (Muhammad) kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Seiring bergulirnya zaman, perintah berkurban juga diterima Nabi Ibrahim AS. Setelah melalui penantian yang begitu lama, Ibrahim akhirnya dikaruniai seorang putra bernama Ismail, dari istrinya bernama Siti Hajar. Ia pun begitu gembira dan bahagia. Kebahagiaannya memiliki seorang putra, kemudian diuji oleh Allah SWT.

Saat berusia 100 tahun, datanglah sebuah perintah Allah SWT kepadanya melalui sebuah mimpi. ”…Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu..?” (QS: as-Saffat:102). Dengan penuh keikhlasan, Ismail pun menjawab, ”…Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepada mu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS:as-Saffat:102).

Kemudian, Nabi Ibrahim AS membawa Ismail ke suatu tempat yang sepi di Mina. Ismail pun mengajukan tiga syarat kepada sang ayah sebelum menyembelihnya. Pertama, sebelum menyembelih hendaknya Nabi Ibrahim AS menajamkan pisaunya. Kedua, ketika disembelih, muka Ismail harus ditutup agar tak timbul rasa ragu dalam hatinya. Ketiga, jika penyembelihan telah selesai, pakaiannya yang berlumur darah dibawa kepada ibunya, sebagai saksi kurban telah dilaksanakan.

”Maka tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Lalu Kami panggil dia, ‘Wahai Ibrahim!’ sesunggu engkau telah membenarkan mimpi itu…” (QS: as-Saffat ayat 103-104). Ketika pisau telah diarahkan ke arah leher Ismail, lalu Allah SWT menggantikannya dengan seekor domba yang besar.

”Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” Atas pengorbanan Ibrahim AS itu, Allah SWT berfirman, ”Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Selamat sejahtera bagi Ibrahim. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS: as-Saffat:108-109).

Waktu Qurban
Ibadah kurban pun menjadi salah satu unsur syariat Islam, yang dilaksanakan oleh umat Muslim yang mampu pada setiap Hari Raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya (hari tasyrik), yakni tanggal 10, 11, 12, dan 13 Dzul Hijjah.

Makna Qurban
Lalu apa makna dari perintah berkurban? Melaksanakan ibadah kurban tidak semata-mata ibadah yang berhubungan dengan Sang Pencipta, namun lebih bermakna sosial. Inti pesan ibadah kurban adalah solidaritas, kepedulian kepada orang yang membutuhkan. Hanya sedikit dari orang banyak yang sadar. Hanya sedikit dari orang yang sadar itu yang mau berjuang. Dan hanya sedikit dari yang berjuang itu yang mau berkurban.

Pengorbanan sesungguhnya bukan hanya harta benda, melainkan juga jiwa, raga, hati dan pikiran yang semata-mata karena Allah. Seorang yang beriman, akan memberikan sesuatu yang paling dicintainya kepada Allah SWT, seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim AS.

Kriteria hewan Kurban
Qurban memiliki beberapa syarat yang tidak sah kecuali jika telah memenuhinya, yaitu.
[1]. Hewan qurbannya berupa binatang ternak, yaitu unta, sapi dan kambing, baik domba atau kambing biasa.
[2]. Telah sampai usia yang dituntut syari’at berupa jaza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah (berusia setahun penuh) dari yang lainnya.
-unta adalah yang telah sempurna berusia lima tahun
-sapi adalah yang telah sempurna berusia dua tahun
-kambing adalah yang telah sempurna berusia setahun
-adalah yang telah sempurna berusia enam bulan
[3]. Bebas dari aib (cacat) yang mencegah keabsahannya, yaitu apa yang telah dijelaskan dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
-Buta sebelah yang jelas/tampak
-Sakit yang jelas.
-Pincang yang jelas
-Sangat kurus, tidak mempunyai sumsum tulang
-Dan hal yang serupa atau lebih dari yang disebutkan di atas dimasukkan ke dalam aib-aib (cacat) ini, sehingga tidak sah berqurban dengannya, seperti buta kedua matanya, kedua tangan dan kakinya putus, ataupun lumpuh.
[4]. Hewan qurban tersebut milik orang yang berqurban atau diperbolehkan (di izinkan) baginya untuk berqurban dengannya. Maka tidak sah berqurban dengan hewan hasil merampok dan mencuri, atau hewan tersebut milik dua orang yang beserikat kecuali dengan izin teman serikatnya tersebut.
[5]. Tidak ada hubungan dengan hak orang lain. Maka tidak sah berqurban dengan hewan gadai dan hewan warisan sebelum warisannya dibagi.
[6]. Penyembelihan qurbannya harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan syariat. Maka jika disembelih sebelum atau sesudah waktu tersebut, maka sembelihan qurbannya tidak sah
[Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/450), Al-Mugni (VIII/637) dan setelahnya, Badaa’I’ush Shana’i (VI/2833) dan Al-Muhalla (VIII/30).
[Disalin dari kitab Ahkaamul Iidain wa Asyri Dzil Hijjah, Edisi Indonesia Lebaran Menurut Sunnah Yang Shahih, Penulis Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad Ath-Thayyar, Penerjemah Kholid Syamhudi Lc, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Hikmah di dalam syariat berwudlu itu banyak sekali. Antaranya hikmah saat kita beristinsyaq.

Berkenaan Istinsyaq Rasululullah SAW bersabda seperti berikut: “Apabila seseorang kamu berwudhu’ maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidungnya kemudian ia menyisihkan (menghembuskannya) keluar”. (H/R al-Bukhari, 1/229)

Apa maksud Istinsyaq?

Istinsyaq ialah: Memasukkan air ke dalam hidung dengan tangan kanan, menggerakkan air di dalam hidung, membasuh dan kemudian menghembuskan keluar air tersebut. Cara mengeluarkan air dari hidung “istinsyaq” ialah setelah mengeluarkan air dari mulut (setelah berkumur-kumur).

Istinsar pula ialah: Bersungguh-sungguh menghirup atau memasukkan air ke hidung dengan tangan kanan (jika tidak berpuasa), kemudian menghembuskan (menyemburkan) air tersebut dari hidung dengan tangan kiri:

Dari Laqit bin Sabirah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, khabarkan kepadaku tentang wudhu’! Baginda bersabda: Sempurnakanlah wudhu’ kamu, sela-selalah celah-celah jari-jemari kamu dan basuhlah hidung dengan menyedut air ke hidung melainkan ketika kamu berpuasa (dengan tidak menyedut bersungguh-sungguh)”. (H/R at-Tirmizi, 38. Juga disahihkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Dalam buku 365 Tip Sihat Gaya Rasulullah karya Dr Mohammad Ali Toha, Prof Dr Syahathah dari Fakulti Perubatan, Universiti Alexandria, Mesir membuat kajian bahawa ‘istinsyaq’ atau memasukkan air melalui hidung ketika berwuduk membersihkan hidung daripada kuman.

Cara melakukannya ialah dengan memasukkan air seperti menarik nafas dengan kekuatan sederhana kemudian mengeluarkan air itu dengan hembusan yang kuat.

Kaedah itu jika dilakukan dengan sempurna mampu mencegah 17 penyakit berbahaya, antaranya mata, telinga kulit, radang kerongkong, batuk dan penyakit paru-paru dan penyakit mental. Percayalah, jika Allah memerintahkan sesuatu ibadah itu, pasti ada hikmah dan manfaat kepada manusia.

Subhanallah! Maha Suci Allah..
sumber: http://ustaz-amal.blogspot.com

Written by Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si

The history of religions, especially Islam, in Indonesia is very complex. It also reflects the diversity of Indonesian cultures. In the 12th century many predominantly Muslim traders from India arrived on the island of Sumatra, Java and Kalimantan where the religion flourished between the twelfth and fifteenth centuries. The dominant Hindu and Buddhist kingdoms of the time, such as Majapahit and Sriwijaya, were in decline and the numerous Hindus and Buddhists mostly converted to Islam, although a smaller number, as in the notable case of Hindus immigrating to Bali, moved off Java and Sumatra. Islam in Indonesia, in many cases, is not fully practiced in comparison to Islam, for example, in the Middle East regions.

As stated in the first principle of the state ideology, belief in the one and only God, religion holds significant roles in Indonesia. Derived from that principle, the Indonesian Constitution guarantees the right to the freedom of religion. However, the government only recognizes six official religions, namely Islam, Protestantism, Catholicism, Hinduism, Buddhism and Confucianism.

Up to now, a number of religions have been practiced in Indonesia. It is logical, therefore, their collective influence on the country’s political, economical and cultural life is very significant. As of 2007, the population was estimated at 234,693,997. Based on the 2010 census, approximately 85.1% were Muslims, 9.2% Protestant, 3.5% are Catholic, 1.8% Hindu, 0.4% Buddhist and other or unspecified.

With 87% of its citizens identifying as Muslim, it is well known also that Indonesia is the world’s most populous Muslim-majority country. Generally, Muslims have been concentrated in the more populous Western islands of Indonesia such as Java and Sumatra. In less populous Eastern islands, the Muslim population is proportionally lower.

Indonesia is the world’s third-largest democracy, after India and the U.S. Ninety percents of Indonesians are Sunni Muslims. However, with many different religions practiced in Indonesia, conflicts between believers are often unavoidable. A country with diversities in cultures, ethnicity, and religions tends to have conflicts. Moreover, Indonesia’s political leadership has played an important role in the relations between groups, both positively and negatively.

Politically, parties based on moderate and tolerant Islamic interpretations have had significant success, eventhough it is not a dominant success in the national parliamentary elections in most of elections. The radical Islamist parties, however, have had little electoral success and bases of support remain. One form of Islam, known as neofundamentalist, adapted for new ways of thinking about the relationship between Islam, politics and society. Nonetheless, a number of fundamentalist groups have been established, including the Majelis Mujahiden (MMI) and their alleged associates Jamaah Islamiyah (JI). The Islamist Justice and Prosperous Party (PKS) has a different point of view from the neofundamentalists, notably the anti-Semitic views and anti-Western conspiracy theories of some of its members.

The Nature of Islam in Indonesia

In terms of religious teachings and the fundamental of faith (aqeedah), Islam in Indonesia is not different from that of Islam in other places, the Middle East alike. As a monotheistic religion, Islam is widely understood and well practiced as the religion of peace. Islam came to the archipelagic Nusantara (ancient lands of Indonesia) through various ways and from various places, mostly South India, Persian, and Southern Arabian Peninsula. Islam was spread through the works of merchants and scholars, who were able to blend in and be mixed well with the local predominantly Hindu and Buddhist societies, as early as 13th century. Just in the span of seven centuries, there are more Muslims in today’s Indonesia compared to the entire Muslims in the Arabian Peninsula, the birthplace of Islam. Compared to other religions, Islam is then the fastest religion spread around the world.

From the outset, pluralism has always been the nation’s religious spirit. One theory illustrates that such spirit stems from the geographical nature of Indonesia, where the country is rightly located between Asia and Australia, and between the two world’s oceans, the Pacific and the Indian. It allows the local inhabitants to receive constant influences from all places through trading and economic activities, and adapt well to it. Yet, such a theory should be coupled with our objective understanding on the nature of religious teachings. At its core, Islam, like other religions, always puts a special respect for diversity. It also embraces tolerance and care for others.

But those two factors—geography and foundations of religious teachings—while necessary and important, are inadequate to explain the true face of Islam in Indonesia today. We need to take another important element into our account, and that is the Muslims in Indonesia themselves.

Here, we are talking about the devoted, true, and enlightened Muslim scholars who gained their prominence through their moderate interpretation and moderate voice of Islam. On the contrary, the question is why violence tends to be attributed to Islam? The most probable answer is due to the growing number of Muslim inspired by the success story of Islamic revolution and radicalization rooted from the Middle East regions.

Indonesia is fortunate to having moderate Muslims and Islamic organisations that form the majority of its body of Islam in the country. The works of the Nadhlatul Ulama and Muhammadyah, two largest Muslim organizations in Indonesia, in the promotion of unity, prosperity and tolerance, are indeed commendable and exemplary. Even in the early formative years of the Republic in 1945, despite their strong influence over our national politics, moderate Islamic leaders at that time, gave their consent not to make Indonesia an Islamic state. In addition, at the subsequent stages of our statehood, the question of Islam and the state remains at the realm of a constructive dialogue, leading to a deeper mutual understanding on the role of state to ensure the harmony and tolerance amongst peoples of different faiths in Indonesia.

The majority of Muslims in Indonesia is convinced that the difference(s) within and across faiths should be settled through intensive dialogues. This provides a strong rationale for Indonesia to take an active role in promoting inter-faith, inter-civilization, and inter-cultural dialogues with our friends and at all levels. In the Islamic perspective, diversities within and interfaith is viewed as “bless from God”. The duties of human are, therefore, to love each other (tahabbub), to help each other (ta’awun), and to forgive each other (ta’afuf). The prerequisite for all of the duties, of course, is the presence or existence of mutual understanding (ta’aruf) through continuous dialogues among the religion adherents.

Arguably, settling differences in a peaceful manner is not the biggest problem that everywhere Islam is facing nowadays. All conflicts and collisions in the name of religions may have something to do with mistaken sense of religiosity or simply wrong and contending interpretations of the religions concerned. While many perceive that radical groups as proponent of violence are growing, there are also counter movements from the moderate Muslim. That is why, the most acceptable approach to overcome the radical groups is not by the military power, but by strengthening the power of moderate Muslims. The expected outcome of this approach is the process of moderation among Muslims.

Muslims in Indonesia are now also continuously strengthening their education system, and enhancing the modern curriculum of Madrasahs (Islamic schools), while restlessly improving the welfare of and justice system for the peoples. The establishment of sate-owned Islamic universities are the proof to strengthen Islamic education, especially in higher education level. The origins of anger mostly result from ignorance, hunger, and injustice. Hence, we must not fail to address them in a comprehensive and effective manner.

Most of Muslims in Indonesia believe that Islam, democracy and modernity are solution for their social and economic problems that often bother social harmony and threaten national unity. Besides, they are the true face of modern and transformed Indonesia today and in the future.

Tolerant Islam

Islam in Indonesia has a long tradition of being more tolerant than in the Middle East. As Islam began to spread in the Middle East and elsewhere, it often did so through violent conquests. In contrast, Islam came peacefully to this part of Southeast Asia via traders from India, and Indonesians often believe that the new religion is the more logical and therefore culturally acceptable than the existing system of beliefs.

The way Muslims in Indonesia see Islam is like the way American Christian see Christianity. They follow the basic beliefs, but their lives do not revolve around religion in an ideological sense. That’s why some Islamic parties never win absolutely in Indonesian politics. It proves that Indonesians are religious but not in an ideological term.

However, some fear of the rise of militant and fundamentalist Islam around the world is also having an impact in Indonesia. Islamic observance has turned more conservative in parts of the country, more women are wearing the veil, and Islamic political parties have gained strength: As Indonesia moves toward democracy, the radical Islamists do not have any place in government.

As we noted, in 2002, a terrorist group bombed a nightclub on the predominantly Hindu island of Bali, killing 202 people, most of them were tourists from Australia, Britain, and the U.S. As a consequence, the government’s counterterrorism efforts have led to the capture of many Jemaah Islamiyah operatives. While the group still poses a threat, it is believed that its abilities have been significantly degraded. Indonesian Government has been working hand in hand with the people to fight against Islamic extremism.

The Need for New Interpretation

From its name, Islam is a religion that clearly incorporates the meaning and aspirations of peace and the welfare of mankind. Yet it must be admitted that this pure and basic sense is often blurred, owing to various happenings in the history of Islam, which seems at a glance, not to reflect peace. Of the Prophet’s first four successors to the leadership of his followers, i.e., those known as “the wise and clever successors”, only Abu Bakar died naturally, while Umar, Utsman, an Ali did not die peacefully, but, for different reasons, were killed tragically.

At present, the world stage is laid waste by violent conflicts, in which various religions are involved. In the Middle East, conflict involves both Islamic and non-Islamic people. In various other parts of the world, religious conflict also increases and spreads, both within and among faiths. In Northern Ireland, conflict within the Christian religion is between Protestants and Catholics. Conflict within Islam continues between Iran and Iraq. In addition, in the Middle East, especially in the coastal region of the Eastern Mediterranean, several conflicts of a deeply religious hue, are currently raging; among Jews, Muslims and Christians; between Christians and Muslims, Christian against Christian, and Muslim against Muslim in Lebanon.

In South Asia, there are religious conflicts between Hindus and Muslims, Hindus and Catholics, Hindus and Sikhs, particularly in the Punjab, Hindus and Buddhists in Eastern India, and the conflict between the Tamils and the Singhalese in Sri Lanka. The Southeast Asian region is also beset by religious conflict; in Myanmar and Thailand, between Islam and Buddhism; in the Philippines, between Catholics and Muslims, and in Indonesia, within certain limits, there is still potential for religious conflicts, of which the explosions at some places are signs. Of course, religion is not the only factor. Political factors and the problem of the arms trade, both legal and illegal, also generate conflicts.

Religion and Peace

As a Muslim, I ask myself, “Is there peace in Muslim society?” Indeed, what has happened in the Islamic community today is what was feared in the Qur’an. Conflict arose amongst them from differences in interpretation and implementation of God’s teaching.

It is ironic that disputes and conflict arose precisely after the revelation of truth and the proof to support that truth. However, the irony is probably only in the passing view. Because truth that is clear and supported by proof, in order to be able to function in a society, must be further spelled out, interpreted, and specified. This is where the basis of disagreement lies, i.e. when differences in detailing, interpretation and specification are accompanied by jealousy and the spirit of competition among various groups of believers. In other words, conflict arises after the strengthening of subjectivism and the implanting of self interest.

Although God’s Word was spoken about in the past, yet the lesson behind it is a call for mankind to draw an analogy with the present situation, especially as it can be historically proven that this kind of conflict and disagreement was experienced by the Muslims. This is i’tibar, meaning an analogy which is a method of understanding the Holy Book, particularly the symbolism it contains. Thus, the Qur’an narration of the early people contains the warning of how men received the truth, yet then disputed amongst themselves “in the name of that truth”. In other words, the message implied that Muslims should not be like that.

This wider and deeper observation of disputes and conflict among people can be explained and brought back to the nature of man. Furthermore, it is possible that the threat to the world peace can be brought back to the natural negative character of mankind, always in disagreement and in conflict.

Attempts to find a solution for the problem of the threat to peace, and to discover the form of the contribution of religion towards realizing world peace, actually constitute the ideal form for man. This is also probably utopian because it is human nature itself which cannot make peace. The Qur’an narrates the cosmic drama when God created Adam as a caliph on earth, amid protests from the angels, that man was bound to do damage in the world, and to spill much blood. God rejected the protests of the angels, and persisted in His decision to make man as His guardian deputy on earth, relying on the ability of man to know his environment through his intellectual ability, which was to produce science.

However, the protest contained an important truth which is very relevant to the problem of the peace we want to achieve now. Thus, in the Qur’an it is mentioned that human beings although created as the highest-level creatures, can change into the lowest creatures.

It is not easy to achieve peace, but peace can be realized by paying attention to three problems:

To develop a strong sense of responsibility to man. As the earth is becoming smaller and smaller, that responsibility must now be global in nature, not just national, and even less of a local character.
To foster and develop the field of religious contacts, that is, to educate the individual to be always good; and
The third, relates to the problem of disarmament, particularly of the powerful states.

Based on that, what can we do in connection with religious conflict among religion as a source of conflict and dispute? According to my interpretation and understanding, the Qur’an, in principle, teaches pluralism! In a pluralist society it is a fact that only God can claim the truth. One principle which is closely connected with pluralism is, for example, the principle: “There is no compulsion in religion”. God has provided indeed determined, different paths for various groups of people in their efforts to seek and discover truth.

In addition, the above words are also directly linked with an injunction on expecting all people to follow the same way of life, and on forming a monolithic society. The fundamental impossibility of creating a monolithic society owing to the human talent for plurality is the principle which underlies the teaching of not justifying religious coercion, even less the enforcement of individual opinions or ordinary social concepts as ideologies.

As a way to God, religion, especially Islam, which teaches surrender to God, must be dynamically understood. It is the dynamic which probably constitutes the essential spirit of Islam. This dynamic is the logical consequence of the basic view, that each different time and place demands a different personification and materialization of the way to God. It is this dynamic which takes form in the doctrine of ijtihad, because ijtihad is the methodology available to mankind in its attempt to understand God’s message. Nevertheless we must realize that, because each ijtihad is none other than man’s attempt to understand truth, the product also continues to have human characteristics, subject to the quality of human relativity.

This dynamic of religious understanding is also reflected in the teaching that faith, or religious feeling alone is not obtained “once for all time” (i.e. is static), but rather is something which is subject to the laws of growth and change. It can increase or decrease, strengthen or weaken.

Concluding Remarks

I want to restate that in terms of number of adherents, religious practices and world views of Muslims in Indonesia, there is no significant change in the last ten years. Some minor changes happen to world views of young Muslim inspired by the success story of Islamic revolution in Middle East. However, if we contextualize the phenomenon in Indonesian history, such radicalization is not really new. They are still attracted by the obsession of establishing an Indonesia Islamic State.

This ideology is not well accepted due to the moderate nature of Islam in Indonesia. The moderate regardless of being commanded or not by the government will always be loyal to the Pancasila as the state ideology. What makes me optimistic to the future of Islam in Indonesia is that the majority of Muslims will be with the other religion adherents in whatever condition, and give no respect to those who violate other religious believers.

As other Indonesian Muslims, I believe that the Holy Book of Qur’an does not explicitly command Muslims to live in an Islam-based state. So, let us struggle to live in harmony based on the three pillars of togetherness: to love each other, to help each other, and to forgive each other.

resource:http://mudjiarahardjo.com/artikel/352-islam-in-the-past-ten-years-in-indonesia-and-in-the-world-1.html

1. Casey Station, Antartika: imsak pukul 6:30 pagi dan berbuka puasa pada pukul 15:48 sore (Berpuasa selama 9 jam 18 menit)

2. Perth (Australia Barat): imsak pukul 5:42 dan berbuka puasa pada pukul 17:41 (Berpuasa selama 11 jam 59 menit)

3. Jakarta : imsak pukul 4:52 dan berbuka puasa pada pukul 17:55 (Berpuasa selama 13 jam 3 menit)

4. Mekkah di Arab Saudi: imsak pukul 4:31 dan berbuka pada pukul 19:01 (Berpuasa selama 14 jam 30 menit)

5. Tokyo, Jepang: imsak pukul 3:11 dan berbuka pada pukul 18:47 (Berpuasa selama 15 jam 36 menit)

6. New York di Amerika Serikat: imsak pukul 4:25 dan berbuka pada pukul 20:12 (Berpuasa selama 15 jam 47 menit)

7. London, Inggris: imsak pukul 2:45 dini hari dan berbuka pada pukul 20:50 malam (Berpuasa selama 18 jam 5 menit)

8. Provideniya, di Rusia: imsak pukul 1:46 dini hari dan berbuka puasa pada pukul 21:43 malam, (Berpuasa selama 19 jam 57 menit)

Pertanyaan, mengapa ada saudara2 kita yang berpuasa lebih lama?


Jawaban:
Bumi dalam mengelilingi matahari tidaklah lurus melainkan miring, sehingga dalam waktu tertentu (maret – september), negara2 di belahan bumi utara menerima cahaya matahari lebih lama dari yang di selatan, dan di waktu yang lain (oktober – februari) negara2 di belahan bumi selatan menerima cahaya matahari lebih lama dari yang di utara)

Jadi, beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia, karena durasi berpuasa kira-kira 12 jam jika dibandingkan dengan negara lainnya seperti Eropa yang durasi puasanya rata-rata 15-16 jam.

Inilah salah satu hikmah Kalender Islam (Hijriyah) yang menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari. Sehingga waktu Ramadhan selalu bergeser 11 hari dibanding dengan kalender Masehi.

Jika saat ini Ramadhan jatuh pada bulan Agustus, maka negara2 di belahan bumi utara mengalami waktu puasa yang lebih lama. Namun Ramadhan akan terus bergeser maju ke bulan Juli, Juni, Mei, dst sampai masuk waktu dimana negara2 di belahan bumi selatan mengalami waktu puasa yang lebih lama (oktober – februari).

Sumber

DEFINISI PUASA
Secara bahasa, puasa (ash shiyam) dalam bahasa Arab artinya menahan diri, seperti tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

“Aku telah bernadzar kepada Allah untuk menahan diri (dari berbicara)”.[Maryam : 26].

Adapun secara istilah syar’i ialah, menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan disertai niat.

AMALAN-AMALAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN PUASA
1. Niat.
Jika telah masuk bulan Ramadhan, wajib bagi setiap muslim untuk berniat puasa pada malam harinya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ اْلفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu”. [Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan Al Baihaqi, dari Hafshah binti Umar]

Berniat puasa pada malam hari, ini khusus untuk puasa wajib saja.

2. Qiyam Ramadhan.
a. Qiyam Ramadhan Disyariatkan Dengan Berjamaah.
Dalam melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) disyariatkan berjamaah. Bahkan berjamaah itu lebih utama dibandingkan mengerjakannya sendirian, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan hal tersebut dan menjelaskan keutamaannya. Tersebut dalam hadits Abu Dzar:

صُمْنَا مَعَ رَسُولِ الهِd صَلَّى الهُa عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ سَبْعٌ مِنْ الشَّهْرِ فَقَامَ بِنَا حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا فِي السَّادِسَةِ وَقَامَ بِنَا فِي الْخَامِسَةِ حَتَّى ذَهَبَ شَطْرُ اللَّيْلِ فَقُلْنَا لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ فَقَالَ إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ ثُمَّ لَمْ يُصَلِّ بِنَا حَتَّى بَقِيَ ثَلَاثٌ مِنْ الشَّهْرِ وَصَلَّى بِنَا فِي الثَّالِثَةِ وَدَعَا أَهْلَهُ وَنِسَاءَهُ فَقَامَ بِنَا حَتَّى تَخَوَّفْنَا الْفَلَاحَ قُلْتُ لَهُ وَمَا الْفَلَاحُ قَالَ السُّحُورُ

“Kami berpuasa Ramadhan bersama Rasulullah. Beliau tidak mengimami shalat tarawih kami selama bulan itu, kecuali sampai tinggal tujuh hari. Saat itu, Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu sepertiga malam. Pada hari keenam (tinggal 6 hari), Beliau tidak shalat bersama kami. Baru kemudian pada hari kelima (tinggal 5 hari), Beliau mengimami kami (shalat tarawih) sampai berlalu separoh malam. Saat itu kami berkata kepada Beliau: ‘Wahai Rasulullah. Sudikah engkau menambah shalat pada malam ini’. Beliau menjawab,’Sesungguhnya jika seseorang shalat bersama imamnya sampai selesai, niscaya ditulis baginya pahala shalat satu malam’. Lalu pada malam keempat (tinggal 4 hari), kembali Beliau tidak mengimami shalat kami. Dan pada malam ketiga (tinggal 3 hari), Beliau kumpulkan keluarga dan istri-istrinya serta orang-orang, lalu mengimami kami (pada malam tersebut) sampai kami takut kehilangan kemenangan. Aku (perawi dari Abu Dzar) berkata: Aku bertanya, Apa kemenangan itu?. Beliau (Abu Dzar) menjawab, Sahur.” [HR At Tirmidzi].

Demikianlah shalat tarawih atau qiyamu ramadhan tidak dilaksanakan dengan berjamaah pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masa Abu Bakar, sampai pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab. Rasulullah tidak melakukannya secara berjamaah terus-menerus, sebab Beliau khawatir hal itu akan diwajibkan atas kaum Muslimin, sehingga ummatnya tidak mampu mengerjakannya. Disebutkan dalam hadits Aisyah (dalam Shahihain): “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada suatu malam, lalu shalat di masjid, dan beberapa orang ikut shalat bersamanya. Pagi harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka berkumpullah orang lebih banyak dari mereka, lalu (Rasulullah) shalat dan orang-orang tersebut shalat bersamanya. Pada keesokan harinya, manusia membicarakan hal itu. Maka pada malam ke tiga, jama’ah semakin banyak, lalu Rasulullah keluar dan shalat bersama mereka. Ketika malam ke empat masjid tidak dapat menampung jama’ah (namun Beliau tidak keluar) sehingga Beliau keluar untuk shalat Subuh; ketika selesai shalat Subuh, Beliau menghadap jama’ah, lalu membaca syahadat dan bersabda: Amma ba’du. Aku sudah mengetahui sikap kalian. Akan tetapi, aku khawatir shalat ini diwajibkan kepada kalian, lalu kalian tidak mampu melaksanakannya. Lalu (setelah beberapa waktu) Rasulullah meninggal, dan perkara tersebut tetap dalam keadaan tidak berjamaah”. [HR Al Bukhari dan Muslim].

Jadi, sebab shalat ini tidak dilaksanakan secara berjama’ah terus-menerus pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kekhawatiran beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kalau-kalau shalat ini diwajibkan atas umatnya. Dan sebab ini telah hilang dengan wafatnya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. karena dengan wafatnya beliau berarti agama ini telah disempurnakan oleh Allah Azza wa Jalla, tidak mungkin lagi ada penambahan. Dengan demikian, tinggallah hukum disyariatkannya berjamaah dalam qiyam Ramadhan (baca tarawih) yang hal itu dihidupkan oleh Umar bin al-Khaththab pada kekhalifaannya.

b. Jumlah Rakaatnya.
Menurut pendapat yang rajih (kuat), qiyam ramadhan dikerjakan 11-23 rakaat, dan boleh kurang darinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menentukan banyaknya maupun panjang bacaannya.

c. Waktunya.
Waktunya dikerjakan dari setelah shalat Isya` sampai munculnya fajar Subuh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللهَ زَادَ كُمْ صَلاَةً ،وَهِيَ الْوِتْرُ فَصَلُّوْهَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Allah telah menambah kalian satu shalat, dan dia adalah witir, maka shalatlah kalian antara shalat Isya sampai shalat Fajar”. [HR Ahmad dari Abi Bashrah, dan dishahihkan Al Albani dalam Qiyam Ar Ramadhan, 26].

d. Qunut.
Setelah selesai membaca surat dan sebelum ruku, kadang-kadang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca qunut, dan boleh dilakukan setelah ruku.

e. Bacaan Setelah Shalat Witir.

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْسِ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُوْس

Cara membaca doa ini, yaitu dengan memanjangkan suara dan meninggikannya pada yang ketiga.

3. Sahur.
Allah mensyariatkan sahur atas kaum Muslimin untuk membedakan puasa mereka dengan puasa orang-orang sebelum mereka, sebagaimana disabdakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri :

فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحُوْرِ رواه مسلم

“Yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur”. [Riwayat Muslim].

a. Keutamaan Sahur.
– Sahur adalah berkah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّهَا بَرَكَةٌ أَعْطَاكُمُ اللهُ إِيَّاهَا فَلاَ تَدَعُوْهُ رواه النسائي وأحمد بسند صحيح

“Sesungguhnya sahur adalah berkah yang diberikan Allah kepada kalian, maka kalian jangan meninggalkannya”. [Riwayat An Nasa-i dan Ahmad, dengan sanad yang shahih].

Sahur sebagai suatu berkah dapat dilihat dengan jelas, karena itu mengikuti Sunnah dan menguatkan orang berpuasa, serta menambah semangat untuk menambah puasa. Juga mengandung maksud untuk membedakan dengan ahli kitab.

– Shalawat dari Allah dan malaikat ditujukan kepada orang yang bersahur. Dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

السَّحُوْرُ أَكْلَةُ الْبَرَكَةِ، فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ رواه ابن أبي شيبة وأحمد

“Sahur adalah makanan berkah, maka kalian jangan tinggalkan, walaupun salah seorang dari kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah dan para malaikat bershalawat atas orang-orang yang bersahur”.[Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad].

b. Mengakhirkan Sahur Adalah Sunnah.
Disunnahkan memperlambat sahur sampai mendekati Subuh (Fajar), sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu dari Zaid bin Tsabit, ia berkata :

تَسَحَّرْنَا مَعَ النَّبِيْثُمَّ قَامَ إِلَى الصَّلاَةِ، قُلْتُ:كَمْ كَانَ بَيْنَ اْلأَذَانِ وَالسُّحُوْرِ؟ قَالَ: قَدْرُ خَمْسِيْنَ آيـة رواه البخاري ومسلم

“Kami sahur bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau pergi untuk shalat. Aku (Ibnu Abbas) bertanya: Berapa lama antara adzan dengan sahur? Dia menjawab, Sekitar 50 ayat.” [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]
.
c. Hukum Sahur.
Sahur merupakan sunnah muakkad (sunnah yang ditekankan). Dalilnya :
– Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِيْ السُّحُوْرِ بَرَكَةً رواه البخاري ومسلم

“Bersahurlah, karena dalam sahur terdapat berkah”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].

– Larangan meninggalkan sahur sebagaimana tersebut dalam hadits Abu Sa’id yang terdahulu. Oleh karena itu, Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (3/139) menukilkan ijma tentang sunnahnya sahur.

4. Waktu Puasa.
Waktu puasa dimulai dari terbit fajar Subuh sampai terbenam matahari. Dalilnya, yaitu firman Allah, yang artinya : “Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam”. [Al-Baqarah:186].

Setelah jelas waktu fajar, maka kita menyempurnakan puasa sampai terbenam matahari, lalu berbuka sebagaimana disebutkan dalam hadits Umar Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَهُنَا وَ أَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَهُنَا وَغَرَبَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ رواه البخاري ومسلم

“Jika telah datang waktu malam dari arah sini dan pergi waktu siang dari arah sini serta telah terbenam matahari, maka orang yang berpuasa telah berbuka”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim]

Waktu berbuka tersebut dapat dilihat dengan datangnya awal kegelapan dari arah timur setelah hilangnya bulatan matahari secara langsung. Semua itu dapat dilihat dengan mata telanjang, tidak memerlukan alat teropong untuk mengetahuinya.

5. Perkara-Perkara Yang Membatalkan Puasa.
a. Makan dan minum dengan sengaja. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya : “Dan makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian putihnya siang dan hitamnya malam dari fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam” [Al-Baqarah:186].
b. Sengaja untuk muntah, atau muntah dengan sengaja.
c. Haid dan nifas.
d. Injeksi yang berisi makanan (infus).
e. Bersetubuh.

6. Perkara-Perkara Lain Yang Harus Ditinggalkan Saat Berpuasa.
a. Berkata bohong. Dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ اْلعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ ِلهُِ حَاجَةً أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه رواه البخاري

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak butuh dengan usahanya meninggalkan makan dan minum”. [Riwayat Al Bukhari].

b. Berbuat kesia-siaan dan kejahatan (kejelekan). Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ اْلأَكْلِ وَالشَّرَابِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَقُلْ إِنِّيْ صَائِمٌ إِنِّيْ صَائِمٌ رواه ابن خزيمة والحاكم

“Bukanlah puasa itu (menahan diri) dari makan dan minum, (tetapi) puasa itu adalah (menahan diri) dari kesia-siaan dan kejelekan, maka kalau seseorang mencacimu atau berbuat kejelekan kepadamu, maka katakanlah : Saya sedang puasa. Saya sedang puasa”. [Riwayat Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim].

7. Perkara-Perkara Yang Dibolehkan.
a. Orang yang junub sampai datang waktu fajar, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah dan Ummu Salamah, keduanya berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapatkan fajar (Subuh) dalam keadaan junub dari keluarganya, kemudian mandi dan berpuasa”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].
b. Bersiwak.
c. Berkumur dan memasukkan air ke hidung ketika berwudhu`.
d. Bersentuhan dan berciuman bagi orang yang berpuasa, dan dimakruhkan bagi orang-orang yang berusia muda, karena dikhawatirkan hawa nafsunya bangkit.
e. Injeksi yang bukan berupa makanan.
f. Berbekam.
g. Mencicipi makanan selama tidak masuk ke tenggorokan.
h. Memakai penghitam mata (celak) dan tetes mata.
i. Menyiram kepala dengan air dingin dan mandi.

8. Orang-Orang Yang Dibolehkan Tidak Berpuasa.
a. Musafir (orang yang melakukan perjalanan atau bepergian ke luar kota). Mereka diberi kemudahan oleh Allah untuk berbuka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya : “Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain”. [Al-Baqarah :185]. Mereka diperbolehkan berbuka dan mengqadha (mengganti) puasanya pada bulan-bulan yang lainnya.

b. Orang yang sakit diperbolehkan berbuka puasa pada bulan Ramadhan sebagai rahmat dan kemudahan yang Allah limpahkan kepadanya. Orang Sakit yang dibolehkan untuk berbuka puasa, jika sakit tersebut dapat membahayakan jiwanya, atau menambah sakitnya yang ditakutkan akan mengakhirkan atau memperlambat kesembuhannya jika si penderita berpuasa.

c. Wanita yang sedang haid atau nifas diwajibkan berbuka, maksudnya tidak boleh berpuasa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَ لَمْ تَصُمْ فَذَلِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

“Bukankah kalau dia sedang haid tidak boleh shalat dan tidak boleh puasa? Maka itulah kekurangan agamanya”. [HR Bukhari].

Juga hadits Aisyah ketika beliau ditanya tentang wanita yang mengqadha puasa dan tidak mengqadha shalatnya:

كَانَ يُصِيْبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَوْمِنَا وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ صَلاَتِنَا

“Dulu kamipun mendapatkannya, lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan mengqadha shalat”. [HR Bukhari dan Muslim].

Berdasarkan ijma’ para ulama, maka wanita yang sedang haid atau nifas, diwajibkan berbuka dan mengqadha puasanya pada bulan-bulan yang lain.

d. Orang yang sudah tua dan lemah, baik laki-laki maupun perempuan dibolehkan untuk berbuka, sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas: “Orang laki-laki dan perempuan tua yang sudah tidak mampu berpuasa, maka mereka memberi makan setiap hari seorang miskin”. [Riwayat Al Bukhari, no. 4505].

e. Wanita sedang hamil atau menyusui, yang takut terhadap keselamatan dirinya dan anak yang dikandungnya atau anak yang disusuinya, juga termasuk yang mendapat keringanan untuk berbuka. Tidak ada kewajiban bagi mereka, kecuali fidyah. Demikian ini adalah pendapat Ibnu Abbas dan Ishaq. Dalilnya ialah firman Allah, yang artinya : Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya membayar fidyah (jika mereka tidak puasa), (yaitu) memberi makan seorang miskin. [Al-Baqarah : 184].

Ayat ini dikhususkan bagi orang tua yang sudah lemah, orang sakit yang tidak kunjung sembuh, orang hamil dan menyusui jika keduanya takut terhadap keselamatan dirinya atau anaknya. Karena ayat di atas telah dinasakh oleh ayat yang lain, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdulah bin Umar dan Salamah bin Al Akwa’:

كُنَّا فِيْ رَمَضَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ فَافْتَدَى بِطَعَامِ مِسْكِيْنِ
حَتَّى نَزَلَتْ هَذِهِ الأَيَةُ : فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْ.

“Kami dahulu pada bulan Ramadlan dimasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau berpuasa, boleh dan yang tidak bepuasa juga boleh, tapi memberikan makan kepada satu orang miskin, sampai turun ayat (yang artinya) “Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka hendaklah dia berpuasa pada bulan itu, -QS Al Baqarah ayat 185-
,
Akan tetapi Ibnu Abbas berpendapat, bahwa ayat tersebut tidak dinasakh (dihapus). Ayat ini khusus bagi orang-orang tua yang tidak mampu berpuasa, dan mereka boleh memberi makan satu orang miskin setiap hari. (Lihat perkataannya yang diriwayatkan Ibnul Jarut, Baihaqi dan Abu Dawud dengan sanad shahih). Pendapat ini dikuatkan juga oleh hadits Mu’adz bin Jabal, ia berkata:

فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَيَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِلَى قَوْلِهِ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا أَجْزَأَهُ ذَلِكَ وَهَذَا حَوْلٌ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ إِلَى أَيَّامٍ أُخَرَ فَثَبَتَ الصِّيَامُ عَلَى مَنْ شَهِدَ الشَّهْرَ وَعَلَى الْمُسَافِرِ أَنْ يَقْضِيَ وَثَبَتَ الطَّعَامُ لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْعَجُوزِ اللَّذَيْنِ لَا يَسْتَطِيعَانِ الصَّوْمَ

“Sesungguhnya Rasulullah setelah datang ke Madinah memulai puasa tiga hari setiap bulan dan puasa hari Asyura, kemudian Allah turunkan firmanNya ” Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kelian berpuasa…” sampai pada firmanNya “…memberi makan.”. Ketika itu, siapa yang ingin berpuasa, dia berpuasa. Dan yang ingin berbuka (tidak puasa), bisa menggantinya dengan memberi makan satu orang miskin. Ini selama satu tahun. Kemudian Allah menurunkan lagi ayat yang lain “Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al Qur’an …” sampai pada firmanNya “..di hari yang lain ..”. Maka puasa tetap wajib bagi orang yang mukim (tidak safar) pada bulan tersebut, dan bagi musafir wajib mengqadha puasanya, dan menetapkan pemberian makanan bagi orang-orang tua yang tidak mampu untuk berpuasa … . ” [HR Abu Dawud, Baihaqi dan Ahmad].

Pendapat ini dirajihkan oleh Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid dan Salim Al Hilali dalam Shifat Shaum Nabi, lihat halaman 80-84.

9. Berbuka Puasa.
a. Mempercepat waktu berbuka puasa. Termasuk sunnah dalam puasa, yaitu mempercepat waktu berbuka. Sebagaimana dikatakan oleh Amr bin Maimun Al Audi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling cepat berbuka dan paling lambat sahurnya. [Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam Al Mushannaf, no. 7591 dengan sanad yang dishahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bary, 4/199]. Manfaat dari mempercepat berbuka ialah :

– Untuk mendapatkan kebaikan. Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوْا اْلفِطْرَ رواه البخاري ومسلم

“Manusia akan senantiasa dalam kebaikan selama mereka mempercepat buka puasanya.”. [Riwayat Al Bukhari dan Muslim].

– Merupakan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
– Untuk membedakan dengan puasa ahli kitab, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ يَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لأَنَّ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُوْنَهُ رواه أبو داود وابن حبان بسند حسن

“Agama ini akan senantiasa menang selama manusia (kaum Muslimin) mempercepat buka puasanya, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya”. [Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban dengan sanad hasan].

Dan berbuka puasa dilakukan sebelum shalat Maghrib, karena merupakan akhlak para nabi.

b. Makanan Berbuka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita untuk berbuka dengan kurma, dan kalau tidak ada, maka dengan air sebagaimana dikatakan Anas bin Malik: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dengan ruthab sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan kurma, dan kalau tidak ada kurma, Beliau menghirup (meminum) beberapa teguk air”. [HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih]. Ini merupakan kesempurnaan kasih sayang dan perhatian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap umatnya.

c. Bacaan Ketika Berbuka.
Berdoa ketika berbuka termasuk dari doa-doa yang mustajab, sebagaimana disabdakan Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَ دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَ دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Ada tiga doa yang mustajab, (yaitu): doanya orang yang berpuasa, doanya orang yang terzhalimi dan doanya para musafir”. [HR Al Uqaili].

Sebaiknya berdoa dengan doa:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَ ثَبَتََ الأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Mudah-mudahan hilang dahaga, basah otot-otot dan mendapat pahala, insya Allah”.

d. Memberi Makan Kepada Orang Yang Berpuasa.
Hendaknya orang yang berpuasa menambah pahala puasanya dengan memberi makan orang yang berbuka puasa. Orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala yang sangat besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرُ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa yang memberi buka puasa orang yang berpuasa, maka dia mendapat (pahala) seperti pahalanya (orang yang berbuka itu) tanpa mengurang sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut”. [HR Ahmad dan At Tirmidzi]

10. Adab Orang Yang Berpuasa.
a. Memperlambat sahur.
b. Mempercepat berbuka puasa.
c. Berdoa ketika berpuasa dan ketika berbuka.
d. Menahan diri dari perkara-perkara yang merusak puasa.
e. Bersiwak.
f. Memperbanyak berinfak dan tadarus Al Qur`an.
g. Bersungguh-sungguh dalam beribadah, khususnya pada sepuluh hari terakhir.

Demikianlah beberapa hal yang berkaitan dengan ibadah puasa yang kamisampaikan secara singkat. Mudah-mudahan bermanfaat.

Mei lalu, masyarakat Bekasi sempat dikagetkan dengan perceraian pasangan Adam Rahmatullah dengan Narendra Garini Anutama Natakusumah. Pasalnya, Adam –mantan jamaah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)– digugat cerai oleh istrinya, Narendra, setelah Adam tak lagi menjadi jamaah LDII. Rumah tangga yang telah mereka bangun sejak 2001 itu pun roboh.

Adam menyatakan keluar dari LDII pasca-perpulangannya dari ibadah haji 2010 silam. Kendati demikian ia mengaku sejak SD sebenarnya sudah mengetahui bahwa ada ajaran LDII yang sesat, namun Adam hanya diam dan tetap menjalankan ajaran tersebut. “Saya sebenarnya sudah mengetahui kesesatan ajaranya sejak saya kelas 3 SD,” aku Adam sebagaimana dikutip republika.co.id.

Adam menjadi bagian dari jamaah LDII karena kedua orangtuanya anggota LDII. Ia menikahi Narendra, anggota LDII dan juga anak dari anggota LDII. Pernikahan yang baru tercatat di KUA tahun 2003 awalnya merupakan pernikahan yang bahagia dan romantis, karena mereka sama-sama jamaah LDII. Namun ketika Adam menyatakan niat keluar dari LDII yang sudah empat kali berganti nama itu, istri dan mertuanya memaksa Adam menceraikan istrinya. Alasannya, Adam yang telah keluar dari LDII dianggap kafir.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Amin Djamaluddin, mengatakan mengafirkan Muslim di luar jamaah mereka termasuk ajaran sesat. Peristiwa yang dialami Adam itu membenarkan pernyataan Amin yang menyatakan bahwa LDII telah mengafirkan jamaah di luar jamaah mereka. “LDII itu suka mengafirkan Muslim yang bukan jamaahnya,” terang Amin kepada Majalah Gontor.

Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, Prof Abdullah Syam, ketika menggelar acara pembekalan kader dai dan daiyah LDII di Pondok Pesantren Minhajurrasyidin, Januari lalu mencoba mengklarifikasi beberapa ajaran mereka yang dianggap sesat. Abdullah menjelaskan, LDII yang lahir dari Islam Jamaah ini tidak pernah menganut ajaran Islam Jamaah yang mengafirkan umat Islam di luar jamaahnya. Ia juga mengatakan, H Nurhasan Ubaidah atau Madighol bukan Amir atau Imam mereka.

Menanggapi pernyataan itu, Amin menyebutkan LDII mempunyai doktrin bithonah yang mewajibkan jamaah LDII untuk berbohong demi kepentingan LDII. “Ajaran bithonah itu wajib bagi mereka,” ujar Amin. Karena itu perubahan paradigma yang telah diproklamirkan Ketua Umum DPP LDII tersebut justru dianggap Amin sebagai sebuah kebohongan semata.

Amin menunjukkan sejumlah bukti berupa buku-buku mengenai kesesatan LDII yang diterbitkan oleh LPII. Ia meminta masyarakat berhati-hati dengan LDII.

Buku Akar Kesesatan LDII dan Penipuan Triliunan Rupiah yang juga terbitan LPPI menjelaskan mengenai ajaran fathonah bithonah yang diajarkan pendiri LDII, H Nurhasan Ubaidah. Ajaran itu menyebutkan jamaah LDII diperbolehkan menyampaikan sesuatu secara tidak transparan dalam hal-hal yang bila dikemukakan secara transparan akan dapat merugikan LDII atau tujuan jamaah tidak tercapai.

Buku karangan HMC Shodiq itu menjelaskan bahwa ajaran fathonah bithonah telah melegalisir kebohongan, sehingga dengan alasan untuk menjaga kepentingan LDII jamaah dibolehkan untuk berbohong. Karena itu ajaran fathonah bithonah itu tanpa disadari akan menjadi benih kemunafikan.

Dengan kata lain paradigma baru yang diploklamirkan Ketua Umum DPP LDII, Prof Abdullah Syam, harus diwaspadai sebagai antisipasi dari kebenaran ajaran fathonah bithonah yang memperbolehkan jamaah berbohong atau bahkan mewajibkan berbohong demi kepentingan LDII. (Devi/MG)

Sumber